Episode 87 - Tomb of the Great King Part II


“Alzen mundurlah!” sahut Luiz. “Kau belum pulih sepenuhnya. Biar aku saja yang melawannya.”

“WEAPON CALL !! Electro Punisher !!”

Luiz mengeluarkan aura tipe weapon miliknya dan langsung mencabik-cabik monster gas itu, namun percuma saja. Serangan Luiz tidak mempengaruhi apa-apa.

“Ke-kenapa!?” Luiz terheran-heran,

 “Fia, Cefhi. Tetap di belakangku.” Gunin menjaga jarak dari Alzen dan Luiz. “Aku pastikan kalian tidak terluka.” 

“Percuma saja Luiz, monster ini harus dihabisi oleh elemen cahaya.” kata Alzen mengingat-ingat pengalamannya yang lalu. “Dulu aku pernah melawannya. Dan Leena yang melenyapkannya.”

“Mo-monster ini setan kan? Se-setan kan? Ti-tidak bisa diserang.” Nirn gemetaran di hadapan monster gas ini.

“Diam kau gendut!” bentak Luiz. “Daripada ketakutan dan merepotkan paling tidak lakukan sesuatu.”

“Aku memang gendut, tapi aku tidak suka dipanggil gendut.” Nirn dengan geram mengeluarkan sebilah pisau dari tangannya.

“Aero Enchanting !!”

Nirn menyelimuti pisaunya dengan pusaran angin.

“Cih! Kau tidak dengar ya? Hanya elemen cahaya yang bekerja.” Sahut Luiz sambil bergegas pergi ke arah katedral.

“Wind...” Nirn menarik pisaunya ke belakang dengan posisi tangan bersiap menusuk ke depan. 

“Ancang-ancang itu!!?” Alzen terkejut.

Lalu pisau Nirn dihunuskan ke depan dengan cepat dan menembakkan angin yang kuat ke depan.

“Caliber !!”

“Aldridge!? Itu jurus Aldridge!?” Alzen seketika teringat temannya yang tinggal bersama-sama dengannya, setahun lalu

“Hoahahaha! Bekerja! Serangannya bekerja!” Luiz tertawa puas sekali.

Belum selesai sampai disitu, 

“Tiarap!”

Luiz segera menjatuhkan dirinya, sambil menarik Alzen bersamanya.

Gunin mendorong Fia dan Cefhi ke depan hingga jatuh dan ia ikut melompat tiarap setelahnya.

Nirn memutar tubuhnya 360 derajat.

“Whirlwind !!” 

Dan membelah monster gas itu hingga menjadi dua. Kemudian ia mengangkat pisaunya ke atas tinggi-tinggi.

“Tornado !!”

Pusaran angin keluar setelahnya dan menghanyutkan monster gas itu ke dalam pusaran angin puting beliung yang secara perlahan mengikisnya sampai akhirnya dikalahkan.

“Woah... Nirn, gendut-gendut culun begitu ternyata kau hebat juga.”

“Hehe... terima kasih.” Nirn tersenyum senang menerima pujian. “Tapi tolong hilangkan bagian gendutnya.”

“Te-ternyata bisa? Tanpa elemen cahayapun bisa?” pikir Alzen yang terkagum-kagum. “Tapi... Nirn, kamu bisa jurusnya Aldridge.”

“Hoy... hoy...” sahut Lio dari jauh. “Alzen! Fia! Cefhi! Nirn!”

“Lio!?” Fia lega sekali melihat Lio kemari. “Syukurlah, kita bersatu lagi.”

“C-Chandra!? Dia baik-baik saja kan?” pikir Cefhi dengan malu-malu.

Nirn melihat Ranni dari jauh. “Wah sial! Lagi keren-kerennya aku barusan. Ranni malah tak melihatnya.” 

“Kalian tidak apa-apa kan?” tanya Lio pada anggota partynya.

Fia tersenyum. “Tenang saja, kak Gunin, Alzen dan Luiz melindungi kami.”

