Episode 68 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi


“Sudah kami katakan, Ki Dulur orang asing! Ki Dulur tidak tahu apa-apa tentag hal ini! Kami yang lebih tahu!” bentak Pemimpin rombongan.

“Saya tidak melakukannya!” ucap seorang pria dengan suara besar yang tidak tampak wujudnya, para penduduk desa itu pun celingukan melihat-lihat kesekelilingnya dengan kebingungan untuk mencari sumber suara tersebut, namun mereka tidak menemukan apa-apa, hanya Jaya saja yang tahu bahwa si harimau inilah yang berbicara barusan, ia pun menatap mata hewan buas ini.

“Tuan pendekar ini benar, bukan saya yang melakukan perbuatan yang Ki Dulur semua tuduhkan itu.” ucap si harimau sambil melangkah maju.

“Si... Si,,, Siapa kau?! Kenapa kau bisa bicara?!” seru si pemimpin rombongan dengan ketakutan.

“Siapa aku tak masalah, yang penting bukan aku yang melakukannya, yang melakukannya adalah harimau lain yang benar-benar harimau, bukan harimau seperti saya!” jelas si harimau, semua penduduk desa itu ketakutan bukan main, mereka melangkah mundur menjauh, lalu lari tunggang langgang! Ada yang sampai jatuh berguling, ada yang mengompol, semua saking takutnya pada si “Mbah” yang bisa bicara itu, mereka terus berlari sampai kedesanya.

“Terima kasih Tuan Pendekar sudah menyelamatkan saya.” ucap si Harimau seraya membungkukan badannya.

“Ah sudah tidak usah dipikirkan, tetapi... Maaf Ki Dulur ini sebenarnya apa dan siapa?” tanya Jaya sambil memperhatikan harimau ini, saat itulah tiba-tiba terdengar suara auman sejumlah harimau yang menggetarkan seluruh hutan itu, Jaya kaget dan segera bersiap serta memasang pengelihatannya baik-baik kesekelilingnya, dari arah barat laut yang merupakan bagian hutan yang paling rimbun, datanglah seekor harimau besar berbulu putih yang matanya biru menyala dengan dikawal oleh tujuh harimau besar yang berbulu emas dan bermata hijau menyala seperti harimau yang ditolong Jaya.

Jaya kaget bukan main melihat sekumpulan harimau itu, Jaya segera bersiap-siap, akan tetapi tiba-tiba terdengarlah satu suara yang tegas dan berwibawa menggema disana yang amat menggetarkan hati Jaya. “Cucuku tidak usah takut, kami tidak berniat untuk mencelakaimu!” ucap si harimau putih yang merupakan pemimpin mereka.

“Andika siapa? Kenapa memanggilku cucu?” tanya Jaya sambil memperhatikan si harimau putih, harimau putih itu tertawa sebentar lalu berdeham, dan wushhh! Harimau-harimau itu berubah menjadi sosok manusia! Si Harimau putih berubah menjadi seorang pria yang mengenakan pakaian kebesaran seorang Prabu, sedangkan yang lainnya berubah menjadi para prajurit pria yang mengawal raja ini.

Jaya seperti pernah melihat dan mengenal sosok pria berpakaian raja itu, ia terus menatap dan memperhatikan pria itu. “Saya sepertinya pernah melihat tuan, saya merasa seperti mengenal tuan... Tapi dimana ya saya melihat tuan?” tanya Jaya sambil mengingat-ngingat.

Pria bertampang gagah yang mengenakan pakaian dan mahkota kebesaran bak seorang Prabu itu tersenyum kecil penuh selaksa makna. “Kau ingat dengan ini?” tunjuknya pada mahkotanya, ketika Jaya memperhatikan mahkota itu kaget bukan main, karena mahkota itu adalah Mahkota Binokasih, mahkota kebesaran Prabu Pajajaran! Dan Ingatlah ia bahwa orang yang berada dihadapannya itu pernah ia lihat di lukisan-lukisan serta arca-arca juga relief di keraton Mega Mendung.

“Tuan... Apakah Tuan adalah Eyang Sri Baduga Maharaja?” tanya Jaya dengan suara bergetar.

Orang yang sangat gagah dan mempunyai sorot yang mampu membuat siapa saja gentar melihatnya itu menganggung sambil tersenyum. “Benar cucuku... Aku ini adalah Eyangmu.”

