Episode 81 - Dungeon Riddle


Classshhhtt !!

Classshhhtt !!

Classshhhtt !!

Leena menebas satu persatu Wolf yang datang untuk menerkam, tapi sayang sekali tubuh monster-monster ini begitu mudah terbelah hingga terlihat organ-organ dalamnya seperti makluk hidup sungguhan.

Akan tetapi setiap monster yang sudah mati, mereka semua hilang menjadi gas hitam dan muncul kembali di tempat yang jauh dari sana. Dengan meninggalkan suatu barang yang biasa disebut Loot, berupa gigi, cakar maupun kulit para Wolf ini.

“Leena,” sahut Sintra yang sibuk melawan para Wolf. “Tak ada gunanya melawan monster-monster disini.”

“Benar, Wolf disini mirip dengan yang ada di Cosmo Plains tempat biasa aku berlatih.” balas Leena yang sibuk menebas para Wolf. “Tapi, di tempat ini, mereka akan terus respawn.” 

“Kunci ke lantai berikutnya pasti dari petunjuk di batu tulis itu,” balas Sintra yang masih sibuk menghadapi Wolf. “Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan. Apa maksudnya ya?”

“Entahlah, kita jelajahi tempat ini dulu.” balas Leena yang buru-buru mensarungkan pedangnya. “Yang pasti kita hindari dulu para serigala ini. Buang-buang tenaga saja melawan mereka.”

“Baik!” Sintra ikut mensarungkan pedangnya. “Agak repot juga ya jadi yang pertama, saat ini hanya party kita yang sudah sampai sini.”

“Cepat atau lambat yang lain pasti menyusul.” Leena melihat dari jauh celah goa tempat mereka masuk dan melihat party Nicholas baru sampai di lantai 2.

“Tank, lindungi kami…” perintah Leena.

“Tentu saja!”

“Kamu tak perlu melawan,” Leena mengkomando. “Cukup singkirkan para Wolf yang mendekat selagi kita menjelajah tempat ini dan mencari tahu maksud petunjuknya.”

“Dimengerti!”

“Biar aku beri Buff!” kata si support dari Ventus.

“Wind Flow !!”

Sang Tanker kini diselimuti angin dan mampu bergerak lebih gesit dari biasanya.

Party Leena kini dilindungi tankernya yang berjalan di belakang Leena. Setiap ada monster mendekat, Tanker dari Terra ini akan menghajarnya hingga terpental, sementara Leena dan Sintra sibuk mengamati sekelilingi, kedua anggota lain fokus memberi support dan penyembuhan untuk si tanker.

***

 “Loh Alzen, wah kamu sudah lebih dulu rupanya.” terdengar suara yang familiar di telinga Alzen 

“Huh? Lio? Wah senang bisa ketemu lagi disini. Maaf ya kita sudah jarang kumpul-kumpul.”

“Halah bicara apa kamu ini.” Lio menepuk pundak Alzen, lalu merangkulnya. “Kita semua kan jadi makin sibuk, wajar dong gak bisa kumpul-kumpul terus.” katanya sambil menempelkan pipinya pada Alzen.

“Hah? Ada Ranni juga?” kata Chandra.

“Yo…” Ranni mengacungkan tangan. “Aku satu party dengan Lio, dia ketuanya loh…”

“Sepertinya Party kalian seimbang ya…” sahut Lio sambil melihat anggota party Alzen. “Dia partyku ada dua Healer, ya bukannya aku tidak senang sih, tapi Fia dan Cefhi benar-benar yang terbaik di bidangnya.”

Fia berjalan menghampiri Chandra. “Kamu pasti Healernya ya?”

“I…iya…” Chandra dengan berat hati menjawabnya. Kepalanya menunduk kebawah sambil ia garuk-garuk kepala.

“Wah ternyata kamu sudah bisa ya?! Wah hebat!”

“Te-terima kasih, itu semua berkat bantuan kalian berdua. Fia dan juga… Cefhi…” jawab Chandra ragu-ragu. Karena sekarangpun ia belum kunjung bisa melakukan sihir penyembuhan.