“Alzen!? Syukurlah kau selamat.” Chandra langsung memeluk Alzen dengan lega. “Ngomong-ngomong. kau sudah sembuh kan? Tikaman di perutmu bagaimana?”

“Berkat mereka, Fia dan Cefhi. Mereka menyembuhkanku dengan sekuat tenaga. Aku berhutang pada mereka.”

“Fia, Cefhi!” sahut Chandra sambil berjalan mendekati mereka. “Terima kasih banyak dan maaf, meski kalian sudah mau habiskan waktu yang banyak untuk mengajariku, namun aku... belum-belum bisa juga. Aku benar-benar bodoh.”

Cefhi geleng-geleng kepala. “Itu tidak benar, kamu tidak seperti yang kamu bilang pada dirimu Chandra. Kami akan mengajarimu lagi sampai kau bisa. Jangan berputus asa.”

Fia tersenyum dan menyemangati. “Ya Chandra! Semangat!”

“Ka-kalian... sungguh benar-benar baik.” Chandra berbalik karena terharu lalu cepat-cepat menyeka air matanya.

“Ngomong-ngomong kita menuju ke arah yang sama kan?” tanya Ranni. “Kita ke katedral itu kan?” tunjuknya.

Alzen mengangguk. “Ya! Kita kesana sekarang.”

***

Trang!

Trang!

Trang!

TRANGGG !!

“Kumohon Leena, sadarlah.” Sintra bersusah payah menahan serangan Leena tanpa bisa membalasnya, di tambah ia harus melindungi anggota party yang lain agar tidak diserang Leena yang matanya hitam dengan pupil merah.

Tidak mendengar apa yang dikatakan Sintra, Leena terus menerus melewatinya untuk menyerang anggotanya yang lain. Namun Sintra terus berusaha mengejar Leena dan menahannya.

“Kalian berdua berlindung di belakangku.” kata sang Tanker selagi memback-up mereka berdua.

“Stone Wall !!”

Mereka bertiga mengunci diri di balik dinding batu yang melingkari mereka dalam bentuk setengah bola.

Namun...

JRUUUSSHHHTT !!

Pedang Leena mampu menembus batu itu. 

“HMMPHH!!?” sang Tanker berubah pucat, ketika pedang Leena hanya berjarak satu centimeter di depan wajahnya.

“Menjauhlah dari mereka!” Sintra berlari cepat mengejar Leena dan mau tak mau harus berniat melukainya.

“Speedy Flash Move !!”

TRANGGG !!

DSINGG !! ... DSINGG !! DSINGG !! DSINGG !! TRANGG !! 

DSINGG !! DSINGG !! DSINGG !! TRANGG !! 

Party Alzen dan Lio baru saja tiba di pintu gerbang Katedral itu, mereka mendengar suara adu pedang di dalam dan segera bergegas masuk melewati celah kecil pintu gerbang itu.

“Ka-kalian...”

“Syukurlah...” Sintra melihat ke belakang dengan perasaan lega sambil terus sibuk menahan Leena. “Alzen! Tolong bantu ka... UAGGHHH !!”

Sintra tertebas secara diagonal hingga pundaknya menerima luka sayat.

“A-apa yang terjadi!!?”

“Leena kerasukan oleh sesuatu!” kata sang Tanker dengan nada panik. “Dia terlalu kuat untuk jadi lawan kami. Tolong lakukan sesuatu!”

“Cih... aku harus apa? Aku harus apa?” Alzen berpikir dan menganalisa yang sedang terjadi dan mencari solusinya.

***

Di kemah instruktur, di jalan masuk dungeon. Mendadak banyak sekali petualang berteleportasi keluar dari dungeon ini.

“Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua teleport keluar?” Lasius bertanya-tanya.

“Sesuatu buruk terjadi kah?” tanya Aeros.

“Cih! Ayo kita harus segera mengecek ke dalam.” Kazzel berdiri dan tergesa-gesa menuju jalan masuk dungeon.

