Episode 309 - Di Tempat Lain



Aula berukuran sedang. Hanya diterangi cahaya yang mencuri-curi masuk melalui sela-sela jendela yang tertutup serta lubang angin yang sempit. Batu kuarsa memberi cahaya temaram di atas sebuah meja persegi tepat di tengah ruangan. Selintas pandang, dinding pada keempat sisi aula merupakan almari-almari yang penuh sesak dengan berbagai jenis dan ukuran kitab serta buku. Tiada tertata kitab-kitab serta buku-buku tersebut, menjadi petanda bahwa siapa pun yang mendiami tempat tersebut malas berkemas, atau mungkin terlalu sering mengambil dan membuka baca sehingga tak sempat mengembalikan dengan benar. 

“Hmph…” Seorang lelaki setengah baya mendengus sebal. Kelembaban di dalam ruang aula tersebut membuatnya tak nyaman. Sudah beberapa waktu berlalu sejak ia menanti kedatangan tuan rumah. 

Tak berselang lama, seorang lelaki dewasa muda memasuki aula. Perlahan ia mengatur langkah, seolah sangat berhati-hati. Dari cara berpakaian, terlihat sekali bahwa ia sangat mementingkan penampilan dan kerapihan, bertolak belakang dengan penataan kitab dan buku di dalam aula. 

“Mengapa aula ini begitu pengap dan gelap…?” Lelaki setengah baya melontar pertanyaan sesaat tokoh yang baru datang itu berdiri di balik meja di hadapannya. 

Lelaki dewasa muda melontar pandang ke sekeliling ruangan. Raut wajahnya setenang permukaan air kolam tak beriak. “Tuan Ogan Lemanta, Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang, angin apa yang membawa dikau berkunjung ke Pulau Lima Dendam? Sungguh sebuah kehormatan tiada terperi menerima kunjungan tokoh sekelas dikau di kediamanku…”

“Usah berbasa-basi…,” dengus lelaki setengah baya itu. “Engkau tahu siapa sesungguhnya aku…” 

“Oh…?” Dalam keremangan ruang aula, dapat dilihat bahwa dahi lelaki dewasa muda itu berkedut. “Siapakah gerangan jati diri Tuan…?” 

“Balaputera… Lintara…” Lelaki setengah baya itu menggeretakkan gigi, kata-kata yang keluar dari mulutnya sepatah-sepatah. Raut wajahnya berubah bengis. 

“Apakah… apakah dikau…?” Balaputera Lintara alias Lintang Tenggara mundur setengah langkah. “Balaputera Tarukma…? Kakek…? Sungguh pencahayaan di dalam ruangan ini demikian temaram, sampai membuat diriku tiada mengenali….”

Balaputera Tarukma, yang menyamar dengan nama Ogan Lemanta untuk mengambil posisi sebagai Jenderal Keempat di Kerajaan Garang, menghela napas panjang. Ia berupaya bersabar sangat, menekan amarah akan sikap kurang ajar Lintang Tenggara yang secara garis darah memanglah cucunya. Atau lebih tepatnya, cucu dari Balaputera Sukma, adik kandungnya. 

“Hentikan sandiwaramu…” Balaputera Tarukma menyergah. Ia yang dulunya merupakan tokoh terhormat di Perguruan Svarnadwipa dan Kadatuan Kesatu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, kini menyambangi Balaputera Lintara yang bukan siapa-siapa. Betapa ia mencederai harga dirinya sendiri. 

“Terakhir kali kita bertemu muka, Kakek Balaputera Tarukma hendak mencabut nyawa ini…” Lintang Tenggara kembali tampil tenang, sudah cukup memang sandiwara yang ia mainkan. “Apakah kedatangan kali ini hendak menuntaskan kegagalan kala itu…?” Nada mencibir tersirat dari kata-kata nan singkat. 

