Episode 302 - Warna Api



Pada permukaan air di dalam tempayan, batu kristal nan rata mengkilap, kobaran api unggun atau pun tirai angin, situasi yang sedang bergulir di dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang dapat disaksikan secara langsung. Dengan cara mereka masing-masing, segenap suku dayak di penjuru Pulau Belantara Pusat yang sedang menonton, dirundung perasaan tak menentu. 

Sebagian demikian khawatir, sebagian lagi memajang tampang tegar. Namun, banyak yang sepenuhnya percaya dan menyerahkan nasib para generasi muda di tangan Dewan Dayak. Apa pun itu rencana yang sedang digulirkan, pastilah sangat beralasan. Demi kebaikan bersama, merupakan pembenaran yang diulang-ulang di dalam hati sanubari para sanak saudara yang menonton cemas.

“Hah! Nak Bintang adalah seorang lamafa!” Keterkejutan Tiong Kakimerah yang sedang mengamati permukaan air di dalam tempayan mengalahkan kekhawatiran atas nyawa Puyuh Kakimerah yang sedang terancam. Satu suku terperangah ketika seorang anak remaja mengeluarkan senjata pusaka, melenting, lalu menikam! 

Kepala Suku Dayak Kaki Merah memejamkan mata. Ia berupaya menekan kecemasan di hati. Bagaimana mungkin ia lalai memastikan jati diri anak remaja itu? Seharusnya, walau menghadapi kendala keterbatasan waktu, adalah wajar bilamana Enggang Kakimerah mempertanyakan perihal latar belakang si anak remaja yang dijadikan sebagai perwakilan suku.

Memang benar bahwa Bintang Tenggara hanya memberikan nama depan saat memperkenalkan diri, karena menyadari bahwa nama Tenggara akan sangat menarik perhatian. Apalagi, selentingan isu bahwa Pasukan Lamafa Langit menghilang di Pulau Belantara Pusat sangat santer terdengar. Atas tindakan ini, tiada siapa yang mengetahui bahwa dirinya merupakan seorang lamafa. 

Menghela napas panjang, Enggang Kakimerah mencoba merumuskan kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada Bintang Tenggara bilamana kembali nanti. Hendak dimulai dari mana ia membuka ceritera tentang menghilangnya Pasukan Lamafa Langit yang dituduhkan kepada Suku Dayak Kaki Merah? Kejadian tersebut berlangsung ratusan tahun silam, bahkan sebelum dirinya lahir. Adalah generasi kakeknya yang dinista sebagai pembelot yang membocorkan rahasia kedatangan Pasukan Lamafa Langit ke Pulau Belantara Pusat. 

...

“Sungguh ironis...” seorang lelaki tua setengah baya bergumam pelan. “Perwakilan dari Dayak Kaki Merah merupakan seorang lamafa...”

Di sisi lelaki setengah baya tersebut berdiri Balian Bapuyu Huludaya. Lelaki dewasa itu tak berkata-kata atau bertindak lebih jauh. Nasi sudah menjadi bubur. Upacara adat meski dipercepat, tetap berlangsung sesuai rencana. Benaknya kembali kepada suatu waktu beberapa puluh tahun yang lalu...

Pagi itu suasana di rimba raya demikian damai. Sang mentari menyapa lembut, angin pun menegur sepoi-sepoi. Pepohonan besar-besar menjadi taman bermain bagi binatang-binatang yang penuh suka cita.  

“Brak!” Suara gebrakan meja sontak mengubah suasana. Seorang balian mengungkapkan ketidaksetujuannya sampai membuat tanah bergegar. Meja yang digebrak merupakan sebatang pohon besar yang dipenggal, yang mana akar-akarnya masih tertancap mantap ke dalam tanah. Lima ahli lain yang duduk mengitari meja, menarik napas panjang. 

“Balian Bapuyu Huludaya, bertenanglah sejenak...,” sapa sesama anggota Dewan Dayak. 

