Episode 289 - Arus Perpindahan



Bukannya tak hendak membalas budi karena telah diselamatkan jiwanya, bukan pula tak hendak memberi uluran tangan kepada suku salah seorang sahabat yang sedang memerlukan bantuan; akan tetapi ada hal yang lebih mustahak yang patut dilakukan. Bintang Tenggara menyadari bahwasanya sebelum ditarik paksa ke dalam ruang dimensi khusus oleh Murka Alam, dirinya dan Si Kancil sudah berada di Pulau Belatara Pusat. Oleh karena itu pula, binatang siluman dengan unsur kesaktian putih itu kemungkinan besar masih berada di Pulau Belantara Pusat, sehingga perlu diburu sesegera mungkin. Jangan sampai jejaknya hilang sama sekali! 

Baru hendak Bintang Tenggara menolak permintaan dari tokoh yang diperkirakan adalah ayahanda Kuau Kakimerah, suara gaduh terdengar dari sisi luar gubuk. Kepala Suku Dayak Kaki Merah, Enggang Kakimerah, segera melangkah keluar. Bintang Tenggara tergopoh menyusul. 

“Da... darurat... Kepala Suku...” seorang lelaki dewasa terengah-engah. Sekujur tubuhnya dibasahi peluh. Suara terbata-bata, sepertinya ia baru saja menempuh perjalanan yang tergesa dan sangat melelahkan. 

“Apakah...?” Kata-kata Enggang Kakimerah tertahan menaggapi si pelacak yang ia tugaskan sejak beberapa waktu lalu. Sepertinya ia sudah dapat menebak apa yang hendak disampaikan oleh lawan bicaranya. Akan tetapi, ia menahan diri untuk tak mengambil kesimpulan terlalu dini. Atau, mungkin ia sangat berharap bahwa dugaannya kali ini terbukti keliru. 

“Binatang siluman... binatang siluman...” Masih termegap-megap, lelaki dewasa itu mengumpulkan napas untuk menyampaikan laporannya... “Gelombang... lebih cepat...” 

Raut wajah Kepala Suku Enggang Kakimerah berubah cemas. Ia segera menyapu pandang, karena mendapati bahwa hampir seluruh penduduk dusun bergegas mendatangi dirinya. Wajah teramat gelisah, mereka lalu berkerumun mengelilingi. 

“Gelombang perpindahan binatang siluman tahun ini datang lebih cepat! 

“Kita belum siap!” 

“Yang Terhormat Kepala Suku, apakah yang akan kita lakukan...?”

Segenap anggota suku berujar cemas. Oleh karena itu pula, sang Kepala Suku berupaya tampil tenang. Usai menyapu pandang ke arah anggota suku yang jumlahnya tak lebih dari 30 ahli, ia kembali menatap kepada si pelacak. 

“Dalam kurun waktu berapa lama gelombang perpindahan akan tiba...?”

Si pelacak menatap nanar. Pelan ia menjawab, “Esok subuh... dari arah barat...” 

Bintang Tenggara berupaya menebak inti dan arah perbincangan antara Kepala Suku dengan anggotanya. Akan tetapi, seperti halnya para ahli baca, anak remaja itu mengalami kesulitan dalam mencerna. 

“Subuh!?”

“Apa yang kau lakukan selama ini di atas bukit!? 

“Mengapa terlambat sekali memberi laporan!? 

“Yang Terhormat Kepala Suku, apakah yang akan kita lakukan!?”

Gemuruh kekesalam bercampur aduk dengan detak kekhawatiran terdengar sambung-menyambung. Beberapa anggota suku bahkan mulai terlihat panik. Perhatian kembali terpusat kepada si Kepala Suku yang masih berupaya tampil tenang demi menjaga agar anggota suku tak semakin panik. Sepertinya sulit sekali baginya mengambil keputusan. 

“Segera persiapkan diri dan keluarga. Tinggalkan apa-apa yang tak perlu. Kita akan segera mengungsi...” Akhirnya si Kepala Suku itu berujar berat...

“Mengungsi...!?”

