Episode 286 - Mempersunting…



Dari dalam sebuah gerbang dimensi, melangkah lunglai adalah seorang remaja lelaki. Kulit tubuhnya gelap, dan sekujur tubuh dibasahi keringat. Ia memegang kepala dan meremas rambut. Napas terengah, dan urat-urat besar menggeliat di pelipis sampai ke leher. Sepertinya ia sedang terlibat dalam pertarungan di dalam diri. 

Ia jatuh tersungkur ke tanah, kemudian menggelepar ibarat ikan sekarat yang berada jauh dari mata air. Erangan yang keluar dari mulutnya mengisyaratkan rasa sakit yang tiada terperi. 

Tak berapa lama berselang, sepertinya seragan yang dialami mereda. Perlahan ia bangkit berdiri. Menghela napas lega, lebih tenang kini pembawaannya. Ia menggeretakkan gigi, lalu menggerutu kepada diri sendiri, “Mengapakah engkau tak hendak diam saja!? Cih! Betapa malang nasibku merasuk tubuh yang sepadan, namun memiliki jiwa yang cukup kuat...” 

“Jebat... Jebat...” Sebilah keris besar yang menyoren di belakang pundak berujar dengan nada menggurui. “Engkau harusnya belajar kepada kami...”

“Belajar apa!? Jangan sok tahu!” 

“Lah... Kami, Tameng dan Sari, bahkan sebelum mendiami keris ini bersama-sama berada di dalam satu tubuh. Tiada pernah terjadi keributan di antara kami...”

“Itu karena kau bengal!” 

“Kau yang bengal! Aku dan Sari, saling mengisi. Kami mencapai kesepakatan untuk bergantian tampil ke hadapan!”

“Apa kau bilang!? Bahwa aku harus bergantian menggunakan tubuh ini dengan... siapa namanya... bocah Arya Pamekasan!?” Hang Jebat terlihat geram. 

“Betul!”

“Tak sudi!” Tentunya harga diri si Raja Angkara Durhaka terlalu tinggi untuk mengalah kepada sekedar remaja tanggung.  

“Jikalau demikian, setiap raga melemah, engkau akan mengulang permasalahan jiwa yang memberontak di dalam tubuh ini.”

“Itu urusanku! Lagipula, berani betul kau bicara besar tentang Sari... Sekarang kutanya, di mana keberadaan Sari!?” 

“Sari berada bersama Hang Tuah...”

“Di mana Hang Tuah!? Hah!?” Hang Jebat terlihat semakin geram.

“Kami tiada mengetahui....”

“Aaarrgghhhh...” Jika perbincangan ini terus dilanjutkan, maka bukan tak mungkin si Raja Angkara Durhaka itu membanting Keris Tameng Sari ke tanah dan menginjak-injak bilahnya untuk melampiaskan kekesalan. Ia pun melangkah pergi. 

“Kau tak tahu! Si Mayang pun tidak! Si Wira malah keliru! Jadi, siapa yang tahu!?” Sehari semalam berlalu. Hang Jebat melangkah tanpa tujuan pasti.

“Entahlah...” gumam kesadaran Tameng. Sesungguhnya, ia pun merindu keberadaan Sari. “Akan tetapi, entah mengapa kami masih sangat penasaran dengan anak di Kota Ahli itu...”

“Anak si Mayang...?” tanggap Hang Jebat cepat. “Ia kemungkinan diajari Pencak Laksamana Laut oleh ibunya itu. Kau ‘kan tahu si Mayang itu menjadi anak didik Kakak Tuah.”

“Bukan, bukan Bintang Tenggara. Ada satu anak bertubuh bongsor... yang berambut cepak. Aku merasakan aura berbeda dari dalam dirinya...” 

“Heh...? Kukira hanya aku yang samar merasakan keanehan... Mengapa tak kau ungkapkan saat itu...?”

Kesadaran Tameng diam membisu. Saat itu di Kota Ahli, pada Kejuaraan Antar Perguruan, kesadarannya baru saja terbangkitkan setelah sekian lama tertidur. Selama ratusan tahun, tak ada ahli yang mengetahui nama dirinya serta tak ada ahli yang dapat mengerahkan Pencak Laksamana Laut. Oleh karena itu, ia tak yakin dengan aura berbeda yang ditampilkan oleh Panglima Segantang. 

“Hm...?” Sambil melangkah, tetiba satu alis Hang Jebat meninggi dan sontak ia menoleh, menatap tajam ke arah samping. Ia merasakan sesuatu yang berbeda tak terlalu jauh dari tempat di mana saat ini berdiri. Sepertinya, hadir keberadaan aura yang cukup ia kenal...

Hang Jebat pun melesat cepat membelah semak belukar. Melewati pohon-pohon nan menjulang tinggi. Ia terus mengendus sambil memacu langkah. Tak lama, ia mendengar hempasan ombak lautan dan angin aroma garam yang demikian kental. Tokoh tersebut tiba di pesisir pantai. 

