Episode 73 - Racun Raja Kobra Hitam (2)



Jaya memperhatikan wajah orang itu, ia tidak mengenal pria pucat berwajah dingin dihadapannya tersebut. “Siapa andika? Saya tidak kenal Andika!” tanya Jaya.

“Aku... Aku yang menantangmu... Aku yang mempunya dendam yang menggunung dalam dadaku!” jawab pria itu dengan suara mendesah.

“Apa kesalahanku sampai Andika menaruh dendam kepadaku? Siapa sebenarnya andika?” cecar Jaya dengan penasaran.

Orang itu menyeringai bengis, kumis tipis diatas bibirnya membuat tampang orang ini semakin bengis. “Hehehe... Kau akan tahu ketika nyawamu sudah hampir lepas dari tubuhmu!”

“Ternyata benar dugaanku, kaukah yang bernama Bun Pek Cuan?” tanya seorang pria paruh baya asal Tiongkok yang tiba-tiba muncul dari atas sebuah pohon.

“Wong Kei Wei! Tua Bangka dari Wudang! Ternyata kaupun ada di negeri serba ajaib ini!” ucap Bun Pek Cuan yang mengenali siapa orang tersebut.

“Kau datang kemari untuk membalas dendam kematian kakakmu? Lalu kenapa kau begitu kejam banyak membunuh orang-orang yang tidak tahu menahu dengan masalahmu itu?” tanya Tabib Wong.

“Kematian kakaknya? Siapa dia tabib Wong?” tanya Jaya.

“Aku adalah adik satu ibu dari Teng Lan yang kau bunuh di desa Cibodas satu tahun yang lalu!” sambar Bun Pek Cuan, “Aku juga sengaja membunuh banyak orang agar kau merasa kesakitan yang teramat sangat sebelum akhirnya mampus ditanganku! Aku ingin menambah penderitaanmu karena ternyata banyak orang yang mati karenamu dan kamu tak mampu berbuat apa-apa yang malah mampus ditanganku! Aku ingin kau menjadi arwah penasaran dengan semua beban itu!”

Jaya mendelik mendengar ucapan Bun Pek Cuan, sementara orang dihadannya maju perlahan beberapa langkah dengan seulas senyum bengis di wajahnya. “Cukup bercerita, sekarang sambut seranganku!” tandas Bun Pek Cuan yang menyalurkan tenaga dalamnya ke kedua tangannya! 

“Dasar orang gila! Orang-orang tak berdosa yang mati ditanganmu ya tanggung jawabmu sendiri! Jangan kau limpahkan padaku hanya untuk pembenaran pembalasan dendammu!” tegas Jaya.

Dengan jurus Tai Chinya berkelebatlah Bun Pek Cuan, Jaya tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, kedua tangannya berputar dahsyat menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengguruh laksana badai dalam jurus “Menjejak Bumi Menggapai Langit”! Gelombang angin mengguruh dahsyat dari setiap gerakan Jaya, sementara gerakan-gerakan Bun Pek Cuan nampak sangat ringan dan lambat namun sebenarnya sangat cepat dan bertenaga!

Jaya tersentak kaget karena tenaga dalamnya terasa tersedot setiap kali menyerang lawannya terutama ketika terjadi benturan tangan atau kakinya, dan bukan hanya itu saja, tenaganya yang tersedot itu kemudian membalik menyerang pada dirinya dengan berlipat ganda! Deshhh! Satu pukulan yang dilancarkan melaui punggung tangan yang bersarang di pipi Jaya berhasil membuat Jaya terpapah beberapa langkah ke belakang, kepalanya langsung terasa pusing, darah mengalir dari sela bibirnya.

Dalam beberapa jurus berikutnya Jaya kena didesak hebat sebab semua serangannya seolah membalik dirinya sendiri dengan tenaga yang berlipat ganda! Jaya pun mengambil strategi lain untuk menghadapi jurus yang sangat asing baginya ini. Karena setiap kali menyerang tenaganya seolah tersedot dan berbalik menyerang dirinya, maka Jaya memutuskan untuk lebih banyak menghindar dan menangkis bila terpaksa untuk mengamati gerakan lawannya terlebih dahulu.

Otak cerdas Jaya segera berputar sambil mengamati setiap gerakan Bun Pek Cuan yang lemah gemulai namun sangat cepat dan sangat bertenaga tersebut, ia mulai mencoba-coba menyerang dengan tenaga besar, tenaga kecil, dan tenaga sedang untuk mengamati pola jurus lawannya yang asing baginya tersebut. “Heran, tenaganya semakin besar kalau aku menyerang dengan tenaga yang besar pula, tapi kalau aku menyerang dengan tenaga kecil, tenaganya menjadi kecil pula…” pikir Jaya.

