Episode 296 - Rajah Kepak Sayap



“Tata cara serta penerapan keahlian di dalam dan di luar Pulau Belantara Pusat memiliki perbedaan...,” ungkap Enggang Kakimerah, Kepala Suku Dayak Kaki Merah. 

Pagi itu cuaca cerah. Pepohonan besar-besar di Pulau Belantara Pusat menjulang tinggi, berlomba-lomba meraih berkas sinar mentari demi keberlangsungan hidup. Pucuk dedaunan hijau muda di ujung atas pepohonan seolah terlihat piawai bergerak nun jauh di atas sana, dan hari ini seperti biasanya mereka penuh semangat untuk ikut serta di dalam perlombaan nan sengit. Di sela dedaunan, tak kalah semangat adalah kera-kera yang menari lincah diiringi burung-burung yang melantun riang. 

Bintang Tenggara telah menyetujui untuk ikut serta di dalam upacara adat mewakili suku Dayak Kaki Merah. Adapun alasan keikutsertaannya tak lain untuk melepaskan dan mengambil Si Kancil yang ditawan dan dijadikan salah satu hadiah di dalam upacara adat tersebut. Tentu Bintang Tenggara sangat merahasiakan niat bulus ini. 

Pada petang hari sebelumnya, kelompok dari suku Dayak Kaki Merah telah kembali ke lembah yang merupakan wilayah kediaman mereka. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, arus perpindahan binatang siluman kali ini tiada memporak-porandakan pemukiman mereka. Hanya beberapa bagian pagar atau gubuk yang berada di sisi terluar dusun saja yang rusak. Kerusakan pun tiadalah terlalu parah, paling banyak hanya perlu mengganti beberapa tiang kayu penyangga sahaja. 

Pada subuh hari tadi, Bintang Tenggara telah menyelinap keluar dari dusun. Ia menggali dan mengambil kembali Tempuling Raja Naga yang sempat dibenamkan ke dalam tanah di sisi barat luar pemukiman. Adalah berkat tulang ekor siluman sempurna nan berperan sebagai penangkal, yang menjadi penyebab selamatnya pemukiman suku Dayak Kaki Merah dari gelombang perpindahan binatang siluman. Selama dua hari dan dua malam, senjata pusaka tersebut menyibak aura tak kasat mata nan mengerikan bagi binatang siluman. 

Komodo Nagaradja tentu saja tak terlalu senang di kala bagian tubuhnya dijadikan penangkal binatang siluman. Ia menggerutu, menyumpah, bahkan menyalak... namun Bintang Tenggara sudah memiliki kekuatan mental yang memadai untuk mengabaikan setiap caci maki yang dilontarkan kepada dirinya. Pada akhirnya, Komodo Nagaradja hanya dapat menelan ketidakpuasan. Toh, tujuan dari tindakan anak didiknya tersebut adalah demi melindungi wilayah pemukiman. Sebagai salah satu Jenderal Bhayangkara, yang bersumpah setia untuk melindungi umat manusia dari binatang siluman liar, sepantasnya ia berbangga hati atas tindakan anak didiknya itu. Secara tak langsung, Bintang Tenggara telah mewarisi semangat melindungi.

“Para ahli di luar Pulau Belantara Pusat memanfaatkan unsur kesaktian yang bersemayam di dalam diri, kemudian mengimbuhkan tenaga dalam kepada unsur kesaktian tersebut untuk menghasilkan rupa dari unsur kesaktian...,” lanjut Enggang Kakimerah. 

Bintang Tenggara mencermati dalam diam. Betapa ia senang pada penjelasan seputar dunia keahlian. Benarkah terdapat perbedaan sudut pandang di dalam dunia keahlian itu sendiri? Perbedaan sudut pandang tersebut pada akhirnya mempengaruhi tata cara serta penerapan keahlian. Sungguh menarik hati. 

“Ikau memiliki unsur kesaktian hitam... namun memanfaatkan sebentuk cincin demi menguasai unsur kesaktian petir, bukankah demikian...?” 

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Kuau Kakimerah dapat mendeteksi unsur kesaktian tanpa bantuan daun Sirih Kemuning. Tentu saja ayahandanya dapat melakukan tindakan serupa. Ini adalah kemampuan bawaan, pikir anak remaja itu. 

“Unsur kesaktian hitam tak dapat dikendalikan... Ia memiliki sifat kehancuran. Akan tetapi, ikau telah terbiasa dengan unsur kesaktian petir.”

Bintang Tenggara mengangguk lagi. Sampai sejauh ini, ia dapat memahami penjelasan yang disampaikan.

