Episode 56 - Pria Brengsek



Semua orang memiliki kisah mereka sendiri, begitu juga untuk pria bernama lengkap Rangga Kuncoro yang biasa dipanggil Raku. Dia adalah seorang pria tampan, ketampanannya di atas rata-rata orang pada umumnya, hingga jika dibuat rangking untuk pria paling tampan, namanya pasti ada di peringkat teratas.

Namun, meskipun dengan wajah tampan yan dia miliki, kisah cintanya sangat menyakitkan.

Pada masa SMP, dia pernah menyukai seorang gadis di kelasnya, seorang gadis cantik dan sederhana, karena gadis tersebut Raku selalu bersemangat untuk berangkat ke sekolah barunya setiap hari. Tak pernah dia telat atau bolos bahkan untuk sehari pun.

Selain mendengarkan guru mengajar, aktifitas lainnya yang dia lakukan adalah mencuri pandang pada gadis tersebut. Mencari tahu apa yang dia suka, dimana tempat tinggalnya, bahkan berapa kali dia mengganti kaus kaki setiap minggunya selalu dia cari tahu. 

Wajar saja, orang yang sedang jatuh cinta memang terkadang terlihat gila.

Namun, Raku tidak peduli, dia hanya ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang dia cintai tersebut, tidak lebih dan tidak kurang.

Waktu terus berlalu, Raku mulai mendekati gadis tersebut, dan semakin lama mereka menjadi semakin dekat. Memang, selain dia yang sangat mudah bergaul, wajah tampannya menajadi senjata ampuh untuk menaklukan gadis manapun, termasuk gadis tersebut.

Ketika Raku sedang mendekati gadis tersebut, tidak menghalangi pesona yang dia miliki, masih banyak gadis lainnya yang selalu mendekati Raku, bahkan ada beberapa gadis yang secara nekat menguatarakan perasaannya pada Raku, akan tetapi apa yang mereka terima hanyalah kekecewaaan, tentu saja.

Pada suatu siang, Raku mengajak gadis tersebut untuk pergi jalan-jalan, dan tentu saja ajakan itu di terima dengan senyum bahagia oleh gadis tersebut. Setelah kencan yang sangat lancar tersebut, Raku mencoba untuk mengutarakan perasaannya pada gadis tersebut, dan akhirnya dia terima olehnya.

Dan begitulah, akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Namun, entah mengapa, hari-hari bahagia tidak pernah bertahan lama. Pada suatu siang, setelah pulang sekolah, Raku disuruh menunggu di dalam kelas oleh sahabat baiknya, dia berkata bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin dia bicarakan. Akhirnya Raku membatalkan rencana kencan itu dengan pacarnya demi sahabatnya tersebut.

Sambil berkirim pesan dengan pacarnya, Raku menunggu di dalam kelas. Tidak lama kemudian datang sahabatnya ke dalam kelas tersebut, dengan wajah yang serius, tidak seperti biasanya dia yang sering bercanda dengan Raku.

“Mau ngomongin apaan sih?” tanya Raku sambil menyimpan HP-nya di saku celana.

“...” sahabat Raku tetap terdiam membisu, terlihat dia sangat sulit untuk mencari kata-kata yang tepat untuk digunakan.

“Hoi, kalau tidak mau ngomongin sesuatu mendingan aku pulang saja.” Raku berkata sambil beranjak dari kursinya. Namun, dengan sigap dihentikan oleh sahabat Raku.

“Sebenarnya mau ngomong apa sih?” tanya Raku dengan kesal.

Bagaimana Raku tidak kesal, dia telah membatalkan rencana kencannya dengan pacarnya karena sahabatnya itu berkata bahwa dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, akan tetapi ternyata setelah bertemu dia sama sekali tidak mengatakan apapun.

“Sebenarnya...”

“Sebenarnya apa?” Raku bertanya dengan tidak sabar.

“Sebernarnya aku masih menyukai Gita.” Ucap sahabat Raku dengan wajah yang serius sambil berkata bahwa dia menyukai Gita, pacar Raku, dia menatap mata Raku dengan jujur, tidak ada kebohongan dari semua yang telah dia katakan.

