Episode 83 - Fhonia


Di wilayah masuk lantai 3.

“Brengsek!” sahut Nicholas geram sambil menepuk-nepuk baju hitamnya yang basah kuyup. “Masuk-masuk sudah dibikin basah kuyup begini.”

Party Nicholas berjalan berdampingan di tengah hutan gelap ini.

“Hah... buku panduannya sudah lecek dan lepek begini.” kata Velizar sambil membolak-balikan halaman yang basah. “Hah... buang saja ya.” Velizar membuang buku panduannya itu seperti sampah. “Buku ini menghilangkan kejutannya.” 

“Brr... dingin. Tadi terang banget, sekarang malah malam gelap begini.” kata Sinus menggigil. “Apa ada hantu ya?”

“Bodoh... hantu itu juga cuma monster dungeon,” balas Nicholas. “Tinggal kuserang saja.”

“Hmph!” Luxis mengibas pedang rapiernya lalu secara anggun memasukkannya ke dalam sarung pedangnya. “Sepertinya kita party pertama yang berhasil sampai sini.” 

“Huh?!” Nicholas tersenyum sambil menenunduk dengan mata tertutup. “Ternyata kau lumayan juga, pengguna elemen es melawan monster air yang menenggelamkan penantangnya saat baru masuk.”

“Mudahkan?” balas Luxis dengan ekspresi meremehkan. “Bekukan banjirnya dan segera naik ke permukaan.”

“Namun bukan itu yang merepotkan...” kata Velizar. “Tapi...”

***

Fhonia yang tertikam, kemudian dijatuhkan ke rumput mengerang kesakitan.

“ARGGGHHH !!” teriak Fhonia. “Adududuh, sakit sakit, sakit! Sakit! Uwaa... sakit!”

Fhonia berkeringat, wajahnya terlihat sekali merasakan sakit yang luar biasa, pupil matanya mengecil dan perutnya yang ramping mengalirkan darah merah. Ditambah lagi efek samping kemampuan summon, setiap gerakkan apapun yang ia lakukan baik gerak mulut untuk berteriak sekalipun, membuatnya semakin nyeri. Ia lumpuh dalam kondisi terluka.

Fhonia menangis mengeluarkan air mata, meski ia ingin bergerak seperti anak kecil yang sedang mengambek, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Kini ia hanya terbaring diatas rumput dengan posisi kepala menghadap ke kiri lalu mengeluarkan air mata,

“Te-man, te-man.” ucap Fhonia terbatah-batah dengan berbaring luka dan air mata di wajahnya. ”To-long a... ku.”

“Brengsek!” sahut Alzen geram, seketika tangan kanannya berkobar api yang tingginya melebihi pundaknya. 

Alzen mengulurkan tangan ke depan,

“Fireball !!”

WUSHHH !!

Sebuah serbuan bola api besar menerjal ke arah Aqua Prince, dalam lintasannya, api itu membuat rumput yang dilewatinya hingga menjadi hitam terbakar.

Aqua Prince yang wujudnya seorang pria kekar berarmor dengan senjata tombak trident itu langsung membuat kuda-kuda bertahan dan menahan langsung serangan Alzen.

DRUSSHHH !!

Aqua Prince yang seluruh tubuhnya terbuat dari air, Separuh kiri badannya lenyap terbakar hingga menjadi uap. Separuh wajah dan lengannya rusak. Meski begitu, ia masih tegap berdiri dengan senjata Tridentnya di genggaman tangan kanannya.

“Hah... hah...” Alzen memegang dadanya dan tubuhnya keringatan, bercampur dengan air yang membasahinya. “Grr...” meski lelah, amarah Alzen belum surut.

Dalam posisi seperti itu, mata Aqua Prince menoleh ke kiri, memandangi kerusakan tubuhnya, yang jika diderita manusia biasa akan segera menghilangan nyawanya. Dan tak lama, gerak mata kanannya berbalik menoleh ke arah Alzen. Alis matanya menurun, mulutnya yang cuma separuh itu terbuka sedikit menunjukkan ekpresi marah.

Krincing, krincing...

Aqua Prince membungkuk dan melakukan kuda-kuda seperti siap melesat.

Lalu...

WRUSSHH !!

