Episode 307 - Aura Tipis



“Siapakah engkau!?” terdengar suara serak dari balik tudung sehelai jubah. 

Seorang lelaki dewasa muda, merasa bahwa sergahan ditujukan kepada dirinya, sontak menghentikan langkah. Ia menoleh, dan raut wajahnya menunjukkan reaksi kebingungan. Ia yang sedang dalam perjalanan, tanpa dinyana dicegat oleh seorang ahli Kasta Perak tanpa alasan jelas. Aneh sangat. 

“Sepantasnya adalah diriku yang bertanya...,” terdengar tanggapan ringan. “Engkau muncul begitu saja entah dari mana... marah-marah pula...”

“Jangan mentang-mentang engkau berada pada Kasta Emas maka dapat aku gentar!”

“Heh! Aku tak tahu apa masalahmu...” Lelaki dewasa muda itu mulai terlihat sebal. Namun demikian, ia memutuskan untuk meneruskan langkah. Tak ada kewajiban baginya meladeni seorang anak remaja lelaki yang muncul tiba-tiba kemudian marah-marah. Sungguh tak ada gunanya.

“Jangan berpura-pura! Katakan siapa di Persaudaraan Batara Wijaya yang mengutusmu!”

“Persaudaraan Batara Wijaya...? Apakah engkau sedang mabuk bunga kecubung...?” Lelaki dewasa muda itu berujar tanpa memalingkan wajah.

“Berhenti!” sergah anak remaja itu lagi. “Berhenti, kataku!” Ia melompat ke hadapan lelaki dewasa muda. Wajahnya gerah penuh amarah. 

“Hei! Apa masalahmu!?” 

“Aku tak akan membiarkan engkau mencuri-curi kesempatan. Kita selesaikan saat ini, di sini!” 

Lelaki dewasa muda menghela napas panjang. Ia berada pada Kasta Emas Tingkat 2, sedangkan di hadapannya hanya seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 4. Selisih kekuatan dan daya tampung mustika tenaga dalam di antara mereka terpaut hampir satu kasta penuh. Apa gunanya meladeni lawan nan demikian lemah...?

“Mungkin telah terjadi kesalahpaman...,” lelaki dewasa muda itu menghela napas panjang. “Aku tiada mengincar engkau, dan bukan pula aku dari Persaudaraan Batara Wijaya. Kebetulan aku melintas karena sedang dalam perjalanan...”

“Tutup mulutmu, wahai pembunuh bayangan!” Anak remaja itu menudingkan jemari. Ia tiada percaya akan sebuah kebetulan. Sudah beberapa kali para petinggi di Persaudaraan Batara Wijaya mengirimkan pembunuh bayangan untuk menghabisi nyawanya. Dalam kaitan itu, tokoh di hadapannya ini masuk ke dalam kategori sangat mencurigakan. Bagaimana tak mencurigakan, sekujur tubuhnya berbalut perban... Tiada diragukan lagi, pembunuh bayangan! 

Anak remaja itu merangsek maju! Ia melancarkan serangan cepat yang mengincar titik vital di ulu hati. Akan tetapi, lelaki dewasa muda hanya menanti diam di tempat. Tentu bagi ahli sekelas dirinya, menghadapi lawan yang jauh lebih lemah tanpa manfaat jelas, adalah membuang-buang waktu sahaja.

Sesaat sebelum serangan mendarat, lelaki dewasa muda menghentakkan tenaga dalam... 

“Duak!” 

Hentakan tenaga dalam menghantam tubuh anak remaja lelaki. Ia pun terpental mundur belasan langkah ke belakang. Akan tetapi, tiada ia mengalami cedera barang sedikit pun. Entah bagaimana, tiada pula hentakan tenaga dalam ahli Kasta Emas tersebut menggetarkan mustika di ulu hatinya... 

“Hm...? Apakah itu Jubah Hitam Kelam...?” Lelaki dewasa muda terlihat penasaran. Di kala menghentakkan tenaga dalam tadi, memang ia tak mengerahkan dengan sepenuh hati, namun kekuatannya cukup untuk menciutkan nyali ahli Kasta Perak. Dalam kaitan itu, hanya terdapat beberapa benda pusaka yang dapat meredam hentakan tenaga dalam. Kendatipun belum pernah berhadapan langsung dengan Jubah Hitam Kelam, ia mengetahui bahwa salah satu kemampuan benda pusaka tersebut adalah meredam hentakan tenaga dalam. 

