Episode 305 - Berkumpul (1)


Bapuyu Huludaya, seorang Balian dari Rumpun Dayak Hulu, tersentak. Anggota Dewan Dayak yang telah berubah haluan dan kini menentang keberlangsungan upacara adat, tetiba menghilang. Hampir di saat yang bersamaan, lantas ia muncul tinggi di atas salah satu pucuk daun pohon raksasa. Lelaki dewasa itu menyadari bahwa telah terjadi sesuatu terhadap seorang gadis belia keturunan Dayak Kaki Merah, karena tirai formasi segel yang melindungi dan menyembunyikan gadis tersebut telah dibuka paksa! 

Perkiraannya terbukti benar. Kuau Kakimerah yang tersirap tiada ditemukan di tempat di mana ia ditempatkan. Balian Bapuyu Huludaya segera menebar mata hati sejauh mungkin. Kecurigaan dirinya akan pelaku tentu saja jatuh kepada seorang anak remaja berjubah hitam. Sebagaimana diketahui, anak remaja tersebut sengaja keluar dari formasi segel yang melindungi daun raksasa. 

Ia masih hidup…, batin sang Balian. Bagaimana mungkin ia bertahan hidup dari serbuan binatang siluman serangga? Bagaimana ia melepaskan gadis Dayak Kaki Merah…? Siapakah jati dirinya…? Atas dasar apa ia melakukan tindakan yang sedemikian…? Tidak, batin Bapuan Huludaya risau. Yang lebih penting, di manakah mereka berdua saat ini!?

Di saat mencari, Balian Bapuyu Huludaya semakin yakin bahwa memang benar adalah Roh Antang Bajela Bulau yang dapat dikerahkan oleh anak remaja itu. Pertama ia keluar dari wilayah daun, kemudian membebaskan gadis Dayak Kaki Merah. Dikisahkan, bahwa dengan memanfaatkan roh tersebut Pangkalima Rajawali dapat menembus formasi segel apa pun, bahkan yang dikerahkan oleh keturunan Balaputera di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!

Tubuh Balian Bapuyu Huludaya kembali menghilang. Berbekal teleportasi jarak menengah, ia muncul di kejauhan, lalu menghilang dan timbul kembali. Pola kemunculannya sesuai arah mata angin, sehingga semakian luas jangkauan pantauan mata hatinya. 


Kum Kecho sedang berdiri mengacungkan jemari telunjuk serta memberikan perintah kepada seorang gadis belia, ketika ia merasakan keanehan. Jaring nyamuk yang ia sebar dalam radius lima ratus meter menangkap keberadaan pantauan mata hati! 

Kuau Kakimerah, yang sebelumnya diperintah untuk membuka pakaian, diam terpaku. Ia tak tahu harus berbuat apa… Apakah menuruti, lalu apa yang akan berlangsung selanjutnya…? Bila menolak, apa pula hukuman yang akan diterima nantinya? Tak dapat dapat mengambil keputusan, gadis belia nan polos tersebut menangis tersedu…

“Apa yang engkau lakukan…?” Dalam sekejap mata, Balian Bapuyu Huludaya telah menemukan Kum Kecho dan Kuau Kakimerah yang berlindung di balik selembar daun. Kini anggota Dewan Dayak nan galau itu berdiri di antara mereka kedua remaja. 

“Aku hendak keluar dari tempat ini,” jawab Kum Kecho cepat, sembari menyembunyikan keterkejutan akan hadirnya tokoh yang sangat perkasa. Raut wajah nan pucat pasi terlihat datar sahaja. Pembawaan seperti ini perlu adanya, karena bagi sosok sekelas Balian Bapuyu Huludaya membunuh ahli Kasta Perak adalah semudah menendang sebongkah batu kerikil kecil di jalan setapak. Perubahan suasana hati sedikit saja, maka bisa terpisah badan dari kepala. Kendatipun menyadari akan adanya bahaya yang mengancam di depan mata, tiada pula anak remaja itu hendak dilecehkan. 

“Siapakah engkau sebenarnya…?”

“Aku bernama Kum Kecho…” 

“Siapakah jati dirimu…?”

Kum Kecho terdiam sejenak. Jati diri yang mana yang hendak ia sampaikan…?

“Ungkapkan jati dirimu, dan aku tak akan mengganggu apa pun itu rencanamu!”

“Aku adalah murid Pangkalima Rajawali.” Singkat dan padat, Kum Kecho menatap tajam ke arah lawan bicaranya. Ia ungkapkan jati diri karena kata-kata Balian Bapuyu Huludaya membuka sebuah kesempatan.  

