Episode 78 - Dungeon Exploration Test


Di depan dungeon tempat tes mereka dilaksanakan. Sebuah reruntuhan bangunan kuno yang sudah hancur menjadi puing-puing dan berlumut, di tengah-tengah tempat itu terdapat lubang untuk masuk ke dungeon tersebut. 

Dungeon yang digunakan adalah dungeon yang umum digunakan petualang, tapi karena hari ini digunakan untuk ujian maka petualang-petualang lainnya diminta untuk pergi tapi masih menyisakan lapak-lapak dan booth penjual yang ada disana.

Karena sedang belajar diluar, para pelajar Vheins kini tidak sedang menggunakan seragamnya, mereka memakai pakaian bebas dengan perlengkapan armor yang mereka butuhkan baik ringan maupun berat. 

Mereka berbaris rapih namun tanpa mengikuti barisan dari pemisahan kelas. Menghadap pada instrutkur di depan, Lasius, Aeros, Andini, Kazzel, Eriya, Glaskov, Lunea dan beberapa instruktur kelas Stellar lainnya ditambah dua orang baru.

“Sebelum kita masuk, biar kami memperkenalkan diri dulu.” kata orang pakaian lengkap untuk menjelajah, memiliki pertahanan dari armor dan ikat pinggang berupa tas kecil untuk menyimpan potion. “Aku Steve dan aku seorang penjelajah dungeon. Rekanku di sebelah adalah Felix yang satu profesi denganku.”

Kemudian Felix menyambungnya, Jika Steve berambut hitam, Felix berambut pirang. “Kami bukan hanya penjelajah untuk Loot biasa, tapi juga seorang penganalisa dungeon , orang yang bekerja mencatat dan mengumpulkan data mengenai suatu dungeon. Dungeon yang kalian masuki hari ini Tomb of the Great King. Karena konon di lantai paling bawah atau yang terakhir, adalah tempat kuburan raja terdahulu. Tapi kami belum pernah sampai sedalam itu.”

Steve mengeluarkan buku kecil dari sakunya. “Buku ini berisikan data-data monster di dalam sana dan segala rintangan yang sudah kami temui, kami catat di buku ini. Setiap tim akan kebagian buku ini, tapi untuk bagian rintangan dan puzzle di dalamnya, dihapuskan agar kalian bisa merasakannya sendiri seperti di dungeon sesungguhnya.”

“Kalian hanya akan menempuh sampai lantai ke 4. Yang artinya setelah kalian mengalahkan boss lantai 3, kalian harus kembali dengan meremukkan kristal biru ini, yang biasa disebut Teleport Stone. Dan kalian akan muncul dalam sekejap di pintu masuk dungeon. Sebenarnya benda ini bisa digunakan di lantai berapa saja, tapi sekolah kalian merancang benda ini hanya akan aktif setelah kalian sampai level 4.”

“Dungeon ini sudah kami jelajahi berulang kali hingga lantai 16, beruntungnya tak ada hal yang tak diinginkan terjadi sejauh ini. Tapi karena dungeon itu tak pasti. Maka kalian juga akan diberikan pin ini untuk memberi sinyal bahwa kalian dalam bahaya.” Felix menunjukkan pinnya. “Kenakan pin ini di baju kalian agar kami mengetahui posisi kalian di dalam dungeon dan segera menolong secepatnya. Namun jangan sembarang pakai, bahaya yang dimaksud adalah kejadian janggal yang muncul diluar monster yang kalian hadapi di dungeon seperti biasa. Tapi jika kalian merasa nyawa kalian terancam, sebaiknya gunakan pin ini segera. Kami tak mau ada korban jiwa di tahun ini.”

Lalu sambung Steve kembali. “Dungeon ini juga sudah dikosongkan setidaknya sampai lantai 4, jadi kalian tidak akan menemukan penjelajah lain selain teman-teman seangkatan kalian. Jika sudah mengerti, silahkan berkelompok sesuai party yang kalian sudah bentuk dan masuk satu persatu ke dalam lubang disana, yang adalah pintu masuk dungeon ini.”

Kemudian satu persatu party berbaris dan masuk secara bergilir. Setiap party yang masuk diberi tas berisi perlengkapan yang dibutuhkan di dungeon nanti. Sebelum masuk, setiap pelajar dipasangi pin oleh instruktur Vheins dan diberi pesan untuk kembali dengan selamat. 

Dari party pertama yang masuk hingga party terakhir yang berjumlah 360 party secara bergantian masuk ke pintu masuk yang sempit ini.

