Episode 290 - Kalah Telak



Awalnya ia datang ke Pulau Belantara Pusat karena kekhawatiran akan keselamatan para sahabat. Pesan yang Canting Emas kirimkan datang bersamaan dengan firasat buruk. Akan tetapi, kini telah diketahui bahwasanya Kuau Kakimerah yang menjadi inti permasalahan di dalam pesan dalam keadaan baik-baik saja. Meski menjadi taruhan di dalam suatu upacara adat yang melibatkan semacam tantangan, setidaknya gadis tersebut tiada terancam jiwanya. 

Mungkin memang sudah takdir Kuau Kakimerah untuk menikah dalam usia belia. Sudahlah, apa hendak dikata... Semoga langgeng dengan siapa pun ia menikah nanti. Siapa tahu kehidupannya akan lebih baik bersama dengan pasangan tersebut. Demikian adalah arah pemikiran Bintang Tenggara, yang cenderung berhati beku. 

Kendatipun demikian, belum diketahui perihal keberadaan Canting Emas dan Aji Pamungkas. Sempat ditanyakan kepada anggota Suku Dayak Kakimerah, namun tak seorang pun yang pernah mendengar akan nama kedua ahli dimaksud. Sungguh aneh... Bagaimana mungkin sepasang remaja tersebut menyusul Kuau Kakimerah sampai ke kampung halamannya, tapi tiada sekali pun mendatangi Suku Dayak Kaki Merah. Di manakah gerangan mereka berada...? Mungkinkah telah lama kembali ke Perguruan Gunung Agung...?

Prioritas Bintang Tenggara datang ke Pulau Belantara Pusat sudah berubah drastis. Pikirannya kini hanya terpusat akan Si Kancil. Binatang siluman yang bermulut besar tapi tak terlalu cerdik itu, saat ini berada di suatu tempat. Kemungkinan besar menyembunyikan diri, menantikan seorang ahli maha perkasa yang digadang-gadang akan datang menjemputnya. Setelah dipikir lebih jauh, entah siapa ahli perkasa dimaksud kemungkinan besar hanyalah bualan belaka. Si Kancil hanya menggertak untuk membuat para ahli yang memburunya takut... 

“Anak muda, hendak ke manakah ikau...?” Anggota Suku Dayak Kaki Merah yang berperan sebagai pelacak, menyapa Bintang Tenggara. Setelah melaporkan keadaan di dusun yang selamat dari sapuan kawanan binatang siluman entah karena keajaiban apa, tokoh ini diminta tinggal. Ia bertugas menemani anggota suku lain, di saat sang Kepala Suku pergi memeriksa kebenaran laporannya.

“Paman, panggil saja diriku... Bintang.”

“Namaku Tiong Kakimerah...,” balas lelaki dewasa itu. “Diriku adalah adik kandung dari Kepala Suku.” 

“Paman Tiong...” 

“Lebih akrab bila ikau menggunakan bahasa kami. Paman, dalam bahasa kami, adalah mama’.”

“Hm...?” Bintang Tenggara meragukan pendengarannya sendiri. 

“Sapa diriku sebagai Mama’ Tiong...” lanjut lelaki dewasa itu. 

“Hm...? Mama’ Tiong...?” Entah mengapa, Bintang Tenggara merasa kurang nyaman menyapa seorang lelaki dewasa dengan sebutan mama’. Karena baik di wilayah tenggara, selatan, maupun barat Negeri Dua Samudera, sapaan mama’ acap kali berarti ibu... Mungkin kurang terbiasa saja. 

“Katakan kepada Mama’ Tiong dari mana asalnya Nak Bintang, serta apa tujuan Nak Bintang datang ke Pulau Belantara Pusat.” 

“Diriku sesungguhnya berasal dari wilayah tenggara...”

“Hm... tenggara...,” Mama’ Tiong mengusap-usap dagu... “Mengapa kata itu terdengar tak asing...?”

