Episode 88 - Tomb of the Great King Part III


“Lari! Lari! Selamatkan diri kalian!” sahut para petualang yang berusaha pergi dari dungeon ini.

Di Lantai 4, para petualang bergegas menuruni tangga ke bawah, berbondong-bondong untuk menghindari kejaran bos anomali.

“Apa tak ada yang punya Teleport Stone...” kata salah seorang petualang sambil memohon dengan wajah ketakutan. “Tolong berikan satu padaku. Aku tak ingin mati disini.” ucapnya selagi terus berlari.

“Kalau ada, aku sudah pakai sendiri bodoh!” bentak petualang di sebelahnya.

Sementara banyak petulang di sekitarnya satu persatu memecahkan batunya dan diteleportasi keluar dungeon.

“Ya Tuhan, jika aku bisa selamat dari tempat ini. Aku janji aku tak akan sebodoh ini lagi. Sampai-sampai lupa membawa barang yang esensial begitu.” Petualang itu berlari sambil mengucap doa. “Hmmph!!?” dan seketika ia terpikir sesuatu. “Apa pura-pura mati saja ya? Aku sudah tidak kuat lagi berlari.”

Sementara di belakang mereka terdengar jeritan keras teriakan minta tolong.

“UWWAGHHH !! TOLONG KAMI !!”

“Gulp...” petualang itu menelan ludah dengan wajah pucat. “Ti-tidak jadi...”

***

“Cepat-cepat! Cepat tinggalkan tempat ini!” sahut Kazzel mengevakuasi para murid. 

“Sebenarnya ada apa sih pak?” tanya salah seorang murid yang berjalan dengan ragu-ragu.

“Nanti saja penjelasannya!” balas Kazzel dengan suara keras. “Ini darurat. Kalian cepat kembali!”

Kazzel kemudian mengamat-amati setiap murid yang ada disitu dan tak mendapati Alzen maupun Luiz. “Aduh, jangan-jangan, mereka...” pikir Kazzel dengan resah.

Kazzel melihat sekitar, mencari orang yang kira-kira bisa ia andalkan. 

“Hei,” Kazzel menepuk salah seorang murid di dekatnya.

“Ya?” balas Sever setelah ditepuk.

“Tolong pimpin mereka kembali keatas.” pinta Kazzel. “Aku serahkan padamu. Maaf, aku harus buru-buru.”

“Tapi pak, aku sendiri tak mengerti apa yang sedang terjadi.” balas Sever. “Bagaimana aku...”

“Sudah ya...” Kazzel segera berlari meninggalkan Safe Zone lantai 3. “Pokoknya bawa mereka keatas. Dah...”

***

Alzen mengedipkan mata, pandangannya kabur dan badannya terasa sakit semua. 

“Adududuh...”

Kepalanya berdarah dan mendapati dirinya dalam posisi terbaring di lantai tak berdaya. 

“Apa aku memilih pilihan yang salah? Apa sebaiknya tak dilanjut saja?”

Alzen menepuk lantai keras-keras, mencoba untuk bangkit perlahan-lahan.

“Tapi tak ada pilihan untuk memutar kembali keadaan.” Alzen bangkit dengan susah payah. “Yang ada hanya maju atau mati.”

Alzen bangkit dan melihat teman-temannya sedang berjuang melawan Dracula yang melayang terbang tidak berpijak di tanah, menyerangnya dari berbagai arah.

Luiz menahan Dracula itu dengan pedang besarnya, beradu dengan senjata milik lawannya. “Pedang darah!? Blood Magic?”

“Hyaaa !!” Gunin mencoba menikam dari belakang namun terhalang oleh kerumunan kelelawar yang melindungi tuannya. 

Krik! Krik! Krik! Krik! Krik! Krik!

“Ugh! Suaranya berisik sekali.” telinga Gunin kesakitan mendengarnya.

“HWAAA !! FIREBALL !!” Chandra menyerang dari sisi samping Dracula.

Dracula itu menyadarinya, matanya menoleh ke sisi kiri dan tanpa gerakkan apapun...

Drusshhhtt!

Serangan Chandra, tertangkis begitu saja oleh Black Barrier yang baru saja di cast-nya.

“Mu-mustahil...”