“Tunggu Kaz, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi.” cegat Eriya.

“Aku tak ingin ada hal yang tak diinginkan terjadi lagi tahun ini.” kata Kazzel yang gelisah. “Steve, Felix. Kalian mendapati sesuatu yang tidak biasa?”

“Gawat-gawat, ini gawat!” kata Steve dengan gemetar ketakutan. “Kenapa Boss anomali muncul di saat seperti ini. Dan ia terus naik dengan cepat.”

“Bos anomali!?” Kazzel setelah mendengar itu terkejut untuk sebentar, lalu raut wajanya berubah menjadi marah. “Di lantai berapa dia sekarang?”

“7... lantai 7, tapi dia terus naik dengan cepat.” balas Steve.

Mendengar itu Kazzel segera berlari duluan memasuki dungeon.

“Hei Kaz tunggu!” Lasius menghadangnya. 

“Maafkan aku Lasius.” Kaz menepuk tangan Lasius dan menyetrumnya hingga lumpuh untuk sesaat. “Aku akan segera kembali.”

“Kaz! Kaz! Tunggu! Agh!” sahut Lasius dalam kondisi tersungkur di tanah.

“Hei-hei ada yang bisa jelaskan pada kami?” tanya Glaskov pada kerumunan petualang yang berlarian kabur. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Glaskov mendapati party yang mencapai lantai 28 itu, kemudian bertanya padanya.

“Ka-kalian orang Vheins kan?” tanya ketua party mereka. “Tolong sampaikan segera pada gubenur untuk segera datang kemari. Kami akan bergegas kembali ke Letshera untuk melaporkan bencana ini pada pemerintah.”

“Ahh!?” mendengar itu Lasius bangkit berdiri dan segera mengenakan CC pada jarinya untuk bicara dengan Vlaudenxius. “Baik, biar kuhubungi pak Vlau segera.”

“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?” tanya Aeros dengan cemas.

“Panjang ceritanya, kami baru saja sampai pada lantai 28, lantai terakhir dungeon ini dan disana ada 4 orang misterius yang sudah tiba duluan disana. Melakukan sesuatu yang kami tidak ketahui dan... dan... Final Bossnya, bisa lepas dari lantai yang seharusnya.”

“Itu Bos Anomali.” sahut Lunea dari kemah. “Sial! Kenapa harus terjadi di saat seperti ini.” 

“Aku mengharapkan kalian semua baik-baik saja, kami harus bergegas kembali ke ibukota.” kata sang ketua party yang kemudian bersiul memanggil Gryphon untuk ditumpangi.

“Baik, aku sudah menghubungi pak Vlau untuk kemari.” kata Lasius yang terlihat cemas. “Pemerintah pasti akan terlambat sampai kesini. Jadi... Aku, Aeros, Glaskov. Kita pergi ke dalam untuk mengevakuasi para murid.” Kalian tunggu disini, jaga murid-murid yang sudah kembali.”

“Hei Lasius! Apa kau tak perlu seorang Healer? Kau yakin bisa selamat di dalam dungeon?” tanya Lunea yang masih sibuk menyembuhkan Sinus.

“Tenang saja! Kami tidak akan lama-lama.” balas Lasius yang sudah berlari untuk bergegas masuk. “Ini gara-gara Kaz bertindak semaunya sendiri. Kalau kita tak segera menyusulnya bisa gawat.”

“Serahkan padaku Lunea,” balas Aeros sambil mengedipkan mata dan dua jari dikibaskan di depan dahinya. “Begini-begini aku juga bisa sihir penyembuhan loh.”

***

Di ruang kepala sekolah Vheins.

Vlaudenxius segera beranjak dari bangkunya.

“Pak Gubernur? Ada apa?” tanya Alexia disampngnya yang melihatnya khawatir.

“Lasius bilang ujian dungeonnya terdapat boss anomali. Aku harus bergegas kesana sekarang juga.”

***

Classhttt !!