Sang mentari mengapung tinggi, ditemani awan-awan yang dihanyutkan oleh gelombang angin. Pemandangan di tepi pantai nan indah, dirusak oleh puluhan bangkai binatang siluman yang berserakan. 

“Lahap sekali kayanya...,” cibir Hang Jebat ke arah bangkai seekor paus raksasa yang sekujur tubuhnya terbungkus oleh buih-buih. Aroma darah menyibak segar. 

Menyeruak keluar dari dalam perut paus, tetiba adalah seorang perempuan dewasa nan mengerikan. Rambutnya panjang dan basah oleh darah segar. Sekujur tubuhnya semerah darah dan tak sehelai benang pun ia kenakan, namun bau amis darah lebih menyita perhatian daripada sepasang payudara nan menyembul dan pinggul yang berlekuk aduhai. 

Perlahan, ia melenggok santai ke arah Hang Jebat. Sungguh membuat bulu kuduk berdiri ngeri.

“Hiii.... Macam hantu lauuut...” Hang Jebat membuat suara seolah meringis ketakutan. 

Perempuan telanjang bulat itu menanggapi, “Mengapa engkau hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9...?”

“Hai, perempuan sundal... Sudah lama kita tiada bersua, dan itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari kau punya mulut...?” 

“Apa yang hendak engkau dengarkan? Apakah engkau lebih mengagumi lekuk tubuhku…? Aku tak berkeberatan bila kita bersenang-senang barang sesaat….” 

Jemari tangan kanan perempuan dewasa itu bergerak membelai lehernya sendiri, lalu turun dan meremas serta memainkan sebulir sesuatu di ujung payudara. Tak hanya di situ saja, jemari tangan kirinya bermain-main ke bawah pusar, lalu ke pangkal paha. Gerakan jemari itu berputar-putar lalu menusuk-nusuk ke dalam. Di kala kejadian ini berlangsung, ia pun mendesah-desah tiada dapat menahan kenikmatan yang dibuat sendiri...

“Cuih!” Hang Jebat meludah ke pasir pantai. “Raja Angkara Durkarsa, kau membuatku mual!”

Jikalau para ahli baca masih mengingat, maka regu Penakluk Samudera pernah berhadapan dengan siluman sempurna yang berwujud perempuan tua renta dan bongkok. Balaputera Ragrawira pun pernah berhadapan dengan tokoh yang sama. Di kala berhadapan, Balaputera Ragrawira menyuruh perempuan tua renta itu menyingkir pergi, agar tak perlu membunuhnya. Kini, karena telah banyak melahap binatang siluman di lautan, sebagian dari kemampuan sejatinya telah kembali diperoleh, meski masih sangat jauh dari harapan. 

Jadi, perempuan dewasa ini sebelumnya adalah nenek-nenek tua renta bongkok itu. Apakah para ahli baca merasa senang menyaksikan ia kembali sebagai sosok yang lebih aduhai...?

“Berhentilah bermain-main dan kenakanlah pakaian!” seru Hang Jebat yang terlihat kesal.

Si Raja Angkara Durkarsa menghentikan desahan dan permainan seronok terhadap diri sendiri. Padahal ia masih sangat ingin melanjutkan. Tentu akan lebih menyenangkan bilamana dilakukan berdua. Ia kemudian mengibaskan tangan, dan darah binatang siluman yang membungkus tubuhnya segera bergelembung dan menjadi buih-buih merah yang terbang ringan dibawa angin. Segera setelah itu, buih-buih putih membungkus tubuhnya, lalu berubah wujud menjadi semacam jubah yang ringan dimainkan angin. 

Kedua ahli kini saling berhadapan. “Sekali lagi kutanyakan, mengapa engkau masih berada pada Kasta Perak Tingkat 9...? Apakah kau takut menghadapi Murka Alam...?”

“Cih! Aku tak hendak mengembalikan kasta dan tingkat keahlian melalui jalan pintas!” Hang Jebat menyadari bahwa lawan bicaranya saat ini berada pada Kasta Emas Tingkat 7!

Raja Angkara Durkarsa menyipitkan mata. Sepertinya ia tersinggung atas kata-kata yang dilontarkan oleh Hang Jebat. “Aku dapat melumatmu hanya dengan menjentikkan jemari...” 

“Kau jual, maka aku tak akan menawar!” Hang Jebat meraih Keris Tameng Sari. Sekujur Tubuhnya diselimuti asap kemenyan, di mana percikan keemasan berkelebat cepat di saat yang bersamaan. Walau hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9, daya tahan tubuhnya melonjak menjadi setara dengan Kasta Emas dan keampuhan unsur kesaktiannya menjadi berlipat ganda! Demikian adalah anugerah yang diberikan oleh Keris Tameng Sari ketika dihunus.

