Episode 80 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (3)



Keesokan harinya menjelang subuh, Kyai Pamenang telah menyelesaikan shalat Istikharahnya yang ia lakukan saat tahajud, setelah ia membaca doa dan melakukan wirid ia berkata pada istrinya Nyai Mantili. “Nyai… Nyai tentu sudah paham bukan arti dari mimpiku kemarin malam?”

“Saya paham kakang…” angguk Nyai Mantili dengan berat.

“Kemungkinan besar arti dari mimpiku semalam adalah bahwa… Keberadaan Negeri Mega Mendung akan segera berakhir, akan segera bedah, Sirna Ilang Kertaning Bhumi, dan kemungkinan penyebabnya adalah mahluk ghaib yang merasuki raga Dharmadipa…”

Nyai Mantili sudah tahu akan ke mana maksud dari perkataan suaminya tersebut, akan tetapi ia lebih memilih untuk diam dengan menundukan kepalanya. Kyai Pamenang menghela nafas berkali, dengan matanya yang berkaca-kaca ia menatap keatas langit-langit kamarnya. “Nyai aku juga sudah mendapatkan firasat bahwa umurku tidak akan lama lagi, namun begitu aku masih mempunyai satu keinginan di akhir hayatku kelak… Aku ingin meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan sahid…”

Kyai Pamenang lalu menatap wajah istrinya yang sedang menunduk menahan gelora kesedihannya itu dalam-dalam, ia mengingat-ngingan semua kenangan bersama istrinya dari semenjak mereka pertama kali bertemu dulu, ia juga mengingat-ngingat bagaimana dengan ikhlasnya Nyai Mantili menumpahkan semua kasih sayangnya pada Dharmadipa, sampai akhirnya mereka menjalani masa tuanya di padepokan ini, hatinya merasa sungguh sesak mengingat itu semua.

“Nyai… keinginanku untuk pergi secara sahid ini tidak akan terkabul kalau aku pergi dengan meninggalkan satu masalah yang membawa petaka bagi banyak orang, aku akan terus memanggul dosa yang tak berampun dan pasti akan ditagih kelak kalau aku tidak sanggup menanggulanginya sebelum aku menutup mata untuk selamanya… Nah persoalan Dharmadipa inilah yang akan membuatku tidak akan sahid.”

Nyai Mantili tak dapat menahan lagi rasa sedihnya yang begitu melangit, tangis perempuan yang sudah renta ini pun meledaklah, Kyai Pamenang langsung memegang kedua bahu istrinya. “Nyai… Kita sudah tua, sudah harus bisa untuk bersikap ikhlas menerima apapun takdir yang ditentukan oleh Gusti Allah Sang Maha Penguasa Kehidupan ini… Maka aku punya satu pesan padamu, kalau terjadi apa-apa denganku dalam melaksanakan tugas dari Gusti Prabu ini, tutuplah padepokan ini, dan ajaklah murid-murid kita yang masih mau ikut denganmu untuk mengungsi ke Banten, di sana temuilah Jaya Laksana, ceritakanlah semua yang terjadi padanya… Hanya dia harapan kita satu-satunya untuk menyelamatkan rakyat Mega Mendung dan khususnya Dharmadipa!”

“Baik Kakang…” angguk Nyai Mantili dengan lidah yang serasa kelu karena hatinya merasa berat untuk melaksanakan pesan dari suaminya.

“Terimakasih Nyai… Terimakasih sudah mau menjadi teman hidupku sampai usia usia kita senja seperti sekarang ini… Aku akan segera berangkat setelah shalat subuh…” ucap Kyai Pamenang dengan diiringi tatapan lembut pada istrinya yang telah setia menemaninya dari sejak muda meskipun mereka tidak dikaruniai seorang anakpun.

***

Siang itu di hutan belantara sebelah barat daya wilayah Mega Mendung yang berbatasan langsung dengan Kesultanan Banten, Mega Sari, emak Inah, dan Ki Silah sedang berjalan dengan susah payah menerobos lebatnya hutan belantara tersebut, mereka memutuskan untuk meninggalkan gua tempat persembunyian mereka di lereng Gunung Gede karena khawatir akan diserang lagi oleh Jin Bagaspati.

