Episode 303 - Bala Bantuan



Suara alat-alat musik memainkan irama nan merdu. Demung, saron, peking, gambang, kendang, dan gong berdendang dalam harmoni lambat. Sebagai satu kesatuan, kumpulan alat-alat musik tersebut biasa dikenal dengan gamelan. Kata ‘gamelan’ sendiri berasal dari kata ‘gamel’ yang merupakan bahasa asli Pulau Jumawa Selatan, yang berarti memukul atau menabuh. Ditambah dengan akhiran ‘an’, kemudian mengubahnya menjadi kata benda.

Dari semua alat musik gamelan, kendang memainkan peran yang paling istimewa. Dalam alunan yang sedang dimainkan saat ini, kendang menjadi panduan bagi para pemusik dan penari tunggal untuk melakukan bunyi dan gerak tertentu. 

Seorang lelaki dewasa muda melangkah gemulai. Gerakannya pelan dan lambat, di saat yang sama terlihat indah lagi elok. Ia berhenti melangkah, arah pandangan matanya bergerak mengikuti arah gerak jemari tangan nan lentik. Setiap gerakan selaras dan seirama dengan kendang. 

Sebagai penari, setiap geraknya tanpa cela. Bertempo pelan, ia menari lemah gemulai demi menggambarkan kelembutan dan keindahan. Kakinya, tangan, jemari dan kepalanya bergerak harmonis mengikuti alunan. Dalam gerakan yang bertempo pelan, ia menari penuh penghayatan dalam melukiskan betapa sakralnya kegiatan persiapan bercocok tanam.  


Kemudian ia tersenyum lembut. Sungguh sebentuk senyuman yang seolah dapat melelehkan batu karang sekalipun. 

Sejumlah hadirin yang menyaksikan penampilan di hadapan mata mereka, terkesima. Baik lelaki maupun perempuan hanyut dalam pesona gerakan dan alunan musik. Sungguh tiada dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan setelah ia menyelesaikan tarian, para hadirin masih terhanyut dalam irama keindahan. 

Tari yang baru selesai diperagakan kali ini dimainkan tunggal, dan terdiri dari tiga bagian, yaitu: gerakan awal (maju beksan), gerakan utama (beksan), gerakan penutup (mundur beksan). Sebagai catatan, tarian ini cukup termahsyur dan dikenal luas sebagai Tari Gambyong, yang berasal dari wilayah tengah Pulau Jumawa Selatan. 

“Plok! Plok! Plok!” Seorang lelaki dewasa muda yang mengenakan perban di sekujur tubuh menyambut meriah. “Lagi! Lagi! Lagi!” teriaknya penuh semangat. 

Sang penari, mengabaikan sambutan yang berlebihan dari salah seorang penonton tersebut. Sebaliknya, ia menatap tajam ke arah sepuluh gadis belia yang sedang tersirap. “Mengertikah kalian!? Di kala menari, menarilah dari lubuk hati terdalam!” 

Usai memberi pengarahan dan mengungkapkan kekecewaan, si guru tari memutar tubuh. Ia melangkah ke arah si penonton yang tadi bertepuk dengan penuh semangatnya. “Sangara Santang... Sampai kapan kau akan menetap di kediamanku...?” gerutunya kesal. 

“Kakak Lintang... Sungguh gerakan yang sempurna lagi mempesona,” tanggap Maha Guru Kesatu Sangara Santang. Sorot matanya menunjukkan kekaguman tiada terperi. 

“Aku tak membutuhkan pujian! Apalagi dari engkau!” hardik Lintang Tenggara si guru tari. “Tidakkah kau memiliki tanggung jawab di Sanggar Sarana Sakti...!? Pulanglah engkau segera!”

“Diriku betah menetap di sini...”

“Betah kepalamu!? Apakah otakmu juga terluka dan diperban!? Pergilah sebelum muncul desas-desus yang tak layak di Pulau Lima Dendam ini!”

“Desas-desus...?” Sangara Santang terlihat heran. “Desas-desus apakah gerangan...?”