Belasan langkah di hadapan, raut wajah si anak remaja berubah kusut. Ia yang tadinya tiada gentar, kini terlihat cemas. Akan tetapi, kecemasan yang menyeruak bukanlah datang dari hentakan tenaga dalam atau pun kenyataan bahwa lawan mengenal jubah yang ia kenakan. Kecemasan yang menghinggapi dirinya berasal dari aura yang menyibak tatkala lelaki dewasa muda menghentakkan tenaga dalam. 

Walau sangat tipis, anak remaja tersebut dapat mengenali aura tersebut... “Siapakah jati dirimu!?” Anak remaja itu kembali menudingkan jari telunjuk. 

Lelaki dewasa muda lagi-lagi menghela napas panjang. Ia tak hendak membuang-buang waktu karena memang sedang dalam perjalanan. Berharap kesalahpahaman ini berakhir segera, mungkin lebih baik bila mengungkapkan jati diri. “Aku bernama Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti...”

Anak remaja itu diam mengamati. Sorot matanya menatap tajam. 

Tak nyaman dengan keheningan yang tercipta, Sangara Santang menambahkan, “Usiaku 27 tahun...” 

“Dusta!” hardik anak remaja lelaki itu. “Jangan engkau berupaya menyamarkan aura dan menyembunyikan kasta keahlianmu! Tak pernah pula ada ahli Kasta Emas yang masih berusia 27 tahun! Aku tak akan tertipu!” 

Sangara Santang mengernyitkan dahi. Dirinya dituduh sebagai sebagai pembunuh bayangan, kemudian sebagai ahli utusan dari Persaudaraan Batara Wijaya. Kini, anak remaja tersebut mengaku mengenal aura yang mencuat dari dalam dirinya, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. 

“Apakah engkau keturunannya!?” Anak remaja itu berujar lagi. 

“Keturunan siapa...?” Kini, Sangara Santang yang berubah penasaran. Selama hidupnya, ia berupaya mencari tahu dan menelusuri berbagai kemungkinan tentang jati dirinya sendiri. Satu-satunya petunjuk yang mencerahkan datang dari Mayang Tenggara, yang menyebutkan sebuah kemungkinan di mana dirinya sebagai hasil reinkarnasi yang direncanakan. Atas kemungkinan tersebut, saat ini, Mayang Tenggara malah hendak mencabut nyawanya. Mengingat perlakuan Mayang Tenggara atas dirinya, Sangara Santang bergidik.

Jadi, reinkarnasi terencana oleh siapakah diri ini...? Sebuah pertanyaan yang belum juga dapat ditemukan jawabannya. Oleh karena itu pula, ia terus mencari. Menurut sebuah kitab tua di Pustaka Utama Sanggar Sarana Sakti, Sangara Santang kemudian menemukan sesuatu yang kemungkinan dapat membuka tabir misteri jati dirinya sendiri. Namun, ia tiada mengetahui di mana benda pusaka tersebut berada. Oleh karena itulah ia mendatangi Lintang Tenggara yang maha mengetahui, demi mempertanyakan tentang keberadaan sebuah benda pusaka berbentuk lentera. Walhasil, berkat petunjuk Lintang Tenggara, kini ia berada di Pulau Belantara Pusat. 

Anak remaja lelaki itu tiada menanggapi pertanyaan sebelumnya. Ia menyipitkan mata semakin mencurigai, lalu merangsek menyerang! 

Sangara Santang tak kalah gesit. Ia menghindar ke kiri dan ke kanan tanpa melakukan serangan balasan. Kendatipun serangan-serangan yang dilancarkan mengincar titik-titik vital, ia hanya berkelit menghindar. 

“Kuntau Bangkui...,” gumamnya mengenali gerakan persilatan yang dikerahkan. Di saat yang bersamaan, ia bergerak gesit menangkap lengan lawan, lalu berputar dan membanting! 

Sigap, anak remaja itu melemaskan sendi serta melonggarkan otot tubuh. Ia tiada memaksakan diri bertahan, namun bergerak mengikuti arah bantingan. Atas tindakan tersebut, ia mendarat mulus di permukaan tanah. Kemudian, secepat kilat melompat mundur demi menjaga jarak

“Silat Cimande...,” gumam remaja lelaki itu pelan. Ia pun mengenali jurus persilatan yang dikerahkan lawan.