Emak Inah memperhatikan Mega Sari yang dari tadi terdiam seperti sedang melamun sambil memegangi perutnya, ia sangat khawatir dengan keadaan majikannya tersebut. “Gusti tidak apa-apa? Apakah Gusti lelah?”.

Mega Sari menggelengkan kepalanya. “Saya tidak apa-apa Emak, saya hanya kepikiran kejadian tadi malam, saya melihat ada sekitar sepuluh mahluk lelembut selain Jin Bagaspati yang merasuki tubuh Kakang Pangeran.”

“Mungkin itulah penyebabnya jasad Gusti Pangeran sulit untuk dikendalikan lagi?”

“Mungkin Emak…”

“Tapi kenapa mahluk-mahluk lelembut itu bisa bergabung dengan Jin Bagaspati untuk merasuki jasad Gusti Pangeran?” Tanya Ki Silah.

“Saya juga tidak tahu pasti Abah, hanya dulu Guru pernah bercerita bahwa Jin Bagaspati adalah Panglima bangsa Jin yang hidup disekitar Gunung Gede ini, mereka merasa terusik ketika Eyang Prabu Niskala Wastukencana membuka daerah ini dan mendirikan satu negeri baru untuk puteranya Sang Hyang Baladewa yang juga merupakan kakekku, Jin Bagaspati berhasil dikalahkan oleh Prabu Niskala Wastukencana dan diusir ke Puncak Gunung Gede, sejak saat itulah ia dan bangsa jin yang dulunya bermukin di wilayah Mega Mendung ini menaruh dendam kepada semua keturunan Prabu Wastukencana khususnya keturunan Eyang Prabu Sang Hyang Wangsareja.”

“Gusti perjalanan kita sudah sangat jauh untuk perempuan mengandung seperti Gusti, sebaiknya kita mencari tempat yang cocok mendirikan pondok untuk berteduh.” usul Ki Silah.

“Kalau bisa jangan terlalu jauh dari Gunung Patuha Bah, supaya sewaktu-waktu saya bisa menyambangi Nyi Lakbok.”

“Gusti masih terus berusaha untuk menjinakan Gusti Pangeran?”

“Ya… Saya takut, saya takut Kakang Dharmadipa akan tega mencelakakan saya Bah, saya sangat khawatir dengan pasukan lelembut yang merasuki tubuh Kakang Pangeran, ini bisa sangat membahayakan kita!”

“Di Selatan Gunung Masigit, ada hutan yang cukup baik untuk bersembunyi, tempat itu tidak terlalu jauh dari gunung Patuha, kita juga masih bisa mengawasi wilayah Mega Mendung, juga desa-desa di perbatasan wilayah Mega Mendung dan Banten.”

“Baiklah, saya setuju saja dengan pendapat Abah.” jawab Mega Sari, mereka pun terus berjalan ke arah selatan menuju ke Gunung Masigit.

***

Senja hari adalah saat yang sangat membuat seluruh penduduk Negeri Mega Mendung terutama penduduk di Kutaraja Rajamandala diserang oleh rasa ketegangan yang teramat sangat! Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, mereka yang sedang beraktivitas segera cepat-cepat pulang ke rumahnya masing-masing, para pemuda biasanya langsung menyalakan lampu-lampu minyak di jalanan meskipun hari masih terang karena mereka takut untuk keluar saat sudah gelap.

Malam harinya pada saat malam tiba, keadaan diseantero Mega Mendung menjadi sangat sepi, baik di kotaraja, di kota-kota, hingga desa-desa di pelosok semuanya sepi! Pintu-pintu dan jendela-jendela Rumah-rumah sudah tertutup rapat, biasanya hanya bau kemenyan dan berbagai sesajen penolak bala yang tercium dari rumah-rumah yang diharapkan dapat mengusir demit oleh para penghuninya, bagi yang telah memeluk Islam pun mereka melupakan ajarannya dan lebih memilih untuk menyajikan sesajen penolak bala daripada beribadah di Masjid atau di rumahnya masing-masing karena ketakutan pada para mahluk Ghaib yang sedang mengganggu negeri mereka. 