“Desas-desus bahwa aku, Bupati Selatan di Pulau Lima Dendam, menampung tamu sesama lelaki!” 

“Biarlah mereka menduga-duga... hanya kita yang tahu kisah di antara kita...”

“Jangan berkata sembarang!” potong Lintang Tenggara sebal. Di saat yang sama, sebuah tasbih yang terdiri dari sembilan manik-manik keemasan di pergelangan tangan kanan, bergetar, melesat, dan membesar. Setiap manik-manik kini menjadi berukuran setara buah semangka dan melayang mengelilingi sang empunya. Lintang Tenggara murka! 

“Baiklah... Baiklah...,” Sangara Santang berujar santai, dan wajahnya seolah mengalah. “Diriku akan pergi bilamana Kakak Lintang berkenan memberi tahu di mana letaknya lentera itu...”

“Aku tak tahu lentera apa yang kau maksud...”

“Bila demikian, aku akan menetap dan melanjutkan kisah di antara kita...”

“Duak! Duak! Duak!” 

Rentetan Aksamala Ganesha menghantam deras, namun hanya bersarang di permukaan tanah. Gerakan tubuh seorang ahli Kasta Emas sekelas Sangara Santang tiada dapat dipandang sebelah mata. 

“Jangan menyebar berita dusta! Jangan merusak citraku!” 

“Bila demikian, mohon ungkapkan di mana lentera itu berada...,” ujar Sangara Santang ringan. 

Lintang Tenggara masih melotot ke arah Sangara Santang. Dua ahli ini sangat cocok dalam membangun siasat. Bahkan, Sangara Santang sendiri yang menyebar desas-desus di Pulau Lima Dendam akan adanya kisah cinta terlarang di antara dirinya dengan sang Bupati Selatan. Bayangkan, sampai sejauh itu ia menyusun rencana hanya untuk mendapatkan informasi. 

“Baiklah...,” gerutu Lintang Tenggara yang akhirnya memilih untuk mengalah sahaja. Bukannya ia tak tahu bahwa si Sangara Santang itu senang berjalan-jalan di wilayah Pulau Lima Dendam untuk membangun ceritera dusta. “Bila memang engkau sengaja mencari mati, maka akan kuungkapkan di mana letaknya benda yang kau cari itu...” 

Sangara Santang menanggapi dengan senyum sumringah. 

“Akan tetapi, apa yang akan kuperoleh sebagai gantinya...?” Lintang Tenggara tentu tak hendak memberi informasi secara cuma-cuma. Pertukaran informasi yang setimpal adalah sudah sepantasnya. 

“Hm...?” Sangara Santang mengerutkan dahi. Dalam hal pengetahuan, Lintang Tenggara mungkin adalah satu dari segelintir ahli yang memiliki informasi lengkap tentang apa yang pernah dan sedang berlangsung di Negeri Dua Samudera. Tak banyak informasi yang belum diketahui oleh tokoh tersebut.

“Diriku mengetahui siapa sesungguhnya yang membunuh mantan Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang...,” ujar Sangara Santang dengan suara rendah. 

Lintang Tenggara menyembunyikan keterkejutan. Sebagaimana diketahui, jati diri sang pembunuh guru dan ayah angkat dari Kapten Sisinga belum kunjung ditemukan. Kapten Sisinga pun sudah mengunjungi dirinya untuk meminta bantuan dalam penyelidikan. Dugaan sementara Lintang Tenggara jatuh kepada Balaputera Tarukma yang menyamar sebagai Senopati Ogan Lemanta. Adapun tujuan sosok yang melarikan diri dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu adalah demi mengambil alih posisi sebagai jenderal yang baru. 

Meski terdapat motif, namun Lintang Tenggara sama sekali tiada menemukan bukti yang kuat untuk mendukung dugaan tersebut. Balaputera Tarukma, dalam kaitan ini, hadir tanpa cela. 

“Siapakah pembunuhnya...?” Lintang Tenggara menanggapi pelan. 

“Di mana keberadaan Lentera itu...?” balas Sangara Santang sembari menyunggingkan senyum.