Jaya langsung berlutut dikaki orang itu, Sri Baduga Maharaja pun menepuk-nepuk bahu Jaya, Jaya teringat kalau menurut cerita gurunya dan orang-orang tua di Pasundan ini bahwa kematian Sri Baduga Maharaja adalah hal yang masih menjadi misteri dan tidak ada yang bisa menjawabnya selain mendiang Prabu Arya Surawisesa yang mengurus kematian ayahnya, sehingga orang-orang Sunda lebih suka menyebutnya “Ngahiyang” atau “Berniskala” alias “Moksa”.

“Eyang... Maaf kalau saya tidak sopan mengatakan ini, tapi apakah Eyang Prabu masih hidup dan berada di dunia yang sama dengan hamba?” tanya Jaya.

Sri Baduga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak Cucuku, kita telah berada di dunia yang berbeda, aku hanya orang yang beruntung karena diberi kesempatan melalui mahluk Sang Maha Esa yang bernama Jin untuk berkomunikasi ke dunia alam hidup manusia ini…” jawab Sri Baduga.

Jaya mengangguk meskipun ia masih tidak mampu mecerna dengan akal sehatnya perihal jawaban Sang Sri Maharaja tersebut, tetapi Sri Baduga nampaknya tidak mempersoalkan hal tersebut, ia lalu membangunkan Jaya. “Cucuku, aku tahu apa yang sedang ada didalam benakmu dan dalam sanubari hatimu, maka aku sengaja memanggilmu kemari...”

Jaya menaikan alisnya keheranan. “Memanggilku Eyang Prabu?”

Sri Baduga alias Prabu Siliwangi mengangguk. “Benar cucuku, dan orang-orang yang kau lihat tadi... itu adalah orang-orang bunian yang merupakan rakyatku juga.” Jaya terkejut, ia lalu melihat pada si Harimau yang terluka tadi, luka-luka di harimau itu sudah menghilang, ia kemudian berubah menjadi seorang prajurit lalu menjura hormat pada Prabu Siliwangi.

“Cucuku Jaya Laksana, aku tahu apa yang sedang kamu alami... Teruskanlah niatmu untuk bertapa di Pelabuhan Ratu, namun satu pesanku, apapun yang akan terjadi pada dirimu terimalah dengan ikhlas.” Jaya tertunduk mendengar ucapan kakeknya itu, tapi ia lalu mengangguk karena dulu Kyai Pamenang pun pernah memberinya nasehat yang serupa. “Baik Eyang, nasihatmu akan saya resapi.”

“Bagus Cucuku!” Prabu Siliwangi lalu memegang pundak Jaya. “Cucuku kau mempunyai tugas yang maha berat, kau harus mempersiapkan seluruh anak cucu kita untuk mengahadapi satu cobaan yang maha berat! Sebentar lagi, dalam hitungan dasawarsa, akan datang orang-orang asing yang tubuhnya tinggi besar, berambut ikal berwarna merah seperti jagung, mereka adalah orang-orang serakah yang akan menjajah seluruh Nusantara dan membuat anak cucu kita menderita, mereka akan dikalahkan oleh orang-orang katai seperti kera putih bermata sipit dari satu pulau terpencil di utara jauh disebrang lautan sana, tapi mereka juga adalah orang-orang yang sangat serakah dan akan membuat seluruh keturunan kita jauh lebih menderita lagi! Tugasmu adalah mempersiapkan semua anak cucu kita agar sanggup menghadapi cobaan itu semua! Kamu mengerti Cucuku?”

Jaya mengangguk. “Saya mengerti Eyang Prabu…” 

Sri Baduga mengangguk sambil tersenyum. “Bagus! Dan ingatlah untuk selalu mengalah, untuk selalu bersabar, agar persatuan anak cucu kita terjaga, agar terhindar dari perpecahan yang hanya memperebutkan sejengkal kekuasaan!” Jaya mengangguk lagi.

“Dan satu lagi…” Prabu Siliwangi menunjuk pada seorang prajurit yang tadi menyamar sebagai harimau yang terluka, “Cucuku, ini adalah Senopatiku, Panglimaku, namanya Panglima Gandawijaya, mulai saat ini ia akan selalu menyertaimu dan anak cucu keturunanmu kelak, ia akan selalu siap membantumu jika kamu dan keturunanmu dalam kesulitan…”

Jaya melirik pada Panglima Gandawijaya, sang Panglima pun mengangguk menjura hormat pada Jaya. “Nah sekian cucuku, aku harus segera kembali ke alamku, kamu silakan teruskan perjalananmu, tapi ingatlah selalu pesanku!” pamit Prabu Siliwangi.