Alzen yang cukup berjarak dengan Dracula itu meng-cast sihir yang memerlukan waktu lebih panjang. Begitu suara percikan listrik itu terdengar di telinga Dracula, matanya sekejap langsung fokus pada Alzen. 

Dracula mengarahkan tangannya ke arah Alzen dan menyerang Alzen dari jauh dengan sihir Dark Force tanpa mengucapkan mantranya. Alzen terpental sekali lagi, hingga membentur ujung tembok dan merintih kesakitan di lantai.

“Di-dia sadar... terus, bagaimana mengalahkannya?” pikir Alzen sambil bergerak bangkit kembali.

“Alzen! Kau belum pulih sepenuhnya. Jaga jarak dan tunggu waktu yang tepat!” balas Luiz tanpa bisa menoleh, karena ia harus fokus beradu pedang dengan sang Dracula.

“Hah... hah... kelelawarnya tak ada habis-habisnya.” pikir Gunin sambil terus menebas-nebas kerumunan kelelawar dari belakang Dracula. “Setelah kutebas habis, kelelawar itu muncul kembali melalui aura si Dracula. Kalau begini kapan selesainya?!”

“Firebal !! Firebal !! ... Firebal !!”

Tinju Chandra berkali-kali. 

“Bagaimana nih!? Barriernya tidak rusak sama sekali...” Chandra merasa sedikit putus asa. “Cih! Aku benci sekali melawan Barrier.”

Tak terpikir melakukan cara apa lagi, Chandra berlari sambil berteriak mendekati Dracula itu. “Hyaa!” 

Setelah berhadap-hadapan langsung, dari samping Dracula itu, Chandra meninju ke bawah lalu melompat menghempas tangannya ke atas...

“Fire Tower !!”

Semburan api mencuat dari sisi bawah Dracula itu.

BRUSSHHHTTTT !!

Mengalir spiral membakar hangus sang Dracula.

“Hah... hah... apakah berha-“ Chandra menoleh ke atas. “Huh!!?” Chandra mendapati Dracula itu sepenuhnya di proteksi oleh Barrier yang membungkus dirinya di dalam bola. “Tidak mungkin. Terus bagaiaman cara melawannya?”

Setelah diserang dari berbagai arah, sang Dracula menyilangkan tangannya di depan, membungkukkan badannya sedikit lalu...

DRUSSHHH !!

Sang Dracula menghempas tangannya lebar-lebar, mereka bertiga dihempas kekuatan besar Dark Force yang terpancar dari tubuh Dracula.

“Ku-kuat sekali.” Luiz berusaha menahan kakinya agar tak terseret terlalu jauh hingga membentur tembok.

Gunin mengikuti arus hempasannya dan melompat salto untuk berpijak pada tembok dan turun dengan sempurna.

“HWAAAA !!” Chandra terhempas bebas dan mengalami luka yang sama dengan Alzen.

“Tidak mungkin...” kata mereka berempat bersamaan dari masing-masing arah mata angin. “Bosnya terlalu kuat!”

Dracula yang terbang melayang di tengah-tengah arena, memutar badannya melihat mereka berempat secara bergantian untuk memutuskan siapa yang akan dihabisinya dan pandangan terakhir terhenti begitu melihat Alzen yang duduk bersandar di tembok menahan sakit.

Sang Dracula tersenyum dengan dua gigi taring dan mata merahnya, lalu melesat cepat dan sekejap sudah ada di depan Alzen dengan sabit besar yang tercipta dari Blood Magic.

Alzen melihat Dracula dengan sabit darahnya dengan jantung berdebar-debar dan ketakutan.

Lalu... 

SRUSHHHH... !!

Alzen menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Kejanggalan terjadi, beberapa detik kemudian Alzen tak juga tertebas, malahan mendapati sang Dracula berhenti kaku termasuk juga tetesan darah yang melayang berhenti di udara seperti dalam kondisi sedang di pause,.

“Hah...!? Kenapa tiba-tiba,” Alzen terheran-heran dan tak lama setelahnya, Dracula itu lenyap dan ia diteleportasi keluar dari Arena Boss.

Alzen segera bangkit melihat sekitarnya, “Ka-kalian juga?” Ia melihat kawan-kawan satu partynya bersamaan dengan party yang lain juga diteleportasi keluar dengan perasaan bingung.