“Bagaimana mungkin aku bisa bertenang!? Pertumbuhan generasi muda suku dayak melambat. Keadaan damai selama ini membuat kita terlena!” Bapuyu Huludaya terlihat berang.

“Bukankah setiap tahun senantiasa berlangsung upacara adat dalam upaya memacu pertumbuhan keahlian generasi muda...?” Balian lain, seorang perempuan setengah baya, menimpali. 

“Lantas, mengapakah generasi muda suku dayak tertinggal dari para ahli di pulau-pulau lain!? Mengapa kita begitu rapuh dan lemah!?” sergah Bapuyu Huludaya. “Yang Mulia Pangkalima Rajawali akan menangis bilamana menyaksikan kemunduran ini!”

“Kekhawatiran ikau sungguh berasalan,” tanggap seorang balian. “Akan tetapi, dengan penghapusan adat kayau, maka kita tiada dapat berbuat banyak terhadap pertumbuhan keahlian generasi muda...” Usai berujar, ia melirik kepada balian-balian lain.

“Tidak. Kita tak akan lagi menjalankan adat kayau sebagai inisiasi kedewasaaan.” Lelaki setengah baya menanggapi makna nan tersirat. “Memenggal kepada anggota suku lain menimbulkan dendam kesumat. Di antara suku saling membenci. Padahal, kita semua adalah saudara...”

“Kita yang duduk di balik meja ini tumbuh dengan adat kayau,” sambut Bapuyu Huludaya. “Keahlian kita tumbuh subur karena keberanian yang dipupuk sedari belia!” 

“Mungkinkah ada cara lain...?”

“Perang Jagat sudah di depan mata!” hardik Bapuyu Huludaya. “Tak ada cara lain! Saatnya kita kembali kepada adat lama!” 

“Sudah! Aku tak akan memperkenankan pembahasan lebih lanjut tentang kayau!” Lelaki setengah baya tak bergeming. Di saat yang sama, ia mengisyaratkan ketetapan hati. Aura tenaga dalam menyibak perkasa. 

“Seandainya saha kita dapat membuka dimensi dunia Goa Awu BaLang, maka para generasi muda dapat berlatih di sana.” Seorang balian yang sedari awal hanya diam, akhirnya angkat bicara. Ia memecah kebuntuan. 

“Dengan demikian, meningkatkan kemampuan anak-anak muda belia bukanlah sesuatu yang mustahil...,” tanggap lelaki setengah baya ketika menemukan titik tengah. 

“Cih!” cibir Bapuyu Huludaya. “Hanya keturunan Dayak Kaki Merah yang saat ini berpeluang membuka dimensi dunia tersebut! Aku tak hendak bergantung kepada mereka anggota suku pembelot!”

“Hm... Kita sudah sepakat bahwa tiada bukti yang kuat untuk menuduh Dayak Kaki Merah sebagai pembelot. Ingat, bahwa Balian Kasumba Kakimerah pernah menjabat sebagai anggota Dewan Dayak terdahulu.”

Balian Bapuyu Huludaya hanya mendengus. “Baiklah... Aku akan mengemban tangggung jawab langsung atas penyelenggaraan upacara adat di dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang.”

Singkat kata dan singkat ceritera, kemudian disepakati oleh Dewan Dayak bahwa upacara adat dimaksud akan berlangsung untuk menghadapi musuh bersama, yaitu binatang siluman serangga di dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang. Dengan cara ini, diciptakan semacam situasi di mana generasi muda mempertaruhkan nyawa tanpa saling mengayau. Kedamaian antar suku tetap terjaga, serta kemampuan turut terbina. 

Kendatipun rencana telah tersusun, disadari bahwa tidak semua keturunan Dayak Kaki Merah dapat membuka dimensi dunia dimaksud. Dewan Dayak terpaksa menunda rencana mereka sampai lahirnya seorang keturunan yang memiliki kemampuan membuka dimensi dunia Goa Awu BaLang. Adalah Kuau Kakimerah, yang nantinya menjadi tumbal.

