Episode 69 - Petuah Sang Guru



Sore itu Di Kutaraja Rajamandala rumah Ki Mantri Citrawirya, Ki Citrawirya pulang ke rumah dengan wajah kusut, laporan tentang musnahnya Desa Cukang Kawung dua malam yang lalu membuat negeri Mega Mendung dinyatakan dalam keadaan darurat, ia beserta Ki Sentanu dan Ki Balangnipa bertugas untuk menyelesaikan prahara Rajapati ini.

Puluhan jago bayaran telah mereka kerahkan untuk membantu ratusan Prajurit Mega Mendung yang ditugaskan untuk mencari Mega Sari dan dua abdinya yang dituduh menjadi dalang dibalik semua peristiwa mengerikan ini, tapi mereka tidak pernah kembali, tidak ada kabar dari mereka, hingga menurut mata-mata yang disebar mereka semua mati di berbagai tempat, negeri itu pun goyah oleh peristiwa Rajapati yang baru berlangsung beberapa hari ini, kalau ada negeri bawahan mereka yang berontak atau ada negeri lain yang menyerang mereka, maka niscaya hancurlah negeri yang didirikan oleh Prabu Betara Gandara tersebut.

Saat ia pulang, istrinya langsung menghampirinya sambil menangis, “Lho ada apa Nyai?” tanya pria paruh baya itu.

“Kakang, Ibu meninggal!” jawab istrinya sambil menangis.

“Inalillahi, kapan meninggalnya Nyai?” tanya Ki Citrawirya dengan terkejut.

“Semalam Kakang, kita harus segera kesana!” jawab Istrinya.

Ki Citrawirya mengerutkan dahinya berpikir, lalu ia menggeleng perlahan. “Maaf Nyai, saya tidak bisa karena keadaan Negara sedang dalam keadaan darurat! Kamu saja yang pergi bersama si Teteh, besok kalau aku mendapat izin dari Gusti Prabu, aku akan langsung menyusul ke Cipanas!”

Istrinya mengangguk karena ia maklum dengan tugas suaminya dan keadaan Negara yang sedang gawat ini, maka ia pun segera bergegas, “Nyai bawalah dua puluh pengawal terbaik kita, dan jangan lupa, bawa bawang putih, bawang merah, serta cabai merah dan sapu lidi! Yah sekedar untuk berjaga-jaga karena kalian pasti akan kemalaman di perjalanan!” pesan Ki Mantri.

“Baik Kakang, Kakang juga berhati-hatilah, saya sudah menyiapkan semua sesajen penolak bala di halaman belakang! Saya pergi dulu!” pamit Nyai Mantri.

“Terima kasih Nyai.” angguk Ki Citrawirya, kemudian ia menatap wajah putrinya yang sedari tadi terdiam dan menundukan kepalanya untuk menyembunyikan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya karena ditinggal oleh neneknya tercinta. 

Lama Sang Mantri menatap wajah putrinya yang cantik tersebut, entah mengapa ia seperti mendapat satu firasat yang aneh, rasanya ia tidak ingin berhenti menatap wajah putri kesayangannya yang tadinya hendak ia jodohkan dengan Raden Jaya Laksana tersebut. Namun disisi lain nalurinya malah ingin secepatnya ia melepaskan putrinya agar pergi sejauh mungkin dari rumahnya dan Kutaraja ini. Entahlah, begitu aneh dan dan bercampur aduknya perasaan pria yang sudah amat lama mengabdi di Negeri Mega Mendung ini.

Seperginya sang istri dan putrinya, Ki Citrawirya rebahan diatas kasurnya sambil terus memikirkan permasalahan pelik yang sedang dihadapai oleh Negeri Mega Mendung, sudah tak terhitung berapa kali ia mendesahkan nafas berat sambil memandangi langit-langit kamarnya yang diterangi cahaya matahari senja yang mulai meremang, di langit luar rumahnya, tampak Sang Bagaskara pulang dengan begitu indahnya, cahaya yang emas kemerahan membuat langit biru berubah menjadi lembayung. Ki Citrawirya bagun dari tempat tidurnya untuk menatap sebentar langit senja yang indah itu, ia lalu menutup jendelanya dan menyalakan lampu kamarnya dan kembali rebahan hingga tak terasa ia tertidur cukup pulas.