“UAGGHH !!” Sintra tertebas oleh pedang Leena sekali lagi di sisi yang satunya. Meski sangat kesakitan Sintra terus harus menahannya dan tetap menggenggam kedua pedangnya kuat-kuat untuk menangkis tebasan Leena yang sangat cepat.

TRANG !!

Sintra menahan tebasan Leena di tengah-tengah persilangan kedua pedangnya. “Leena, sadarlah!”

“Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?” Alzen berpikir keras dengan raut wajah serius dan kedua tangan terkepal, bola matanya melihat ke berbagai arah untuk solusi.

“Alzen! Cepat lakukan sesuatu!” sahut Sintra keras-keras, tubuhnya sudah berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal, namun Sintra harus tetap memaksakan diri.

“Sintra mundurlah!” sahut Alzen dengan tegas. “Biar aku yang melawannya.”

“Cih, aku tak mengerti. Kau belum sembuh total dan mau menandingi kecepatan Leena.”

“Cepat lakukan saja!” bentak Luiz. “Alzen pasti punya rencana.”

Sintra mengkertakan giginya lalu melompat mundur. “Baiklah...” ucapnya dengan nada sedikit terpaksa.

“Bagaimana ini, aku sebetulnya belum menemukan jawabannya.” pikir Alzen menunduk dengan tangan terkepal kuat. “Jangan ragu,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Mau tak mau harus kucoba.” Alzen menatap ke depan dengan teguh.

“Hosh... hosh...” Sintra kelelahan dan menutupi luka tebas di pundaknya dengan tangan. “Alzen kuserahkan pada-“

Sintra yang sudah mundur, seketika dikejar lagi oleh Leena yang bergerak melesat untuk menusuknya dengan pedang.

 Syushhhh...

“...!!?” Sintra lengah, ia tidak menggenggam pedanngya.

“Fire Burst !!”

Di tengah-tengah antara Leena dan Sintra kini terhadang oleh semburan api skala besar dari Alzen. Membuat Leena harus melompat mundur.

“Healer tolong sembuhkan Sintra.” kata Alzen dengan tatapan serius dan gaya yang gagah, tangannya mengarah ke depan, bersiap menantang Leena. 

Leena kini berfokus pada Alzen, namun sesaat setelah api itu menghilang, arah wajahnya kembali melihat Sintra dan dengan segera berniat untuk menghilangkan nyawanya.

TRANGGG !!

Serangan Leena berbenturan langsung dengan tembok tanah dari tanker partynya.

“Maaf Leena.” Alzen mengarahkan tangan kanannya ke depan dan meng-cast sihir.

“Thunder Shock !!”

Dari telapak tangan Alzen melesat listrik yang langsung menyengat Leena dari belakang.

Leena berteriak dan suaranya bercampur antara suara dirinya dan monster itu.

Mendengar jeritan Leena dari belakang tubuh besar tankernya. Membuat Sintra terpikir akan sesuatu. Matanya terbuka lebar-lebar melihat Leena yang disengat listrik, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia menemukan solusinya.

“Grr..” Leena mengkertakan giginya kuat-kuat, ia terlihat marah sekali dan fokusnya kembali pada Alzen. 

“Aku tak boleh gunakan api. Listrik juga harus kukontrol dayanya, sedangkan air. Tidak ada air disini.”

“GRAAAA !!” Leena menerjang cepat untuk melukai Alzen.

“Thunder Barrier !!”

Alzen dengan teguh tanpa gentar, atau setidaknya menahan rasa takutnya dan dengan timing tepat meng-cast barrier petir di depannya. Sehingga jika Leena melewati Barrier itu, ia harus menerima sengatan listrik yang melukai dirinya juga.

Leena berhenti tepat di depan barrier Alzen lalu meng-cast tembakkan sihir cahaya dari tangan kirinya. 

“...!!?” Alzen sempat melihat wajahnya tersenyum, sebelum akhirnya ia terpental oleh serangan Leena hingga tersungkur jatuh dan barriernya hilang.