Para prajurit pun tidak ada yang berani untuk berjaga-jaga di jalanan, tidak ada juga yang berani untuk berkeliling berpatroli, mereka hanya berjaga di keraton serta di rumah-rumah para pejabat, itu juga karena terpaksa, karena itu adalah tugas mereka. Para prajurit maupun para penduduk baru berani keluar setelah hari benar-benar terang, selama hari masih gelap, jangan harap melihat ada penduduk Mega Mendung yang berani berkeliaran diluar!

Pada suatu senja, matahari sudah tenggelam sepenuhnya di langit ufuk barat, langit sudah menghitam, suara cuitan burung sirit uncuing yang parau mulai bergema diseantero Kutaraja Rajamandala, para penduduk yang masih berada di luar rumah segera berlari menuju ke rumah mereka masing-masing. 

Namun sial bagi dua orang prajurit yang hari itu bertugas untuk menyalakan lampu-lampu di jalanan Kutaraja Rajamandala, untuk lari ke keraton jaraknya cukup jauh, sementara suara cuitan burung sirit uncuing itu terdengar sangat dekat dengan mereka, mereka pun lari pontang-panting menuju ke rumah-rumah warga disekitarnya, mereka menggedor-gedor rumah penduduk yang dijumpainya, namun malang, tidak ada satupun yang mau membukakan pintunya.

Jantung mereka hampir copot ketika melihat burung sirit uncuing sedang bertengger diatas satu cabang pohon, maka mereka pun mempercepat larinya. Beruntung ada satu rumah gubug tua yang mau membukakan pintunya untuk mereka. Setelah memasang palang di pintu rumahnya, Si nenek tuan rumah bertanya pada kedua prajurit yang ketakutan tersebut, “Ada apa?”

“Setan sirit uncuing itu! Dia datang lagi!” jawab salah satu prajurit itu.

“Iblis! Sampai kapan dia bosan menakut-nakuti kita?!”

Si nenek lalu duduk dengan lemasnya sambil mengunyah sirihnya “Astagfirullah… Duh Gusti… Dosa apa negeri ini? Begitu banyak bala, malapetaka, dan bilahi menghantui negeri ini…”

“Tidak ada urusannya dengan dosa Nek, ini urusan dendam perebutan kekuasaan di antara keturunan Prabu Wangsareja!” sahut si prajurit.

“Iya, tapi kenapa harus rakyat yang menjadi korban? Para pejabat yang baik seperti Ki Citrawirya, sampai Mang Juju yang hanya pekatik kuda dibunuh.”

“Itu hal biasa Nek, supaya seluruh penduduk negeri ini menjadi bingung dan ketakutan, dengan begitu masyarakat akan menilai kalau raja kita yang baru tidak mampu melindungi dan mengayomi rakyatnya.”

“Ucapanmu kan seperti menuduh Gusti Putri Mega Sari yang melakukan semua ini? Lha kalau begitu siapa yang akan menggantikan Gusti Prabu? Pangeran Dharmadipa suaminya sudah tewas, Raden Jaya Laksana yang paling berhak bertahta sudah menjadi abdinya Sultan Banten.”

“Bagaimanapun juga, semua kejadian ini nyaris seperti lanjutan dari kekejaman pemerintahan mendiang Prabu Kertapati yang haus perang itu, atau jangan-jangan semua malapetaka ini adalah balasan kepada negeri kita karena semasa pemerintahan Prabu Kertapati yang bertangan besi itu telah banyak membunuh orang-orang yang tak berdosa?”

“Pokoknya kalau Gusti Patih Balangnipa dan Gusti Senopati Sentanu sudah pulang dari Tagok Apu membawa Kyai Pamenang yang terkenal sakti tersebut dan dapat menangkap Setan yang menyerupai Pangeran Dharmadipa itu, barulah kita tahu siapa dibalik malapetaka itu!” pungkas salah seorang prajurit yang Nampak lebih tua dari kawannya itu.