Cefhi setelah melihat Chandra menatapnya, langsung buang muka dan berbalik badan. Meski tidak kelihatan, tapi wajahnya memerah.

Fia geleng-geleng kepala. “Tidak, yang membuatmu bisa adalah dirimu sendiri, kami hanya menuntunmu pada hal yang kami bisa saja. Sisanya kamu yang belajar sendiri.”

“Sepertinya disana jalan keluarnya, ayo kita bersama-sama kesana!” sahut Lio dengan semangat.

Selagi berjalan berdampingan, 10 orang ini saling mengobrol bertanya satu sama lain.

Ranni menyenggol Alzen dan bertanya, “Bagaimana? Kita melawan boss yang sama kan?”

“Iya… Flame Chimera barusan ya.” 

“Party kami sempat kesulitan, karena DPS kita dua-duanya pengguna elemen api. Sedang Fia dan Cefhi tak bisa melakukan sihir serangan sama sekali.”

“Lalu bagaimana kalian mengalahkannya?” Alzen penasaran.

Balas Ranni yang berjalan berdampingan dengannya. “Kami cukup kesulitan sebenarnya sih, tapi setelah menyerang kesana kemari, kelemahan monster itu ada di buntutnya dan setelah tumbang, kami serang perut lalu BAM! Baru kalah… tapi itu sudah 30 menit kami bertarung, lama sekali pokoknya.”

“Air dalam tanahnya tidak menyembur?” tanya Alzen.

“Maksudnya?” Ranni tak mengerti.

“Hee? Kamu tak tahu? Kalau Flame Chimera tumbang dan menimpa bundaran di tengah-tengah tempat itu. Maka air akan keluar dan bisa buat memadamkan api di punggung Flame Chimera.”

“Haa? Benarkah?” Ranni terkejut mendengarnya. “Sial, kami tidak tahu.”

“Hahaha…” Alzen tertawa. “Jadi kalian bertarung secara brutal saja ya…”

“Yah… kira-kira seperti itu. tapi untung ada Cefhi.” kata Ranni sambil menunjuk ke belakang. Dimana Chandra, Fia dan Cefhi saling mengobrol. “Dia punya sihir air untuk memulihkan stamina kami. Pertarungan yang melelahkan itu langsung terobati segera. Dia benar-benar hebat.”

“Woah begitukah?” Alzen berbalik melihat ke belakang. “Kalian juga saling membantu ya…”

“Hei kita sudah dekat.” Lio berlari dengan semangat melewati Luiz yang berjalan paling depan. “Yeah!” Lio mengangkat tangannya tinggi-tinggi, namun seketika kaget. “HAAAAA!!? Apaan nih? Kok bisa ada langit di dalam tanah?”

Gunin melihat ke langit dan terang sekali, ia menutupi matanya dengan lengannya. “Bahkan ada matahari juga.”

“Lihat-lihat! Ada laut juga!” tunjuk Fhonia sambil lompat-lompat.

“Kok aneh banget sih!?” Lio mengacak-acak rambutnya. “Gak masuk akal. Kenapa ada padang rumput dengan langit di bawah tanah?”

Kemudian Luiz menanggapinya. “Jangan berpikir pakai logika, di tempat yang tak ada logika seperti Dungeon."

Luiz mengamati sekitarnya terlebih dahulu, ia satu-satunya yang terlihat tidak heran disini. “Batu tulis?”

Luiz maju mendekati batu itu dan membaca tulisan yang terpahat disana. “Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan. Ahh…sebuah teka-teki ya." Luiz memegang dagunya dan berpikir sejenak.

“Maksudnya apa ini?” tanya Lio.

***

Nicholas dengan buku Grimoirenya yang terbuka dan dipegang oleh tangan kanannya mampu memproteksi seluruh partynya dari serangan Wolf yang mendekat.

Salah satu tentakel hitam akan secara otomatis memukul mundur Wolf yang mencoba mendekat.

“Nah… nah Nicholas aku mulai bosan dengan tempat ini.” kata Velizar. “Kamu sebaiknya berhenti sejenak, biar aku yang habisi para Wolf disekitar sini.”

