Episode 61 - Terlalu Banyak Kejutan



“Kau sudah dengar beritanya?”

“Tentu saja, tidak mungkin ada orang yang belum mendengarnya.”

“Haha, benar sekali, ini adalah acara terbesar di kota ini.”

“Tentu saja, aku sangat menantikannya.”

Semua orang dengan semangat berbincang, mereka sangat menantikan acara yang akan diselenggarakan di kota ini. Sebuah acara yang dapat membuat darah siapa saja mendidih oleh semangat. Sesuatu yang sangat disukai oleh semua orang di kota, yaitu turnamen bela diri.

Sebuah acara untuk menentukan siapa orang terkuat dan terhebat di kota ini. Para pejuang dari seluruh kota akan bermunculan di sana, dari mereka yang sudah terkenal dan ingin memamerkan kekuatan, ataupun mereka yang selalu berlatih dalam kesepian dan akhirnya mulai menampakan diri.

Semua orang sangat bersemangat oleh agenda tahunan ini. Tidak ada yang tidak penasaran siapa yang akan menjadi sang terkuat di kota ini dan mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa serta popularitas.

Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah kota dan disponsori oleh banyak merek, seperti merek baju, minuman, makanan, bahkan produk kecantikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar peserta yang akan mengikuti turnamen ini adalah dari kaum laki-laki. Namun, tidak sedikit juga perempuan yang akan berpartisipasi, seperti para petarung dari perguruan bela diri Iblis Merah, sebagian besar murid yang berlatih di sana adalah seorang perempuan, dan hampir semuanya adalah kecantikan yang dapat mengguncang iman para laki-laki.

“Hei, menurutmu siapa yang akan memenangkan turnamen tahun ini?”

“Entahlah, tapi aku akan selalu mendukung para dewi dari Iblis Merah.”

“Haha, sialan! Mereka memang hebat, tapi akan sulit untuk menang, kalau aku pasti akan mendukung juara tahun lalu?”

“Hah? Maksudmu?”

“Benar, perguruan bela diri Tinju Petir!”

“Sialan! aku juga tahu bahwa mereka lah yang kemungkinan besar akan menjadi pemenangnya. Namun, aku harap ada sosok kuda hitam yang bisa menjadi kejuatan.”

“Benar juga, aku juga sudah bosan karena mereka terus yang menjadi pemenangnya.”

“Menurutmu bagaimana dengan Sekte Gerbang Surga?”

“Mereka memang kuat, tapi itu di masa lalu, untuk saat ini mereka bahkan tidak pantas masuk sepuluh besar.”

“Benar, sayang sekali, padahal mereka dulu adalah rival sejati perguruan bela diri Tinju Petir.”

“Haha, persaingan mereka sangat ketat, bahkan aku tidak pernah bisa memutuskan siapa yang terkuat di antara mereka, tapi sayangnya itu dulu, sekarang sudah pasti perguruan bela diri Tinju Petir lah yang terkuat, bahkan di kota ini.”

“Haha, tentu saja, itu tidak bisa diragukan lagi.”

Perguruan bela diri Tinju Petir, seperti yang mereka katakan, perguruan bela diri tersebut adalah yang terkuat di kota saat ini. Mereka juga adalah pemenang dari turnamen tahun lalu. 

Dimasa lalu perguruan bela diri Tinju Petir dan Sekte Gerbang Surga adalah saingan berat. Namun, beberapa tahun kebelakang kekuatan dari Sekte Gerbang Surga mulai menurun dan akhirnya bahkan namanya tidak pantas lagi untuk disandingkan dengan perguruan bela diri Tinju Petir.

Sesuai namanya, perguruan bela diri Tinju Petir lebih dominan memakai tinju. Tinju yang sangat cepat. Dengan menggunakan serangan tinju yang sangat cepat tersebut mereka berhasil mengalahkan siapapun lawan mereka dengan sangat cepat.

Dimasa lalu juga, Sekte Gerbang Surga dengan teknik bertarungnya yang lincah dan indah dapat mengimbangi serangan dari perguruan bela diri Tinju Petir. Namun, karena teknik bertarung Sekte Gerbang Surga yang sangat sulit dipelajari membuat setiap murid tidak mampu mempelajarinya dengan sempurna, hingga sampai saat ini tidak ada satu pun yang dapat mempelajarinya dengan seutuhnya, kecuali Pemimpin Sekte mereka, Lin Er.

