Episode 298 - Keterbatasan (2)



“Aku akan bertolak seorang diri. Kalian tinggal dan terus berlatih di tempat ini.” Nada suara datar dan tatapan mata dingin. Tak akan ada yang mampu mengubah keputusannya. 

“Tapi... tapi...,” ratap seorang gadis belia terbata-bata. “Tuan Guru... mengapa kami tiada diperkenankan ikut serta...? Gunung tinggi akan kami daki, lautan luas akan kami arungi...” Bibirnya memancung panjang, ibarat seorang perawan manja yang tak mendapatkan apa yang ia kehendaki. 

“Apakah rencana Tuan Guru...?” Gadis kedua menimpali rekannya. Dari nada suara dan gerak-geriknya, gadis kedua ini terlihat lebih dewasa dari yang pertama, sehingga tenang pembawaannya. 

“Aku menemukan sedikit hambatan...,” Kum Kecho berhenti sejenak, menghela napas panjang. “Keterbatasan, untuk lebih tepatnya....”

“Keterbatasan apakah gerangan...?”

“Tempat ini aman. Kalian berada di bawah perlindungan Rahampu’u,” tanggap sosok yang mengenakan Jubah Hitam Kelam itu tanpa mengindahkan isi dari pertanyaan. Ia tak hendak membahas lebih lanjut perihal upaya yang perlu ditempuh.

“Duak!” 

Tatap matanya kemudian beralih ke arah datangnya gema suara. Ia pun menyapu pandang. Tak jauh dari tempat di mana mereka berdiri berbincang-bincang, gadis ketiga dan gadis keempat sedang berlatih tarung. Gadis ketiga, yang bertubuh bongsor, sedang menebaskan sebilah palu logam berwarna gelap. Bentuknya palu sama layaknya dengan palu-palu yang biasa digunakan oleh seorang tukang kayu, yang mana memiliki dua bagian dengan fungsi masing-masing. Bagian sisi depan berbentuk rata dengan fungsi untuk memaku, dan bagian sisi belakang berbentuk seperti cakar elang yang menghadap ke bawah, yang biasa difungsikan untuk mencongkel paku. Sungguh besar ukurannya palu, hampir setinggi dan sebesar tubuh seekor kambing! 

Gadis keempat mengeluarkan sebuah tiang besar dan tinggi. Di dalam latih tarung ini, keadaan dirinya terlihat mulai terdesak. Kendatipun demikian, kedua gadis tak melanjutkan latih tarung karena mendapati perbincangan sangat serius yang sedang berlangsung tak terlalu jauh. Walhasil, gadis ketiga dan gadis keempat mendatangi sang Tuan Guru.

“Berapa lamakah kepergian Tuan Guru...?” Gadis kedua hendak memastikan. 

“Aku tak tahu pasti,” ujarnya sambil menunggu kedatangan gadis ketiga dan gadis keempat. “Tapi kalian hendaknya menunggu di sini. Saat aku kembali, aku berharap setidaknya setiap satu dari kalian naik satu tingkat keahlian.”

“Kemanakah tujuan Tuan Guru...?” sela gadis keempat yang baru saja tiba. Raut wajahnya teramat penasaran. 

Sementara itu, hanya dengan sebelah tangan, gadis ketiga melangkah sambil mengayun-ayunkan senjata pusaka yang baru ditempa untuk dirinya itu. Menyilangkan ke kiri dan ke kanan, atas dan bawah dengan mudahnya. Sungguh bobot dan ukuran senjata tersebut terkesan ringan di tangannya.  

“Heh... Jikalau aku memberitahu, maka sama saja dengan aku terang-terangan mengajak kalian... Sekali lagi kukatakan agar kalian menunggu di sini!” tegasnya dengan nada suara sedikit meninggi.

“Baiklah!” Melati Dara, Dahlia Tembang, Seruni Bahadur dan Hongke Riro serempak menundukkan kepala. Mereka paham betul bahwa jikalau sang Tuan Guru naik darah, maka setiap satu dari mereka akan kena getahnya. Penderitaan berkepanjangan dalam bentuk berbagai jenis latihan berat menanti.  

“Aku akan menjemput kalian sebelum kita kembali ke Persaudaraan Batara Wijaya...” tutup Kum Kecho, sambil memutar tubuh dan melangkah pergi. 


===


Perhatian sedang terpusat pada salah satu lembar daun maha raksasa. Sebahagian besar anggota suku dayak di seluruh pelosok Pulau Belantara Pusat, walau tak hadir langsung di dalam upacara adat, memantau dengan cara mereka masing-masing. Bagaimana tidak, seorang anak remaja perwakilan dari suku nan dinista karena pembelotan di masa lampau, sedang memanggil roh yang dikenal sangat perkasa. Sulit dipercaya. Bahkan, keenam Balian dari Dewan Dayak menanti dengan penuh tanda tanya. 

Kum Kecho menahan diri. Perasaan di hati berkecamuk di kala ia menatap gelagat Bintang Tenggara di lembar daun sana. Ia menanti akankah roh yang dimaksud dan dipanggil benar-benar akan mengemuka. Sampai-sampai, Kum Kecho tak ikut di dalam pertarungan kelompoknya. 

Kesempatan, batin Kum Kecho saat memantau sekeliling. Ia menyadari bahwa segenap perhatian sedang teralihkan kepada Bintang Tenggara. Perlahan ia melangkah ke ujung daun. Para remaja yang sedang bertarung di sekitarnya merasa bahwa anak remaja itu hendak menghindar dari pertarungan. Lawan tertawa riang, sedangkan kawan mencibir benci. Akan tetapi, baik kawan maupun lawan mengabaikan sahaja. Pertarungan sengit di depan mata perlu mereka hadapi dengan segenap kemampuan. 