Jelang upacara adat, disadari bahwa bila hanya bertempur dengan binatang siluman maka belum cukup untuk memicu keahlian. Dengan demikian, disepakati lagi di antara anggota Dewan Dayak bahwa diperlukan pengorbanan remaja yang lemah demi memicu pertumbuhan segelintir yang terbukti memiliki kemampuan. Skenario yang disusun adalah menyeleksi 20 remaja, lalu menyodorkan sisanya kepada binatang siluman di dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang. 

Dalam keadaan sulit dan terdesak, ke-20 remaja nantinya akan berjuang sampai batas kemampuan mereka demi menyelamatkan sahabat dan sanak keluarga. Langkah yang sedemikian muskil diperlukan untuk menoreh keberanian. Trauma yang diciptakan akan mendorong pertumpuhan keahlian sampai tingkat tertinggi. 


Di lain sisi, dengan berselangnya waktu, siapa yang mengira bahwa hati Balian Bapuyu Huludaya berubah lemah. Ketika sudah dihadapkan pada situasi nyata, ia goyah. Tak rela ia menyaksikan ribuan anak remaja meregang nyawa sia-sia. Walau, kini tiada lagi yang dapat ia perbuat untuk mencegah keberlangsungan upacara adat. Bilamana bertindak membatalkan upacara adat, maka setidaknya akan ada empat balian perkasa yang akan menghalangi. Perpecahan dapat terjadi di antara para balian anggota Dewan Dayak!


===


Kum Kecho terpaksa keluar dari rongga besar di dalam pohon raksasa. Sekujur tubuh perih seolah terbakar dan dada sesak membuat sulit bernapas. Akan tetapi, ia tak beranjak pergi jauh dari pohon tersebut. Duduk bersila, anak remaja itu lalu memejamkan mata. Dalam diam ia menenangkan diri dan memulihkan tubuh. 

Meski lingkungan gersang dan tandus, Kum Kecho merasakan ketenangan. Jiwanya dibawa melayang jauh...

Pada mulanya dunia ini kosong dan gelap gulita. Roh Yang Maha Kuasa Pedrjadiq Bantikng Langit Pertikaaq Bantikng Tuhaaq yang bertahta di Langit Sulau Dasa, Langit Usuk Wari tergerak hatinya ingin berbuat sesuatu.  

Diciptakannyalah suatu tempat bernama Batuq Diikng Dingkiikng Leputukng Rangkakng Bulau. Di tempat tersebut, dimukimkannya roh laki-laki dan roh perempua, yang masing-masing bernama Imang Mengkelayekng dan Bawe Lolaakng Kintrakng. 

Hasil perkawinan kedua roh tersebut melahirkan Olo Taman Ketolo (matahari), Bulaatn Taman Ketalaatn (bulan), Bintang Taman Ketaniq (bintang). Kemudian, dunia Batuq Diikng Dingkiikng Leputukng Rangkaakng Bulau pun menjadi terang benderang karena kehadiran cahaya matahari, bulan dan bintang.

Namun demikian, tempat tinggal ini terlalu sempit bagi mereka. Jumlah mereka terlalu banyak, terutama bintang. Di antara para bintang yang banyak itu, yang paling terkenal ada 12, yaitu: Pengkuluuq, Piyuluq, Poti, Sempuaatn, Bemanuk, Berurukng, Belentookng, Bemari, Perejotek, Perejowek, Suriq Odiq dan Kotop Konom. 

Sepanjang hari dan sepanjang malam bintang-bintang merengek dan menangis minta dibuatkan tempat yang lebih luas. 

Akhirnya tangisan mereka didengar oleh Perjadiq, maka diutuslah Roh Maha Mendengar dan Maha Hadir bernama Ayus Junyukng, Roh Maha Mengetahui dan Maha Murah bernama Siluq Urai, Roh Maha Mengadakan bernama Tak Tungkaatn Ayaatn dan Kakaah Tungkaatn Anai, Roh Maha Berbuat bernama Sengkereaakng dan Sengkerepaakng.

