Episode 90 - It’s Been a While



Pak tua itu melihat pembelinya itu dengan pandangan kabur, ia mengusap-usap matanya “Ahh!? Kamu kan?!” kemudian mengambil kacamata di atas meja. “ALZEN !!?”

“Hehehe... iya paman,” kata Alzen senyam-senyum sendiri sambil menggaruk-garuk kepala. Ia kini mengenakan kacamata dan rambutnya sedikit lebih panjang sampai melewati pundak belakangnya. “Paman masih ingat?”

“Haduh...” Pak tua itu menepuk dahinya. “Mana mungkin aku lupa!” Ia beranjak dari tempat duduknya dengan semangat dan pergi memeluk Alzen. 

“Hahaha! Kamu pelajar top tahun ini.” kata pak tua itu sambil menggoyang-goyangkan lengan Alzen. “Siapa yang tak kenal kamu di Vheins.” 

“Hehe, paman terlalu berlebihan nih.” Alzen garuk-garuk dan menundukkan kepala. Saat ini Alzen mengenakan kemeja putih dengan dasi merah dan rompi hitam serta celana panjang berwarna biru tua. Ia juga mengenakan ransel di belakang punggungnya.

“Ohh iya!” Pak tua itu menggebrak meja etalase di dekatnya. “Aku nonton kamu di turnamen loh! Waktu itu, aku kaget setengah mati melihat orang ini pernah berkunjung ke tokoku.” 

“Benarkah?! Hehehe...” Alzen dibuat canggung. 

“Beneran! Beneran! Aku benar-benar heboh sendiri waktu itu hahahaha!”

“Hehehe... terima kasih paman.”

“Huh!?” Pak tua itu mengamat-amati wajah Alzen dari dekat. “Seingatku, waktu pertama datang belum pakai kacamata deh, waktu di turnamen juga belum,” katanya sambil mendekati wajahnya ke depan muka Alzen. “Hoo... sekarang jadi tambah-tambah dan makin-makin ganteng nih.”

“Ahh... tidak-tidak, itu tidak benar.” Alzen menggoyang-goyangkan kedua tangannya dengan canggung. “Sama-sama saja kok. Haha... hahaha...” 

“Hahaha... benar-benar menyenangkan rasanya, melihat pelajar baru yang bukan apa-apa di awal tahun ini, ternyata menjadi orang hebat di penghujung tahun.” kata pak tua itu sambil mengajak Alzen melihat-lihat tokonya yang kecil. “Perasaan ini benar-benar tidak bisa dibeli dengan uang. Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan semua ini. Silahkan-silahkan. Pilih saja senjata yang kamu suka. Untuk kamu saya kasih setengah harga deh. Rugi-rugi dikit tidak apa lah.” 

“Beneran nih setengah harga? Terima kasih banyak paman.” balas Alzen yang merasa tidak enak, dirinya dipuji begitu berlebihan. “Sebenarnya aku sendiri bingung, aku tertarik dengan Staff of Fireball ini. Tapi aku sendiri belum pernah bertarung dengan tongkat sihir. Apa senjata ini cocok buatku ya?”

“Ohh... ya, ya, ya, ya. Aku lihat pertandinganmu sewaktu di turnamen, kamu lebih sering menggunakan tangan kosong kan?” tanya pak tua itu 

“Uh...huh...” Alzen mengangguk.

“Tunggu sebentar, tunggu sebentar.” Pak itu segera bergegas pergi ke gudang. “Sebentar, sebentar... aku cari senjata yang cocok buatmu.” Pak tua itu membuka lemari di gudang dan mencari-cari senjata yang dianggapnya cocok untuk Alzen. “Ini bukan... ini? Uhmm... juga bukan... mungkin ini... ahh juga bukan. Ah! Ini dia! Ini pasti cocok buatmu.”

“Hmm?” Alzen melihat paman itu bersemangat sekali mencari pilhan senjata terbaik buatnya.

Pak tua itu mengambil kotak putih seperti kotak sepatu dan membawanya ke hadapan Alzen. “Aku rasa ini cocok buatmu!”

“Ini apa paman?” Alzen bertanya-tanya.

“Bu-bukalah...”

Alzen membuka kotaknya. 

“Sa-sarung tangan?” Alzen heran, mengapa ia di sarankan dengan senjata sarung tangan putih biasa.