Balaputera Tarukma kembali dipaksa bersabar. Dirinya memang gagal membungkam Balaputera Sukma dan Balaputera Lintara kala itu. Siapa menyangka Balaputera Lintara menguasai Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara, yang merupakan formasi segel pertahanan terkuat di Kemaharajaan Cahaya Gemilang dan Negeri Dua Samudera. Di lain sisi, sesungguhnya bukan tak mungkin bagi Balaputera Tarukma mencabut nyawa Balaputera Lintara di tempat ini dan saat ini jua. Merapal formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara membutuhkan waktu, sehingga ia dapat mencuri serangan cepat. Akan tetapi, meski perbedaan kasta keahlian di antara mereka terpaut jauh, Balaputera Tarukma menyadari akan sesuatu yang sulit dijelaskan dari sosok lelaki dewasa muda di hadapannya itu. Jangan bertindak gegabah, nalurinya mengisyaratkan.

“Kesalahpahaman… Kala itu hanya kesalahpahaman di antara kita…,” ujar Balaputera Tarukma, lagi-lagi menahan kesabaran. 

“Apakah Kakek menyegel kasta keahlian diri sendiri…?” Lintang Tenggara mengabaikan kata-kata Balaputera Tarukma. “Sungguh kemampuan yang luar biasa…” Lagi-lagi Lintang Tenggara melontar cibiran. Kasta keahlian Balaputera Tarukma semestinya berada pada Kasta Bumi, bukan Kasta Emas sebagaimana aura yang tampil dari dirinya saat ini. Kemampuan menyegel dan menyembunyikan kasta keahlian diri sendiri merupakan kebiasaan dari tokoh-tokoh di Kadatuan Kesembilan. Adalah jelas bahwasanya Balaputera Tarukma meniru kemampuan tersebut. 

“Kedatanganku hendak membahas sesuatu hal yang mustahak.” Balaputera Tarukma tak hendak menanggapi sindiran Lintang Tenggara. Sebagai tokoh yang lebih tua, ia harus tampil arif. Jangan mudah terpancing emosi atas kata-kata lawan bicaranya itu.

“Apakah gerangan sesuatu hal yang mustahak itu…?” Masih ada satu hal yang sampai saat ini menjadi tanda tanya di dalam benak Lintang Tenggara sejak menyadari bahwa Balaputera Tarukma menyamar sebagai Ogan Lemanta, dan mengambil jabatan sebagai Jenderal Keempat Kerajaan Garang di Pulau Satu Garang. Satu hal tersebut tak lain adalah apa sesungguhnya motif di balik tindakan Balaputera Tarukma yang sedemikian. Sepertinya hari ini jawaban akan datang dengan sendirinya.

“Sebelum itu, bisakah pencahayaan di ruangan aula ini diperbanyak…? Dengan membuka jendela, mungkin…?” 

“Diriku lebih menyukai suasana seperti ini. Misterius…”

Balaputera Tarukma lagi-lagi menahan diri. Andai saja saat ini ia tak membutuhkan dukungan Balaputera Lintara, maka tak segan ia membungkam tokoh laknat itu. “Apa pun yang sempat terjadi di antara kita, kau dan aku adalah keluarga… Di samping itu, kita sama-sama menjadi pelarian karena memperjuangkan hal yang kita anggap benar. Kita menjadi korban penilaian tak adil yang datang dari khalayak yang tiada mengerti makna sesungguhnya jalan keahlian.”

“Lantas…?”

“Apakah kita layak menerima keadaan ini…? Apakah selamanya kita akan bersembunyi…? Apakah pantas bagi kita hidup di balik bayang-bayang…?”

“Diriku menikmati kehidupan seperti saat ini,” sela Lintang Tenggara. Baginya, keleluasaan melakukan kegiatan tanpa gangguan adalah lebih dari cukup. Di Partai Iblis, tak ada pihak-pihak yang mempermasalahkan etika dunia keahlian, di mana ia bebas melakukan penelitian terhadap sesama ahli. 

“Tidak!” Balaputera Tarukma melipat satu lengan ke belakang pinggang. “Hidup bebas yang engkau jalani adalah semu adanya. Cepat atau lambat, suatu saat nanti pasti akan ada pihak-pihak yang membatasi ruang gerakmu.”

