Episode 295 - Roh... Halilintar...



Terlalu lemah atau pun tidak, di atas setiap lembar daun raksasa kini menyisakan hanya delapan remaja. Ralat, di atas daun raksasa di mana Bintang Tenggara berada, malah hanya menyisakan enam ahli sahaja. Dengan demikian, karena terdapat 32 lembar daun raksasa, maka secara keseluruhan jumlah ahli yang dapat melanjutkan ke babak berikutnya adalah 254. Perlu diingat pula, bahwa para remaja tersebut kesemuanya berada pada Kasta Perak. 

Bintang Tenggara sudah cukup memahami kemampuan keempat remaja di hadapannya. Sejauh ini ia telah memantau kemampuan mereka dari pinggiran daun. Jika babak selanjutnya nanti adalah pengurangan jumlah peserta di atas lembar daun yang sama, maka dirinya yakin dan percaya bahwasanya memiliki kemampuan yang memadai untuk menyingkirkan keempat ahli tersebut...

“Brrrttt...” 

Tetiba lembar daun raksasa di mana para remaja berada, bergetar keras. Saking kerasnya, terasa sulit untuk berpijak dan menjaga keseimbangan tubuh. Bergetarnya lembar daun raksasa, diikuti pula dengan pergerakan dahan-dahan yang menjadi penyangganya. Tak lama, semua remaja yang berada di atas tiap-tiap permukaan daun mulai dapat menyimpulkan alasan mengapa dedaunan raksasa tersebut bergetar. Setiap dua lembar daun nyatanya mulai bergerak merapat, menempel, lalu setengah bagiannya saling tumpang-tindih. Kini, mereka berada di atas 16 arena pertarungan...

Gawat! batin Bintang Tenggara. Ia menatap kepada Puyuh Kakimerah, lalu melontar pandang ke arah empat remaja dari suku Dayak Sayap Angin. Pandangan mata mereka bertemu, dan pemikiran mereka menyatu. Tak terlalu sulit untuk membayangkan kejadian apa yang akan berlangsung selanjutnya. 

“Dua lembar daun menjadi satu, hanya ada sepuluh ahli yang berhak melangkah maju!” 

Suara tersebut bergema di seantero wilayah pohon maha raksasa, dan serta merta membuat para remaja semakin bersiaga. Kini, secara umum jumlah ahli yang berada di atas daun raksana yang saling beririsan adalah enam belas, atau delapan melawan delapan. Tentu dengan catatan bahwa pada lembar daun yang mana Bintang Tenggara berada, hanyalah terdiri dari empat belas remaja. Atau dengan kata lain, empat ahli harus disingkirkan. 

“Saudaraku dari suku Dayak Sayap Angin,” seorang remaja yang berasal dari lembar daun yang baru saja menempel membuka perbincangan. “Jikalau babak-babak selanjutnya nanti adalah penyatuan dedaunan lagi, maka kita sebaiknya mempertahankan anggota-anggota yang dapat diandalkan.” 

Bintang Tenggara menghela napas panjang, dan sudah dapat menyimpulkan maksud dan tujuan dari kata-kata remaja di hadapannya itu. Dengan “mempertahankan anggota-anggota yang dapat diandalkan” maka jelas akan maksud untuk menyingkirkan mereka yang dianggap lemah, demi tujuan bertahan di babak elanjutnya. Lemah bukan hanya dipandang dari kemampuan persilatan dan kesaktian perorangan, namun lemah dapat ditentukan dari sisi jumlah perwakilan dan status kelompok.

Dengan kata lain, mereka akan menyingkirkan dua perwakilan dari suku Dayak Kaki Merah! 

“Kesemua dari mereka berasal dari satu suku…,” bisik Puyuh Kakimerah mengacu kepada para remaja dari daun yang baru saja beririsan. “Dayak Temuan Hulu… merupakan salah satu suku besar di wilayah pedalaman…” 

Tentu Bintang Tenggara bisa menyimpulkan sendiri. Bilamana satu sub-suku memiliki jumlah perwakilan sebanyak delapan ahli, dan kedelapan ahli tersebut dapat melangkahi 40-an ahli dari daun yang sama, maka mereka bukanlah sembarang remaja. Terlebih lagi, bukan hanya kemampuan secara perorangan yang sepantasnya menonjol, melainkan kerja sama di antara mereka pun pastilah berlangsung apik.

