Episode 304 - Menyerah



Duduk bersila di atas Kecapung Terbang Layang, Kum Kecho mengamati keberlangsukan upacara adat dari kejauhan. Perhatian sedang tertuju kepada lembar-lembar daun raksasa yang tersusun menjadi jembatan, sehingga keberadaan pengintai di kejauhan tiada disadari. Kedua matanya Kum Kecho menyipit, betapa ia takjub akan kegigihan yang disuguhkan baik oleh para remaja dayak, maupun perwakilan yang bukan berdarah dayak. 

Terkait diperbolehkannya remaja dari luar Pulau Belantara Pusat mengikuti upacara adat suku dayak, betapa Kum Kecho terlihat muak. Bahkan, ia mencemooh muslihat Dewan Dayak yang mengizinkan keikutsertaan pihak luar. Berbeda dengan remaja lain, ia sepenuhnya menyadari bahwa langkah tersebut diambil agar para remaja suku dayak dapat menakar kemampuan mereka terhadap remaja-remaja seusia dari luar Pulau Belantara Pusat. 

Tidak sepantasnya demikian, batin Kum Kecho. Mengapa harus menjadikan ahli dari luar Pulau Belantara Pusat sebagai tolok ukur…? Suku dayak memiliki keunikan tersendiri, dan oleh karenanya patut mempertahankan kelebihan yang dimiliki. Maka dari itu pula, Kum Kecho tiada tertarik untuk berlama-lama terlibat di dalam upacara adat. Tujuan dirinya hanya untuk masuk ke dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang. 

Meski kini terpaksa keluar dimensi dunia Goa Awu BaLang dengan tangan hampa, setidaknya firasat untuk datang ke Pulau Belantara Pusat adalah benar adanya. Telah diketahui bahwasanya terdapat sumber kekuatan yang teramat langka lagi digdaya. Saat ini kekuatan tersebut disegel di dalam lingkaran sepuluh bilah tempuling, dan dirinya belum dapat mengambil sumber kekuatan itu. Setidaknya tidak saat ini, namun dengan berlatih sampai kepada Kasta Emas, bukan tak mungkin inti api berwarna putih tersebut dapat ia ambil alih. 

Kedua mata Kum Kecho kini terpaku kepada sepak terjang putra dari Mayang Tenggara. Anak remaja tersebut telah diketahui dapat mengerahkan Tinju Super Sakti serta golok angin Mustika Pencuri Gesit. Sebuah kemungkinan yang hampir mustahil di masa lalu, karena Komodo Nagaradja tiada mungkin mengangkat murid dan Dewi Anjani sangat pemilih dalam menentukan ahli yang berhak mencabut senjata-senjata yang tertancap di tubuhnya. 

Semakin lincah dan terarah gerakannya menerobos binatang siluman serangga yang menyerbu. Apakah Mayang Tenggara sendiri yang melatih putranya itu…? Kum Kecho menduga-duga. Pastilah demikian, karena pada pertemuan tak sengaja dengan Mayang Tenggara saat berada di ibukota lama Sastra Wulan, maka Kum Kecho dapat mengira-ngira kemampuan teman masa kecilnya itu. Dapat disimpulkan bahwasanya di balik perlindungan Untaian Tenaga Suci, Mayang Tenggara pastilah sudah mencapai tingkat keahlian yang teramat tinggi. 

Raut wajah Kum Kecho berubah sejenak tatkala membayangkan Mayang Tenggara. Melakukan perbandingan dengan teman masa kecilnya yang lain, yaitu Airlangga Ananta yang menetap di Kota Baya-Sura dan kini menyebut diri sebagai Resi Gentayu, maka Mayang Tenggara sepantasnya berada pada Kasta Bumi. Bagaimana tidak, Airlangga Ananta yang pemalas saja sudah berada pada Kasta Bumi, apalagi Mayang Tenggara yang terkenal gigih berlatih dan tak pernah mau kalah, serta mudah naik darah!

