Episode 89 - Tenth Month


--  Trial of Survival Arc Start Here –

- ARC 4 - SWS FINALE ARC-  


Bulan ke-10, tahun 1901.

Di padang pasir besar area Fel Kingdom, negara di sebelah timur Greenhill. Diantara padang pasir yang luas itu, terdapat satu bongkah batu besar dengan lubang goa terbuka lebar di salah satu sisinya. 

Tang! Tang! Tang!

Terdengar suara beliung dari ayunan para penambang. 

Masuk ke dalam sana, terdapat goa luas dengan banyak galian tambang bawah tanah, tangga-tangga kayu, batu-batu tambang dan para pekerja tambang yang kurus-kurus.

TANG !! ... TANG !! ... TANG !!

BRUK !!

Salah satu penambang terkapar jatuh.

“Lapar... lapar...” katanya dengan suara merintih dengan memegangi perutnya yang kurus kering. “Makanan...”

Cklek!

Wajah penambang itu langsung di todongi pistol Shotgun tepat di depan dahinya.

DOORRR !!

Penambang yang terkapar jatuh itu langsung di tembak kepalanya oleh salah satu mandor mereka. Seseorang yang berpakaian seperti salah satu anggota penting dari sekelompok penjahat. Ia berambut biru tua pendek dengan kedua sisinya dicukur habis. Nama orang ini, Raul.

“Wakil ketua! Dia cuma lapar, kenapa kau malah membunuhnya?!” kata mandor lain yang setara tingkatnya. Pria berambut merah tua panjang sampai sedagu dan menutupi telinga. Terdapat codet besar dari dahi samping kanan sampai ke pipi hingga ke dagu. Ia bernama Volkan.

Raul tersenyum dan menyipitkan mata, “Heh... ya kita tinggal cari lagi kapal pasir pedagang Fel yang melintas dan sandra mereka untuk bekerja paksa disini. Heh... apa susahnya sih.” 

“Brengsek!” tinju Volkan hingga Raul terjatuh. 

Raul menjatuhkan shotgunnya, mengusap-ngusap pipinya, namun ia masih terlihat tetap tersenyum.

Sahut Volkan di depannya. “Kau pikir menjarah seisi kepala pedagang Fel itu mudah!” lalu ia menarik kerah baju Raul dan semakin membentaknya. “Selalu ada korban dari anggota-anggota kita yang harus terbunuh! Kau tahu itu?! Hah!”

“Heh...” Raul tertawa kecil. “Itu sih karena kau saja yang lemah.”

“Brengsek!” Volkan mengangkat tangannya lagi untuk melancarkan kepalan tangannya sekali lagi. 

Salah satu pekerja muda yang bekerja di tempat itu mendengar perdebatan mereka dengan kaki gemetar dan berdoa agar dirinya bisa keluar dari sini dengan selamat. “Ya tuhan, tolong kami, tolong selamatkan kami, tolong jaga nyawa kami agar...”

“Kau memang orang nomor dua di Guild kita!” sahut Volkan. “Tapi bukan berarti-“

Mandor penembak itu segera menarik Shotgunnya yang sempat terjatuh, mengangkatnya dengan cepat, dan dengan satu tangan ia...

DOOOR !!

Menembak salah satu penambang hingga menembus jantungnya dari belakang.

“ARRRGGHH !!” pemuda yang ketakutan itu ditembak langsung dari belakang. “Ke-kenapa...” ia terkapar jatuh dengan luka berat dan menangis di atas gundukan tanah tambang.

Lalu jawab Raul. “Tuhan tidak ada ditempat ini, tuhanmu sudah meninggalkanmu.”

“Wakil Ketua Raul, kau benar-benar sudah kelewatan!” Volkan geram dan ingin meninju lagi, tapi ia menahan dirinya, lalu melepas Raul begitu saja. “Aku tak tahan lagi, hal ini harus di laporkan pada ketua.” katanya sambil berpaling dari Raul.

“Heh? Apa? Ketua... Hei, hei Volkan, dengarkan aku dulu.” balas Raul yang segera berdiri menyusulnya. “Aku hanya memberi mereka motivasi bekerja.” kata Raul sambil menepuk pundak Volkan. “Itu saja...”

“Kau memang sudah sinting.” Volkan menghempas genggaman tangan Raul di pundaknya. “Sampai sekarang aku masih heran, kenapa ketua Voz memilihmu sebagai tangan kanannya.”