Di dalam rentang waktu singkat, Bintang Tenggara melakukan berbagai ragam perhitungan di dalam benaknya. Pertarungan menghadapi lawan dengan jumlah yang terlalu terpaut jauh, akan berujung kesia-siaan. Kemungkinan yang akan terjadi adalah Dayak Temuan Hulu memberi jalan kepada Dayak Sayap Angin, menyingkirkan Dayak Kakimerah, kemudian mengorbankan dua ahli dari pihak mereka sendiri. Toh, mengundurkan diri dari upacara ada ini sangatlah mudah, di mana seorang peserta hanya perlu berujar bahwa ia menyerah, untuk kemudian dipindahkan ke pohon raksasa yang satu lagi. Dengan demikian, prasyarat jumlah sepuluh remaja di atas daun akan tercapai dengan sempurna. 

Meskipun demikian, sepantasnya tak tertutup kemungkinan untuk menyingkirkan kesemua empat ahli dari Dayak Sayap Angin dan mempertahankan Dayak Kaki Merah, dengan demikian Dayak Temuan Hulu tak perlu mengorbankan dua anggota mereka sendiri. Akan tetapi, dari kata-kata pembuka tadi, sepertinya skenario pertama adalah yang akan berlangsung dalam waktu dekat. 

Benak Bintang Tenggara terus berputar deras. Lagi-lagi ia mengetahui bahwa permasalahan di hadapan mata kali ini tak akan dapat diatasi dengan jurus-jurus persilatan maupun kesaktian. Seandainya masih memiliki kemampuan untuk dapat merapal formasi segel, maka ia mungkin berani bertaruh. Keadaan saat ini cukup rumit. Menyabetkan Golok Mustika Pencuri Gesit justru akan menyingkirkan jumlah lawan yang lebih banyak, sehingga nantinya jumlah yang tersisa bisa-bisa malah kurang dari sepuluh ahli. Pada babak berikutnya, keadaan tersebut tentunya akan sangat menyulitkan. 

Apakah segala sesuatu harus diselesaikan dengan pertarungan? Pemikiran ini kembali mencuat di dalam benak Bintang Tenggara, meski telah cukup lama tenggelam sembari ia menjalani dunia keahlian. Kekerasan sepantasnya tiada menjadi jawaban mutlak atas setiap permasalahan yang dihadapi. Dunia persilatan dan kesaktian saja yang pelik, dengan mengisyaratkan bahwa pertarungan bersifat hakiki. 

Apakah nilai seorang ahli hanya ditentukan dari kasta dan tingkat keahlian…? Dari jurus-jurus persilatan dan kesaktian…? Bagaimana dengan budi pekerti…? Kerja keras…? Semangat membela kebenaran dan keadilan…? Melindungi yang lemah…?

“Hei! Apa yang engkau pikirkan!?” Komodo Nagaradja menyergah. Sang Super Guru sudah paham betul betapa anak didiknya jikalau sudah melamun, maka akan terbuai sampai entah ke langit mana dan bahkan melupakan ancaman di depan mata. 

“Saudaraku dari suku Dayak Sayap Angin…” Tetiba si Super Murid itu berujar sambil menudingkan jemari ke arah Dayak Temuan Hulu. “Mereka hanya berupaya mempertahankan keunggulan jumlah!” 

“Cih! Kau sudah gila!” hardik remaja dari kubu Dayak Temuan Hulu. “Jikalau hendak mempertahankan jumlah dan keunggulan, maka kami akan menyingkirkan Dayak Sayap Angin dan mempertahankan kalian Dayak Kaki Merah!” 

“Serta mencari jaminan atas keselamatan diri mereka sendiri!” lanjut Bintang Tenggara. “Dengan bersekutu, mereka seolah rela mengorbankan anggotanya sendiri. Namun sadarilah, sesungguhnya mereka hanya mengorbankan dua ahli. Pada saatnya nanti, mereka akan dapat mengorbankan empat ahli, yaitu kalian Dayak Sayap Angin.”

