Episode 65 - Pesan Pembawa Petaka (1)


Di Gua lereng gunung Gede, Mega Sari nampak sedang bersemedi, sejak subuh tiba, ia nampak terus bersemedi untuk melatih bathinnya agar mampu mengendalikan Jin Bagaspati yang merasuki tubuh Dharmadipa, ia terus mengheningkan cipta dengan sangat khusyuknya, ia baru membuka matanya hari telah siang dan matahari telah sampai diatas ubun-ubun manusia.

Setelah membuka matanya ia menarik nafas lega sambil menatap ke jasad Dharmadipa, Emak Inah pun membawakannya air dan makanan. “Gusti putri, maaf bukannya Emak mau kurang ajar pada Gusti Putri, tapi tolong Gsuti Putri jangan terlalu memaksakan diri untuk terlalu sering bersemedi, jangan lupa kalau Gsuti sedang mengandung putra kedua Gusti, Gusti butuh makan dan minum serta istirahat yang teratur agar bayi Gusti bisa sehat.”

Mega Sari menerima santapan yang diambilkan oleh Emak Inah, ia meneguk air putih dari kendi. ”Emak benar, tapi saya harus terus melatih ilmu olah bathin saya agar dapat membalaskan sakit hati saya pada seluruh orang-orang Mega Mendung yang merebut kebahagian saya dengan Kakang Pangeran!” Emak Inah hanya bisa diam tak menjawab, ia merasa sedih sekali karena Gusti Putrinya telah larut terlalu dalam kedalam lautan dendam yang tak bertepi, ingin sekali ia mengingatkan Mega Sari agar mau ikhlas menerima takdirnya, tapi ia tak berani.

Baru saja makan beberapa suap, Mega Sari berlari keluar lalu muntah-muntah, “Gusti!” seru Emak Inah sambil mengurut-ngurut pundak Mega Sari.

“Tidak apa-apa Emak.” ucap Mega Sari perlahan.

“Iya, nanti kalau sudah menginjak bulan keempat Gusti tidak akan mual-mual lagi.” ujar Emak Inah.

Mega Sari mengangguk. “Iya Mak, aku masih ingat saat hamil yang pertama dulu.”

“Kalau saja tidak ada kejadian sial itu, Kakang Pangeran pasti akan gembira sekali!” keluh Mega Sari.

“Tapi kan sekarang Gusti Pangeran sudah hidup kembali Gusti?” sahut Emak Inah.

Mega Sari menghela nafasnya sambil menengok kedalam goa tempat mayat Dharmadipa berbaring. “Terus terang, bagaimanapun ada bedanya... Yang tidak dimiliki Kakang Pangeran sekarang adalah perasaan, dia hidup hanya karena perjanjian Wasiat Iblis... Tapi ah sudahlah, aku tidak akan mempersoalkan itu lagi, aku sudah sangat senang Kakang Pangeran dapat hidup lagi, yang penting Kakang Pangeran akan membalaskan dendam yang kita derita sekarang! Merebut kembali hak kita yang telah dirampas mereka!”

Emak Inah dan Ki Silah saling pandang, kemudian wanita tua itu menuntung gustinya. “Gusti benar, sudah sebaiknya sekarang Gusti teruskan makan Gusti biar nanti tidak sakit.”

Setelah selesai menyantap jagung dan singkong rebus, Mega Sari memanggil kedua abdinya yang setia, ia mengambil sebaskom air yang ditaburi bunga tujuh rupa. “Saya telah diajari ilmu untuk melihat hal yang tidak saya ketahui oleh Nyai Guru Lakbok, dengan bubuk sihir yang terbuat dari tengkorak manusia ini saya dapat melihat kejadian-kejadian yang ingin saya ketahui, maka dari itu saya mengajak Emak dan Abah untuk melihat peritiwa yang tidak kita ketahui saat sebelum Kakang Pangeran dan ayahanda Prabu tewas!”