Saat itu tiba-tiba bumi berguncang hebat! Angin badai bertiup menderu dahsyat! Ki Citrawirya terbangun ketika angin ribut membuat daun jendelanya terbuka dan lepas dari engselnya! Gempa bumi itu semakin hebat sampai membuat Ki Citrawirya tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidurnya, tubuhnya berguling-guling hampir terlempar dari tempat tidur! Dengan sekuat tenaganya, ia berpengagan pada sandaran tempat tidurnya! Ia pun mengerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan dari guncangan gempa dan angin badai yang dahsyat ini!

Dan satu keanehan terjadi! Bagaikan ada suatu tenaga gaib yang maha dahsyat, tempat tidur besar yang sangat berat Ki Citrawirya yang terbuat dari jati tersebut melayang lalu berputar-putar laksana kincir angin! Ki Citrawirya terus berpegangan sekuat tenaga sambil mengerahkan tenaga dalamnya agar tidak terlempar dari tempat tidurnya! 

Tiba-tiba... Wuussshhh! Brakkk! Tempat Tidur Ki Citrawirya hancur terbanting ke lantai dengan amat keras! Ki Citrawirya mengeluh menahan sakit di sekujur tubuhnya, kemudian ia berusaha untuk mengatur nafasnya dan mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian punggung dan pinggangnya yang sakit, namun tiba-tiba sekujur tubuh Ki Citrawirya seolah ditarik lalu diterbangkan keatas menerobos langit-langit kamarnya sampai keatas angkasa oleh satu tenaga ghaib yang maha perkasa!

“Aaaaa!!!” jerit Ki Citrawirya ketika dirinya berputar-putar di angkasa lalu terbanting kebawah! “Aaaa!!!” Brusss!!! Ki Citrawirya menjerit kesakitan ketika dibanting ke tanah oleh satu tenaga gaib yang maha dahsyat! Dengan menahan sakit disekujur tubuhnya, Ki Citrawirya bangun dan melihat kesekitarnya, entah mengapa ia kini berada di padang rumput lapangan perang, di sana banyak sekali mayat-mayat bergeletakan, kuda-kuda perang yang mati, senjata-senjata yang patah, darah menganak sungai di lapang padang rumput tersebut!

Ki Citrawirya menatap pemandangan disana dengan amat ngeri, hingga tiba-tiba asap kabut turun merendah menghalangi pengelihatan Sang Mantri tersebut. Tiba-tiba terdengar suara yang amat dalam namun menggetarkan seluruh tempat itu memanggil namanya. “Wirya...” panggil seseorang yang muncul dari balik asap kabut.

Bulu kuduk Ki Citrawirya langsung merinding mendengar suara itu, karena suara itu sangat ia kenali, “Wirya...” sekali lagi suara itu memanggil, dan bukan main terkejutnya Ki Citrawirya ketika dugaannya tepat, orang itu adalah Pangeran Dharmadipa yang mengenakan pakaian pangeran kebesaran Mega Mendung!

“Kau tentu ingat padaku Wirya?” tanya Dharmadipa.

Ki Citrawirya melotot ketakutan menatap Dharmadipa. “Dharmadipa? Ke… Kenapa kau masih hidup?!”

Dharmadipa menyeringai buruk sambil menatap Ki Citrawirya. “Iya, aku adalah dendam abadi yang akan membalaskan sakit hatiku! Gerak dan langkahku adalah takdir dari Sang Raja Iblis untuk menebarkan bencana dan ketakutan bagi setiap umat manusia!” tandasnya.

“Mau apalagi kau kemari? Kau sudah melakukan perbuatan paling biadab yang membantai rakyat yang tidak bersalah di Bumi Mega Mendung ini!” tanya Ki Citrawirya.

Dharmadipa mendengus dengan wajah dingin. “Tugasku memang membuat darah terus membanjir di mayapada ini!” Dharmadipa menutup ucapannya dengan mencekik Ki Citrawirya dengan sekuat tenaganya. “Sekarang aku akan menjemputmu!” tukas Dharmadipa dengan angkernya.