“Dan diriku sesungguhnya merupakan kawan Kuau Kakimerah di Perguruan Gunung Agung...”

“Oh...? Benarkah...? Kuau memiliki kawan...?”

“Tujuan kedatanganku mencari seekor binatang siluman kancil...” 

“Oh...? Kancil...?” Mama’ Tiong kembali mengusap-usap dagu, seolah sedang berupaya mengingat-ingat sesuatu. “Sepertinya tadi ada jejak seekor kancil...,” lanjutnya.

“Benarkah!?” Bintang Tenggara hampir melompat di tempat. 

“Benar. Sangat menarik perhatian karena jejak tersebut bukan milik binatang dari wilayah sini... Iya, jejak langkah seekor kancil... tak diragukan lagi.”

“Kapan!?” 

“Jejaknya masih sangat segar... Baru pagi ini...“

Bintang Tenggara tiada mengetahui pasti apakah itu peran pelacak di dalam suku dayak. Akan tetapi, bilamana kata ‘pelacak’ memiliki arti sebagaimana seharusnya, maka Mama’ Tiong ini sepantasnya memahami betul teknik membaca jejak. Informasi yang disampaikannya pun cukup jitu. “...bukan milik binatang dari wilayah sini” merupakan petunjuk yang termat sangat jelas. Siapa lagi bila bukan binatang siluman yang hendak ia tangkap.

“Di mana!?” 

“Ingatkah ikau tempat di mana kita semalam diusir...? Ya, di sekitar wilayah situ...”

Bintang Tenggara segera melompat cepat. Bila benar jejak Si Kancil masih segar adanya, maka ia tak hendak kehilangan kesempatan menangkap binatang siluman itu. Selang tak berapa lama, derak kesaktian unsur petir lenyap di diserap tanah dan anak remaja itu tiba di tempat tujuan. Ia mengamati situasi, atau lebih tepatnya, mengamati permukaan tanah yang ditumbuhi semak belukar. Ia mencari petunjuk akan keberadaan Si Kancil.

Waktu berlalu, dan Bintang Tenggara mengendus jejak tak tentu arah. Setengah mati ia berupaya, namun tak kunjung menemukan jejak si kancil di antara tanah lembab dan semak belukar. Mungkinkah Mama’ Tiong keliru...?

Andai saja anak remaja itu tahu, bahwasanya membaca jejak bukanlah perkara gampang. Ibarat kepiawaiaan dirinya dalam melarikan diri, membaca jejak memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang memadai. Butiran tanah, patahan ranting dan ilalang, keberadaan tumbuhan jenis tertentu yang mengisyaratkan sumber makanan, kotoran, sampai dengan aroma yang tertinggal; menjadi petunjuk nyata bagi pencari jejak nan handal. Sebaliknya, bagi seseorang yang tiada memiliki dasar sebagai pelacak, maka pandangan mata dan pantauan mata hati saja tiada akan menemukan petunjuk. Maka dari utu, hasilnya adalah seorang anak remaja yang bingung mirip dengan orang linglung. 

Matahari tepat berada di atas kepala ketika akhirnya Bintang Tenggara menyerah kalah. Entah jejak seperti apa yang hendak ia telusuri... Tak ada petunjuk akan keberadaan Si Kancil sama sekali. Di kala hendak kembali, sayup ia mendengar...

“Turunkan aku! Bangsat! Keparat! Manusia!” 

Samar, terdengar umpatan demi umpatan. Raut wajah Bintang Tenggara sontak bersinar terang. Walau terpaut jarak, ia kenal betul akan suara nan melengking itu. “Si Kancil!” gumamnya melompat girang.

Mengikuti asal suara, Bintang Tenggara segera mendapati keberadaan tiga remaja lelaki. Seorang melangkah di depan. Di belakangnya, dua remaja lain melangkah berbaris. Keduanya sedang memanggul sebilah batang kayu di antara mereka. Nah, pada batang kayu itulah seekor binatang mirip kambing dipanggul. Kedua kaki depannya terikat menjadi satu, begitu pula kedua kaki belakangnya. Posisi tubuh tergantung terbalik, persis seperti binatang buruan yang telah tertangkap dan siap hendak dibawa kembali untuk disantap! 