“Hoo... jangan menilai apa-apa dulu, ini bukan sarung tangan biasa seperti yang terlihat. Kau lihat simbol lingkaran sihir ini.” tunjuk pak tua itu. “Senjata ini sudah di Enchant dengan berbagai macam sihir Enchanter terbaik negri ini. Aku yakin, ini cocok sekali buatmu.”

Sambung pak tua itu. “Kamu bisa tiga elemen kan? Sarung tangan ini akan mem-boost kemampuanmu berkali-kali lipat dari biasanya!” Pak tua itu segera menarik keluar sarung tangan itu dari kotaknya dan meminta Alzen segera memakainya. “Nah ini mantap nih, cobalah.”

“Begitu ya... baik paman.” Alzen mengenakan sarung tangan putih itu dan bersiap menggunakan sihir seperti biasa, ia segera mengulurkan tangan ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar-lebar dan cahaya api di tangannya sudah mulai terlihat keluar dari telapak tangannya. 

“Huh!?” Alzen terheran-heran, dengan penggunaan Aura yang sama, sihir yang biasa ia lakukan, menjadi tiga kali lipat lebih kuat dengan sarung tangan itu.

“Eit eit eit eit!” Pak tua itu segera menutup telapak tangan Alzen. “Jangan di coba disini dong!” katanya dengan khawatir. “Bisa rusak semua nih barang-barang bapak.”

“Ma-maaf, tadinya aku hanya ingin mengeluarkan bola api kecil. Tapi yang keluar malah...” kata Alzen yang sudah seperti kebiasaannya. “Woah... aku mengerti. Ini berarti, sarung tangan ini meningkatkan berkali-kali lipat kekuatanku.”

“Memang itulah efeknya,” kata pak tua itu dengan kedua tangannya di pinggang, perutnya dibusungkan sambil matanya terpejam dan mulutnya tersenyum. “Ada senjata yang membuat kamu bisa melakukan sihir yang sudah di tanam di senjatanya, tapi ada juga senjata yang menguatkan sihir kamu berkali-kali lipat seperti sarung tangan ini.”

“Kau tahu?” tanya pak tua itu. “Sarung tangan itu dibuat oleh Enchanter Top di Azuria. Kualiteknya tak perlu diragukan lagi.”

“Begitukah! Baik paman, aku ambil ini!” tanya Alzen sambil membuka tutup telapak tangannya. “Berapa harganya paman?”

“Seratus ribu Rez! Tapi kalau kemahalan, harga buat kamu... uhm...”

“Ini.” Alzen langsung menyodorkan sepuluh lembar uang sepuluh ribu Rez. 

“Hee? Tidak usah, tidak usah, setengahnya saja tidak apa-apa.”

“Terima kasih paman. Aku ambil harga penuh saja.” kata Alzen yang langsung bergegas pergi. 

“Haaah?” Pak tua itu ternganga sambil memegang 10 lembar pecahan uang 10 ribu Rez. “Yang benar nih? Ini uang gede loh.”

“Benar,” Alzen mengangguk lalu berbalik arah. “Sudah ya paman... kapan-kapan aku akan kembali kesini lagi. Dah...”

“O-oke...” Pak itu terdiam.

BRUGH!

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

Pintu sudah tertutup dan Alzen sudah pergi keluar.

“Ckckck, baru kali ini. Ada orang dikasih diskon kok nolak.”

Kemudian pak tua itu berjalan kembali ke bangku tempat ia membaca koran. “Hah... aku selalu penasaran,” katanya setelah duduk dan menaruh uangnya di laci. “Para pelangganku akan jadi apa di masa depan nanti ya.” ucapnya selagi menatap pintu. “Semoga aku masih diberi hidup untuk melihat mereka jadi apa nanti di kemudian hari.”

***

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

Lonceng di depan pintu masuk berbunyi kembali setelah Alzen keluar.

“Bagaimana Alzen? Kau sudah mendapatkan tongkatnya?” tanya Leena yang berdiri di depan pintu toko itu. Ia mengenakan pakaian tebal musim dingin berwarna biru tua, ia juga mengenakan syal dan topi musim dingin yang terdapat bola bulu di ujung atas topinya.

“Hee? Kau daritadi menungguku disini?” balas Alzen yang kaget melihat Leena. 