“Kok tiba-tiba? Pertarungannya terhenti?” Leena heran dan menanyakan hal yang sama. Dari luka dan debu di tubuhnya, Leena juga terlihat mengalami pertarungan yang sengit.

“Hah... hah... kalian? Kok bisa gabung kesini?” tanya Lio yang salah paham karena mereka ada di tempat yang serupa dengan Arena Bossnya.

Srk...

Srk...

“Siapa disana!” sahut Luiz dengan sigap menghunuskan pedang ke arah yang ia waspadai.

Dari balik kegelapan muncul sesosok pria dewasa berambut hitam panjang, mengenakan topeng Leak yang patah setengah, namun bukan dikenakan untuk menutupi wajah, melainkan menempel pada sisi samping kanan dahinya.

Wajah pria itu di separuh kanan adalah tengkorak tanpa daging, hanya tulang saja yang terlihat. Mata kanannya bolong seperti tengkorak. Namun separuh kiri wajah memiliki paras muka pria umur 40an yang gagah. Matanya tajam dan bersinar berwarna emas.

Mulutnya ditutupi oleh syal merah, namun di bawah syalnya terdapat ornamen seperti lidah panjang menjulur ke bawah seperti jubah tengah. Pakaian yang dikenakannya adalah jubah bulu Leak berwarna hitam dan setiap ia bergerak, jubah itu hilang seperti hempasan gas.

Dan pedangnya, pedang keris dari logam hitam, namun lurus tidak melekuk-lekuk dan panjangnya setara dengan pedang pada umumnya. 

“Kalian semua siapa? Kenapa kalian menginjakkan kaki di kerajaanku secara tidak hormat? Dan menyerang rajamu begitu melihatnya.” tanya pria itu sambil matanya mengamat-amati 14 orang yang ada di ruangan ini. “Lalu, dimana Rangda?”

“Monster bisa bicara?” Luiz terheran-heran.

“Dia manusia bukan monster.” kata Alzen.

“Tapi manusia mana yang setengah wajahnya sudah jadi tengkorak begitu dan masih bisa hidup.” balas Lio merinding.

“Rangda? Memangnya, ini tahun berapa?” balas Leena sambil tangannya menggenggam gagang pedang kuat-kuat.

“Hmm? Apa maksudmu?” balas pria itu dengan ekspresi kesal.

“Kau mencari ratu pertama Greenhill?” balas Leena. “Itu Rangda yang kamu maksud? Atau...”

“Ya benar, Rangda yang itu.”

“Tidak mungkin, tidak mungkin. Kau tidak mungkin menemukannya.” Leena geleng-geleng kepala. “Ratu Rangda sudah mati 900 tahun lalu, ia mati ketika memerangi negerinya sendiri. Itu kisah yang sudah lama sekali.”

“900 tahun lalu ya...” pria itu merenungkan kehidupannya.

***

Ini adalah kisah yang sudah lama sekali,

Pria ini dulunya adalah raja pertama Greenhill yang hidup di akhir abad ke 10, dikenal dengan nama Raja Yana, yang tercatat meninggal di tahun 1001. Kisah ini diceritakan sebagai cerita sejarah untuk penduduk asli Greenhill.

Yana adalah raja agung yang mendirikan Greenhill di jaman kuno, pada abad ke sebelas, jauh sebelum Azuria seperti sekarang ini. Ia memiliki seorang istri bernama Rangda. Wanita cantik yang dicintainya, sampai menjadi pasangan hidupnya, ia mendapati Rangda melakukan perjanjian dengan iblis.

Mengetahui itu, Yana mengusir sang ratu dari negaranya dan melakukan pengasingan padanya. Semua itu atas dasar pertimbangan dan keputusan yang berat baginya, atas desakan rakyatnya yang menghendaki seperti itu. Untuk mencegah perang saudara yang bisa saja timbul jika Raja Yana tidak melakukan kehendak mereka.

Setelah mengasingkan istrinya sendiri, Raja Yana terus memikirkan keputusannya dan setiap hari ia terus memikirkan Rangda. Beberapa puluh tahun berlalu, Rangda kembali sebagai sosok ratu iblis dengan kemampuan elemen kegelapan yang maha dashyat. Raja Yana dibuat sedih sekali melihat istrinya yang baru ia lihat lagi, kembali dengan sosok kian drastis berubah menjadi orang yang berbeda.