Kuntau Bangkui dari Pulau Belantara Pusat berhadapan dengan Silat Cimande dari wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. Keduanya merupakan jurus persilatan yang digdaya bila dikerahkan oleh ahli yang tangguh. Pada kesempatan ini, kedua ahli sama fasihnya. 

“Telah terjadi kesalahpahaman di antara kita...” Walau berhadapan dengan ahli yang lebih muda serta lebih lemah, Sangara Santang berujar dengan santun. “Sudi kiranya tuan ahli memperkenalkan diri...” 

“Kum Kecho,” jawab anak remaja itu cepat. Di saat yang bersamaan, ia kembali merangsek maju. 

Tepat di hadapan Sangara Santang, Kum Kecho tetiba mengubah pola gerakannya. Posisi kuda-kuda sangatlah unik. Kaki kirinyamembujur lurus ke belakang, sementara lutut kanannya ditekuk mengarah ke depan sambil menapak keras ke tanah. Pada posisi tubuh bagian atas, badannya tegak menyamping. Sikut lengan kiri ditekuk menghadap ke belakang, dan telapak tangan kiri dibuka sejajar dengan dada. Pada saat yang sama, lengan kanan menyerang lurus dengan telapak tangan terbuka menghadap ke sasaran!

Menyaksikan kuda-kuda tersebut, Sangara Santang terpana...

“Brak!” 

Biasanya, bagi ahli Kasta Emas yang menerima serangan ahli Kasta Perak, dampaknya setara dengan tepukan di pundak saja. Akan tetapi, serangan jurus persilatan Kum Kecho kali ini membuat Sangara Santang terdorong mundur sampai beberapa langkah! 

“Itu... itu adalah jurus Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!”

Kum Kecho, menyadari bahwa jurus persilatannya mendarat telak namun tiada mencederai lawan, berdiri mengamati. Raut wajahnya berubah muak karena terpaksa merapal jurus milik seorang tokoh yang sangat ia benci. 

“Dari mana engkau mempelajari jurus persilatan tersebut...?” Sangara Santang masih terpana. “Menurut catatan, kuda-kuda tadi persis dengan gambaran kuda-kuda jurus persilatan andalan Sang Maha Patih... Sedangkan beliau tiada pernah mewariskan jurus itu kepada siapa pun sampai akhir hayatnya...”

Kum Kecho menyadari bahwasanya ia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Bila lawan mengenal jurus yang ia kerahkan, maka bukan tak mungkin jati dirinya akan terbongkar pula. Selain itu, setelah melakukan pertukaran serangan, ia menyadari bahwa aura yang tadinya tipis terasa bukanlah asli datang dari tubuh tokoh itu. Aura tersebut seperti melekat karena suatu alasan tertentu. Oleh karena itu, untuk saat ini sebaiknya tak berurusan dengan tokoh bernama Sangara Santang ini. Belum waktunya...

Di lain sisi, menyaksikan lawan mengerahkan jurus yang sepantasnya telah lama punah, Sangara Santang semakin yakin bahwa tokoh Kum Kecho ini tiada sesumbar. Kemungkinan besar, anak remaja itu benar-benar mengenali aura yang datang dari dirinya... 

“Jurus Tapak Suci...? Sungguh aku tak mengenal jurus itu...” Kum Kecho berkelit, wajahnya dibuat seolah tak percaya. “Sepertinya memang terjadi kesalahpahaman. Bila demikian, maafkan kelancangan diriku.” 

Dengan demikian, Kum Kecho memutar tubuh dan melengos pergi. 

“Tunggu!” Kini Sangara Santang yang berubah agresif. Ia melompat ke hadapan Kum Kecho, dan mencegat anak remaja itu. “Katakan aura siapakah gerangan yang Tuan Kum Kecho rasakan...? Keturunan siapakah kiranya diriku ini...?”

“Sejak awal diriku melakukan kekeliruan... Bukan aura siapa-siapa...,” tanggap Kum Kecho cepat. 

“Kumohon... jangan memaksa diriku bertindak kasar...” Sangara Santang mulai tak sabar. Ia yang biasanya bersiasat, kini malah mengambil langkah gegabah. Aura Kasta Emas mencuat dari dalam dirinya. 