“Bagaimana dengan tempat tinggal kita...!?

“Aku baru menuai... Jika kita mengungsi, maka lahan yang baru kita tanami akan hancur berhamburan... Kita tak lagi memiliki bibit!”

“Rimba raya senantiasa dapat memenuhi kebutuhan hidup...” Si Kepala Suku berujar tegas. “Kita akan bertahan. Kesulitan mungkin saja... Akan tetapi kita akan hidup, tidak mati konyol!” 

Si Kepala Suku memutar tubuh. “Pengungsian dimulai seusai matahari tepat di atas kepala!” lanjutnya sembari melangkah kembali ke dalam gubuk. Anggota suku pun segera menyebar kembali ke dalam gubuk masing-masing. Mereka bergegas mengumpulkan harga benda dan mengambil harta benda yang memang tak seberapa. 

Bintang Tenggara tentunya masih penasaran. “Apakah yang akan terjadi...?” ujarnya kepada si pelacak merangkap pembawa berita duka yang sedang duduk tersandar di sisi pohon tumbang. Sepertinya perasaan putus asa mulai menghantui tokoh tersebut.

“Oh... Kau adalah anak muda yang tempo hari ditemukan di rimba... Kau bukan dari wilayah sini...” Ia menanggapi sekenanya. 

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Raut wajahnya mencerminkan rasa ingin tahu yang semakin mendalam. 

Si pelacak itu menyandarkan kepalanya ke batang pohon yang masih tersisa. Ia seperti enggan ikut serta di dalam pengungsian. Entah karena rasa bersalah akibat terlambat menyadari ancaman besar, atau memang ia tak memilki harta benda yang pantas dikemas. Atau mungkin karena ia sudah lelah hidup serba kekurangan dan terpinggirkan. Rasa putus asa telah menjalar ke lubuk hati terdalam. Ia bahkan tak kuasa lagi mengangkat tubuh. 

Lelaki dewasa itu menghela napas panjang. “Kami... Suku Dayak Kaki Merah... adalah suku yang dinista...”

Bintang Tenggara mencermati. Tak hendak menyela, meski dari satu kalimat tersebut serangkaian pertanyaan mencuat di benaknya. Sedikit banyak ia sangat ingin memahami kisah di balik sosok Kuau Kakimerah. Ia pun kini memahami alasan mengapa gadis belia tersebut di Perguruan Gunung Agung hidup sederhana, dan cenderung mata duitan. Kuau Kakimerah kemungkinan besar mengirimkan setiap keping harta yang ia miliki kembali ke dusun ini. 

“Oleh karena itu, kami hidup terpinggirkan. Satu-satunya tempat yang masih tersedia untuk kami menetap adalah di lembah ini...”

Bintang Tenggara terus menyimak dalam diam. 

“Namun demikian, lembah ini merupakan jalur perpindahan kawanan binatang siluman. Saban tahun, kawanan binatang siluman akan melintas... Mereka melibas dan memporak-porandakan apa pun yang berada di jalur perpindahan mereka.”

“Dan tahun ini perpindahan datang lebih awal dari perkiraan...,” sela Enggang Kakimerah si Kepala Suku Dayak Kaki Merah. “Puluhan tahun silam, kami masih cukup kuat untuk mempertahankan dusun melalui upaya menggiring atau menghalau kawanan binatang siluman yang melintas. Akan tetapi, selama puluhan tahun setelah itu, jumlah anggota suku terbatas dan kawanan binatang siluman semakin beringas....”

Kepala Suku itu membantu si pelacak yang kelelahan dan putus asa untuk bangkit berdiri. Bagaimana pun juga, ia tak akan meninggalkan seorang pun anggota suku. “Tahun ini, lagi-lagi terpaksa kami merelakan tempat tinggal hancur dilibas kawanan binatang siluman.”

...