Aqua Prince melesat dan siap menikam Alzen yang masih cukup jauh darinya, selagi ia berlari air dari kolam bergerak naik untuk mengganti tubuhnya yang rusak sebelumnya.

“KRAAAAAA !!” teriak Aqua Prince seperti jeritan ikan pemangsa.

“Grr! Kau pikir aku takut!” Alzen yang geram, melebarkan tangannya lalu tubuhnya membungkuk.

Kemudian...

“Fire Pillar !!”

BRUSSSSHHHH !!

Sebuah putaran api di cast Alzen dari bawah ke atas yang berputar hingga ke atas.

“KRAAAAA !!” teriak Aqua Prince menjerit di tengah kobaran api, siluetnya terlihat jelas di dalam api itu dan dari kaki, badan hingga kepalanya dengan cepat berubah menjadi uap putih.

“Hah... hah... ohog! Ohog!” Alzen membungkuk dan terbatuk-batuk, dadanya sesak, tangan kanannya sekali lagi memegangi dadanya. “Tahan Alzen, tahan.” tegas Alzen pada dirinya sendiri, kemudian ia melepas genggaman tangan di dadanya dengan memaksakan diri. “Belum cukup, BELUM CUKUP!!”

Alzen kembali naik, mengarahkan tangan ke depan untuk meng-cast sihir api berikutnya pada Aqua Prince.

“KRAAAAA !!” teriak Aqua Prince sambil tangan kanannya yang berada di luar tiang api itu bergerak mundur.

Krincing, krincing...

“Explo...” 

Alzen bersiap meng-cast serangan berikutnya.

Krincing, krincing, krincing...

CRUSSHHHTTT !!

Alzen tertikam oleh lemparan trident Aqua Prince. Segera ia tersungkur dengan dengkul kaki menopangnya. Tangan kanannya tidak selesai meng-cast sihir dashyat berikutnya. Dalam posisi seperti itu, kepala Alzen tertunduk dan melihat perutnya ditikam sebuah tombak trident yang terbuat dari air, tapi kepadatannya sekuat besi.

“Sial, sial, sial...” kata Alzen dalam hati yang seketika tubuhnya menjadi lemas sekali. Kepalanya terus tertunduk memandangi dirinya ditikam sebuah trident.

Durasi Fire Pillar berhenti setelah 5 detik membakar habis sebagian besar tubuh Aqua Prince. Hingga kini wujudnya hancur sekali, seperti jelly yang meleleh dipenuhi uap putih dan bau gosong.

“Kweh... kweh...” dalam kondisi tubuh hancur seperti itu, lagi-lagi aliran air bergerak naik dari kolam, menjalar seperti selang yang ada banyak jumlahnya, terhubung dan memberikan air pengganti tubuh Aqua Prince yang menghilang.

Alzen mendengar suara gerak air dan mengasumsikan yang terjadi tanpa menaikkan kepalanya. “Dia... beregenerasi kembali?” Alzen dibuat putus asa mendengar suara air yang memulihkan tubuh Aqua Prince..

“Kau pikir, kami akan diam dan menonton saja.”

Sebuah bayangan besar muncul di belakang Aqua Prince. Sosok berbadan besar dengan pedang besar diangkat tinggi-tinggi ke atas.

BRRRRRZZZZZTTT !!

Luiz menebas Aqua Prince secara vertikal dari atas ke bawah dengan The Punisher yang dialiri listrik ungu. Wajahnya terlihat marah sekali saat melakukannya.

“KRAAAAAAAA !! BRUP!” teriak Aqua Prince

“Berisik!” Luiz segera mencengkram kepala Aqua Prince yang sudah terbelah dua dan membungkam mulutnya yang tinggal separuh dengan tangan kirinya. “Daritadi kau cuma teriak-teriak saja!”

“WEAPON CALL !! Electro Punisher !!”

Dari tangan kiri Luiz di munculkan sebuah senjata pedang besar seperti The Punisher namun wujudnya total terbuat dari aliran listrik ungu Luiz.

Kepala Aqua Prince yang tinggal separuh, kini dialiri listrik ungu tegangan tinggi yang menggetarkan kepalanya yang cuma sebelah bagian itu, regenerasi yang sedang berlangsungpun digagalkan oleh karena tegangan listrik yang begitu dashyat ini. 

