Episode 84 - Reason Why



Dengan posisi tertunduk, Chandra menatap Alzen yang tak sadarkan diri sambil berkata. “Maaf Alzen, maaf... aku benar-benar tidak berguna.”

Cruuusshht...

Terdengar bunyi aliran air di telinga Chandra. Ia segera menoleh dan melihat ke depan.

“Memang orang yang sedang kalut, tidak bisa berpikir dengan benar ya...” Leena menuangkan botol potion merah pada Alzen dan disiramkan pada lukanya. “Aku tahu lukanya fatal dan tidak bisa disembuhkan dengan potion saja, tapi paling tidak, jantungnya masih berdetak hingga ada Healer party lain yang bisa membantu.”

Chandra tak tahan untuk mengeluarkan air mata dan menangis lalu menundukkan kepalanya. “Terima kasih... Leena.”

Setelah disirami potion, luka tusuk di perut Alzen perlahan beregenerasi dan menutup, meski belum sembuh sepenuhnya.

Chandra melihat botol potion itu kosong sekarang dan terpikir akan sesuatu.

“Leena, maaf.” Chandra berdiri dan dengan cepat menarik botol potion kosong itu dari tangan Leena. “Kupinjam dulu botolnya.”

Leena dengan mata seperti orang kaget spontan bertanya. “Hee? Buat apa!?” 

“Aku mau cari air.” kata Chandra sambil bergegas berlari, dari belakang, terlihat sekali punggungnya merah akibat ceplakan darah Alzen sebelumnya. “Aku akan coba untuk menyembuhkan Alzen.”

“Haa? Cari air? Hei tunggu chan,” Leena mengulurkan tangan ke depan mencoba menghentikan Chandra. “Tidak ada air disini, bisa-bisa malah kau... Ahh dia sudah pergi.”

***

Satu jam kemudian, 

Tepat jam 1 siang, sekalipun siang dan malam tidak berlaku seperti bagaimana mestinya di dalam dungeon. Tapi waktu tetap berjalan seperti biasa.

Party pertama yang berhasil tiba di lantai 4 adalah party Nicholas dan saat ini mereka ada di dalam ruang interior istana. Nama lantai ini adalah Sealed Palace.

“Woahh tempat apa lagi ini?” Luxis melihat ke atas, ada banyak tangga, rak-rak buku dan terlihat seperti istana yang sudah tidak dihuni sejak lama.

Nicholas melihat ke atas, “Wah ruangan ini betul-betul tinggi ya.” 

“Kita sudah selesai kan? Ayo balik.” sahut Sinus dengan gemetar, sambil secara waspada melihat kiri dan kanan.

Mendengar itu, Nicholas menunduk, merogoh kantongnya dan mengeluarkan batu kecil di telapak tangannya. “Sepertinya sudah cukup, Teleport Stonenya sudah aktif di lantai ini.” kata Nicholas ketika melihat batu itu bercahaya, lalu ia menoleh ke belakang... “Atau kalian mau menjelajah lebih jauh lagi?” ucapnya dengan senyum menantang.

“Ayolah, sudah cukup...” Sinus membujuk Nicholas. “Kalau terlalu jauh. Nyawa yang jadi taruhannya.”

“Tidak perlu, buang-buang tenaga saja.” balas Velizar dengan datar. “Kita kembali, lagipula boss tadi sudah cukup menghibur.” Velizar menatap pedangnya yang merah berlumuran darah. Dan di pantulan katananya terlihat Velizar tersenyum lebar.

“Sudah yuk sudah...” kata Healer mereka, “Baju kita basah semua gara-gara boss lantai 2 barusan. Aku mau beristirihat dan segera ganti pakaian.” 

“Hmph! Tak salah aku bersekutu dengan kalian,” balas Luxis. “Kau memang yang terbaik Nico.”

“Bicara apa kau ini? Tentu saja aku yang terbaik.” Nicholas kemudian berjalan dan mengulurkan lengannya ke depan dengan tangan terkepal. “Ayo kita kembali, kalian berdiri melingkar dekatku.”

Anggota partynya melakukan seperti yang diminta dan di tengah-tengah mereka, Nicholas meremukkan batu kecil itu hingga dalam sekejap mereka diteleport keluar dari dungeon ini.

Dengan demikian, Party Nicholas adalah yang paling pertama menyelesaikan ujian ini.

***

Di kemah Safe Zone, yang semua kemahnya kini sudah terisi dan ada banyak sekali orang disini mengalami kesulitan yang berbebeda-beda.

