Episode 67 - Perjalanan ke Selatan



Keesokan harinya Prabu arya Bogaseta mengadakan pertemuan darurat di Balairiung Keraton Mega Mendung untuk membicarakan peristiwa pembunuhan para pejabat Mega Mendung tersebut, “Ternyata tidak hanya Panji Andara, Jaka Yaksa pun tewas dengan mengenaskan, kepalanya hancur dan meleleh ketika ditemukan oleh prajurit Kepatihan Paman Patih di alun-alun kota, selain itu beberapa orang prajurit dan beberapa lurah tantama juga ditemukan tewas di sekitar perbatasan Kutaraja ini…” ujar Sang Prabu.

Ki Patih menjura hormat sebelum menjawab. “Benar Gusti, pembunuhan-pembunuhan ini sepertinya mempunyai kaitan yang erat.”

Prabu Bogaseta menatap Ki Patih Balangnipa, “Maksudmu?”

Ki Patih mengangguk. “Panji Andara, Jaka Yaksa, dan Mang Juju, juga beberapa lurah tantama, semuanya adalah orang-orang yang menentang pemerintahan Prabu Kertapati dan menjadi pihak yang bersebrangan dengan Pangeran Dharmadipa, semua korban adalah orang-orang yang ikut merencanakan menggulingkan tahta Prabu Kertapati dan menggeser kedudukan Pangeran Dharmadipa juga istrinya putri Mega Sari.”

Sang Prabu mengangguk-ngangguk kecil. “Sekarang ini masalahnya siapa yang melakukan pembunuhan semua ini? Padahal baik Prabu Kertapati maupun Pangeran Dharmadipa sendiri sudah tewas, Prabu Kertapati sudah kita kebumikan secara layak, dan Dharmadipa, meskipun mayatnya tidak kita temukan karena dibawa lari oleh Mega Sari, tapi menurut Raden Jaya Laksana ia sudah tewas dengan dada hancur akibat terkena pukulan Petir Menyambar Samudera dari Prabu Kertapati, lagipula mayatnya pasti sudah membusuk karena ia sudah lama tewas!”

“Akan tetapi kita harus ingat bahwa Dharmadipa masih mempunyai sanak Gusti, istrinya putri Mega Sari, dan kedua abdinya yang setia Emak Inah serta Ki Silah.” sela Ki Tumenggung Sentanu.

“Apa mungkin mereka yang melakukan semua ini? Terus terang saya sendiri tidak yakin, meskipun Mega Sari pernah berguru pada Nyai Mantili dan Kyai Pamenang di Padepokan Sirna Raga, tetapi apakah mereka sanggup membunuh Jaka Yaksa dan Panji Andara? Mereka berdua bukan orang sembarangan! Ditambah menurut laporan yang kita terima, mereka semua mati dengan cara yang mengenaskan dan tidak wajar, dengan cara yang tidak masuk akal!” tanggap Sang Prabu.

“Mungkin bukan mereka sendiri yang melakukan, tapi saya sangat yakin, Mega Sari ada dibalik semua kejadian ini! Apalagi kalau kita ingat ia memiliki ilmu teluh Ngareh Jiwa yang terkenal dahsyat itu, masih segar dalam ingatan saya ketika Mega Sari meneluh Prabu Karmasura dari Pasir Wangi yang membuat seluruh keraton ini menjadi kacau balau dengan ilmu hitamnya! Belum lagi menurut kabar yang saya dengar, ia pernah meneluh seisi desa Ciwaas di kaki gunung Patuha sehingga semua penduduknya mati dan desanya hancur!” sahut Ki Patih.

“Saya setuju... Sebab yang saya lihat selama mereka bercokol di istana ini, Dharmadipa hanyalah merupakan alat dari Mega Sari, alat untuk membunuh Pangeran Mundingsura, alat untuk mencapai semua keinginan perempuan tukang sihir itu!” sambung Ki Citrawirya.

Prabu Bogaseta menghela nafasnya. “Yah... Nampaknya memang ada kejadian-kejadian aneh sebelum Mang Juju, Jaka Yaksa, dan Panji Andara tewas, ada suara cuitan burung Sirit Uncuing yang bercuit-cuit parau hingga terdengar keseluruh Kutaraja Rajamandala ini…” 

Ki Patih Balangnipa angkat bicara lagi. “Itu sudah pertanda, bahwa pembunuhan ini dilakukan dengan ilmu hitam atau ilmu teluh! Dan seperti yang kita ketahui bersama kalau Mega Sari sangat akrab dengan ilmu teluh!”