***

Party Alzen berbaris menunggu giliran mereka masuk.

“Duh gimana nih, aku deg-degan.” kata Chandra sembali berjalan dalam antrian.

“Sama aku juga.” Alzen membalas. “Dungeon itu seperti apa ya? Terlihat dari luar seperti biasa saja.

“Bayanganku tempat seram yang banyak monsternya. Hihi...” kata Fhonia dengan riang.

“Harus fokus! Tak boleh lengah.” Gunin memantapkan diri.

“Hah... dasar amatir.” kata Luiz sambil menghela nafas.

Dan ketika tiba giliran mereka. 

Alzen dipasangi Pin oleh Lasius. “Tolong jangan sampai mati ya...” pesannya pada Alzen. 

“Kembalilah dengan selamat.” sambung Kazzel di sebelahnya yang kemudian memberi tas karung pada masing-masing ketua party.

Tas karung itu berisi buku panduan mengenai database monster kecil dan boss yang ada disana. Tas pinggang berisi 6 potion merah dan 1 tas lagi berisi 6 potion biru untuk 1 tim. Serta 1 tas kecil lagi berisi bekal berupa roti isi karena mereka harus berada disini sampai malam. Agar tidak lupa waktu, setiap party diberi satu arloji genggam untuk melihat waktu saat ini.

***

Party Alzen masuk menuruni tangga dari batu yang retak-retak dan banyak rumput-rumput liar juga lumut menyelimuti tempat itu. Semakin ke dalam mereka turun, semakin gelap tempat itu sampai di bawah sana terlihat cahaya terang berwarna emas.

Seusai turun di tempat itu. Mereka mendapati dungeonnya adalah sebuah tempat yang indah, sangat indah. Sebuah kuil luas dengan banyak cahaya emas yang berasal dari pantulan sinar matahari yang terpancar dari atap kuil itu dengan lantai kotak hitam putih seperti pola catur dan interior ala bangunan eropa kuno yang terlihat telah lama di tinggalkan. 

"Woah tempatnya benar-benar bagus sekali." kata Alzen mengagumi sambil kepalanya melihat ke atas dan berputar melihat sekelilingnya.

Alzen saat ini mengenakan pakaian kemeja putih dengan rompi hitam, ikat pinggang hitam dan celana biru gelap panjang dengan sepatu hitam.

"Wohooo! Ternyata Dungeon seperti ini tempatnya cakep banget!" Fhonia loncat-loncat kegirangan seperti anak kecil. 

Fhonia mengenakan setelah baju ringan berpola warna ungu, hitam dan emas, dengan pundak terbuka dan lengan diselimuti kain hingga ujung tangannya.  

"Benar-benar bagus sekali. Aku baru pertama kali masuk dungeon." Chandra mengagumi. "Apa semua dungeon seindah ini?"

Chandra mengenakan jubah seorang healer dengan penutup kepala, syal dan panjang jubah hingga di bawah lutut. Meski terlihat tidak cocok untuknya dan memang tidak nyaman digunakan oleh Chandra, tapi jubah ini berguna untuk mengangkat kemampuan penyembuh dari elemen air.

"Tentu saja tidak," sambung Gunin. "Dungeon yang dulu pernah aku kunjungi, tidak seindah tempat ini. Tempatnya berupa goa yang gelap dan suram dari lantai pertama."

Gunin mengenakan jubah biru dengan pola garis-garis putih di jubah panjangnya. Setelan khas pakaian tiongkok, tapi di beberapa bagian tubuhnya dilapisi lempengan armor besi untuk pertahanan diri. 

Tak lupa ia membawa senjata andalannya berupa tombak perang Guandao yang ia selalu genggam, karena panjangnya melebihi tinggi badannya sendiri. Dan di ikat pinggangnya terdapat satu botol berbentuk dua bola lengkung, botol minum khas tiongkok untuk tempat dirinya menyimpan air.

“Hoo... begitu,” Chandra mengangguk. “Kebetulan saja kita dapat dungeon yang bagus.”

“Huh? Ada buku-buku?” Alzen mencoba menyentuhnya tapi buku-buku tidak bisa dicabut dari raknya. “Loh kok?”

“Bodoh,” ledek Luiz sambil melipat tangannya dan melihat sekitar. “Kau tidur ya saat Kazzel menjelaskan.”

Luiz yang matanya selalu tertutup itu, mengenakan baju hitam keungungan dengan jaket tanpa armor, tubuhnya yang besar seolah armor itu sendiri, tapi lebih karena ia membutuhkan kecepatan dibandingkan pertahanan. 