Emak Inah dan Ki Silah saling berpandangan dengan tatapan penuh tanda tanya, sementara Mega Sari membaca mantera lalu menaburkan bubuk sihirnya di air kembang itu, lalu nampaklah kejadian satu tahun yang lalu saat Arya Bogaseta sowan ke Sultan Banten untuk meminta perlindungan dan bantuannya agar dapat menduduki tahta Mega Mendung, lalu bagaimana gerakan-gerakan yang dipimpin oleh Ki Patih Balangnipa dibentuk untuk menjungkalkan pemerintahan Prabu Kertatapati.

“Ternyata otak penghianatan pada Ayahanda Prabu adalah si tua Bangka Balangnipa itu! Tua bangka berhati busuk!” maki Mega Sari marah sekali, “Padahal ia adalah orang yang sangat ayahanda prabu percayai, dia orang kepercayan ayahanda Prabu! Tapi teganya dia menghianati ayahanda Prabu! Dan yang paling tidak saya mengerti, mengapa Panji Andara dan Jaka Yaksa yang sangat disayang oleh Ayahanda Prabu dan dekat dengan Kakang Pangeran terlibat dalam pemberontakan ini!” lanjutnya.

“Maaf Gusti, saya pun pernah memergoki mereka berdua pergi ke goa Tunggul Manik untuk menemui Ki Balangnipa dan Ki Sentanu juga Ki Citrawirya, malah mereka berdualah yang mempengaruhi para lurah tantama agar membelot dari Gusti Prabu.” jelas Ki Silah. 

“Baiklah, mereka berdua giliran berikutnya!” tandas Mega Sari dengan suara penuh dendam.

***

Malam harinya saat matahari baru terbenam, Ki Senopati Sentanu, Ki Mantri Citrawirya, Rakrean Rangga Panji Andara, dan Manggala Laskar Jaka Yaksa nampak sedang berkumpul di kepatihan Ki Balangnipa. mereka nampaknya mendiskusikan satu hal yang teramat penting. “Meskipun hanya seorang Pekatik Kuda, tapi Mang Juju adalah orang yang sangat setia pada Mega Mendung, ia berani menantang maut ketika masih menjadi pekatik kudanya Pangeran Dharmadipa dengan menjadi mata-matanya Prabu Bogaseta sebelum beliau naik tahta dulu, ia melakukan semua itu karena baik Prabu Kertapati maupun Pangeran Dharmadipa telah terlalu banyak menyengsarakan rakyat terutama bagi mereka yang muslim, maka tidak heran kalau ia kini menjadi orang yang sangat dekat dengan Gusti Prabu dan menjadi salah satu orang kepercayaannya!” ucap Ki Balangnipa. (Manggala Laskar = Pemimpin Kesatuan Prajurit).

 “Yah... Saya heran, kenapa dia mati begitu mengerikan, padahal belum lama saya bertemu dengan dia.” sahut Panji Andara.

“Dan cerita mengenai kematiannya, sangat aneh kalau tidak mau dibilang mengerikan, ia tewas tersambar petir, padahal selama ini jarang sekali ada petir yang menyambar sampai begitu di Mega Mendung ini, ditambah soal cerita kesaksian istri dan putrinya serta keterangan dari para prajurit jaga tentang petir yang menyambar istal dan tembok keraton itu... Itu sangat aneh dan membingungkan!” sambung Ki Sentanu.

“Tapi soal kesaksian istri dan anaknya serta keterangan para prajurit jaga itu, apakah bisa kita percayai? Apakah mereka tidak berbohong?” celetuk Jaka Yaksa.

“Kalau menurutku mereka tidak mungkin berdusta, anak dan istri Mang Juju tidak mungkin berbohong karena ini soal kematian suami dan ayahnya, sementara untuk Prajurit jaga, apa untungnya mereka berbohong? Lagipula kalau kita lihat jenasahnya, sudah jelas kalau Mang Juju itu tewas tersambar petir.” sahut Ki Citrawirya.

Ki Balangnipa berdeham lalu menatap semua tamu-tamunya itu dengan tatapan menyelidik. “Kalian sedang tidak bermain api bukan?” tanyanya.

