Episode 40 - Empat Puluh



Agung memandang Darra dan Abrar bergantian dengan bingung. “Kenapa Darra ada di rumah elo?” tanyanya pada Abrar.

“Menurut elo?” Abrar balik tanya. “Emangnya elo kira gue bercanda pas gue bilang ke Pak Puji kalau dia adik gue?”

Agung memandang Abrar sesaat sebelum akhirnya melongo. “Jadi... Elo sama Andarra...”

Abrar menepuk lengan Agung. “Gue nggak tahu ada masalah apa antara elo sama Andarra. Mendingan sekarang kalian beresin dulu, gue mau siapin makanan.”

Abrar pergi meninggalkan Darra dan Agung yang sama-sama termangu. Agung berdiri di depan pintu dengan canggung, sementara Darra masih duduk di tempat tidur tanpa berani menoleh ke arah Agung.

“Aku tahu kok kalau kalian kira aku sama Abrar pacaran,” kata Darra, memecah keheningan.

“Aku nggak peduli,” jawab Agung. Darra langsung menoleh ke arahnya. “Aku nggak peduli ternyata kamu kakak beradik sama Abrar, atau kamu pacaran sama siapa. Aku udah nggak mau berurusan sama kamu.”

Darra menatap Agung sambil tercengang. Ia ingin sekali bertanya kenapa, tapi seolah ada yang mengganjal di kerongkongannya.

Akhirnya Agung menoleh ke arah Darra. “Aku kan udah pernah bilang, selama ini aku nganggap kamu sebagai teman dekat. Tapi kamu nggak pernah memperlakukan aku seperti teman kamu. Aku udah pernah terang-terangan minta kamu untuk cerita sama aku, aku pengen jadi orang yang bisa kamu jadiin tempat bersandar, tapi kamu selalu menutup diri dari aku.”

“Sekarang kamu udah tahu, kan?”

“Terus kamu kira aku peduli? Aku udah berhenti menganggap kamu temanku sejak kamu bohongin aku.”

Darra terkesiap. “Aku udah pernah bilang kalau aku nggak bohongin kamu...”

“Tapi kamu nggak tahu apa yang sebenarnya bikin aku kecewa.” Agung menghela napas. “Iya, aku akui aku emang ngajak kamu ketemuan di taman untuk nembak kamu. Tapi kamu malah di sana sama cowok lain, dan kukira kamu sengaja mau kasih lihat aku kalau kamu udah punya pacar. Kukira itu Abrar, ternyata itu Dika.”

Darra tercengang. Bukan hanya karena ia mendengar fakta bahwa Agung berniat menyatakan perasaannya, melainkan juga karena Agung mengetahui hubungannya dengan Dika.

“Dari mana kamu tahu soal aku sama Dika?” tanya Darra.

“Kok kamu kaget? Walaupun Dika nutupin kalau kalian pacaran, mestinya kamu tetap ngasih tahu aku, kan?”

“Dia minta aku nggak bilang siapa-siapa. Aku juga nggak tahu alasannya.”

“Oke, untuk masalah itu, anggap aja aku percaya sama kamu,” potong Agung. “Terus yang ini? Hubungan kamu sama Abrar?”

“Kenapa kamu cuma marah sama aku? Kenapa kamu nggak marah sama Abrar juga?”

“Aku udah lama berteman sama dia, jadi aku tahu dia orangnya nggak banyak cerita...”

“Kenapa kamu bisa maklumin Abrar, tapi nggak bisa maklumin aku? Sekarang kamu tahu aku adiknya Abrar, pasti ada kemiripan dari sifat aku sama dia, kan?”

Agung tidak menjawab dan hanya memandangi ujung kakinya.

“Aku juga punya alasan untuk nggak cerita tentang hubungan aku sama Abrar yang sebenarnya,” kata Darra dengan suara bergetar. “Aku nggak mau Abrar jadi bahan pembicaraan orang-orang di sekolah kalau mereka tahu dia punya adik dari panti asuhan. Aku nggak mau nyusahin dia, aku nggak mau bikin dia malu.”

“Terus kamu kira aku akan jadi orang-orang yang ngomongin Abrar di belakang?”

“Kamu pernah jelek-jelekin aku di depan orang lain waktu kamu marah sama aku. Mana bisa aku percaya kamu nggak akan begitu lagi?!”

Agung terkesiap. Ia memandang Darra yang kini membelakanginya.

