Episode 53 - Hewan Buas



Kembali ke saat yang sebelumnya.

“ini tempatnya.” Angel berkata sambil menatap dengan bangga pada bangunan besar berwarna merah cerah di depannya.

“Tempat apa ini?” tanya Dan heran. Dia merasa tempat ini terlalu mencolok, dan sempat terlintas dipikirannya bahwa bahwa orang-orang di dalamnya pasti sangat eksentrik. Tapi tentu saja Dan tidaka akan menyuarakan pemikirannya tersebut.

“Ini adalah tempat aku berlatih bela diri, perguruan bela diri Iblis Merah.” Jawab Angel dengan bangga sambil membusungkan dadanya.

Bangunan besar berwarna merah itu ternyata adalah tempat di mana orang-orang perguruan bela diri Iblis Merah berlatih.

“Lalu, buat apa kau bawa aku kemari?” Dan bertanya kembali, dia masih tidak tahu alasan kenapa Angel membawanya ke tempat ini. 

“Kau bilang ingin menjadi kuat, maka inilah jawabanya.” Angel menarik tangan Dan untuk masuk ke dalamnya.

“Hei...” Dan mencoba melepaskan tangannya.

“Kenapa lagi?” Angel berhenti dan menatap wajah Dan.

“Tidak perlu kau tarik, aku bisa berjalan sendiri.” Dan menjawab dengan wajah kesal.

“Baiklah, baiklah, aku lepaskan,” lalu tiba-tiba Angel menyadari sesuatu dan mulai tertawa kecil, “hehehe...”

“Apa yang kau tertawakan?” 

“Ternyata kau kekanak-kanakan sekali, ya.”

“Apa maksudmu?”

“Kau pasti malu, kan, karena aku memegang tanganmu.” Angel mendekati wajah Dan dengan wajah genitnya.

“A-apa? Tentu saja tidak, tidak mungkin aku malu karena hal seperti itu.” Dan dengan terburu-buru menyangkal ucapan Angel.

“Hehe, tenang saja, jangan emosi seperti itu, aku mengerti, kok, bagaimana perasaanmu.” Angel menutup mulutnya untuk menahan tawanya.

“Diam.” Dan berteriak keras.

“Haha, baiklah, baiklah, aku akan diam,” Angel berkata sambil menahan tawanya yang bisa meledak kapan saja, “kalau begitu cepat ikuti aku.” 

Angel berjalan di depan dengan santai, sementara itu Dan dengan perlahan mengikutinya di belakang. Langkah kaki Dan terlihat goyah, akan tetapi tatapannya tegas menatap pantat Angel yang terlihat sangat menawan. Semua hal menarik di sekitar tidak mampu menarik perhatiannya dari menatap pantat Angel yang seolah menyihir Dan untuk terus menatapnya.

Sekali lagi, ini membuktikan bahwa Dan memang maniak pantat sejati.

Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di ruangan luas di dalam bangunan besar tersebut. Di dalam ruangan luas tersebut, berbarik rapi banyak orang sambil mempraktikan latihan bela diri Iblis Merah. 

Semua orang memakai pakaian yang sama, dengan warna merah yang mendominasi dan di selingi oleh warna hitam di kerah dan lengan bajunya. Di bagian dada terdapat lambang kecil dari perguruan bela diri Iblis Merah.

Saat Dan melihat pemandangan di dalam ruang latihan tersebut, dia langsung terpana dan terkagum-kagum, bukan karena semua orang di dalam sana terlihat keren dengan pakaian yang digunakan, bukan karena jumlah mereka, bahkan jumlah mereka tak terlalu banyak. Namun, karena mayoritas dari mereka semua adalah gadis yang cantik dan ... ehem ... seksi.

Lekukan tubuh mereka bisa dilihat dengan jelas, meskipun mereka menggunakan pakaian yang tertutup. Wajah mereka juga sangat menggoda, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak sedap dipandang. Sungguh suatu keajaiban perguruan tinggi Iblis Merah bisa mengumpulkan semua gadis cantik tersebut.

“Siapa dia?”

Seorang pria tua dengan kepala botak dan wajah yang cekung berjalan mendekati mereka berdua dengan tatapan mematikan, seolah-olah dia siap untuk membunuh.

