Episode 293 - Di atas Daun



Pohon ulin dikenal sebagai penghasil kayu yang teramat keras. Di sebagian Pulau Belantara Pusat, kayu dari pohon ulin disebut sebagai kayu tabalien, sementara di Negeri Dua Samudera dikenal pula dengan nama kayu hitam atau kayu besi. Penyebutan sebagai kayu besi bukan tanpa alasan, melainkan karena memang kayu besi merupakan bahan yang sangat tahan lama dalam penggunaan serta tiada dapat dimakan. Pohon ulin memiliki ketinggian yang umumnya berkisar 30 m, dengan diameter mencapai 120 cm. 

Karena terkenal akan kekuatannya, kayu ulin biasa digunakan sebagai bahan baku utama untuk membuat rumah suku dayak yang bermukim di daerah rawa dan perairan. Bahkan,hampir semua bagian rumah dibuat dengan kayu kuat ini. Atapnya juga dibuat dari potongan tipis kayu ulin, disebut atap sirap. 

Kayu ulin juga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk jembatan, papan lantai, bantalan jalan, pancang dermaga, saluran air, juga tulang dan lambung kapal. Kayu ini juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan khas. Ia dapat tetap utuh selama ratusan bahkan sampai dengan ribuan tahun. Bahkan jika terpendam di tanah, usianya akan lebih lama dibanding di udara terbuka, karena terlindungi dari pengaruh cuaca. Tak heran bila di Pulau Belantara Pusat banyak ditemukan batang kayu ulin yang terpendam di dalam tanah, namun masih utuh adanya.

Selain itu, di Pulau Belantara Pusat hidup pula pohon Ulin Aswad yang merupakan tumbuhan siluman. Ukurannya tinggi dan besar pohonnya berkali lipat, serta tingkat kekerasan kayu yang berkali lipat.

Kala menjejakkan kaki di sisi lain lorong dimensi ruang Goa Awu BaLang, Bintang Tenggara menganga sampai seolah dagunya terlepas dari rahang. Di hadapannya, sebatang pohon raksasa yang mampu membuat pohon-pohon besar di Pulau Belantara Pusat seperti kerdil adanya. Tingginya menjulang menembus angkasan raya, lingkar batangnya batangnya mencakup wilayah sebuah perbukitan! 

Kendatipun demikian, tumbuhan siluman Ulin Aswad di Pulau Belantara Pusat masih tergolong berusia muda belia, sekira beberapa ratus tahun. Sedangkan tumbuhan siluman yang super besar ini, merupakan pohon Ulin Aswad yang kemungkinan berusia belasan ribu tahun. 

Pada bagian batangnya, tumbuh sejumlah dahan yang melingkar sejajar. Pada masing-masing dahan, menempel beberapa selembar daun raksasa. Terdapat 32 lembar daun, yang ukuran luas setiap satunya hampir dua kali luas sebuah panggung pertarungan. Pada permukaan daun inilah Bintang Tenggara bersama dengan sekira 50 remaja lain saat ini berada. 

Bukan hanya Bintang Tenggara yang terkesima. Segenap remaja lain turut mengerutkan dari, mencoba memahami sesungguhnya di mana mereka berada dan makna di balik pohon yang super besar. 

Berkas cahaya menyeruak dan menyilaukan pandangan mata. Akan tetapi, penerangan di tempat ini bukan serta merta berasal dari sisi atas. Melayang ringan di sekitaran pohon, terlihat kerlap-kerlip cahaya ibarat bintang-bintang yang bersinar di langit malam. Diperhatikan dengan lebih cermat, maka titik-titik nan bercahaya tersebut sangat mirip sekali dengan bunga ilalang!

“Dimanakah tempat ini...?” Bintang Tenggara memandang takjub pada pemandangan yang tersaji demikian memukau.

Di saat yang sama, anak remaja itu mencari-cari keberadaan Aji Pamungkas. Sayangnya, posisi tokoh yang ia cari tersebut kebetulan berada di sisi lain batang pohon, sehingga tersembunyi dari pandangan mata. Padahal, dari Aji Pamungkas, Bintang Tenggara berharap mendapat semacam petunjuk bahwa sesungguhnya tempat di mana mereka berada saat ini bukanlah sekadar sebuah ruang dimensi, melainkan dunia lain. Dunia paralel!