Meskipun Raku tahu bahwa sahabatnya itu sedang tidak bercanda, tapi dia tidak mau menerima kenyataan tersebut, “Haha, berhenti bercanda, aku tidak akan terkena jebakanmu.”

“Aku tidak bercanda, aku serius.” Ucap sahabat Raku dengan sedikit keras.

Raku mendorong sahabatnya tersebut hingga dia mundur beberapa langkah lalu berkata, “Terserahlah, aku tidak peduli apa yang kau katakan, yang terpenting saat ini Gita adalah pacarku.”

Sahabat Raku dengan cepat memegang pundak Raku, tidak membiarkannya untuk pergi.

“Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku yakin Gita juga masih mencintai aku.” Ucap sahabat Raku dengan keras.

“Diam!” teriak Raku.

“Tolong, aku memang egois, tapi aku mohon ke kamu, berikan aku satu kesempatan lagi.” Ucap sahabat Raku sambil mencengkeram bahu Raku dengan keras.

“Baik, aku akan panggil dia ke sini, lalu kita selesaikan semuanya.”

“Oke, terima kasih Ku.” Ucap sahabat Raku sambil melepas cengkeraman tangannya dari bahu Raku.

Dengan sangat cepat Raku mengirim pesan pada Gita untuk segera datang ke sekolah, Gita sempat bertanya untuk apa, tapi Raku dengan cepat berkata untuk tidak bertanya apa-apa dan segera pergi ke sekolah saja, lalu dibalas oleh Gita dengan persetujuan.

Di kelas tersebut, Raku dan sahabatnya saling terdiam, meskipun hanya beberapa detik berlalu, tapi bagi mereka terasa sangat lama.

Lalu tiba-tiba saja sahabat Raku memecah kesunyian tersebut dengan menceritakan tentang hubungannya sebelumnya dengan Gita. Mereka awalnya sama seperti pasangan pada umumnya, pergi jalan-jalan, makan bersama, saling memberi hadiah ketika ulang tahun. Namun, lama kelamaan sahabat Raku merasa bosan dengan hubungan tersebut lalu dengan tanpa alasan dia memutuskan Gita.

Lalu di saat itu datang murid pindahan, yaitu Raku. Akhirnya mereka menjadi sahabat dan tiba-tiba saja Raku bercerita kepada sahabatnya bahwa dia menyukai Gita. Lalu tanpa pikir panjang sahabat Raku mulai membantu Raku untuk mendekati Gita.

Tapi, entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati sahabat Raku, tapi dia belum menyadarinya.

Hari demi hari berlalu, lalu tiba-tiba saja Raku berkata bahwa dia ingin mengutarakan perasaannya pada Gita, dan pada saat itulah akhirnya sahabat Raku menyadari perasaan itu, perasaan cemburu, dan dia tersadar, bahwa ternyata dia masih menyukai Gita.

Setelah mendengar bahwa ternyata Raku dan Gita mulai berpacaran, sahabat Raku mulai mencoba untuk mendekati Gita lagi. Dia dengan rajin berkirim pesan dengan Gita tanpa Raku ketahui, dan akhirnya dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit akibat cemburu karena melihat Raku dan Gita yang sering bermesraan dan memutuskan untuk memberitahukan perasaannya itu pada Raku, yaitu dia masih mencintai Gita.

Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekati kelas lalu masuk seorang gadis ke dalam kelas tersebut, Gita terkaget setelah melihat bahwa ternyata ada Raku dan sahabatnya di dalam kelas, dia juga sempat saling pandang dengan sahabat Raku untuk beberapa saat lalu kembali berjalan mendekati Raku.

“Sebenarnya ada apa sih kamu manggil aku ke sini, dan kenapa dia ada di sini?” Tanya Gita pada Raku.

Raku tidak menjawab pertanyaan Gita, dia menoleh ke arah sahabatnya lalu berkata, “Cepat katakan.”

Sahabat Raku mendekati Gita lalu dengan cepat dia berkata, “Aku tahu aku egois, tapi aku mohon berikan aku kesempatan satu kali lagi, kali ini aku tidak akan mengecewakan kamu, aku masih sayang sama kamu Git.”

“Cukup, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi.” Ucap Gita dengan panik.