Di saat itu pula, kembali Kum Kecho merasakan aura tipis yang sebelumnya ia rasakan melekat pada aura Sangara Santang. Ia mengingat pernah merasakan keberadaan aura tersebut, namun sesungguhnya tak mengetahui dari siapa aura tersebut dulunya berasal. Mencermati gelagat lawan bicaranya, Kum Kecho menyadari bahwa tokoh tersebut benar-benar tiada mengetahui tentang keberadaan aura tersebut. 

“Dikau sedang mencari jati diri...,” simpul Kum Kecho pelan. “Sedangkan diriku tak hendak mengumbar sesuatu yang tak pasti.”

“Sungguh diriku mengerti,” tanggap Sangara Santang. “Akan tetapi, sekecil apapun petunjuk yang ada, maka akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan teka-teki ini.”

“Ungkapkan kisah Tuan...” 

“Panjang ceriteranya...”

Demikian, Sangara Santang dan Kum Kecho menempuh perjalanan bersama-sama.


===


“Dengan mengandalkan mustika retak, dikau tiada mungkin dapat menyadarkan sekian banyak anak remaja,” bisik Ginseng Perkasa.

“Sungguh menyedihkan bukan...?” Komodo Nagaradja terdengar lara. Ia yang dulunya digdaya, kini tiada berdaya. 

“Diriku akan membantu...,” tanggap Ginseng Perkasa pelan. 

“Kau akan menghadapi nasib serupa...” 

“Semoga tak berlangsung terlalu lama...”


“Flap!”

Tetiba jalinan rotan terkembang! Angin menderu deras ke segala penjuru. Rotan-rotan besar dan kecil telah merambat cepat membungkus pundak dan dada Kuau Kakimerah. Bermuara di punggung, rotan-rotan tersebut merangkai dan menjalin cepat dan erat. 

Secara keseluruhan, panjang bentangan jalinan rotan yang kini terkembang mencapai lebih dari sepuluh meter. Tak perlu dicermati dengan seksama untuk mengetahui bahwa jalinan rotan tersebut berwujud kepak sayap burung rajawali! Demikian megah lagi perkasa!

Sepasang sayap yang terkembang mengepak, kemudian menyatu dan menikam deras. Setelah itu, sayap-sayap rotan membuka, terlihat seolah mengonyak udara. Sebuah lorong dimensi antar dunia telah mengemuka!

“Hyah!” 

Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa mengerahkan kemampuan mata hati mereka di saat yang hampir bersamaan. Di saat itu pula, lebih dari seribu remaja yang tadinya tak sadarkan diri, tersontak bangun. Sebagian besar dari mereka masih terlihat linglung. Dalam keadaan tersebut, jelas tiada satu di antara mereka yang mampu bertarung.

“Segera keluar dari tempat ini!” 

“Cepat!” 

“Ke sana!” 

Para remaja dayak yang masih menjalani upacara adat memberi aba-aba. Di antara mereka, ada pula yang menggiring para kerabat dan sahabat yang masih kebingungan untuk segera mengungsikan diri. Langkah ini sangat diperlukan karena disadari lorong dimensi antara dunia tak akan membuka lama.

Bintang Tenggara, Canting Emas dan Panglima Segantang masih menghadang binatang siluman serangga yang semakin ganas. Bersama-sama dengan sejumlah remaja dayak lain, mereka tak akan mengendorkan pertahanan.

Jauh di atas sana, tiga gumpalan awan yang sesungguhnya merupakan kumpulan puluhan ribu binatang siluman, mulai terlihat bergerak. Keadaan ini membuat Bintang Tenggara semakin cemas adanya. Kendatipun demikian, ia masih perlu memusatkan perhatian pada lawan di depan mata. 

Karena dipandu dengan baik, setengah remaja yang baru sadarkan diri sudah berhasil diungsikan. 

Waktu seolah berjalan lambat. Peluh dan lendir dari binatang siluman serangga yang dibantai, membaur dan membasahi sekujur tubuh remaja-remaja yang berperan sebagai tembok pertahanan. Tak satu pun dari mereka yang mengindahkan penampilan, karena demikian berat peran yang diemban. Dengan tenaga dalam yang semakin terkuras, mereka memaksakan diri untuk terus bertahan melampaui ambang batas kemampuan.