“Ampun! Ampun!” jerit Ki Citrawirya memohon ampun belas kasihan.

Saat itulah Ki Citrawirya membuka matanya, ia celingukan melihat keadaan disekitarnya, ia masih berada di kamarnya tanpa kekurangan satu apa, ternyata itu hanya mimpi yang sangat buruk! “Dharmadipa!” desisnya sambil mengusap-usap wajahnya, sekujur tubuhnya pun dibasahi oleh keringat.

Saat itu tiba-tiba burung Sirit Uncuing bercuit parau keras sekali, Ki Citrawirya mendelik tegang, ia lalu mengambil Keris pusakanya. “Burung Sirit Unicuing! Berarti Rajapati itu ada disini! Baiklah aku akan mengadu nyawa untuk menghadapinya!” tekad Ki Citrawirya, ia lalu berlari keluar rumahnya.

Halaman rumahnya nampak sangat sepi, Ki Citrawirya celingukan mencari burung Sirit Uncuing, tapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat tubuh-tubuh para prajurit dan pembantu rumahnya bertumpuk dalam keadaan mati di gerbang rumahnya! “Jahanam! Dharmadipa keluar kau!” tantangnya. 

Ia lalu mengikuti arah suara cuitan burung Sirit Uncuing itu sampai ke halaman belakang rumahnya, di sana dekat kandang kuda, burung itu bertengger diatas dahan sebuah pohon. “Keparat! Kau ingin mempermainkan aku?! Aku bukan pengecut seperti mimpi murahan yang kau berikan padaku itu!” lantangnya pada burung Sirit Uncuing tersebut.

Ia lalu mengambil sebuah obor, dengan sekuat tenaga obor itu dilemparkan ke pohon itu, si burung langsung terbang menghindar, obor itu langsung membakar pohon tersebut. Tiba-tiba Dharmadipa telah berdiri dibelakang Ki Citrawirya sambil tertawa tergelak, Ki Citrawirya segera berbalik sambil menghunus Keris Pusakanya!

“Dharmadipa! Kali ini kau akan aku benar-benar binasakan!” tunjuk Ki Citrawirya, ia langsung menerjang dengan Kerisnya, tapi seperti yang dialami oleh para korban Dharmadipa, Keris pusaka tersebut serasa hanya membabat angin saja saat mengenai tubuh Dharmadipa! Ki Citrawirya terkejut karena rupanya kerisnya tak sanggup untuk melukai Dharmadipa, maka ia pun mengambil sebuah obor lagi, kemudian melemparkannya pada Dharmadipa!

Dharmadipa diam tak bergerak dari tempatnya, hingga obor itu tepat mengenai tubuhnya dan membakar sekujur tubuhnya! Api berkobar-kobar membakar sekujur tubuhnya, namun Dharmadipa malah tertawa bergelak mendapatinya, seolah tak merasakan apapun dari kobaran api yang membakar tubuhnya. “Kau ingin mampus seperti kau membakar aku ini? Bagus! Supaya kau tahu panasnya api neraka untuk penghianat macam kau!”

Tiba-tiba tubuh Dharmadipa berubah menjadi satu bola api raksasa, bola api itu langsung menerjang Ki Citrawirya, Ki Citrawirya terus berusaha menghindar namun bola api itu terus mengikuti, hingga akhirnya ia tidak sanggup menghindar lagi dan... “AAaaaa!!!” jeritnya setinggi langit ketika bola api itu membakar sekujur tubuhnya, tewaslah Mantri senior Mega Mendung itu dengan tubuh hangus terbakar! Dharmadipa tertawa puas, ia lalu menghilang lenyap bagaikan ditelan bumi!

*****

Tapa Jaya Laksana di Pelabuhan Ratu yang telah berlangsung selama tujuh hari tujuh malam menghentak-hentak batin Kyai Supit Pramana yang amat peka di puncak Gunung Tangkuban Perahu, orang tua berusia lebih dari seratus tahun itu dapat mengakap kekecewaan dan kegeraman murid terkasihnya yang diwujudkan dalam tapanya itu. Maka, bergegas Kyai Supit Pramana meninggalkan Puncak Gunung Tagkuban Perahu untuk langsung menuju ke Pelabuhan Ratu menemui Jaya Laksana. 