“Aku siap menebas, membabat, membacok, memotong, menyencang, mengerat, menetak, menusuk, menikam, mengiris, menoreh, menyayat, membeset, merajang, menyaruk, memenggal, memancung, mengayau!”

Buih-buih lautan berkerumun dan asap pekat kemenyan menyibak pekat. Suasana di pesisir terasa semakin kelam. Siapa menyangka, bahwa dua ahli yang telah ratusan tahun tiada bersua, akan menjajal kemampuan satu sama lain. Pertarungan di antara dua Raja Angkara segera bergulir! 


===


“Jadi kau berpikir akan serta merta naik ke Kasta Perak!? Sungguh lugu...” gerutu Komodo Nagaradja seolah tanpa akhir. 

“Nak Bintang, biasanya usai menjalani Murka Alam, maka seorang ahli Kasta Perak Tingkat 9 memperoleh cukup waktu di dalam ruang dimensi tersebut untuk menerobos ke Kasta Emas.”

 “Creek...” Suara pintu berderit memecah percakapan antar ketiga ahli. Seorang lelaki dewasa melangkah masuk. Ia membawa sebuah baki yang berisi semangkuk bubur dan segelas air. Gerakannya terkesan lambat. 

Bintang Tenggara bangkit duduk dan bersandar. “Tuan ahli, terima kasih karena telah menyelamatkan diriku,” ucapnya tanpa basa-basi. 

“Beristirahatlah... tubuh dikau masih lemah...” Suara lelaki itu terdengar lemah tak berhasrat. Tapi terlihat jelas bahwa ia berusaha memberikan bantuan sebaik mungkin. Ia meletakkan makanan dan air di sebuah meja kecil dan sederhana. 

Di kala lelaki itu berada di dekatnya, Bintang Tenggara terlihat penasaran. Pakaian adat yang dikenakan sangatlah unik. Bahan dasar pakaiannya terbuat dari kulit tumbuhan yang memiliki serat yang sangat tinggi dan telah dengan diolah sedemikian rupa hingga menjadi sebuah pakaian. Pada permukaan pakaian, diberi motif yang dilukis dengan teknik khusus. Selanjutnya, bahan pakaian tersebut dibentuk menjadi rompi tanpa lengan dan celana panjang. Selain itu, lelaki tersebut mengenakan ikat kepala yang diselipkan dengan beberapa bulu burung. 

Yang lebih aneh lagi, karena hanya mengenakan rompi dan celana pendek, maka Bintang Tenggara dapat menyaksikan berbagai jenis dan bentuk gambar yang dirajah pada tubuh lelaki itu. 

“Dengan segala hormat, siapakah gerangan Tuan...? Dan di manakah tempat ini...?”

“Beristirahatlah...” Lelaki dewasa itu berujar, lalu melangkah keluar dari gubuk. 

Usai menyantap makanan seadanya, Bintang Tenggara sudah merasa lebih baik. Ia pun melangkah keluar dari gubuk. Suasana demikian sepi. Walau terdapat beberapa gubuk lain, ia tak merasakan kehadiran seorang pun di tempat tersebut. Bintang Tenggara memandang ke luar batas dusun, untuk menemukan bahwa wilayah tersebut dikelilingi hutan belantara nan demikian lebat. 

“Kakek Gin...” 

“Melanjutkan perbincangan kita tadi, sepertinya di dalam Murka Alam dikau kehilangan kesadaran akibat kehabisan tenaga dalam. Oleh karena, waktu yang tersedia untuk memecahkan mustika Kasta Perunggu dan merangkai mustika Kasta Perak terlewatkan, dan dikau keluar dengan sendirinya...”

“Tak ada seorang ahli pun di dekat wilayah ini,” sela Komodo Nagaradja. “Dikau dapat memanfaatkan kesempatan ini...”

Bintang Tenggara segera kembali ke dalam gubuk. Di atas dipan ia duduk bersila dan menebar mata hati sampai ke ulu hati. Ia memusatkan perhatian pada kristal mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 12. Perlahan, anak remaja itu mulai memaksa mustika tersebut bergetar… 

Untuk melakukan tindakan yang sangat sederhana ini, sesungguhnya Bintang Tenggara harus mengerahkan segenap daya upaya. Berbeda dengan kebanyakan ahli yang mendapat bantuan kala menerobos ke Kasta Perak, ia harus melakukan seorang diri. Salah sedikit saja, maka mustika di ulu hati akan retak, dan pertumbuhan keahlian akan terlambat. Tunggu, mustika Kasta Perunggu di ulu hatinya memanglah sudah retak, apa jadinya bilamana mustika yang memang telah retak itu gagal menerobos ke Kasta Perak...? Apakah akan pecah...? Bilamana mustika pecah, maka tubuh seorang ahli akan meledak! Mengerikan sekali! 