“Akan tetapi, suku dayak memanfaatkan ‘zat’ dari luar tubuh sebagai perantara dalam menghasilkan rupa. Tenaga dalam dan unsur kesaktian tetap memiliki peran, namun dengan kehadiran zat, unsur kesaktian yang dihasilkan datang langsung dari alam dan dengan demikian berkali lipat kekuatannya.” 

“Zat...? Perantara...? Alam...? Berkali lipat..?” ulang Bintang Tenggara terbata. Kini anak remaja itu mulai terlihat kebingungan. 

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Tambat,” gumam Enggang Kakimerah. Segera setelah itu, jalinan rotan pun menyeruak cepat dari permukaan tanah. Ia hendak memberikan contoh nyata bahwa unsur kesaktian kayu yang ia hasilkan berasal dari alam, bukan dari dalam diri. 

Ini bukanlah pertama kali Bintang Tenggara menyaksikan kemampuan atau jurus yang serupa. Selama ini, ia menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Kuau Kakimerah merupakan tindakan merapal unsur kesaktian kayu. Perbedaannya adalah Kuau Kakimerah seolah merapal jampi-jampi saja, yang sebenarnya merupakan nama jurus unsur kesaktian milik gadis tersebut. Banyak ahli kurang berpengalaman di Negeri Dua Samudera yang akan berpandangan sama, tentu saja mereka keliru.

Selain itu, Bintang Tenggara sempat menangkap perbedaan yang tak pernah ia saksikan pada Kuau Kakimerah. Sepintas, muncul rajah atau tato baru di lengan Enggang Kakimerah. Namun, karena tokoh tersebut memang memiliki demikian banyak rajah di sekujur tubuh, tak terlalu kentara perbedaannya.  

“Ini bukanlah ‘jurus’ sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan ahli di luar sana… Ini adalah tata cara memanfaatkan unsur kesaktian dari alam dengan meminta bantuan zat perantara… kepada roh…,” lanjut Enggang Kakimerah.

“Roh…?” Bintang Tenggara belum sempat mencerna perihal rajah yang baru muncul, tapi kini penjelasan Enggang Kakimerah membuat ia semakin kebingungan. “Roh orang yang telah wafat…?”

“Roh dan jiwa yang telah wafat tidaklah sama…,” tanggap Enggang Kakimerah. “Roh merupakan makhluk hidup yang tak berjasad, tetapi berpikiran dan berperasaan…” 

Roh… Jiwa… sama saja bukan…? Batin Bintang Tenggara. Bila demikian, bukankah Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa adalah roh juga? Kedua tokoh tersebut merupakan makhluk hidup yang tak berjasad… 

“Apakah yang Kepala Suku maksudkan sama dengan ahli nan kehilangan raga, lalu menjadi jiwa gentayangan…?”

“Hoi!” sergah Komodo Nagaradja menolak keras. 

“Bukan… Bukan…” Ginseng Perkasa seolah mengetahui maksud dari Enggang Kakimerah. 

“Berbeda. Yang ikau katakan itu adalah jiwa yang berasal dari raga manusia atau raga siluman sempurna, namun karena sesuatu hal kehilangan atau keluar dari raga mereka… Berbeda dengan roh yang sejak awal keberadaannya merupakan zat yang tak berjasad. 

Bintang Tenggara bukan lagi kebingungan, ia telah melewati ambang batas keadaan bingung… Nalarnya berupaya mencerna, namun tak juga memperoleh gambaran yang jelas. 

Menyaksikan raut wajah Bintang Tenggara menjadi demikian kusut, Enggang Kakimerah hanya tersenyum. Ia sudah dapat memperkirakan reaksi yang akan muncul bagi ahli dari luar Pulau Belantara Pusat di kala memperoleh penjelasan perihal ‘roh’. 

“Bagi kami suku dayak, mata hati memiliki fungsi yang lain…,” ujarnya mengalihkan pokok pembicaraan. “Mata hati dapat dilatih untuk melihat roh. Setelah dapat melihat keberadaan roh, kemudian menjadikan roh yang sesuai sebagai perantara dalam merapal unsur kesaktian dari alam.”

“Bagaimanakah cara berlatih melihat roh…?” aju Bintang Tenggara cepat. 

“Melalui balampah atau bertapa…”

“Bertapa…?”

“Balampah untuk menghubungi roh, yang dilakukan seorang diri akan memakan waktu dan bergantung pada keberuntungan. Oleh karena itu, malam ini diriku akan memandu ikau melakukan balampah. Diriku akan mengundang kehadiran sebanyak mungkin roh…” 

Usai mendapat penjelasan dari Enggang Kakimerah, Bintang Tenggara masih saja belum mengerti. Oleh karena itu, daripada melamun saja, sisa hari ia manfaatkan untuk membantu kegiatan di dusun. Sebagin besar pekerjaan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kerusakan di sekitar dusun. Walau tak seberapa, perlu kerusakan tersebut dibenahi segera. 

