Episode 60 - Rencana di Balik Rencana



“Jangan banyak omong kosong, cepat langsung ke intinya saja.” Nino berkata dengan ketus.

“Haha, sepertinya ada yang sangat tidak sabaran disini,” Dragon melirik Nino lalu melanjutkan, “sebelumnya aku mengucapkan terima kasih karena kalian bersedia hadir kemari, jadi apa yang ingin aku katakan adalah tentang si Iblis Hitam.”

“Si Iblis Hitam?”

Dragon melihat ke sekeliling lalu berkata, “Kalian pasti tahu apa yang aku maksud, kan?”

Bagi sebagaian masyarakat umum, mereka masih mempercayai bahwa si Iblis Hitam adalah rumor yang disebarkan oleh orang-orang iseng, tapi bagi empat geng penguasa kota, sosok si Iblis Hitam itu memang nyata adanya.

Semenjak kemunculannya, banyak dari anggota mereka yang keluar dari geng, baik dengan pemberitahuan terlebih dahulu, maupun hilang tanpa jejak. Tapi mereka yakin, bahwa itu semua karena si Iblis Hitam.

Terutama untuk geng Naga Emas, sejak kedatangan si Iblis Hitam, banyak anggotanya yang mulai menghilang, juga ada beberapa yang memberikan pemberitahuan bahwa mereka akan keluar dari geng, tapi tidak memberitahukan penyebabnya, tapi ada satu kesamaan dari mereka yang keluar, yaitu mereka memiliki luka di tubuh seperti sehabis melakukan pertarungan dan malam sebelumnya mereka memiliki tugas pada malam hari.

Meski belum diketahui kebenarannya dengan sempurna, tapi mereka yakin bahwa itu adalah ulah dari si Iblis Hitam. Dia merebut anggota geng mereka untuk membuat kekuatan baru yang tentu saja tidak akan diabaikan begitu saja oleh mereka.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Bersatu untuk melawan dia begitu?” tanya Nino sambil memberikan pandangan sinis pada Dragon.

“Benar, begitulah rencanaku.” Jawab Dragon dengan percaya diri.

“Bodoh, kau pikir aku mau bekerja sama denganmu? Meskipun ada anggota geng yang pergi, aku bisa dengan mudah mencari penggantinya.” Nino berkata dengan bangga. 

“Pikirkan baik-baik, bagaimana jika dia akhirnya bisa mengumpulkan banyak pasukan dan menjadi sekuat kita, apakah kau akan membiarkan hal itu terjadi?” tanya Dragon dengan tenang.

“Haha, dia tidak mungkin bisa sombong di depanku,” Nino menoleh ke arah anggota gengnya lalu melanjutkan, “benar, kan?”

“Tentu saja, geng Serigala Hitam bukan geng yang dapat kau samakan dengan geng biasa.”

“Kami tidak akan kalah walaupun melawan si Iblis Hitam tersebut.”

“Kami adalah geng yang kuat, si Iblis Hitam bukanlah ancaman berarti bagi kami.”

Semua anggota geng Serigala Hitam dengan percaya diri saling menyombongkan geng mereka. Setelah semua, tidak ada yang tidak berjalan dengan lancar jika mereka dengan serius melakukannya, jadi kepercayaan diri mereka sangat tinggi. 

Menurut mereka, jika mereka memang berniat untuk menggulingkan pemerintahan, geng Serigala Hitam pasti bisa melakukannya. Namun, sayangnya mereka tidak mau membuang waktu untuk memikirkan masyarakat sekitar, mereka hanya ingin bersenang-senang dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan, untuk urusan negara, biarkan saja dilakukan oleh mereka yang telah terlajur kotor oleh politik.

Meskipun kepercayaan diri itu belum pernah terbukti, dengan kata lain mereka hanya sombong.

“Baiklah, terserah saja jika kau tidak mau ikut, karena begitu, aku persilakan kalian untuk pergi.” Dragon berkata sambil menahan emosinya. Dia merasa itu sudah cukup untuk meminta geng Serigala Hitam, harga dirinya tak memperbolehkannya untuk meminta mereka untuk kedua kalinya.

Namun, Nino dan teman-temannya tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduk mereka, dengan sangat santai mereka mulai mencicipi makanan di atas meja sambil tertawa dan bercanda.