Bermodalkan rasa dendam masa lalu. Rangda maju memerangi suami dan kerajaannnya sendiri, dibantu pasukan kegelapan Leak yang kuat, juga banyak jumlahnya.

Mereka berperang. Yana sang raja agung, dengan pedang hitamnya mampu menghabisi puluhan Leak seorang diri dan menghabisi ratusan Leak lainnya bersama prajuritnya, namun di akhir perang, ia gagal untuk bisa melukai Rangda meskipun sosoknya sudah berbeda karena terkorupsi oleh kegelapan, tapi cintanya tetap ada buatnya. 

Meski Raja Yana masih mencintainya, dendam yang dipendam Rangda jauh lebih besar hingga akhirnya, Rangda menyeret Raja Yana ke dalam kegelapan sampai Raja Yana sendiri juga ikut terkorupsi oleh kegelapan, lalu meninggalkannya. 

Setelah perang usai, Yana berubah menyerupai sosok Leak. Ia terus menyangkal dan tidak menerima dirinya dibuat menjadi sesosok iblis. Sekalipun ia mendapat kekuatan besar yang bisa ia kontrol, tapi hari-hari setelah perang itu membuat ia tidak lagi diterima rakyatnya sendiri, diasingkan dan kekuasaannya diturunkan pada putranya secara otomatis.

Sisa hidupnya yang tak lama, dihabiskan seorang diri dalam sosok monster yang semua orang hindari. Ia tidak diterima oleh siapapun juga selain oleh para Leak yang ia benci. Semua manusia yang melihat sosoknya langsung menghindarinya.

Ia terus dibujuk untuk mengangkat pedang dan memerangi rakyatnya sendiri seperti yang dilakukan Rangda, namun kebencian terus ia arahkan pada Rangda dengan terus mencarinya, akan tetapi, sampai akhir hayatnya ia tak pernah bertemu Rangda kembali, lalu berakhir mati dilupakan dunia.

Setelah meninggal dunia, sang putra mahkota yang meneruskan takhtanya, menguburnya secara terhormat dalam makam raja dan menulis ulang riwayat hidup ayahnya sebagai seorang raja agung. Meski semua prestasi ayahnya sebenarnya adalah prestasi putranya sendiri. Dan hanya sedikit orang yang tahu kebenarannya.

Karena Yana meskipun pendiri pertama Greenhill, namun pada masa pemerintahannya Greenhill hanya negara yang sangat kecil, tak mencapai 5 persen wilayah Greenhill hari ini, diteruskan oleh putranya. Greenhill menjadi negara yang sangat cepat meluas wilayahnya. Namun semua prestasinya, di catat dengan nama Yana the Great King.

Semua itu dilakukan dengan sengaja oleh putranya sebagai wujud terima kasih untuk tidak kembali memerangi negaranya sendiri seperti yang dilakukan ibunya, Rangda. 

Yana dimakamkan di tempat yang dikenal dengan nama Tomb of the Great King, di telan waktu ratusan tahun lamanya, makam ini berubah menjadi dungeon.

***

“Kalian orang-orang pertama yang tidak kabur atau menyerangku begitu melihatku, terima kasih banyak.” Yana memejamkan mata dengan tersenyum sekalipun mulutnya tidak terlihat, kemudian matanya terbuka kembali sambil melihat mereka ber-14. “Meski harus kuterima, masih banyak juga yang takut melihatku.”

Karena selain Alzen, Leena, Sintra, Luiz, Gunin dan Ranni. Sisanya terlihat merinding ketakutan sambil berlindung di belakang orang terdekat mereka.

“Tapi aku senang, ternyata masih ada sedikit orang yang bisa kuajak bicara.” Yana merenungkannya. “Aku benar-benar tidak percaya, jika memang yang kalian katakan itu benar, jadi saat ini adalah masa 900 tahun kemudian. Tapi tetap, masih sulit kupercaya.”

“Ya, tahun ini adalah tahun 1901.” jawab Leena. “Kerajaan Greenhill sudah berubah menjadi negara republik. Tidak ada lagi monarki seperti dulu.”

“Lalu tempat apa ini?” tanya Yana sambil melihat sekelilingnya. “Kenapa kerajaanku masih berdiri?” 

“Tempat ini bukan kerajaan dan jelas juga bukan kerajaanmu. Tempat ini adalah dungeon.” jawab Leena. 