“Lepaskan aku!” hardik Si Kancil yang ditandu dalam keadaan terbalik. “Lepaskan aku kalau kalian tak hendak mati konyol! Sahabatku adalah seorang ahli maha perkasa! Wir...” 

“Permisi...” Bintang Tenggara menegur santun. 

Ketiga remaja hanya menoleh pelan, namun tiada menanggapi. Mereka meneruskan langkah. Sebaliknya Si Kancil terkejut, namun sinar matanya berubah cerah karena menyaksikan secercah harapan. Ia sadari bahwa anak remaja yang baru saja muncul itu ingin menangkap dirinya. Akan tetapi, setidaknya ia tak akan dijadikan santapan kancil guling.

“Permisi...,” Bintang Tenggara kembali menegur. “Sudikah mengembalikan binatang siluman itu... ia adalah milikku...”

“Benar! Ia adalah tuanku!” tanggap Si Kancil cepat. Lebih baik ditangkap, daripada disantap.

Ketiga remaja menghentikan langkah. Mereka mengenakan celana pendek, yang lebih layak disebut sebagai cawat. Atasan merupakan semacam rompi tanpa lengan. Gaya berpakaian yang mirip dengan Kuau Kakimerah, sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka adalah remaja dayak dari suku lain. Pada permukaan tubuh ketiganya dihiasi oleh berbagai bentuk gambar, dengan motif dan pada tempat yang berbeda-beda pula. Mereka berada pada Kasta Perak Tingkat 5 atau 6. Hanya remaja yang paling depan, yang mengenakan ikat di kepalanya.

“Ikei yang tangkap binatang siluman ini...” Remaja paling depan menanggapi. 

“Diriku mengerti... Tapi, sungguh ia adalah kawan seperjalananku, sehingga mohon dapat dikembalikan...” 

“Iye yang semalam bersama suku pembelot...,” bisik remaja pemanggul kepada yang berada di depan. Ketiga remaja lelaki lalu menatap Bintang Tenggara dengan pandangan jijik. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun meneruskan langkah. 

“Hei! Cepat lakukan sesuatu!” hardik Si Kancil yang tergantung tiada berdaya. “Aku tak akan bisa membantumu kalau disantap mereka!” 

Sontak Bintang Tenggara berubah cemas. Bagaimana tidak, ia memerlukan kemampuan Si Kancil itu untuk menetralisir unsur kesaktian racun yang mendera tubuh Super Guru Komodo Nagaradja. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang lagi, anak remaja itu segera melompat. 

“Duak!” 

Sebuah pukulan tinju ditahan dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada. Meski telah mengaktifkan Sisik Raja Naga, tubuh Bintang Tenggara tetap terdorong beberapa langkah ke belakang. Salah seorang remaja lelaki dayak menghadang langkah maju Bintang Tenggara! 

“Ketun pergi bawa binatang siluman itu...,” perintah remaja lelaki yang mengenakan ikat kepala kepada kedua temannya yang memanggul Si Kancil. Tatapan kedua matanya tak lepas dari Bintang Tenggara. 

“Kumohon...” Lagi-lagi Bintang Tenggara berupaya menawar. “Aku bersedia membeli binatang siluman itu...” 

Tak ada tanggapan. Remaja lelaki berikat kepala hanya berdiri menghadang ibarat pohon besar yang tak lekang. Kedua rekannya membopong Si Kancil semakin jauh. Bintang Tenggara semakin cemas. Mau tak mau ia terpaksa melewati si penghadang untuk mengambil Si Kancil. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

Teleportasi jarak dekat yang segera diikuti dengan langkah petir! Sebuah urut-urutan rapalan jurus yang menghasilkan perpindahan tempat dan kecepatan tingkat tinggi. Bintang Tenggara tiba di balik lawan, lalu langsung melesat mengejar! 