“Di Pulau Belantara Pusat...wilayah timur. Di suatu tempat yang dikenal dengan nama Bukit Pasir Sunyi…”

“Bukit Pasir Sunyi…? Bukankah itu Bukit Kersik Luway dalam bahasa suku dayak…?” Raut wajah Sangara Santang seketika berubah cemas.

“Benar. Kau tahu apa artinya bila memasuki wilayah itu…? Dikatakan terdapat seorang penjaga yang akan memangsa siapa pun yang berani menjejakkan kaki di sana.”

Sangara Santang mengusap-usap janggut tipisnya… Ia seolah sedang berpikir keras. “Apakah ada bukti yang mendukung keberadaan lentera tersebut di sana…? Bisa saja Kakak Lintang sengaja menjebak diriku…” 

Lintang Tenggara mengangkat sebelah alis. Tanpa menggubris keraguan lawan bicaranya, ia pun melanjutkan… “Sekarang, katakan siapa pembunuh Jenderal Keempat di Kerajaan Garang…?” 

“Diriku bertarung menghadapi mendiang Jenderal Keempat beberapa malam sebelum kematiannya... Kala itu, sang jenderal hendak menangkap Bintang Tenggara...” Sangara Santang terdiam sejenak. “Hm...? Entah dari mana beliau memperoleh informasi tentang sang Yuvaraja yang bepergian seorang diri tanpa pengawalan...” Ia menutup dengan memajang wajah kebingungan.

“Lanjutkan...,” gerutu Lintang Tenggara merasa tak nyaman. Karena memang dirinyalah yang memberikan informasi keberadaan Bintang Tenggara kepada mendiang Jenderal Keempat. Informasi tersebut ditukarkan dengan penundaan perang di mana Kerajaan Garang hendak menyerang Pulau Dua Pongah. 

“Setelah itu, Bintang Tenggara menghilang begitu sahaja. Demi memastikan keselamatannya dan karena merasa bahwa ia berniat kembali ke Pulau Dewa, diriku kemudian berkunjung ke Perguruan Gunung Agung. Dari kunjungan tersebut, tanpa sengaja aku menyadari gerak-gerik yang mencurigakan dari salah satu Guru Muda di sana...” 

“Lantas...?”

“Lantas aku membuntutinya sampai ke Pulau Satu Garang...” 

“Siapakah Guru Muda tersebut...?”

“Guru Muda tersebut, tak lain dan tak bukan, adalah saudara sepupu Kakak Lintang sendiri...”

“Hm...?” Lintang Tenggara sudah dapat menyimpulkan. 

“Benar... Balaputera Khandra...”

“Mengapakah Khandra membunuh mendiang Jenderal Keempat Kerajaan Garang...? Atas kepentingan apa...?”

Sangara Santang menganggkat kedua bahu... “Untuk alasannya, diriku tiada mengetahui...”

“Mungkinkah karena...” Kata-kata Lintang Tenggara tertahan. Balaputera Khandra adalah anak didik dari Balaputera Ragrawira, ayahandanya. Di dalam benak, Lintang Tenggara mencoba menghubungkan benang merah. 

“Baiklah... Bila demikian, diriku undur diri.” Usai memperoleh informasi yang dikehendaki, Maha Guru Kesatu Sanggar Sarana Sakti itu langsung melengos pergi. 

Di lain sisi, Lintang Tenggara duduk termenung. Sungguh tindak-tanduk ayahandanya sendiri tiada dapat ditebak. Ingin rasanya bergegas ke Perguruan Gunung Agung dan menginterogasi Balaputera Khandra. Sayangnya, sang Petaka Perguruan ini tiada dapat melangkah sesuka hati ke dalam wilayah Perguruan Gunung Agung. 

“Kakak Lintang...” Seorang pemuda menegur pelan. “Yang Terhormat Bupati Selatan...” Ia mengeraskan suara. 

“Oh Anjana...?” Lintang Tenggara tersentak dari lamunannya. “Ada apakah gerangan...?”

“Pertama, alangkah baiknya bila Kakak Lintang segera menikah.” Anjana berujar datar. “Desas-desus yang disebarkan Sangara Santang sudah menyebar ke penjuru Pulau Lima Dendam...”