“Oke.” Nicholas kemudian menutup buku Grimoirenya dan sihirnya pun lenyap.

Velizar berpose dalam kuda-kuda berpedangnya, yang membungkuk dengan tangan siap menarik pedang kapanpun musuh mendekat.

Dan…

Classshhhtt !!

Classshhhtt !!

Classshhhtt !!

Dalam cipratan darah para Wolf, Velizar terlihat matanya melotot dan senyumnya seram, jarang sekali Velizar terlihat memiliki ekspresi seperti saat ini.

Namun ekspresinya barusan hanya berlangsung beberap detik saja sebelum ia kembali ke raut wajah seperti ia biasanya, setelah pedangnya disarungkan kembali.

“Hah… ternyata tetap membosankan.” kata Velizar yang bajunya kini kotor terciprat darah para Wolf.

“Huh…” Luxis tersenyum sinis. “Aku tak tahu kau bisa berpedang sebagus itu. Padahal waktu di turnamen, kamu langsung menyerah.”

“Ahh…aku suka lawan kuat,” balas Velizar. “Tapi melawan yang mustahil dikalahkan hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.”

“Mustahil dikalahkan?” Luxis tak terima alasan yang diberikan Velizar. “Leena bahkan Cuma juara 3, ia masih bisa kalah oleh si rambut biru itu.”

“Nah…” Nicholas membantah. “Dia cuma beruntung saja.”

“Cuma beruntung?” Luxis terus berargumen. “Tapi dia bahkan nyaris mengalahkanmu.”

“Baru nyariskan,” balas Nicholas dengan mata tertutup dan senyum seperti ingin tertawa. “Aku tidak pernah benar-benar kalah darinya.” 

“…” sedang Sinus kini hanya diam saja, ia mengalami krisis percaya diri. Sedari tadi dia hanya menunduk melihat ke bawah saja.

***

“Leena,” keluh Sintra yang sudah berkeringat karena sinar matahari. “Kita sudah daritadi mengitari tempat ini, tapi seperti tidak ada jalan menuju lantai berikutnya.”

“Hmm... ini bahkan sudah ujungnya,” kata Leena sambil memandang ke atas dan berpikir. “Tembok batu ini ujungnya, dan jika kita mencoba ke laut, maka ada dinding tak terlihat menghalangi kita ke sana.”

“Hosh... hosh... Leena, kita bakal kemana lagi?” keluh Tankernya yang sudah duduk lelah dengan banyak luka gigit di tubuhnya. “Aku sudah tidak kuat lagi menahan monster yang tak ada habis-habisnya ini.”

Leena berpikir dan lihat ke belakang, Leena yang berada di ujung yang berlawanan dari tempat mereka masuk mengamati belakangnya dari jauh dan melihat keseluruhan tempat ini lalu menganalisanya.

"Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan." Leena mengucap petunjuknya lagi sambil memikirkan maksudnya. “Kita sudah menjelajahi seluruh tempat ini, dan apanya yang malaikat? Dimana ada malaikat di padang rumput ini.”

“Kita berteduh dulu yuk.” keluh Healer dari Ventus yang sedang meneguk potion biru untuk memulihkan Auranya selagi dirinya duduk dan menarik nafas.

“Disana ada gundukan tanah,” tunjuk Support dari Ventus ke sebuah tempat dengan duduk di atas rumput dan penuh keringat. “Mungkin ada goa untuk tempat berteduh sebentar.”

“Baik... kita berteduh dulu sebentar.”

Tak jauh dari tempat mereka saat ini, mereka menghampiri sebuah lubang besar yang bentuknya seperti celah untuk masuk ke dalam goa.

“Gelap, tak kelihatan apa-apa.” kata si Tanker.

Leena dan Sintra kemudian melangkah masuk sambil menarik pedang mereka yang seketika disuntikkan aura mereka dan ketiga pedang dari Leena dan Sintra menerangi tempat itu.

Saat kegelapan pupus oleh cahaya pedang mereka,

“Te-tempat apa ini?” Leena mengamati sekitarnya penuh ukiran-ukiran.