Suara deburan ombak dan badai yang dahsyat itu tidak sanggup untuk membangunkan tapa brata Jaya Laksana, tapi tiba-tiba satu tembang yang merdu mengalun lembut menggugah tapa Jaya, suaranya yang lembut itu mengalun mengalahkan dahsyatnya deburan gelombang dan badai menusuk-nusuk kuping Jaya dan melesak bersarang tepat di sanubari cucu Prabu Siliwangi dari putranya yang paling bungsu itu. Begini kata-kata yang terlantun dalam tembang tersebut :

Tidak ada yang sakti di muka bumi.

Yang Sakti hanyalah Gusti Allah.

Tidak ada manusia suci di jagat ini.

Yang maha Suci hanyalah Gusti Allah.

Tidak ada yang paling kuasa di mayapada.

Yang Maha Kuasa hanyalah Gusti Allah.

Jaya membuka matanya, ia menghentikan doanya, ia lalu celingukan mencari sumber suara itu, lantunan tembang yang memuja Gusti Allah sekaligus mengingatkan manusia itu terus mengalun, menggema ke seantero Pantai Pelabuhan Ratu tersebut mengalahkan dahsyatnya suara deburan ombak dan badi, perlahan badai dan gejolak di Samudera Kidul itu mereda seiring terus terlantunnya tembang tersebut.

Tidak ada manusia yang serba benar di bumi ini.

Yang Maha Benar hanya Gusti Allah.

Tidak ada manusia yang bisa adil.

Yang Maha Adil hanyalah Gusti Allah.

Maka ingatlah wahai engkau cucu adam.

Bahwa Sang Pencipta hanyalah Gusti Allah.

Janganlah engkau syirik karena merasa kekurangan.

Karena Gusti Allah Sang Maha Pengasih Lagi Maha Penyanyang...

Lantunan tembang itu berakhir setelah alam kembali di Pantai Pelabuhan Ratu tersebut kembali menjadi tenang, Jaya melihat Kyai Supit Pramana duduk bersidekap di tepi pantai Pelabuhan Ratu. Mendapati gurunya yang merupakan alim ulama yang luar biasa sakti itu, Jaya berjalan menghampiri gurunya itu, kemudian bersujud memohon ampun karena telah memarkan kesaktiannya yang padahal ia dapat dari Kyai Supit Pramana atas seiizin Allah.

Kyai Supit Pramana langsung membangunkan Jaya, “Sudah berapa kali kukatakan muridku, jangan menyembah apapun selain pada Gusti Allah! Jangan lagi bersujud padaku, aku tidak suka!”

Jaya pun bangkit. “Maafkan saya Guru” ucapnya. 

Kyai Supit Pramana pun langsung berujar, “Jaya Laksana muridku, hentikanlah kesombonganmu dengan menunjukan kedigjayaanmu itu, ketahuilah, memamerkan kesaktian adalah wujud nyata ketakaburan. Orang yang takabur laksana menanam keburukan yang akan menuai murka Gusti Allah! Maka, tetaplah engkau berendah hati muridku! Singkirkan jauh-jauh kesombongan dari hatimu, sikap rendah hati akan menuntunmu ke arah keluhuran budi yang akan membawamu meraih berkah dan ridha Allah!”

Setelah Kyai Supit menutup mulutnya, kontan seluruh tubuh dan pakaian Jaya basah kuyub oleh air laut, padahal selama bertapa di tengah laut sampai saat menghampiri gurunya tadi, tubuh dan pakaian Jaya masih kering! Jaya pun langsung merasa kedinginan seperti orang yang masuk angin, bibirnya membiru, sekujur tubuhnya menggigil kedinginan, kepalanya sakit dan perutnya kembung! Maka menunduklah kepala pendekar yang namanya begitu menggegerkan dunia persilatan ini. “Hamba mohon ampun Guru.”

