Episode 55 - Fragmen (2)



Aku kembali berjalan di tempat yang tidak aku ketahui entah apa namanya. Sebuah tempat menyeramkan dengan mahluk yang mengerikan sedang bertarung satu sama lain. Entah kenapa aku bisa berada di sini, yang pasti aku harus mencari jalan keluarnya, atau lama-lama aku akan gila karena melihat pemandangan yang lebih buruk dari mimpi buruk yang pernah aku alami.

Semua masih sama seperti sebelumnya, di mana-mana aku melihat mahluk mengerikan itu bertarung dan saling membunuh, ada beberapa pertarungan yang bahkan membuat aku tak berani melihatnya, terlalu sadis untuk kuceritakan.

Di sini aku tak perlu khawatir diserang oleh mahluk mengerikan tersebut, sebab mereka sama sekali tidak bisa melihatku, apalagi menyentuhku.

Setelah berjalan terus tanpa tujuan, aku akhirnya tiba di tempat di mana sudah jarang pertarungan antara mahluk tersebut kutemui, sepertinya ini adalah wilayah pinggiran, terlihat dari bangunan yang ada di sini yang lebih sederhana dibandingkan dengan di tempat sebelumnya.

Tiba-tiba aku melihat sesosok mahluk mengerikan itu terbang dan mengejar sesuatu, dengan cepat aku mengarahkan pandangan pada apa yang dia kejar, dan ternyata ada tiga mahluk mengerikan sedang berlari mencoba menjauh dari dari kejarannya.

Apa yang berbeda dari mereka adalah tiga mahluk tadi, dua bertubuh besar dan satu bertubuh kecil, adalah mereka tidak membawa senjata, pakaian yang digunakan pun sangat berbeda. Mereka bertiga memakai pakaian compang-camping dengan warna yang pudar, sedangkan sosok yang mengejar itu menggunakan perlengkapan seperti seorang kesatria, ditambah dengan pedang di tangannya.

Mereka persis seperti sebuah keluarga kecil, atau mungkin memang satu buah keluarga?

Merasa bahwa tidak bisa lepas dari kejaran tersebut, salah satu dari tiga mahluk menyeramkan itu, berbalik dan bersiap menghadang pengejarnya. Namun, ternyata dia tidak mampu memberikan banyak waktu untuk mereka berdua melarikan diri, sebab tanpa bersusah payah mahluk mengerikan yang seperti kesatria tadi dapat memenggal kepalanya, tanpa ada sedikitpun perlawanan, dan kembali mengejar dua lainnya.

Tidak butuh waktu lama, dia mampu mengejar dua targetnya tersebut, tanpa basa-basi dia segera menyerang, sedangkan itu tiba-tiba saja salah satu dari mereka berdua, yaitu yang bertubuh besar, segera membalikan tubuhnya dan menerima tikaman pedang, lalu dengan erat memegang pedang yang menancap di tubuhnya tersebut.

Mahluk mengerikan yang bertubuh kecil tadi berhenti dan melihat ke belakang, wajahnya terlihat mengerikan, tapi entah kenapa aku merasa kasihan dan iba dengannya.

Dia segera berlari dan mencoba menyelamatkannya, akan tetapi mahluk mengerikan bertubuh besar itu membuka mulutnya dan seperti mengatakan sesuatu yang dengan cepat membuat mahluk mengerikan bertubuh kecil tadi menghentikan langkahnya.

Si pengejar, mahluk mengerikan yang seperti kesatria, terlihat sangat kesal karena targetnya memegang pedangnya, sehingga membuat dia tidak mampu menariknya kembali. Namun, dengan tenang dia menengadahkan tangannya dan tiba-tiba saja sebuah bola api terbentuk di atasnya, tanpa menunggu lama dia segera melemparkan bola api tersebut dan seketika menghanguskan targetnya itu tanpa sempat untuk mengeluarkan teriakan.

Selesai melenyapkan tergetnya, dia segera berjelan mendekati target terakhirnya yang kini sedang terduduk di tanah. Di wajah menyeramkannya terlihat jelas keputusasaan dan ketakutan. 

Aku yang sedari tadi hanya menjadi penonton dari kekejaman tersebut tak bisa tinggal diam saja melihatnya. Namun, apa yang bisa aku lakukan? Bahkan untuk berjalan mendekatinya saja aku tidak berani, seperti ada sebuah tembok tak terlihat di depanku yang membuat aku tidak dapat melangkah.