“Hanya kemampuan dari suku Dayak Kaki Merah yang dapat mengoyak masuk ke tempat ini, tetiba seorang remaja lelaki bertubuh kecil berbisik kepada Bintang Tenggara. Ia tak lain adalah Puyuh Kakimerah.” “Pohon Ulin Aswad ini merupakan tempat di mana Yang Mulia Pangkalima Rajawali berlatih ratusan tahun silam...,” lanjutnya 

...


“Apakah persiapan telah rampung...?” Seorang lelaki dewasa mendarat, lalu melangkahkan kaki cepat. Ia tak lain adalah ketua panitia, Bapuyu Huludaya. 

Di hadapan lelaki tersebut, lima orang ahli telah menanti. Tiga perempuan dan dua lelaki yang mana kesemuanya menyibak aura nan megah lagi mistis. Tokoh yang baru saja tiba, pun bergabung bersama mereka. 

“Balian Rumpun Dayak Tanah Datar...,” seorang perempuan menyapa Bapuyu Huludaya ramah. “Apakah ‘ikau’ telah siap...?” Ia menjawab pertanyaan perihal persiapan, dengan penekanan dan pertanyaan balik. Dengan kata lain, hendak disampaikan bahwasanya persiapan sudah sangat matang, dan kini tergantung kepada Bapuyu Huludaya seorang. 

“Balian Rumpun Dayak Hulu… Sepanjang hidupku, tak pernah aku sesiap sebagaimana hari ini,” lanjut Bapuyu Huludaya sambil menyapu pandang ke arah tokoh-tokoh lainnya. Ia kemudian menyapa hormat satu per satu, “Balian Rumpun Dayak Hilir, Balian Rumpun Dayak Laut, Balian Rumpun Dayak Rawa, serta Balian Rumpun Dayak Gunung.”

Sapaan dijawab dengan anggukan. Keenam tokoh ini tak lain adalah anggota Dewan Dayak, yang saat ini mengemban jabatan tertinggi di Pulau Belantara Pusat. Mereka merupakan para Balian atau tokoh adat yang bertugas untuk berurusan dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah dari para roh manusia yang telah meninggal. Balian juga dapat bertugas memanggil Sangiang sebagai juru damai dalam suatu peristiwa yang menjadi tema dalam suatu upacara adat. Para Balian ini berasal dari enam rumpun suku dayak, yang mana masing-masing membawahi puluhan sub suku dayak. 

“Formasi segel telah terpasang...” Balian Rumpun Dayak Rawa menegaskan kesiapan, serta bahwasanya upacara adat dapat segera dimulai. “Tiada yang dapat keluar maupun masuk...”

“Lorong dimensi telah siap sedia...” Balian Rumpun Dayak Gunung menimpali. 

Keenam Balian melontar pandang ke arah depan secara bersamaan. Terlihat jelas dari sudut pandang mereka akan sebatang pohon raksasa yang menampung ribuan remaja di atas 32 lembar daun dari sejumlah dahan. Dengan demikian, keenam tokoh ini berada di tempat yang tak terlalu jauh dari para remaja. 

Bapuyu Huludaya lalu mengangguk, kemudian menghilang dari tempat dimana para anggota Dewan Dayak akan mengawasi jalannya upacara adat.

“Wahai, anak-anakku...,” Bapuyu Huludaya mengemuka di dekat pohon raksasa. Suara yang datang dari, kemudian bergema memenuhi wilayah di sekeliling batang pohon raksasa. “Keamanan bagi kalian dalam menjalani upacara adat ini telah dipersiapkan dengan matang. Akan tetapi, persiapan tersebut bukan berarti bahwa ancaman jiwa tak akan datang sama sekali dan secara tiba-tiba. Oleh karena itu, sebelum kita melangkah lebih lanjut, ingatlah...” 

Balian Dayak Rumpun Tanah Datar tersebut lalu melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang aturan yang berlaku selama upacara adat. Secara sederhana, Bintang Tenggara menangkap bahwa para peserta upacara adat dilarang keras melangkah keluar dari wilayah pohon karena akan berada di luar wilayah perlindungan. Bila terjatuh dari atas daun atau berteriak ‘menyerah’, maka para peserta dengan sendirinya akan dikirimkan kembali ke Pulau Belantara Pusat. 