Setelah 3 detik dalam kondisi itu, seluruh pecahan tubuh Aqua Prince kini dialiri listrik ungu dan ...

Poppppp!

Setiap komponen tubuh Aqua Prince meletup seperti pecahan gelembung dan hancur sepenuhnya.

“Chandra,” kata Gunin yang masih tersungkur dengan guandao sebagai topangannya. 

“Ya?” balas Chandra di samping kiri Gunin.

“Bantu aku sedikit.” Gunin kemudian mengulurkan tangannya ke depan, ke arah Alzen.

Chandra mengikuti apa yang dilakukan Gunin. Kemudian mereka berdua bersama-sama mengontrol Trident Air itu dan mengubahnya menjadi air biasa.

Alzen yang pandangannya semakin pudar, secara samar-samar melihat tombak yang menikamnya perlahan menghilang dan tumpahan air membasahi paha kakinya. 

Badannya lemas, tubuhnya berdarah dan hujan terus mengguyur mereka, tapi perlahan sekalipun samar di matanya, langit kembali cerah dan hujan berhenti, tak lama setelah itu, Alzen pingsan tak sadarkan diri, telentang di atas rumput.

Peti hadiah muncul bersamaan dengan gerbang ke lantai berikutnya.

“Kita sudah menang, ayo cepat ke lantai berikutnya.” perintah Luiz yang dengan tergesa-gesa menganggkut Fhonia dengan kedua tangan di depan dadanya. “Aku sangat berharap ada Safe Zone disana. Mudah-mudahan saja ada. Ayo cepat! Fhonia masih bernafas.” 

“Gunin? Kau bagaimana?” tanya Chandra.

“Aku bisa sendiri,” balas Gunin yang dengan susah payah berdiri dan berjalan ke gerbang lantai berikutnya. “Kau angkat Alzen saja.”

Chandra segera berlari tergesa-gesa, mengangkat Alzen dan menggendong Alzen dipunggungnya. Hingga punggung Chandra dilumuri darah dari luka di perut Alzen.

Setelah Alzen berada di punggung Chandra, ia menoleh ke belakang melihat Gunin berjalan seperti orang pincang dengan tongkat. Gunin membalasnya dengan tersenyum dan lambaian tangan untuk menyuruh mereka duluan saja.

Chandra mengerti isyarat itu dan segera berjalan secepat yang ia bisa ke pintu gerbang lantai berikutnya.

Luiz dan Fhonia keluar pertama, Chandra dan Alzen berikutnya dan setelah dua menit baru Gunin keluar dari ruang boss lantai 2 ini dan tempat ini seketika lenyap bersama dengan peti hadiah, yang sama sekali tak mereka pedulikan.

***

Di wilayah masuk lantai 3,

1 jam setelah Party Nicholas tiba di tempat ini sebagai party paling pertama sampai.

Luiz yang menggendong Fhonia dibuat cemas melihat kondisi tempat ini. 

“Apa-apaan lagi ini? Dari siang abadi, ke malam abadi? Ghaa! Aku benci Dungeon.” kesal Luiz. “Aku sangat-sangat berharap ada Safe Zone di hutan gelap ini.”

Setelah masuk ke wilayah pertama lantai 3 ini, hanya ada satu jalan lurus ke depan dengan dua sisi di apit pepohohan-pepohonan hitam kering tanpa daun pada rantingnya. Jalan tanahnya dihiasi serakkan daun kering dan sinar bulan menerangi sedikit tempat gelap ini.

“Luiz, tunggu...” terdengar suara Chandra menyahutinya, 

Luiz mengabaikannya dan maju duluan, mengetahui rute linear tempat ini tak akan membuat Chandra dan Gunin tersesat. Ia melangkah dengan tergesa-gesa dan raut Luiz terlihat khawatir sekali mendapati Fhonia yang semakin pucat. 

Setelah beberapa meter ke depan, terdapat dua rute pilihan jalan bercang dengan di tengah-tengahnya terdapat papan pemandu jalan.

“Welcome to Nocturne Forest,” Luiz membacanya. lalu di bawahnya ada dua rute jalan, Luiz menoleh sebelah kiri. “Adventurer Safe Zone. S-syukurlah.” 