“Heh...” Raul tersenyum kecil. “Tentu saja aku yang dipilih ketua,” ia mengibas rambutnya, “Sudah jelas kan? Karena aku sangat-sangat kuat.”

“Cih...” Volkan membuang ludah ke samping kanannya. Lalu terus berjalan menjauh dengan wajah kesal.

“Pa-padahal dia cuma berdoa pada sang pelindung,” kata penambang di samping orang kedua yang tertembak itu. “Tapi...”

“Ssstt, diam... telinga Raul sangat tajam. Membuatnya kesal sedikit saja sudah cukup membuatnya menghilangkan nyawa orang.”

“Ba-baik...”

Lalu tak lama Raul menoleh ke arah mereka yang seketika membuat mereka gemetar lalu kembali bekerja, menambangi batu-batu tambang.

***

Di ruang ketua Guild mereka, Voz.

Ruangan yang tak lebih dari sebuah galian berbentuk persegi panjang yang tidak rata, ditaruh meja kursi dan cahaya dari lilin, dengan Guild Emblem mereka terpampang besar di belakang meja ketuanya. Emblemnya bergambar sebuah tornado dengan banyak titik-titik dan latar belakang gundukan pasir yang sesuai dengan nama Guild mereka, Sandstorm.

“Ketua Voz ini hasil jarahan kami.” kata seseorang yang berjalan dari balik kegelapan. Hanya kakinya yang terlihat melangkah maju ke depan Voz yang duduk di belakang meja kerjanya. Dengan pipinya bersandar pada kepalan tangannya. 

“Bagus sekali, memang penyihir Vheins itu hebat sekali, tidak salah aku mengangkatmu sebagai salah satu Officers Sandstorm. Volric...” kata Voz, pria berbadan tinggi, berkulit sawo matang, berambut putih panjang. Mengenakan pakaian jubah panjang seperti sultan berwarna merah tua dan motif garis-garis emas. Dengan pedang lengkung di ikat pinggangnya yang dibalut dari kain sutra emas.

“Terima kasih ketua.” Volric membungkuk untuk menghormatinya. “Aku sudah hitung isi peti ini. Total semuanya sekitar 1.323.800 Rez.”

Volric saat ini rambutnya sudah panjang dan kriting tidak terawat. Ia juga berjanggut lebat. Ada dua luka tebasan wajahnya, satu terdapat di mata kirinya dan satu lagi tebasan menyamping di tengah-tengah wajahnya. Ia juga memakai eyepatch hitam seperti seorang perampok.

“Hoh... jarahan yang banyak sekali.” Voz terilhat bangga padanya. “Lalu ada apa lagi?”

“Kami membawa tawanan, terlebih lagi... kami juga berhasil menangkap ketua kapalnya. Si gendut yang berpakaian mahal itu.” tunjuk Volric. “Cepat buka penutup matanya.” 

Anak buahnya melepas penutup mata dari kain putih biasa itu dan ketua pedagang itu langsung menyahuti mereka. “Kalian para bajingan! Sampah-sampah Fel! Kalian akan enyah dihadapan pemerintah Fel!”

“Heh... kau berani juga.” Voz segera memegang gagang pedang lekuknya. Yang sarungnya terbuat dari emas. “Siapa namamu?”

“Hiyy...” ketua pedagang itu langsung gemetar melihat senyuman Voz. Pakaian mahal dan penuh dengan perhiasan logam di tubuhnya tak sedikitpun mampu melindunginya. 

“Tolong tahan dulu ketua. Tahan sebentar.” Volric takut-takut, berusaha meyakinkan Voz. 

“Hmm?” Voz menaikkan alis kanannya.

“Aku sudah menginterograsi dia sebelumnya. Nama si gendut ini adalah Ahmad. Ia cukup berbaik hati membocorkan rute dan jadwal para pedagang lain yang akan melintas di Sajora Desert beberapa hari lagi. Gambarnya petanya ada disini.” Volric menunjukkan peta pada Voz. “Akan sangat merugikan jika ia dibunuh sekarang.”

“Kau yakin informasi yang diberikan itu benar?” tanya Voz yang curiga.

“Aku pastikan informasi ini benar, ketua.” balas Volric.

Voz menyarungkan pedangnya kembali. “Baik, bawa dia ke penjara dan jarah pakaiannya.”

“Baik, ketua.” hormat Volric dan segera ia mengkomando anak buahnya untuk melakukan apa yang diminta Voz.