“Mega Sari... Dari dulu saya tidak pernah suka dengan keponakanku itu, saya masih ingat bagaimana tindak tanduknya dan lidahnya yang sangat berbisa itu, dan lihatlah bukti kehebatan lidahnya yang berbisa dan ilmu peletnya yang membuat Dharmadipa sanggup untuk membunuh suaminya sendiri, Pangeran Mundingsura!” Dengus Sang Prabu, “Sayangnya persembunyian mereka belum ditemukan, dan Tumenggung Tapak Ireng yang tugaskan untuk mengerjar mereka belum juga kembali... Mungkin bisa aku anggap kalau mereka telah gagal dan mungkin tewas ditangan Mega Sari” lanjut Sang Prabu.

“Sekarang aku perintahkan pada kalian seluruh laskar Mega Mendung dan rakyat Mega Mendung untuk mencari dan menangkap Mega Sari beserta kedua abdinya hidup atau mati! Bagi siapapun yang berhasil, akan mendapat ganjaran yang setimpal dari saya, Prabu Mega Mendung!” sabda Sang Prabu.

“Daulat Gusti Prabu!” jawab semua yang ada di sana serentak.

Setelah semua pejabat meninggalkan balai penghadapan, Prabu Bogaseta memanggil Tumenggung Ranadikarta ke balai bengong di halaman belakang, di sana ia memberikan satu perintah khusus pada Sang Tumenggung. “Tumenggung Ranadikarta, aku punya satu tugas penting untukmu!”

Tumenggung menjura hormat. “Tugas apakah itu Gusti Prabu?”

“Dalam keadaan seperti saat ini kita harus sangat waspada pada semua orang, semua orang bisa saja melakukan ini karena mereka melakukannya dengan ilmu hitam, artinya tidak akan ada bukti siapa yang melakukan ini semua!” Ungkap Sang Prabu.

“Maksud Gusti?” tanya Ki Ranadikarta.

“Tidak tertutup kemungkinan kalau yang melakukan ini adalah Jaya Laksana, bagaimanapun ia memiliki motif dan alasan untuk melakukan semua ini, ia gagal menjadi raja disini karena Sultan Banten lebih memilihku, dan ingat bahwa ia sangat sakti, ia bahkan bisa mengalahkan Prabu Kertapati dan Topeng Setan!” jelas Prabu Bogaseta.

“Saya setuju Gusti” sahut Ki Ranadikarta yang membenarkan pemikiran Sang Prabu.

“Maka dari itu saya akan menugaskan padamu untuk mengawasi gerak-gerik Jaya Laksana, laporkan setiap gerak-geriknya padaku, kalau perlu kau boleh membununya!”

Terkejutlah Ki Ranadikarta mendengar tugas yang harus ia laksanakan, ia terdiam termenung tidak langsung menjawab, Sang Prabu menyeringai melihat keraguan Ki Ranadikarta. “Bagaimana? Kalau kau berhasil melaksanakan tugasmu kau akan kuangkat menjadi Mahapatih menggantikan Ki Balangnipa yang sudah uzur itu, tapi kalau kau menolak, kau tidak akan melihat matahari terbenam sore ini Ki Tumenggung Ranadikarta!”

Mendapatkan ancaman seperti itu, mau tak mau membuat Ki Ranadikarta menyanggupi tugas tersebut. “Daulat Gusti Prabu, tugas ini akan saya laksanakan sebaik-baiknya!”

Prabu Bogaseta tersenyum senang. “Bagus! Awasi setiap gerak-gerik Jaya Laksana, laporkan semua kabar tentangnya padaku! Kalau kurasa perlu, kau harus membunuhnya! Sekarang juga pergilah kau ke Surasowan, ajak orang-orang kepercayaanmu untuk menjadi penghubung kita dan membantumu!” Ki Ranadikarta pun beringsut pergi untuk langsung pergi ke Surasowan.

*****

Di hutan lereng Gunung Gede, Mega Sari, Ki Silah dan Emak Inah nampak baru pulang setelah berburu makanan yang bisa mereka dapatkan di hutan sekitar sana. “Berita-berita kematian para pejabat Mega Mendung serta beberapa abdinya itu bahkan sudah menyebar ke pelosok-pelosok desa seperti Pasir Hayam dan Pasir Nangka Gusti! Dan mereka mulai ketakutan kalau sudah mendengar suara burung Sirit Uncuing…” ungkap Ki Silah.