“Lha maksud Kakang Patih itu apa?” tanya balik Sentanu.

“Aku tahu kalian semua tidak puas dengan pemerintahan yang sekarang, aku juga begitu, rencana yang kita susun dengan matang di Gua Tunggul Manik berantakan begitu saja karena campur tangan Sultan Banten! Kebijakan Gusti Prabu Bogaseta yang dianggap membela rakyat dengan mengurangi jumlah pajak dan menghentikan wajib militer bagi para pemuda justru malah memperlemah kekuatan kita, kekhawatiran bahwa negeri kita akan dijajah Banten terus mengemuka sehingga menjadi gonjang-ganjing politik di negeri ini! Itu bisa jadi menjadi alasan untuk memancing di air keruh bagi pihak tertentu!” ujar Ki Balangnipa.

Semua yang ada saling pandang dengan ekspresi wajah kaget karena pertanyaan dan pemikiran Ki Patih memang tidak meleset sedikitpun, namun mereka semua tidak merasa melakukan perbuatan tersebut. “Sumpah demi Allah kami tidak melakukan apa-apa Kakang Patih! Kakang, kami sudah terlalu jemu dan lelah dengan pertumpahan darah di Mega Mendung ini, makanya kami tidak akan mengambil tindakan senekat itu kalau Negeri ini masih bisa kita anggap aman!” jawab Ki Sentanu.

Ki Balangnipa mengangguk-ngangguk sambil memejamkan matanya, pikirannya keruh sekali. “Hmm... Pasti ada yang bermain di balik kejadian ini, pasti!” kemudian orang tua yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia politik ini menghela nafas sambil menatap langit-langit rumahnya.

“Kematian Mang Juju, keterangan dari para saksi, dan mengingat bahwa Mang Juju adalah orang kepercayaan Gusti Prabu yang juga pernah menjadi mata-matanya saat ia masih menjadi pekatik kudanya Pangeran Dharmadipa... Semuanya terlalu kebetulan, kita harus ingat bahwa sampai saat ini Putri Mega Sari bersama Emak Inah dan Ki Silah belum tertangkap! Bukan tidak mungkin semua ini mereka yang melakukan, apalagi kalau mengingat Putri Mega Sari itu sangat sakti dan memiliki ilmu Teluh Ngareh Jiwa yang dahsyat itu!”

“Yah, aku kira tuduhan pada Putri Mega Sari lah yang paling masuk akal, meskipun kemungkinan bahwa pembunuhan ini dilatar belakangi oleh perselisihan politik tetap ada, tapi kalau kita mengingat bagaimana Putri Mega Sari meneluh mendiang Prabu Karmasura dan istrinya beberapa tahun silam, tuduhan pada Putri Mega Sari inilah yang paling masuk akal, apalagi sampai sekarang kita masih belum bisa menumpas Nyai Lakbok di Gunung Patuha yang menyebarkan ajaran sesat, ajaran Ngiwa* dan ilmu teluh! Ditambah menurut keterangan Istri dan anak Mang Juju juga keterangan para prajurit jaga, mereka semua mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing yang sangat keras hingga mengalahkan suara hujan badai sesaat sebelum kejadian!” tanggap Ki Citrawirya. (Ajaran Ngiwa = Ajaran Kiri, arah kiri berkonotasi negatif dan dianggap bukan hal yang baik oleh leluhur orang Sunda maupun Jawa dan Bali).


“Burung Sirit Uncuing... Ya Burung Sirit Uncuing...” desis Ki Balangnipa dengan suara bergetar, ia teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, bagaimana sangat menyeramkannya suasana Keraton Rajamanda ketika Mega Sari yang dibantu oleh gurunya Nyai Lakbok, meneluh Prabu Karmasura dan Istrinya yang merupakan ayah dan ibu mertuanya sendiri, aura keraton yang menjadi tempat pengayom bagi seluruh rakyat Mega Mendung lenyap begitu saja berganti menjadi aura yang sangat mengerikan, bagaikan di tempat-tempat larangan yang banyak dihuni mahluk ghaib jahat.