“Hamba Eyang Prabu!” angguk Jaya, setelah itu Prabu Siliwangi beserta seluruh pengawalnya hilang tak berbekas, tinggalah Jaya dan Panglima Gandawijaya.

“Raden sekarang adalah tuan saya, saya akan siap selalu membantu Raden, panggilah saya jikalau Raden mengalami satu kesulitan dan membutuhkan bantuan saya” ucap Panglima Gandawijaya.

“Tapi bagaimana saya memanggilmu saat saya membutuhkan bantuan?” tanya Jaya.

“Pejamkan mata dan pusatkan pikiran Raden, lalu tepuk tanah tiga kali dengan telapak tangan kanan Raden, sambil menyebutkan nama Panglima Gandawijaya, maka saya akan segera datang untuk membantu Raden!” jawab Panglima Gandawijaya,

“Baiklah, terimakasih Panglima” ucap Jaya, Panglima Gandawijaya pun mengangguk lalu menghilang bagaikan asap ditiup angin. Seperginya Panglima Gandawijaya, Jaya langsung meneruskan perjalanannya ke arah selatan.

*****

Malam telah tiba saat Jaya sampai di Pantai Pelabuhan Ratu, Jaya bergegas melangkah ketengah lautan, ia berjalan diatas air bagaikan berjalan diatas tanah saja, deburan ombak yang ganas tidak berpengaruh apa-apa padanya, membuat basah kulit dan pakaiannya pun tidak! 

Seraya berdiri di tengah samudera yang ganas ia menatap ke arah Kiblat, disatukannya segenap pikiran dan perasaannya. Dengan kedua mata terpejam, ia khusyu mengucap asma Allah dan dilanjutkan dengan lantunan doa-doa serta pengharapannya pada Gusti Allah Sang penguasa alam semesta yang sejati.

Tak lama Jaya bersemedi di tengah laut sambil berdoa, laut mendadak bergolak-golak, berguncang-guncang bagai mendidih! Kian lama kian bergolak, kian berguncang-guncang! Angin menderu-deru dari arah selatan ke utara, badai pun datang! Gelombang laut setinggi gunung menderu menghantam pesisir pantai melewati Jaya yang sedang bersemedi, dahsyatnya ombak tersebut tidak menggoyahkan Jaya, ia tidak mampu menggetarkan tubuh Jaya, bahkan membuat basah kulit dan pakaiannya pun tidak! Angin badai terus menderu-deru berbaur dengan gelombang yang menghempas-hempaskan segala sesuatu yang berada diatasnya, ikan-ikan terlempar kedaratan dan mati! Tapi Jaya Laksana tidak goyah sedikitpun!

Jaya terus berdiri di tengah laut diatas air laut yang pasang itu dengan tegak tanpa mampu digoyankan ombak, dengan teguh kukuh ia berjanji, tak akan sekali-kali dihentikan tapanya jika keadilan itu belum didapatnya. Ia terus teguh kukuh hingga waktu terus berpacu tanpa sempat diketahui berlalunya. Putra sulung Prabu Kertapati itu terus menyatukan pikir dan perasaannya pada Gusti Allah tanpa peduli situasi dan kondisi disekitarnya, ia bertekad rela mati dibanding hidup memalukan, dipermalukan, dan dilecehkan kehormatannya. Tujuh hari, tujuh malam Jaya Laksana terus bertapa seperti itu!

*****

Di kademangan Cukang Kawung yang terletak di lereng Gunung Burangrang yang termasuk kedalam wilayah Mega Mendung sedang ada keramaian besar, di desa tersebut sedang ada acara pengangkatan Demang baru, Ki Darus diangkat menjadi Demang baru menggantikan ayahnya Ki Taweran yang telah meninggal dunia, ia diangkat oleh Adipati Jembar Laksana yang menjadi perwakilan dari kekuasaan Mega Mendung. Berbagai hiburan yang menampilkan berbagai tarian ditampilkan memeriahkan acara tersebut, berbagai makanan dan minuman dihidangkan untuk memuaskan para tamu, acara tersebut terus berlangsung hingga larut menjelang dini hari.