“Tuan Tumenggung, ingatlah bahwa Tai Chi adalah jurus yang memanfaatkan tenaga lawan!” teriak Tabib Wong memberi peringatan.

“Memanfaatkan tenaga lawan?” gumam Jaya, ia lalu teringat percakapannya dengan mendiang Holiang bahwa dasar utama Taichi adalah ilmu memanfaatkan tenaga lawan, maka Jaya pun mendapatkan ide untuk memecahkan kelemahan jurus Taichi tersebut, Jaya menyerang dengan tenaga yang seadanya, ketika ditengah jalan dan Bun Pek Cuan hampir sampai menyambutnya, Jaya langsung menghentakan tenaga dalamnya! Dan akibatnya Bun Pek Cuan terhempas oleh hentakan tenaga dalam Jaya yang amat tinggi itu! Terpentalah ia sampai jatuh terduduk! Darah menalir dari sela-sela mulutnya!

Dengan satu gerakan cepat, Bun Pek Cuan merogoh kantong bajunya, melesatlah belasan kelabang berwarna hijau kearah Jaya! Jaya yang tahu kelabang tersebut mengndung racun ganas langsung pukulkan tangannya kedepan, satu angin yang derasnya bukan main memapas belasan kelabang hijau itu sehingga kelabang-kelabang itu mati dan berhamburan ke mana-mana!

“Bangsat!” geram Bun Pek Cuan karena Jaya berhasil menghalau serangan kelabang bercaunnya, kini ia tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka! Serangan kali ini murni mengandalkan tenaga dalamnya sendiri dan lebih dahsyat dari yang pertama namun Jaya Laksana menunggu dengan tenang! 

Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Jaya Laksana sapukan Kakinya ke muka dalam jurus “Tendangan Kuda Sembrani”. Bun Pek Cuan merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan! Dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini lompat ke samping. Kaki Jaya melesat di bawahnya dan pada detik itu pula Bun Pek Cuan kembali menukik dan jotoskan kedua tangannya dengan sangat cepat!

Kedua tinju Bun Pek Cuan laksana ada puluhan dalam jurus “Pukulan Tanpa Wujud”, yang diserang sama sekali tidak mau mengelak, tapi putar kedua tangannya di atas kepala dalam jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk”! Kedua tangan Jaya Laksana pun seolah ada puluhan meninju ketas! Maka empat tangan bentrokanlah dengan hebat, Dukh! Dukh! Dukh! 

Dua pasang tangan saling beradu satu sama lain megeluarkan suara ngilu dan suara tulang beterektekan! Bun Pek Cuan melompat mundur sambil meringis kesakitan, buru-buru ia alirkan tenaga dalamnya ke kedua kepalan tangannya yang membiru, sementara Jaya tak kurang suatu apa.

Sadar tenaga dalam lawannya jauh lebih tinggi daripada miliknya, Bun Pek Cuan terpaksa mengandalkan ilmu racunnya yng terkenal dahsyat di daratan Tiongkok sana. Ia merogong kantong bajunya, kali ini ia melemparkan belasan ekor kalajengking kecil berwarna hitam! Dengan sigap Jaya Jaya melompat keatas menghindari serangan berupa lemparan belasan kalajengking tersebut! Jaya tahu kalajengking itu sangat berbahaya, maka tak ayal, ia lepaskan pukulan “Sirna Raga”! Sebuah lidah api yang disertai pusaran angin panas langsung menghanguskan belasan kalajengking tersebut!

Bun Pek Cuan langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk mengirimkan satu tendangan dahsyat kearah kepala Jaya, namun Jaya langsung berkelit dan kirimkan pukulan Sirna Raga! Bun Pek Cuan memutarkan tubuhnya untuk menghindari pukulan Sirna Raga Jaya, sekaligus melemparkan belasan ular kecil berwarna merah kearah Jaya. Sekali lagi Jaya hantamkan pukulan sirna raga sehingga ular-ular kecil berwarna merah itu hangus terbakar!

Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah bertempur empat puluh jurus! Berkali-kali Bun Pek Cuan melemparkan berbagai aneka racun senjata rahasianya pada Jaya namun Jaya selalu berhasil menghalaunya. Kini kentara sekali bagaimana Bun Pek Cuan mulai mendapat tekanan-tekanan hebat! 

