Episode 51 - Iblis Merah dan Iblis Hitam


Dengan bosan, Dan melihat keluar jendela. Sudah beberapa hari berlalu sejak dia mencari tahu bagaimana cara meningkatkan kekuatannya, akan tetapi dia masih belum menemukan titik terang.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?” 

Sebuah suara manis terdengar dari arah samping Dan, dengan perlahan Dan menoleh dan melihat sesosok gadis cantik menggunakan seragam yang sama dengan yang dia gunakan. Semua aspek ditubuhnya sangat sempurna dan indah, mulai dari alis, hidung, hingga bibirnya.

Sebuah kecantikan yang tak akan bisa dilupakan oleh siapapun.

Sudah bisa ditebak, tidak lain dan tidak bukan, dia adalah sang dewi sekolah ini, Alice.

“Aku hanya melihat-lihat pemandangan di luar saja.” Dan menjawab dengan senyum tipis terlukis di wajahnya.

“Ah, hmm, memangnya ada apa di luar?” tanya Alice dengan senyum cerah di wajahnya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Dan lalu kembali melihat keluar jendela.

“Oh, hehe,” Alice mencoba untuk tertawa kecil lalu berkata, “sekarang kau agak berubah, ya.”

Dan menoleh ke Alice kembali dan bertanya, “Eh, kau bilang apa?”

“Hehe, bukan apa-apa, oh, iya, aku pergi dulu ya.” Alice berkata dengan terburu-buru lalu cepat pergi menjauh.

“Iya.” Gumam Dan dengan pelan.

Sebenarnya, Dan mendengar apa yang Alice katakan, akan tetapi dia berpura-pura tidak mendengar. Karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Dan tidak berubah, dari awal dia selalu begitu, hanya saja dia bukanlah Danny, sesederhana itu.

Juga, Dan tidak mau terlalu berhubungan dengan orang yang dekat dengan Danny. Sebab, dia tidak mau merusak hubungan itu, jadi dia memutuskan untuk menjaga jarak, termasuk kepada Alice.

“Hei.” Sekali lagi, terdengar suara seorang gadis dari arah samping Dan. 

Tanpa menoleh Dan langsung menjawab, “Hmm?”

Tapi, sesaat kemudian meluncur dengan cepat sebuah cubitan menuju tubuh Dan.

“Aww,” Dan menoleh lalu berkata dengan kesal, “apa yang kau lakukan?”

“Salah sendiri, siapa suruh kau mengabaikan aku.” Ucap gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, hingga membuat baju yang dia kenakan tampak bisa rusak kapan saja karena terlalu ketat.

“Apa yang kau mau?” tanya Dan dengan kesal.

“Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat lebih suram dari biasanya?” Angel berkata dengan heran.

“Bukan apa-apa.” Jawab Dan dengan singkat.

Setelah mendengar jawaban Dan, dengan sangat cepat sebuah cubitan meluncur menuju tubuh Dan, “Cepat katakan padaku.”

“Aw, lepaskan, aw, apa yang kau lakukan?” Dan mencoba melepas cubitan itu tapi tidak bisa.

“Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru akan aku lepaskan.” Angel berkata sambil terus mencubit tubuh Dan.

Dan tidak bisa tidak menggelengkan kepala dengan sikap manusia, terutama perempuan, yang sangat aneh dan tidak masuk akal. Juga, dia juga sangat kasihan dengan tubuh manusia yang sangat lemah. 

“Aku sedang berpikir bagaimana caranya menjadi kuat.” Ucap Dan.

“Menjadi kuat?” tanya Angel sekali lagi untuk memastikan apa yang dia dengan itu benar.

“Iya,” jawab Dan dengan kesal, “dan sampai kapan kau mau mencubit aku?”

“Oh, ya, maaf.” Angel melepas cubitannya lalu tertawa kecil.

Dan tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat tingkah Angel, Dan juga bingung, sejak kapan dia dan Angel menjadi akrab? Padahal mereka baru satu kali bertemu.

“Kau ingin menjadi kuat, kan?” tanya Angel dengan mata yang berbinar.

“Iya, kan tadi sudah aku bilang.” Dan berkata dengan kesal.