“Ketua Voz, ketua Voz.” sahut Volkan dengan tergesa-gesa. “Raul berulah lagi. Dia...”

“Menembak para pekerja paksa? Biarkan saja, dia tahu apa yang ia lakukan.” balas Voz sambil mengangkat bahunya. “Kita dapat tambahan tenaga kerja baru. 28 orang jumlahnya. Pria yang bisa menggunakan senjata bawa mereka ke area pelatihan dan uji mereka. Bagi yang tidak punya potensi bertarung, suruh mereka kerja tambang hingga mati. Untuk wanita dan anak-anak, mereka punya tempatnya sendiri. Dan kalau ada orang-orang penting bisa kita ransum.”

***

Volric berjalan kembali ke ruangan kamarnya dengan membawa ketua pedagang itu bersamanya. Ia melewati tirai kain yang sudah sobek dan kotor karena debu dan pasir goa, lalu memasuki ruang kamarnya. Bentuknya tak lebih dari lubang galian semata dan ditaruh ranjang kayu dan jerami sebagai tempat tidurnya. Dan dua sel penjara untuk mengawasi para tawanan penting.

“Terima kasih telah menyelamatkanku.” kata ketua pedagang itu sembari di masukkan ke dalam selnya. Seorang pria gendut yang hanya mengenakan baju putih kotor dan sobek-sobek.

“Ahh masuk-masuk sana.” balas Volric sambil mendorongnya. “Aku tak ada maksud menolongmu. Aku cuma ingin bisa tetap waras saja.”

“Tetap waras?” tanya pria gendut itu sambil duduk bersandar di selnya. Ia hanya mengenakan pakaian polos yang sudah robek dan kotor. “Memangnya kau ini akan gila atau sudah gila?”

“Entahlah, aku seharusnya sudah gila. Dulunya, aku ini adalah pria dengan karir, pria kaya raya yang memiliki rumah besar, istri cantik dan anak-anak yang lucu. Tapi tiba-tiba aku dipecat oleh pak Vlaudenxius. Dan... dan... sejak saat itu. Aku menjadi begitu menyedihkan.” Volric membuka eyepatch lalu menangis.

“Vlau... denxius? Kau orang Greenhill rupanya...”

“Tolong jangan mempersulitku,dengan berbuat macam-macam seperti melarikan diri.” balas Volric berbalik badan dan melangkah ke arah cermin di samping kasurnya. “Aku butuh teman bicara manusia normal disini. Semua yang ada disini pikirannya hanya uang, membunuh, menjarah dan... memperkosa. Aku bukan mereka. Aku pria dengan karir.”

Volric melihat dirinya di cermin, terlihat matanya kirinya putih semua. “Tapi gara-gara anak itu... karirku...”

***

Volric mengingat kejadian itu lagi,

"Uhumm..." Vlaudenxius berlagak batuk untuk menyampaikan sesuatu secara tak langsung.

Wajah Volric seketika menjadi biru dan hanya bisa menunduk takut. 

"Volric... dengan bukti ini, kau resmi dipecat!" tegas Vlaudenxius.

"Di-di-di-dipecat pak?" Volric mencoba berkompromi.

"Ya... kecuali kau lebih ingin dipenjara."

"Lebih baik di penjara saja pak... asalkan gajiku masih tetap. Aku masih banyak tagihan, rumahku di Crystal District bahkan belum lunas. Kalau begini, bisa-bisa aku cerai pak..."

"Ohh? Kau pikir kau dipenjara dimana? World Prison."

Mendengar itu Volric dibuat semakin lemas dan pucat. "Ti-ti-ti-tidak mungkin. Penjara itu kan hanya untuk tahanan kelas S pak."

"..." Vlaudenxius hanya memandangnya dengan tatapan mengancam.

"Habis sudah hidupku, karirku, semuanya." Volric bangkit berdiri, berjalan mundur selangkah dan sujud meminta ampun di depan Vladenxius. "Tolong pak, jangan bawa aku ke penjara paling kejam itu."

"Ckckck, sebagai instruktur disini, apa akal sehatmu sudah hilang ya?" balas Vlaudenxius. "Mana mungkin kau dipenjara disana tanpa ada alasan yang kuat. Kau kupecat, penghasilanmu dari Vheins lenyap sudah. Kau di blacklist dari dunia mengajar se-azuria. Setelah itu, terserah dirimu. Kalau kamu hancur dan bergabung pada guild kriminal. Juga tidak masalah bagiku. Intinya, kau dipecat."

