Episode 294 - Terlalu Lemah?



Sebuah tempayan berisi air menampilkan kejadian yang saat ini sedang berlangsung di dalam dimensi lain. Sejumlah ahli berkerumun rapat di sekitar tempayan tersebut. Beberapa dari mereka sontak melompat girang ketika menyadari bahwa perwakilan dari suku Dayak Kaki Merah, meski hanya terdiri dari dua ahli, mampu melewati getaran dan tekanan keras di atas selembar daun maha raksasa. 

“Perjalanan masih panjang...,” ujar Kepala Suku Enggang Kakimerah. 

Meskipun demikian, anggota suku yang jumlahnya tiada seberapa tak dapat menahan diri. Mereka bersuka cita. Mereka menyadari bahwa hanya memiliki dua ahli yang layak ikut serta di dalam upacara adat, walaupun salah satu perwakilan tersebut merupakan orang asing. 

Di tengah kegembiraan yang membuat suasana ramai, adik kandung dari sang Kepala Suku malah terlihat muram. Putra tunggalnya merupakan salah satu perwakilan dari suku Dayak Kaki Merah yang tampil di permukaan air tempayan, sehingga adalah sepantasnya ia bersuka cita lebih dari anggota keluarga lain. Akan tetapi, entah mengapa, Tiong Kakimerah memperoleh firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dadanya bergetar keras dan telapak tangannya berkeringat. Ah... mungkin hanya perasaannya saja yang berlebihan, karena sedang diliputi perasaan cemas akan nasib Puyuh Kakimerah. 

Mengamati perkembangan di dalam dimensi yang dikatakan sebagai tempat berlatih Pangkalima Rajawali, tentu saja bukan merupakan hak istimewa bagi suku Dayak Kaki Merah sahaja. Suku-suku dayak lain, yang berjumlah 400an dan tersebar di seluruh penjuru Pulau Belantara Pusat, pastinya dapat melakukan tindakan yang sama. Saat ini, di antara mereka, ada yang menahan kecewa karena jumlah wakil mereka terpangkas, atau terpaksa menelan pil pahit akibat seluruh wakil telah tersingkir sama sekali. Banyak juga yang bersuka cita sebagaimana layaknya suku Dayak Kaki Merah, karena perwakilan mereka masih dapat melanjutkan perjuangan.

...


Sesuai perkiraan, tekanan yang membebani tubuh tiada bertahan lama. Tantangan yang baru saja dijalani ini terlalu remeh sangat. Bintang Tenggara pernah menjalani hambatan-hambatan yang jauh lebih berat selama hidupnya menjalani dunia persilatan dan kesaktian. Bahkan, bagi Super Murid Komodo Nagaradja, tak pelak ia bertanya-tanya mengapa hanya sebatas ini tantangan yang diberikan kepada penghuni Pulau Belantara Pusat. Mungkin tantangan berikutnya akan lebih berat, batin remaja nan terkesan sombong itu. 

Terlepas dari itu, jumlah remaja di atas daun raksasa kini tersisa sekira 40an ahli. Bintang Tenggara menyapu pandang ke arah daun-daun raksasa yang lain, di mana jumlah ahli yang yang masih bertahan pun dalam bilangan yang lebih kurang sama. 

Di kala memantau keadaan, kedua mata Bintang Tenggara menyaksikan formasi segel maha besar yang melingkupi dan membentengi seluruh pohon raksasa dari wilayah luar. Meski tak bisa merapal formasi segel karena kemampuannya tersegel, tentu anak remaja terebut masih dapat melihat akan keberadaan formasi segel. Baru kali ia menyaksikan formasi segel yang teramat besar, yang mana terlihat hampir melingkupi wilayah sebuah gunung. Bilamana formasi Segel Cahaya Gemilang merupakan pilar-pilar yang demikian berkilau penuh keagungan, maka formasi segel yang dirapal oleh ahli-ahli digdaya Pulau Belantara Pusat terkesan kasar namun kokoh. Simbol-simbol yang dipakai pun terlihat berbeda. Sungguh unik adanya. 

