Episode 62 - Tumenggung Tubagus Jaya Laksana (3)


Juragan Kertajaya dan istrinya tergopoh-gopoh ke ruang tamu tempat Galuh menunggu, “Sampurasun!” ucap Galuh.

“Rampes!” jawab Juragan dan istrinya, “Kiranya Nyai Tumenggung yang berkunjung, sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas pertolongan Kanjeng Tumenggung kemarin yang menolong kami, oya ada perihal apakah Nyai berkunjung?” Tanya Juragan berbasa-basi.

“Sebenarnya ada hal sangat penting yang akan saya sampaikan.” jawab Galuh sambil tersenyum namun nampak jelas senyum yang dipaksakan.

“Perihal penting apakah itu Nyai?” Tanya Juragan.

“Perihal putri anda Juragan yang bernama Angsoka!” jawab Galuh yang langsung pada persoalan.

Air muka Juragan Kertajaya dan istrinya langsung berubah, tapi belum mereka menjawab, sekonyong-konyong Angsoka datang ke ruang tamu, dia menatap sinis pada Galuh. “Oh jadi ini istrinya Kanjeng Tumenggung Jaya Laksana? Hitam, dekil, jelek! Pantas saja karena ia dulunya pengemis!” ejeknya.

Juragan Kertajaya dan istrinya terkejut karena putri sulungnya berani keluar dan mengejek tamunya, sedangkan mata Galuh mendelik mendengar ejekan Angsoka, “Apa maksudmu?!”

Angsoka tersenyum sinis, “Maksudku, kamu tidak pantas menjadi istrinya Kanjeng Tumenggung, aku tahu kamu dulunya seorang pengemis yang luntang-lantung dari Bukit Tunggul, kamu lalu memelet Kanjeng Tumenggung saat ia masih jadi pendekar agar ia menikahimu! Aku tahu itu karena sungguh mustahil pria seperti Kanjeng Tumenggung mau pada wanita pengemis hitam dekil jelek seperti kamu! Aku yang keturunan orang terhormat jauh lebih pantas menjadi istri Kanjeng Tumenggung yang keturunan langsung dari Eyang Sri Baduga Maharaja itu!”

Bukan main marahnya Galuh, emosinya sudah sampai ke ubun-ubun, tapi ia masih berusaha menahan kesabarannya karena mengingat posisi suaminya yang sedang serba sulit. “Kata-katamu sungguh keterlaluan! Bagaimanapun aku adalah istri Tumenggung Jaya Laksana yang sah! Dan tolong hargai aku karena aku lebih tua darimu!” tegas Galuh.

“Kamu menjadi istrinya yang sah karena kamu memelet Tumenggung! Dasar perempuan pengemis tukang sihir!” tunjuk Angsoka.

“Angsoka cukup! Cepat minta maaf dan masuk kedalam!” bentak Juragan Kertajaya.

“Tidak ayah! Saya tidak suka pada perempuan ini! Perempuan pengemis jalang ini tidak pantas menjadi istri seorang Tumenggung apalagi Tumenggung Jaya Laksana!” tolak Angsoka dengan sengit.

Murkalah Galuh, dia sudah tidak tahan lagi sampai meloncat bangun dari kursinya, “Mulutmu sungguh kotor! Ucapanmu tak ubahnya seperti gadis binal yang tidak tahu tata krama! Orang yang mendengar ocehanmu tidak akan mengira bahwa kau anak seorang saudagar terhormat! Bagaimanapun aku adalah istri Sah Tumenggung Jaya Laksana! Bahkan perkawinan kami pun disaksikan oleh Sultan Banten dan Prabu Mega Mendung!”

Galuh lalu menoleh menatap Juragan Kertajaya dan istrinya, “Dengar juragan, putri juragan telah dengan sengaja mencegat suami saya yang sedang berpatroli ke daerah muara yang kemarin menjadi tempat para bajak laut membegal harta juragan! Dan perlu juragan sekeluarga ketahui, saya adalah putri almarhum Raden Margoloyo Adipati Tegal dan Dewi Sekar Ningrum dari Cadasngampar yang hancur akibat serbuan Mega Mendung belasan tahun yang lalu! Saya masih mempunyai darah keturunan dari Raden Fatah, Sultan Demak Bintoro yang pertama! Saya tidak terima pada pelecehan putri Juragan!”

Galuh lalu menoleh lagi pada Angsoka, “Dan karena mulutmu sudah keterlaluan, aku sudah lebih dari siap untuk menjaga kehormatanku!” tegas Galuh.

Angsoka menyunggingkan senyum kecut, “Bagus! Kalau begitu ayo kita selesaikan sekarang juga! Kita tentukan siapa yang lebih pantas menjadi istri Tumenggung Jaya Laksana!” gadis ini lalu melompat keluar ke halaman depan, Juragan Kertajaya dan istrinya berusaha mencegah tindakan nekad anaknya.

