Episode 292 - Berkumpul



Di ufuk timur sang mentari menyeruak. Kehadirannya senantiasa tepat waktu, bahkan menjadi penanda bagi waktu itu sendiri. Kemilau sinar yang mengikuti, membawakan kehangatan serta keserasian. Di saat yang sama, semilir angin pagi berupaya mempertahankan kesejukan embun subuh, tapi tiada mampu ia menyaingi kodrat mentari. Oleh karena itu, semilir angin pagi berbaur menyatu dengan kemilau mentari, sehingga membangunkan semangat anak-anak manusia.

Di hamparan padang rumput nan luas di tengah Pulau Belantara pusat, ilalang tumbuh subur. Bunganya nan berwarna seputih salju, mengalun-alun, kemudian terbang gemulai dan ringan bermain bersama dengan angin. Melewati hamparan ilalang, pada bentangan terbuka nan luas, semangat ribuan remaja demikian menggelora. Sebagian besar dari mereka telah tiba sedari subuh, tak hendak sampai kehilangan kesempatan yang datang sekali seumur hidup. 

Ribuan remaja yang berkumpul di waktu dan tempat yang sama merupakan jumlah yang terbilang besar. Kesemuanya berada pada Kasta Perak berbagai Tingkat. Mereka berasal dari enam rumpun besar suku dayak, yang mana rumpun tersebut kemudian terbagi ke dalam 400 lebih sub-suku. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-suku, seluruh suku dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu sub-suku dapat dimasukkan ke dalam rumpun kelompok dayak. Diantaranya ciri yang kentara, mencakup bahasa, rumah adat, hasil kerajinan, senjata, pandangan terhadap alam, mata pencaharian, serta kesenian.

Oleh karena itu pula, mereka para remaja di bentangan padang tersebut terbagi dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Setiap kelompok ada yang terdiri dari belasan, lima, tiga, juga dua anggota guna mewakili suku masing-masing. Kesemuanya menanti penuh sabar di hadapan sebuah goa nan gelap. Janganlah berlama-lama menatap ke arah dalam goa tersebut, karena kekelamannya seolah dapat menarik paksa jiwa untuk keluar dari dalam tubuh.  

Di antara ribuan remaja, berdiri pada deretan paling belakang, adalah dua orang anak remaja. Yang satu berpenampilan layaknya suku dayak kebanyakan. Ia bernama Puyuh Kakimerah, putra dari Tiong Kakimerah. Perawakan tubuhnya kecil, serta wajahnya pun mirip sekali dengan sepupu perempuannya, Kuau Kakimerah. (1)

Di sebelah Puyuh Kakimerah, adalah seorang anak remaja nan penuh dengan tanda tanya. Ia merupakan seorang perwakilan yang tak memiliki darah dayak, namun berhak mewakili Suku Dayak Kaki Merah. Berbeda dengan para peserta lain di padang tersebut, ia memiliki alasan keikutsertaan yang unik.  

“Selamat datang wahai para perwakilan dari suku-suku dayak dari seluruh pelosok Pulau Belantara Pusat!” Tetiba suara membahana terdengar dari arah mulut goa. “Aku adalah Bapuyu Huludaya, anggota Dewan Dayak yang bertanggung jawab atas upacara adat kali ini.” 

Suara sambutan dari para remaja terdengar bergemuruh. Setiap satu dari mereka menyandang semangat nan berapi-api.

“Sebagaimana diketahui, bahwasanya kepemimpinan suku dayak saat ini berada di tangan Dewan Dayak. Namun, jauh sebelum keadaan ini berlangsung, kita semua mengenal kisah tentang seorang pemimpin yang agung di Pulau Belantara Pusat!”

Anggota Dewan Dayak Bapuyu Huludaya meneruskan kisah tentang seorang panutan spiritual, panglima perang, guru, sekaligus tetua bagi oloh itah, atau masyarakat dayak. Tentang kisahnya sebagai manusia terkuat di Pulau Belantara Pusat

Terdapat banyak versi ceritera tentang pemimpin tertinggi yang mengayomi masyarakat dayak ini. Ada yang mengisahkan tentang wujud gaib yang dapat mengubah-ubah bentuk, menjadi baik laki-laki atau perempuan, bahkan sebagai binatang siluman. Terdapat pula versi yang mengatakan bahwa beliau telah tiada, namun melalui ritual tertentu para panglima dapat berbicara bahkan memanggil diri sang pemimpin untuk kembali ke dunia fana. Ada lagi yang mengisahkan bahwa saat ini beliau masih hidup dan bersembunyi di balik lebat rimba belantara, menunggu saat yang tepat untuk kembali bilamana dibutuhkan.

Adalah Pangkalima Rajawali, sebutan sang pemimpin. Sosok yang mewakili masyarakat dayak secara umum. Tindak-tanduknya menjadi panutan, dan wataknya menjadi ajaran. Sang pemimpin memiliki pembawaan yang tenang, sabar dan ramah. Sungguh mencerminkan kehidupan masyarakat yang damai dan tenteram, serta diberkahi anugerah dari rimba belantara.

Akan tetapi, janganlah melangkahi kebaikan budi dan pekerti Pangkalima Rajawali, serta masyarakat dayak. Salah seorang Raja Angkara pada akhirnya menelan pil pahit kemurkaan. Merasa bahwa masyarakat dayak tak berani melawan balik, siluman sempurna itu bersama pasukannya mengamuk dan meluluhlantakkan puluhan pemukiman, tanah, dan rimba belantara yang menaungi masyarakat dayak.