“"Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan. Tempat ini apanya yang malaikat dan apanya yang... HWAAA !!"

Tanah tempat Leena dan Sintra berpijak tiba-tiba longsor dan menjatuhkan mereka ke sebuah goa bawah tanah dengan banyak stalakmit dan stalaktit menghiasi tempat ini.

“Adudududuh...” Sintra mengusap-usap bokongnya yang nyeri sekali setelah berbenturan langsung dengan lantai batu goa. “Kita ada dimana sekarang?”

GRAAAAA !!

Tiba-tiba sebuah tombak Trident datang untuk menikam Sintra yang muncul dari balik kegelapan, kemudian...

TRANG!

Leena menepisnya dengan berada pada pedangnya.

Monster yang jelas wujudnya tidak kelihatan itu terpukul mundur lalu seketika obor api yang mengelilingi goa bawah tanah ini menyala dengan sendirinya dan menerangi tempat ini sekaligus memperlihatkan sesosok monster yang hampir menikam Sintra.

“HWAA !? Monster ikan?!” sahut Sintra panik.

Leena dengan tatapan serius menghunuskan pedangnya ke depan untuk menantang monster itu. “Hati-hati, Monster Merman sepertinya adalah mini- boss tempat ini.”

“Hoy... kalian baik-baik saja?” sahut ketiga anggota party Leena dari atas.

“Kalian tunggu saja disana, kami disini diganggu monster ikan.” sahut Sintra pada mereka.

TRANG!

TRANG!

TRANG!

Leena terus mencoba menyerang Merman tepat ke bagian jantungnya, tapi Merman ini terus menepis setiap ayunan pedang Leena dengan baik.

“Sintra monster ini cuma sendiri! Aku bikin dia sibuk di sisi depan kemudian kamu habisi dari belakang!” sahut Leena sambil terus beradu senjata pada Merman.

Sintra segera berdiri, “Baik!” kemudian ia mengambil kembali kedua pedangnya yang tergeletak di tanah lalu berlari menuju sisi belakang Merman itu.

Tangannya menggenggam kedua pedangnya kuat-kuat, lalu badannya berputar dan berputar lagi hingga di putaran ketiga tebasan dua pedang

CRASSSHHHTTT !!

Sintra memotong tubuh Merman itu hingga menjadi tiga bagian. Darahnya bercipratan langsung ke wajah Sintra dan seperti biasa, monster yang telah mati itu hilang menjadi gas hitam.

BRUUSSSHHHTT !!

Tanpa jeda yang terlalu panjang, sesaat setelah Merman itu terbunuh, sebuah gelombang air seperti ombak langsung datang memenuhi goa kecil ini. Setelah ombak itu datang, gelombangnya segera melempar mereka keluar dari goa ini. 

“KYAAA !!”

BWUSHHH !!

Kemudian mereka kembali keluar melihat matahari dalam keadaan basah kuyup.

“Puah... kita diusir keluar.” Sintra geleng-geleng kepala dan mengibas-ngibas rambut panjangnya yang basah kuyup.

Saat Leena terhempas keluar dalam bayang-bayang yang samar, ia melihat ada 7 gundukan batu yang sama tersebar di beberapa tempat ini.

“Hah... hah... jadi begitu rupanya.” kata Leena yang terlihat mengerti sesuatu. “Aku mengerti sekarang, maksud petunjuknya.”

***

“Duh panas, aku takut item nih.” keluh Fhonia yang bejalan dengan muka orang letih kehausan.

“Panas teriknya seperti matahari asli ya...” komentar Gunin.

“Hosh... hosh... ini sudah Wolf keberapa?” tanya Alzen dengan nafas letih namun masih terus menyerang para Wolf yang mencoba mendekat. “Kok mereka gak habis-habis.”

“...” Chandra diam saja daritadi, ia masih merasa bersalah tidak bisa berkontribusi sebagai Healer.

Luiz juga ikut letih, ia menyeret pedang yang seperti golok raksasa itu dan darah merah para Wolf sudah melumuri separuh sisi tajam dari The Punisher. “Hah... hah... aku mau bilang abaikan saja, tapi mereka terus berdatangan.”