Balian Bapuyu Huludaya tercengang dan sontak mundur selangkah. Lancang sekali anak remaja itu membual dan menjual nama Yang Mulia Pangkalima Rajawali. Di dalam benak ia pun berpikir keras. Tokoh yang disebutkan namanya itu sudah ratusan tahun tiada mengemuka. Selain itu, di kala Perang Jagat, Pangkalima Rajawali hanya pernah sekali mengangkat murid. Murid tersebut tak lain adalah Yang Mulia Elang Wuruk, putra dari Sang Maha Patih! 

“Jangan kau berujar sembarang!” Balian Bapuyu Huludaya tentu tiada mudah percaya pada kata-kata Kum Kecho. Kedua matanya melotot kepada sosok anak remaja itu. 

Kum Kecho menyibak Jubah Hitam Kelam yang selama ini menyamarkan aura yang keluar dari dirinya. Setelah membuka jubah tersebut, aura nan megah pun dapat dirasa oleh ahli sekelas Balian Bapuyu Huludaya. Bagaimana mungkin seorang anak remaja yang baru berada pada Kasta Perak, dapat menyibak aura yang sedemikian menggelora? Di saat yang sama, Balian Bapuyu Huludaya pun merasakan bahwa sesungguhnya aura tersebut bukan petanda kekuatan, namun mewakili kebangsawanan! 

Tak tahu apakah mempercayai Kum Kecho sebagai murid Pangkalima Rajawali atau tidak, Balian Bapuyu Huludaya terus mencermati. Tentu ia tak hendak bertindak gegabah. Kenyataan bahwa Roh Antang Bajela Bulau menyertai anak remaja itu merupakan sebuah tanda tanya besar. Di lain sisi, ada seorang anak remaja lain lagi yang dapat mengerahkan Roh Nyaru Menteng… Jangan katakan bahwa nanti dia akan mengaku sebagai murid Pangkalima Rajawali jua… 

“Apa yang engkau hendak perbuat terhadap gadis itu…?” aju Balian Bapuyu Huludaya. Ia mengenyampingkan perkara anak didik Pangkalima Rajawali untuk sementara, karena kunci keluar-masuk dimensi di mana mereka berada, terlihat sangat ketakutan di hadapan Kum Kecho. 

“Aku hendak keluar dari dimensi ini.” Lagi-lagi Kum Kecho menjawab cepat. 

Terhadap seseorang dengan status sebagai anggota Dewan Dayak, kata-kata yang tak menunjukkan rasa hormat serta pembawaan yang pongah sesungguhnya merupakan perilaku yang kurang pantas. Bahkan, ganjarannya bisa berujung kematian!

Di mana saja di Pulau Belantara Pusat, Dewan Dayak merupakan lembaga tertinggi. Sebagai anggotanya, Balian Bapuyu Huludaya senantiasa disanjung serta dihormat... Apakah sudah putus urat takut anak remaja ini…? 

“Mengapa…? Apa alasan engkau masuk ke tempat ini lalu hendak cepat-cepat keluar…?” 

“Bukankah tadi Tuan Balian berujar bahwa bilamana diriku mengungkapkan jati diri, maka Tuan tiada akan mengganggu kegiatanku…?”

Balian Bapuyu Huludaya tersentak. Lancang benar anak remaja itu mengembalikan kata-katanya. Tidakkah ia takut mati!?

“Aku ingin meminta gadis tersebut membuka lorong dimensia antar dunia.” Kum Kecho menegaskan maksud. 

Balian Bapuyu Huludaya menatap Kuau Kakimerah yang sedari tadi hanya berdiri diam membatu. Perihal membuka lorong dimensi ruang antar dunia, lelaki dewasa itu sepenuhnya menyadari bahwa Kuau Kakimerah secara garis darah memang dapat memenuhi tuntutan. Namun demikian, gadis belia tersebut tiada memiliki kemampuan yang memadai karena memang belum waktunya. Seorang anggota Dewan Dayak lain, oleh karenanya terpaksa menyirap kesadaran Kuau Kakimerah dan mengendalikan kemampuan membuka lorong dimensi dunia Goa Awu BaLang. 

Mengapa tak mengajarkan atau mewariskan saja kemampuan membuka lorong dimensi antar dunia? Alasannya adalah karena Dewan Dayak tak ingin suku Dayak Kaki Merah keluar masuk dimensi dunia Goa Awu BaLang sesuka hati. Selain itu, memanglah Kuau Kakimerah belum cukup kemampuan dasarnya. 

Balian Bapuyu Huludaya lalu mengarahkan telapak tangan kepada Kuau Kakimerah. Cahaya kebiruan berpendar, yang diikuti dengan jalinan mata hati menerpa tubuh gadis remaja itu. “Kerahkan wujud dari unsur kesaktian. Aku baru saja menurunkan pengetahuan yang diperlukan untuk membuka lorong dimensi antar dunia…”

Kuau Kakimerah merasakan bahwa banyak pengetahuan yang disampaikan melalui jalinan mata hati. Ia kemudian merapal unsur kesaktian kayu dan membangun wujud kepak sayap rajawali. Sepasang sayap kemudian menyatu, dan membuka deras seolah hendak mengoyak udara. 