Mereka diberi tugas membuat tempat yang lebih luas bernama Langit Tana (Langit dan Bumi). Tak Tungkaatn Ayaatn dan Kakaah Tungkaatn Anai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Sengkereakng membangun bumi dan Sengkerepakng membangun langit.

Pekerjaan berjalan lancar berkat pengaturan dan pedoman dari Ayus Junyukng dan Siluq Uraai. Setelah bekerja tanpa henti selama 8 hari 8 malam, langit dan bumi pun selesai. Matahari, bulan dan bintang-bintang tertawa riang, dan pergi berkeliaran sekehendak hati mereka.

Matahari berjalan mengitari langit menurut tiga macam jalur, sebelah utara khatulistiwa, pada khatulistiwa, dan sebelah selatan khatulistiwa. 

Jalur sebelah utara digunakan untuk mengingatkan manusia agar bersiap-siap memasuki musim penyiapan lahan untuk ladang (menebas, menebang dan membakar). Jalur menyusuri khatulistiwa dimaksudkan untuk mengingatkan manusia agar bersiap-siap memasuki musim tanam. Terakhir, jalur sebelah selatan khatulistiwa dimaksudkan untuk mengingatkan manusia agar bersiap-siap memasuki musim panen. Perjalanan ini dilakukan matahari secara konsisten sepanjang tahun.

Para bintang juga tidak mau tinggal diam. Mereka pergi dengan membuat lintasan tersendiri yaitu garis lurus yang memotong khatulistiwa dari arah tenggara ke arah barat laut. 

Berkas cahaya yang memancar ke bumi dipengaruhi oleh para bintang ini, yang membentuk iklim tahunan. Itu sebab para bintang ini disebut Bintakng Tautn (Bintang Tahun). Bintang ini menjadi pedoman para petani dalam menggarap ladangnya. Ketika sebuah bintang sedang melintasi khatulistiwa pada siang hari dan bertepatan dengsan keberadaan matahari di tempat yang sama, maka saat itu disebut Dotutn Bintang. 

Cahaya matahari yang sampai ke bumi merupakan kombinasi antara cahaya matahari dan cahaya bintang. Dotutn Bintang berarti matahari dan bintang pada pukul dua belas siang yang sama-sama tegak lurus ke bumi. 

Dotutn Bintakng ini merupakan pedoman para petani dalam membakar ladang agar mendapat hasil panen yang baik dan aman. Pedoman yang paling baik adalah membakar ladang pada saat kehadiran Dotutn Bintakng Poti atau Bintakng Sempuaatn. 

Jika petani membakar ladangnya pada saat Dotutn Piyuluq, maka padi yang ditanam akan diserang burung pipit. Pembakaran ladang yang dilakukan pada saat Dotutn Bintakng Bemanuk maka akibatnya akan terjadi rembetan api yang bisa membakar hutan di sekitarnya. Selanjutnya jika pembakaran dilakukan pada saat Dotutn Bintakng Berurukng, maka padi yang ditanam akan terserang hama ulat. (1)

Kum Kecho terssadar. Dongeng yang dikisahkan oleh Pangkalima Rajawali pada suatu waktu di masa lalu pupus seketika. Bersamaan dengan itu, ia bangkit berdiri, dan melangkah kembali ke dalam rongga pada pohon raksasa.

Sorot kedua matanya kini lebih siap. Melewati tempuling-tempuling, Kum Kecho melangkah mantap. Panas masih terasa menyengat, akan tetapi ia abaikan sahaja ketika menapak semakin jauh ke dalam liang pohon.. 

Tempat di mana sebelumnya ia berhenti dan memutuskan untuk memutar haluan, sudah dilewati. Akan tetapi, ujung liang pohon belum juga terlihat nyata. Merasa tak lagi kuat menahan panas, anak remaja itu kembali menggulung benang. 