Sedang merenung seperti itu, tiba-tiba terdengar suara yang ditakutkan oleh Ki Patih yang sedang dibayangkannya tersebut, yakni suara cuitan parau burung Sirit Uncuing yang keras sekali! Mereka semua kaget mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing yang menyeramkan itu pada malam hari seperti ini. “Burung Sirit Uncuing!” seru Panji Andara, mereka lalu saling terdiam mendengar suara cuitan Sirit Uncuing itu dengan tegang, bulu kuduk mereka semua berdiri, namun setelah beberapa saat suara cuitan burung Sirit Uncuing itu pun menghilang.

“Aku merasa tidak enak... Jangan-jangan Sirit Uncuing itu...” desah Ki Balangnipa dengan suara bergetar.

“Aku jadi merasa tidak enak... Sebaiknya aku pulang dulu Paman Patih, saya khawatir ada apa-apa dengan anak istri saya” ucap Jaka Yaksa.

“Aku justru lebih khawatir pada kalian, apa tidak sebaiknya kalian menginap disini sampai subuh tiba? Perasaanku tidak enak.” tawar Ki Balangnipa.

“Maaf Paman, tapi saya merasa sangat tidak enak, saya kepikiran orang-orang di rumah terus, saya khawatir ada apa-apa dengan mereka.” sahut Jaka Yaksa.

“Sayapun merasa demikian, sebaiknya saya juga pulang dulu Paman Patih.” sambung Panji Andara.

“Baiklah kalau itu kehendak kalian, aku doakan keselamatan kalian…” angguk Ki Balangnipa.

Pertemuan yang cukup hangat itu pun bubar, mereka meninggalkan kepatihan ke rumahnya masing-masing menaiki kuda mereka masing-masing setelah kuda-kuda mereka dibawa ke halaman depan oleh para pekatik kuda Kepatihan. Setelah mereka semua meninggalkan kepatihan, seorang pekatik kuda kepatihan menghampiri Ki Balangnipa yang masih berdiri di halaman depan rumahnya melihat keatas pohon-pohon di halamannya mencari Sirit Uncuing yang bercuitan tadi. “Ampun Gusti Patih, ini kudanya Gusti Manggala, maaf tadi kudanya mendadak menjadi binal dan susah dikendalikan waktu mau saya bawa kesini.” ucap si Pekatik sambil menuntun kuda Jaka Yaksa.

Ki Balangnipa mengangkat alisnya keheranan, sebab tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jaka Yaksa sudah pulang dengan menaiki kuda miliknya. “Ini kudanya?! Lalu tadi dia pulang menggunakan kudanya siapa?! Dan siapa tadi yang menuntunnya kemari?!”

Wajah si Pekatik kuda itu jadi nampak kebingungan sebab sedari tadi memang tidak ada yang membawakan kuda Sang Maggala Mega Mendung tersebut. “Ampun Gusti, tapi bukankah kuda ini milik Gusti Manggala? Sebab tadi saya kesulitan membawanya kesini karena kudanya mendadak menjadi binal sekali, dan tidak ada seorang pun yang menuntun membawa kuda Gusti Manggala kemari.”

Ki Balangnipa terdiam berpikir, semenjak ia mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing tadi ia sudah merasa sangat tidak enak. “Apakah kuda ini menjadi binal setelah suara cuitan Sirit Uncuing tadi?” tanyanya.

Si pekatik mengangguk. “Benar Gusti, tadi semua kuda di istal meringkik ketakutan saat terdengar suara cuitan burung Sirit Uncuing, tapi hanya kuda Gusti Manggala saja yang menjadi binal dan hampir terlepas dari ikatannya!”

Ki Balangnipa melotot, seketika itu juga bulu kuduknya berdiri, bathinnya menghentak-hentak karena terus teringat kepada Jaka Yaksa. Ia lalu menatap ke arah pintu gerbang halaman rumahnya. “Siapkan kudaku cepat! Dan panggil dua belas pasukan untuk ikut denganku!” perintahnya.