“Hanya itu alasan kedatanganmu...?” Lintang Tenggara terdengar kesal. "Mengapa tak kau hentikan si rubah itu menyebar cerita dusta!?"

“Jenderal Keempat Kerajaan Garang, Ogan Lemanta, akan datang bertandang dalam waktu dekat,” Lanjut Anjana, bekas Guru Muda di Perguruan Gunung Agung.

“Hm...? Apakah yang dikehendaki si tua bangka itu...?” gumam Lintang Tenggara. Perhatiannya teralihkan. Di saat yang sama pula, simpul senyum menghias sudut bibirnya. 


===


Bintang Tenggara menikam tiada habisnya. Binatang siluman serangga terus berdatangan dan jumlahnya jelas bertambah. Sungguh hati anak remaja itu pilu. Dalam batin, ia berpandangan bahwa bila diberi waktu, maka bukan tak mungkin binatang siluman serangga ditempat ini diternakkan. Akan tetapi, kemudian ia berubah pikiran, ketika mengingat betapa tak nyamannya berada di dekat serangga!

Ia kini berada jauh di baris depan. Seorang diri anak remaja tersebut menerobos masuk ke dalam segerombolan puluhan binatang siluman yang berkumpul ramai. Walhasil, tindakan ini membuat Bintang Tenggara masuk ke dalam kepungan. Karena dikejar waktu, Bintang Tenggara terlupa bahwa ia berada di tengah-tengah bahaya besar. 

Ketika tersadar akan posisi di mana dirinya berada, puluhan jumlah lawan yang mengandalkan naluri bergerak serempak. Berbagai jenis binatang siluman serangga datang melibas ganas!

“Tring!” 

Kaki panjang dan tajam binatang siluman serangga yang berwujud belalang sembah raksasa, terpental. Kejadian ini berlangsung tepat sebelum kaki depan yang ibarat pedang panjang tersebut mengayau batang leher Bintang Tenggara. Adalah sebilah anak panah yang menyebabkan gagalnya serangan lawan. Kemudian, semakin banyak lagi anak panah yang melesat mengincar lawan yang datang dari arah atas! 

“Brak!” 

Tanduk melengkung seekor binatang siluman serangga nan berwujud kumbang badak, tertahan di sisi Bintang Tenggara. Sebilah parang raksasa berwarna merah menahan laju menyeruduknya. Seorang remaja lelaki yang bertelanjang dada, bertubuh bongsor dengan otot-otor kekar, kemudian mengayunkan bilah parang raksasa ke samping, sehingga membuat kumbang badak yang berukuran dua kali kereta pedati terbanting terbalik!

“Duar!” 

Sebuah bola api yang datangnya dari arah belakang, mendarat tak jauh di hadapan. Ledakan serta merta terjadi dan membuat segerombolan binatang siluman serangga terpental ke semerata penjuru. Bahkan Bintang Tenggara terpaksa berkelit, di kala beberapa ekor binatang siluman serangga yang berwujud semut merah berukuran kambing dewasa melayang ke arahnya. Dari pusat ledakan yang masih menyala api, terlihat seorang gadis belia bertubuh ramping berdiri membelakangi. Ia kemudian mengayunkan sepasang senjata di kedua tangan, menciptakan ledakan-ledakan beruntun, demi membuka jalan!

Melukiskan rangkaian kejadian tersebut di atas dengan kata-kata membutuhkan waktu. Padahal, sungguh kedatangan bala bantuan ini berlangsung teramat sangat cepat. Hanya dalam beberapa kedipan mata saja, mereka dapat memutarbalikkan keadaan di medan pertempuran!

Bintang Tenggara tiada menoleh atau berkata-kata. Ia terus melesat ibarat tiada berlangsung kejadian yang bermakna. Sorot matanya terpusat hanya ke hadapan. Di dalam hati, sepenuhnya ia yakin dan percaya bahwa tak akan ada lagi halang rintang yang mampu menghadang...

Ketiga sahabat telah datang!