Tanpa menoleh ke arah selanjutnya, ia langsung bergegas pergi ke kiri. Luiz menunduk menatap Fhonia sambil menahan air matanya, “Untung saja ada. Untung saja keajaiban masih ada.”

Luiz terus bergegas dan tak jauh dari sana ia melihat kemah-kemah dengan cahaya kuning, semakin legalah ia dan begitu sudah dekat, dengan tergesa-gesa Luiz meletakkan Fhonia yang semakin pucat itu berbaring dan beristirahat sambil Luiz berusaha mengupayakan sesuatu.

“Potion-potion, ahh tasnya ada pada Chandra.” Luiz memikirkan ide berikutnya. “Perban-perban, tidak ada yang punya, seharusnya Safe Zone ada para penjual yang menjual barang-barang pokok dengan harga tinggi. Tapi karena ini ujian, mereka pasti diminta meninggalkan tempat ini.”

“Luiz?” 

Luiz mendengar suara wanita di belakangnya. Kemudian ia menoleh ke belakang dan mendapati Leena bersama dengan partynya yang sudah tiba lebih dulu dan sedang mengeringkan badan dan pakaian mereka.

“Kamu ada di party Alzen kan?” tanya Leena. “Dimana dia? Kamu berpis-“

“Diam! Diam! Diam dulu,” Luiz panik dan mengacak-acak rambutnya. “Hey anak emasnya Lunea, ahh bisakah kau, ahh tidak-tidak kau tidak bisa menyembuhkan.” Luiz semakin panik. “Ini, ah... temanku, Fhonia bisakah ada yang menyembuhkannya? Kalau lebih lama lagi... DIA BISA MATI...” pinta Luiz sambil mata berair hingga akhirnya ia menangis, sungguh-sungguh menangis.

“...!!?” Leena terkejut dengan reaksi Luiz seperti itu.

“Biar aku coba tangani.” kemudian Healer dari Party Leena maju dan menyembuhkan Fhonia dengan sihir anginnya. 

***

Beberapa saat yang lalu,

Chandra melihat Luiz begitu terburu-buru dan meninggalkannya.

“Hee? Luiz, tunggu.” sahut Chandra. “Mungkin dia kesal karena aku begitu tidak berguna, sampai saat seperti inipun aku belum bisa-bisa juga menyembuhkan orang. Aku benar-benar tidak berguna.” Chandra menunduk menghina dirinya sendiri selagi ia terus mengangkut Alzen.

Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya “Nanti dulu, nanti saja... sekarang... Alzen dulu.” setelahnya Chandra melangkah lebih cepat ke depan.

Setelah Chandra pergi, barulah Gunin tiba di lantai 3 seorang diri dan ia langsung tersungkur tak bertenaga kembali. 

“Sial, aku tak tahu kehabisan aura efeknya akan seperti ini.” kata Gunin yang sekali lagi berusaha bangkit kembali dengan menancapkan ujung bawah guandaonya ke tanah. “Aku benar-benar tidak bisa meng-cast sihir apapun sekarang, yang mencairkan Trident barusan adalah Chandra sepenuhnya. Aku saat ini... ugh...”

Syussshhh! Syussshhh! Syussshhh! Syussshhh!

“Hwoooo... hosh...hosh...” Lio keluar dengan kondisi basah kuyup. “Gila! Bossnya tadi...”

“Untung saja pada akhirnya kita... huh?” Ranni melihat Gunin sedang berjalan tertatih-tatih. “Gunin?”

Brugghh! 

Gunin terkapar pingsan.

Klontang! Klontang!

Guandaonya tergeletak jatuh tak jauh dari sana.

“Hwaaa? Dia kenapa?” Lio panik.

“Heal !!” 

Fia segera menyembuhkan Gunin. Namun sepertinya tak terlalu berefek padanya.

“Hwaa? Kenapa?” Fia gelisah lalu segera menghampirinya. “Gunin, hei Gunin.” Fia menggoyang-goyangkan badan Gunin.