Di sisi luar jalinan formasi segel tersebut, Bintang Tenggara masih terkesima memandangi bunga-bunga ilalang maha besar yang mengambang pelan sembari memancarkan sinar temaram. Akan tetapi, bukan bebunga tersebut yang menjadi perhatiannya kini. Secara samar, anak remaja tersebut dapat menyaksikan keberadaan makhluk-makhluk yang hidup di sekeliling pohon raksana. Ukurannya gergasi, bersayap dan memiliki antena, sehingga wujudnya mirip dengan kumbang-kumbang raksasa. Mereka menghantamkan tubuh beringas ke dinding formasi segel, namun tiada seekor pun yang dapat menerobos masuk. 

Bintang Tenggara bergidik. Betapa ia sangat tak nyaman berada di dekat serangga, apalagi serangga-serangga berukuran raksasa. Mengerikan! 

“Hanya delapan ahli yang berhak melanjutkan ke babak berikutnya!” 

Tetiba suara bergema memecah lamunan Bintang Tenggara. Suara tersebut tak lain datang dari ketua panitia upacara adat kali ini, yang serta merta membangkitkan kesiagaan di antara para remaja di atas daun. Mereka saling pandang, saling mencermati dan menandai jati diri masing-masing yang berada di atas panggung yang sama. 

Bintang Tenggara berdiam di tempat. Ia hanya dapat mengenal suku Dayak Kaki Merah, yang memang ciri khasnya adalah mewarnai kedua kaki dengan menggunakan daun saronang atau daun jarenang. Hanya Kuau Kakimerah saja yang berbeda, karena kaki kirinya secara alami sudah berwarna merah sedari lahir. Kenyataan tentang Kuau Kakimerah kini menjadi misteri tersendiri. Jika sebelum ini Bintang Tenggara tiada terlalu memperdulikan kelainan pada Kuau Kakimerah, kini ia justru menjadi sangat penasaran. 

“Duar!” 

Sebuah kibasan pohon bambu menghantam keras di permukaan daun. Bintang Tenggara sontak menarik mundur Puyuh Kakimerah. Keduanya bergerak ke pinggiran daun, berupaya melepaskan diri dari pertarungan belasan kubu yang sebentar lagi dimulai.

Sesungguhnya tiada permusuhan antara suku-suku di dalam masyarakat dayak. Mereka hidup damai berdampingan, dan bahu-membahu. Kejujuran memiliki nilai tertinggi, sehingga sangat jarang terpicu perselisihan di antara mereka. Kendatipun demikian, di dalam upacara adat ini mereka harus bertahan di atas daun. Delapan adalah angka yang teramat kecil, dan kesemua peserta ingin terus bertahan demi memperoleh tempat sebagai pewaris dan penerus Pangkalima Rajawali!

Jika pengalaman tak salah memberi ajaran, maka Bintang Tenggara sudah dapat menarik kesimpulan. Mengacu kepada Hajatan Akbar Pewaris Takhta di Kemaharajaan Cahaya Gemilang beberapa waktu lalu, maka pihak-pihak yang membuka serangan terlebih dahulu adalah mereka yang menilai diri paling perkasa. Pada umumnya, sasaran mereka adalah lawan yang dinilai setara, dan membiarkan lawan lemah untuk dikesampingkan belakangan. Dalam hal ini, perwakilan dari suku nan dinista, hanyalah dua ahli nan lemah, yang mana seorang asing dan seorang Dayak Kakimerah. Pun keduanya hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. 

Sungguh kebiasaan seperti ini menjadi keunggulan bagi Bintang Tenggara. Pada tahap ini, ia akan menikmati tontonan sambil mencermati kemampuan lawan. Di akhir nanti, ia akan dapat membaca dan menemukan kelemahan mereka. Sesuai dengan Taktik Tempur No. 91: Gajah berjuang sama gajah, pelanduk makan di sebelah. (1)

Walhasil, di pinggiran daun, sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang bersama rekannya menanti dan bersiaga. 

Teriakan demi teriakan, serangan demi serangan, berlangsung nyaring dan silih berganti. Selang satu jam kemudian, di tengah daun hanya menyisakan sepuluh ahli. Ditambah dengan dua ahli di pinggiran, maka terdapat duabelas ahli di atas daun yang sama. 

“Mereka terdiri dari tiga suku,” bisik Puyuh Kakimerah. “Empat dari suku Dayak Cakar Tajam, empat dari Dayak Sayap Angin, dan dua dari suku Dayak Pandu Datar. 

Bintang Tenggara menakar. “Hubungan dia antara mereka...?” ajunya pelan. 