“Aku sama Abrar satu ayah, lain ibu. Aku dibawa ke sini setelah ibuku meninggal, tapi bukan berarti kehidupanku berubah jadi lebih baik. Makanya aku nggak bisa nurutin kemauan kamu setiap kamu minta aku ngajak kamu ke rumah.” Diam-diam Darra menghapus airmata dari pipinya. “Aku nggak bisa cerita semua ke kamu, karena ini demi keluarganya Abrar. Terserah kamu mau percaya sama aku atau nggak, kamu nggak peduli juga nggak apa-apa.”

Sebenarnya Darra tidak ingin menangis di depan Agung. Namun, ia tidak bisa menahan airmatanya. kemudian dirasakannya sebuah tangan mengusap punggungnya dengan lembut.

“Maaf,” kata Agung dari belakang Darra. “Aku nggak cukup gigih untuk nunggu kamu. Justru aku bukan teman yang baik buat kamu.”

Darra tidak menjawab. Lalu dilihatnya tangan Agung terjulur ke arahnya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.

“Kita baikan?” tanya Agung sambil menatap Darra. Darra mendongak ke arah Agung sebelum meraih tangan Agung dan mengaitkan kelingking mereka. “Janji, ya, ini rahasia terakhir kamu. Besok-besok kamu nggak boleh ngumpetin apa-apa lagi dari aku.”

Darra menyunggingkan senyum kemudian mengangguk. Darra tidak tahu bahwa senyumnya membuat membuat dada Agung berdebar lebih cepat, teringat alasan ia menyukai gadis di hadapannya.

“Makan di sini aja, ya.”

Darra dan Agung menoleh keluar. Seolah tahu urusan mereka sudah selesai, Abrar muncul dari arah tangga sambil membawa baki berisi makanan dan meletakkannya di karpet di depan kamar. Dengan perasaan lebih ringan, Darra menyambut Agung yang membantunya bangkit dan memapahnya keluar dari kamar.

~***~

Pagi itu Darra mengambil tas sekolahnya lalu memanggulnya. Saat keluar dari ruangan, ia berpapasan dengan Abrar yang juga sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.

“Kakinya udah sembuh?” tanya Abrar.

Darra mengangguk. Sudah dua hari ia tidak masuk sekolah, dan bengkak di kakinya berangsur-angsur mengempis walau kadang masih terasa nyeri jika dijejakkan. Namun, Abrar bersikap seperti kakak yang menyebalkan dan berjongkok untuk melihat kaki Darra dengan tidak percaya.

“Beneran udah sembuh,” gumam Darra sambil menarik kakinya dari pegangan Abrar.

Abrar bangkit lalu membiarkan Darra turun lebih dulu. Ia segera meraih lengan Darra untuk membantunya setelah Darra menuruni tangga dengan wajah mengerenyit setiap kali kaki kanannya menyentuh tangga.

“Mbak Darra, udah mau sekolah?” tanya Bi Atun sambil mendongak ke arah tangga.

“Iya, Bi,” jawab Darra. Untunglah Aline memang sedang keluar kota dan baru akan kembali lusa. Jadi Abrar meminta Bi Atun membantu di rumah sementara Darra beristirahat. Biarpun begitu, Darra tidak menempati kamar miliknya dan tetap tidur di ruangannya seperti biasa.

Setelah itu Abrar membonceng Darra ke sekolah. Seperti yang sudah Darra duga, teman-teman Abrar yang sedang nongkrong di depan gerbang sekolah langsung menggoda mereka saat motor Abrar masuk ke halaman sekolah.

“Mau aku antar ke kelas, nggak?” tanya Abrar sambil membantu Darra turun dari motor.

“Nggak usah. Aku bisa jalan sendiri, kok,” gumam Darra. Ia berbalik lalu melangkah seperti biasa ke arah pintu depan agar Abrar memercayainya. Setelah mengambil buku jurnal kelas, Darra berpapasan dengan Pak Puji di depan ruang guru.

“Kakinya sudah sembuh?” tanya Pak Puji.

“Udah mendingan, Pak,” jawab Darra.

“Tapi kenapa masih pincang begitu? Kalau masih sakit, mestinya di rumah aja dulu.” Pak Puji menoleh ke belakang Darra. “Kamu, sini bantu Andarra. Kalian kan sekelas.”

Darra ikut menoleh ke belakang dan melihat Dika sedang berjalan ke arahnya. Ia langsung panik dan menggumamkan “Saya ke kelas dulu,” pada Pak Puji lalu buru-buru pergi. Namun, Darra kesulitan saat menaiki tangga. Kemudian ia merasakan ada yang memegangi lengannya.

“Aku mau bantuin, kenapa kamu malah pergi?” tanya Dika. Darra menepis lengannya.