Kenangan masa lalu seketika merasuk ke dalam hati sanubari Kum Kecho. Andai saja dirinya tiada tersegel selama ratusan tahun…

“Hmph!” Kum Kecho mendengus. Betapa ia tak hendak larut pada kenangan masa lalu. Itu adalah ingatan Elang Wuruk sang Putra Mahkota Negeri Dua Samudera, sedangkan dirinya telah terlahir kembali sebagai Kum Kecho. Kum Kecho tiada akan terbuai di dalam nostalgia! 

Di saat hendak berpaling, kedua mata Kum Kecho menangkap keberadaan remaja berkulit gelap, bertubuh kekar, serta berambut cepak. Bukan, bukan diri remaja itu yang menarik perhatiannya, melainkan sesuatu di dalam genggaman kedua belah tangan. Kum Kecho kini terperangah, karena senjata di dalam genggaman itu adalah parang api Taring Raja Lalim! 

Rupanya sudah terdapat dua ahli yang berupaya membebaskan Dewi Anjani dari segel Cembul Manik Astagina? Di masa lalu, hanya Sang Maha Patih seorang yang dinilai pantas oleh Dewi Anjani untuk menghunus setiap satu senjata! 

Kum Kecho memutar tubuh. Ia telah mengetahui dan memutuskan tempat tujuan berikutnya. Anak remaja tersebut kemudian memanggil Roh Antang Bajela Bulau. Dengan bantuan roh tersebut, ia kemudian mendeteksi keberadaan formasi segel jauh di pucuk tertinggi pohon maha raksasa. Mendapat perintah dari jalinan mata hati, Kecapung Terbang Layang pun melesat tinggi. 

Udara di atas pucuk pohon memuai ibarat sedang terjadi panas nan tinggi. Akan tetapi, Kum Kecho menyadari bahwa sesungguhnya itu adalah tabir formasi segel yang sengaja dibuat tak kasat mata. Ada sesuatu yang dilindungi di dalam sana. Mengerahkan kemampuan Rajah Roh Antang Bajela Bulau, ia kemudian membuka paksa formasi segel tersebut! 

Di balik formasi segel yang dirapal oleh anggota Dewan Dayak, adalah seorang gadis belia berukuran tubuh mungil. Kulitnya putih merona, rambutnya hitam mengalun pendek. Pada bagian pundak terikat jalinan rotan mirip seperti sedang menyandang tas ransel, yang mana menopang bentangan sepasang sayap besar juga terangkai dari jalinan rotan. Gadis tersebut hanya melayang di udara, sorot matanya menatap kosong. Ia tersirap. 

Kum Kecho membuka telapak tangan kanan, lalu mencengkeram wajah bundar gadis belia tersebut. Mulut Kum Kecho berkomat-kamit layaknya sedang merapal jurus. Dari pemukaan telapak tangan, kemudian berpendar unsur kesaktian cahaya. Sekujur wajah gadis belia tersebut serta merta dilingkupi cahaya nan terang. 

“Haahh…” Si gadis belia mengerang ibarat baru tersadar dari mimpi buruk, namun tubuhnya terhuyung lemas. Jalinan unsur kesaktian rotan yang berwujud kepak sayap terurai berguguran, dan ia pun terjatuh tiada daya. 

Sigap, Kum Kecho melompat dan menangkap tubuhnya. 

Merasa ada kejanggalan, gadis belia tersebut membuka mata dan menemukan bahwa sebentuk wajah pucat pasi namun sangat tampan, hampir menempel ke wajahnya sendiri. Spontan ia mendorong dan meronta, berupaya hendak melepaskan diri. Namun apa daya, dekapan lengan Kum Kecho terasa demikian erat, sampai membuat dirinya tak kuasa berbuat apa. Ditambah lagi, sekujur tubuh gadis tersebut memang masih lemah adanya. 

Di atas pundak Kecapung Terbang Layang, Kum Kecho kemudian membawa gadis belia di dalam gendongan turun ke permukaan. Keduanya kini terlindung di bawah selembar daun raksasa, yang mana hanya beberapa berkas cahaya mampu menyeruak. Suasana temaram serta mencekam. 