“Dayak Cakar Tajam dan Dayak Pandu Datar berada di dalam rumpun yang sama, yaitu rumpun Dayak Tanah Datar. Sedangkan Dayak Sayap Angin, berasal dari rumpun Dayak Gunung,” jawab Puyuh Kakimerah. 

Rumit, batin Bintang Tenggara. Bilamana hendak bertahan sebagai delapan ahli di atas daun, maka dirinya harus mengusir empat remaja. Bila menyerang Dayak Sayap Angin, maka Dayak Cakar Tajam dan Dayak Pandu Datar yang berada dalam satu rumpun kemungkinan besar tiada akan mencampuri. Akan tetapi, bilamana langkah ini yang ditempuh, maka nantinya jumlah lawan dari satu rumpun akan berjumlah enam. Bila pengurangan berlangsung lagi, maka dari sisi jumlah lawan yang serumpun akan menyajikan ancaman yang teramat besar. 

“Singkirkan empat bocah dari Dayak Cakar Tajam!” perintah Komodo Nagaradja. 

“Jangan... lebih baik hadapi Dayak Sayap Angin, karena jumlah mereka hanya berempat tanpa dukungan saudara serumpun...,” saran Ginseng Perkasa. 

“Pendek sekali kau punya akal!” sergah Komodo Nagaradja. 

“Kau hanya mencari lawan yang lebih banyak jumlahnya, kan!?” balas Ginseng Perkasa. 

Mengapa? batin Bintang Tenggara. Mengapa ada dua Jenderal Bhayangkara yang terkenal maha digdaya, namun keduanya tak dapat banyak membantu!? Sebaliknya, mereka hanya menambah pening di kepala. 

“Srash!”

Tetiba anggota suku Dayak Cakar Tajam melibaskan cakar-cakar nan panjang dan tajam. Cakar-cakar tersebut tersusun dari tenaga dalam murni yang dialirkan ke ujung jemari dan kemudian membangun wujud. Serangan ditujukan kepada regu dari Dayak Sayap Angin. Tak ayal, dua remaja dari Dayak Pandu Datar yang merupakan kerabat serumpun ikut melancarkan serangan! 

Pertarungan berlangsung berat sebelah. Enam melawan empat. Tak perlu waktu lama bagi regu dari Dayak Sayap Angin terdesak. Meski gerakan mereka tangkas dan lugas sebagai pengguna kesaktian unsur angin, keunggulan dalam jumlah membuat lawan menguasai jalannya pertarungan. 

Dua perwakilan dari Dayak Kaki Merah masih saja diabaikan. Mungkin karena dinilai teramat lemah, kedua pihak yang sedang bertarung tiada tertarik untuk menghadapi

“Buk!” 

Tetiba tendangan menohok mendarat telak di ulu hati salah seorang remaja dari regu Dayak Cakar Tajam dan korbannya jatuh tersungkur di tempat. Hampir dalam satu kedipan mata, seorang lagi remaja dari regu yang sama merasakan pukulan bersarang di ulu hati. Bintang Tenggara sudah bergerak, dan sasarannya adalah lawan yang berjumlah lebih banyak, namun lengah karena sedang berada di atas angin. 

Berkurangnya dua lawan membuat empat ahli dari regu Dayak Sayap Angin yang hampir tersingkir dapat melepaskan diri dari kepungan dan tekanan. Mereka kembali bergerak luwes. Lebih leluasa lagi, karena di antara lawan mereka sudah ada terjerat jalinan rotan. Puyuh Kakimerah melancarkan serangan secara diam-diam! 

Bintang Tenggara kembali ke sisi rekannya. Puyuh Kakimerah segera bangkit berdiri usai bertekuk satu lutut dan meraba permukaan daun di kala merapal jurus unsur kesaktiannya. Pasangan ini memang terlihat biasa-biasa saja, bahkan terkesan lemah. Akan tetapi, kurang lebih dua pekan sudah keduanya berlatih bersama-sama. Taktik mereka adalah sederhana, yaitu senantiasa dan sebisa mungkin menghindar dari pertarungan hadap-hadapan. Sebuah taktik yang cocok dengan sifat kedua ahli ini.

Pertarungan empat lawan empat berlangsung cepat. Kubu serumpun Dayak Cakar Tajam dan Dayak Pandu Datar kewalahan. Mereka tak dapat bertarung leluasa karena mewaspadai serangan curi-curi dari regu Dayak Kaki Merah, padahal baik Bintang Tenggara maupun Puyuh Kakimerah hanya diam mengamati kelangsungan pertarungan. Oleh karena itu, regu Dayak Sayap Angin memenangkan pertarungan dengan cukup mudah. 