***

“Aku lemas sekali mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pak Vlau,” kata Volric yang bicara membelakangi ketua pedagang itu. “Tapi aku juga tak menyangka, dampaknya sangat besar setelah itu. Dan sialnya, aku benar-benar terjebak dalam guild penjahat ini.”

“Aku turut kasihan padamu...” pria gendut itu terus mendengarnya.

“Aku kembali ke rumah besar dan mewahku, rumah kesukseskanku. Kembali dan memeluk istri dan anak-anakku, menangis bersama-sama.”


“Maafkan ayah nak, ayah... dipecat.” kata Volric dipelukan keluarganya.


“Aku mencoba mencari pekerjaan lain, tapi tak ada yang gajinya bisa menyentuh seperempat gaji dari intruktur Vheins. Tak sampai sebulan, rumahku disita, dan hidupku berubah.”


“Bagaimana ini Ayah? Rumah kita...” kata istrinya di depan pintu gerbangnya yang bertuliskan di sita. 

‘Aku akan berusaha, pasti! Pasti ada jawabannya.”


“Baru beberapa hari saja tak memiliki rumah dan tinggal di penginapan murah. Aku baru saja terbangun dengan kepala yang pusing, lalu sebuah surat ditinggalkan buatku.” 


“Aku sudah tak tahan lagi... begitu isi suratnya.” 


“Istriku segera menceraikanku secara sepihak dan membawa kedua anakku, serta seluruh hartaku bersamanya. Aku ditinggal sendirian saat aku butuh mereka.”

Volric menangis di depan cermin.

“Aku hidup dijalan, mencoba mencari uang yang cukup bagaimanapun caranya. Tapi aku juga terlalu malu untuk tinggal di Vheins. Aku tidak tahan dengan tatapan mereka yang melihat aku begitu jatuh.”

“Aku pergi, mencoba mengambil Quest di desa-desa kecil. Berusaha menjadi pahlawan bagi mereka karena aku seorang pengguna aura yang kuat, tapi karena elemenku adalah kegelapan dan karena Quest itu membuatku mendapat luka ini, aku cenderung ditakuti dan diusir. Hal itu terus berulang dan berulang.” 

“Teman-teman instrukturku tidak ada yang mengunjungiku. Mereka segera melupakanku begitu aku dipecat. Aku hidup dijalan, hujan adalah hal yang sangat aku harapkan tidak turun. Tapi ya begitulah hidup, yang aku harapkan tidak terjadi, malah terjadi.”

“Aku terus berpindah tempat, tinggal dimana saja selama tak ada orang yang mengenalku. Aku begitu malu pada diriku saat ini.”

“Dan satu bulan lalu, ada suatu Quest, yang membutuhkan banyak pengguna aura untuk mengawal sebuah kapal pasir besar untuk mengarungi padang pasir Fel.”

“Seperti yang sudah kami antisipasi. Kapal kami di jarah kelompok ini, Guild Sandstorm dan kami kalah, tapi pihak mereka juga banyak yang terbunuh. Untuk mengganti kerugian di pihak mereka, orang-orang yang masih hidup di rekrut dengan cara seperti yang tadi kau lihat.” 

“Pakaian ketua kapal itu juga di jarah dan dikenakan Voz barusan. Aku memang membenci hidupku, tapi aku juga enggan untuk mati. Aku terpaksa mengabdikan diri pada mereka dan...”

“Dan semua ini!” Volric mendobrak meja di depan cermin keras-keras, wajahnya merah dan gigi mengeram. “Karena Hael!”

***

Dari hamparan pading pasir luas, Sajora Desert. Langit biru yang terik, berpindah ke langit dengan burung-burung berkicau diatas kapal-kapal para pelaut. Suara-suara ombak, dentungan lonceng dan kerumunan langkah kaki orang-orang. 

Hael dengan potongan rambut barunya, sedikit lebih pendek dan rapih tanpa mengenakan topi penyihir yang biasa ia kenakan. Kini ia hanya mengenakan pakaian sederhana dengan kemeja putih, rompi hitam dan syal merah. 

Sedang mengangkut sekotak kayu, bersama dengan rekannya. Seorang pria kekar berpakaian hitam tanpa lengan, berambut merah yang mengangkut kotak kayu yang lebih besar bersama dengannya. 

“Kyle, kau terlihat kelelahan, sisanya biar aku saja yang angkut ke gerobak kudanya.”