Aku mencoba menutup mataku, agar aku tidak melihat adegan pembantaian tersebut. Tapi, sial! Hati nuraniku tidak memperbolehkannya.

Dengan langkah yang ragu aku mencoba mendekati mereka, langkah demi langkah tanpa tahu alasan kenapa aku melakukan ini. Untuk kemanusiaan? Mereka bukan manusia. Untuk dibilang pahlawan? Tidak ada siapapun yang menyaksikan. Untuk dianggap hebat? Aku bahkan takut dengan wujud mereka.

Tidak ada alasan apapun, hanya hati nuraniku yang memaksa aku untuk mendekati mereka, dan ingin menghentikan semua ini.

Kini, langkah kaki yang ragu, telah menjadi lari yang pasti, tak perlu menunggu lama akhirnya aku berdiri di depan mahluk mengerikan bertubuh kecil, di hadapanku berdiri sesosok mahluk mengerikan sedang mengarahkan pedangnya ke arahku.

Aku membentangkan tanganku dan berdiri tegap menghadapnya. Membiarkan tubuhku menjadi perisai daging untuk menghalau serangan tersebut.

Mahluk mengerikan itu dengan cepat menusukan pedangnya, seketika aku menutup mataku, berharap bahwa semua rasa sakit yang akan aku derita tidak akan lama, juga agar aku tak lagi ragu untuk melakukan hal bodoh ini. Aku tahu, meskipun aku mati nanti, mungkin saja dia tetap akan mati olehnya.

Setidaknya, aku tidak akan membohongi hati nuraniku. Aku melakan ini demi keadilan di hatiku.

Namun, setelah sekian lama, aku tetap tidak merasakan apapun, tidak ada rasa sakit itu. Apakah mahluk itu ragu menyerang setelah aku datang? Tidak, aku yakin pasti bukan itu. Dengan perlahan aku membuka mata dan melihat apa yang terjadi, mahluk mengerikan itu masih berdiri di depanku, dia membuka mulutnya lebar dan seperti berterik. 

Aku perlahan menoleh ke belakang, dan ternyata mahluk mengerikan bertubuh kecil di belakangku sudah terpotong menjadi dua. 

Sial! Sial! Sial!

Ternyata aku tidak bisa menggunakan tubuhku menjadi perisai, aku lupa bahwa tubuhku yang transparan ini tak bisa disentuh atau menyentuh apapun di sini.

Lalu kenapa aku dibawa ke tempat ini? Untuk tujuan apa aku berada di sini? 

Lagi, pertanyaan tak terjawab kembali muncul dipikirannku.

Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, sebenarnya apa yang ingin dunia ini tunjukan padaku?

Setelah dia membunuh targetnya, dengan cepat dia terbang dan hilang entah kemana. Aku melihat arah dia pergi dan mencoba berjalan ke arah tersebut, mungkin saja aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku.

Jika Rito yang sedang berada di posisiku, apa yang akan dia lakukan? Kurasa dia akan terus melangkah, dia benar-benar berani. Jika Raku? Aku yakin dia akan sembunyi seperti waktu itu. Kemudian jika Dan yang sedang berada di posisiku? Entahlah, apa yang akan dia perbuat.

Sambil melangkah, aku memikirkan teman-temanku untuk menghibur diriku sendiri.

Diperjalanan aku terus menyaksikan pertarungan mahluk-mahluk mengerikan itu, tapi mereka sama sekali tidak menyadari aku, seperti aku bukanlah bagian dari dunia ini, jadi tidak bisa melakukan apapun.

Aku akhirnya melihat sebuah gerbang raksasa, benar, sangat besar hingga aku tidak dapat melihat bagian ujungnya. Gerbang itu terlihat sangat mengerikan, tapi entah kenapa firasatku menuntun agar aku mendekat ke gerbang ini.

Di sini juga terdapat banyak mahluk mengerikan sedang bertarung, tapi ada sedikit perbedaan, di antara mereka ada yang berbentuk seperti gagak, ada yang berbentuk elang, juga ada yang berbentuk seperti kesatria, tapi bagiku tetap saja, mereka semua sangat mengerikan.

