Episode 291 - Keikutsertaan



Sekujur tubuh nyeri. Kesadaran belum sepenuhnya kembali. 

Samar, terasa kehadiran seekor binatang. Ia berjingkat mendekat, mengamati, memeriksa. Dari bayangan yang tercipta, dapat diperkirakan bahwa ukuran tubuhnya terbilang besar. Apakah seekor monyet, babi hutan, atau mungkinkah ular...? Bukan, sepertinya sejenis unggas. 

Kemudian, terdengar lantunan mirip lagu. Tiada dapat dicerna karena menggunakan bahasa nan asing. 

     Batiruh anak garing tarantang 

     Panyambung tiang bandera panjang 

     Gulung hai garing tarantang

     Akan menyanang je atei huang (1)

Suasana kembali gelap... 

...

“Nak Bintang...,” suara menyapa terdengar sayup. Tubuhnya terasa digerak-gerakkan. 

“Nak Bintang... bangunlah...”

Bintang Tenggara membuka kelopak mata, perlahan. Kepalanya pening, ulu hati nyeri. Ia bangkit dan menyadari bahwasanya sudah berada di dalam sebuah kemah nan dibangun seadanya dari daun rumbia. 

“Ikau pingsan di tengah hutan... Kepala Suku kebetulan menemukan dan membawa ikau kembali ke perkemahan...”

“Mama’ Tiong...?” Bintang Tenggara berujar lemah. 

“Minumlah...,” Mama’ Tiong memberikan air yang ditempatkan dalam batok kelapa tua.

Sungguh segar terasa air mengalir di tenggorokan yang kering. Akan tetapi, ingatan pahit segera mencuat di dalam benaknya. Bintang Tenggara mengingat bahwa dirinya kalah telak di dalam pertarungan dengan seorang remaja sepantaran. Remaja dayak yang mengenakan ikat kepala.... Parahnya lagi, ia tak mengetahui pasti bagaimana cara lawan membungkam dirinya.

Karena baru tersadar, benak putra kedua pasangan Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara melayang jauh... Untunglah sedari awal ia memperkenalkan diri dengan memakai nama Bintang, tanpa embel-embel Tenggara. Untunglah ia tak menyebut diri sebagai Balaputera Gara. Apa jadinya bilamana ada ahli yang mengetahui tentang jati dirinya...? Seorang Murid Utama dari perguruan terkemuka dan Putra Mahkota dari kemaharajaan yang memandang tinggi nilai keahlian, dapat dikalahkan dengan mudah dan telak. Bintang Tenggara menyadari bahwa ia mencemarkan nama besar Perguruan Gunung Agung sekaligus Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Entah mengapa pemikiran yang sedemikian merasuk ke dalam benaknya. Biasanya, anak remaja tersebut tiada akan terlalu memusingkan diri dengan jabatan dan status. Mungkin benaknya sedang tak bisa berpikir jernih. 

Berkas sinar mentari menyeruak cepat di kala tirai kemah disingkap. Terpaan yang menyilaukan membuat kepala semakin pening. Akan tetapi, kini diketahui bahwa hari telah beranjak petang. Bayangan kembali memayungi di kala sang Kepala Suku Dayak Kaki Merah melangkah masuk. Raut wajahnya cemas. 

Mama’ Tiong beringsut, memberi ruang. 

“Nak Bintang, katakan apakah sesungguhnya yang terjadi...?” Sang Kepala Suku tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu. 

“Diriku terlibat dalam pertarungan...,” tanggap Bintang Tenggara cepat. 

“Bertarung atas alasan apa...? Mengapakah ikau demikian ceroboh...?” Mama’ Tiong menyela. 

“Tiong... biarkan Nak Bintang menyampaikan kejadian yang berlangsung...” 

“Diriku hendak menyelamatkan seekor binatang siluman yang tertangkap...,” lanjut Bintang Tenggara. 

“Binatang siluman apakah itu...?” Enggang Kakimerah demikian penasaran. 

“Seekor kancil...” 

“Seekor kancil...?” dahi sang Kepala Suku berkedut. “Apakah dikau yakin...?”

“Ya, seekor kancil.” Bintang Tenggara berujar cepat. Mana mungkin ia melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi binatang siluman tersebut. 

“Beruntung ikau dalam perjalanan balik Kepala Suku dan yang lain melintas di wilayah itu...”

“Bukan... bukan sebuah keberuntungan...,” gumam sang Kepala Suku. “Apakah ikau yakin hanya binatang siluman kancil... Apakah ikau tak melihat binatang siluman yang lain...?”

Bintang Tenggara terdiam. Ingatannya yang samar menyadari akan keberadaan binatang siluman lain di kala sedang setengah tak sadar. Akan tetapi, sungguh ia tak yakin apakah keberadaan binatang siluman tersebut merupakan sesuatu yang nyata, ataukah sekedar mimpi...

“Apakah maksud Kepala Suku...?” Mama’ Tiong menatap kakaknya. 

“Usai memastikan bahwa keadaan dusun baik-baik saja, dalam perjalanan pulang kami berpapasan dengan seekor binatang siluman...? Seekor burung...” 