“Kita berteduh dulu tidak? Disana sepertinya ada goa.” sahut Lio yang sibuk menahan para Wolf dari sisi yang berlawanan dengan Alzen.

Sementara mereka bertarung, Nirn fokus memunguti berbagai Loot dari Wolf yang terbunuh.

“Buat apa diambilin, memangnya kita punya cukup wadah untuk membawa benda-benda itu.” tegur Ranni atas tindakan Nirn.

“Tapi kan sayang kalau gak diambil.”

“Buang saja!” bentak Ranni.

Nirn yang tangannya sudah bertumpuk banyak gigi dan kulit itu dengan gemetar menjatuhkan semua barang pungutannya. “Ba-baik...”

“Replenish !!”

“Heal !!”

Fia dan Cefhi menyembuhkan luka dan stamina para petarung dari kedua party ini.

“Uhug! Uhug! Auraku sepertinya sudah mulai melemah.” Kata Cefhi yang terlihat letih.

“Uwaah? Botol potion biru kita sudah habis semua?!” Fia kaget sekali melihat persediaan mereka.

“Ka-kalian minum punya kami saja.” Chandra menyodorkan dua botol potion biru pada mereka.

“Hah? Tidak apa-apa nih? Terus jatah kalian?” tanya Fia.

Cefhi dengan wajah memerah langsung menarik salah satu botol di tangan Chandra lalu cepat-cepat meneguknya.

“Cefhi! Kamu...” Fia menegor.

“Hehe... tidak apa kok,” Chandra memaklumi. “Kami masih punya 4. Masih utuh, lagian kalian kan juga sudah bekerja keras memulihkan Alzen, Ranni, Lio dan Luiz.”

“Baiklah...” Fia menarik botol di tangan Chandra dan segera meneguknya. “Puah! Leganya...”

Selagi mereka berjalan menuju goa terdekat untuk berteduh, mereka melihat party Leena sedang berdiri di depan jalan masuk goa itu.

“Sepertinya ini tempat yang benar,” kata Leena dari luar lubang goa itu. “Tempatnya beda sendiri dibanding goa-goa lain yang kita masuki tadi.”

“Le-Leena?” Alzen segera maju untuk menghampirinya.

Leena sempat menoleh, tapi setelah melihat Alzen, ia langsung buang muka, lalu memberi perintah untuk rekan satu partynya, “Ayo kita masuk.”

“Ahh?” Alzen yang mau menyapanya seketika berhenti dengan kecewa.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke goa tersebut.

“Barusan yang masuk kemari itu Leena ya...” kata Luiz dengan tersenyum jahat. “Ahh... aku ingin darah merahnya mengaliri pedangku.”

“Aish... kamu bicara apa sih?” sindir Gunin sambil menyenggol dan mendahuluinya. “Ngomong yang bukan-bukan saja, apa tiba-tiba kamu teringat pertandinganmu di turnamen?”

“Luiz lagi freak nih.” sindir Fhonia dengan santai.

“Ya... aku memang bukan tandingannya, tapi... kalau saja serangan dari belakangku berhasil waktu itu, dan tidak di intervensi bu Lunea. Hah...” Luiz melepas nafasnya dan menenangkan diri. “Lupakan saja...” kemudian ia melangkah masuk ke dalam goa itu.

“Gerbang Boss? Sepertinya ini jalan ke lantai berikutnya.” kata Alzen.

“Leena juga sudah tidak ada di tempat ini.” kata Luiz. “Berarti dia sudah masuk duluan.”

“Hah persetan dengan petunjuknya.” kata Lio. “Kita sudah ketemu duluan.”

“Siapa dulu yang masuk? Mau tak mau kita berpisah disini.”

“Kami dulu! Kami dulu!” sahut Fhonia loncat-loncat seperti anak kecil dengan tangan terangkat. “Ayo kesini semua, kita masuk!”

SYUSSSSHHHHTTT !!

Mereka di teleportasi ke ruang boss lantai 2 dan baru saja mereka masuk, mereka sudah tenggelam di dalam air dan tidak bisa bernapas.

***