“Bagus, bagus, lalu, ketika kau sudah menjadi kuat, apakah kau akan menggunakan kekuatanmu itu untuk menolong atau melukai?” tanya Angel menyelidik.

“Itu bukan urusanmu.” Ucap Dan dengan cepat.

“Jawab atau kucubit lagi?” ucap Angel sambil bersiap mencubit Dan.

“Baiklah, baiklah, akan kujawab, akan aku gunakan untuk menolong orang lain.” Jawab Dan dengan terpaksa.

“Benarkah?” tanya Angel memastikan.

“Benar.” Dan berkata dengan tegas.

Apa yang Dan katakan bukanlah kebohongan, karena untuk saat ini, dia memang ingin kekuatan untuk menolong Danny. Namun, untuk kedepannya tidak ada yang tahu.

“Kalau begitu, siang ini, setelah pulang sekolah, kau harus ikut aku.” Angel berkata dengan senyum kecil di wajahnya.

“Kemana?” 

“Lihat saja nanti.” Ucap Angel sambil mengedipkan sebelah matanya dan bergegas pergi.

Punggung Angel semakin menjauh, akan tetapi pandangan Dan tetap terpaku pada tubuh Angel yang seksi, khususnya bagian bokongnya. Hingga akhirnya tak terlihat lagi, tapi bayangan dari keindahan itu tetap membekas di pikiran Dan.

Sementara itu, Raku yang sebelumnya sudah menyerah untuk mendapatkan Alice karena melihat Alice dan Danny yang sangat dekat, kini kembali mencoba untuk mendekati Alice.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya Raku dengan sopan pada Alice yang kini sedang duduk sendiri di kantin.

“Ah, silakan, tidak ada yang melarang.”Alice berkata sambil tersenyum tipis.

“Sepertinya kau sedang bingung, apa ada masalah? Jika ada, ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa membantumu.” Ucap Raku.

“Tidak, tidak ada masalah.” Balas Alice lagi.

“Hehe, ya sudah, tapi jika kau perlu bantuan, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepadaku.” Raku berkata dengan senyum ramah di wajahnya.

Raku mengerti, tidak mudah untuk menceritakan masalahmu pada orang yang belum kita kenal dengan baik. Namun, Raku tidak akan menyerah, dia akan membuat Alice mengerti, bahwa dia orang yang pantas dipercaya, orang yang lebih pantas daripada Danny yang malah mengabaikan semua perhatiannya. Meskipun mungkin saat ini orang yang dicintai oleh Alice adalah Danny, tapi tidak ada yang tahu bagaimana hal akan terjadi di masa depan.

Raku juga percaya, seperti cat, cinta juga bisa memudar.

Setelah pulang sekolah Dan berjalan dengan santai meninggalkan kelas. Dia sudah melupakan apa yang Angel katakan, dan terus berjalan untuk kembali ke rumah.

“Hei!” sebuah hantaman keras dari belakang membuat langkah Dan goyah hingga hampir saja membuatnya terjatuh.

Dan dengan kesal menoleh untuk melihat siapa orang itu, dan ternyata dia adalah Angel.

“Apa yang kau inginkan?” Dan berkata dengan kesal.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau inginkan? Padahal aku sudah menyuruhmu untuk menungguku!” balas Angel.

“Kapan kau memintaku untuk menunggumu?” tanya Dan.

“Tidak penting, intinya kau harus ikut aku.” Angel dengan tegas menarik Dan.

“Setidaknya katakan padaku, kau mau mengajakku pergi kemana?” tanya Dan lagi.

“Tentu saja ke tempatku?” jawab Angel dengan cepat.

“Untuk apa ke tempatmu?” Dan bertanya dengan bingung.

“Tentu saja untuk menemui kedua orang tuaku.” Ucap Angel dengan lantang.

“Hah?”

Suara Angel tidak terlalu keras, akan tetapi semua orang bisa mendengarnya dengan jelas. Semua dari mereka yang mendengar memiliki ekspresi yang sama setelah mendengarnya, yaitu campuran dan terkejut, heran, dan kesal.

Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan.

“ini tempatnya.” Ucap Angel.

“Tempat apa ini?” tanya Dan heran.

“Ini adalah tempat aku berlatih bela diri, perguruan bela diri Iblis Merah.” Jawab Angel dengan bangga.

**

Beberapa hari yang lalu.