“Tidak apa, aku bisa beberapa kotak lagi.” balas Hael tersenyum meski tangannya sudah kesakitan. “Aku juga ingin berguna buat guild kita.”

“Bicara apa kau ini, kau sebenarnya hebat.” balas rekannya. “Tapi beberapa kali sering lepas kendali saja.” Rekannya menaruh kotak kayunya diatas gerobak. “Kau sudah bisa mengontrol summonmu belum?”

“Hmm...” Hael geleng-geleng kepala, “Belum terlalu.” lalu menaruh boxnya diatas gerobak. “Tapi sepertinya, sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengontrolnya.”

“Kau mau pakai alasan itu lagi?” Rekannya menyandarkan tangannya di atas box dan menatap Hael yang lebih pendek darinya. “Karena... summonmu punya kepribadiannya sendiri?” 

Hael mengangguk dengan antusias dan tersenyum. “Ya! Aku beberapa kali bicara dengannya, kamu juga pernah mendengar suaranya kan? Iya kan?”

“Ya... ya... suaranya seperti bisikan roh halus.”

“Hihi... tapi dia... yang selalu menemaniku.” balas Hael tersenyum.

“Kyle Elio... kau menjadi lebih periang sekarang ya.” rekannya mengusap-usap kepalanya.

“Tentu saja, aku sangat senang berada di guild kalian.” balas Hael. “Rasanya aku bisa menjadi diriku sendiri apa adanya.”

“Itu semua berkat dia. Kau harus berterima kasih padanya.”

***

Kletek! Kletek! Kletek!

Rekan Hael mengemudikan dua kuda di depannya, sambil secara berkala memecut kudanya.

Hael yang duduk di samping rekannya memandang ke atas, terlihat pohon-pohon hutan belantara dan langit biru cerah. Tersenyum dengan keputusannya untuk pergi.

“Alzen terima kasih atas saranmu,” kata Hael dalam hati. “Sayang sekali aku tidak bisa bertemu denganmu, meski awalnya berat dan aku berkali-kali merasa ini adalah pilihan yang salah. Tapi karena tak bisa kembali ke sana lagi. Aku akhirnya bisa sampai disini, bertemu mereka dan memiliki tempat baru yang menerimaku.”

“Jika ada kesempatan, aku ingin sekali bertemu dengannya.” kata Hael dengan suara kecil.

“Hmm bertemu siapa?”

“Alzen Franquille.”

***

Dari Griffinia, langit biru cerah penuh dengan kicauan burung-burung pelabuhan, berpindah ke kota Vheins, turun pada salah satu toko senjata sihir di Twillight District.

“Hah... Sudah mau akhir tahun lagi ya.” kata pak tua yang menjaga toko itu. Seorang bapak-bapak tua gemuk sudah ubanan, hanya mengenakan kaus kutang, Ia berkumis dan botak tengah mengenakan kacamata.

Selagi menjaga toko ia selalu duduk membaca koran dengan kaki diatas meja. Ia membaca di ruangan yang pencahayaannya begitu minim. “Sebentar lagi turun salju. Ahh, bicara apa aku ini. Di Vheins mana ada salju. Hujan deras iya... harus ke ujung selatan atau ke Quistra dulu untuk menikmati salju.”

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

Lonceng di depan pintu masuk berbunyi.

“Selamat datang.” sapa pak tua itu dengan ketus, ia tetap duduk sambil membaca koran. “Silahkan lihat-lihat dulu.”

“Aku mau beli tongkat ini paman, dulu aku ingat 20 ribu Rez harganya kan?”

“Sudah naik dek, itu sih harga awal tahun ini.” kata pak tua itu. sambil beranjak dari bangkunya. “30 ribu baru dapet sekarang dek. Permintaan lagi tinggi soalnya.”

“Wahh sudah naik ya?” kata si pembeli sambil mengeluarkan uang. “Tidak apa deh, aku tetap beli kok.”

Pak tua itu melihat pembelinya itu dengan pandangan kabur, ia mengusap-usap matanya sambil mencari kacamata. “Ahh!? Kamu kan?! ALZEN !!?”

“Hehehe... iya paman,” kata Alzen sambil senyum-senyum dan garuk-garuk kepala. Saat ini ia mengenakan kemeja putih dengan dasi merah dan rompi hitam serta celana panjang berwarna biru tua. Ia juga mengenakan ransel di belakang punggungnya.

Alzen kini mengenakan kacamata dan rambutnya sedikit lebih panjang. “Paman masih ingat?”

***