Mega Sari menyeringai senang mendengar laporan dari abdinya tersebut. “Bagus! Dan ketakutan yang terus menerus akan dapat menghancurkan sebuah Negara!”

“Gusti akan terus menyuruh roh Gusti Pangeran untuk melakukan pembalasan?” tanya Ki Silah.

“Abah, sekali melangkah harus terus sampai ke tujuan, jangan berhenti di tengah jalan, karena kita akan gagal! Dan orang gagal tidak akan pernah menjadi apa-apa!” tegas Mega Sari.

“Semua harus dilenyapkan satu demi satu, Balangnipa, Bogaseta, Sentanu, Citrawirya, hingga akhirnya kita hancurkan seluruh negeri Mega Mendung! Pokoknya semua harus dihabisi! Termasuk sanak keluarga mereka! Saya belum bisa tenang selama mereka masih bercokol diatas jagat raya ini!” tandas Mega Sari dengan sorot mata yang penuh api dendam!

Emak Inah yang mendengar dan melihat ucapan Mega Sari tersebut diam-diam mengurut dadanya, hatinya merasa sangat sedih dan kecewa karena Gusti Putrinya yang telah ia asuh semenjak kecil, kini telah menjadi seseorang yang hidupnya hanya dikendalikan oleh dendam, tujuan hidupnya hanya untuk membalas dendam saja. “Gusti Mega Sari... Ya Gusti Allah, bujuklah hati junjungan hamba, hati Gusti Mega Sari yang sudah hamba anggap sebagai putri hamba sendiri, agar bisa menghapus rasa dendam yang selalu menguasai hatinya, sadarkanlah ia ya Gusti... Jangan sampai ia berhadapan dengan hukumanMU... Tolonglah Gusti Allah...” mohon perempuan tua itu dalam hatinya.

*****

Pada suatu malam di rumah Jaya Laksana di Katumenggungan Surasowan Banten, semenjak pulang kerumahnya Jaya nampak sangat lemas dan lesu, wajahnya nampak sangat keruh pnuh dengan kekecewaan, ia juga menolak ketika diajak makan istrinya, ia memilih merenung sambil rebahan di dalam kamarnya.

Sebagai seorang istri yang sangat pengertian dan perhatian karena sangat mencintai suaminya, Galuh menyusulnya masuk kedalam kamar, setelah menutup dan mengunci pintunya, Galuh lalu duduk disebelah Jaya sambil mengurut-urut kaki Jaya. “Kakang apakah ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kamu murung terus sejak pulang kerumah?”

Jaya menghela nafas berat, dahinya berkerut seolah menahan sakit. “Nyai istriku... Perasaan bahwa aku ini seorang tawanan di Banten ini semakin menghebat, bahkan kini menguasai diriku... Sakit sekali rasanya istriku...” kesah Jaya.

“Ada apa lagi Kakang? Ceritakanlah padaku, walau mungkin aku tidak bisa membnatumu, tetapi kakang bisa membagi beban yang Kakang panggul padaku.” tanya Galuh.

“Nyai... Semakin hari aku semakin tidak tahan dengan intrik politik di Keraton! Para pejabat selalu menyindirku karena aku adalah putra sulung Prabu Kertapati dari Mega Mendung yang merupakan musuh Banten! Mereka juga menyindir aku karena aku yang masih belajar di bawah asuhan Kyai Abdullah Rasyid dan Senopati Tubagus Cakranegara sudah mendapatkan tugas-tugas dan kepercayaan dari Gusti Sultan sebagai Tumenggung!” jawab Jaya dengan suara berat.

Galuh terdiam sambil memijat kaki suaminya membiarkan suaminya mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. “Mereka juga terus mengungkit-ngungkit soal putri Juragan Kertajaya yang kini kabur itu, bahkan Gusti Sultan sendiri menyindirku! Aku malu sekali Nyai karena dikira tidak mampu mengurusmu dengan baik! Bagaimana aku bisa mengurus negara dengan baik kalau aku tidak becus mengurus rumah tanggaku sendiri?!”

“Maafkan aku sekali lagi Kakang, permasalahan Angsoka dan juragan Kertajaya ini adalah kesalahanku, seandainya aku bisa menahan diri waktu itu...” sesal Galuh dengan lemas.