Lintang Tenggara mencermati lawan bicaranya. Berupaya menebak ke mana arah pembicaraan Balaputera Tarukma. Sepantasnya, tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk sampai kepada sebuah kesimpulan… 

“Bersama kita dapat mengambil alih Partai Iblis!” Balaputera Tarukma berujar penuh gelora. 


===


Suasana pantai hancur lebur. Di pesisir, seorang remaja lelaki terlihat gusar. Napas terengah, dan untuk dapat berdiri ia terpaksa bertopang pada sebilah keris raksasa yang tertancap di tanah. Sekujur tubuh bermandikan darah, petanda bahwa ia baru saja menyelesaikan pertarungan nan sengit. 

“Cih!” Di hadapannya, seorang perempuan tua nan bungkuk yang terlihat renta, berada di dalam perlindungan sebuah gelembung buih raksasa. Demikian sulit untuk menembus pertahanan tersebut. Kini, segenap tenaga dalam keduanya terkuras, sehingga penampilan mereka sungguh menyedihkan. 

“Kita masih terlalu lemah…,” perempuan tua bungkuk berujar pelan. “Kita perlu mengembalikan kekuatan seperti sedia kala sebelum berkumpul dengan yang lain…”

“Berkumpul dengan siapa…? Untuk apa…?”

“Kelima Raja Angkara harus berkumpul dalam upaya membangkitkan beliau….”

“Membangkitkan Kaisar Iblis Darah…?” 

“Benar.” 

“Aku tak tertarik! Lagipula Kaisar Iblis Darah sudah lama mati!” 

“Hang Jebat!” hardik perempuan tua renta itu. “Jaga mulutmu!” 

“Kau yang jaga mulut! Mengapa aku harus bersusah-payah membangkitkan Kaisar Iblis Darah!? Masih ada banyak hal lain yang lebih penting yang hendak aku lakukan!” 

“Kau mencari Hang Tuah…?”

“Benar!”

“Bagaimana bila kukatakan bahwa aku mengetahui di mana keberadaan Hang Tuah…?”

“Omong kosong!” 

“Akan kuberi tahu setelah kita membangkitkan Kaisar Iblis Darah…”

“Wahai Raja Angkara Durkarsa…,” cibir Hang Jebat. “Jangan kau merendahkan aku! Atas dasar apa engkau memberi tahu tempat keberadaan Hang Tuah bila kita telah membangkitkan Kaisar Iblis Darah…? Bukankah tindakan tersebut nantinya malah akan membahayakan Kaisar Iblis Darah!?”

“Hang Tuah tak sekuat dahulu…”

“Begitu pula Kaisar Iblis Darah! Tak ada dari kita yang setangguh dahulu! Menang jadi arang, kalah jadi abu!” 

Hang Jebat pun memutar tubuh. Tak hendak berlama-lama lagi ia meladeni Raja Angkara Durkarsa. Pertarungan uji kekuatan di antara mereka, membuktikan bahwa keduanya sama-sama berada jauh di bawah kemampuan di kala Perang Jagat dahulu. Perlu waktu panjang demi mengembalikan kekuatan seperti sedia kala. Meskipun demikian, Hang Jebat sendiri tak tahu harus pergi mencari ke mana, karena tak ada satu pun petunjuk yang benar akan keberadaan Hang Tuah. Bahkan Balaputera Ragrawira yang ia kenal cukup piawai, melakukan kesalahan tentang tempat keberadaan kakaknya itu. Atau… mungkinkah Balaputera Ragrawira berbohong dan sengaja membawa ke tempat yang salah…?

“Tunggu!” sergah Raja Angkara Durkarsa. 

Hang Jebat menghentikan langkah. Ia menoleh pelan. Raut wajahnya terlihat kesal.

“Pergilah ke Kepulauan Para Raja. Di sana engkau akan menemukan jawaban. Setelah tercapai tujuanmu nanti, maka kita semua akan berkumpul.” (1) 

Hang Jebat membuang muka, lalu pergi meninggalkan lawan bicaranya. 