Pertarungan di sini lebih dahsyat dari tempat lain, serangan yang mereka lakukan berbeda levelnya dari mahluk mengerikan sebelumnya. Di sini, kedua sisi terlihat seimbang, meskipun dapat aku simpulkan bahwa jumlah mereka sangat jauh berbeda.

Di satu sisi, ada tim yang berjumlahkan delapan mahluk mengerikan, di sisi lain jumlah mereka lebih dari dua puluh, tapi mereka berdelapan mampu mengimbanginya. Sungguh hebat. Terutama salah satu dari mereka berdelapan, mahluk mengerikan berwujud manusia dengan rambut putih dan terlihat cukup tampan, tapi, yah, aku tidak akan membeda-bedakan, akan tetap aku sebut mahluk mengerikan.

Dia mampu melawan banyak musuh sekaligus sambil sesekali memberikan serangan fatal bagi musuh-musuhnya.

Lama berlalu, pertarungan antara mereka semakin intens, banyak korban berjatuhan, dari pihak yang berjumlah delapan mahluk mengerikan kini hanya tersisa lima, sedangkan itu mahluk mengerikan yang lainnya tersisa belasan.

Aku kini menatap dengan saksama pada mahluk mengerikan bertubuh manusia dan berambut putih tadi, dia kini sedang dilindungi oleh salah satu sekutunya sambil melakukan sesuatu, mungkin dia sedang ingin melakukan jurus tertentu. Benar, percaya atau tidak, mereka semua bisa melakukan jurus-jurus yang sangat menakjubkan sekaligus mengerikan, jurus normal mereka biasanya adalah melemparkan bola api, ada yang berwarna merah, ada yang berwarna biru,ada juga yang berwarna hitam. 

Untuk jurus lainnya, bisa dibilang jurus spesial, semuanya berbeda-beda, ada yang dapat membuat tubuhnya menjadi besar, ada yang bisa menggandakan tubuhnya, ada juga yang dapat membuat pasukan monster dari tanah.

Setelah beberapa saat, sesosok tanda seperti lingkaran sihir tercipta di atas kepalanya, lalu sesaat setelahnya sesosok mahluk legenda, mahluk yang biasanya hanya ada dalam dongeng dan cerita, sesosok mahluk yang dapat membuat siapa saja takut untuk menatapnya, muncul dari lingkaran sihir tersebut, mahluk tersebut adalah sesosok naga yang terlihat sangat perkasa.

Naga itu dengan cepat mampu memporak-porandakan musuh-musuh di hadapannya. Dengan serangan bola apinya, dia mampu menghanguskan targetnya. Dengan datangnya naga tersebut, tim dengan lima mahluk mengerikan itu dengan cepat berlari ke arah gerbang raksasa.

Apa sebenarnya tujuan mereka? apakah mereka ingin membuka gerbang tersebut? 

Aku berlari menuju arah mereka dengan harapan mungkin setelah mereka membuka gerbang tersebut, aku dapat pergi dari dunia yang mengerikan ini. 

Lima mahluk mengerikan itu mampu dengan cepat menerobos musuh-musuhnya dan mendekati gerbang tersebut, lalu beberapa saat setelahnya dengan perlahan gerbang itu terbuka.

Aku berlari lebih kencang ke arah gerbang tersebut, sambil berharap bahwa setelah melewati gerbang itu maka mimpi buruk ini akan berakhir.

Kelima mahluk itu dengan cepat masuk ke gerbang tersebut lalu tiba-tiba saja pandanganku terlihat gelap. 

Apa yang terjadi? Kenapa aku kembali ke tempat gelap ini?

Aku terus memperhatikan sekitar, dan aku menemukan satu titik terang di antara gelapnya tempat ini. Dengan tergesa-gesa aku mencoba untuk meraih cahaya tersebut, akan tetapi dengan cepat cahaya itu menghilang dan sirna tanpa jejak.

Akhirnya, di sinilah aku, sebuah tempat tanpa harapan, yang ada di sini hanyalah kegelapan dan keputusasaan. 

Sebenarnya apa yang terjadi tadi? Kenapa aku tiba-tiba berada di dunia yang mengerikan itu? di sana aku bukanlah entitas apa-apa, itu seperti sebuah fragmen dari film, dimana aku hanya bisa melihat, tanpa bisa melakukan apapun. 

Satu lagi pertanyaan muncul dipikiranku, kenapa aku diperlihatkan fragmen tersebut?