“Luiz, Luiz, sini...” panggil salah satu Healer party Leena pada Luiz yang menunggu di luar kemah tempat Fhonia di rawat.

“Bagaimana? Bagaimana?” Luiz dengan tergesa-gesa masuk ke kemahnya.

Kedua Healer yang menyembuhkan Fhonia tersenyum lega. 

“Syukurlah Fhonia bisa disembuhkan.”

“Tapi sepertinya dia harus berbaring terus disana. Tubuhnya belum boleh banyak bergerak.”

“Syukurlah...” Luiz terharu hingga mengeluarkan air mata. “Fhonia, kau masih bernyawa kan?”

“Hihihi tentu saja...” Fhonia tertawa kecil dalam posisi berbaring. “Aku dengar dari mereka barusan, kamu yang menggendongku ya, Luiz? ”

“Yang itu, tidak usah dibahas,” Luiz geleng-geleng kepala dan mengibas-ngibaskan tangannya. “Yang pasti lukamu sudah sembuhkan? Kamu selamatkan?”

“Aku tak tahu, tapi rasa sakit di perutku sepertinya sudah hilang.” balas Fhonia. “Tapi efek samping dari summon Yupi harus kutanggung 72 jam lamanya. Makanya aku tidak bisa bergerak nih.”

“Hah... syukurlah.” Luiz bernapas lega. Ia berdiri dan pergi meninggalkan kemah tempat Fhonia dirawat. “Terima kasih buat kalian berdua. Jika ada kesempatan, kami janji akan membalas budi baik kalian.”

Kedua Healer dari party Leena tersenyum dan sama-sama mengatakan. “Ahh tidak apa-apa, bukan masalah.” Kalimat mereka diakhiri dengan senyum.

“Hee? Kau mau kemana? Sini dulu dong. Temenin...” kata Fhonia yang terbaring kaku.

“Keluar cari angin.” jawab Luiz dengan ketus. 

“Hei Luiz tunggu-tunggu!” sahut Fhonia dengan banyak gerak. “Adududuh...”

“Apa?”

“Luiz,” Fhonia tersenyum manis dan tulus sekali. “Terima kasih banyak ya...” 

Wajah Luiz memerah dalam sekejap lalu ia buru-buru menoleh keluar, membuang muka dan pergi keluar kemah. “Oke.” jawabnya dengan nada ketus.

Di luar Luiz segera menghampiri kemah lain yang tak jauh dari sana. “Hah... Safe Zonenya semakin ramai saja. Mungkin sudah ratusan orang menunggu disini.” Luiz mengamat-amati sekitarnya, dan sepertinya banyak yang mengalami luka parah akibat pertarungan melawan boss lantai 2. “Cih... makanya, aku benci dungeon.”

Luiz berjalan kembali dan ia menghampiri kemah tempat Alzen dirawat. “Bagaimana keadaan Alzen?” tanya Luiz selagi masuk melewati tirai kemahnya dan ia langsung bernapas lega. “Hah... Syukurlah.”

Ia mendapati Alzen juga sudah siuman namun wajahnya masih terlihat menahan sakit dan tangannya terus menempel di perutnya selagi mengobrol dengan teman-temannya. 

Alzen ditemani oleh Leena, Sintra dan tankernya juga dengan Lio, Ranni, Nirn dan dua Healer mereka yang masih sibuk menyembuhkan Alzen. Sedang Gunin ada di ujung tenda ini dan duduk dengan kaki kanan menekuk dan tangannya bersandar pada lutut kakinya, posisi kepalanya menunduk sambil memeluk guandaonya.

“Hee Luiz!?” Alzen terkejut melihat Luiz masuk tiba-tiba.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sebagai seorang sahabat.

“Ahh aku sudah baikan sekarang, maaf ya... aku tidak bisa menjadi ketua party yang baik.”

“Tidak-tidak, ini semua murni karena ketidakseimbangan party kita, kalau saja si Chandra betulan seorang Healer, kita tidak akan-“

“Chandra juga sudah berusaha keras tahu!” Fia memotong omongan Luiz dan membentaknya.

“Hee!? Tapi tetap saja dia tidak bisa apa-apa.” Luiz menghinanya lebih jauh.

“Dia berjuang keras untuk bisa sihir penyembuhan,” sambung Cefhi dengan nada lembut. “Sampai tangannya sendiri ia sayat-sayati. Aku tak tahu kenapa, tapi ia sungguh-sungguh sekali ingin bisa.”

“Tapi tetap saja dia tidak bisa!” Luiz balas membentak Fia dan Cefhi. “Dan malah jadi merepotkan kami semua.”