“Nggak usah. Aku bisa sendiri,” gumam Darra. Namun, Dika kembali memegangi lengannya.

“An, kamu masih marah?” tanya Dika.

Darra menaiki tangga sambil berpegangan tanpa menjawab. Bukankah sudah jelas? Waktu itu Dika memilih tidak mengakui hubungannya dengan Darra, sekarang mau berbaik-baik? Tentu saja Darra marah.

“Maafin aku, An,” kata Dika lagi. “Aku punya alasan sendiri.”

“Kita lagi di sekolah. Nggak usah bahas begituan,” potong Darra.

Setelah itu Dika tetap membantunya menaiki tangga. Namun, setelah tiba di lantai dua, Darra melepaskan pegangan Dika sambil menggumamkan terima kasih lalu bergegas pergi ke kelas. Rupanya Vina dan kedua sahabatnya sedang nongkrong di depan kelas. Darra berharap mereka tidak melihat Dika yang tadi membantunya karena ia tidak ingin terlibat masalah lagi dengannya. Namun, saat jam istirahat Dika terang-terangan meletakkan segelas jus alpukat di meja Darra lalu duduk di depannya. Untunglah saat itu kelas sedang sepi.

“Apa ini?” tanya Darra sambil mengedikkan kepala ke arah jus di hadapannya.

“Karena kamu nggak bisa turun-naik ke kantin,” jawab Dika.

“Aku emang nggak pernah ke kantin,” gumam Darra sambil membalik halaman buku yang sedang dibacanya.

“Kamu mau makan?” tanya Dika. Darra menggeleng tanpa menoleh ke arahnya. “An, jangan marah terus, dong. Emangnya kau mau terus-terusan diemin aku?”

Darra hanya melirik Dika sesaat lalu kembali menekuni bukunya.

“Nanti aku antar pulang, ya. Kamu boleh ikut aku dari sini, kok. Nggak perlu nunggu di gang,” kata Dika. Ia melambaikan tangan ke arah pintu di belakang Darra. “Aku keluar dulu. Kalau ada yang mau kamu makan, kasih tahu aku aja, ya.”

Dika bangkit lalu keluar dari kelas. Setelah jam pelajaran berakhir, Darra masih menunggu di kelas seperti biasa. Dilihatnya Dika juga masih duduk dengan santai di mejanya hingga kelas mulai sepi. Kemudian akhirnya Dika dan Emil bangkit dan berjalan menuju pintu.

“Keluar duluan, yuk,” ajak Emil pada Rin. Darra ikut bangkit, tapi Rin menahannya.

“Nanti, tunggu Dika,” bisik Rin. Ia dan Emil keluar dari kelas sementara Darra memandang kepergian mereka dengan bingung. Dika menghampirinya lalu menarik lengan Darra hingga terduduk kembali di kursinya sementara ia sendiri duduk di sebelah Darra.

“Aku ada urusan, jadi nggak bisa antar kamu pulang. Aku beneran ada urusan,” tambah Dika cepat begitu Darra mendelik ke arahnya. “Aku minta maaf soal di Cimacan kemarin. Aku... aku nggak tahu kalau ternyata kamu dipukul sama Vina.”

“Kenapa kamu nggak mau orang lain tahu kalau kita pacaran?” tanya Darra. Dika terdiam sambil memandang lantai. “Kita... pacaran kan?”

Darra memandang Dika dengan berdebar-debar. Ia langsung merasa nyeri di dadanya karena Dika tidak kunjung menjawab.

“Jadi cuma aku aja yang merasa kita pacaran, ya,” gumam Darra.

Dika langsung mendongak ke arahnya. “Bukan begitu. Sebenarnya... aku nggak mau ada yang tahu soal kita supaya belajar kamu nggak terganggu.”

Darra mengerenyitkan dahinya dengan bingung.

“Maksud aku, kalau ada yang tahu kita pacaran, pasti mereka akan nyangkut-nyangkutin soal kita kalau ada apa-apa. Misalnya kalau nilai aku jelek, aku nggak mau nanti ada yang bilang aku jadi nggak belajar karena pacaran sama kamu.” Dika memandang Darra. “Aku nggak mau ada yang ngomongin hal buruk tentang kamu. Mungkin nanti kalau kita udah lulus SMA, kita baru bisa ngejalanin hubungan ini lebih serius.”

Darra menatap mata Dika. Apa itu artinya Dika berencana tetap berhubungan dengannya walau mereka sudah lulus nanti? Ada desir aneh di dada Darra. Ia tahu cowok itu tulus dengannya. Jika tidak, pasti Dika sudah mengakhiri hubungan mereka, kan? Iya, kan?