Pada menjelang dini hari di mana udara dinginnya mencucuk tulang-tulang sampai ke sungsum, tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Beberapa orang yang masih di sana sudah mengantuk bahkan banyak yang tertidur seenaknya di kursi. Para pemain gamelan di bawah pimpinan Mang Dudung Suryana tak ketinggalan ketularan kantuk sehingga Mang Dudung Suryana menghentikan permainan sampai di situ. Ki Demang Darus dan Adipati Jembar Laksana bersama istri masing-masing berdiri dari kursi mereka dan disertai beberapa orang lainnya kemudian melangkah untuk masuk kedalam rumah Kademangan.

Tiba-tiba terdengar suara cuitan burung Sirit Uncuing yang keras sekali menggema ke mana-mana, “Manuk Sirit Uncuing!” desis Ki Jembar, wajahnya langsung berubah tegang.

“Kenapa bisa ada manuk Sirit Uncuing malam-malam begini? Tidak biasanya!” tanya Ki Darus. 

“Mungkin Ki Demang belum tahu, tapi di Rajamandala telah terjadi Rajapati yang teramat hebat, banyak pejabat dan prajurit yang mati terbunung mengenaskan dengan cara yang tidak masuk akal! Nah sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi selalu ada suara Manuk Sirit Uncuing terlebih dahulu!” tutur Ki Adipati Jembar dengan wajah yang sangat tegang, maka mereka pun memutuskan untuk cepat-cepat masuk kedalam rumah. (Manuk = Burung).

Namun, belum lagi rombongan ini mencapai tangga langkan rumah, dari atas atap mendadak berkelebat seekor burung Sirit Uncuing hitam yang langsung berubah menjadi sesosok manusia! Ia melompat ke atas panggung! Kedua kakinya menjejak taron (salah satu alat bunyi-bunyian dalam permainan gamelan) sedang kedua tangan berkacak pinggang. 

Jarak atap rumah dan lantai panggung demikian tingginya tapi manusia tadi melompat ke atas taron tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Bahkan taron itu sama sekali tidak bergerak ataupun bergeser! Orang itu mengenakan pakaian dan jubah serba putih, rambutnya jabrik awut-awutan, sekujur kulit tubuhnya pucat pasi seputih kapas, bola matanya semerah darah! 

Melihat alat bunyi-bunyian diinjak seenaknya demikian rupa oleh seorang pemuda tak dikenal, tentu saja Mang Dudung menjadi marah sekali. Pemimpin kesenian gamelan ini maju melangkah sambil membentak “Orang kurang ajar! Turun dari taron itu sebelum kupatahkan batang lehermu!” 

Seringai menggurat di wajah wajah pucat yang membuatnya nampak sangat menyeramkan. Dari mulutnya meledak suara tertawa yang menggetarkan dan menggidikkan serta membuat liang telinga seperti ditusuk-tusuk! Suara tertawa itu, yang didahului oleh suara bentakan Mang Dudung tadi dengan serta merta membuat semua orang berpaling. Tamu-tamu yang duduk terhenyak tidur di kursi terbangun oleh kedahsyatan tertawa si jubah putih yang tampangnya laksana mayat itu dan semua mata ditujukan adanya. 

Beberapa tamu pejabat kadipaten yang mengenali ciri-ciri pemuda di atas taron itu berseru kaget. “Pangeran Dharmadipa!” seruan mereka berbarengan suara jeritan Mang Dudung yang tewas dengan dada bolong! Jantungnya dikorek Dharmadipa lalu dilemparkan ke arah penonton, meledaklah jeritan ngeri dari orang-orang di sana, terutama para sinden gamelan yang langsung jatuh pingsan! Para penabuh gamelan segera membawa mereka lalu berlari turun dari atas panggung!

Maka suasana itu pun mendadak sontak menjadi gempar penuh ketegangan. Yang memiliki senjata segera menggerakkan tangan bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. Beberapa orang yang merasa takut dan jerih langsung mengambil langkah seribu, tapi belum sampai mereka melewati gerbang Kademangan, belasan bola api menderu menyengat tubuh mereka yang hendak kabur, tewaslah mereka semua dengan tubuh hangus terbakar!

“Kurang ajar! Iblis keparat!” rutuk Ki Demang, ia langsung melompat keatas panggung, tangan kanannya menusukan Keris pusaka mengarah di dada Dharmadipa! Yang diserang hanya menueringai bengis, ia kibaskan tangan kanannya dan Wussshhh! Menderulah angin topan prahara melabrak tubuh Ki Darus, Blarrr!!! Sang Demang pun terlempar ke lantai dengan dada jebol! Ia tewas seketika itu juga!