“Sudahlah Nyai, hal itu sudah terjadi... Hal ini semakin rumit ketika tadi siang datang empat orang duta dari Mega Mendung, dihadapan Gusti Sultan, mereka bertanya padaku soal Mega Sari yang sampai saat ini masih buron di Mega Mendung! Mereka mengatakan bahwa sekarang di Mega Mendung sedang terjadi peristiwa Rajapati yang sangat mengerikan, beberapa pejabat dan prajurit serta abdi Sang Prabu telah tewas terbunuh secara mengerikan dan misterius... Aku jawab aku tidak tahu menahu soal Mega Sari karena sudah lama tidak bertemu dengannya dan sedang disibukan oleh tugas-tugasku selaku pejabat di Banten ini... Tapi... Tapi... hal ini menjadi senjata bagi mereka untuk menyerangku! Hal ini jugalah yang membuat Gusti Sultan semakin ketat mengawasi aku!” tutur Jaya.

“Aku memang tidak cocok menjadi pejabat Keraton yang harus terlibat intrik politik! Aku lebih cocok menjadi musafir yang melanglang buana ke mana saja kaki membawaku!” lanjutnya dengan suara mendesah berat.

“Sudah... Sudahlah Kakang lupakan saja soal kekeruhan politik di keraton itu, tidak baik terus mengeluhkan nasib pada Gusti Allah, jangan terlalu dianggap toh Kakang tidak mengincar jabatan apapun di keraton kan? Kita jalani saja kehidupan kita yang sekarang, mungkin suatu saat Gusti Sultan akan melepaskan Kakang karena Kakang terbukti tidak mempunyai niat jahat maupun menginginkan kekuasaan dalam bentuk apapun...” bujuk Galuh.

“Tidak... Tidak Nyai, aku merasa dipermainkan, Gusti Sultan sendiri yang mengangkatku menjadi Tumenggung, sedatangnya kita ke kota Surasowan ini... Tapi nyatanya aku hanya menjadi bahan olok-olokan di Banten ini, sampai sekarang aku menjadi pejabat hanya untuk menjadi tawanan Gusti Sultan!” jawab Jaya.

“Mungkin Gusti Sultan tidak berniat demikian…” sahut Galuh sambil terus memijat kaki Jaya.

“Tidak istriku... Gusti Sultan sudah melecehakan aku, ini mengenai soal martabat, aku merasa sangat tersinggung Nyai! Tersinggung!” ungkap Jaya dengan penuh tekanan menahan amarahnya.

“Belum tentu Gusti Sultan menghinamu Kakang, itu hanya perasaanmu saja, pikiran-pikiran orang kecil!” ucap Galuh.

Jaya melotot mendengar ucapan istrinya yang terakhir itu, ia langsung bangun dan memelototi Galuh. “Aku memang rakyat kecil! Tapi aku keturunan langsung dari Sri Baduga Maharaja! Aku cucu Sri Jayadewata Sang Prabu Siliwangi penguasa Pajajaran dan Dewi Ambet Kasih! Aku putra sulung Prabu Kertapati penguasa Mega Mendung! Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan martabatku! Sekalipun dia Sultan Banten! Atau Raja atau Ratu dari negeri manapun!” tegas Jaya dengan suara keras dan bergetar penuh amarah.

Galuh nampak ketakutan melihat suaminya yang marah seperti itu, ia juga merasa sangat sedih karena selama ia kenal dengan Jaya, belum pernah pria itu membentaknya dan memarahinya demikian rupa, wanita hitam manis ini langsung terisak, ia menggigit bibirnya untuk menahan isak tangisnya, butiran-butiran bening telah jatuh dari kedua matanya.

Melihat istrinya menangis Jaya seolah tersadarkan dari kesalahannya barusan, “Astagfirullah…” ucapnya sambil memukul keningnya, ia sangat menyesali ucapannya barusan ditambah khawatir ada orang yang mendengar ucapannya barusan, ia lalu mendekap kepala Galuh ke bahunya. “Maafkan aku Istriku... Aku khilaf...” ucapnya dengan lemas.

“Tidak apa-apa Kakang, aku paham dengan posisimu yang serba sulit…” sahut Galuh dengan pelan diiringi isaknya.

Kemudian Jaya termenung sejenak sambil menatap ke langit-langit kamarnya, sejurus kemudian ia mendesah berat. “Galuh... Besok malam aku akan pergi, mungkin beberapa minggu, siangnya aku akan minta izin terlebih dahulu pada Gusti Sultan.” 

“Kakang mau pergi ke mana?” tanya Galuh yang terkejut dengan keputusan Jaya yang tiba-tiba tersebut.

