Episode 74 - Akhir Sebuah Mimpi



“Kamu tidak apa-apa istriku?” tanya Jaya yang melihat pada robekan pakaian biru Galuh di bagian dadanya yang diikat oleh sehelai selendang agar tidak “Meluber” keluar.

“Aku tidak apa-apa Kakang…” jawab Galuh sambil bersikap manja, ia sengaja memperlihatkan sikapnya yang manja pada Jaya untuk memanas-manasi Angsoka.

Jaya lalu menatap pada Angsoka. “Angsoka... Menurut laporan dari para prajurit, pelaku pembunuhan para prajurit dan para pedagang itu ada dua orang, yang satu laki-laki dan yang satu perempuan, yang laki-laki sudah tewas terbunuh olehku... Angsoka apakah kau salah seorang pelaku pembunuhan ini?”

Angsoka tidak langsung menjawab, ia menatap Jaya terlebih dahulu dengan tatapan tajam selama beberapa saat, setelah beberapa saat barulah ia menjawab sambil menyeringai. “Benar, akulah salah seorang pelakunya!”

“Kenapa kau lakukan itu Angsoka?!” cecar Jaya.

“Ini semua gara-garamu Kakang Tumenggung!” jawab Angsoka.

“Kenapa gara-gara aku?” tanya Jaya.

“Karena kau menolak cintaku! Aku sampai kehilangan arah hidupku, sampai akhirnya aku ditolong oleh seseorang yang bernama Bun Pek Cuan yang kemudian kuangkat sebagai guruku dengan imbalan aku bersedia membantu semua rencananya!” tutur Angsoka dengan pilu dan berlinang air mata.

“Aku minta maaf karena terpaksa harus menolak cintamu Angsoka, karena aku sudah mempunyai seorang istri! Namun demikian, hal tersebut tidak bisa kau jadikan sebagai pembenaran untuk melakukansemua perbuatan keji ini! Apakah kau sadar berapa nyawa yang harus kau pertanggung jawabkan Angsoka?” tegur Jaya.

“Justru karena itu! Karena itu aku berniat untuk memanfaatkan Bun Pek Cuan untuk membalaskan dendamku padamu, aku ingin kau menderita! Setelah itu akan kulenyapkan Istrimu sehingga kau nelangsa sama sepertiku!” Jerit Angsoka dengan histeris dengan penuh dendam, “Aku hanya mencintaimu Kakang Tumenggung, aku hanya ingin menjadi istrimu, aku tahu kau akan sanggup mengalahkan Bun Pek Cuan, aku hanya ingin membuatmu sedikit menderita karena telah menolak cintaku, aku hanya ingin melenyapkan istrimu karena ia telah menghinaku dan mempermalukanku, aku ingin menyingkirkannya agar aku bisa bersanding denganmu! Apakah itu tidak boleh?!” ratapnya.

Jaya menghela nafas berat, ia sungguh kecewa dengan dangkalnya pemikiran Angsoka yang disebabkan oleh sifat keras kepalanya, gadis itu mengingatkannya pada Dharmadipa. “Angsoka aku sungguh menyesal mengapa cara berpikirmu dangkal seperti ini, yang kamu rasakan itu bukan cinta, namun ambisi yang telah membutakan hati dan pikiranmu! Sudahlah... Apapun alasanmu kau tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu dihadapan Gusti Sultan pada seluruh rakyat Banten!”

“Kakang!” hardik Angsoka sambil terisak, “Apakah kau masih tidak mengerti perasaanku padamu?!” Ia kemudian menatap tangan kanannya yang hangus menghitam akibat terkena pukulan “Kawah Tunggul” Galuh tadi, “Baik… Baiklah! Kalau Kakang terlalu mencintai wanita pengemis yang dekil itu! Tapi setidaknya jadikanlah aku istri keduamu! Atau jadi selirmu pun tak mengapa! Meskipun aku sudah menjadi orang cacat, tapi aku masih sanggup untuk melayanimu Kakang!”