Namun, Lin Er tidak diperbolehkan lagi untuk mengikutinya, karena dia adalah Pemimpin Sekte.

Turnamen ini hanya diperuntukan untuk murid bela diri yang memiliki peringkat antara satu sampai lima. Dalam dunia bela diri, semuanya dikelompokan dengan peringkat satu sampai sepuluh.

Untuk bisa naik peringkat, seseorang harus bisa menyelesaikan pesyaratan yang telah diatur oleh asosiasi bela diri. Baru setelah itu seseorang akan bisa menyebut dirinya seorang dari dunia bela diri. 

Namun, peringkat ini tak bisa menjamin bahwa orang yang memiliki peringkat satu akan lebih lemah dari orang yang memiliki peringkat di atasnya. Terkadang ada beberapa orang yang tidak pernah menyelesaikan syarat untuk naik peringkat dan mereka itulah yang biasa menjadi pembeda saat turnamen berlangsung.

Meskipun begitu, mereka seperti sebuah anomali, tak banyak orang seperti itu. kebanyakan orang akan dengan bangga memamerkan kekuatan mereka dan mencari popularitas untuk keuntungan pribadi.

Karena begitulah sifat dasar manusia. Selalu ingin menjadi istimewa dan diistimewakan. 

****

Di Sekte Gerbang Surga.

“Kak, menurutmu siapa lagi yang harus ikut dalam turnamen tahun ini?” 

“Cukup aku saja.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, aku hanya merasa mereka tak layak mewakili Sekte untuk mengikuti turnamen, aku tidak mau Sekte kita dipandang remeh oleh orang lain lagi.”

“Maaf Kak, aku gagal membuat Sekte menjadi sekuat dulu lagi.”

“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu, percayakan saja semua ini padaku.”

“Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu.”

“Lagi pula, aku ingin memberikan kejutan untuk semua orang yang pernah meremehkan Sekte gerbang Surga, aku akan kembali dan mengatakan pada mereka, kami pernah menjadi yang terkuat dan akan menjadi yang terkuat lagi.”

“Benar.”

Dua orang saudara sedang berbicara dengan penuh ambisi, terutama sang kakak yang matanya memandang dengan mantap masa depan yang telah dia pikirkan. Untuk sang adik, dia dengan bangga dan optimis percaya bahwa masa depan yang dibayangkan oleh sang kakak pasti akan terwujud.

“Baiklah, waktu istirahat sudah selesai, ayo kita lanjutkan lagi latihannya.”

“Oke.”

Setelah itu sang kakak dan adik mulai berlatih kembali. Melatih seni bela diri mereka yang tersohor sangat indah, lincah, dan sangat mematikan. Setelah berlatih untuk sementara waktu, akhirnya mereka memutuskan untuk latih tanding, karena menurut mereka mempraktikannya adalah cara terbaik untuk mendapatkan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Mereka bertarung dengan sengit selama sepuluh menit, saling adu kecepatan dan konsentrasi dalam menyerang dan bertahan. Tidak ada yang memberikan simpati, mereka berdua menyerang dengan serius, meskipun ini hanyalah latih tanding.

“Aku masih penasaran dengan bagaimana kau bisa menjadi sekuat ini?” tanya sang adik.

“Hehe, aku juga penasaran kenapa bisa begini.”

“Hmm ... aku yakin, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Atau kau selama ini berlatih diam-diam?”

“Mungkin saja.”

“Ah, sudahlah, ngomong-ngomong siang ini kita jalan-jalan ke taman bermain yuk.”

“Tidak, turnamen sudah semakin dekat, aku harus terus berlatih.”

“Ayolah kak, berlatih terus tidak ada gunanya, sesekali kau harus menyegarkan dirimu, lagipula aku yakin, kau yang sekarang pasti bisa mengalahkkan semua musuhmu di sana.”

“Hehe, baiklah kalau begitu.”

“Yeay.”