Dragon menatap tajam pada kelompok geng Serigala Hitam lalu dengan keras memukul meja dan berdiri yang diikuti oleh semua anggota geng Naga Emas, mereka dengan cepat mengambil masing-masing senjata dan mengarahkannya pada geng Serigala Hitam.

Melihat apa yang dilakukan oleh geng Naga Emas, semua anggota geng Serigala Hitam dengan cepat merespon. Mereka berdiri dan mengambil senjata api yang sebelumnya telah disembunyikan di balik jas mereka.

Kedua kelompok saling tatap dengan penuh kebencian. Tidak peduli siapa yang pertama menarik pelatuk, ruangan ini pasti akan berantakan jika mereka mulai bertarung.

“Haha, serang, cepat serang yo.” Jay berteriak dengan semangat.

“Hmm, sepertinya ini akan menjadi menarik.” Gumam Ara dengan pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang kini sedang mengawasi sekitar.

“Cepat bertarung, apalagi yang kalian tunggu,” Dion berkata dengan senyum lebar di wajahnya, lalu dia bergumam pelan “dan aku harap kalian semua mati saja.” 

Namun, meskipun telah mendengar apa yang Dion dan yang lainnya katakan, tidak ada satu pun dari mereka yang menarik pelatuk. Karena mereka masih bisa mengontrol emosinya dan tahu apa akibat dari apa yang akan terjadi jika mereka melakukan sesuatu dengan gegabah.

Tanpa suara geng Serigala Hitam dan geng Naga Emas menyimpan kembali senjata masing-masing lalu duduk dengan tenang, seperti tidak ada yang terjadi.

“Hah, membosankan.” Gumam Jessica dengan pelan sambil menarik kembali senyum tipis yang sebelumnya dia lukiskan pada wajah cantiknya.

Dragon mengalihkan pandangannya ke sisi lain dan menatap Jessica dengan pandangan yang penuh gairah. Dia menjilat bibirnya lalu berkata, “Bagaimana dengan Mawar Biru? Apakah kalian akan ikut atau tidak?”

“Hehe, tentu saja aku tidak akan ikut.” Jawab Jessica dengan genit.

Mendengar jawaban tersebut membuat wajah Dragon mendung seketika, sedangkan Nino dengan puas menaikan sedikit dua ujung bibirnya. Dia merasa bahagia apabila melihat segala sesuatu menjadi sulit bagi Dragon.

Jessica tertawa geli melihat perubahan ekspresi dari Nino dan Dragon, sambil menyembunyikan senyum di balik tangannya yang halus dan lembut dia berkata, “Tapi, aku akan menyediakan senjata terbaru dan terhebat, jadi kalian bisa dengan mudah melenyapkan si Iblis Hitam, lagipula aku sedikit terganggu dengan kehadirannya.”

Kini, raut wajah dari Nino dan Dragon berbanding terbalik dari yang sebelumnya.

“Bagus, bagus, aku senang sekali kau bersedia bergabung,” Dragon berkata dengan bahagia lalu melirik ke samping Jessica, “lalu, bagaimana dengan kalian, bergabung atau tidak?”

Dragon tidak berharap banyak dari geng Pemburu Iblis, hubungan antara dia dan mereka sangat buruk, jadi wajar saja jika mereka menolak untuk bergabung.

“Kau pasti sudah tahu jawaban kami, bukan?” Ucap Dion sambil tersenyum kecut pada Dragon.

“Baiklah, tidak apa-apa jika kalian tidak ingin bergabung, tapi jangan salahkan aku jika suatu hari nanti ada anggotamu yang menghilang dengan tiba-tiba.” Dragon berkata dengan senyum yang misterius.

BRAKK

Ara memukul meja lalu berdiri, “Apakah kau mengancam kami?” 

“Tidak, tentu saja tidak, aku hanya memperingatkan kalian jika itu terjadi, maka jangan lakukan tuduhan pada kami saja.” Ucap Dragon.

“Yo tenang saja yo, Jika mau Bos pasti bisa menghancurkan mereka yo.” Jay berkata sambil merangkul pundak Ara.

“Hahaha, aku sungguh takut mendengarnya.” Dragon berkata dengan sinis setelah mendengar apa yang Jay katakan. Sampai saat ini Dragon masih belum pernah sosok pemimpin dari geng Pemburu Iblis, tapi Dragon yakin bahwa dia tidak sehebat apa yang anak buahnya katakan. 