“Maafkan aku Angsoka…” Jaya kemudian menghembuskan nafas berat, wajahnya nampak kusut sekali, “Tapi sekarang sudah lain ceritanya, sudah terlalu banyak nyawa yang harus kamu pertanggung jawabkan Angsoka… Sudahlah… Mari ikut aku untuk menghadap Gusti Sultan!” tegas Jaya.

Angsoka menundukan kepalanya sambil berlutut, Jaya dan Galuh pun berjalan menghampirinya untuk menangkap Angsoka, tapi sekonyong-konyong, dengan satu gerakan yang sangat cepat, angsoka merogoh kantongnya, dengan secepat kilat ia melemparkan Katak Merah Dari Hunan yang amat beracun pada Galuh dengan seluruh sisa tenaga dalamnya! Jaya dan Galuh sangat terkejut mendapatkan serangan mendadak ini, Jaya segera pukulkan tangannya kemuka lewat pukulan “Badai Mendorong Bukit”! Katak Merah dari Hunan itu terlempar berbalik pada Angsoka!

“Aaaaaa!!!” jerit Angsoka setinggi langit menyayat hati, ujung-ujung kaki Katak Merah yang tewas terkena pukulan Jaya itu menancap didada Angsoka, gadis itu pun langsung roboh sambil kejang-kejang dengan tubuh memerah, suhu badannya pun naik menjadi sangat tinggi, hingga akhirnya ia tewas ketika butiran-butiran darahnya mengalir keluar melalui sebagian besar pori-porinya! Sungguh satu racun yang sangat ganas!

“Angsoka!!!” pekik Jaya sambil berlari menghampiri Angsoka.

“Jangan Mendekat!” hardik Angsoka, “Racun ini… Sa… Sangat… Ganas… Jangan men…dekat… nanti Kakang… Ter…tular…” desah Angsoka dengan sangat lemas.

“Bertahanlah Angsoka! Aku akan segera memanggil Tabib Wong untuk menolongmu!” ucap Jaya.

“Tidak…” Tolak Angsoka dengan suara perlahan, “Wak…tuku… Sudah sedikit… Kakang… Aku hanya punya pe…san… terakhir… Eukgh….”

”Apa itu Angsoka? Katakanlah!” Tanya Jaya dengan perlahan, hatinya merasa sangat iba pada keadaan Angsoka.

”Nam… Nampaknya… Mimpiku untuk… Ber…sanding… De…nganmu… Ber… Berakhir sampai… Disini… Uhk… Tap… Tapi… Aku… Tetap… tu…lus… Men…cin…taimu… Ahakk!!! Ahk!!!” Bisik Angsoka dengan segenap tenaganya yang terakhir, kemudian ia muntah darah dan akhirnya tidak berkutik untuk selamanya, gadis itu tewas dengan mata melotot, memelototi Sang Tumenggung yang amat ia cintai, yang tak bisa ia raih cintanya, ia tewas dengan membawa segenap rasa cintanya pada pria yang sangat ia cintai tersebut.

“Angsoka… Duh Gusti… Inalillahi Wainalillahi Rojiun…” Desah Jaya yang terpukul melihat kematian Angsoka dengan demikian mengenaskannya, kemudian ia membuka bendonya* untuk menutupi wajah Angsoka, dan melepask beskapnya untuk menutupi jasad gadis yang malang itu. (Bendo = Blangkon)

“Bagaimana ini Kakang?” tanya Galuh sambil bergidik dan mengelus-elus perutnya karena ngeri melihat kematian Angsoka.

“Yah apa boleh buat, kedua pelaku serangkaian pembunuhan dengan racun yang sangat mematikan itu tewas dua-duanya tanpa belum sempat kita mintai keterangannya, yang penting sekarang aku akan membawa kedua mayat mereka kepada Gusti Sultan dan melaporkan semuanya, kamu juga harus ikut sebagai saksi mata.” 

Galuh pun mengangguk lemah. “Aku jadi merasa sangat bersalah pada gadis ini, kalau saja dulu aku bisa bersabar dan menuruti nasihatmu, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi Kakang, aku sangat menyesal!” desah Galuh dengan penuh penyesalan.