Seorang pemuda dengan pakaian serba hitam berjalan di sebuah gang sepi, matanya melihat ke depan. Namun, pandangannya kosong. Di dalam kekosongan itu terdapat kebencian, kemarahan, kesedihan, dan semua emosi negatif lainnya. Sangat dalam, hingga tak ada yang tahu seberapa dalam emosi itu.

Sekumpulan orang dengan wajah seram berkumpul di depan jalan yang akan dilalui oleh pemuda tersebut. Mereka tertawa dengan keras sambil membawa botol minuman di tangan mereka. 

Namun, sekumpulan orang itu tidak membuat pemuda tersebut takut dan menghindar. Dia tetap berjalan lurus dengan diam.

“Hahahaha, lihat, ada bocah yang berjalan kemari.” 

“Sepertinya dia mau cari mati.”

“Mari kita ajarkan dia untuk tidak berjalan seorang diri saat malam seperti ini.”

Mereka berjalan mendekati pemuda tersebut dengan langkah yang goyah dan tertawa terbahak-bahak.

Namun, apa yang terjadi setelahnya adalah mimpi buruk bagi sekumpulan orang itu. Semua dari mereka bahkan takut untuk mengingat kembali kejadian tersebut. 

Pada malam berikutnya, di suatu gang sepi, ketika banyak anak muda sedang berkumpul bersama, sesosok pemuda dengan pakaian serba hitam datang lalu menyerang para pemuda itu. Kejadian itu terus terjadi setiap malamnya, hingga tak ada lagi yang berani untuk keluar malam.

Sejak saat itu terciptalah rumor tentang iblis hitam yang akan menyerangmu jika kau keluar malam.

Di sebuah pabrik tua di pinggir kota.

Sekumpulan pemuda berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yaitu mencari tahu tentang rumor iblis hitam dan menjadi terkenal.

“Hei, apakah iblis hitam itu akan benar-benar muncul?” tanya seseorang.

“Tentu saja, aku yakin sekali.” Jawab seseorang pemuda dengan alis tajam, dia adalah Wendy.

“Apakah kita benar-benar harus melakukan ini?” tanya seorang pemuda bertubuh gemuk, dia tampak ketakutan dan gelisah.

“Jika kau mau pergi silakan saja, aku tidak melarangmu.” Ucap Wendy.

“Ba-baiklah, aku akan pergi.” Pemuda bertubuh gemuk itu langsung berjalan dengan terburu-buru meninggalkan semua teman-temannya.

“Biarkan saja si pengecut itu pergi, kita tetap fokus dengan tujuan kita.” Teriak Wendy dengan penuh semangat.

“Ya, benar!” teriak semua pemuda di sana.

Mereka semua berjumlah sekitar dua puluhan, dan tentu saja, ketika mereka bersama, mereka tidak takut apapun, bahkan rumor tentang iblis hitam yang saat ini sedang sangat hangat dibicarakan semua orang.

“Jenny, periksa kameranya sekali lagi.” Ucap Wendy pada seorang gadis berambut pendek.

“Tenang saja, aku sudah mengeceknya berkali-kali.” Jawab Jenny dengan senyum tipis.

“Bagus, kalau begitu mari kita keluar dan cari iblis hitam sialan itu, dan kita semua akan terkenal!” Wendy berteriak penuh semangat.

“Ya!” jawab semua teman-temannya dengan penuh gairah.

Pemuda memang harus bersemangat, untuk segala hal, bahkan hal tidak berguna seperti yang mereka lakukan saat ini.

“Oke, Jenny, hidupkan kamera, kita akan mulai!” perintah Wendy pada Jenny.

“Oke, siap, mulai!” ucap Jenny.

Lalu, rekaman mereka pun dimulai. Pada awalnya, tidak cukup banyak orang yang menonton, karena ini adalah tengah malam, sudah cukup banyak orang yang tertidur pulas.

Juga, isi dari video itu hanya Wendy yang mengatakan omong kosong dan menyombongkan diri bahwa si iblis hitam tidak berani muncul karena takut pada mereka.

Lalu, tanpa mereka sadari, di ujung gang yang sedang mereka lewati, sesosok pemuda dengan tajam menatap mereka, lalu mulai berjalan pelan mendekat.