“Ugh...” mata Alzen tertutup satu menahan rasa sakit seperti ditinju di perutnya

Sementara Leena berdiri di hadapnnya dengan kedua tangan memegang pedang secara terbalik untuk menikam Alzen langsung.

“Liquid Snake !!”

Gunin meng-cast sihir yang mirip seperti Water Dragon, namun dalam skala kecil. Menerjang cepat ke arah Leena untuk melilitnya seperti tali lasso. Leena tersungkur di lantai katedral dan terlepas dari pedanngya.

“Hah... hah.. terima kasih Gunin.” kata Alzen yang sedang bangkit kembali.

“Ini bukan turnamen kan?” kata Gunin dengan gagah. “Kita tidak sedang satu lawan satu disini.”

“Grr.... grr... GRAAA !!” teriak Leena yang kerasukan itu.

“Nah sekarang bagaimana mengeluarkan monster yang merasuki si anak emas Lunea itu,” kata Luiz. “Tanpa terlalu banyak melukainya.”

Sintra berjalan ke depan melewati tankernya, meski proses penyembuhan masih berlangsung dengan Fia dan Cefhi, ia dengan sengaja menghentikannya.

“Sintra, Sintra!” sahut Tankernya. “Kau mau apa? Kau belum-”

“Harus aku yang melakukannya. hanya aku yang bisa,”

Leena yang terikat itu terus mengerang dan mengerang mencoba melepas ikatan ular air di tengah-tengah badannya.

“Leena, sadarlah. Aku tak mau melukaimu lebih banyak lagi.” ucap Alzen dengan raut wajah sedih.

“Grr.... grr...” Leena memandang Alzen dengan raut wajah kebencian. “GRAAA !!” teriak Leena lebih kencang dari sebelumnya hingga memutus ular yang mengikatnya.

“Wah gawat!!?” Gunin panik.

Alzen mundur beberapa langkah sambil membuat pertahanan, ia juga berusaha untuk tidak melukai Leena terlalu banyak.

Leena kembali bangkit lalu mengambil kembali pedangnya, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menebas Alzen.

Dan...

CRIINNGG !!

Leena di tepuk dari belakang oleh Sintra yang meng-cast sihir cahayanya. Setelahnya Leena berteriak keras sekali dan roh yang merasukinya keluar dari mulutnya, di saat bersamaan mata Leena yang menghitam kembali normal.

“Hosh... hosh... akhirnya keluar juga.” 

“Jadi makluk kecil ini yang merasuki Leena.” kata Alzen geram melihat sosok bola gas hitam kecil di depan matanya. 

Alzen kemudian menggenggamnya lalu meremasnya dan melenyapkanya dengan listrik lalu dibakar hidup-hidup dalam genggaman tangannya.

Leena menghela nafas, “Cough! Cough! Cough! Maafkan aku Sintra. Aku lihat semuanya tapi kontrol atas tubuhku hilang begitu saja. Maaf aku melukai dua kali.”

“Hosh... hosh... tak perlu minta maaf.” Sintra memegang dadanya yang sesak. “Aku tahu bukan kau yang melakukannya.” Sintra segera berbaring dan memejamkan mata dengan tangan dan kaki terbuka lebar bersantai diatas batu-batu katedral yang terabaikan.

***

Di lantai 1.

“Kalian mundurlah! Mundurlah! Ujian dibatalkan! Cepat kembali ke atas! Sekarang juga!” Kazzel berlari tergesa-gesa sambil mengibas-ngibas tangannya, bergegas secepat mungkin ke lantai 3.

Kazzel tiba di gerbang boss dan memilih untuk melewati melawan boss yang sudah pernah ia lawan. Lalu dengan instan di teleportasi ke lantai berikutnya.

“Gawat! Gawat! Kenapa harus dihari ujian ini terjadinya.”

Di belakang Kazzel, para instruktur pria lainnya segera menyusulnya sambil memberi peringatan yang sama pada setiap pelajar yang ditemuinya.