“Kita kan janjiannya di...” Alzen seketika tertegun melihat penampilan Leena yang begitu berbeda dan menjadi sangat cantik.

“Sewaktu berjalan ke gerbang sihir, aku tak sengaja melihatmu masuk ke toko ini.” jawab Leena dengan tersenyum cantik. “Yasudah aku ikuti saja.”

“...” Alzen terdiam dengan wajah memerah melihat Leena. 

“Alzen kok diam saja?” Leena menarik tangan Alzen. “Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!” genggaman tangannya kini erat sebagai pasangan.

Alzen berjalan bergandengan tangan dengan Leena menuju gerbang sihir Vheins. Leena tersenyum pada Alzen sambil mengajaknya bicara dan Alzen berjalan di sampingnya dengan pipi memerah dan hati yang berdebar-debar.

“Ngomong-ngomong, aku sudah 6 bulan berpacaran dengan Leena dan karena hari ini kita ada libur seminggu, kita berdua sepakat untuk sama-sama ingin menikmati salju.” pikir Alzen mengingat banyak hal yang terjadi setengah tahun belakangan.

“Tapi karena di Greenhill, terutama di Vheins salju tidak turun. Hanya bagian selatan Greenhill saja yang turun salju. Kami berdua jadinya memutuskan pergi jalan-jalan ke Quistra yang konon katanya terkenal dengan musim dingin abadi.” 

Alzen menatap ke samping kanannya melihat senyum Leena berjalan berdampingan dengannya. “Meski awalnya aku gagal menembak Leena dan rasanya cukup, ahh atau jujur saja, sangat menyakitkan. Ditolak itu sakit. Tapi akhirnya kita menjalin hubungan juga, meskipun... terjadi di saat-saat yang kurang pas.”

“Kalau diingat-ingat, aku memakai kacamata ini juga bukan tanpa alasan,” tangan kanan Alzen memegang gagang kacamatanya. “Sejak kejadian di dungeon itu...” Alzen menurunkan kacamatanya sedikit ke bawah. “Pandanganku semuanya menjadi kabur.”  

Alzen kembali menaikkan kacamatanya dan mengenakannyadengan benar, “Waktu itu, di Dungeon Tomb of the Great King. Jika saja para Healer Vheins tidak cukup handal menanganiku dengan segera. Bisa-bisa aku berakhir buta permanen. Tapi aku sangat bersyukur, banyak orang yang menolongku. Berkat mereka, cahaya dimataku bisa pulih kembali meski tidak bisa kembali seperti semula.”


“Ngomong-ngomong Leena, kamu tidak gerah sudah pakai baju musim dingin itu duluan? Greenhill sama Valencia kan panas.”

“Tidak apa, aku tahan-tahan saja. Karena aku suka desain pakaian musim dingin ini,” Leena melepas genggaman tangan Alzen dan berputar 360 derajat di depan Alzen. “Lihat kan? Desainnya terlihat lebih gaya dan imut.”

Alzen tersenyum lalu mengangguk. “Ya! Apa saja yang kamu kenakan akan jadi... bagus.”

“Hehe... kamu sudah pintar menggombal ya.” selagi berdiri di depan Alzen, Leena bertanya. “Ohh iya? Mana tongkatmu? Katanya kamu mau beli tongkat? Aku tak melihat ada tongkat?” tanya Leena sambil melihat Alzen. 

“Aku tidak jadi membeli tongkat,” Alzen mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. “Paman penjualnya merekomendasikan senjata ini padaku.” Alzen memperlihatkan kotaknya lalu membuka tutupnya.

“Apa ini?” Leena heran. “Sarung tangan?”

“Katanya sarung tangan ini berguna untuk memboost sihirku. Aku sudah coba sebentar tadi. Memang benar adanya. Dengan suplai aura yang sama, hasil yang dikeluarkan menjadi lebih kuat.”

“Benarkah?” Leena mengambil sarung tangan itu keluar dari dusnya. “Kalau begitu ini senjata yang bagus sekali.” 

Leena mengamat-amatinya. “Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih. Kau tidak cocok menggunakan tongkat.”

“Hee...? Kenapa?” Alzen meminta alasannya.

“Karena selama ini kau selalu bertarung dengan tangan kosong dan memanfaatkan gerakkan.” Leena menjawab sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas. “Menggunakan tongkat justru malah akan menghambatmu bergerak.” 