Raut bahagia jelas tertulis di wajah sang adik, sedangkan sang kakak, walaupun dia tidak menunjukannya dengan jelas, akan tetapi jelas dia juga bahagia. Hubungan mereka yang dulu pernah retak, akhirnya telah kembali seperti dulu lagi. Dua kakak beradik yang sempat tak saling sapa, kini telah kembali akur lagi.

****

Di Perguruan Bela Diri Iblis Merah.

“Ayah, meskipun sikapnya seperti itu, tapi aku yakin dia bisa membuat perguruan tinggi memenangkan turnamen tahun ini.” Angel berkata pada ayahnya.

“Hmm...” Ayah Angel tidak bisa mengatakan apapun, dia memang terkejut dengan betapa hebatnya kemampuan Danny. Namun, dia masih tidak bisa menerima perlakuan Danny yang dia anggap kurang ajar. Menurutnya, kemampuan hebat tapi tidak diikuti dengan kepribadian yang baik, maka itu hanya sia-sia saja.

Namun, di sisi lain, dia juga tidak mau Perguruan bela diri Iblis Merah dianggap sebagai ‘vas bunga’, yang hanya berguna untuk membuat turnamen menjadi sedikit lebih menarik dengan hadirnya murid bela diri yang cantik-cantik saja.

Tidak banyak pria yang tertarik untuk masuk ke sana, karena mereka menganggap teknik bela diri yang diajarkan hanya ‘cantik’ tapi tidak kuat. Jadi, wajar saja jika mayoritas murid bela diri di sana adalah seorang perempuan.

Namun, di turnamen bela diri, tidak ada yang namanya perempuan atau laki-laki. Semuanya setara sebagai ahli bela diri. Akan tetapi, sekuat apapun seorang perempuan, akan sulit untuk mengalahkan seorang pria, kecuali untuk kasus tertentu. 

“Ayah, tolonglah, dengan adanya dia, perguruan bela diri kita pasti bisa memenangkan turnamen tahun ini, apa kau tidak mau membungkan mulut yang sering menghina kita?” tanya Angel lagi.

“Hmm ... terserah kau saja.” Ucap Ayah Angel lalu pergi menjauh.

Dia tidak mengatakan ya atau tidak, yang berarti semua keputusan ada di tangan Angel. 

“Baiklah, Ayah, aku pasti akan membawa dia ke sini dan kemudian perguruan bela diri Iblis Merah pasti akan memenangkan turnamen tahun ini.” Ucap Angel dengan penuh semangat.

Untuk saat ini yang harus Angel lakukan adalah cara untuk membuat Danny mau untuk mewakili perguruan bela diri Iblis Merah dalam turnamen ini. Dari awal Danny berkata bahwa dia tidak tertarik untuk masuk ke dunia bela diri, apalagi ditambah dengan konflik antara dia dan ayahnya, sehingga akan lebih sulit untuk membujuknya ikut dalam turnamen.

Namun, Angel tidak akan menyerah, bagaimana pun dia akan membuat Danny untuk mau ikut ke dalam turnamen. Karena Angel merasa bahwa bakat yang Danny miliki akan sia-sia jika tidak digunakan dengan baik. 

Angel memang berbakat, tapi dia sadar bahwa Danny memiliki bakat yang lebih baik darinya. Dengan sedikit kerja keras dan latihan, Angel yakin Danny pasti bisa menjadi sosok yang berpengaruh di dunia bela diri.

Dengan terburu-buru Angel berlari menuju rumah sakit. Setelah kejadian itu, dia masih belum sadarkan diri, akan tetapi dokter berkata bahwa tidak ada luka serius di tubuhnya, hanya masalah waktu dan dia akan bangun.

Menelusuri lorong sambil membawa buah-buahan, Angel dengan antusias berjalan sambil berharap bahwa Danny telah bangun. Sampai di depan pintu ruangan Danny, Angel langsung membukanya.

Angel terkejut dengan apa yang dilihatnya, di dalam ruangan Danny masih terbaring dengan mata terpejam. Namun, ada seorang gadis cantik yang duduk sambil memainkan rambut Danny. Gadis tersebut adalah Alice.

Sedangkan itu, di luar rumah sakit, seorang pemuda dengan tenang turun dari sepeda motornya lalu bergumam pelan, “Tuan, akhirnya aku bisa menemukanmu.”