Penasaran sekali, Bun Pek Cuan merogoh belasan jarum hitam dari sakunya dan dilemparkan mengarah belasan titik mematikan tubuh Jaya, dengan tenang Jaya pukulkan tangannya ke muka dalam pukulan “Selaksa Waja”, satu angin pukulan yang padat dan berat laksana baja menderu menghantam belasan jarum itu, jarum itu mental ke mana-mana hancur berantakan!

“Pendekar hina dina! Lihat kedua tanganku! Sekarang saatnya kau mampus menyusul Kakakku!” lantangnya sambil mengangkat kedua tangannya yang kini berubah menjadi hitam legam dan memancarkan cahaya hitam serta mengeluarkan bau engas yang sangat menusuk! 

Jaya sudah sangat tahu kehebatan pukulan beracun yang merupakn pukulan pamungkas lawannya tersebut, terkena sedikit saja nyawanya bisa terbang! Namun hal ini sama sekali tidak menggetarkan hatinya, seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan yang diangkatnya keatas! Ia bersiap menyambut pukulan lawan dengan aji pukulan “Sang Surya Tenggalam”.

Diam-diam Bun Pek Cuan alirkan teluruh tenaga dalamnya ke lengan kanan. Otaknya berkonsentrasi penuh. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam tanah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka! Pendekar Dari Lembah akhirat tetap tak bergerak di tempatnya. Sinar hitam dari pukulan lawan melesat ke arahnya dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan, menderulah sinar besar berwarna lembayung yang teramat panas! Dua pukulan dahsyat beradu di udara mengeluarkan suara berdentum! Sinar hitam yang menghamparkan hawa dingin berbau engas dan satu sinar besar berwarna lembayung yang teramat panas saling nyambar dan memecah ke samping! Bumi disekitar sana bergetar hebat! Langit seolah robek oleh dentuman kedua pukulan sakti mengandung tenaga dalam dahsyat itu!

Jaya tetap berada ditempatnya namun kakinya amblas kedalam tanah sebanyak lima sentimeter, dadanya terasa panas dan kepalanya terasa pusing, darah mengalir deras dari mulutnya, ia buru-buru duduk bersila lalu mengalirkan tenaga dalamnya dan mengatur nafasnya serta memusatkan pikiran, cincin pusaka Kalimasada langsung bersinar terang untuk membantu menyelamatkan tuannya itu, segera ditotoknya beberapa titik di dadanya untuk menahan laju bisa racun dari pukulan lawannya.

Sementara Bun Pek Cuan jatuh terpental lima tombak kebelakang menabrak pohon lalu jatuh berguling-guling sambil muntah darah, sekujur tubuhnya mengepulkan asap hitam berbau gosong dan menghitam oleh bisa Raja Kobra Hitam yang membalik kembali ke tubuhnya! Pria yng teramat bengis ini langsung bangun, dan bagaikan orang gila ia mencakar-cakar serta memukuli tubuhnya sendiri dengan tenaga dalamnya untuk memecahkan beberapa pembuluh darah dan urat yang akan mengalirkan racun itu ke jantungnya!

Jaya tidak sanggup untuk banyak bergerak apalagi bangun, ia terus berkonsentrasi untuk mengusir racun jahat Raja Kobra Hitam yang kini menggerogoti tubuhnya, sementara Bun Pek Cuan telah berhasil membuang semua bisa yang mengalir di tubuhnya, tapi lukanya sangat parah sekali sehingga ia tidak sanggup untuk meneruskan pertarungan, maka timbulah niat pengecut murid si Raja Racun Dari Nanking ini, ia langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Jaya!

Jaya yang melihat Bun Pek Cuan melarikan diri tidak sanggup untuk mengejarnya, maka ia memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit dan memusatkan pikirannya pada Keris Pusaka Kyai Segara Geni yang terselip di balik pinggangnya, tiba-tiba keris itu bergerak sendiri keluar dari warangkanya, cahaya biru terang benderang menerangi tempat itu, angin termata panas berseoran, keris pusaka itu mengeluarkan suara laksana ratusan setan menjerit mengaum di antara derasnya suara angin panas yang membadai prahara itu!