===


Pada pagi hari sampai dengan lepas tengah hari, wilayah gunung atau pegunungan lebih cepat menerima panas matahari jika dibandingkan dengan lembah. Oleh karena itu, pada siang hari suhu udara di gunung atau pegunungan lebih tinggi jika dibandingkan dengan lembah. Hal ini menyebabkan tekanan udara di wilayah gunung atau pegunungan cenderung lebih rendah, sedangkan tekanan udara di lembah lebinggi tinggi. Oleh karena itu, berhembuslah angin dari lembah menuju gunung. Kejadian ini dinamakan angin lembah. Jadi Angin lembah terjadi pada pagi hari sampai menjelang petang hari.

Malam hari sebentar lagi tiba, sehingga hembusan angin telah berubah haluan. Saat ini, mulai berhembus angin gunung atau aliran angin yang datang dari gunung turun ke lembah. 

Langkah kaki seorang gadis belia mulai terlihat goyah. Sudah lebih dari dua pekan ia menapak perjalanan mendaki wilayah pegunungan. Kelelahan berbaur dengan angin gunung yang berhembus dingin, semakin memperberat langkah. Sebaliknya, seorang perempuan dewasa melangkah tenang di hadapan gadis belia tersebut. Tiada terbersit kelelahan barang setitik pun. Tentunya, hal ini dikarenakan perbedaan peringkat keahlian di antara mereka yang terpaut ibarat langit dan bumi. 

“Puan… kemanakah tujuan kita…?” ujar gadis belia sopan sambil membenahi jubah ungu tua yang melingkupi tubuhnya. Tanpa jubah itu, kemungkinan sudah berhari-hari yang lalu ia jatuh akibat rasa dingin yang mendera.

Perempuan dewasa yang disapa, tiada memberi jawaban. Menoleh pun ia enggan. Langkah kakinya santai, tiada terburu dan tiada menunjukkan niat untuk memberikan jawaban. 

Beberapa jam waktu berlalu. Malam semakin larut. Dinginnya angin gunung menusuk sampai ke tulang. 

“Puan… bukankah kini waktu yang tepat untuk kita beristirahat…?” Gadis belia tersebut kembali melontar pertanyaan. 

Perempuan dewasa yang disapa, tiada memberi jawaban. Menoleh pun ia enggan. Langkah kakinya santai, tiada terburu dan tiada menunjukkan niat untuk beristirahat. 

“Tiada aku mengajakmu untuk ikut serta. Engkau sendiri yang mengekori aku. Jadi, bila engkau hendak beristirahat, lakukan saja sesukamu. Jangan merengek di telingaku!” 

“Sungguh diriku tiada merengek…” 

“Bibirmu bergerak-gerak, nada suaramu memelas, gerak tubuhmu manja… Itu adalah petanda merengek!” Suara ketus menyayat tajam. Perihnya ibarat diiris sembilu.  

Gadis belia tertegun sejenak, lalu meneruskan langkah. 


===


“Paman...” seorang gadis belia terdengar ragu. “Apakah benar nama Balaputera merupakan nama keluarga di Kemaharajaan Cahaya Gemilang...?”

“Benar.” Seorang lelaki dewasa menanggapi pertanyaan dengan senyuman ramah. 

“Jikalau demikian, apakah nama Paman...?”

Lelaki dewasa itu menghentikan langkah, menoleh ke arah gadis belia, lalu menjawab, “Ragrawira.”

“Balaputera Ragrawira...” ulang Lamalera pelan. Di saat yang sama ia mengingat salah satu mata ajaran yang pernah didapat saat berada di Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura. “Jikalau demikian, bilamana benar berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bukankah berarti Paman menguasai teknik merapal formasi segel...?” 

“Benar,” tanggap lelaki dewasa itu cepat. 

“Apakah Paman sudi mengajarkan kepada diriku kemampuan merapal formasi segel...?”

Lelaki dewasa itu kembali tersenyum, lalu mengangguk. “Diriku hendak menyambangi seorang anak didik di Perguruan Gunung Agung. Selama perjalanan, dikau dapat mempelajari sebanyak mungkin tentang formasi segel.” 

“Baik!” tanggap Lamalera penuh semangat. “Setelah tiba di Perguruan Gunung Agung nanti, kemanakah tujuan Paman selanjutnya...?”

“Ada kewajiban yang perlu diriku tuntaskan.”