“Ya dari awal komposisi party kalian memang sudah goyang.” balas Leena. “Kau menyalahkan Chandra atas ketidakkompetan dirinya pada peran yang diambilnya, kau sendiri bagaimana? Aku tidak melihat ada tank yang betul-betul fokus sebagai tank di party kalian.”

“...” Luiz diam dan merasa tersentil.

“Kenapa tidak bisa jawab?” tegas Leena. “Soalnya aku lihat kalian berlima itu semuanya DPS, jelas saja bakal terjadi hal yang tidak baik seperti ini. Alzen DPS, Chandra juga, kau juga. Fhoniapun juga. Dan ditambah Gunin, kalian semua DPS.”

“Gunin? Dia sudah disini? Sejak kapan? Apa dia masih kuat berjalan sampai sini?”

“Nah... kami yang membawanya.” Jawab Lio. “Dia pingsan di tempat masuk lantai 3.

“Gunin... kau baik-baik saja kan?” Luiz segera berjalan menghampirinya.

“Eit! Eit! Eit! Kau jangan ganggu dia,” Lio mencegatnya. “Gunin sedang tidur.”

“Tidur?”

“kak Gunin kehabisan aura.” kata Cefhi dengan lembut. “Jadi ia perlu istirahat sebentar.”

“Hei Luiz,” sahut Leena. “Kenapa malah mengalihkan perhatian. kau tidak bisa jawab ya?”

“...” Luiz diam tak menjawab lalu ia dengan kesal keluar dari tenda.

“Cih, pengecut. Dia kabur.”

“Ngomong-ngomong, Chandra dimana? Dia yang menggendongku kemari kan?”

Lio menjawab. “Huh? Aku belum lihat dia lagi,”

“Saat kita datang, Cuma ada kau dan Leena di tenda ini.” 

“Duh si Chandra ya...” Leena menepuk dahinya.

“Satu jam lalu aku lihat dia keluar Safe Zone.” Sambung Sintra.

“Dia pergi mencari air, tapi mungkin malah tersesat.”

“Air?” Alzen langsung mengerti maksudnya. “Ahh dia berupaya menyembuhkanku.”

Alzen menatap kedua gadis yang menyembuhkannya. “Fia, Cefhi... terima kasih telah menyembuhkanku.” lalu Alzen berdiri tegap dan berjalan keluar untuk mencari Chandra.

“Alzen! Kamu masih belum sembuh total.”

“Tidak apa, segini juga sudah bagus.” kata Alzen sambil keluar kemah.

“Aku akan menyusulnya. Kalian tunggu disini saja.” Leena bergegas naik dan mengambil pedangnya. “Hei Alzen!”

“Duh anak itu,” Lio geleng-geleng kepala dan bergegas keluar. 

Setelah Lio keluar Ranni ikut menyusulnya.

Lio melihat Alzen mencoba berlari tapi malah jalan sambil memegang perutnya dengan langkah kaki yang lambat sekali. Lio segera menyusulnya dan menarik tangan Alzen dari belakang. “Alzen, biar kami saja.”

“Tidak terima kasih, aku tak mau merepotkan kalian lebih jauh lagi.”

“Aish...” Lio geleng-geleng kepala. “Justru kalau kau kenapa-napa lagi, kita yang akan repot.” 

“Alzen, biar kami saja. Chandra juga teman kita kan.” balas Ranni dari belakang Lio.

“Leena, kau bawa paksa si Alzen ini ke kemah.” pinta Lio. “Biar kami saja yang cari Chandra.”

“Baik,” Leena segera menepuk perut Alzen.

“Adadadaadah!” Alzen merintih kesakitan namun segera dirangkul di pundak Leena.

“Ranni, ayo!”

Ranni mengangguk dan mengikuti Lio.

“Hmmph! Kau beruntung, punya teman-teman yang sangat baik.” kata Leena dengan suara kecil di samping telinga Alzen.

Alzen membuang muka karena tak mau terlihat oleh Leena kalau wajahnya memerah.

***

Sementara itu di hutan gelap ini, Chandra terus berlari dan berlari melewati pohon-pohon hitam dan cahaya biru bulan sambil dengan erat membawa botol potion yang sudah diisinya dengan air.

“Hosh... hosh... Makhluk apa itu? Makhluk apa itu?! Sial! Sudah berapa lama aku pergi? Bukannya bergegas kembali, aku malah tersesat disini.” Chandra berlari dengan ketakutan. “Diatas pohon ada wanita seram berpakaian putih, di balik pohon ada mayat hidup yang mau menggigit kepalaku dan aku dibuntuti setan yang terus-menerus mengejarku.”