“Aku ini butuh petunjuk, minta penerangan hati, pada sang pemberi hidup...” jawab Jaya dengan suara perlahan dan tatapan mata sayu, Galuh pun hanya bisa mengangguk perlahan.

*****

Keesokan malam harinya Jaya berangkat kearah selatan menuju ke Pelabuhan Ratu melewati lereng Gunung Pulosari, untunglah Sultan Banten memberinya izin karena selain Jaya masih akan bertapa di wilayah Banten, istrinya yang sangat ia cintai yakni Galuh Parwati tetap tinggal di Surasowan di bawah penjagaan Indra Paksi sang lurah tantama kepercayaan Sultan. 

Dengan langkah kaki lebar-lebar, Jaya mengarahkan perjalanannya menuju ke Pelabuhan Ratu, hendak dicarinya jalan pemecahan bagi masalah berat yang mengganjal hatinya di sana, ia akan menghabiskan hari-harinya dengan bertapa, memohon keadilan Gusti Allah terhadapanya, ia akan mengetuk pintu hati Sultan Maulana Yusuf melalui laku prihatinnya itu.

Jaya Laksana terus berjalan tanpa menghiraukan segala yang menghadangnya, kegelapan malam, licinnya tanah, rapatnya semak belukar, dan lebatnya hutan perawan, kemungkinan patukan ular berbisa atau terkaman hewan-hewan buas tak ia pedulikan. Tekadnya telah kukuh, semangatnya telah membumbung ke langit, sekali-kali ia tak akan mundur. 

Nampaklah kehebatan dari murid Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana tersebut, ia nampak seperti melangkah biasa, tapi langkahnya sangat cepat, bagaikan bayangan, satu langkahnya sama dengan tujuh langkah lari kuda padahal ia hanya berjalan biasa, sehingga pada saat menjelang fajar ia sudah sampai di lereng gunung Pulosari di pedalaman Banten Girang.

Saat itu ia melewati satu hutan dekat satu dusun kabuyutan Sunda yang tertutup dari dunia luar, di sana ia melihat para penduduk desa sedang memburu seekor harimau besar, para penduduk berhasil memanah harimau yang bulunya bercahaya emas dan matanya hijau itu, anehnya si harimau tidak melawan para warga yang memburunya, ia hanya mengaum-ngaum seolah meratap saja kesakitan dengan sorot mata yang meminta belas kasihan.

Namun sayangnya para penduduk desa tidak ada yang mempedulikan “ratapan” harimau raksasa itu, beberapa orang segera mengacungkan tombaknya untuk menghabisi harimau tersebut, si harimau berhenti mengaum, ia tampak pasrah menerima ajalnya, saat tombak-tombak itu hampir menyentuh kulit si harimau, Jaya melompat menerjang tombak-tombak tersebut, tombak-tombak itu patah dan para penombaknya jatuh berpelantingan!

“Kurang ajar! Siapa kau?! Berani mencampuri urusan kami!” bentak pemimpin warga.

Jaya yang saat itu berpakaian rakyat biasa langsung menjura hormat pada mereka. “Mohon maaf, saya hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat, mohon maafkan ketidak sopanan saya.” 

Si pemimpin warga itu langsung mendamprat marah. “Ki Dulur adalah orang asing yang tidak tahu menahu tentang desa ini! Jadi jangan lancang berbuat seenaknya! Silakan segera angkat kaki dan jangan menganggu kami!”

Jaya tidak langsung menjawab, ia menoleh menatap wajah si harimau yang sedang kesakitan dan seolah meratap memohon belas kasihan, ia tidak tega kalau harus membiarkan warga desa merencah hewan ini, “Maafkan kelancangan saya Ki Dulur semua, tapi... Saya mohon lepaskanlah hewan buruan Ki Dulur semua ini.” pinta Jaya yang tidak tega melihat luka-luka si harimau.

“Lepaskan hewan ini?! Ki dulur orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang desa ini! Dikiranya kami memburu harimau ini untuk bersenang-senang apa?!”

“Maafkan saya, tapi ada perihal apakah Ki Dulur semua memburu harimau ini?” tanya Jaya.

“Harimau ini telah memangsa seorang anak kecil dan seorang ibu di desa kami! Kami memburunya untuk mencegahnya melakukan hal yang sama pada penduduk desa kami!” tegas si pemimpin rombongan.

“Apakah ada buktinya kalau harimau ini yang melakukan hal tersebut? Ingat Ki Dulur, meskipun ia hanya hewan, tapi ia juga mempunyai hak untuk hidup!” cecar Jaya dengan tegas.