Sampai tengah malam burung sirit uncuing tersebut terus bercuit-cuit dengan suara paraunya yang menggema ke seantero Rajamandala, suaranya membuat Dewi Larasati terbangun dari tidurnya, ia pun menjadi ketakutan dan membangunkan suaminya. “Kanda Prabu, bangun! Suara sirit uncuing itu menggema lagi!”

Prabu Arya Bogaseta pun bangun. “Astaga… Siapa lagi yang akan jadi korbannya kali ini?”.

“Ki Patih dan Ki Senopati belum juga pulang membawa Kyai Pamenang?”

“Mestinya hari ini mereka datang Nyai!”

***

Pucuk dicinta ulampun tiba, orang-orang yang diharapkan kedatangannya oleh Sang Prabu dan Permaisurinya tersebut telah tiba di Kutaraja Rajamandala. Tengah malam itu, Ki Balangnipa, Ki Sentanu, Kyai Pamenang, dan sekitar dua puluhan prajurit pengawal telah tiba di gerbang Kutaraja Rajamandala, mereka memperlambat laju kudanya menuju ke keraton Rajamandala.

Ketika hampir tiba di alun-alun, suara burung sirit uncuing terdengar lagi, suaranya sangat keras menggema ke seantero Kutaraja dan sangat menusuk telinga, Kyai Pamenang pun meminta agar rombongan itu berhenti, mereka lalu melihat berkeliling, sampai akhirnya Ki Sentanu melihat burung sirit uncuing tersebut sedang bertengger diatas sebuah cabang pohon “Itu setannya!” tunjuknya keatas pohon “Biasanya apabila burung itu telah muncul, kejadian rajapati akan terjadi, dan akan banyak sekali korban yang berjatuhan!”.

Kyai Pamenang pun segera menenangkan Ki Sentanu dan para prajurit yang ketakutan “Tenang, minta perlindungan pada Gusti Allah!” setelah itu Kyai Pamenang bersidekap sambil memejamkan matanya sebentar, kemudian ia kembali menatap burung siluman tersebut.

“Untuk sementara kita bisa mengusirnya, sebelum persiapan untuk menangkapnya dan untuk kemudian kita kembalikan ia ke alamnya” ucapnya yang lalu duduk bersila dan mengeluarkan tasbihnya, “Bismillah…” Ki Sentanu dan Ki Balangnipa pun mulai membakar setanggi yang tadi dibawa oleh Kyai Pamenang, tempat itu pun segera dipenuhi oleh asap dan bau setangi.

Si burung siluman itu seperti tahu bahwa orang-orang itu hendak menyerangnya, maka ia pun segera terbang menukik hendak menyambar Kyai Pamenang, tapi dengan mudahnya sang Kyai melengoskan badannya menghindari terkaman burung siluman itu, Sirit Uncuing itu lalu bertengger diatas atap sebuah rumah, “Perlihatkan wujud aslimu!” bentak KYai Pamenang, dan wushh! Sirit Uncuing tersebut langsung berubah menjadi Dharmadipa yang seluruh kulitnya pucat pasi seputih kapas, hanya matanya saja yang merah semerah darah yang duduk diatas atap rumah tersebut! “Dharmadipa?!” seru Kyai Pamenang yang terkejut melihat wujud sirit uncuing tersebut.

“Dharmadipa! Ternyata dia!” tunjuk Ki Sentanu.

“Ya ternyata dia biang dari semua rajapati di negeri ini! Dia adalah Burung Sirit Uncuing pembawa malapetaka di negeri ini!” geram Ki Balangnipa.

“Tepat kan dugaan saya Kakang Patih! Ternyata laporan dari para saksi mata kita tidak meleset sedikitpun!” Sementara itu samar-samar dari sekujur tubuh Dharmadipa Nampak wajah-wajah para Jin yang merasuki raga tersebut, dan mereka keluar satu persatu-satu dari dalam tubuhnya “Kakang patih! Lihat!” seru Ki Sentanu yang terkejut sekaligus ngeri melihat belasan mahluk halus keluar dari tubuh Dharmadipa!