Kadang, ketidaktahuan bisa mendatangkan malapetaka. Kesombongan bisa mendatangkan kehancuran.

“Karena sudah selesai, kenapa tidak kalian pergi saja, karena Naga Emas masih ada yang ingin dibicarakan dengan Mawar Biru.” Ucap Dragon dengan pandangan yang penuh nafsu. Dia dengan saksama memperhatikan setiap inci tubuh Jessica seakan ingin memilikinya seutuhnya.

“Haha, tenang saja, ini masih awal dan aku juga ingin menemani nona cantik di sebelahku untuk minum beberapa gelas lagi.” Dion berkata sambil menuangkan sebuah minuman ke dalam gelasnya dan gelas Jessica.

Sedangkan itu, Geng Serigala Hitam masih sibuk menyantap makanan yang ada di depannya tanpa memedulikan apa yang Dragon katakan.

“Kenapa tidak kita bicarakan lain kali saja, lagipula kurasa ini bukan tempat yang cocok untuk membicarakannya.” Jessica berkata dengan senyum tipis di wajahnya.

“Haha, baiklah, tentu saja, kita akan membicarakannya lain kali.” Dragon berkata sembari meremas tangannya dengan erat.

Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing, Jessica dengan sabar mendengarkan ocehan dari Dion, Ara, Jay dan teman-temannya. Nino dan anggota geng Serigala Hitam masih dengan santai makan dan mengobrol. Melihat semua itu membuat emosi Dragon menjadi membara, dia merasa sangat tidak dihargai.

“Haha, kalau begitu silakan saja nikmati hidangannya, aku akan pergi dulu.” Ucap Dragon lalu beranjak dari kursinya dan pergi bersama semua anggota geng Naga Emas yang lainnya.

Nino mengacuhkan Dragon, Dion dan teman-temannya masih mencoba merayu anggota geng Mawar Biru, sedangkan itu Jessica hanya mengangguk dengan ringan mendengar ucapan dari Dragon.

Setelah keluar dari pintu, Dragon mendekati salah satu anak buahnya dan berbisik, “Siapkan beberapa gadis di kamarku malam ini.”

Dragon merasa bahwa itu adalah cara terbaik untuk meredakan emosinya, dan juga mematikan api yang dipicu setelah dia melihat Jessica.

Setelah kepergian Dragon dan geng Naga Emas, Nino langsung berdiri dan menghampiri meja geng Mawar Biru dan Pemburu Iblis.

“Aku ingin bekerja sama dengan kalian, apakah kalian mau?” tanya Nino.

Dion, Ara, dan Jay mengangkat alisnya tanpa mengatakan apa-apa. Sedangkan itu Jessica dengan lembut berkata, “Jelaskan dulu apa yang ingin kau lakukan, dan mungkin saja aku akan ikut dalam permainanmu.”

****

Nino dan teman-temannya segera masuk ke mobil dan pergi meninggalkan restoran tersebut. 

Rombongan mobil mereka membelah jalan raya yang ramai dan membuat orang-orang iri melihatnya.

Di pintu masuk, geng Mawar Biru dan geng Pemburu Iblis melihat kepergian mereka dengan diam. 

Tiba-tiba saja Jessica mendekati Dion dan berkata, “Oh ya, ngomong-ngomong apakah aku bisa bertemu dengan Bosmu?”

Aroma parfum Jessica yang menggoda dan tubuhnya yang sangat indah membuat Dion sedikit gugup. Dion menelan air ludahnya lalu berkata, “Te-tentu saja, kau bisa bertemu dengan Bos, tapi tidak untuk sekarang, aku akan informasikan kapan dan dimana kau bisa bertemu dengan Bos.”

Dengan wajah yang bahagia dan semangat Jessica berkata, “Benarkah, baguslah kalau begitu, aku menantikan kabar baik darimu.”

“Ya, tentu saja, tunggu saja, pasti secepatnya kau bisa bertemu dengan Bosku.” Ucap Dion dengan bangga.

Setelah berbasa-basi untuk sejenak, Jessica meninggalkan Dion dan teman-temannya lalu seketika ekspresi wajahnya berubah. Meskipun tetap cantik, akan tetapi terasa sangat dingin, seperti sebuah mawar yang membeku, mawar cantik yang berduri berwarna biru.

“Semua pria memang sama, bajingan.” Gumam Jessica dengan lembut.