“Maaf Juragan, tadinya saya kesini untuk membicarakan semuanya secara baik-baik, secara kekeluargaan, tapi sekarang saya terpaksa harus membela harga diri saya karena putri Juragan sudah sangat keterlaluan, ludah hinaannya sudah membasahi sekujur tubuhku!” tandas Galuh yang melangkah keluar ke halaman depan, Juragan Kertajaya dan istrinya hanya bisa salah tingkah karena tidak tahu harus melakukan apa karena putrinya memang sudah benar-benar keterlaluan.

Angsoka langsung memasang kuda-kudanya, Galuh pun bersiap untuk menyambutnya, Angsoka langsung kirimkan lima pukulan dan empat tendangan beruntun, dengan mudah Galuh mengelak hingga semua serangan Angsoka hanya mengenai angin. 

Penasaran Angsoka semakin mempercepat dan menambah tenaga pada serangannya, tapi lawannya yang ia ejek dengan sebuatn wanita hitam dekil itu dapat mengelak semua serangannya dengan mudah, bahkan sesekali lawannya itu tersenyum dan tertawa mengejek Angsoka, Galuh masih berusaha bersabar untuk tidak meladeni Angsoka.

Juragan Kertajaya dan istrinya menyaksikan pertarungan itu dengan jantung berdebar dan kebingungan yang teramat sangat, tentu saja mereka berharap putrinya selamat dan memenangkan pertarungan ini, tapi kalau itu terjadi bagaimana mereka akan bertanggung jawab karena putrinya telah mencelakai seorang istri Tumenggung, disisi lain kalau Galuh yang menang tentu saja mereka tidak ingin putrinya celaka. Mereka semakin tegang ketka melihat jalannya pertarungan karena nampak jelas kesaktian Galuh jauh berada jauh diatas putri sulung mereka!

Angsoka semakin kalap dan penasaran sehingga ia tidak bisa menaksir bahwa kesaktian lawannya jauh berada diatasnya, ia terus mencecar Galuh dengan serangan beruntun, yang diserang lama-lama jengkel juga karena gadis brangasan itu tidak dapat melihat tingginya gunung dan dalamnya lautan.

Pada satu kesempatan Angsoka melompat tinggi melanacarkan tendangan mengarah kepala Galuh, dengan santainya Galuh menangkap kaki kanan Angsoka, lalu dengan kekuatan tenaga dalamnya Galuh memutar-mutar Angsoka di udara dan melemparnya!

Gedebruk!!! Angsoka jatuh dengan pantatnya yang mendarat duluan! Bukan main marahnya Angsoka karena merasa terhina dan dipermalukan seperti ini, pakaian birunya yang bagus jadi kotor belepotan tanah. “Kau lihat? Siapapun bisa menjadi kotor! Bukan hanya pengemis yang kotor tapi dirimu yang putri seorang saudagar kaya pun bisa kotor!” ejek Galuh.

“Angsoka kurasa itu sudah cukup untuk memperingatkanmu, aku sudahi sampai disini, dan ingat jangan ganggu suamiku lagi!” lanjut Galuh yang masih berusaha untuk menahan dirinya.

Angsoka langsung bangun dan menggosok-gosok pantatnya yang terasa sakit karena jatuh tadi, “Kurang ajar! Jangan merasa sudah menang kau perempuan pengemis hina dina!” maki Angsoka, “Kemarikan pedangku!” perintahnya pada Mang Udin yang sedari tadi menyaksikan peristiwa itu.

“Angsoka cukup! Jangan kau tambah arang untuk mencoreng keningku di bumi Banten ini!” bentak Juragan Kertajaya.

“Tidak! Saya harus mempertahankan harga diri saya! Dan saya harus menunjukan pada perempuan pengemis hina ini bahwa saya lebih pantas menjadi istri Tumenggung!” tukas Angsoka.

Kali ini Galuh benar-benar sudah tidak dapat menahan dirinya lagi, peringatannya tidak diindahkan Angsoka, bahkan gadis itu masih saja terus menghinanya! “Baiklah kau yang minta celaka gadis sombong! Ayo majulah!”

Angsoka mengambil pedang yang diberikan Mang Udin, dia langsung menghunusnya dan menghujani Galuh dengan serangan-serangan maut! Tapi seperti tadi, bagaimanapun cepatnya gerakan serangan Angsoka, Galuh selalu bisa menghindarinya dengan mudah yang membuat gadis bermata kucing ini semakin kalap hingga ia tidak memperhitungkan langkah-langkahnya.

Tiga jurus kemudian Angsoka mengirimkan satu tusukan maut ke arah jantung Galuh, Galuh berkelit berputar hingga serangan itu lewat kesampingnya, kesempatan itu tidak disia-siakan Galuh untuk mengirim satu tendangan ke tengkuk Angsoka, gadis berkulit putih yang tubuhnya ramping ini pun kembali jatuh tersungkur, pakaian birunya yang bagus semakin kotor, hal tersebut membuatnya semakin malu sekaligus kalap!