Semakin lama, getaran mustika di ulu hati terasa semakin deras. Bulir-bulir keringat mulai membasahi tubuh. 

“Krak!” 

Retakan terhadap mustika menjalar semakin panjang. Bintang Tenggara terus menggetarkan mustika tersebut. Pada detik-detik akhir sebelum mustika hendak pecah, aura berwarna hijau membungkus permukaan mustika lalu membesar sampai membungkus sekujur tubuh. 

“Duar!” 

Mustika di ulu hati pecah, dan tenaga dalam yang melesak keluar hendak meledak, namun segera ditahan oleh aura nan hijau. Anak remaja itu membiarkan proses ini berlangsung terhadap mustika di ulu hati. Raut wajahnya tenang, tiada setitik pun keraguan yang berkutat di dalam hati.

Sebuah proses mengubah sifat tenaga dalam adalah yang sesungguhnya sedang berlangsung. Tak kurang dari enam jam lamanya waktu berlalu, sebelum sebuah mustika baru mulai membentuk. Proses pembentukan ini tentunya mendapat dukungan dari aura nan berwarna hijau milik Akar Bahar Laksamana. Aura tersebut tak hanya berperan dalam membantu memperlancar pembentukan mustika baru agar merangkai dengan baik, namun juga memastikan bahwa masih tersedia celah retakan yang memadai bagi tumbuhan tersebut untuk menancapkan diri, meneruskan hidupnya sebagai benalu. 

Dua jam kembali berlalu. Seketika mustika di ulu hati rampung merangkai diri, cairan kental yang mulai terisi tak lagi berwarna perunggu. Warnanya terang, mengkilap dan cemerlang. Bintang Tenggara yang sebelumnya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 12, kini sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1!

“Selamat, Nak Bintang!” Ginseng Perkasa berujar ceria. 

“Sudah sepantasnya!” Komodo Nagaradja menyembunyikan kebanggaan di hati.

Hari beranjak malam. Lelaki dewasa tersebut terlihat kelelahan sekali ketika melangkah masuk ke dalam gubuk. Di saat yang sama, warga dusun lain pun mulai terlihat kembali ke gubuk mereka masing-masing. 

Menyadari Bintang Tenggara yang awalnya berada pada Kasta Perunggu, namun kini telah menerobos ke Kasta Perak, ia pun tersenyum ramah. “Sepertinya hari ini dikau cukup sibuk...”

Bintang Tenggara membalas dengan senyuman. 

“Maafkan diriku tiada menanggapi pertanyaan pagi tadi... Kami terpaksa bergegas menjalankan tugas, karena sepekan lagi sebuah upacara adat akan dilangsungkan...” Ia menghela napas panjang, menyiratkan kelelahan bukan saja terhadap raga, namun juga mendera batin. 

“Dengan segala hormat, siapakah gerangan Tuan...? Dan di manakah tempat ini...?” Bintang Tenggara mengulang pertanyaan di pagi hari. 

“Sebelum itu, izinkan diriku mengajukan sebuah pertanyaan...” Lelaki dewasa itu menyela. 

 Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan. 

“Bersediakah anak muda membantu kami...?”

“Membantu...?”

“Sepekan dari sekarang, setiap suku berhak mengirimkan perwakilan untuk ikut serta di dalam upacara adat.” 

“Upacara adat seperti apakah gerangan...?” 

Lelaki dewasa itu kembali menghela napas panjang. Wajahnya semakin sendu. “Terkait upacara adat... merupakan serangkaian tantangan untuk meraih sejumlah penghargaan.”

Tantangan lagi! Ingin rasanya batin Bintang Tenggara menjerit sekeras mungkin. Mengapa dunia keahlian dipenuhi dengan tantangan demi tantangan!? Setiap tantangan selalu akan berhubungan dengan pertarungan hidup dan mati pula! 

“Salah satu penghargaan di dalam tantangan tersebut, adalah hak untuk mempersunting putriku...” Lelaki dewasa itu lagi-lagi menghela napas panjang. Sungguh tiada dapat ia menahan perih di hati. Sungguh ia tak rela...

Bintang Tenggara diam terpana. Tak tahu harus berkata apa.

“Namaku Enggang... Aku adalah Kepala Suku Dayak... Kakimerah.” 



Cuap-cuap:

Berakhir sudah Buku II: Perak. Terima kasih atas perhatian yang diberikan. 

Sebelum masuk ke Buku III: Emas, ahli karang nan budiman akan mengambil cuti selama lebih dari sepekan untuk mengumpulkan bahan. 

Sampai jumpa lagi pada Rabu, 12 Desember 2018!

Berikut bonus ilustrasi yang dibuat pada saat awal pertemuan regu dari Perguruan Gunung Agung.