“Sudahlah istriku, yang lalu biarlah berlalu, biarkan ini jadi pelajaran bagi kita, sudah! Jangan dipikirkan lagi, kasihan bayi kita kalau kamu banyak pikiran.” peluk Jaya sambil membelai kepala Galuh, “Sekarang mari kita pulang dulu sebelum berangkat ke Keraton menghadap Gusti Sultan agar masalah ini cepat selesai!” pungkasnya, ia lalu menuntun Galuh untuk naik kekuda yang tadi dianiki Jaya, lalu menuntun kudanya untuk pulang ke rumahnya.

*****

Bada Ashar Di balairiung Keraton Surasowan, Sultan mengadakan pertemuan terbatas yang mendadak dengan dihadiri oleh para pejabat negara setelah mendapat laporan bahwa Tumenggung Jaya Laksana berhasil menumpas kedua orang yang telah menyebabkan peristiwa Rajapati di sekitar Kutaraja Surasowan itu, mayat kedua orang itu digeletakan di tengah-tengah Balairiung Keraton, Juragan Kertajaya beserta istri dan kedua putra kembarnya yang bernama Subali dan Subala pun hadir dalam pertemuan itu karena putri sulung mereka Angsoka adalah salah satu pelaku Rajapati itu, mereka hanya bisa menangis menyaksikan putrinya yang tewas dengan amat mengenaskan, istri Juragan pun sampai jatuh pingsan.

“Menurut Tumenggung Jaya Laksana dan para saksi mata mereka berdua adalah pelaku pembunuhan puluhan prajurit dan pedagang disekitar Kota Surasowan ini! Akan tetapi sebelum mendengarkan laporan dari Tumenggung Jaya, demi keadilan saya ingin mendengarkan keterangan dan pembelaan dari pihak keluarga salah satu pelaku yakni keluarga Nona Angsoka, nah Juragan Kertajaya, ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi dengan putrimu, dan apakah engkau tahu bahwa putrimu adalah salah satu pelaku pembunuhan ini?” ujar Sultan.

Dengan menahan kesedihannya yang melangit dan tetesan air matanya, Juragan Kertajaya menjura hormat. “Mohon ampun Gusti Sultan, terimakasih atas kesempatan yang diberikan oleh Gusti Sultan... Sebenarnya kami tidak mengetahui apapun bahwa putri kami Angsoka terlibat atau menjadi salah satu pelaku Rajapati di Banten ini, karena waktu satu bulan yang lalu ia melarikan diri dari rumah…”

“Melarikan diri? Kenapa ia melarikan diri?” tanya Sultan.

Sebelum menjawab Juragan Kertajaya melirik pada Jaya dan Galuh lalu menjura hormat pada Sultan. “Karena saya memarahinya Gusti”

Sultan menaikan alisnya, ia dapat melihat kalau Juragan Kertajaya segan untuk mengutarakan maksudnya “Kenapa anda memarahinya sampai ia kabur? Ceritakanlah langsung semuanya dengan jelas dan jujur!”

“Ampun Gusti... Semua bermula ketika Gusti Tumenggung Jaya Laksana menolong putri hamba yang dibegal oleh para bajak laut di muara pantai Surasowan, sejak saat itu putri hamba langsung jatuh hati dan kasmaran pada Gusti Tumenggung Jaya Laksana, saya melarang perasaannya karena Gusti Tumenggung sudah punya istri, tapi ia terus nekat sampai saya memarahinya, malam itu juga Nyai Tumenggung Jaya Laksana mendatangi rumah kami, lalu terjadilah pertengkaran kecil antara Nyai Tumenggung dengan putri kami, hamba yang tidak dapat menahan malu lagi memarahi lagi putri kami, dan... Rupanya putri kami tidak dapat menerimanya dan kemudian kabur dari rumah.” tutur Juragan Kertajaya.

Sultan mengangguk-ngangguk. “Hmm... begitu? Baik sekarang kita dengarkan keterangan dari Tumenggung Jaya Laksana, silakan!”