“Duak!”

Sebuah pukulan tinju kali ini hampir mendarat telak di pundak. Bintang Tenggara sempat mengelak, namun kembali terdorong belasan langkah ke samping. Di saat mendarat, anak remaja tersebut sempat terpana. Bagaimana mungkin kecepatan langkahnya dapat disusul? Bagaimana lawan dapat mengimbangi, bahkan mengungguli kecepatan jurus!?

Tak hendak berandai-andai terlalu lama, Bintang Tenggara kembali melompat. Semakin banyak waktu terbuang, maka semakin jauh Si Kancil akan dibawa menghilang. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

“Duak!”

Bintang Tenggara kali ini terjungkal jatuh. Kombinasi jurus yang melipatgandakan kecepatan tubuh di kala menggunakan jurus kesaktian unsur petir malah berdampak terbalik. Kecepatannya melesat justru membuat dirinya terlambat menangkis pukulan lawan. 

Apakah yang terjadi!? batinnya berteriak. Bagaimana mungkin lawan dapat sigap bertindak? Apakah dia lebih cepat? Tidak. Remaja dengan ikat kepala itu seolah dapat membaca gerakan dengan akurat dan berkali-kali sudah menanti kehadiran dengan pukulan tinju! 

Disadari bahwasanya lawan kali ini hanya memiliki tujuan menghadang. Terbukti dari kenyataan bahwa ia tak melancarkan serangan-serangan susulan seusai melepas pukulan tinju. Di lain sisi, Bintang Tenggara sampai kepada satu kesimpulan pahit. Bilamana dirinya tak menjatuhkan lawan di dalam pertarungan, maka tiada mungkin dapat menyusul Si Kancil. 

“Kumohon, kembalikan binatang siluman itu...,” pinta Bintang Tenggara untuk terakhir kali. Ia kemudian membuka kembangan silat.

“Majulah...,” tanggap remaja lelaki dengan ikat kepala. Tak gentar, pembawaannya demikian tenang. 

Bintang Tenggara bergerak memutar setengah lingkaran, ke kiri dan ke kanan. Gerakannya luwes, dan menampilkan bahwa dirinya dapat membuka serangan kapan saja. Bilamana diingat-ingat, maka ini adalah kesempatan langka dimana anak didik Komodo Nagaradja itu yang akan membuka serangan. Selama ini, ia lebih sering menjadi sasaran serangan atau pengejaran. 

Lawan hanya berdiri diam menanti. Tiada ia memasang kuda-kuda atau merapal jurus. Anehnya, Bintang Tenggara justru tak menemukan celah. Atau lebih tepatnya, anak remaja itu tak tahu harus memulai dari mana. Tambahan lagi, terdapat semacam tekanan yang terasa memberatkan tubuh. 

“Srash!” 

Kesaktian unsur petir berderak di kedua kaki dan tangan. Bintang Tenggara melesat secepat kilat sembari menebaskan cakar-cakar bermuatan petir. 

“Duak!” 

Jatuh terjungkal, Bintang Tenggara bahkan tak menyadari dari arah mana asal serangan lawan. Hanya kelebat berwarna hitam yang melintas sebelum bumi seolah berputar. Pertarungan ini ibarat seorang balita yang sedang berhadapan remaja. Tak berkutik dibuatnya! 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Ia kini menyadari bahwa lawan kemungkinan besar memiliki kelebihan dalam kecepatan dan pertarungan jarak dekat. Apa pun itu kelebihannya memang belum diketahui pasti. Yang jelas, remaja dengan ikat kepala itu menguasai suatu teknik pertarungan yang khas, sehingga menghadapinya dalam jarak dekat akan berakhir sia-sia. 

