Episode 54 - Fragmen(1)



Sangat hampa. 

Di sini, hanya ada kegelapan.

Selain itu, tidak ada lagi.

Entah berapa lama aku sudah berada di sini, aku tidak tahu.

Di kelilingi kegelapan seperti ini, membuat aku sangat takut. Namun, tidak ada yang bisa aku lakukan. Jangankan untuk berlari, aku bahkan tak bisa merasakan anggota tubuhku, jangankan berteriak, aku bahkan tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Yang bisa aku lakukan hanya terombang-ambing di dalam kegelapan.

Satu-satunya suara yang bisa aku dengarkan hanyalah ... hmm ... sesuatu seperti gemerisik api, tidak, tapi kobaran api. Hanya suara itu yang bisa membuat aku yakin bahwa aku masih ada.

Tidak bisa melakukan apapun membuat aku sangat bosan. Sial! Aku ingin melihat majalah tentang senjata terbaru. 

Aku tidak tahu apakah akan terus seperti ini. Tapi kuharap tidak, karena hidup dalam kehampaan lebih menyakitkan daripada kematian.

Tidak ada siapapun, tidak bisa melakukan apapun, tidak ada yang mengetahui keberadaanku, itu sangat menyakitkan.

Dan lagi, aku benci kegelapan. 

Selain itu aku khawatir dengan mereka, apakah mereka sedang baik-baik saja? Aku harap begitu.

Tiba-tiba aku merasa bahwa suara kobaran api itu semakin berisik, aku tidak tahu dari mana arah suara itu berasal, tapi jujur saja, itu sangat menggangguku.

Kegelapan di sekitarku masih sama, akan tetapi aku merasa seperti mengalami sesak dada, meskipun aku entah bernapas atau tidak di sini, intinya adalah aku merasakan perasaan sakit seperti itu. sangat berat dan menyiksa.

Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?

Belum hilang rasa sakit itu, tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat sakit, seperti terhantam oleh sesuatu. Rasanya seperti terombang-ambing, dan membuat aku sangat kelelahan dan mual.

Aku mohon, siapa saja, hentikan siksaan ini, aku sudah tidak mampu menahannya lagi.

Rasa sakit itu terus aku terima, aku rasanya ingin berteriak, tapi aku tidak bisa melakukan itu. waktu terus berlalu, rasa sakit itu semakin bertambah seiring bertambahnya waktu, aku merasakan seperti aku akan hancur. Meledak. Atau sesuatu semacam itu.

Namun, tiba-tiba semua rasa sakit itu menghilang. Seakan itu semua hanyalah mimpi. Setelah itu, akhirnya aku tersadar, bahwa aku tak lagi berada di dunia kegelapan itu.

Semuanya berubah, bahkan kini aku bisa melihat tubuhku sendiri, meskipun entah kenapa aku merasa bahwa aku terlihat seperti tembus pandang. Sangat aneh.

Aku memperhatikan sekeliling dan melihat bahwa semuanya sangat berbeda, tanah di sini sangat kering dan bahkan tak ada satupun tumbuhan yang tumbuh. Langit terlihat sangat menyeramkan dengan dua bulan yang bersinar terang. Bentuk dari bangunan di sini sangat berbeda dari bangunan di tempatku tinggal, bahkan ada yang setengah hancur, seperti habis terkena bencana, atau memang orang yang tinggal di sana sangak eksentrik? Entahlah, aku tidak tahu.

Aku mencoba bergerak dan menelusuri tempat ini, hingga akhirnya aku bertemu dengan dua sosok yang saling bertarung dengan pedang. Dua sosok itu menyerupai manusia, ya, menyerupai. Karena meskipun dia memiliki semua anggota tubuh seperti manusia, akan tetapi tidak benar-benar menyerupai manusia.

Warna kulitnya merah dan terdapat tanduk di kepalanya. Wajahnya juga memiliki banyak sisik yang terlihat sangat menjijikan, giginya terlihat sangat tajam seperti ikan piranha, mereka berdua juga memiliki taring panjang yang mencuat dari mulutnya, serta sebuah ekor tajam dan sepasang sayap jelek di punggung.