***

Party Alzen, Leena dan Lio berkumpul di depan gerbang boss di belakang altar dan mendiskusikannya lebih dulu. Total ada 14 orang disini.

“Ini gerbang bossnya?” kata Alzen di depan pintu gerbang berwarna hitam itu.

“Kau yakin, hanya berempat dan tanpa healer satupun?” tanya Leena.

“Aku tak tahu.” Alzen menjawab dengan ragu.

“Halah... lantai dua saja sudah begitu merepotkan, apalagi yang sekarang.” kata Lio dengan mata terpejam dan menghembuskan nafas, ia terlihat malas sekali untuk melanjutkan.

“Meski basah, tapi disini masih jelas tertulis bahwa boss lantai ini adalah Dracula.” kata Ranni sambil membaca buku panduannya. “Boss monster elemen kegelapan, dari sosoknya, sepertinya boss ini merupakan lawan yang kuat.”

“Kita tidak boleh tukar-tukar party memangnya?” tanya Gunin.

“Tidak boleh bodoh! Kita tidak sedang menjelajah dungeon sungguhan. Ini ujian kalau bukan karena ujian bodoh ini, kita boleh bebas bongka pasang anggota party kita.”

“Hah? Apa itu aman?” komentar Sintra. “Bongkar pasang party dengan orang yang kita tidak kenal?”

“Itu dia masalahnya.” balas Luiz, “Makanya aku benci dungeon. Isinya hanya manusia-manusia serakah yang berkhianat demi harta atau kepentingannya sendiri saja.”

“Hei, hei... jadi bagaimana keputusannya?” tanya Leena. “Apa kita menunggu saja disini atau lanjut dan sudahi ini?”

“...” semua terdiam, tak ada yang bisa memutuskan.

***

Kazzel terus berlari memperingatkan hal yang sama. Kecepatannya di bantu oleh kemampuan elemen petirnya dan dia melesat cepat bagai kilat. 

“Kalian mundurlah! Mundurlah! Ujian dibatalkan! Cepat kembali ke atas! Sekarang juga!”

Ia tiba di gerbang boss lantai 2 yang ia sudah tahu lokasinya. Lalu melewatinya begitu saja. Dan tiba di lantai 3.

Teman-teman di belakang, terus menyusulnya.

***

“Baik! Kita masuk.” Alzen memutuskan. “Kita sudah sejauh ini dan kita harus sudahi ini.” 

“Kalau begitu,” balas Leena. “Kami duluan.”

***

“Steve, Felix apa yang kau lihat?” tanya Lunea yang tugas menyembuhkan Sinus dioper ke Andini. “Boss anomalinya sudah sampai mana?” 

“Sudah lantai 4.” ucap Felix dengan gemetar dan wajah membiru.

“Lalu Kazzel? Lasius?”

“Kazzel sudah di lantai 3 dan berada di kemah, dia terlihat diam memperingati mereka.” kata Steve menilai yang terjadi dari siluet-siluet warna. 

***

Party Leena sudah masuk lebih dulu untuk melawan boss lantai 3, kemudian disusul party Lio dan terakhir terisa party Alzen yang tinggal berempat.

Alzen menyentuh kristal di tengah-tengah gerbang tersebut, lalu langsung di teleportasi ke tempat yang persis sekali sama. Seolah rasanya mereka tidak berpindah saja, namun orang-orang yang tak terlibat terasa di teleport keluar.

Krieet... DAARR !!

Pintu gerbang besar tempat mereka masuk itu tertutup oleh deru angin. Kemudian banyak kelelawar-kelelawar datang lewat jendela katedral itu, berkerumun jadi satu hingga membentuk sosok dracula.

Ia berpakaian mantel hitam panjang dengan rompi merah dan kemeja lengan panjang berwarna putih. Melayang di udara diselimuti aura hitam di sekelilingnya.

Matanya yang terpejam itu pelan-pelan terbuka dan memancarkan mata merah terang dengan gigi taring tersenyum untuk menghisap darah.

***