Pemikiran Bintang Tenggara bukan tak berasalan. Jika mencapai jumlah sepuluh ahli dengan komposisi enam berbanding empat, maka dari sisi jumlah Dayak Temuan Hulu yang telah mengorbankan dua ahli tetap berada sebagai pihak mayoritas. Oleh karena itu, pada tantangan berikutnya, bukan tak mungkin mereka mengorbankan Dayak Sayap Angin untuk bersekutu dengan pihak lain. 

“Oleh sebab itu…,” lanjut Bintang Tenggara. “Komposisi yang tepat dalam persekutuan ini adalah 4-4-2.”

“Heh… kalian Kaki Merah hendak menyingkirkan empat anggota kami…?” cibir lawan. Siapa pun menyadari bahwa di dalam pertarungan delapan melawan dua, sama-sama berada pada Kasta Perak, maka kecenderungan kemenangan berada pada pihak dengan jumlah lebih banyak. 

“Apakah enam melawan delapan memungkikan…?” tetiba remaja dari Dayak Sayap Angin menyela. 

“Pikirkan matang-matang keputusan kalian!” sergah remaja dari kelompok Dayak Temuan Hulu kepada kelompok Dayak Sayap Angin. Di saat yang sama, para anggotanya bersiaga.

“Aku telah menyaksikan cara bertarung mereka… Terlepas apakah mereka berasal dari suku pembelot, kemampuan mereka dapat diandalkan… Sedangkan aku belum mengetahui kemampuan kalian sama sekali.” Tanggapan dingin ini justru membuat suasana memanas. 

“Tujuan dari upacara adat ini bukanlah adu kekuatan…,” sela Bintang Tenggara yang sebelumnya menguras otak mencari jalan agar tak perlu melibatkan diri di dalam pertarungan. Kembali lagi, pendekatan Dayak Kakimerah di dalam upacara adat ini adalah sebaik mungkin menghindar dari pertarungan. “Sejak awal, tujuan dari upacara adat adalah mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan satu kelompok sahaja.”

Keduabelas remaja menatap tajam ke arah Bintang Tenggara. Bukan tak pernah terlintas di dalam benak mereka akan kemungkinan ini, namun memang belum ada saja yang menyuarkan. Dan kini, setelah diutarakan dengan lugas, mereka menjadi semakin yakin. Mereka pun menyapu pandang ke arah daun-daun raksasa lain. Ada yang terlibat pertarungan sengit, ada pula yang tenang-tenang saja karena kemungkinan berasal dari satu rumpun dayak.

“Simak baik-baik perintah yang diberi… ‘Dua lembar daun menjadi satu, hanya ada sepuluh ahli yang berhak melangkah maju!’ Tiada disebutkan bahwa kita diharuskan bertarung untuk saling menyingkirkan dan mencapai jumlah sepuluh…,” lanjut Bintang Tenggara, sedikit memaksakan kehendak. 

"Menang jadi arang, kalah jadi abu…" Tetiba Puyuh Kakimerah menimpali. “Jikalau kita terlibat di dalam pertarungan sekarang, maka pada babak berikutnya sesiapa pun pemenangnya akan tampil lemah di kala menghadapi lawan yang baru.”

“Lalu, mengapa kami yang terkesan harus mengorbankan anggota…?” sergah salah seorang anggota kelompok Dayak Temuan Hulu.

“Agar susunan anggota di dalam kelompok sepuluh nantinya lebih berimbang… Tujuan dari upacara adat ini adalah membangun kerjasama antar suku.” 

Kata-kata Bintang Tenggara ini bukan tanpa alasan. Selain suku Dayak Kaki Merah, tentunya suku-suku dayak lain juga menyadari kejanggalan terkait upacara adat. Sekira tiga purnama silam, secara mendadak dan tanpa memberi alasan yang memuaskan, tiba-tiba Dewan Dayak memutuskan untuk melangsungkan upacara adat. Walau ratusan suku sontak menyepakati, namun hal tersebut bukan berarti mereka tiada mempertanyakan dan melakukan penyelidikan masing-masing. Akan tetapi, yang ditemui malah kenyataan bahwa segala sesuatunya terkait upacara adat adalah serba tertutup dan rahasia, sehingga menimbulkan kecurigaan. Kecurigaan tersebut, pun disampaikan kepada para perwakilan agar lebih waspada. 