“Perkenalkan Ayah, dia adalah Danny.” Angel dengan semangat memperkenalkan Dan pada pria tua itu yang ternyata adalah ayahnya.

“Danny.” Dan memperkenalkan dirinya dengan singkat, tanpa senyum, bahkan tanpa ekspresi apapun.

“Hmph,” Ayah Angel mendengus keras lalu berkata, “sepertinya temanmu ini sangat sombong dan kurang ajar, ya.”

“Tidak, bukan begitu Ayah, tapi dia memang tidak pandai bergaul, pertama kali aku bertemu dengan dia saja saat dia sedang sendirian di bawah pohon, bahkan ketika di kelas dia juga selalu sendirian.” Angel berkata untuk membela Dan, tapi entah kenapa itu malah terkesan seperti mengatakan ‘dia adalah penyendiri yang menyedihkan, jadi wajar saja dia seperti itu’.

“Itulah bukti bahwa dia sombong, tidak ada di dunia ini yang mau dekat dengan orang sombong dan kurang ajar sepertinya.” Ayah Angel berkata sambil menatap Dan dengan tajam.

“Haha, kau dan aku sama, sepertinya kita bisa akrab.” Dan berkata dengan senyum sinis.

Dan sama sekali tidak marah dengan apa yang Ayah Angel katakan, karena semua yang dia katakan memang benar. Dan memandang rendah manusia seperti Ayah Angel yang merasa paling hebat karena kekuasaan dan usianya, seolah dia telah hidup lebih lama dari siapapun dan tahu mana yang benar dan salah.

Jika Ayah Angel tahu siapa dan berapa usia Dan yang sebenarnya, dia pasti tidak akan sombong seperti itu.

Setelah mendengar apa yang Dan katakan, Ayah Angel semakin kesal lalu berkata, “Apa yang kau maksud?”

“Hehe, sama seperti yang kau pikirkan.” Jawab Dan santai.

“Hmph, pergi dari sini, tempat ini tidak menerima orang sepertimu.” Teriak Ayah Angel dengan keras semnbari menghentakan kakinya.

“Tapi Ayah...”

Bahkan sebelum Angel menyelesaikan kalimatnya, Ayahnya kembali berteriak,“Diam, cepat bawa dia pergi!” 

Angel dengan patuh menjawab, “Ba-baik.” 

Setelah itu Dan juga Angel langsung pergi meninggalkan ruang latihan. Dan berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan yang sebelumnya tidak dia perhatikan, karena terlalu asik memperhatikan pantat Angel.

Setelah dia perhatikan, meskipun nama perguruan bela diri ini adalah Iblis Merah, akan tetapi tidak banyak atribut atau simbol yang menggambarkan hal tentang Iblis, bahkan lambang yang dipakai adalah hati berwarna merah yang sedang terbakar oleh api hitam. 

Sedangkan itu, Angel berjalan dengan wajah yang kecewa, harapannya untuk membuat Dan masuk ke perguruan bela diri Iblis Merah sepertinya tidak ada lagi. Sebelumnya dia sangat ingin Dan bergabung, setelah melihat kemampuan bertarungnya, yang meskipun hanya dalam pertarungan singkat, tapi Angel percaya Dan memiliki potensi yang sangat besar.

Dengan wajah bosan Dan tiba-tiba bertanya, “Hei, kenapa Iblis Merah?”

Angel menoleh dengan wajah bingung, “Apa maksudmu?”

“Yang aku maksud, kenapa nama perguruan bela diri ini adalah Iblis Merah?”

“Oh, ternyata begitu. Memangnya kenapa? Kau ingin bergabung?” sebuah senyum manis terlukis di wajah Angel. Di dalam hatinya dia berharap bahwa Dan ingin bergabung, untuk masalah yang terjadi antara Dan juga Ayahnya, bisa Angel pikirkan nanti.

“Sudah pasti tidak, aku hanya ingin bertanya saja.” Jawab Dan dengan ekspresi yang seolah mengatakan, ‘apa kau bodoh, sudah pasti tidak mungkin’.

Angel merasa kesal setelah melihat balasan dari Dan, “Kalau kau tidak mau bergabung maka buat apa aku harus menjelaskan itu kepadamu.”

“Hmm, benar juga, kalau begitu lupakan saja aku pernah bertanya seperti tadi.” Balas Dan dengan wajah cuek.