Usai menyampaikan aturan, sosok Bapuyu Huludaya kembali menghilang. Kepergian tokoh tersebut segera disusul oleh semacam gempa bumi pada permukaan daun. Bukan, bukanlah gempa bumi. Yang sesungguhnya terjadi adalah daun raksasa tempat berpijak bergegar keras dan oleng dengan sendirinya.. 

Bintang Tenggara segera duduk bersila, dan disusul oleh Puyuh Kakimerah. Gempa pada permukaan daun semakin deras, seolah daun itu sendiri bergelombang, mengombang-ambingkan segenap ahli yang ada di atasnya. 

Di saat itu, Bintang Tenggara sudah memahami bahwasanya upacara adat telah dimulai. Karena jumlah keeluruhan peserta masih terlampau banyak, maka perampingan perlu dilakukan. 

Berbagai teknik dilancarkan agar mereka para remaja tetap dapat bertahan di atas permukaan daun. Ada yang melayang ringan, sehingga membuat Bintang Tenggara terkesima. Sebagaimana diketahui, ahli Kasta Perak sudah dapat melayang di udara, namun kemampuan ini perlu dipelajari, karena ia tak datang dengan sendirinya. 

Bintang Tenggara menyapu pandang, dan menyadari bahwa goncangan pada daun semakin terasa keras. Bintang Tenggara mulai goyah. 

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Tambat!” 

Rapalan tersebut dilakukan oleh Puyuh Kakimerah. Bintang Tenggara cukup mengenal akan jurus ini, yaitu memanfaatkan jalinan rotan untuk menjerat. Seketika itu pula, jalingan rotan mengikat kaki Bintang Tenggara serta Puyuh Kakimerah ke permukaan daun. Meski terkesan disandera, Bintang Tenggara malah bernapas lega. 

Waktu belalu. Betapa pun kerasnya gempa di atas permukaan daun berlangsung, tak terdengar sama sekali ada remaja yang menyerah. Walhasil, di saat daun raksana selesai melaksanakan tugasnya, tak seorang pun remaja yang terpaksa meninggalkan upacara adat serta dikirim kembali ke Pulau Belantara Pusat. 

“Swush!” 

Tetiba tekanan deras datang membebani sekujur tubuh. Untuk lebih tepatnya, tekanan diarahkan kepada permukaan daun, sehingga apa pun makhluk hidup yang berada di antaranya terkena dampak yang tak ringan. Bintang Tenggara pun sudah tak kuasa untuk bangkit berdiri. Bahkan, yang awalnya ia duduk tegap bersila, kini terpaksa membungkuk. 

Sejumlah remaja terlihat mengerahkan segenap kemampuan bertarung demi menghadapi tekanan. Tiada mereka ketahui, bahwa cara mengatasi tekanan tenaga dalam, adalah dengan bertahan. Menghadapi tekanan, yang perlu dilakukan adalah dengan memanfaatkan keteguhan hati yang mantap.  

“Aku menyerah...”  

“Menyerah...” 

Beberapa peserta sudah tak kuasa lagi menahan tekanan nan maha berat. Usai mengungkapkan kata menyerah, sekujur tubuh mereka sontak diliputi kemilau bercahaya. Lalu, sebagai cahaya, tubuh mereka pun melesat pergi ke angkasa tinggi, melintasi lorong dimensi, 

Jumlah peserta pada permukaan daun di mana Bintang Tenggara berada, berkurang sekira satu perempat. Jumlah pengurangan yang cukup tinggi, dan juga sedang berlangsung di atas permukaan dedaunan lain. Bintang Tenggara menyadari bahwasanya tekanan belum hendak surut, dan turut menyadari bahwa situasi ini merupakan pertarungan satu lawan satu bagi setiap ahli yang mengikuti upacara adat. 

“A... a... Tak... kuat...,” rintih Puyuh Kakimerah lemah. 

“Atur aliran tenaga dalam... Tak lama lagi... tahan...,” bisik Bintang Tenggara. Ia menyadari bahwasanya terdapat batasan waktu bagi tekanan nan maha berat. Yang perlu dilakukan saat ini, adalah tegus bertahan.