“Sudah ratusan tahun sejak menghilangnya Yang Mulia Pangkalima Rajawali!” Anggota Dewan Dayak Bapuyu Huludaya berteriak membahana. Namun demikian, tak seorang pun dari ribuan remaja yang berdiri di hadapannya bersuara. Suasana tetiba berubah lengang, bahkan khusyuk. “Hari ini, di dalam Goa Awu-BaLang, kita akan mencari siapa di antara kalian yang pantas menjadi pewaris kemampuan, sekaligus penerus peran Pangkalima Rajawali!”

Sontak sambutan bergemuruh datang dari para remaja. Betapa bersemangatnya mereka. Selain menjadi penerus Pangkalima Rajawali, mereka sepenuhnya mengetahui bahwa terdapat banyak imbalan yang dapat diraih di dalam upacara adat.

Bapuyu Huludaya, Anggota Dewan Dayak, kemudian menghilang. Sebagai gantinya, tetiba muncul seorang gadis belia. Ia mengenakan pakaian adat secara lengkap, yaitu: berupa baju rompi, kain (rok pendek), ikat atau penutup kepala yang dihiasi bulu-bulu burung enggang, kalung manik-manik, ikat pinggang, serta gelang tangan. Bahan-bahan pembuatan busana yang ia kenakan menggunakan kulit kayu siren atau kayu nyamu. Selain itu, dibubuhi pula dengan warna dan corak hias yang diilhami oleh unsur alam, demi mempercantik busana tersebut. 

“Kuau...” Bintang Tenggara segera mengenali gadis belia tersebut. Akan tetapi, di saat itu pula ia menyadari bahwa tatapan mata Kuau Kakimerah terkesan kosong adanya. Pembawaan kikuk berubah kaku, serta raut wajah yang biasa pemalu menjadi datar. Sekali pandang saja, Bintang Tenggara sudah dapat menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang tak beres dari gadis belia tersebut.

Kuau Kakimerah mengambil beberapa langkah maju. Ia kemudian merentangkan tangan. Di muka goa, kemudian terlihat rotan-rotan besar dan kecil merambat cepat membungkus pundak dan dadanya. Bermuara di punggung, rotan-rotan tersebut merangkai dan menjalin cepat dan erat, kemudian seolah hendak membungkus tubuh.

“Flap!”

Tetiba jalinan rotan terkembang! Angin menderu deras ke segala penjuru. Panjang bentangan jalinan rotan di satu sisi mencapai lebih dari lima meter, lebih panjang dari kala di Kota Ahli. Demikian megah lagi perkasa. Tak perlu dicermati dengan seksama untuk mengetahui bahwa jalinan rotan tersebut berwujud kepak sayap burung rajawali! 

Hampir seluruh remaja di padang luas tercekat di tempat. Betapa mereka terpana akan pemandangan yang mengemuka. Sebaliknya, ini bukanlah kali pertama Bintang Tenggara menyaksikan wujud kesaktian unsur rotan milik Kuau Kakimerah. Saat berlangsung Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli beberapa waktu lalu, Kuau Kakimerah pernah menunjukkan taraf keserasian yang demikian tinggi terhadapa unsur kesaktiannya. 

Sepasang sayap yang terkembang mulai mengepak. Kuau Kakimerah lalu memutar tubuh dan menatap liang goa, kemudian melayang maju secara perlahan. Terhadap liang goa yang tadi gelap, sepasang sayap yang terbuat dari jalinan rotan tetiba menikam deras. Setelah itu, sayap-sayap rotan mengonyak paksa kegelapan! Berkas cahaya mulai menyibak perlahan dari kekelaman yang terkoyak. Bukan lagi liang goa, melainkan sebuah lorong dimensi ruang nan besar yang mengemuka! 

“Upacara Adat DIMULAI!” teriak sang ketua panitia sebagai aba-aba.

Para remaja yang berada di barisan paling depan segera merangsek masuk secara bergiliran. Cukup tertib, mereka melangkah masuk ke dalam lorong dimensi ruang tanpa ragu. 

Bintang Tenggara hanya mengamati, sambil menanti giliran masuk. Sedikit penasaran terhadap lorong dimensi tersebut, namun akan ia pastikan jikalau sudah dekat nanti. Pada saat itulah, tiba-tiba kedua bola matanya menangkap sosok yang tak asing! Postur tubuh nan ramping dengan rambut berkepang satu jauh di hadapan sana. Meski menatap dari barisan paling belakang sekali, Murid Utama Perguruan Gunung Agung itu tiada mungkin keliru. Ia dapat mengenali sosok kemudian menghilang masuk ke dalam lorong dimensi ruang Goa Awu-BaLang. 

Bintang Tenggara maju selangkah-selankah. Namun demikian, belum sempat keheranannya menyurut, sosok lain lagi terlihat dari arah sisi padang rumput nan luas. Bintang Tenggara kemudian memastikan keberadaan seorang remaja lelaki berpakaian serba terang, yang melangkah penuh percaya diri. Karena berada di sisi, dan melangkah lambat lagi santai, maka dapat dicermati kibasan rambut belah tengah yang menjadi kebanggaan. 

“Sahabat Bintang!” Ibarat disambar petir, tubuh Bintang Tenggara berubah kaku. Dari arah belakang, seorang remaja lelaki bertubuh bongsor menghampiri. Tanpa perlu menoleh, Bintang Tenggara hapal betul suara dan sapaan yang baru saja ditujukan kepada dirinya.


Catatan:

(1) Kuau, Enggang dan Tiong merupakan jenis-jenis burung di Pulau Belantara Pusat.