Andai saja saat ini dirinya bisa menghunus Tempuling Raja Naga, maka Bintang Tenggara akan dengan mudahnya menjaga jarak sembari menyerang... Sayang sekali, senjata pusaka tersebut saat ini sedang terkubur di sisi barat dusun Suku Dayak Kaki Merah. Sebagaimana diketahui, bagi binatang siluman kebanyakan, tulang ekor Siluman Sempurna menyibak aura yang demikian mengerikan, sehingga sangat efektif dalam melindungi dusun tersebut.

Bintang Tenggara kembali memacu langkah. Di saat masih terpaut jarak sekira lima langkah, ia membuka dan mengarahkan telapak tangan ke arah lawan. 

Guntur Menggelegar!

Kilatan petir bergemuruh dan menyambar. Jurus ini ia pelajari dari gulungan naskah yang ‘diperoleh’ dari Perguruan Duta Guntur saat berada di gunung di dekat Kota Ahli. 

Remaja berikat kepala, dengan gerakan ringan tangan kanan, menyambut kilatan petir yang melesat tiada beraturan. Ia dengan mudahnya mengalirkan petir ke pinggang, lalu ke telapak kaki. Sambaran petir, kemudian pupus dengan sendirinya ketika mencapai tanah. 

Di saat kejadian tersebut berlangsung, Bintang Tenggara sudah tiba tepat di hadapan lawan. Ia lalu melepaskan tendangan menohok tepat ke ulu hati...

“Brak!” 

Kelebat berwarna hitam lagi-lagi muncul, namun Bintang Tenggara sudah bersiaga sehingga hanya terpental mundur. Tujuan dari serangan yang baru saja dilancarkan, adalah menjajal seperti apa kemampuan bertarung jarak dekat lawan.  

“Apakah tadi...?” gerutu Bintang Tenggara. Ia sama sekali tak dapat memahami kelebat hitam yang muncul tepat sebelum serangan mendarat. Sungguh unik... Mungkinkah merupakan teknik khusus ahli di Pulau Belantara Pusat...? Anak remaja tersebut menyadari sebuah kenyataan pahit, bahwa tingkat kesukaran menghadapi lawan akan melompat berkali lipat bila kemampuannya tiada dapat dipahami. 

“Sungguh berat..,” keluh Komodo Nagaradja. “Terpaksa kuakui bahwa engkau berhadapan dengan lawan yang tak sepadan...”

“Super Guru, kemampuan seperti apakah yang ia kuasai...?”

“Percuma saja... Tingkatan Kuntai Bangkui bocah itu cukup tinggi...” (1)

“Hm...?”

“Begitu pula dengan Rajah Kinyah miliknya... yang sudah memiliki wujud,” tutup Komodo Nagaradja tanpa mengumbar penjelasan lebih lanjut. (2) 

Bintang Tenggara tak hendak menyerah, namun ia tak memiliki banyak pilihan. Ia pun memantapkan keputusan di hati. Tindakannya berikut ini akan sangat membahayakan jiwa lawan, tapi Si Kancil cerewet harus segera disusul sebelum berubah menjadi kancil guling. 

Bintang Tenggara melangkah maju, dengan tinju tangan kanan mengepal keras!

Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau…

“Srek…”

Belum sempat Bintang Tenggara menyelesaikan rentetan tinju berkecepatan supersonik, tetiba sesuatu yang berkelebat hitam membelit dan mengunci gerak tubuhnya. Jurus terhambat dan tubuh terbuka, sebuah tinju menohok mendarat tepat di ulu hati!

Rasa nyeri yang tak terperi, disusul dengan pandangan yang serta merta berubah… gelap.


Catatan:

(1) Episode 162

(2) Kinyah: Tarian perang suku Dayak, sebagai persiapan untuk memburu dan mengayau kepala musuh. Rajah Kinyah nantinya memiliki makna yang sedikit berbeda. 


Cuap-cuap:

Di Kaskus.... dulu sempat ramai, sekarang sepi... https://www.kaskus.co.id/thread/58ae7dc4a2c06e27458b4569/cerita-bersambung-legenda-lamafa/