“Hamba gusti!” si Pekatik pun langsung berlari kebelakang untuk melaksanakan perintah gustinya.

***

Sementara itu di alun-alun Rajamandala, Jaka Yaksa, Panji Andara, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya berpisah untuk untuk menuju ke rumahnya masing-masing, Jaka Yaksa pun memacu kudanya untuk menuju ke rumahnya. Tapi ada satu hal yang sangat aneh dan mengerikan tiba-tiba terjadi pada Jaka Yaksa yang sedang berkuda menuju ke rumahnya, ia yang tadinya sedang berada di Kauman* kutaraja Rajamandala tiba-tiba berpindah tempat menjadi di sebuah hutan perawan yang sangat rimbun! (Kompleks perumahan Abdi dalem atau pejabat Keraton).

Manggala yang masih muda usianya itu terkejut bukan main ketika dengan matanya, ia melihat telah berada di tengah hutan perawan yang sangat lebat, padahal baru saja ia masih berada di Kutaraja Rajamandala! “Kenapa aku bisa sampai berada di tengah hutan begini?” pikirnya, ia lalu melihat berkeliling, hutan perawan itu sangat lebat ditubuhi pohon-pohon besar. “Tidak mungkin kalau aku tertidur kemudian terbawa ke hutan ini, sebab melihat hutannya, hutan ini masih perawan yang letaknya pasti jauh dari kutaraja!”

Dia berpikir sejenak dan berkesimpulan kalau ada yang sedang “mempermainkannya”, maka ia pun mendongkakan kepalanya, matanya menatap kesekelilingnya dengan liar. “Hoi siapa yang berani bermain-main denganku?! Ayo tunjukan dirimu!” teriaknya lantang dengan diiringi tenaga dalamnya hingga suaranya menggema dimana-mana.

Ia lalu celingukan lagi, sepasang bola matanya berusaha menembus gelap pekatnya keadaan disekitar sana. “Tidak ada jawaban, apakah mungkin ini ilmu sirep atau sejenisnya yang menghilangkan kesadaranku dan membalikan mataku?” pikirnya.

Ia lalu bersidekap, menutup matanya, mengheningkan cipta dan mengerahkan tenaga dalamnya sambil membaca mantera, ia lalu menghentakan tubuhnya dan membabatkan kedua tangannya masing-masing ke kedua arah yang berlawanan. “Musnah!” sentaknya, maksudnya untuk menghilangkan aji sirep yang membalikan matanya.

Tapi alangkah terkejutnya ia ketika ajian penolak balanya tidak berhasil untuk memusnahkan “pembalik mata” yang membuatnya berada di rimba belantara ini, “Astagfirullah, aku tidak berhasil melenyapkan ajian sirep ini... Siapapun yang menggangguku pasti ilmunya sangat tinggi…”

Ia lalu teringat ketika tadi mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing di Kepatihan, menurut cerita kemarin malam Mang Juju pun sebelum meninggal telah mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing terlebih dahulu. “Jangan-jangan ini teluhnya Mega Sari? Atau ada mahluk halus yang hendak mengangguku?”

Saat itu terdengarlah suara cuitan burung Sirit Uncuing atau Sirit Uncuing keras sekali, sekonyong-konyong kuda yang ditumpaki Jaka Yaksa menjadi sangat binal, kuda itu terus meronta sampai Jaka Yaksa terjatuh! “Kurang ajar! Dasar Sato gelo!” makinya sambil memegangi pinggangnya yang sakit, tiba-tiba… wusshhh! Alangkah terkejutnya Jaka Yaksa ketika melihat kuda itu berubah menjadi Dharmadipa yang seluruh kulitnya pucat pasi seputih kapas dan bola matanya merah semerah darah!

“Dharmadipa?!” serunya kaget sekali setengah mati! Dharmadipa melangkah menghampiri Jaka Yaksa dengan dingin dan angker serta tatapan mata setajam pedang! Dari kaget kini hati Jaka Yaksa berubah menjadi takut, seluruh tubuhnya menggigil karena merinding ketakutan, matanya melotot menatap Dharmadipa yang berjalan dengan perlahan menghampirinya. “Dharmadipa?! Kau masih hidup?!” tanyanya dengan suara gemetar.