Kemudian keris itu langsung melesat mengejar Bun Pek Cuan dan... Blesss! “Aaaaaaa!” terdengar jerit lolongan panjang dari Bun Pek Cuan yang punggungnya kena tusuk oleh Keris Pusaka bereluk Sembilan yang ukurannya cukup panjang itu, robohlah manusia bengis itu untuk tidak berkutik lagi selamanya dengan seluruh tubuh hangus oleh khasiat dari keris pusaka yang sangat sakti terebut! Keris Kyai Segara Geni langsung mencabut dirinya sendiri dari punggung Bun Pek Cuan kemudian terbang kembali dan masuk kedalam warangkanya di balik pinggang Jaya.

Tabib Wong segera berlari menghampiri Jaya, ia segera menotok beberapa bagian tubuh Jaya dan memberikan tiga butir pil pada Jaya, setelah Jaya menelan obatnya, ia menyuruh Jaya duduk lalu mengalirkan tenaga dalamnya kepunggung Jaya, Jaya pun terbatuk-batuk mengeluarkan darah kental berwarna merah kehitaman, “Syukur! Racun Raja Kobra Hitam itu berhasil ditahan oleh Tuan tadi dan sekarang berhasil kita keluarkan! Syukur juga saya berhasil membuat obat penangkal racun itu, Kalau tidak...” desah Tabib Wong sambil mengelap keringatnya setelah berhasil menolong Jaya.

“Terimakasih Tabib, untung Tabib menyusul saya kemari sehingga bisa menolong saya.” ucap Jaya.

*****

Adzan subuh telah berkumandang di Kota Surasowan, Galuh terbangun dari tidurnya, ia kaget karena Jaya tidak ada disampingnya, ia pun mencari Jaya dirumahnya tapi tidak ketemu, ia lalu bertanya pada Indra Paksi ke mana Jaya, Indra pun menceritakan bahwa Jaya pergi untuk memenuhi tantangan orang yang telah melakukan semua pembunuhan ini.

Galuh terhenyak mendengar keterangan dari Indra Paksi tersebut, seraya mendenguskan nafas beratnya, ia duduk di ruang tengah dengan wajah cemberut karena kesal tidak diberi tahu oleh Jaya perihal ini. Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara orang yang mengendap-endap di dapur, dengan penuh kecurigaan, Galuh segera menuju ke dapur, saat itu ia melihat seorang memakai pakaian dan cadar serba hitam sedang menaburkan sesuatu kedalam dendeng penanak nasi, sementara para pembantu telah kaku mematung dan tak dapat berbicara karena ditotok oleh si penyusup tersebut.

“Siapa kau?!” Bentak Galuh, orang itu nampak kaget sehingga dandang nasi tersenggol jatuh, memang dasar perempuan yang pemberang dan gegabah, ia segera berlari keluar kearah halaman belakang tanpa memikirkan perutnya yang sudah membesar karena sedang hamil, Galuh terus melompat mengejarnya. 

Di halaman belakang Galuh berhasil menyusulnya sebelum orang itu melompati tembok, Galuh segera menyerangnya, tapi ternyata orang itu bukan orang sembarangan sehingga Galuh tak dapat meringkusnya dengan mudah, namun pada jurus ketujuh, Galuh berhasil merobek cadar orang itu “Angsoka?!” seru Galuh. Angsoka segera melompati tembok memanfaatkan Galuh yang sedang terkesima, Galuh pun tersadar dan melompati tembok menyusul Angsoka!

Beberapa tombak kemudian di sebuah tegalan, Galuh berhasil menyusul Angsoka, “Angsoka berhenti! Katakan apa maksudmu?! Apa kau ingin membunuh kami?!” hardik Galuh.

Angsoka tersenyum kecut. “Aku hanya berniat membunuhmu! Dengan racun kelabang hijau yang aku taburkan pada nasi kalian aku akan membunuhmu, tetapi aku juga akan memberikan penawarnya hanya pada Kakang Tumenggung sehingga kami bisa menikah tanpa dihalangi olehmu!”

“Laknat! Gadis licik! Rencanamu busuk sekali!” geram Galuh.

“Kamu memang berhasil menggagalkan rencanaku wanita pengemis dekil! Tapi...” Angsoka memasang kuda-kudanya yang nampak letoy dan sangat lentur, “Bagaimanapun aku akan membunuhmu dan akan kumiliki Tumenggung Jaya Laksana!” tandasnya yang kemudian berkelebat menerjang Galuh!

Angsoka membentak nyaring dan memperhebat serangannya dengan jurus-jurus yang baru yang ia dapatkan dari Bun Pek Cuan. Galuh terkejut karena Angsoka yang sekarang berbeda dengan Angsoka yang ia hadapi sebulan yang lalu, kini gerakannya lebih cepat dan lincah, tenaga dalamnya meningkat pesat, dan yang paling aneh adalah gerakannya nampak sangat lemah tak bertenaga tapi sebenarnya sangat bertenaga!