Kyai Pamenang pun tak kalah terkejutnya melihat fenomena ghaib yang aneh tapi nyata tersebut. “Dharmadipa! Astagfirullah!”, ia segera bersidekap bersemedi, sekujur tubuhnya dikelilingi oleh asap setanggi yang dibakar, dan ajaib! Perlahan sukma Kyai Pamenang keluar dari tubuhnya, dan sukmanya menjadi membesar mengikuti asap setanggi yang dibakar hingga tubuhnya menjadi raksasa, jauh lebih besar daripada tubuh para Jin yang keluar dari raga Dharmadipa!

Dengan dikomandoi oleh Jin Bagaspati, Para Jin itu kemudian mengelilingi sukma Kyai Pamenang, mulut Kyai Pamenang berkomat-kamit, dan terjadilah satu pemandangan yang sulit dipercayai oleh siapapun yang melihatnya! Asap pembakaran setanggi itu bertiup ke arah para jin yang mengepung sukma Kyai Pamenang, dan tubuh raksasa Kyai pamenang berubah menjadi ribuan ular api yang segera menyerang dan membelit para Jin yang mengepung Kyai Pamenang!

Para Jin itu menjerit kesakitan sambil berusaha untuk melepaskan diri dari belitan dan patukan ular-ular api ciptaan Kyai Pamenang tersebut, sampai akhirnya mereka terbang kembali menjadi baying-bayang merasuki tubuh Dharmadipa yang masih duduk diatas atap rumah itu. Ribuan ular-ular api kecil itu pun menggabungkan dirinya, dan berubah menjadi dua ular naga api raksasa, dua ular itu segera menerjang tubuh Dharmadipa, tubuh Dharmadipa pun terbelit oleh dua ular naga api raksasa tersebut, dengan jeritan dahsyat, tubuh Dharmadipa berubah menjadi burung sirit uncuing dan terbang lalu lenyap dari tempat itu! Ki Balangnipa dan Ki Sentanu serta para prajurit terkesima oleh pemandangan dahsyat yang sukar mereka percaya barusan.

Kyai Pamenang membuka matanya dan mengucap hamdalah, ia lalu menarik nafas lega sambil menatap kearah lenyapnya Dharmadipa. “Untuk beberapa hari ini, mahluk-mahluk jahat itu tidak akan berani lagi datang kemari!”

“Ternyata dibalik semua ini adalah Dharmadipa Kyai!” ucap Ki Balangnipa. 

Kyai Pamenang memejamkan matanya sebentar sebelum menjawab. “Itu bukan Dharmadipa, Saya juga tidak bisa melihat kalau para lelembut itu ada yang menyuruh, mereka adalah jin-jin liar yang tak dapat dikendalikan oleh siapapun! Mereka berasal dari puncak gunung Gede, mereka malah menggunakan wadag Dharmadipa untuk bisa berhubungan langsung dengan dunia manusia.”

“Tapi hampir semua korban adalah musuh Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari, mereka adalah orang-orang yang merencanakan pemberontakan pada saat pemerintahan Prabu Kertapati, sisanya hanya rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa!” sahut Ki Sentanu.

Kyai Pamenang menggelengkan kepalanya. “Saya kenal sekali perilaku Jin yang disuruh dan yang bertindak sendiri, ini sulit dikendalikan, berbeda dengan Jin suruhan, biasanya mereka mudah ditaklukan, karena mereka hanya menjalankan perintah, mereka tidak akan mau mengorbankan dirinya untuk majikannya…”

“Apa mungkin bisa dienyahkan sama sekali untuk selamanya?” Tanya Ki Balangnipa.

“Saya ditugaskan untuk itu bukan? Saya akan melakukan tapa brata beberapa hari di pusat Kutaraja ini…” jawab Kyai Pamenang, mereka pun langsung bergegas menuju ke keraton. Di hati Sang Kyai bergelora perasaan sedih yang teramat sangat bahwa memang benar, jasad Dharmadipa yang menjadi biang bencana ini telah dikuasai oleh para mahluk lelembut yang sangat jahat.