Kum Kecho berehat lagi di sisi luar pohon. Sebagaimana sebelumnya, ia larut dalam tapa. Kisah lain lagi sedang berkutat di dalam benaknya. Tak berselang lama, anak remaja itu bangkit berdiri dan melangkah lagi di dalam liang pohon. 

Dengan tubuh yang sudah mulai terbiasa akan panas membara, Kum Kecho melangkah semakin jauh. Darah keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya yang mengalir di dalam nadinya menggelegak. Sebagaimana pernah diketahui, kelebihan keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya adalah terletak pada raga nan paling perkasa. Adaptasi tubuh yang cepat terhadap panas nan membara merupakan salah satu bukti nyata. 

Tak lama, cahaya terang benderang terlihat di ujung liang. Kum Kecho mempercepat langkah, memaksa tubuh menembus panas nan membara. Kulit di permukaan lengannya memerah, lalu mulai melepuh. Rasa sakit tiada dapat dihilangkan, namun jelas dapat ditahan. Hanya saja, sampai berapa lama kemampuan menahan rasa sakit dapat berlangsung. 

Kum Kecho terus memaksa diri. Bilamana ia dapat berbuat kejam terhadap ahli lain, maka ia juga dapat bertindak lebih kejam lagi terhadap diri sendiri. Kini, bahkan kulit di wajahnya mulai melepuh, namun demikian ia tetap melangkah. 

Pandangan mata kabur, Kum Kecho kemudian menyaksikan pemandangan yang mencengangkan. Bilamana sebelumnya tempuling-tempuling berserakan, kini sejumlah tempuling tertancap rapi di tanah. Sepuluh bilah tempuling tersusun melingkar ibarat pagar nan tinggi. Di dalam lingkaran tempuling tersebut, bercokol sesuatu yang membara dan menyala terang! 

Bukan, bukan cahaya, batin Kum Kecho masih menahan perih di tubuh. Sebagai ahli dengan unsur kesaktian cahaya, tak sulit bagi anak remaja itu menyimpulkan bahwa sumber sinar terang berasal dari api.

Memusatkan perhatian sambil menahan perih bukanlah perkara mudah. Cedera yang ia derita bukan hanya kulit melepuh, namun sebagian mulai mengelupas, menampilkan daging yang berdarah.

Tak lama, Kum Kecho mulai dapat menyimpulkan apa sesungguhnya sesuatu yang dipagari sepuluh bilah tempuling, sekaligus sumber panas membara... Sesungguhnya, benda itu berwujud sebuah bola mata yang memiliki kesaktian unsur api. Bukan sembarang api, melainkan api yang berwarna putih. Di saat yang sama, Kum Kecho merasakan keanehan terhadap Cincin Penakluk Iblis di sela jemarinya.

“Duar!” 

Ledakan api serta merta membuyarkan pemikiran, dan mendorong tubuh. Kekuatan dorongan melemparkan tubuh Kum Kecho sampai keluar dari dalam liang pada pohon. Anak remaja itu membiarkan saja tubuhnya terlontar, karena yakin dan percaya bahwa tujuan ledakan adalah agar ia tiada menderita luka berat akibat api nan membara. 

Mendarat jatuh di permukaan tanah yang gersang dan tandus, barulah Kum Kecho menyadari rasa sakit nan tak terperi akibat luka bakar. Ia hendak segera bangkit, namun derita luka bakar menghalangi gerakannya. Masih berupaya mengabaikan rasa sakit, kini ia bertumpu pada satu lutut. Ia kemudian menundukkan kepala petanda hormat, serta berujar pelan ke arah liang pohon... 

“Bila tiba waktunya nanti, maka diriku akan kembali untuk mengambil kemampuan api putih!” 



Catatan: 

(1) Disarikan dari mitos asal-usul langit dan bumi menurut suku Dayak Benuaq sub-suku Lawangan. https://folksofdayak.wordpress.com/2014/02/16/mitos-asal-usul-langit-dan-bumi-menurut-suku-dayak-benuaq-subgrup-lawangan/