“Dungeon!?” Yana seketika teringat pada jamannya, ia juga pernah mengarungi dungeon. “Aku pernah menelusuri tempat semacam itu dulu.”

“Aku belum pernah melihat yang seperti ini.” Luiz terheran-heran. “Kau ini sebenarnya monster dungeon atau manusia? Kenapa monster bisa berbicara seperti manusia?”

“Aku manusia yang diubah menjadi monster oleh Rangda.” jawab Yana. “Meski sudah 900 tahun seperti yang kalian katakan, aku masih merasakannya, ia masih hidup, ia masih ada.”

“Kau ingin mencarinya?” tanya Leena.

Balas Yana. “Aku-”

“Hah... hah... syukurlah belum terlambat,” terdengar suara Kazzel dari belakang.

Kazzel berlari melewati Alzen dari belakang dan...

“Lightning Spear !!”

Kazzel melempar tombak petir sambil berlari dan menikam Yana tepat di perut.

“Lari!” sahut Kazzel. “Selamatkan diri kalian!”

Yana berusaha melepas tombak petir yang menancap menembus perutnya itu dengan kekecewaan dan amarah. “Kenapa? Aku sudah akhirnya mempercayai kalian,” Yana memejamkan matanya, ia kecewa sekali seperti dikhianati. “Tapi... tapi kenapa berakhir seperti ini lagi!” Yana melepas tombak petir yang menancap di perutnya dan menjadi marah sekali

Syalnya terbuka bersamaan dengan teriakkannya, perutnya yang berlobang segera beregenerasi dengan cepat. Mulut Leak, gigi dan lidah panjangnya terlihat jelas. Yana benar-benar terlihat seperti monster.

“Pak Kazzel! Apa yang kamu lakukan!” sahut Alzen yang menyayangkannya.

“Apa ini jebakan yang kalian sediakan, Hah!” Yana dibuat murka, menggenggam pedangnya kuat-kuat dan bersiap mengamuk.

Yana melesat untuk membalas serangan Kazzel. Yana memutar badannya, menebas dari bawah kanan ke atas kiri dan...

Syushh...

Dengan bantuan elemen listrik Kazzel bisa bergerak cepat mundur selangkah untuk menghindarinnya.

GROOAA !!

“...!!?” Kazzel tak menduganya.

Setelah ditebas, sosok Leak muncul tiba-tiba dari pedang kris hitam itu, menerkam dengan taring dan giginya yang besar pada tangan kiri Kazzel kuat-kuat.

“UAGGHH !!?” teriak Kazzel keras sekali.

Gigitan Leak itu tak kunjung lepas, malah semakin keras hingga tangan kiri Kazzel ditarik hingga terpisah dari tubuhnya.

“UAAAGHHHH !!”

14 orang yang ada disana sontak kaget melihat Kazzel diperlakukan seperti itu.

“Hosh... hosh...” tubuh Kazzel berkeringat, ia berusaha menahan sakit yang amat parah ini, dari menunduk ia menatap naik dengan kepalanya gemetar untuk fokus pada wajah lawannya. 

Tangan Kazzel dilapisi listirk biru terang, semua difokuskan di tangan kanannya, lalu ia berdiri dan menempelkannya langsung pada wajah Yana.

“UWOOOOOOO !!” teriak Yana seperti auman monster.

Kazzel terus menempelkan tangan kanannya pada wajah Yana,

“UWOOOO... HWAAA !!”

Pedang Yana menikam tepat di jantung Kazzel sampai pedangnya menembus tubuh. Kazzel segera memuntahkan darah hingga perlahan wajahnya pucat lemas.

“Pak Kazzel!” 

“Pak Kazzel!”

Sahut Alzen dan Luiz berbarengan.

“UWOOO !!” Yana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, pelan-pelan menghilangkan petir yang mengalir di wajahnya. “Kalian semua menjebakku!”

“Kau apakan guru kami!” sahut Leena sambil menebas-nebas Yana dengan menangis. “Kau tidak sepantasnya melakukan itu!” Leena menyerang dengan marah namun berlinang air mata.

“Pak Kazzel!” sahut Alzen sambil menggoyang-goyangkan badannya dan menangis di hadapannya. “Pak bertahanlah!”