Sejenak Kyai Supit terdiam menatap muridnya tersebut, lalu katanya kemudian. “Jika engkau berkehendak menuntut hak dan keadilan, maka hendaklah engkau senantiasa bersyukur kepada Gusti Allah. Bersyukurlah engkau karena telah dikaruniai kesaktian dan kedigjayaan lebih, namun sekali-kali jangan engkau pamerkan, hanya akan mengundang kemurkaan Gusti Allah kepadamu!”

Jaya mengangguk. “Hamba Guru...”

“Baiklah jika engkau memahami... Aku tahu engkau masih punya pertanyaan, utarakanlah!”

Jaya menghela nafas kemudian mengujarkan apa yang dalam benaknya. “Guru sejujurnya selama saya belajar ilmu termasuk ilmu agama, saya belum memahami bagaimana timbulnya dunia ini, apa sebabnya? Apa guna manusia hidup? Mengapa harus mati? Itulah yang menganggu pikiran saya.

Jikalau saya memandang keatas langit, ke batas garis cakrawala, saya bertanya dalam hati saya adakah batas dunia ini? Apakah yang dibalik alam ini? Bagaimanakah terbentuknya alam ini? 

Suatu negeri lahir kemudian runtuh, mahluk-mahluk membunuh, datang dan pergi, tidak ada yang tetap dalam kehidupan ini. Apakah itu baik dan buruk? Bagaimana menimbang baik dan buruk?”

Kyai Supit mengangguk sambil memainkan janggutnya, ia paham pertanyaan-pertanyaan tersebut timbul dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh muridnya. "Baiklah Jaya akan kuberikan pelajaran yang amat tinngi dari Kanjeng Rasul untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat."

Kyai Supit menghela nafas sebelum memberikan wejangannya, lalu sambil duduk diatas sebuah batu karang dia memulai wejangannya kepada Jaya Laksana. "Perang itu sesungguhnya hanyalah suatu alat penghancur untuk menghilangkan kerusakan yang disebabkan oleh kebhatilan, diganti dengan yang baru. Timbulnya suatu peradaban itu adalah karena perombakan dari yang silam yang manusia rusak sendiri. 

Agama Islam lahir sebagai agama penutup, tidak akan ada lagi agama yang diridhai oleh Gusti Allah selain Islam, Kitab suci Al Qur'an lahir sebagai pelengkap dari semua kitab suci sebelumnya yaitu Taurat, Zabur, dan Injil. Memang sudah menjadi takdir Hyang Maha Kuasa kalau semua pemeluk kitab sebelum Al Qur'an itu akan selalu memusuhi para pemeluk agama Islam jika mereka menolak untuk masuk Islam, dan di antara para pemeluk Islam pun akan selalu muncul perbedaan, hal itu dikarenakan terbatasnya daya berpikir manusia yang tidak akan pernah bisa menyingkap takdir Illahi.

Tanpa persengketaan manusia tidak akan bergairah untuk hidup lebih maju. Tanpa perangpun semua mahluk akan menemui ajal yang telah digariskan. Setelah itu diganti dengan manusia yang baru untuk meneruskan sisa pekerjaan yang telah mati. Demikianlah seterusnya seperti alam raya yang terus bergerak gberputar tak pernah diam, demikian pula pikiran manusia setiap detik bergerak terus tak pernah berhenti. 

Manusia sebagai tempat roh akan mengalami masa bayi, kanak-kanak, dewasa sampai kemudian mati, bagi yang tawakal berserah diri kepada Gusti Allah tidak akan goncang hatinya. Walaupun tidak perang, alam akan merusak dan menghancurkan kehidupan agar manusia menjadi sadar, bahwa dia tak berkuasa apa-apa di dunia ini. 

Pandanglah kehidupan seluruh manusia yang hidupnya hanya mengejar kehidupan kenikmatan duniawi muridku, mereka itu adalah manusia-manusia yang tak menyadari asalnya dan diperbudak oleh khayalan. Perjalan hidup manusia tidak bisa tetap, bagaikan alam, ada terang dan gelap, ada panas dan dingin, berubah-ubah sesuai kehendak Hyang Maha Kuasa. 

Usia hidup dialam ini kasar ini tak ubahnya seperti kedipan mata cepatnya bila dibandingkan dengan usia alam yang berjuta-juta tahun. Oleh sebab itu terimalah segala derita ataupun semua cobaan dengan ikhlas nerima kepada yang telah digariskan oleh Gusti Allah.