Dengan berat hati, anggota suku Suku Dayak Kaki Merah menapak bukit demi mencari wilayah untuk ditempati sementara. Biasanya, perpindahan kawanan binatang siluman akan berlangsung selama sekira dua hari dua malam. Selama kurun waktu pula suku ini akan jatuh ke dalam jurang putus asa. Mereka akan berpindah-pindah tempat sembari menyadari bahwa tempat tinggal mereka diluluhlantakkan. Yang menanti di kala pulang nantai, adalah sisa-sisa dusun yang sudah porak poranda. 

Berpindah tempat menetap sementara perlu dilakukan karena suku ini terpaksa memasuki wilayah kekuasaan suku lain. Terlalu lama menetap di satu tempat, maka akan menimbulkan rasa tak senang dan penolakan dari suku-suku yang menguasai wilayah di mana mereka berada. Untuk menghindari bentrok yang tiada perlu, mereka pun rela menempuh langkah yang sedemikian. 

“Mengapakah Suku Dayak Kaki Merah dinista...?” aju Bintang Tenggara. Saat ini anak remaja itu sedang mendaki wilayah perbukitan bersama rombongan suku Dayak Kaki Merah. 

“Karena nenek moyang kami adalah pembelot di kala Perang Jagat...,” Enggang Kakimerah berujar ringan. Senantiasa dicap dan dicaci sebagai pembelot, maka tuduhan tersebut lama-kelamaan tertanam dan berubah seolah menjadi suatu keadaan yang nyata. Dengan kata lain, tak ada lagi upaya yang dilakukan untuk membantah tuduhan yang tak beralasan. 

“Oleh karena itu... Bila Nak Bintang tiada bersedia membantu kami, maka aku sangatlah memahami.” 

Bintang Tenggara terdiam. Apa mau dikata, ia memang tak kuasa membantu. Waktunya kurang pas. 

“Pembelot!” 

“Apa yang kalian lakukan di sini!?”

“Cepat angkat kaki dari wilayah kami!” 

Tetiba suara-suara menghardik datang bertubi segera setelah rombongan pengungsi meninggalkan wilayah lembah. Meski tak terlihat dari mana asal datangnya suara, jelas bahwa kehadiran suara menyatakan penolakan yang teramat sangat. 

“Mohon maaf... Kami hanya sekedar melintas karena gelombang perpindahan binatang siluman tahun ini datang lebih awal,” si Kepala Suku membungkukkan tubuh. “Jikalau memungkinkan, mohon kiranya memperkenankan bagi kami membangun tempat tinggal sejenak...”

“Kami tak sudi!”

“Pergi kalian saat ini juga!” 

“Jangan paksa kami bertindak kasar!”

Seluruh rombongan pengungsi tercekat di tempat. Langkah mereka gontai di kala meneruskan perjalanan mencari tempat terbaik. 

Setengah hari berlalu. Sebelum matahari terbenam, rombongan pengungsi tiba di lereng sebuah bukit. Terjal sekali sekali. Di saat yang sama kehadiran belasan ahli terasa mengamati setiap pergerakan mereka. Mereka tiada bersusah payah menyembunyikan aura nan terasa gerah. Akan tetapi, kali ini tak ada suara pengusiran sebagaimana sebelumnya. Seperti mereka hanya memantau, dan tak hendak mencampuri. 

“Kita akan membangun kemah di sini...,” Enggang Kakimerah memberi aba-aba. “Ini adalah wilayah tak bertuan...

“Yang Terhormat Kepala Suku... Jikalau hujan turun, maka kita akan tersapu...”

“Pada malam hari, banyak binatang siluman buas yang berkeliaran di wilayah ini...”

Sang Kepala Suku tiada menanggapi. Bukan ia tak memahami bentang alam, melainkan pilihan apa lagi yang terbuka bagi suku dayak yang dicap sebagai pembelot...? Ia pun turun tangan langsung dengan mulai membersihkan wilayah dari semak belukar yang tumbuh liar serta ranting dan daun kering. Bintang Tenggara ikut membantu. Setidaknya anak remaja tersebut akan membantu dalam pengungsian dan tinggal sejenak. Berdasarkan kejadian yang berlangsung, ia memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentangsuku dayak. Tentang adat istiadat, kebiasaan, keahlian. Anak remaja tersebut tak hendak salah langkah di Pulau Belantara Pusat.