“Aaa... M-mungkin kak Gunin,” Cefhi dengan malu-malu mengutarakan pendapatnya. “Kehabisan aura... kira-kira, efeknya memang seperti itu.“

Lio menghampiri Gunin dan segera meangkutnya ke pundak. “Yasudah, kita bawa saja. Alzen pasti sudah sampai sini duluan. Pertarungan melawan boss monster tadi memang... menyulitkan.”

***

“Bisa tidak, bisa tidak? Hah? Bisa tidak?!” Luiz menunggu proses penyembuhan Fhonia dengan gelisah.

“Berisik! Kau diam dulu.” Leena membungkam mulut Luiz dan menyeretnya pergi dari sana.

“...” sementara Sintra diam menunggu dengan cemas, namun tak mencolok ia tunjukkan.

Fhonia saat ini sedang disembuhkan oleh 2 Healer dari party Leena, yang membuat perlahan-lahan luka tikam di perut Fhonia beregenerasi dan menutup kembali.

***

Di waktu yang sama, Party Nicholas sedang menghadapi Boss Lantai 3 di sebuah arena boss berlatarkan katedral hancur dan gelap. Berisikan kursi-kursi panjang gereja yang sudah hancur.

“Huh? Inikah boss terakhirnya?” tanya Nicholas dengan senyum meremehkan. “Ia terbang, dan sepertinya kuat.”

“Kalau kita menangkan ini, kita jadi party pertama yang selesai duluan kan?” balas Luxis dengan posisi kuda-kuda berpedangnya. “Kalian memang orang-orang edan.”

“Aku harap ini menarik,” ucap Velizar dengan nada datar. “Tapi tidak merepotkan seperti boss yang sebelumnya.”

Sementara Sinus di posisi terbelakang hanya menatap boss monsternya dengan kaki gemetar dan tangan kiri di tekuk di depan untuk melindungi dirinya jika ada apa-apa.

***

Kembali ke kemah tempat Safe Zone berada.

“Ahh ternyata ada, ternyata ada tempat seperti ini.” kata Chandra yang lega sampai-sampai mengeluarkan air mata begitu tiba di kemah-kemah berlampu kuning dan banyak wajah-wajah yang ia kenal sudah lebih dulu disana. “Leena, Luiz, Fhonia juga... kalian semua... siapapun tolong selamatkan Alzen.” pinta Chandra dengan tak tahan lagi menahan air matanya.

“...!?” Leena melihat Alzen terbaring pingsan di punggung Chandra. Sontak membuat pupil matanya mengecil. Kemudian segera menghampirinya. “Alzen juga!?”

“Cepat baringkan dia ke kemah yang sebelah sana.” sahut Sintra yang segera bergegas menengok Alzen.

“Kalian? Kenapa bisa sampai terluka parah seperti ini?”

“Soal itu nanti saja, adakah Healer disini?” pinta Chandra dengan memohon. “Tolong selamatkan Alzen.”

Leena menunduk lalu membuang muka. “Kau tahu, sejak kita pertama bertemu di panggung itu, aku sudah bilang aku tidak bisa, meskipun aku seharusnya...”

“Aku tahu! Aku tahu!” Chandra tetap bersikeras. “Tapi adakah...”

“Grr...” Luiz seketika naik pitam dan segera menghampiri Chandra. “Dasar sialan kau Chandra!” Luiz meninju pipi kiri Chandra keras-keras.

“Awww... sakit, sakit, sakit.”

“Gara-gara kamu mengambil posisi seorang Healer party kita jadi begini! Kalau kau memang tidak bisa menyembuhkan ya jangan memposisikan dirimu sebagai Healer! Dasar sialan!”

Chandra mengusap-usap pipinya yang bonyok dan merasa bersalah. “Maaf, aku benar-benar tidak berguna.”

Leena segera melerainya. “Hei! Hei! Temanmu sedang disembuhkan dan kau malah buat keributan disini. Kalau kamu memang peduli pada Fhonia, redam amarahmu atau lakukan itu jauh dari tempat ini.”

“Brengsek! Brengseeek!” Luiz berteriak kemudian berbalik badan dengan tangan terkepal, mencoba sebisa mungkin meredam amarahnya.

Dengan posisi tertunduk, ia menatap Alzen yang tak sadarkan diri sambil berkata. “Maaf Alzen, maaf... aku benar-benar tidak berguna.”

***