Untuk lima jurus lamanya Galuh Parwati bertahan mati-matian menghadapi serangan-serangan Angsoka yang nampak lemah gemulai namun mengandung tenaga dalam yang dahsyat itu. Lima jurus kemudian si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul mulai terdesak! Galuh segera percepat gerakannya dan mulai balas menyerang dalam jurus “Garuda Emas Kepakan Sayap” tapi dia terkejut ketika di sekelilingnya terdengar suara, wutt... wutt... wutt... wutt! Selarik sinar perak melingkarinya dan mengeluarkan angin dingin yang menyembilu sekujur tubuhnya!

Galuh tak tahu senjata apa yang di tangan lawan, karena gerakan yang dibuat Angsoka sangat cepat luar biasa! Dalam pada itu detik demi detik kekuatan tubuhnya semakin mengendur sedang setiap serangannya senantiasa terbendung oleh lingkaran sinar perak! Breet! Galuh merasa dadanya laksana dipalu! Dia melompat mundur. Parasnya berubah. 

Pakaian biru di bagian dadanya robek besar sehingga hampir saja memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling pribadi! Maklum karena ukuran milik Galuh termasuk ukuran yang “Istimewa”, jauh lebih “Istimewa” daripada milik Angsoka ataupun perempuan kebanyakan, maka istri sang Tumenggung itu terpaksa memegangi dadanya sambil melompat mudur keluar dari gelanggang pertempuran, dengan kain selendang miliknya, ia mengikat dadanya agar isinya tidak meluber keluar dari bagian pakaiannya yang robek.

Angsoka tertawa terbahak mengejek Galuh yang nampak kelimpungan untuk menutupi dadanya tersebut, perempuan berkulit hitam manis itu pun langsung menggembor marah karena bukan alang kepalang tersinggungnya, namun belum sempat dia berbuat sesuatu apa, tiba-tiba Angsoka sudah menyerangnya lagi dengan kecepatan yang amat fantastis!

Meski sekilas tapi Galuh berhasil melihat senjata di tangan lawannya. Senjata itu ternyata adalah sebuah pedang yang sangat aneh, pedang itu tidak kaku kokoh seperti pedang pada umumnya, pedang itu besinya letoy dan sangat lentur seperti terbuat dari karet, tusukan-tusukannya bagaikan kibasan ekor naga, satu serangan darinya seolah menjadi sepuluh serangan, satu tusukan bisa menjadi sepuluh tusukan oleh kibasan pedang yang sangat lentur itu!

Wuuut! pedang itu menderu lagi dengan hebatnya. Dua tiga kali Galuh lepaskan pukulan yang mengandung tenaga dalam hebat tapi senjata sakti di tangan lawan benar-benar mematikan dan membuyarkan pukulan-pukulan tangguhnya itu. Galuh mulai memaki-maki dalam hati, apalagi ketika beberapa kali ia terpaksa memegangi dadanya karena takut kain selendang yang mengikat pakaian di bagian dadanya kembali dirobek oleh pedang lawannya.

“Hahahaha… Rupanya kau takut kalau kusingkap lagi dadamu yang dekil jelek itu?! Tak usah khawatir, akan kubelah dadamu sekalian! Ahahaha….” Ejek Angsoka sambil terbahak seraya memperhebat serangan-serangannya.

“Kurang ajar! Penghinaanmu sudah tak bisa kuampuni lagi gadis sombong! Awas! Lihat seranganku!” semprot Galuh yang marah sekali diejek sedemikian rupa oleh Angsoka, ia pun balas menyerang Angsoka dengan serangan-serangan yang gencar dan bertubi-tubi!

Sementara itu Jaya yang telah pulih bersama Tabib Wong yang membawa mayat Bun Pek Cuan telah sampai ke rumah Jaya, Jaya heran melihat keramaian di rumahnya, “Indra ada apa?” tanya Jaya.

“Ampun Raden, ada seorang penyusup memasuki rumah ini, dia menotok beberapa prajurit dan pembantu kemudian menaburkan ini di nasi yang sedang ditanak didapur!” jelas Indra Paksi sambil menyerahkan sebuah kantong berisi bubuk hijau pada Jaya.

Jaya lalu memberikannya pada Tabib Wong. “Ini racun Kelabang Hijau dari Pulau Persik di timur Negeri Tiongkok! Racun ini sangat ampuh dan sukar diobati, bisa menyebabkan kematian dalam hitungan jam!” ujar Tabib Wong yang mengenali racun tersebut.