“Engkau berasal dari Dayak Kaki Merah…,” tebak Kum Kecho sejurus setelah mendarat dan melepaskan gadis belia tersebut dari dekapan. Siapa pun yang mengenal suku dayak, pastinya dapat mengambil kesimpulan yang sedemikian bila menyaksikan sebelah kaki nan berwarna merah. 

Kuau Kakimerah melontar pandangan cemas ke kiri dan ke kanan, serta ke belakang. Hanya ada mereka berdua di tempat tersebut. Ia kemudian berupaya menutupi kaki kanannya dengan tangan, karena sedang diperhatikan secara kurang pantas oleh remaja lelaki berjubah serba hitam itu. Sungguh tatapan mata nan dingin membuat batin terbuncang.

Dari sudut pandang Kum Kecho, tetiba ia menyadari keanehan sekaligus perasaan yang akrab dengan sekujur kaki nan berwarna merah itu. Kedua matanya menatap mulai dari paha sampai ke jemari kaki yang tak mengenakan alas. Kemudian ia mendekat, berjongkok, dan menjangkau lutut Kuau Kakimerah dengan santainya. Sontak gadis belia tersebut melangkah mundur, namun jemari tangan Kum Kecho telah mencengkeram erat terlebih dahulu! 

Walhasil, Kuau Kakimerah jatuh terjengkang. Kejadian yang berlangsung selanjutnya, membuat sekujur tubuh gadis belia tersebut merinding sekaligus tergoncang. Sungguh sensasi yang baru pertama kali ia rasakan, karena remaja lelaki yang tak dikenal itu meraba-raba bagian paha sampai ke ujung jemari kaki! 

Dengan segala daya upaya, Kuau Kakimerah memberontak. Kaki kirinya spontan menendang, namun segera tertangkap. Kum Kecho lalu menyentak sambil merentangkan lengan, sehingga membuat tubuh Kuau Kakimerah pun terjerembab. Sungguh sia-sia upaya gadis belia tersebut untuk melepaskan diri!

Di tengah suasana yang remang-remang dan terkucil, posisi tubuh keduanya sungguh terlihat tak pantas. Dalam keadaan bertumpu pada satu lutut, kedua belah tangan Kum Kecho yang direntangkan memegang erat kedua kaki. Kuau Kakimerah nan polos, dengan demikian, kini dalam posisi dipaksa mengangkang! 

Untunglah gadis belia tersebut senantiasa mengenakan celana pendek, walau kedua tangannya gelagapan berupaya menutupi celah-celah pada lipatan kain du pangkal paha. Perasaan tak menentu, dan ketakutan Kuau Kakimerah saat ini sungguh tiada terbayangkan. Tindakan bejat seperti apa yang akan menimpa dirinya…?

Puas mengamati kaki nan berwana merah, Kum Kecho melepaskan cengkeraman tangannya. Ia bangkit berdiri, dengan sorot kedua mata yang tak lepas menatap Kuau Kakimerah. Sebaliknya, gadis belia itu berupaya beringsut menjauh. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan, pun kedua bibirnya terlihat bergetar ketakutan tiada terperi, air mata mulai menggenangi kelopak mata.

Kum Kecho lalu melangkah mendekati. Ia berdiri perkasa sampil mengacungkan jari telunjuk. Kemudian, dengan nada datar ia berujar, “Tanggalkan pakaianmu!” 


===


Kombinasi serangan anak panah, parang dan kandik memadu apik dalam mendukung tempuling. Keempat remaja membangun formasi serangan tanpa diberi aba-aba. Aji Pamungkas berada di belakang Bintang Tenggara, yang kemudian diapit oleh Canting Emas dan Panglima Segantang. Terkadang serangan dibuka melebar dari sayap, mepersempit ruang gerak, untuk dihabisi dari tengah. Lain kesempatan, serangan menikam berawal dari tengah, memancing gerakan binatang siluman untuk berkumpul, lalu dilibas dari kedua sisi. 