“Terima kasih, wahai Tuan Balian,” ucap Kum Kecho sambil membungkukkan tubuh. Selama pertukaran kata-kata berlangsung di antara mereka, baru kali ini Kum Kecho bertindak memberi hormat. 

Kuau Kakimerah telah membuka celah yang cukup ukurannya bagi seorang anak remaja melompat masuk. 

“Suatu hari nanti, diriku akan membalas bantuan yang telah diberikan.” 

Demikian, Kum Kecho melompat ke dalam lorong dimensi antar dunia. Segera setelah itu pula, Kuau Kakimerah terhuyung dan jatuh terduduk. Nyatanya, untuk membuka lorong dimensi antar dunia memakan tenaga dalam yang berlimpah, serta jalinan mata hati yang kuat. 

“Ikutlah denganku.” Balian Bapuyu Huludaya kemudian melambaikan tangan. Kedua sosok terlihat menghilang dari pandangan mata. 


Seorang anak remaja terbuai di dalam gelapnya malam. Suasana dingin, dingin sekali karena angin membawa kelembaban yang dapat merangsek ke dalam sum-sum tulang. Tubuhnya terasa ringan, dan seolah-olah sedang melayang tanpa arah dan tujuan pasti. Kendatipun demikian, perasaan di hati demikian tenteram, karena berada jauh sekali dari hiruk-pikuk dunia persilatan dan kesaktian. 

“Hei!” Suara menyergah datang dan menyeruak melalui jalinan mata hati. “Bangun!”

“Hm…? Super Guru…” 

“Gegabah sekali engkau!” hardik Komodo Nagaradja berang bukan kepalang.

“Di… mana…?” 

Umpatan Komodo Nagaradja memanglah benar adanya. Dengan mengucapkan “aku menyerah” tubuh Bintang Tenggara serta merta ditarik ke lembar daun raksasa yang menampung para remaja yang telah tersingkir dari upacar adat. Akan tetapi, ada syarat dan ketentuan yang menyertai tindakan tersebut, yaitu tiba dalam keadaan tak sadarkan diri! 

Bintang Tenggara bangkit berdiri. Kepalanya pening sangat. Masih menjadi misteri apakah anak remaja itu menyadari akan syarat dan ketentuan bila meninggalkan upacara adat dengan cara menyerah, sehingga tindakannya sama sekali tiada terencana. Atau sebaliknya, ia justru menyadari akan kemungkinan tak sadarkan diri, namun tetap bertindak karena mengetahui akan dibangunkan secara paksa oleh jalinan mata hati Komodo Nagaradja. Apa pun itu, kini Bintang Tenggara berada di antara lebih dari seribu remaja peserta yang tergeletak menanti ajal. 

Mengamati sekeliling, Bintang Tenggara mendapati sejumlah remaja yang sebelumnya bersama-sama berada di dekat ulat raksasa. Rupanya mereka mencontoh tindakan menyerah, tanpa menyadari syarat dan ketentuan yang menyertai. Mereka kini tergeletak tak sadarkan diri. 

Di kejauhan, terlihat Canting Emas, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas berhasil melompati barikade ulat raksasa nan kenyal dan kebal. Ketiganya tak terlalu ceroboh untuk meniru langkah menyerah Bintang Tenggara. 

“Swush!” 

Hanya terdengar desir angin di kala sesuatu melintas di atas kepalanya. Bintang Tenggara spontan menunduk, dan baru menyadari bahwa ada sedemikian banyak binatang siluman serangga yang mengincar. Meski berbekal Tempuling Raja Naga yang memiliki aura Siluman Sempurna, kali ini upaya Bintang Tenggara memamerkan senjata pusaka itu tiada digubris oleh binatang siluman serangga. Mungkin tempat ini belum mengenal konsep siluman sempurna, batin anak remaja itu setengah kecewa. 

Walhasil, seorang diri Bintang Tenggara berupaya mengusir pergi binatang siluman serangga yang mengerubungi dan berupaya menyantap mereka yang tak sadarkan diri. Ia melenting dan menikam, selalu tepat sasaran. Walau di dalam benak ia berpikir, sampai berapa lamakah tindakan mengusir ini akan berlangsung? Kerumunan binatang siluman serangga datang tanpa henti. 

Canting Emas, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas akhirnya berhasil menjangkau Bintang Tenggara. Upaya ketiganya patut diacungi jempol. Di kala hendak menyusun formasi bertempur dan memulai tindakan bertahan dari serangan binatang siluman serangga, terjadi sebuah keanehan. Di antara mereka berempat, tetiba muncul sesosok tubuh nan mungil... 

 “Kukame!” seru Aji Pamungkas penuh suka cita.