Bintang Tenggara masih mencermati, dan menyimpulkan bahwa pertarungan yang baru saja rampung, berjalan biasa-biasa sahaja. Dalam bati ia mempertanyakan... Hanya setakat inikah kemampuan mereka? Ke mana perginya kepiawaian ahli-ahli dari Pulau Belantara Pusat yang banyak tergores di dalam kitab dan buku tebal-tebal!? Mengapa sepertinya mereka terlalu lemah!?

“Kami tak akan berterima kasih!” Seorang remaja dari regu Dayak Sayap Angin berujar ke arah Puyuh Kakimerah. 

Di kala pertukaran kata-kata searah berlangsung, perhatian Bintang Tenggara sudah teralihkan kepada enam ahli yang kalah dan tergeletak. Serta-merta tubuh mereka dilingkupi oleh bulir-bulir cahaya, lalu melesat pergi seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Remaja-remaja lain yang tumbang dari daun-daun lain pun mengalami nasib yang sama. 

Bintang Tenggara terus mencermati, dan menemukan bahwa tubuh mereka yang telah tersingkir sesungguhnya menuju ke satu arah, bahkan kemungkinan dibawa berkumpul di satu tempat. Anak remaja itu menyipitkan mata, mengikuti arah perginya cahaya-cahaya yang membawa para remaja. Samar, melintasi formasi segel nan tebal dan binatang siluman di sisi luar, matanya lalu menangkap keberadaan pohon raksasa lain. Pada permukaan daun pohon raksasa lain itu, para remaja yang telah tersingkir sepertinya sedang beristirahat... 

...


Di ujung selembar daun pada pohon raksasa lain, seorang ahli yang berpenampilan sebagai lelaki dewasa merenung. Ia menatap ke bawah, di mana berjejer lebih dari seribu remaja. Setiap satu dari mereka masih bernyawa, namun tergolek lemah tiada sadarkan diri. 

Seorang perempuan tua melayang ringan di kala menyusul. Ia turut memantau situasi di bawah sana. Matanya mencerminkan haru, sebelumnya akhirnya menyapa, “Apakah dikau meragukan keputusan yang telah kita ambil bersama, wahai Balian Rumpun Dayak Tanah Datar...?”

“Balian Rumpun Dayak Laut, apakah benar tak ada jalan lain... pilihan lain...?” Bapuyu Huludaya menanggapi dengan pertanyaan. Suaranya pelan dan lirih. Sesungguhnya pertanyaan yang ia lontarkan, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Segala kemungkinan telah kita perhitungkan bersama selama seratus tahun terakhir. Hasilnya selalu kekalahan demi kekalahan... Langkah berat ini adalah demi kebaikan bersama...” 

Bapuyu Huludaya menghela napas panjang. “Yang sedang dan akan kita lakukan, sesungguhnya bertentangan dengan semangat Yang Mulia Pangkalima Rajawali... Bahkan, bila beliau hadir di tengah-tengah kita saat ini, maka ia akan mengamuk... melampiaskan segenap amarah!” 

“Saudaraku Bapuyu Huludaya, Balian Rumpun Dayak Tanah Datar...,” perempuan tua yang diketahui sebagai Balian Rumpun Dayak Laut menahan kata-kata yang akan meluncur dari mulutnya. Berat sekali sepertinya pengakuan yang hendak ia sampaikan. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan, “Tindakan yang kita ambil ini, menurut hematku, lebih dekat dengan jalan yang ditempuh oleh… Kaisar Iblis Darah.”



Catatan:

(1) Pepatah yang benar adalah: ‘Gajah berjuang sama gajah, pelanduk mati di tengah’, yang berarti jika terjadi pertengkaran (peperangan) antara orang (negara) besar, maka orang kecil (negara kecil) yang celaka.


Ahli Karang nan budiman akan menempuh liburan keluarga pada awal tahun. Sungguh diperkirakan akan menjadi perjalanan yang berliku dan panjang. Oleh karena itu, lanjutan Legenda Lamafa akan kembali pada Senin, 7 Januari 2019. Meski, akan diupayakan kehadiran episode pendek di sela-sela waktu. 


Selamat merayakan hari Natal dan menyambut Tahun Baru!