“Ya menurut laporan pun pelaku yang melakukan pemubunuhan-pembunuhan dengan racun-racun mematikan ini ada dua orang, yang satu pria dan yang satu wanita, yang pria sudah berhasil aku bunuh, tapi tadi aku tidak menemui yang wanita!” tutur Jaya pada Indra Paksi.

“Berarti yang dikejar oleh Raden Ayu adalah salah seorang dari pembunuh itu!” ungkap Indra.

“Apa?! Istriku mengejar orang itu?! Ke arah mana perginya mereka?” tanya Jaya panik karena khawatir pada istrinya yang sedang hamil.

“Ampun Gusti, tadi saya sempat melihat Den Ayu melomati tembok belakang rumah” jawab salah seorang pembantu yang baru saja dibebaskan dari totokannya, tanpa berkata apa-apa lagi Jaya langsung memacu kudanya ke arah belakang rumahnya.

Sementara itu di sebuah tegalan beberapa puluh tombak dibelakang rumah Jaya, Galuh masih terus didesak hebat oleh jurus-jurus pedang Angsoka yang aneh dengan pedangnya yang amat lentur tersebut. Angsoka terus memprovokasi Galuh dengan menghinanya habis-habisan sambil terus menyerangnya dengan serangan-serangan yang amat berbahaya! 

Habislah kesabaran galuh, ia sudah tak memikirkan untuk memberi hati Angsoka lagi, ia melompat beberapa tombak kebelakang, tahu-tahu tempat disekitar sana menjadi bau belerang yang amat menyengat seiring ketika Galuh mengangkat tangan kanannya keatas, tangannya memancarkan cahaya putih serta menghembuskan asap putih siap untuk menembakan pukulan “Kawah Tunggul”!

Saat itu pula Galuh pukulkan kemuka tangan kanannya! Wuss! Satu Sinar Putih besar disertai pusaran gelombang angin panas dan asap putih berbau belerang yang amat menyengat menderu! Angsoka terpekik! Pedang di tangannya mental dan hancur bertaburan menjadi abu sedang tangan kanannya hangus hitam laksana terbakar! Buru-buru gadis ini alirkan tenaga dalamnya ke tangan yang terluka, telan sebutir pil dan atur jalan darah! Untuk menolak racun pukulan dia kemudian menotok urat besar di bahunya!

Diam-diam Galuh memuji kehebatan daya tahan tubuh gadis ini yang ilmu silatnya telah berkembang pesat sejak satu bulan yang lalu. Seseorang yang tersambar pukulan Kawah Tunggul biasanya tak ada ampun lagi, pasti akan menggeletak mati, tetapi Angsoka masih bisa bertahan dan masih sanggup menggerakan tubuhnya dengan cukup tangkas.

“Anjing hina dina! Bersiaplah untuk mampus!” teriak Angsoka, tangannya merogoh kedalam pakaiannya, dan berhamburanlah puluhan jarum-jarum hitam menerjang Galuh!

Galuh segera keluarkan ajian pukulannya yang lain yakni pukulan “Badai Laut Kidul, satu topan prahara menggebu ke muka memapasi dua gelombang sinar hitam yang melesatkan puluhan jarum-jarum hitam beracun. Laksana daun kering dihembus angin puting beliung demikianlah bermentalannya senjata rahasia sakti Angsoka tersebut!

Angsoka tersirap kaget. Mukanya pucat laksana mayat! Ia tak menyangka bahwa Galuh adalah seorang wanita yang sangat sakti yang kemampuannya ternyata jauh berada diatasnya, wanita hitam manis yang ia anggap musuh bebuyutannya itu ternyata mampu menghalau serangan senjata rahasianya yang sangat lihai yang telah diajarkan oleh Bun Pek Cuan itu dengan mudah, malah topan prahara angin pukulan Galuh itu masih terus menderu mengarah dirinya, gadis inipun jatuh berguling-guling ketika pukulan Badai Laut Kidul Galuh menghantam telak tubuhnya, kontan Angsoka muntah darah! Ia terluka dalam sangat parah!

“Hentikan!” teriak seseorang yang tiba-tiba berada di sana, Galuh segera menengok ke arah suara yang sangat dikenalnya itu, di arah utara Jaya nampak menghentikan kudanya lalu melompat kearahnya, “Kakang!” seru Galuh sambil tersenyum melihat kedatangan suaminya itu.