Waktu berlalu cepat. Malam telah tiba dan Bintang Tenggara bersama Enggang Kakimerah melangkah membelah gelapnya malam. Suasana di Pulau Belantara Pusat di kala malam hari sangatlah ramai. Jangkrik, burung hantu, kelelawar dan binatang-binatang malam lain bermain riang gembira. 

Tak terlalu jauh dari dusun, di samping sebatang pohon nan besar, Enggang Kakimerah berhenti sejenak. Usai menyapu pandang keadaan sekeliling, ia duduk bersila. Kemudian, ayahanda Kuau Kakimerah itu meminta Bintang Tenggara melakukan hal yang sama di hadapannya. 

“Tutup mata, abaikan suara-suara yang terdengar…,” bisik Enggang Kakimerah. “Menyatulah dengan alam, dan tebar mata hati sampai sejauh mungkin…”

Meski tak terlalu memahami kata-kata tokoh di hadapannya, Bintang Tenggara tetap mengikuti apa yang dianjurkan. Akan tetapi, ia kesulitan mengabaikan suara-suara binatang malam dan menyatu dengan alam… Bagaimanakah caranya menyatu dengan alam…? Tak memiliki petunjuk, ia duduk diam sahaja sambil memejamkam mata dan menebar mata hati. 

“Perjalanan yang akan ikau tempuh, biasa disebut sebagai kemampuan ghaib bagi ahli di luar Pulau Belantara Pusat.”

Tak lama kemudian, anak remaja tersebut merasakan keanehan pada tebaran mata hatinya. Sepertinya ada mata hati dari ahli lain yang hendak menyatu, atau lebih tepatnya memandu. Ia membiarkan saja, karena segera menyadari bahwa mata hati tersebut berasal dari Enggang Kakimerah. 

Mata hati Bintang Tenggara mengikuti alunan mata hati Enggang Kakimerah. Ia pun hanyut dalam iramanya. Tak berselang lama, anak remaja tersebut menyaksikan keberadaan semacam tirai transparan berwarna keunguan. Mata hatinya berupaya menembus tirai tersebut, namun terdapat kekuatan tak kasat mata yang membentengi. 

Waktu terus berlalu, kini suasana berubah sunyi lagi sepi. Bintang Tenggara masih berupaya menembus tirai ungu, namun belum jua membuahkan hasil. Perlahan, ia memusatkan mata hati hanya pada tirai tersebut. 

“Swush!” 

Mata hati Bintang Tenggara tiada berhasil menembus tirai keunguan. Akan tetapi, tetiba tirai tersebut melesat dan seolah menempel pada kedua bola matanya! Sontak anak remaja tersebut membuka mata karena sangat terkejut. 

Di kala membuka mata, Bintang Tenggara mendapati bahwa Enggang Kakimerah masih duduk bersila di hadapan. Akan tetapi, menoleh ke sekeliling, bukan lagi gelap malam yang ia saksikan, melainkan pandangan matanya berwarna serba keunguan. Ternyata tirai berwarna keunguan tadi sudah melapisi kedua bola matanya! Dalam keadaan ini, anak remaja itu tercengang, karena dapat ia menyaksikan berbagai binatang liar yang beterbangan di wilayah tersebut. Di atas, di samping, di depan dan belakang… ibarat bayangan nan berpijar. Ada ular, ulat bulu, lipan, kalajengking, harimau, orang utan, berbagai jenis binatang yang tak terkira jumlahnya. 

Inikah yang dimaksud dengan roh… batin Bintang Tenggara. Ia terus mengamati, namun tak satu pun dari roh-roh yang berwujud binatang tersebut menarik perhatian… Sampai ada sesuatu yang berkelebat cepat nun jauh di atas sana!

Roh seekor burung… Bintang Tenggara kembali membatin. Matanya kesulitan menangkap wujud roh burung tersebut, karena terhalang oleh roh binatang-binatang lain dan karena kecepatannya melesat demikian tinggi. Penasaran, Bintang Tenggara memusatkan perhatian mata hati keluar dari wilayah di mana berbagai jenis roh binatang melayang pelan. 

Burung tersebut terbang berkelebat. Sangat cepat. Bintang Tenggara berupaya mencermati wujudnya, namun masih saja kesulitan. Dengan segenap tenaga yang ada, dan berbekal kemampuan mata hati yang sudah terasah karena melalui Lintasan Saujana Jiwa di Perguruan Anantawikramottunggadewa, ia terus mengikuti gerakan cepat sang burung. 