“Iblis Laknat! Sedulur semuanya, mari habisi iblis ini!” komando Adipati Jembar Laksana sambil menghunus kerisnya, karena orang-orang yang ada di sana merasa tidak bisa melarikan diri, maka mereka pun menjadi nekat, mereka mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk mengeroyok Dharmadipa!

Dharmadipa tidak bergeming, ia tetap berdiri diatas taron, malah wajahnya menyunggingkan senyum senang, puluhan orang menyerbunya dari segala arah dengan berbagai senjata! Tapi tiba-tiba orang-orang itu menjerit ketakutan ketika senjata-senjata yang mereka pegang sekonyong-konyong berubah menjadi ular kobra yang amat berbisa! Dan mereka pun menjerit kembali, tapi kali ini bukan jerit ketakutan melainkan jerit kematian ketika mereka dipatuk ular!

Kembali Dharmadipa tertawa terbahak-bahak menggetarkan seluruh Kademangan itu, orang-orang yang menyerangnya tewas seketika dengan tubuh kejang-kejang dan membiru akibat sengatan ular kobra yang amat berbisa itu, dan ajaibnya, ular-ular itu kembali menjadi senjata dan benda-benda semula setelah mematuk orang-orang yang memegangnya!

Di antara orang-orang yang tadi hendak mengeroyok Dharmadipa, hanya keris di tangan Adipati Jembar Laksana yang tidak berubah menjadi ular, itu menandakan bahwa keris itu bukan keris sembarangan! Saat itu yang masih hidup tinggal Ki Jembar dan istrinya serta istri Ki Darus yang jatuh pingsan, Seluruh tubuh Sang Adipati bergetar hebat melihat Dharmadipa dapat membunuh semua orang di sana dengan sangat mudahnya!

“Kau ingin segera menyusul Adipati? Majulah!” tantang Dharmadipa dengan dingin, Ki Adipati menelan ludahnya, menurut perhitungannya sudah pasti ia tidak akan mampu menandingi Dharmadipa apalagi mengalahkannya, akan tetapi melihat keris pusakanya tidak berubah menjadi ular saat senjata yang lainnya berubah menjadi ular menumbuhkan sedikit keyakinan pada diri pria paruh baya ini, apalagi ia juga harus melindungi istrinya tercinta, maka ia pun menjadi nekat!

Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Ki Jembar Laksana menerjang menusukan kerisnya ke arah jantung Dharmadipa! Tapi bukan main terkejutnya Ki Jembar ketika kerisnya yang tepat mengarah ke jantung Dharmadipa itu lewat begitu saja dari tubuh Dharmadipa, bagaikan menusuk gumpalan asap saja!

“Jadi kau mengarah jantungku Adipati? Baiklah, akan kuambil jantungmu!” ucap Dharmadipa dengan suara datar dan dalam bagaikan zombie, tangan kirinya langsung mencekik leher Ki Adipati dan mengangkatnya, pria paruh baya itu mengap-mengap karena nafasnya sangat sesak, Dharmadipa menyeringai bengis dihadapan mata mangsanya itu, tangan kanannya bergerak dan... Breesss!!! Tangan kanan Dharmadipa mengorek jantung Ki Jembar dan mengeluarkannya dari tubuhnya!

Setelah mengeluarkan jantung Ki Jembar, Dharmadipa melemparkan tubuh Ki Adipati yang tak bernyawa itu ke tumpukan mayat lainnya, ia lalu melirik pada istri Ki Jembar dan istri Ki Darus yang jatuh pingsan, ia menyeringai lalu mendengus, sekonyong-konyong dari sekujur tubuhnya keluar lidah api berwarna merah menjilat-jilat seluruh bangunan Kademangan itu, rumah Kademangan itu pun langsung dilalap si jago merah yang dahsyat!

Mayat hidup Dharmadipa terus berjalan mengelilingi desa dengan api merah yang keluar dari sekujur tubuhnya, api yang keluar dari tubuhnya berkobar-kobar dan membentuk tangan-tangan yang kemudian membakar apapun yang dilewati oleh Dharmadipa, semua bangunan, pohon, ataupun benda apa saja yang lewati langsung dilalap oleh api yang sangat dahsyat! 

Kebakaran besar pun melanda seluruh desa Cukang Kawung dalam sekejap, langit dini hari pun memerah oleh kobaran api yang membakar seluruh desa, yang selamat dari tangan Dharmadipa, langsung menjadi korban kobaran api yang keluar dari sekujur tubuh Dharmadipa, malam itu juga musnahlah desa Cukang Kawung oleh amukan mayat hidup Dharmadipa!