“Binatang siluman... burung!?” Mama’ Tiong hampir melompat di tempat. 

“Benar... Seekor binatang siluman burung muncul, dan ia menuntun ikei ke tempat di mana Nak Bintang yang sedang tak sadarkan diri berada...” 

“Apakah...? Apakah mungkin...?” Bibir Mama’ Tiong bergetar. Sepertinya ia telah dapat mengartikan makna dari kata-kata Sang Kepala Suku Enggang Kakimerah. 

“Benar.... Terakhir kali diriku bertemu langsung dengan binatang siluman tersebut adalah pada malam kelahiran putriku... Setelah itu, ia hanya muncul di dalam mimpi.”

Di kala perbincangan penuh makna di antara kedua kakak beradik sedang berlangsung, perhatian Bintang Tenggara justru teralihkan pada hal lain. Di saat anak remaja itu menebar mata hati untuk memeriksa keadaan tubuh, ia menemukan kejanggalan pada mustika kedua dan mustika binatang siluman Kasta Emas miliknya. Sungguh ia penasaran, karena ia tak dapat merasakan keberadaan jiwa dan kesadaran Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. 

...

Burung kuau, adalah unggas yang berukuran besar. Burung kuau jantan dewasa dapat mempunyai panjang hingga dua meter, sedangkan burung kuau betina hanya sekitar 75 cm, dengan ekor dan bulu sayap lebih pendek. Berat badan unggas ini pun mampu mencapai 10 kg lebih. Warna kaki burung kuau memanglah kemerahan secara alami. Terdapat dua jenis burung kuau, yaitu burung Kuau Raja dan burung Kuau Bergaris Ganda. Keduanya adalah binatang asli dari wilayah Negeri Dua Samudera. Kuau Bergaris Ganda tidak pernah ditemukan lagi, karena memang sudah punah. 

Burung kuau tidak bisa terbang jauh dan tinggi, kemungkinan karena bobot tubuhnya yang tergolong besar. Namun, kekurangan ini diimbangi dengan kemampuan berlari yang sangat baik. Burung ini juga dapat berpindah tempat dengan melompat ke dahan-dahan pohon. Burung kuau juga memiliki penciuman dan pendengaran yang sangat tajam sehingga sukar ditangkap. Kebiasaannya adalah membuat sarang di permukaan tanah dan makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut, dan berbagai jenis serangga.

Sebagai tambahan, yang tak banyak orang ketahui dari burung kuau adalah ia memiliki bulu-bulu ekor yang tak kalah indahnya dengan cenderawasih. Ekor burung kuau dapat berdiri dan mengembang demikian indah. 

Meski demikian, kedua burung kuau ini, Kuau Raja dan burung Kuau Bergaris Ganda, adalah binatang biasa. Sedangkan burung kuau yang disaksikan oleh ayahanda Kuau Kakimerah saat kelahiran putrinya dan yang menuntun kepada Bintang Tenggara, merupakan binatang siluman… Kuau Raja Ganda.

Ukuran tubuhnya Kuau Raja Ganda lebih besar dibandingkan jenis burung kuau lain. Hampir setinggi manusia, kemungkinan karena ia merupakan seekor binatang siluman. Saat ini, di sisi lain bukit tempat Suku Dayak Kaki Merah sementara bernaung, seekor Kuau Raja Ganda sedang bertengger di dahan besar sebuah pohon. 

Di hadapan binatang siluman tersebut, dua bayangan tubuh berdiri. Bayangan pertama besar dan kekar bernuansa merah dan gagah, sedangkan bayangan kedua bernuasa putih seolah suci. 

“Sungguh sebuah kehormatan bagi diriku yang dapat kembali bersua dengan Kakak...,” Komodo Nagaradja berujar penuh suka cita. 

“Tiada kata-kata yang dapat mewakili kegembiraan di hati ini...,” Ginseng Perkasa menimpali.

Binatang siluman burung Kuau Raja Ganda di hadapan mereka hanya menatap layaknya seekor burung. Kepalanya bergerak-gerak dalam mencermati.

Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa sabar menantikan tanggapan dari ahli yang sangat mereka sanjungi. Tak lama, semacam uap air merambat keluar dari tubuh binatang siluman tersebut. Perlahan, uap air merangkai menjadi sesosok tubuh lelaki dewasa. Berbeda dengan Komodo Nagaradja yang tinggi kekar, sosok ini bertubuh layaknya manusia kebanyakan yang mana tak terlalu kekar. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa walaupun otot-ototnya tak besar, tapi sangat keras adanya Berbagai macam rupa rajah menghiasi sekujur tubuh yang tak mengenakan atasan. 

Hanya jiwa dan kesadaran layaknya Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Mendapati kehadiran sosok tersebut, kedua jiwa yang terikat dengan Bintang Tenggara menundukkan kepala petanda hormat. 

Tetiba sosok lelaki dewasa itu membuka mulut...

     Tege kesah hung jaman huran 

     Asal bara sungei Katingan

     Ie melai danau payawan 

     Pahayak karungut aku mansanan (2)

Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa serempak tersenyum. Tentu kesimpulan mereka atas jati diri tokoh tersebut tak terbantahkan. 