Mereka berdua bertarung dengan sangat ganas, seolah ingin segera membunuh lawan yang berada di depannya. Hanya melihatnya saja membuat aku merasa takut, tak bisa bergerak sedikitpun. Tekanan yang kurasakan sangat kuat hingga membuat seolah semua energi di tubuhku hilang tak berbekas.

Setelah beberapa putaran saling serang, akhirnya salah satu dari mereka kalah. Dia menerima sebuah tusukan pedang yang dalam pada bagian lehernya. Namun, seperti merasa bahwa itu masih kurang, dia menusukan lagi pedang ke musuhnya yang tak lagi bergerak itu. 

Tusuk. Tusuk. Tusuk. Tusuk. Tusuk.

Tubuhnya hancur dan terlihat sangat jelek karena tusukan-tusukan itu. Setelah itu dia segera mengangkat kepalanya ke atas dan seperti tertawa terbahak-bahak. Aku tidak tahu, karena semenjak berada di sini, aku tidak bisa mendengarkan apapun.

Setelah puas, dia dengan angkuh menginjak mayat yang sudah hancur itu dan berjalan ke arahku. Benar, ke arahku. Sial! Sial! Sial! Apa yang harus aku lakukan? 

Dia terus mendekat dan mendekat, sementara aku masih tidak bisa bergerak. 

Tidak butuh waktu lama, akhirnya dia berada tepat di depanku, akan tetapi anehnya dia terus berjalan. Aku menutup mataku, berharap bahwa yang kulihat hanya mimpi. 

Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, apa mungkin aku akan menemui nasib yang sama seperti yang dialami musuhnya barusan? Atau bahkan lebih mengerikan lagi? Sial! Aku bahkan tidak mau membayangkannya.

Namun, setelah aku menutup mataku lama sekali, aku masih tidak merasakan apapun. Apa yang terjadi? Padahal dia tadi sudah berada tepat di depanku. Kenapa tidak ada yang terjadi? Yah, bukan berarti aku ingin sesuatu terjadi, tapi ini masih terasa aneh buatku.

Aku memberanikan diri untuk membuka mataku, tapi ternyata dia sudah tidak ada.

Kemana dia pergi?

Aku menoleh ke kanan dan kiri, tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan sosoknya. Aku mencoba untuk memutar tubuhku dan melihat ke belakang, dan ternyata dia ada. Meskipun sudah cukup jauh, tapi aku yakin bahwa itu adalah dia.

Apa yang terjadi? Kenapa dia mengabaikan aku?

Meskipun aku merasa penasaran kenapa dia mengabaikan aku, tapi aku tidak terlalu ingin tahu dengan alasannya, yang terpenting adalah aku tak akan mengalami hal yang terjadi seperti musuhnya sebelumnya.

Hanya mengingatnya saja membuat aku merasa sangat takut.

Sebenarnya, mahluk apa mereka?

Aku mencoba memberanikan diri untuk menelusuri tempat misterius ini. Sebenarnya di mana aku sekarang? Aku tidak ingat ada tempat seseram ini di bumi, atau apakah ini seperti di novel yang sedang tren saat ini, sesuatu seperti pergi ke dunia lain? aku tidak terlalu tahu juga karena aku hanya mendengarnya dari apa yang biasa temanku bicarakan.

Tapi, jika ini memang dunia lain, lalu apa yang harus aku lakukan?

Semenjak aku di sini, sudah terlalu banyak pertanyaan yang muncul dipikiranku, tapi tidak satu pun yang terjawab.

Tak lama aku berjalan, aku kembali melihat mahluk aneh seperti sebelumnya, kali ini mereka ada sangat banyak. Juga, sama seperti sebelumnya, mereka saling bertarung untuk membunuh satu sama lain. 

Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka saling bertarung?

Aku tidak berani untuk pergi dan langsung menanyakan alasannya kepada mereka, tentu saja.

Aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi aku hanya menonton mereka. Baiklah, sebenarnya aku ingin menceritakan seperti apa mereka bertarung, tapi lebih baik tidak. Karena aku bahkan tidak mau mengingatnya. Simpelnya adalah mereka saling serang lalu daging dan organ dalam berhamburan kemana-mana.