Atma atau roh itu tak dapat dihancurkan dengan kekuatan apapun, tak dapat dilihat, tak dapat dipikirkan, tak bisa berubah sifatnya. Tak bisa dibunuh walaupun jasad yang menjadi tempatnya bersemayam dihancurkan. Semua mahluk pada permulaannya tidak tampak, setelah melalui nafsu birahi antara pria dan wanita diasatukan, barulah dibentuk dalam rahim. 

Setelah dilahirkan barulah nampak, semenjak kecil hingga tua bangka, mereka tak menyadari bahwa mereka berasal dari tak tampak yaitu tiada. Kematian menjadi momok ketakutan bagi yang tak mengenal atmanya. Orang seringkali memperbincangkan tentang roh, meskipun demikian hanya beberapa orang saja yang mengerti pada sifat abadi itu. Ada dan tiada sama saja bagi siapa yang sesungguhnya mengetahui sajatining kebenaran. Yang menguasai manusia dialam lahir ialha pancaindra, sedangkan Atma adalah pendukung raga seluruhnya.”

Sambil memandang ke arah laut Kyai Supit Pramana menyedekapkan tangannya lalu melanjutkan ucapannya. “Lahirnya panca indra setelah menjelma menjadi manusia, sedangkan atma sudah ada sebelum manusia lahir kedunia. Tetapi janganlah menyekutukan atma dan pancaindra, karena didalam pancaindra itu terdapat nafsu-pikiran, itikad persaan dan akal. 

Siapa yang beritikad baik pikirannyapun akan tenang, nafsunya dapat terkendalikan, perasaannya akan lebih tajam, dan akalnyapun akan lebih cerdas. Siapa yang dapat mengendalikan seluruh panca indranya dan memusatkan akal budinya terhadap atma untuk bersujud berserah diri kepada Illahi, dialah yang akan menemukan kebahagiaan sejati nan abadi dunia-akhirat. 

Illahi adalah yang tak ada habis-habisnya dan tertinggi yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya, Adhi Atma adalah roh suci yang bersemayam dalam diri manusia, setan adalah nafsu negatif yang menimbulkan nafsu keduniawian. Siapa yang mengingat bahwa Gusti Allah adalah yang paling esa berkuasa, maka dialah yang mengetahui kebenaran.

Orang yang sempit pikirannya menganggap Illahi itu hanya bersifat tidak kelihatan dan beranggapan Illahi itu omong kosong belaka yang tidak masuk akal, padahal Illahi ada dimana-mana dalam segala bentuk dan kekal sifatnya yang memberikan daya berpikir pada seluruh manusia. Bukan Ilmu ataupun kesaktian fisik yang bisa menuntun kejalan yang manunggal di Jalan Illahi, karena ilmu tanpa disertai budi, dan kesaktian lahir adalah kesombongan dan kemurkaan. 

Dia yang beriman, bertaqwa, dan bertwakal kepadanya dan berikhtiar mempersatukan dia dengan Illahi sambil menjalankan kebajikan, dan menyebarkan ajaran Illahi dia akan mencapai sifat yang diridhai Gusti Allah untuk menjadi Khalifah Umatnya. 

Apa yang disebut prikebajikan adalah rendah hati, jujur, sabar, dapat melepaskan pikiran dan hawa nafsu keduniawian, dan tidak menyimpan kebencian. siapa yang melihat bahwa benda yang saling bunuh dan bukan rohnya, siapa yang mengakui segala yang terjadi akibat kesalahannya sendiri dialah yang nerima. Bangkitlah engkau muridku! Kalahkanlah semua musuh-musuhmu! Karena engkau adalah alat untuk melenyapkan angkara murka dan membentuk kehidupan yang baru di tanah Pasundan ini!"