Jaya menjura hormat, kemudian ia mengeluarkan sepucuk surat dari kantong pakaiannya. “Ampun Gusti Sultan, pada awalnya saya sendiri tidak tahu siapa pelaku dibalik peristiwa Rajapati ini, sampai akhirnya ada dua orang yang menyatroni rumah saya dan membunuh empat orang prajurit jaga rumah saya, para prajurit tersebut tewas dengan sekujur tubuh menghitam oleh Racun yang bernama Raja Kobra Hitam dari bagian barat dataran Tiongkok, dari peristiwa itu saya baru mengetahui kalau mereka ada dua orang.

Dengan maksud melaksanakan titah Gusti, sayapun langsung menyelidiki kasus ini, sayapun mendapatkan laporan-laporan dari para saksi mata bahwa pelakunya memang ada dua orang, yang satu pria asing yang berasal dari Tiongkok dan yang satunya lagi seorang perempuan pribumi yang tak dikenal karena selalu menutupi wajahnya dengan cadar hitam, sampai akhirnya saya mendapat surat tantangan ini yang terdapat di tumpukan mayat para prajurit yang tewas di alun-alun kemarin, surat ini berisi tantangan dari orang yang mengaku sebagai dalang dibalik peristiwa pembunuhan-pembunuhan keji menggunakan racun ini, maka sayapun menerima tantangannya.

Semalam saya bertarung dengan orang yang bernama Bun Pek Cuan ini yang menantang saya karena mendendam pada saya karena telah membunuh Kakak seibunya, sepanjang pertarungan saya dapat memastikan bahwa memang orang inilah yang menyebarkan petaka menggunakan Racun Raja Kobra Hitam dari daratan Tiongkok. 

Saat pulang, saya mendapati istri saya sedang bertarung dengan saudari Angsoka yang telah menyelinap ke rumah saya dan menaburi nasi yang sedang ditanak dengan racun Kelabang Hijau, saat bertarung dengan istri saya pula, saudarai Angsoka mengakui semuanya…” tutur Jaya menuturkan kronologis peristiwa ini sambil menyimpan surat tantangan dari Bun Pek Cuan dan sekantung racun Kelabang Hijau yang ia ambil dari kantung ikat pinggang Angsoka.

Sultan lalu melirik pada Galuh. “Benarkah ia mengakui semua perbuatannya padamu Nona Galuh?”

Galuh menjura hormat. “Benar Gusti, ia mengakui semuanya, bahwa dalam pelariannya ia ditolong oleh Bun Pek Cuan yang kemudian berguru padanya dengan imbalan membantu Bun Pek Cuan membalaskan dendamnya pada suami saya, saudari angsoka juga memendam dendam pada hamba karena peristiwa tempo hari itu, ia merasa terhina dan dipermalukan oleh hamba sehingga bersedia untuk membantu Bun Pek Cuan... Hingga akhirnya ia tewas karena racunnya sendiri yang diberi Bun Pek Cuan... Hamba mohon ampun yang sebesar-besarnya, karena alasan hamba bertarung dengannya adalah untuk membela diri.”

“Hmm... Jadi semua kasus ini bermula dari masalah pribadi... sampai-sampai terjadi peritiwa rajapati seperti ini…” desah Sultan, telinga Jaya dan Galuh memerah mendengarnya, mereka merasa tersindir oleh Sultan.

“Juragan Kertajaya, keterangan Tumenggung Jaya Laksana juga kesaksian dari para saksi yang melihat bahwa putri anda pelakunya, apakah anda mempunyai pembelaan?” tanya Sultan.

“Hamba tidak mempunyai pembelaan apa-apa Gusti karena semua ini diluar sepengetahuan dan kendali kami sekeluarga.” ucap Juragan Kertajaya dengan berat.