Ada tali merah menyilang di badannya, di belakang punggungnya tergantung pedang andalannya yaitu scimitar besar yang melengkung diujung, senjata khas yang ia buat di Fel.

“Ahh iya, properti dungeon ya.” balas Alzen sambil memegang dagu. “Tidak bisa diubah atau dihancurkan. Ini semua cuma hiasan.”

Di dungeon yang luas ini, juga tersebar banyak monster di darat maupun di udara. Meski tempat ini indah tapi tingkat berbahayanya akan semakin bertambah sedalam lantai yang dijelajahi.

"Kalian jangan lengah," Luiz memperingatkan sambil bolak-balik membaca buku panduan database monster. "Ini baru lantai pertama, tentu saja aman dan kadang-kadang indah. Tapi dungeon bukan tempat wisata anak-anak. Ini tempat para petualang mempertaruhkan nyawa. Kembali hidup-hidup atau mati membusuk di tempat ini."

“Aihh serius amat nih mas.” Fhonia melipat tangannya di belakang kepala, menggampangkan kata-kata Luiz.

“Silahkan senang-senang dan tidak hati-hati, kalau kalian mau membusuk di tempat ini.” kemudian Luiz menunjukkan bukunya. "Hmm... bukunya gak menjelaskan apa-apa selain data monster-monster yang bakal ditemukan di tiap lantainya. Di lantai satu ada...”

Luiz melihat ke atas, “Monster bara api hitam di udara namanya Dark Shadow, kelemahannya air dan elemen cahaya. Loot itemnya, ahh tidak penting. Lalu di daratan, kita mendapati banyak mayat hidup, mereka lambat tapi jangan sampai menggigit pundak kita. Dalam gigitannya mengandung racun yang...”

“Ahh sudah langsung saja!” sahut Fhonia yang langsung maju ke depan.

“Thunder Trap !!”

Fhonia meng-cast sihir andalannya dan memetakan banyak ranjau yang akan memberikan ledakan sihir ketika di injak. 

BRSSSZZZTTT !!

BRSSSZZZTTT !!

BRSSSZZZTTT !!

BLARRR !!

“Haha, haha! Wohoo!” Fhonia mentertawai zombie-zombie lamban yang dihabisinya dengan tangan dua-dua terangkat. “Gampang... gampang...” Fhonia melompat-lompat kegirangan. “Ayo maju! Ngapain masih disini.” 

Luiz menepuk dahinya. “Cih! Dasar bodoh... di dungeon, bahaya yang kita hadapi bukan berasal dari hal yang kita ketahui, tapi dari yang kita tidak ketahui. Kalau seenaknya sendiri begitu nantinya akan..."

"Aku mengerti." Alzen menyanggupi.

"Kau ketuanya disini, kalau ada apa-apa di kita, kau yang bertanggung jawab ya." Luiz memperingatkan sambil menarik kerah Alzen. “Kalau ada anggota seenaknya sendiri, lebih baik aku.”

"Hei-hei, apa-apaan nih." Chandra melerai mereka. “Main narik baju saja.”

"Tidak, yang Luiz katakan benar," Alzen menyanggupi. "Kita satu party, dan sebagai ketua aku harus menjamin keselamatan satu kelompok. Tapi aku juga tak mau terlalu mengekang kebebasan kalian."

“Bodoh,” Luiz melipat tangan dan ekspresinya tak terima kata-kata Alzen barusan. “Pemimpin yang tidak bisa memutuskan bukanlah pemimpin. Kau harus memilih.”

"Hehe... wajar dong, Luiz kan anak dari keluarga mercenary," sambung Fhonia santai. "Jelas saja dia tahu banyak tentang dungeon. Keluarganya pasti sudah sering menjelajahi dungeon. Ya karena memang itu pekerjaannya."

"Diam..." Luiz terlihat tak senang dirinya dibahas. "Ayo kita cari jalan ke lantai berikutnya. Terserah kalian lah mau berbuat apa.” 

Luiz menunjuk Alzen. “Alzen, kau di depan. Kau kan ketuanya.” 

Kemudian ia menunjuk Chandra. “Healer, kau di tengah, kau aset penting dalam tim, jadi jangan sampai kenapa-napa.” 

Selanjutnya Luiz menoleh ke belakang. “Gunin dan Fhonia jaga kami semua dari posisi belakang"

"Baik!" jawab Gunin dan Fhonia berbarengan. Gunin menjawab dengan sigap dan Fhonia menjawab dengan senyum-senyum ceria.