Tiba di ujung daun, Kum Kecho menyaksikan formasi segel nan tebal lagi kokoh. Bahkan ahli yang tiada memiliki keterampilan khusus sebagai perapal segel, mampu melihat secara kasat mata lapisan formasi segel tersebut. Tujuan dari tembok formasi segel ini adalah melindungi para peserta upacara adat akan ancaman yang datang dari wilayah luar, di mana berbagai jenis serangga raksasa nan mengerikan terlihat demikian lapar. 

Menempelkan telapak tangan para tembok formasi segel, pelan Kum Kecho berbisik, “Wahai Roh Antang Bajela Bulau nan mulia, kumohon inayat semerbak… Sibak!” 

Bertolak belakang dengan roh Nyaru Menteng yang merupakan perwakilan dewa perang nan haus darah, roh Antang Bajela Bulau merupakan roh yang memiliki tujuan melindungi. Antang Bajela Bulau berarti ‘elang berlidah emas’, di mana roh ini dipercaya memberikan perlindungan kepada manusia di dalam setiap kegiatan yang dijalani. 

Sungguh ironis. Tokoh ‘baik’ mengerahkan roh yang haus darah, sedangkan tokoh ‘jahat’ mengerahkan roh yang melindungi. Pemanggilan roh berhasil, di mana sepasang Rajah Roh dengan bentuk kepak sayap burung elang mengemuka di pundak kiri dan pundak kanan Kum Kecho. Tentu tiada siapa yang dapat melihat langsung Rajah Roh tersebut, karena letaknya berada di balik jubah nan berwarna hitam. 

Seketika itu terjadi, semacam formasi segel dengan simbol-simbol dan susunan tak lazim, berpendar dari telapak tangan yang masih menempel pada tembok formasi segel. Di saat yang sama pula, tembok formasi segel yang berperan membentengi dari dunia luar seolah luluh, lalu menciptakan lubang seukuran roda pedati. Dengan demikian, kemampuan roh yang datang kepada Kum Kecho adalah menembus pertahanan formasi segel!

Tanpa ragu, Kum Kecho pun melompat ke luar!


Balian Bapuyu Huludaya yang sedang khusyuk mengamati Bintang Tenggara dari dekat, tersentak. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari-cari kejadian apakah gerangan yang membuat firasat buruk mengemuka. Mata melotot ke salah satu ujung lembar daun raksasa, tubuh sang Balian yang berperan sebagai ketua panitia upacara adat lagi-lagi menghilang. Atau lebih tepatnya, beliau melakukan teleportasi jarak dekat!

“Tunggu!” cegah Balian Bapuyu Huludaya di kala menyaksikan seorang anak remaja melompat. Seungguhnya ia terlambat, karena Kum Kecho telah berada di luar formasi segel. Derik suara berbagai jenis binatang siluman serangga terdengar nyaring dan membuat bulu kuduk merinding. Beberapa binatang siluman serangga terlihat telah menyadari keberadaan sebuah lubang. Mereka pun melesat hendak memaksa masuk! 

Balian Bapuyu Huludaya terlambat menghentikan langkah kaki Kum Kecho, di saat yang sama ia pun menyadari akan keniscayaan untuk menyusul keluar dan menyelamatkan anak remaja yang bertindak gegabah itu. Yang terpenting saat ini, adalah menutup lubang yang telah tercipta pada permukaan tembok formasi segel. Upacara adat jangan sampai terganggu. Urusan anak remaja itu nanti saja dipikirkan belakangan. 

Apakah gerangan penyebabnya sehingga tercipta sebuah lubang...? Siapa yang memiliki kemampuan menembus formasi segel ini...? Kemampuan seperti apakah yang dikerahkan oleh anak remaja itu...? 

Sontak Bapuyu Huludaya sang Balian dari rumpun Dayak Hulu, melontar pandang ke arah pohon lain, yang mana lima Balian lain juga mengawasi jalannya upacara adat. Akan tetapi, pun karena perhatian mereka terpusat pada Bintang Tenggara, maka tiada seorang yang mempedulikan ketika seorang anak remaja melangkah ke ujung daun. Sampai Kum Kecho menyentuh formasi segel yang sejatinya dirapal secara bersama-sama oleh para Balian dan membuka lubang, tiada yang menyadari. 

Bapuyu Hulu Daya menoleh kepada Bintang Tenggara di lembar daun yang lain, lalu kembali ke arah Kum Kecho yang hampir menghilang dari sudut pandangnya. Benaknya berkutat deras. Mungkinkah, di hari yang sama di dalam upacara adat, muncul roh Nyaru Menteng serta roh Antang Bajela Bulau secara bersamaan!? Petanda apakah ini...!?

Wajah Balian Bapuyu Huludaya berubah dari raut senang menjadi kecut. Sesungguhnya ia terlibat langsung di dalam penyusunan skenario 'upacara adat'. Ia juga menyetujui akan iming-iming menentukan ‘Pewaris Pangkalima Rajawali’. Padahal, nyatanya upacara adat merupakan tindakan akal-akalan belaka dan tak ada yang namanya pewaris, turunan, atau apalah itu...

Akan tetapi, benak Bapuyu Huludaya masih tak habis pikir. Mengapa... mengapa terjadi di dalam upacara adat yang hanya akal-akalan ini...? Mengapa dua di antara Rajah Roh teratas yang biasa memberikan bantuan dan dikerahkan oleh Yang Mulia Pangkalima Rajawali... mengemuka!?