Chandra kemudian berteriak. “TOLONG! SIAPA SAJA TOLONG AKU!”

***

“Hee!?” Alzen heran. “Kok kita malah kesini? Bukannya...”

“Aku mau bicara padamu empat mata, berdua saja.” balas Leena sambil perlahan-lahan melepas rangkulan tangan Alzen di pundaknya.

Leenapun duduk di ujung pijakan tempat ini, jika melihat ke bawah maka akan ada jurang setinggi 7 meter ke bawah yang dipenuhi hutan berpohon hitam, seperti hutan yang pohonnya terbakar.

Leena bersandar di pohon sebelahnya dan mulai bercerita sesuatu.

“Kau tahu kenapa tempat ini disebut Safe Zone?”

“Uhm...” Alzen ikut bersandar pada pohon di sebelahnya, berlawanan arah dengan Leena. “Karena tidak ada monster yang mendekati tempat ini. Yang seperti itu sudah dijelaskan di kelas kan?”

“Hehe...” Leena tertawa kecil. “Kau menyimak rupanya.”

“Te-tentu saja.” jawab Alzen malu-malu.

“Aku baru kali ini juga menjelajahi dungeon dan aku mulai khawatir...”

“Khawatir?”

“Iya... karena setelah lulus kita akan banyak menghabiskan waktu di tempat ini.” Leena mengatakannya dengan tersenyum sambil melihat bulan besar seukuran bulan purnama tapi cahayanya berwarna biru. “Bertaruh nyawa, melihat kawan terbunuh atau bahkan teman yang berkhianat. Meski dungeon menjanjikan harta dan sumberdaya yang terus menerus diperbaharui dengan respawn tapi... tetap saja... resikonya...”

Alzen melihat Leena sedang menatap ke depan melihat bulan, lalu ikut menoleh ke arah yang sama. Kemudian Alzen menunduk melihat perutnya yang terluka. “Ya... benar. Jika tak ada kalian semua yang menolongku, aku sudah tewas disini.”

“...” Leena diam tak membalas. Sambil rambutnya terhempas deru angin. 

“...” Alzenpun diam, ia ingin mengatakan sesuatu tapi terlalu menimbang-nimbang dan takut salah bicara.

Sampai 5 menit mereka diam, pada akhirnya.

“Leena,”

“Alzen,”

Sahut mereka berdua bersamaan.

“Ahh silahkan kamu duluan.” Leena mempersilahkan.

“Aku perlu kejelasan akan hari itu, kenapa pada hari itu. Kamu tertawa dan jadi menjauhiku?”

“Soal itu ya...” Leena menunduk. “Sebenarnya aku juga ingin membicarakan hal yang sama dan aku... minta maaf. Karena, tiba-tiba aku tertawa.” Wajah Leena memerah dan menyesalinya.

Wajah Alzen ikut memerah. “Ya... meski aku belum mengerti kenapa. Tapi... pasti kamu punya alasannya. Dan aku juga minta maaf karena tiba-tiba menembakmu di saat yang tidak tepat.”

Leena geleng-geleng kepala. “Ahh tidak-tidak, ini semua murni karena salahku. Aku tak tahu harus bereaksi apa. Aku sudah beberapa kali ditembak cowok dari usia 14 tahun dan seringnya aku menolak mereka.”

“Begitu ya... standarmu tinggi.” Alzen mengucapkannya dengan kepala menunduk dan agak minder.

“Tapi akhirnya ada 1 orang yang aku terima. Dia orang pertama yang menembakku di usia 14 tahun. Pernah kutolak dan terus mencoba sampai 3 tahun kemudian, ia belum menyerah juga. Dan setahun lalu aku menerimanya.”

“Si-siapa!? Seperti apa orangnya? Pasti hebat sekali ya...” Alzen terlihat penasaran sekali.

“Tidak, kau masih jauh lebih baik darinya.” Leena geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dia juga dibawah umurku satu tahun, saat itu kami menghabiskan waktu bersama, belajar bersama, bermain bersama. Ya... aku benar-benar bahagia dengannya.”

“Si-siapa namanya?”

“Lumina Sinclaire, dia orang dari Valencia Kingdom. Dia tampan, warna rambutnya juga mirip sepertimu, hanya saja potongan rambutnya berbeda. Meski ia sempurna dan menyenangkan, tapi gara-gara aku diterima di Vheins, ia sudah langsung menyerah dan dari hari itulah semua masalahnya dimulai...”

***