“Ya, aku percaya ini akan membantuku nantinya.” Alzen menutup kembali kotaknya dan memasukkan kembali kotak itu ke dalam ranselnya.

“Hmm... rekomendasi penjualnya jeli juga.”

***

Mereka tiba di gerbang, diteleportasi keluar dari kota Vheins dan tiba di Vheins Field. Tak jauh dari sana, kereta kuda mereka naiki khusus bagi mereka berdua saja, untuk berangkat menuju gerbang perbatasan antara Greenhill dan Valencia. Hingga menuju ibukota Quistra.  

“Hari itu sudah berlalu hingga setengah tahun lamanya.” kata Alzen dalam hati sambil menikmati deru angin di perjalanannya. “Tapi, rasanya seperti baru kemarin. Aku masih ingat kesedihannya. Pak Kazzel meninggal, terbunuh oleh sang raja. Raja Yana, boss anomali itu.”

“Setelah pak Kazzel terbunuh.” Alzen menunduk di atas bangku kereta kuda, sejenak merenungkannya sambil kilas balik mengingat apa yang ia alami waktu itu. “Giliranku yang dibuat buta oleh Yana. Aku terbaring di atas pangkuan Leena, tidak bisa melihat apa-apa, semuanya menjadi kabur kemudian berubah hitam secara perlahan-lahan. Tapi aku masih bisa mendengar dan merasakan air mata Leena menetes ke pipiku, kata-katanya dan... ciumannya.”

“Aku tak tahu apa-apa lagi setelah itu, aku hanya bisa mendengar, menebak-nebak apa yang terjadi tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku dituntun keluar, di selamatkan teman-teman dan segera dirawat secepatnya.”

“Jujur saja aku tidak bisa terima kenapa aku dibuat tidak bisa melihat, aku terus menyalahkan diriku, menyalahkan Yana, menyalahkan apapun juga demi untuk membuatku merasa tidak pantas menerima ini semua. Tapi biar bagaimanapun. Faktanya tetap tidak bisa diubah.”

“Dua bulan lamanya, aku dirawat. Sampai pelan-pelan aku mendapatkan kembali penglihatanku meski dalam kondisi yang buruk. Dari gelap total hingga ke pandangan yang kabur dan memusingkan.” 

“Dua bulan itu adalah saat-saat yang sangat sulit buatku. Aku terus menghadiri kelas sambil meraba-raba sekitar, pulang juga demikian. Tapi tetap saja, aku jadi pusat perhatian banyak orang dan membuat mereka tak nyaman melihat kondisiku. Sampai akhirnya aku harus belajar di tempat khusus, seorang diri. Di tempat dimana aku dirawat.“

“Tapi selama dua bulan itu, Leena dan teman-teman, secara bergantian terus menerus menemaniku, sambil sedikit demi sedikit menceritakan semua yang terjadi hari itu.”

“Pertama-tama, Leena bilang...”

***

“Alzen, aku mencintaimu.” kata Leena selagi mencium Alzen dengan berlinang air mata.

Yana mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk bersiap menebas Leena dan Alzen. “Sekarang, jatuhlah pada kegelapan!”

“Hmmph!?” Yana heran tiba-tiba ada barrier oranye transparan muncul membungkus mereka berdua.

Syuushhhh...

Tembakan api datang dari sisi kanan Yana. Mengenai lantai tempat ia berdiri dan...

BRUSHHHHTTT !!

“UARRRGGGGHHH !!” Yana dibakar hangus di dalam ledakan api yang besar. Api itu berkobar cepat dan menghanguskan seluruh tubuhnya. 

“Hah... hah...” Yana merunduk, memegang lengannya di kondisi tubuhnya yang terbakar hangus. Perlahan ia meng-cast sihir penyembuhan dan meregenerasi dirinya sedikit demi sedikit. 

“Siapa?” kata Yana sambil matanya melihat ke kiri dan kanan meskipun sekitarnya kini tertutupi asap.

Ketika asap di sekeliling Yana sudah mulai menghilang, Alzen dan Leena sudah tidak ada lagi di depannya.

“...!?” Yana terkejut. “Kemana mereka pergi?”