"Dih orang ini." Chandra terlihat tak senang mendapat perintah darinya. 

Alzen menyenggolnya. "Chan, kita ikuti orang yang lebih tahu dengan rendah hati. Bukan karena aku ketuanya makanya kamu menolak perintah dari anggota lainnya." Alzen menjelaskan. “Kita ini satu party kan, kalau ada yang lebih tahu kenapa kita harus keras kepala.”

"Begitu ya... oke deh, aku mengerti." Chandra menyanggupi dengan setengah hati.

Dan mereka berjalan dalam formasi 5 titik seperti di titik-titik dadu.

***

Waktu berlalu,

Setiap party punya prosesnya masing-masing. Meski tidak semua dungeon seluas dungeon ini. Namun dengan kapasitas 1800 orang bersamaan, perlu dungeon yang luas dengan beragam rintangan di tiap jalurnya meski ada di lantai yang sama untuk menguji banyak pelajar Vheins sekaligus.

SRASSSHHTT !!

Leena menebas tubuh Zombie itu hingga terbelah dua dan hilang menjadi gas hitam dengan menjatuhkan sesuatu.

“Satu musuh dihabisi,” kata Leena seusai menebas monster ke 29 yang baru saja dibunuhnya. “Di tempat yang lain, musuh yang sama muncul kembali di selang waktu yang berdekatan.”

“Jadi ini yang dimaksud Respawn oleh Bu Lunea.” balas Sintra.

“Kalian perlu disembuhkan?” tanya anggota party Leena yang bertugas sebagai healer dari kelas Ventus.

“Tidak jangan dulu, kami masih baik-baik saja.”

Lalu sahut anak Ventus yang lainnya yang berperan sebagai support. “Kalau begitu biar kuberi buff saja.”

“Wind Flow !!”

Leena dan Sintra kini diselimuti angin yang berputar-putar di sekelilingnya.

“Woah apa ini?” Leena bertanya-tanya.

“Ini sihir buff untuk meningkatkan kecepatan. Kalian yang sudah cepat bakal makin cepat lagi.”

“Wah luar biasa.” Leena melihat ke bawah dan mendapati pusaran angin mengelilingi dirinya. “Aku akan menjadi lebih cepat lagi ya...”

“Di kelas kita diajari ke lantai berikutnya melalui gerbang Boss, tapi dimana?” tanya Sintra. “Apa ada yang pernah ke Dungeon sebelumnya?”

Tak satupun dari mereka menjawab, mereka hanya geleng-geleng saja.

“Tak apa,” Leena mengamati sekelilingnya. “Memang tak banyak dari kita pernah menjelahi dungeon. Makanya Vheins menfasilitasi ini.”

Mereka berjalan lebih jauh lagi dan secara tidak sadar Leena yang berjalan paling depan, menginjak lantai yang turun ke bawah dan dua patung batu di dekat mereka berubah menjadi sesosok gargoyle berwarna hijau dengan senjatanya berupa Trisula, menikam mereka diam-diam.

“Leena di belakang!” Sintra memperingati.

Leena dengan refleks cepat menebas secara memutar dan tertahan oleh benturan kedua senjata. “Ini!!? Gargoyle.”

“Tahan! Biar aku tusuk dari belakang!” Sintra berlari mundur dan menghunuskan kedua pedangnya dalam posisi membungkuk, lalu dengan langkah cepat Sintra menikam punggung gargoyle itu hingga menembus tubuhnya, lalu mengoyaknya lagi dengan melebarkan tangannya.

Gargoyle itu instan menjerit kesakitan lalu mati dan hilang menjadi sebuah gas hitam.

“Leena awas satu lagi!” sahut si Healer. 

“Biar kujaga!” Sang Tanker dari kelas terra. sigap pasang badan untuk melindungi Leena dan membiarkan dirinya diserang.

“Hardened Body !!”

Tubuhnya mengeras dan Trisula Gargoyle itu tak mampu menembus daging tanker itu.

Leena segera melompat salto lebih tinggi dari badan tanker yang besar itu, kemudian saat ia mendarat di sisi belakang Gargoyle badannya yang memutar bersamaan dengan pedangnya dengan cepat membelah gargoyle itu menjadi dua. Gargoyle itu mati dan hilang menjadi gas hitam.

“Hosh... hosh... kerja bagus teman-teman.” kata Leena dengan nafas letih.

“Yea!” sahut keempat anggota partynya.

***