“Pak Kazzel!” kata Luiz yang berlinang air mata. “Ke-kenapa...”

“Di-a, bu-kan, tan-ding-an, ki-ta, se-mu-a.” lalu Kazzel terbaring kaku, dalam kondisi matanya tetap terbuka.

Trang! Trang! Trang!

“Kau juga akan kuhabisi!” balas Yana dengan penuh murka. 

Trang!

Pedang mereka sekali lagi beradu dan keluar sosok Leak yang sama yang menyerang Kazzel tiba-tiba. Leena segera melompat mundur, tapi tertahan gerakkannya karena Leak itu sudah menggigit pedang Leena. 

PRANG !!

“...!!?”

Pedang Leena dipatahkannya.

“Kau... benar-benar biadab...” Leena memejamkan matanya, hatinya sesak dan dengan berat hati menarik genggaman pedangnya lalu melompat mundur dengan pedangnya yang patah. “Pedang pemberian ayah.” Leena sungguh berduka. “Patah.”

Dengan air mata terus mengalir di pipinya, Leena mengucapkan kata-kata makian pada Yana. “Pantas saja kau bukanlah raja sesungguhnya! Kau hanyalah...”

“Kau tidak akan mengerti!” bentak Yana sambil melesat untuk menyerang Leena. “Rasanya sampai mati bersama dihinggapi iblis-iblis ini!”

TRANG !!

“Hmm? Pengganggu lagi.”

Tebasan Yana tertahan oleh persilangan kedua pedang Sintra.

“Sekarang!” sahut Sintra.

Lalu teman-teman lainnya menyerang Yana secara berbarengan

“Electro Punisher !!” dari Luiz.

“Aqua Lance !!” dari Gunin.

“Fiery Fire Strike !!” dari Lio.

“Vulcanic Hammer !!” dari Ranni.

“Fireball !!” dari Chandra.

“Wind Caliber !!” dari Nirn.

Namun dalam satu teriakan,

“Grr...RAAA !!”

Yana menghempas semuanya sekaligus dengan hempasan dari Dark Force.

“Kau, gadis cahaya kan?” kata Yana pada Leena di depannya yang sudah tersungkur lemas tidak berdaya sambil terus menangis. “Kau tahu, aku ini dulunya pengguna elemen cahaya. Tapi gara-gara terkorupsi iblis dari Rangda, kemampuan itu hilang dan kini aku jatuh dalam kegelapan.”

Yana menyelimuti tangan kirinya dengan sihir kegelapan dan berjarak 3 langkah dengan Leena yang ada di depannya. ”Bagaimana kalau cahayamu direbut dan tenggelam pada kegelapan.”

Yana mengarahkan tangan ke depan, dengan telapak tangan terbuka. “Aku yakin kau akan berakhir di lubang yang sama.”

Syushh...

Yana menghempas tangannya dan mengarahkannya pada Alzen yang masih meratapi Kazzel. 

Alzen terhempas jatuh dan berbaring di tanah, pandangannya perlahan-lahan memudar lalu semakin memudar. “Apa yang... a-aku...”

“Kenapa?! Kenapa Alzen?! ” Leena berteriak sambil menangis, lalu bergegas naik mendekati Alzen.

“Pertama-tama orang yang kau kasihi jatuh dalam kegelapan. Setelah jatuh, dia akan mengajakmu jatuh bersamanya juga dan terus seperti itu. Begitulah cara kegelapan menyebar. Begitulah cara cahaya direngut.”

“Alzen! Alzen! Kau bisa melihatku? Alzen!” tanya Leena sambil menangis.

“Le-Leena, apa itu kau? Apa yang terjadi. pudar, semuanya pudar.” kata Alzen di pangkuan Leena yang pandangannya semakin lama semakin kabur dan semakin gelap. 

“Alzen, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya, hiks... tapi aku takut, kalau ternyata... kalau ternyata ini kesempatan terakhirku untuk bilang...” kemudian Leena mencium bibir Alzen dengan pipinya yang basah dan dingin karena air mata, di saat bersamaan pandangan Alzen dari kabur perlahan-perlahan menjadi gelap semakin gelap hingga akhirnya Alzen tak bisa melihat apa-apa lagi.

“Alzen, aku mencintaimu.”



~ Second Semester Arc End's Here ~ 

   ***