“Baiklah kalau begitu, berdasarkan keterangan dari Pejabat yang kutugaskan untuk menyelasaikan kasus ini serta kesaksian para saksi, dengan ini Kesultanan Banten telah menetapkan bahwa pria asing yang bernama Bun Pek Cuan serta Angsoka putri Juragan Kertajaya bersalah karena membunuh puluhan orang di bumi Banten ini! Dan karena kedua pelakunya telah tewas maka kasus ini saya tutup dan dianggap telah selesai! Dengan ini pula saya peringatkan pada seluruh rakyat Banten bahwa siapapun yang terbukti bersalah melanggar hukum, hukum akan ditegakan tanpa pandang bulu siapapun pelakunya! Mereka akan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku, apapun alasannya! Catat sabdaku agar diketahui dan diingat oleh seluruh rakyat Banten!” Sabda Sang Sultan.

Ia lalu melirik pada Jaya Laksana. “Tumenggung Jaya Laksana!” Jaya segera menjura hormat “Hamba Gusti.” 

Sultan tersenyum padanya. “Aku atas nama rakyat Banten mengucapkan terimakasih karena kau telah berhasil melaksanakan tugasmu dengan baik! Kini seluruh rakyat Banten bisa kembali tenang karena rajapati ini telah berakhir!” Jaya pun menjura hormat lagi mengucapkan terimakasih atas pujian Sang Sultan tersebut, pertemuan pun dibubarkan.

*****

Sepulangnya dari keraton, Juragan Kertajaya langsung terdiam merenung dikamarnya sambil mengawasi para pembantunya yang merawat istrinya yang masih pingsan sedari tadi, di pelupuk mata pria paruh baya ini terbayang ketika putri sulungnya itu baru lahir ke muka bumi ini, saat ia masih bayi dan balita, kemudian beranjak menjadi gadis cilik kemudian menjadi gadis remaja, dan akhirnya menjadi gadis dewasa. 

Masih terbayang jelas di pelupuk matanya ketika Angsoka merengek agar ia mau membujuk Tumenggung Jaya Laksana untuk menikahinya yang berujung pada cekcok dengan istri sang tumenggung yang kemudian Angsoka kena hajar oleh istri Sang Tumenggung yang sakti itu, sampai akhirnya Angsoka mengajukan permohonannya yang terakhir agar ia mau membujuk Tumenggung Jaya Laksana agar mau menikahi Angsoka, meskipun menjadikannya istri yang kedua.

“Ah seandainya waktu itu aku mau mengabulkan keinganannya untuk membujuk Tumenggung Jaya Laksana agar mau menikahi Angsoka, tentu kejadian ini tidak akan terjadi...” sesalnya dalam hati, kini semua itu sudah terlambat, Angsoka putri sulungnya yang sangat ia sayangi itu telah pergi selamanya, kini yang tersisa hanya kenangannya saja bersama putrinya tersebut, dadanya terasa sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk, hatinya terasa berat, air matanya terus mengalir dari kedua matanya yang telah tua itu.

“Duh Gusti… Kenapa dulu aku begitu keras kepala karena tidak sudi Angsoka menjadi istri kedua Tumenggung itu? Padahal Angsoka sangat mencintainya dan bersedia dijadikan istri yang kedua? Apakah ini karena harga diriku atau karena kesombongan dan kepicikanku semata?” desahnya pilu.

Hatinya bertambah sakit ketika menyaksikan kematian putrinya yang sangat mengenaskan itu, bagaimana tidak? Sekujur tubuhnya memerah dan dari sebagian besar pori-pori di tubuhnya terus mengucur darah akibat racun Katak Merah dari Hunan tersebut, bagaimanapun ia kuatkan hatinya, bagaimanapun teguh imannya, tetap ia tak dapat menahan bibit dendam yang mulai tumbuh di hatinya pada Tumenggung Jaya Laksana dan istrinya.

Saat itu datanglah kedua putra kembaranya, kedua adik dari Angsoka itu menjura hormat padanya. “Ampun Ayah...” ucap Subali yang merasa gugup untuk meneruskan.

“Ada apa?” tanya Juragan Kertajaya.

“Ada yang ingin menemui ayah, katanya penting mengenai Tumenggung Jaya Laksana.” jawab Subala.