Selagi melihat ke bawah, Yana mendapati semak belukar hitam keluar dari pijakan di sekelilingnya, ia segera melompat ke belakang, namun di belakangnya sudah lebih dulu ada. Semak belukar hitam itu dengan cepat menariknya, mengunci tangan dan kaki Yana.

“Sayang sekali... kita terlambat...” Lasius berdiri di hadapan Yana yang terkunci oleh semak belukar hitam hingga tidak bisa bergerak. 

“Kau monster biadab!” kata Lasius yang pipinya sudah basah berlinang air mata. “Kau sudah merenggut nyawa Kazzel. Dasar monster!”

Aeros menurunkan Alzen dan Leena dari gendongannya, menunduk dan menutupi wajahnya sambil secara tersembunyi, ia mengusap-usap air matanya dengan lengan kirinya.

Glaskov berdiri dengan tangan terlipat di dadanya sambil terus fokus mempertahankan kekuatan sihir Dark Thornnya.

“Pak Lasius! Semuanya! Kita harus pergi dari sini!” sahut Luiz sambil menggendong mayat Kazzel di belakang punggungnya. 

Mendengar sahutan Luiz, para pelajar yang ada disana segera saling menopang dan berlari keluar. 

“Pak Kazzel sebelum meninggal bilang bahwa...” sahut Luiz. “Dia bukan tandingan kita semua!”

“Cih... persetan dengan itu semua!” teriak Lasius dengan ekpresi murka lalu berjalan perlahan dengan dua kobaran api besar di kepalan tangannya, 

“...!!?” 

Lasius mencekik leher Yana yang terkunci oleh Dark Thorn Glaskov, 

“Fire Form !!”

Lasius berubah sepenuhnya hingga seluruh tubuhnya kini berubah menjadi kobaran api.

“HWRAAAAA !!” Yana menjerit kesakitan, lehernya dibakar terus menerus melalui cengkraman tangan Lasius. “Bagaimana ini, kakiku terkunci, tanganku tidak bisa kugerakkan. HWRAAAAA !!”

Lasius mencekiknya lebih erat lagi, kini ia menggunakan dua tangan dan kobaran apinya semakin diperkuat, ia berniat memutus kepala Yana saat itu juga.

“HWRAAAAAAAA !!”

Teriak Yana lebih keras dari sebelumnya.

“Mo-monster ini...” Lasius berusaha semaksimal mungkin untuk segera melenyapkan lawannya. “Belum-belum juga.”

“HWRROOOOOOOO !!”

Mata Yana memutih, teriakannya seperti auman iblis, kepalanya menghadap ke atas, mulutnya terbuka lebar dan dari sana keluar satu persatu roh-roh hitam berbentuk Leak. Terbang ke atas lalu turun dan berdiri di belakang Yana, hingga ada 4 jumlahnya.

“Huh!? Makhluk apa itu!?” Lasius waspada terhadap makhluk seram dengan mata bulat dan gigi yang besar..

“HWRAAAA !!”

Yana berteriak, teriakkannya ini memiliki daya tekan Dark Force yang sangat kuat.

Glaskov segera melepas sihir Dark Thornnya dan langsung mengarahkan tangan ke depan, lalu mengibas ke kiri dan kanan.

“Great Black Barrier !!”

Glaskov meng-cast Barrier raksasa yang memproteksi semua yang ada di belakang Lasius.

Lasius terpental hingga terbentur pada Barrier Glaskov. Fire Formnya terlihat berlubang terus menerus seperti ditembaki proyektil kecil Gatling Gun yang berlangsung terus menerus. 

Seusai berteriak, Yana kembali berdiri. Dengan kepala menunduk, Yana mengangkat pedangnya kembali dan keempat roh Leak di belakangnya masuk kembali melewati punggungnya. 

Yana bangkit sekali lagi dan kini ia diselimuti Aura hitam yang sangat-sangat kuat. Menyebar ke sekelilingnya dan berkobar ke atasnya, semua aura hitamnya terpancar dari seluruh tubuhnya.

“Apa-apaan monster ini!?” Lasius merasakan kengerian di depan matanya.

“Ini semua salah kalian,” kata Yana sambil menatap mereka dengan pandangan mata yang kosong. “Aku...” Yana seketika menangis dan membasahi pipinya. “Semakin jatuh dalam kegelapan.”

***