Angel berhenti berjalan kemudian memukul bahu Dan, akan tetapi dengan sangat sigap Dan memegang tangan tersebut sebelum mengenai bahunya.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Tentu saja memukulmu.” 

Angel ingin memukul bahu Dan untuk meredakan kekesalannya, akan tetapi dia menjadi semakin kesal setelah pukulannya ditahan oleh Dan.

“Dasar aneh.” Ucap Dan sambil melepas tangan Angel.

“Berisik.” Angel berkata dengan ketus lalu kembali berjalan.

Di lorong yang sepi, mereka berdua saling diam. Dan terlalu malas untuk memulai percakapan dengan Angel, karena dia belum terlalu mengenalnya dan tidak tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Sedangkan itu, Angel terlalu kesal, hingga dia tidak mau bicara.

Akhirnya mereka berdua di depan pintu masuk, Angel berhenti sambil melipat tangannya di dada dan menatap Dan tanpa berkata apapun. Dia masih merasa kesal dengan Dan.

“Ah ... yah, aku pergi.” Ucap Dan lalu berjalan pergi. Tapi tiba-tiba saja datang rombongan pemuda berjalan menuju arahnya sambil membawa kayu. Dan tidak peduli dengan mereka dan tetap berjalan tanpa ada niat menepi sedikitpun.

Salah seorang pemuda dengan sengaja menyenggol bahu Dan, lalu dia pura-pura kesakitan dan dengan cepat berteriak sambil menarik kerah baju Dan, “Sialan, apa maksudmu bangsat.” 

Dan menatap pemuda yang ingin memegang kerah bajunya dalam diam. Api kemarahan cepat meledak dalam dirinya, tanpa mengatakan apapun dia dengan cepat mengepalkan tinjunya dan melesatkannya menuju wajah pemuda tersebut.

Pemuda tersebut langsung terlempar beberapa meter, hampir semuaa gigi depannya lepas dan banyak darah keluar dari hidungnya. Dia berteriak kesakitan sambil menutupi mulutnya.

“Argghhhh....”

“Sialan!”

Melihat temannya di pukul, salah seorang pemuda dengan cepat mengayunkan kayu yang dia bawa dan menghantamkannya pada kepala Dan.

Bam!

Kayu itu seketika patah setelah menghantam kepala Dan dengan keras. Darah deras keluar dari luka di kepala Dan akibat hantaman kayu tersebut. Dan merasa pusing setelah mendapatkan serangan tersebut, namun api kemarahan masih kuat berkobar, membuat dia masih mempertahankan kesadarannya.

Seperti seekor hewan buas, Dan dengan brutal menghantam pemuda yang sebelumnya menyerangnya. Sebuah pukulan keras menghantam pemuda tersebut dan membuat dia terlempar belasan meter hingga tak sadarkan diri.

Dan tidak berhenti, dia terus menyerang rombongan pemuda tersebut. Satu demi satu terlempar dan tak sadarkan diri. Tak ada yang bisa menghentikan Dan. Dari semua pemuda, ada satu kesamaan di bekas luka mereka, yaitu ada jejak kulit yang terbakar pada tempat di mana mereka dipukul.

Setelah semua rombongan pemuda tersebut tumbang, Dan tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri.

Baju sekolah berwarna putih yang sebelumnya Dan pakai, kini telah berubah warna akibat darahnya.

Kejadian itu terjadi begitu saja, hingga Angel tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya menyaksikan pertarungan itu terjadi. 

Melalui pertarunagn itu, akhirnya Angel bisa memastikan, bahwa Dan memang memiliki potensi untuk bela diri.

**

Seorang pemuda tiba-tiba menghentikan sepeda motor yang sedang dia kendarai. Sebuah senyum lebar dengan cepat terlukis pada wajahnya. Dengan sangat cepat dia memutar sepeda motornya dan langsung tancap gas. 

Dia tidak peduli meskipun dia kini melawan arah. Jantung pemuda tersebut berdetak dengan kebahagiaan.

“Akhirnya aku akan bisa bertemu denganmu, Tuan.” Gumam pemuda tersebut dengan pelan.

Bersama angin yang berhembus, pemuda itu terus memacu sepeda motornya dengan bahagia, meskipun setiap orang di sekitarnya memaki pemuda tersebut karena melawan arah.