Aku tidak tahan lagi, hingga aku mencoba untuk pergi dari tempat itu. Aku kembali menelusuri tanpa arah tempat aneh ini, dan tiba-tiba saja ada sesosok mahluk dengan cepat terbang dan melintas di sampingku. 

Aku sempat takut dia mungkin saja mencoba menyerangku, untung saja dia mengabaikan aku. Tapi ternyata ini belum selesai, rupanya mahluk yang barusan terbang melintas di sampingku sedang dikejar. Kenapa aku bisa tahu? karena setelah mahluk itu terbang, banyak rombongan yang terbang menuju arahku.

Sial! Kenapa dia harus terbang di sampingku.

Sontak saja aku langsung berlari. Berharap bisa segera menemukan tempat persembunyian agar tidak ditemukan oleh mereka. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku ditangkap oleh mereka. Tidak, aku tidak mau membayangkannya.

Aku menoleh ke belakang dan melihat mereka semua semakin dekat, mungkin tak butuh waktu lama hingga menyusulku. Apa-apaan ini? Mereka sangat curang karena bisa terbang menggunakan sayap, andaikan saja aku menggunakan pesawat tempur T-50i Golden Eagle, mereka pasti tidak akan bisa mengejar aku.

Tentu saja, dengan kecepatan 1.600 km/jam, tidak mungkin bagi mereka untuk mengikuti bahkan bayangannya saja. Bahkan, aku pasti bisa menghancurkan mereka dengan gatling gun tiga laras yang bisa menyemburkan 2000 peluru per menit dan aneka rudal juga roket. Aku pasti akan menjadi penguasa langit, apalagi ditambah dengan adanya Radar Warning Receiver, atau yang biasa disingkat RWP. 

Tapi, sayangnya di sinilah aku, berlari dengan kedua kakiku sendiri, sedangkan mereka terbang cepat dengan kedua sayap di punggung mereka.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya salah satu dari mereka meluncur melewati sampingku. Untung saja dia tidak memedulikan aku, setelah itu semakin banyak lagi dan anehnya, ketika aku menoleh ke belakang sekali lagi, salah satu mahluk itu tepat di depan mataku. Namun, ketika dia melewatiku, tidak ada apapun yang terjadi, dengan kata lain adalah dia terbang menembus aku. Iya, menembus.

Aku berhenti berlari dan sekali lagi melihat tubuhku, benar, aku tembus pandang, sama seperti yang aku katakan pada awal tadi. Untung saja, mungkin dengan begitu maka tidak ada satupun mahluk aneh yang menyadari keberadaanku.

Untuk memastikannya, aku mencoba untuk berjalan ke salah satu bangunan terdekat, dengan perlahan aku mengulurkan tanganku untuk melihat apakah aku bisa menyentuhnya, dan ternyata hasilnya adalah tenganku menembus bangunan itu.

Setelah itu, satu pertanyaan tambahan muncul di kepalaku, sebenarnya aku ini apa? Apakah aku sudah menjadi arwah gentayangan dan pergi ke dunia lain? Apa-apaan itu, sangat tidak keren sekali.

Aku memendam pertanyaan itu untuk diriku sendiri dan kembali menelusuri tempat aneh dan mengerikan ini. Di sepanjang perjalanan, aku bisa melihat mahluk-mahluk aneh saling bertarung, sebenarnya apa yang terjadi?

Kembali aku mencoba menelusuri jalan tanpa tujuan, dengan harapan siapa tahu keberuntungan berpihak padaku dan mengantarkan aku kembali ke tempat asalku. Ya, semoga saja. Yah, walaupun aku tidak berharap banyak, ini sama seperti seorang pemain yang berharap mendapat hasil Gacha yang bagus, tapi dia memiliki pengalaman mendapat Gacha yang ampas sepanjang hidupnya.

Harapanku sangat tipis.

Yah, yang terpenting aku sudah berusaha, aku tidak boleh kalah dari keadaan. 

Dan begitulah, aku kembali berjalan lagi.