“Ah siapa lagi itu? Apa dia tahu keadaan kami sekarang?” gerutu sang Juragan, “Eh tapi dia bilang ada sesuatu yang penting mengenai Tumenggung Jaya Laksana? Hmm…” setelah merenung beberapa saat, Juragan Kertajaya pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu dimana tamu itu menunggunya.

“Andika siapa? Ada perlu apa padaku?” tanya Juragan Kertajaya.

Orang itu tersenyum sambil manggut. “Maaf menganggu Juragan yang sedang berduka, perkenalkan saya Tumenggung Ranadikarta dari Mega Mendung.”

Juragan Kertajaya menatap tamunya dengan tatapan penuh curiga. “Tumenggung dari Mega Mendung? Ada perlu apa anda kemari?”

Tumenggung Ranadikarta menyeringai. “Juragan, seperti yang Juragan Ketahui bahwa Tumenggung Jaya Laksana itu sangat sakti, tubuhnya sangat atos dan kebal pada segala jenis senjata, dan saking saktinya dia, ia dapat mengalahkan pelaku Rajapati yang berasal dari Tiongkok itu dengan mudah... Maka tujuan kedatangan saya kemari adalah untuk membantu Juragan.”

“Apa maksudmu?” tanya Juragan Kertajaya.

“Juragan, tadi saya menemui kedua putra juragan yang hendak pergi untuk membalas dendam pada Tumenggung Jaya, saya langsung mencegahnya karena tindakan mereka akan percuma, nah saya bersedia membantu mereka untuk membalaskan dendam pada Tumenggung itu!”

Juragan Kertajaya terdiam sejenak, ia lalu memanggil kedua putra kembarnya, “Apakah benar yang dikatakan tuan ini bahwa kalian hendak membalas dendam pada Tumenggung Jaya Laksana?” mereka berdua nampak gugup dan takut untuk menjawab karena khawatir akan dilarang dan dimarahi ayahnya. “Ayo jawablah anakku, jangan ragu!”

Barulah mereka berdua berani menjawab. “Benar ayah…” jawab Subali.

Juragan Kertajaya lalu melirik pada Ranadikarta. “Bagaimana Andika mau membantu kedua putraku ini?”

Ranadikarta mengambil keris yang terselip dari balik pinggangnya. “Juragan, sebagai sesama orang Mega Mendung saya tahu bahwa tubuh Jaya Laksana yang kebal itu hanya bisa ditembus oleh senjata yang sangat bertuah, dan saya diberi keris pusaka Kyai Gupita dari Gusti Prabu Mega Mendung yang mengutus saya untuk membunuh Jaya Laksana, percayalah, dengan keris pusaka ini kita akan sanggup membunuh Jaya Laksana!”

“Kalau andika yang mendapat perintah untuk membunuh Jaya Laksana, kenapa malah mengajak kedua putraku?” tanya Juragan Kertajaya.

“Karena saya tahu juragan sekeluarga menaruh dendam pada Jaya Laksana, sesuai dengan pepatah bahwa musuh dari musuhku adalah kawan, saya berniat mengajak kedua putra Juragan untuk membalas dendam, dengan senang hati saya akan berikan keris ini pada putra juragan untuk membunuh Jaya Laksana, saya akan membantu menyebarkan aji sirep untuk menidurkan Jaya Laksana serta seluruh prajurit penjaga rumahnya!”

Juragan Kertajaya mengangguk-ngangguk, ia lalu menoleh pada kedua putranya. “Ayah, apakah ayah akan melarang kami?” tanya Subala dengan takut.

Tetapi diluar dugaan mereka karena Juragan Kertajaya malah menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan melarang kalian juga tidak akan menganjurkan kalian... Aku tidak berkehendak apa-apa... Hanya jika kalian ingin membalas dendam, aku minta kalian berhati-hati, aku sudah kehilangan putriku, aku tidak ingin kehilangan kalian juga!”

Kedua anak kembar tersenyum senang kemudian menjura. “Terimakasih ayah!”