Tetiba, di luar dugaan, burung tersebut menoleh ke arah Bintang Tenggara. Kedua matanya mereka bertemu. Sang burung telah menyadari bahwa ada ahli yang berupaya mengikuti gerakannya. Ia terusik, ia tak senang. Berputar beberapa kali lagi di udara, tetiba burung tersebut menukik tajam ke arah Bintang Tenggara! 

Atas kejadian tersebut, segenap roh binatang yang melayang-layang ringan, sontak waspada. Secara naluriah, roh binatang-binatang tersebut segera menyingkir demi membuka ruang. Tak diragukan, bahwanya mereka menyadari akan datangnya ancaman! 

Bertemu matadengan roh burung tersebut membuat jantung Bintang Tenggara sontak berdetak keras. Di kala menyaksikan burung tersebut menukik ke arahnya, keringat langsung bercucuran di dahi dan pelipis. Anak remaja tersebut berupaya bangkit, bergerak menghindar, atau segera bersembunyi. Namun demikian, sekujur tubuh terasa lemas, tak kuasa bergerak. 

Bintang Tenggara ketakutan!

Dalam sekelebat, roh burung tersebut telah tiba di hadapan mangsanya, dan kini menghunus cakar nan besar. Situasi ini mirip dengan ketika seekor elang nan perkasa hendak menerkam seekor kelinci! Kelinci sudah mati langkah, tak lagi dapat bergerak! 

“Flap!”

Tepat di hadapan mangsanya, burung tersebut merentangkan sayap nan terkembang megah. Bintang Tenggara terbelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia siap menjemput ajal. Akan tetapi, di luar dugaan, burung tersebut berhenti di udara dan melayang di tempat. Satu cakarnya nan besar sudah mencengkeram wajah dan kepala anak remaja tersebut, sedangkan cakar lain siap mengoyak pundak. Jika salah bertindak, Bintang Tenggara sadar bahwa nyawanya berada di ujung tanduk, atau cakar!

“Anak muda, apakah engkau mencari kekuatan!?” Tetiba suara nan dalam menegur dan menggetarkan jalinan mata hati. Roh burung itu memberi kesempatan. 

“Ti… tidak…,” Dengan suara bergetar, Bintang Tenggara menjawab tak pasti. 

“Lalu… apakah gerangan yang engkau kehendaki!?” 

“Ilmu pengetahuan!”


===


“Wahai Roh Nyaru Menteng nan mulia, kumohon inayat akan degar… Halilintar!”

Kepala mendongak dan sorot mata Bintang Tenggara mengarah tinggi ke angkasa. Pandangan matanya terhadap keadaan sekitar sudah berubah serba ungu, petanda bahwa ia sedang dalam keadaan yang memungkinkan untuk melihat roh. Terdapat berbagai macam roh berwujud binatang yang sedia kala tak kasat mata, namun kini terlihat jelas melayang-layang di wilayah di mana dirinya berada. 

Kata-kata yang terucap dari mulut anak remaja perwakilan suku Dayak Kaki Merah itu bukanlah jampi-jampi, tetapi merupakan panggilan. Panggilan tersebut hanya ditujukan kepada roh seekor burung rajawali raksasa yang sedang terbang melayang tinggi di angkasa!

Roh burung rajawali yang dipanggil menanggapi dan serta merta menghilang dari tempat di mana ia berada. Ia kemudian muncul dalam wujud pola rajah sepasang kepak sayap di bahu kiri dan kanan. Karena mengenakan atasan tanpa lengan, tentu keberadaan rajah tersebut terlihat sangat kentara, apalagi pada permukaan kulit bernuansa kuning langsat. Rajah tersebut berperan sebagai perantara, dan di saat yang bersamaan pula… halilitar berderak!


Di permukaan daun pada pohon raksasa lain, enam Balian yang merupakan para anggota Dewan Dayak dari keenam rumpun, sontak bangkit mengamati. Setiap satu dari mereka menyadari akan sesuatu yang hanya mereka dan beberapa sesepuh suku dayak saja ketahui... 

“Rajah kepak sayap di bahu anak itu…”

“Apakah kedua mata tua ini mengelabui..?”

Wajah suram Balian Bapuyu Huludaya berubah cerah. Tanpa ucapan barang sepatah kata pun, tubuhnya tetiba menghilang dari tempat di mana ia sedang memantau keadaan para remaja yang telah tersingkir. Sebagai tokoh yang bertanggung jawab langsung dalam penyelenggaraan upacara adat, segera hendak ia memastikan…

Pada permukaan daun raksasa lain, di tengah pertarungan yang sedang berlangsung sengit, seorang remaja lelaki malah terpaku di tempat. Kedua matanya melotot ke arah Bintang Tenggara. Perasaan campur aduk, ingatannya berkelebat ke masa silam. Ingin rasanya ia mendatangi Bintang Tenggara… saat ini juga!