“Tolong Git, beri aku kesempatan sekali lagi.”

“Sudahlah, aku tidak mau mendengarnya lagi.” Gita berkata sambil berusaha menutup kedua telingannya.

“Gita, tolong jujur dengan perasaanmu, dengan dirimu sendiri, aku tidak mau kamu berbohong. Kasihan dia Git, kasihan aku juga.” Ucap Raku dengan tiba-tiba.

‘Ah, kenapa aku mengatakan itu? kenapa aku tidak mengusir sahabat sialan ku itu? kenapa aku harus memberi kesempatan untuk mengambil pacarku? Sialan! siapa saja tolong katakan bahwa ini hanyalah mimpi, ini hanyalah mimpi buruk, dan sadarkan aku dari mimpi buruk ini!’

Gita menatap wajah Raku dengan mata yang memerah, terlihat jelas dia dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Gita...” ucap sahabat Raku.

“Sudah, hubungan kita sudah selesai, dan bukannya kamu yang sudah memutuskan aku.” 

“Aku tahu aku memang egois, tapi aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, kali ini aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi Gita.” 

“Dia tidak mau, tolong pergi.” Ucap Raku pada sahabatnya.

“Raku, kau tahu ini hari apa?” tanya sahabatnya pada Raku.

“Ini...”

“Ini hari ulang tahu Gita!”

Raku tersentak kaget, dia tidak sadar bahwa ternyata ini hari ulang tahun Gita.

“Raku, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku Cuma mau kasih kado ke Gita.”

Raku menatap sahabatnya lalu mengangguk pelan.

Dengan cepat sahabat Raku mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya dan ternyata itu adalah sebuah gelang sederhana yang biasa dijual di tepi jalan.

“Gita, bolehkan aku memasangkan gelang ini?” tanya sahabat Raku sambil menatap Gita.

Gita menoleh ke arah Raku, tapi Raku balas dengan sebuah anggukan.

“Terima kasih.” Gumam sahabat Raku dengan pelan.

Dengan sangat lembut sahabat Raku mulai memasukan gelang sederhana itu ke tangan Gita yang lembut. Dengan sangat cepat akhirnya gelang itu terpasang di tangan Gita. Kemudian sahabat Raku tersenyum tulus sambil menatap Gita, melihat senyuman itu Gita tak sanggup lagi menahan tangisnya.

Lalu bagaimana dengan Raku? Dia malah tersenyum melihat semua itu.

Raku berjalan mendekati Gita lalu memegang bahunya.

“Rangga...” ucap Gita dengan lirih sambil terisak.

“Raku, panggil aku Raku, sama seperti semua teman-temanku.” 

“Rangga...”

“Ssstt ... Raku, mulai saat ini kamu panggil aku Raku.”

“Tapi...”

“Kamu jangan berbohong dengan dirimu sendiri.”

“Maaf.”

“Iya.”

“Maaf.” Ucap Gita sekali lagi.

Raku menatap sahabatnya dengan penuh kebencian lalu berkata, “Kau memang sahabat paling brengsek.”

“Haha, benar, aku memang brengsek.” Dia tertawa pahit lalu tersenyum kecil.

“Sialan!” Raku berjalan mendekati sahabatnya lalu dengan cepat meluncurkan sebuah tinjuan tepat pada wajahnya hingga membuat dia terjatuh ke belakang, “anggap itu bayaran yang harus kau terima.”

Gita dengan cepat berlari mendekati sahabat Raku dan mencoba membantunya untuk bangun.

“Aku pergi dulu.” Ucap Raku lalu berjalan menjauhi mereka berdua sambil terus tersenyum.

‘Padahal seharusnnya aku sedih, kenapa aku bisa selega ini, ya?’ gumam Raku dalam hati.

**

Sambil berbaring di kasurnya, Raku kembali mengingat masa lalunya. Sebuah cerita pernah tertulis di sana, ketika dia mulai jatuh cinta, ketika dia mulai sakit hati. 

Lalu dengan perlahan Raku menatap sebuah foto, di dalam tersebut terukir wajah seorang gadis cantik, cantik sekali, lalu dia menutup matanya sambil bergumam, “Mungkin, kali ini aku yang akan jadi si brengsek.”