...

Malam tiba. Bulan sedang bersembunyi dan bintang-bintang terhalang lapisan tipis awan. Dalam gelap, sesosok bayangan bergerak tangkas membelah semak belukar dan mengitari pohon besar-besar. Ia berhenti sejenak, mengamati situasi dan memastikan berada pada jalur yang benar, lalu meneruskan langkah. Perjalanan setengah hari ia tempuh dalam beberapa jam saja. 

Tak lama, sosok tersebut tiba di lembah di mana suku Dayak Kaki Merah menetap. Ditemani suara jangkrik dan beranekan binatang malam lain, ia melangkah masuk ke dalam dusun. Suasana lengang, karena dusun tersebut telah dikosongkan sejak siang hari. Penghuninya pergi mengungsi, menghindari datangnya arus perpindahan tahunan kawanan siluman. Berdasarkan perkiraan waktu, maka pada subuh hari nanti dusun ini akan luluh-lantak diterabas. 

Sosok tersebut kemudian bergerak ke arah barat. Di sisi luar dusun, ia mulai menggali. Sesuatu nan panjang kemudian dihujamkan ke dalam tanah.  

...

Mentari pagi bersinar cemerlang, menyeruak di antara pepohonan serta denaunan besar-besar. Akan tetapi, sinarnya tiada menularkan gairah kehidupan kepada anggota Suku Dayak Kaki Merah. Segenap anggota suku tak dapat menyembukan duka dan lara. Sebagian besar gubuk mereka saat ini pastilah hancur, dan akan semakin luluh lantak selama dua hari berlangsungnya arus perpindahan binatang siluman. 

Hanya sang Kepala Suku yang berdiri mentang terpaan cahaya mentari. Ia harus tampil kuat demi sukunya. Ia harus menularkan semangat bahwa Suku Dayak Kaki Merah akan terus bertahan meski dinista baik oleh manusia maupun alam. 

“Kepala Suku... Kepala Suku!” seorang lelaki dewasa lagi-lagi terengah. Sekujur tubuhnya dibasahi peluh, sepertinya ia baru saja berlari sekuat tenaga. Meski kelihatan lelah, sinar matanya dipenuhi semangat kehidupan. Raut wajahnya sangat berbeda dengan sehari sebelumnya, di kala ia melaporkan bahwa arus perpindahan binatang siluman datang lebih awal. 

Sang Kepala Suku hanya menatap heran. 

“Dusun... dusun...” Si pelacak tiba di hadapan Enggang Kakimerah. “Dusun kita masih utuh!” 

“Maksudmu...?”

“Pagi-pagi sekali aku hendak memantau keadaan. Aku menyaksikan arus perpindahan binatang siluman terpecah di kala hendak melintasi dusun. Kawanan binatang siluman terbelah menjadi dua bagian, dan mereka menghindari wilayah dusun... Mereka bergerak mengitari!” 

“Tak mungkin!” seorang anggota suku yang mendengar pembicaraan mereka menyela. Beberapa anggota suku lain ikut mendatangi. 

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” Si pelacak itu meninggikan suaranya.”Sampai saat ini pun kuyakin bahwa tak seekor binatang siluman yang melangkah masuk ke dalam dusun!”

“Kau berkhayal!” 

Di saat perbincangan yang dipenuhi dengan keraguan sedang berlangsung, seorang anak remaja melangkah keluar dari balik kemah sederhana yang ia tumpangi. Matanya sembab, seperti kurang tidur. Ia melirik ke arah Kepala Dusun, namun berpura-pura sedang melakukan kegiatan lain. Gelagatnya ini sungguh mencurigakan. 

Sang Kepala Dusun menangkap keanehan yang ditampilkan anak tersebut, namun mengabaikan saja. Bersama beberapa anggota suku, ia bergegas meninggalkan lereng bukit yang dijadikan tempat pengungsian sementara. Mereka akan membuktikan langsung kata-kata si pelacak tentang keadaan dusun yang terpaksa ditinggalkan.