“Aku masih hidup! Aku sang keabadian yang akan terus hidup untuk menghukum para penghianat! Pendosa-pendosa yang telah mencelakakan aku!” ucapnya datar dengan suara dalam bagaikan dari dalam sumur yang dalam dan wajah dingin sedingin es! 

“Tidak! Tidak mungkin! Kau sudah mati ditangan ayah mertuamu sendiri! Prabu Keratapati!” seru Jaka Yaksa. 

Dharmadipa tertawa dingin tanpa ekspresi yang membuat wajahnya semakin menakutkan. “Aku sengaja datang dari alam gelap, untuk menagih hutang-hutangmu!”

Jaka Yaksa terus melangkah mundur dengan lutut gemetar. “Tunggu! Yang membunuhmu adalah mendiang Prabu Kertapati! Bukan aku!”

Dharmadipa menyeringai dingin yang sangat menakutkan untuk dilihat. “Hutangmu adalah penghianatanmu! Kau menghianatiku dan ikut dengan si tua Bangka Balangnipa untuk melengserkan aku dari jabatan putra mahkota!”

Jaka Yaksa ketakutan setengah mati, ia terus melangkah mundur kebelakang namun… Dukkk! Punggung Jaka Yaksa menubruk sebuah pohon beringin besar, sudah tidak mungkin baginya untuk mundur dan melarikan diri, maka ia pun menjadi nekat! “Baik! Baiklah! Kau ingin membunuhku?! Kaulah yang akan kukirim kembali ke neraka karena manusia tidak boleh dikalahkan oleh setan semacam kau!” Sreet! Ia menghunus Keris pusakanya, dengan segala kesaktiannya menerjanglah ia pada mayat hidup Dharmadipa!

Yang diserang tidak bergerak, tidak berusaha menghindar, ia hanya menyeringai dingin! Alangkah terkejutnya Jaka Yaksa ketika Keris pusakanya bagaikan membabat angin ketika membeset tubuh Dharmadipa! Dengan penasaran ia terus membabat dan menusuk Dharmadipa, tapi semua serangannya percuma sebab ia hanya seperti menyerang angin saja! Dharmadipa tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema ke mana-mana menimbulkan angin deras yang teramat dingin serta menggetarkan seantero tempat itu!

Sementara Jaka Yaksa bermandikan peluh terus melakukan serangan yang sia-sia pada Dharmadipa, seluruh ajian kesaktiannya telah ia keluarkan, tapi tidak ada satupun serangannya yang berhasil melikai Dharmadipa! “Kau sudah mendapatkan kesempatanmu, sekarang terimalah kematianmu penghianat busuk!” tandas Dharmadipa, kedua tangannya memegang kepala Jaka Yaksa, dari kedua tangannya mengalirlah hawa yang sangat panas bagaikan bara api! Jaka Yaksa menjerit-jerit kesakitan sambil terus membabatkan Kerisnya ke tubuh Dharmadipa, kepalanya makin lama makin terasa panas sampai seolah mau meledak, darah berucucuran dari sela-sela mata, kedua telinga, dan lobang hidungnya! Makin lama makin panas, hingga akhirnya Jaka Yaksa tak sanggup bergerak lagi, beberapa saat kemudian terbanglah nyawanya dengan kepala meleleh! Otaknya mencair bercampur dengan darah berhamburan ke mana-mana!

Dharmadipa tertawa terbahak-bahak menatap Jaka Yaksa yang tewas dengan amat mengenaskan! Ia lalu melangkah meninggalkan mayat sang Manggala Laskar Mega Mendung tersebut, hutan itu langsung berubah menjadi tempat semula yaitu Kauman kotaraja Rajamandala dekat alun-alun tempat Jaka Yaksa berpisah dengan yang lainnya tadi, seiring dengan lenyapnya Dharmadipa yang hilang bagaikan asap ditiup angin!