“Keseimbangan jumlah anggota belum dapat menjadi alasan mengapa kami harus mengorbankan empat ahli!” hardik perwakilan dari kelompok Dayak Temuan Hulu. Tentu mereka sangat waspada agar tak mengambil keputusan yang nantinya malah merugikan diri sendiri.

“Masing-masing dari kita memiliki kelebihan masing-masing,” lanjut Bintang Tenggara. 

“Waktu sebentar lagi habis. Bagi daun yang pesertanya belum berkurang menjadi sepuluh ahli, maka seluruh peserta di atasnya akan dianggap gugur!” 

Suara ketua panitia Balian Bapuyu Huludaya datang di waktu yang sangat tepat. Dipastikan bahwa pertarungan di antara mereka tak akan berlangsung cepat. Sehebat apa pun kemampuan perorangan dan kerjasama anggota kelompok Dayak Temuan hulu, pertarungan delapan melawan enam tak akan berlangsung singkat. Di lain sisi, terdapat risiko besar bahwa mereka tak dapat melanjutkan ke babak selanjutnya. 

“Mengapa kami harus percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut suku pembelot!? Kalian hanya mencari aman… Bisa saja nantinya kalian menusuk dari belakang!” 

“Kuyakinkan bahwa mereka dapat dipercaya,” sela kelompok Dayak Sayap Angin membela. 

“Pada babak berikutnya, hanya kami berdua yang akan bertarung menyingkirkan lawan!” tegas Bintang Tenggara dalam upaya meningkatkan kepercayaan, sekaligus membuktikan kemampuan Dayak Kaki Merah. 

“Aku menyerah!” 

Menyadari bahwa mereka tak punya pilihan lain untuk dapat melanjutkan, serta-merta tubuh empat anggota kelompok Dayak Temuan Hulu yang menyatakan pengunduran diri dilingkupi oleh bulir-bulir cahaya. Mereka kemudian dibawa melesat pergi seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Dengan demikian, sepuluh peserta adalah yang tersisa di atas daun. Empat dari Dayak Temuan Hulu, Empat Dayak Sayap Angin, dan dua dari Dayak Kaki Merah. 

“Brrrttt...” 

Peristiwa yang sama berulang kembali. Dahan-dahan yang menyangga lembar-lembar daun raksasa bergerak. Kini, terdapat 16 kelompok yang disatukan ke atas delapan arena daun raksana. 

“Dua lembar daun menjadi satu, hanya ada sepuluh ahli yang berhak melangkah maju!” 

Perintah yang sama pun ikut berulang. Akan tetapi, di kala lawan telah hadir di hadapan, dua ahli sontak melompat maju. Demi dapat melanjutkan ke babak ini, Bintang Tenggara bersama dengan Puyuh Kakimerah telah berjanji untuk menyingkirkan lawan yang baru tiba. Tindakan ini demi menjaga agar para sekutu tetap berada dalam kondisi terbaik untuk menghadapi babak berikutnya, serta membuktikan diri bahwa suku Dayak Kaki Merah tak akan membelot. 

Berakhir sudah pertarungan kata-kata serta taktik untuk menghindar dari pertarungan! Di hadapan lawan yang sudah bersiaga, Bintang Tenggara tiada ragu. Anak remaja itu mengangkat kedua belah lengan tinggi-tinggi seolah hendak menggapai langit, kemudian ia bergumam…

“Wahai Roh Nyaru Menteng, kumohon inayat akan degar… Halilintar!



Catatan:

Dalam kepercayaan Dayak, ketika Ranying Mahatala menciptakan alam semesta, Ia juga bermanifestasi ke dalam beberapa wujud untuk membantu manusia. Salah satu wujud yang mengerikan dari manifestasi Ranying Mahatala adalah Nyaru Menteng, atau disebut juga Nayu. 

Dalam kepercayaan Dayak, Nyaru Menteng atau Nayu adalah penguasa perang, yang dapat mengendalikan angin, halilintar dan api. Ia dikatakan memiliki ciri tubuh layaknya manusia dan dari tangannya bisa mengeluarkan petir.