Akan tetapi, tetiba langkah Bintang Tenggara bersama rekan-rekannya terhenti. Seekor ulat… Benar, seekor ulat raksasa menghadang langkah mereka. Tubuhnya bulat gemuk, dengan panjang membentang hampir selebar daun maha raksasa. Tak terbayang bila ia menjadi kupu-kupu nanti, entah seperti apa besarnya nanti…?

Sepertinya, ulat ini hanya melintas akibat pergerakan lembar-lembar daun yang beberapa kali telah berlangsung. Bagaimana mungkin ulat ini pada awalnya tiada terlihat…? Tak lain, karena ulat tersebut memiliki kemampuan kamuflase layaknya bunglon. Bahkan, mungkin jauh lebih handal! 

Panglima Segantang dengan senang hati ingin membelah-belah tubuh ulat raksasa. Begitu pula dengan Canting Emas yang menebaskan senjata di kedua lengan dalam upaya mencencang. Tak hendak kalah, Aji Pamungkas pun melesatkan anak-anak panah, berharap menciptakan lubang-lubang pada kulit ulat lalu menanti binatang tersebut mengempis. Akan tetapi, tiada satu pun serangan yang membuahkan hasil. Tubuhnya ulat terasa kenyal, membal, dan di saat yang bersamaan kulitnya demikian alot!

Bintang Tenggara melontar pandang ke atas. Sejumlah peserta lain telah tiba, dan mereka mencoba melompati sang ulat yang membentang serta menghadang. Akan tetapi, betapa upaya mereka sia-sia belaka, karena ratusan lalat seukuran buah semangka beterbangan dan mengincar para remaja yang hendak melompati ulat. Sigap, para remaja mengerahkan kemampuan masing-masing untuk menyingkirkan lalat-lalat. Namun demikian, lalat yang dijagal memuncratkan lendir kental yang bercampir dengan cacing-cacing seukuran jemari tangan. Bau busuk yang menyertai demikian menyengat. 

Di saat hal ini terjadi, sepertiga jumlah remaja di daun lain telah menjadi santapan binatang siluman serangga yang lapar akan daging segar manusia. Betapa menyedihkan, mereka yang menekuni jalan keahlian, meregang nyawa tanpa dapat mempertahankan diri. Bahkan, mereka semua masih tak sadarkan diri! 

Dari arah lain, semakin banyak pula binatang siluman serangga yang berdatangan dari wilayah yang lebih jauh. Langit siang hari serta merta berubah gelap, dan batang pohon maha besar di belakang sudah penuh dikerubuti. Agaknya, bau anyir darah segar menyibak di udara dan mengundang kedatangan binatang siluman yang tak terhingga jumlahnya. 

Kendatipun demikian, para remaja tetap berusaha melompati ulat yang menghadang. Kedua mata Bintang Tenggara tanpa sengaja bertemu dengan remaja-remaja Dayak Temuan Hulu yang sebelumnya sempat bersekutu dalam satu kelompok daun yang sama. Kesemuanya memacu diri, berjuang sampai pada titik darah penghabisan demi menyelamatkan saudara-saudara yang sedang dimangsa. 

Ironisnya, anggota Dayak Temuan Hulu yang sedang dimangsa pada lembar daun di sana, bukanlah karena lemah. Beberapa kerabat dan sahabat mereka sengaja mundur dari upacara adat demi membuka kesempatan lebih luas bagi yang pantas. Mereka menyerah dengan suka rela… 

“Menyerah…?” gumam Bintang Tenggara. Ia baru teringat akan satu hal yang teramat penting. Satu hal yang merupakan peraturan dari upacara adat itu sendiri. 

“Aku menyerah!” tetiba Bintang Tenggara berujar lantang. 

Seketika itu juga, sekujur tubuh anak remaja itu dilingkupi oleh bulir-bulir cahaya, kemudian ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Aturan terkait upacara adat masih berlaku! Sebagaimana yang sudah ditetapkan, bahwa barang siapa yang menyerah, maka dibawa melesat pergi ke daun yang lain. Atau lebih tepatnya, ke daun di mana segenap remaja yang masih tak sadarkan diri berada, dan kini sedang menjadi hidangan nikmat binatang siluman serangga!