Kyai Supit Pramana kemudian menepuk bahu Jaya. “Janganlah bersedih hati menghadapi ujian ini muridku, semua yang kukatakan ini adalah Ilapat dari Gusti Allah demi memberimu petunujuk atas permohonanmu kepada Gusti Allah siang dan malam, aku tidak bisa mengatakan pastinya takdirmu bagaimana karena itu rahasia Gusti Allah namun ketahuilah bahwa takdirmu bukan untuk menjadi raja, juga bukan untuk kembali menjadi pengembara seperti dahulu, bukan juga menjadi pejabat keraton seperti sekarang ini, takdirmu amat sangat tidak kau duga namun akan membawa kebahagiaan juga ketenagan bathin untukmu, bersabarlah muridku!”

Jaya mengankat kepalanya dan menatap wajah Gurunya sebentar kemudian kembali menunduk. "Yang Guru wejangkan benar-benar meresap dalam sanubariku, hamba bersyukur ternyata Gusti Allah mengabulkan permohonan Hamba. Namun yang belum saya mengerti mengapa di jagat ini begitu banyak aliran kepercayaan?"

Kyai Supit Pramana Menjawab. "Sumbernya hanya satu seperti sumber air gunung yang sangat bersih tanpa ada kotoran mengalir kebawah. Lalu beranak sungai dihulu, dialirkan kesetiap arah untuk dipergunakan macam-macam keperluan seperti minum, mencuci, mengairi sawah, dan lain-lain sehingga kotor sulit dibersihkan kembali. 

Begitu pun pengertian tentang Tuhan, siapa yang memuja Allah SWT dia akan pergi kepada Gusti Allah, siapa yang memuja Dewa dia akan pergi kepada Dewa, siapa yang memuja Jin dia akan pergi kepada Jin, siapa yang memuja Leluhur dia akan Pergi kepada Leluhurnya. Namun tetaplah semua akan kembali kepada satu sumbernya yaitu sang maha pencipta Gusti Allah SWT, La Illa Haillallah tiada tuhan selain Allah. Ada pula orang-orang yang menyerahkan hartanya sebagai bakti kepada Illahi.

Namun dibalik hatinya ia meminta kembalinya yang lebih besar, itu namanya murka, ada orang yang berpura-pura memuja Illahi nmun mengharapkan upah, dia tidak akan sampai kepada Illahi. Begitulah pengertian tentang Tuhan, diolah beraneka ragam hasil pengertian akal tanpa budi, iman, dan Taqwa. Tidak demikian dengan orang yang beriman dan bertaqwa, dia akan terus menuju mencari sumbernya. 

Dia tidak akan terpengaruh oleh kesibukan dan nikmat duniawi yang tercipta darisetan pembawa hawa nafsu yang merusak. Dia akan senantiasa tenang, karena ia sadar bahwa semua pergolakan disebabkan oleh setan. Bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap gulita yang menemukan pelita, demikianlah orang yang berserah diri kepada Gusti Allah SWT.

Satu hal yang maha pasti, semua manusia akan mengalami kebingungan, termasuk dirimu, kamu akan menghadapi pilihan yang amat sulit, dan kamu akan merasa sangat tidak berdaya, minta tolonglah kepada Yang Maha Pandai, Allah! Karena Allahlah yang akan membimbing tanganmu, yang akan membimbing lidahmu, kalau kamu mau mendekat kepadaNYA. Dalam hatimu ada Allah, dalam darahmu ada Allah, Dalam setiap gerak langkahmu ada Allah, tidak ada kekuatan lain yang lebih perkasa kecuali Allah, mintalah pertolongan kepada Allah?Ó!”

Jaya mengangguk-ngangguk memahami apa yang disampaikan oleh gurunya, bahwasannya alam pikiran manusia tiada mungkin kan mencapai batas pentas ilustrasi Sang Pencipta, bahwasannya Allah sudah memberikan semua jawabannya, dan logika manusia hanya tinggal mencoba menafsirkan yang tersirat dalam kitabnya. Wajah Jaya pun kembali berseri, Kyai Supit lalu pamit untuk kembali pulang ke Gunung Tangkuban Perahu, ia juga berpesan agar Jaya cepat kembali ke rumahnya pada istrinya di Surasowan. Kyai Supit pun berpesan agar Jaya meminta izin kepada Sultan untuk mencari Mega Sari, karena saat ini Mega Sari sedang terancam satu bahaya yang sangat besar!