“Anak remaja berdarah Balaputera, Tenggara, serta...” Kata-katanya tertahan, seolah tak dapat mengungkapkan kekaguman... “Sungguh kalian saudara-saudaraku membawa ahli yang tak biasa...” 

Raut wajah Komodo Nagaradja berubah cemberut, sedangkan Ginseng Perkasa semakin tersenyum lebar sembari mengusap-usap janggut. 

“Apakah dikau mendidiknya dengan persilatan dan kesaktian, wahai Komodo Nagaradja...? Apakah dikau membekalinya dengan pengetahuan penyembuhan, wahai Ginseng Perkasa...?”

Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa serempak tersenyum mengangguk. 

“Akan tetapi, mengapakah kemampuannya merapal segel, malah tersegel...?” lanjut tokoh tersebut. 

“Ia menentang si tua bangka di Kemarajaan Cahaya Gemilang...” Komodo Nagaradja mengadu. Wajahnya terlihat semakin sebal. 

“Dapatkah dikau mengangkat segel tersebut...?” Ginseng Perkasa berujar penuh harap. 

“Tentu terdapat alasan kuat bagi Balaputera Dewa menyegel kemampuan darah dagingnya sendiri...,” tanggap tokoh tersebut ringan. Akan tetapi, ia tak memberi jawaban apakah mampu atau tidaknya mengangkat segel yang dirapal oleh sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Cih! Kemampuan bertarungnya menjadi sedikit terbatas...,” gerutu Komodo Nagaradja. 

“Aku mengerti... Betapa aku melihat langsung kekalahan telak di dalam pertarungan nan sederhana...” 

“Mungkin Kakak berkenan menurunkan sedikit kemampuan kepadanya...” Ginseng Perkasa tersenyum penuh harap. 

“Rajah Kinyah, mungkin...?” sambung Komodo Nagaradja cepat. 

“Rajah Kinyah tiada dapat diturunkan... Ia senantiasa bersemayam di dalam diri setiap ahli. Walau, hanya suku dayak yang memiliki kemampuan untuk membangkitkan kemampuan tersebut.” 


=


Malam berlalu cepat. Bintang Tenggara bangkit dan keluar dari kemah. Nyeri di ulu hati akibat pertarungan sehari sebelumnya sudah sembuh. Kedua matanya lalu menangkap Mama’ Tiong menghampiri Kepala Suku. 

“Arus perpindahan binatang siluman mulai mereda... Akan tetapi, sepertinya baru akan benar-benar tuntas pada esok siang.” Mama’ Tiong memberi laporan pengamatan. Suaranya sengaja diperkeras agar anggota suku lain dapat mencuri dengar. 

“Bagaimana dengan keadaan dusun...?”

“Masih sama seperti sehari lalu... Tiada seekor pun binatang siluman melintas ke dalam dusun.” 

Laporan Mama’ Tiong mengangkat semangat seisi suku. Meski sulit memahami, betapa mereka bersyukur akan mukjizat tersebut. Usai memberi laporan, Mama’ Tiong mendatangi Bintang Tenggara yang sedang duduk termenung. “Apakah dikau masih mencari binatang siluman kancil...?”

“Apakah kancil tersebut telah disantap...?” tanggap lesu Bintang Tenggara. 

“Aku sempat menyelinap dan mencuri dengar percakapan suku yang menangkap kancil yang Nak Bintang kehendaki. Bahwasanya binatang siluman tersebut memiliki kemampuan nan langka. Oleh karena itu, Dewan Rimba memutuskan bahwa kancil tersebut akan dijadikan salah satu hadiah di dalam upacara adat...”

“Benarkah!? Bagaimana caranya ikut serta di dalam upacara adat tersebut!?” Bintang Tenggara bangkit berdiri. Kedua sosok matanya penuh dengan api semangat.

“Terdapat beberapa syarat, khususnya bagi pihak di luar suku dayak...” sela Kepala Suku Enggang Kakimerah, sembari menghampiri. 



Catatan: 

(1) Kutipan dari lirik Karungut Patiruh Anak, yang ini biasa dilantunkan untuk menidurkan anak. Kutipan lirik karungut ini berarti:

Tidurlah anak tumpuan harapan 

Menjadi generasi penerus

Cepatlah dewasa hai tumpuan harapan 

Untuk membahagiakan hati dan rasa 

Karungut adalah sebuah kesenian tradisional dari Kalimantan. Seni ini berupa sastra lisan atau juga bisa disebut pantun yang dilagukan. Karungut merupakan karya yang dijunjung masyarakat Dayak sebagai sastra besar klasik. Pelantun karungut mengisahkan syair-syair kebajikan dengan meramu bermacam legenda, nasihat, teguran, dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari. Karungut sering dilantunkan pada acara penyambutan tamu yang dihormati. Ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan biasanya diungkapkan dalam bentuk Karungut.

(2) Kutipan lirik Karungut Kayau Pulang Guntu Manyang, yang berarti:

Dahulu kala ada cerita

Berasal dari sungai Katingan

Dia tinggal di Danau Panyawan 

Saya akan bercerita melalui karungut