Inilah yang sejatinya merupakan maksud dan tujuan Dewan Dayak. Para remaja berjuang melampaui ambang batas kemampuan diri, yang mana akan melahirkan ahli-ahli nan perkasa. Walau terbatas jumlah mereka, ini adalah titik permulaan kebangkitan generasi baru. Mereka akan membuka pintu kepada sebuah generasi yang pada waktunya nanti, layak mewakili Pulau Belantara Pusat di dalam Perang Jagat! 

Hanya seperempat dari kerumunan yang tersisa. Tak lama lagi, mereka semua akan meninggalkan dapat tempat ini... 

Selangkah demi selangkah para remaja mundur dan mendekatkan diri ke arah lorong dimensi yang membuka di tengah daun. Tindakan ini bukan hanya sebagai langkah taktis, namun karena memang mereka semakin tertekan oleh laju gebrakan binatang siluman serangga. Semakin beringas kerumunan binatang siluman menyaksikan kudapan petang mereka melarikan diri.

 “Ada sesuatu yang aneh pada Kuau!” Canting Emas tetiba berseru. 

“Gadis Dayak Kaki Merah itu sebentar lagi kehabisan tenaga dalam...” ujar seorang remaja lelaki dengan ikat kepala. Ia merupakan bagian dari segelintir peserta upacara adat yang masih bertahan. “Jika terus membuka lorong dimensi, maka ia akan mati!”

“Panglima,” sergah Bintang Tenggara. “Bawa Aji!”

Karena hilang kesadaran akibat hantaman mata hati, Aji Pamungkas tak menjadi bagian dari para remaja yang disadarkan oleh Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Menyadari keadaan tersebut, Panglima Segantang segera melompat ke arah Aji Pamungkas di pusat daun. Ia menenteng tubuh Aji Pamungkas di lengan kiri, lalu kembali menahan gempuran dengan memegang parang api Taring Raja Lalim di tangan kanan. 

“Segera tinggalkan tempat ini!” seru Bintang Tenggara kepada mereka yang masih bertahan. 

Gempuran datang bertubi, dan para remaja dipukul mundur. Jika keadaan terus berlangsung seperti ini, mereka yang bertahan akan kesulitan melompat masuk ke dalam lorong dimensi. Begitu memutar tubuh, sudah barang tentu mereka diterkam habis. 

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Rambat!”

Samar-samar, Bintang Tenggara mendengar suara yang tak asing. Ia menoleh dan mendapati seorang remaja lelaki bertubuh kecil membungkuk dalam merapal jurus. Seketika itu juga, jalinan rotan berduri membangun dinding pertahanan yang baru, sehingga memberi kesempatan bagi para remaja menarik napas walau sesaat. Di lain sisi, betapa senang hati Bintang Tenggara menyaksikan Puyuh Kakimerah selamat dan kini melangkah menuju lorong dimensi antara dunia!

“Segera tinggalkan tempat ini!” seru Bintang Tenggara lagi, karena ia menyaksikan bahwa pengungsian sebentar lagi rampung, dan yang tersisa hanya mereka belasan ahli yang membangun pertahanan. 

“Bagaimana dengan Kuau...?” Canting Emas terdengar resah. 

“Aku akan membawanya!“ jawab Bintang Tenggara. 

“Aku juga akan menunggu!” sambung Panglima Segantang yang menenteng tubuh Aji Pamungkas di pinggangya. 

“Tidak! Pergi sekarang!” hardik Canting Emas, yang menyadari bahwa sebentar lagi hanya mereka berlima yang tersisa. 

Di saat perbincangan berlangsung, lorong dimensi antar dunia yang awalnya terbuka lebar, kini menyusut cepat! 

Menyadari keadaan tersebut, Canting Emas menggeretakkan gigi. Segera ia melompat dan melesatkan tendangan ke arah Panglima Segantang. Siapa yang tak kenal remaja lelaki bertubuh bongsor dan berkepala batu itu...? Walau dipaksa pergi, Panglima Segantang pasti menolak.

Menyaksikan serangan Canting Emas, secara naluriah Panglima Segantang berupaya menangkis. Ia mengangkat lengan kiri, sehingga secara tak sengaja memajang tubuh Aji Pamungkas sebagai tameng! Tendangan mendarat telak, bunyi tulang bergemeretak... dan ketiganya pun terbawa masuk ke dalam lorong dimensi.

“Swush!” 

Segera setelah itu, jalinan rotan berguguran dan tubuh Kuau Kakimerah jatuh terkulai lemah. Lorong dimensi antar dunia telah menutup...