“Nona Angsoka apakah kau masih tidak dapat melihat tingginya gunung Ciremay setelah mendapat pelajaranmu yang kedua ini?” Tanya Galuh.

Angsoka merasakan kepalanya pusing, tapi gadis manja yang terbiasa mendapatkan segala keinginannya ini tidak mau menyerah begitu saja, harga dirinya yang tinggi yang membuatnya congkak tidak mengizinkannya untuk menyerah, “Aku belum kalah wanita sundal! Sekarang rasakanlah jurus Kilat Sinar Pedang yang akan mengantarkan nyawamu ke neraka! Hiaattt!!!

Benar saja, jurus Kilat Sinar Pedang yang merupakan jurus pamungkas Angsoka ini sangat hebat, tusukan-tusukan beruntun yang sangat cepat datang bagaikan curah hujan, angin sabetannya membuat kulit Galuh perih, Galuh pun mulai terdesak, ia juga sudah kehilangan kesabarannya dalam meladeni Angsoka, maka ia memutuskan untuk balas menyerang dengan jurus “Garuda Emas Kepakan Sayap”.

Karena Angsoka menyerang dengan sangat kalap, ia tidak memperhitungkan untung rugi gerakannya, hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Galuh, pertama Galuh berhasil mengirimkan satu pukulan ke punggung Angsoka, disusul dua pukulan ke dada dan satu tendangan penutup ke perut yang membuat tubuh Angsoka jatuh terpental, ia jatuh berguling-guling lalu muntah darah!

Istri Juragan Kertajaya menjerit melihat kondisi anaknya, Sang Juragan hanya melotot khawatir melihat kondisi anaknya, mereka lalu berlari menghampiri anaknya. Galuh menutup jurusnya, ia lalu menghampiri Angsoka yang sedang terduduk sambil memegangi perutnya, “Dengar, tadinya aku datang kesini untuk berbicara baik-baik padamu, tapi kamu malah menghinaku habis-habisan sampai aku terpaksa bertindak keras untuk memperingatkanmu! Aku katakan sekali lagi, Seharusnya kalau kamu merasa sebagai wanita dari keluarga yang terhormat, kamu tidak menggoda suami orang apalagi sampai mencegatnya dijalanan! Ini peringatanku yang pertama dan terakhir kalinya, lain kali kalau kau menggoda suamiku lagi, aku akan ladeni kalau kamu mau mengadu nyawa denganku! Camkan itu baik-baik!” ancam Galuh.

Dia lalu menoleh pada Juragan Kertajaya dan istrinya, “Saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Juragan dan Nyai karena saya terpaksa melakukan ini, juragan dan nyai lihat sendiri tadi kalau putri anda berdua sudah keterlaluan menghina saya!”

Juragan Kertajaya menghela nafas berat lalu mengangguk pada Galuh, “Sebenarnya kamilah yang harus meminta maaf pada Nyai Tumenggung atas kelakuan anak kami yang tidak genah ini, kami atas nama keluarga besar memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Nyai, dan maaf kalau saya tidak sopan tapi... Sudikah Nyai tidak memperpanjang masalah ini?”

Sebenarnya Galuh masih sangat marah pada putri Sang Juragan ini karena selain menggoda suaminya, ia juga menghinanya habis-habisan, kalau tidak mengingat posisi suaminya dan kalau ia masih hidup sebagai seorang pendekar yang tidak terkungkung oleh anggah-ungguh aturan keraton dan hukum, pastilah ia akan melabrak Sang Juragan habis-habisan, tapi saat ini ia dituntut untuk bisa bersikap sabar dan menuruti tata karma, maka ia pun memaafkan Angsoka dan bersedia tidak mempernjang masalah ini.

“Saya pun maklum kalau hal ini adalah hal pribadi yang melibatkan martabat keluarga juragan sekaligus keluarga saya juga, saya setuju untuk tidak memperpanjangnya agar tidak jadi bahan gunjingan di Banten ini, tapi sekali lagi saya minta tolong, tolong awasi putri Juragan! Saya tidak mau ia mendekati suami saya lagi!” tandas Galuh yang lansgung pamit pulang.

Setelah Galuh pulang, Juragan Kertajaya dan isrinya menuntun Angsoka kedalam kamarnya, “Kenapa Teteh melakukan itu? Perbuatan Teteh benar-benar keterlaluan! Dosa teteh pada Nyai Tumenggung sangat besar! Teteh sudah menggoda suaminya, lalu teteh menghinanya, dan terakhir Teteh menantangnya dan mengadu jiwa dengannya, ayah benar-benar malu pada kelakuan kamu Nak!” ratap Juragan Kertajaya sambil menepuk-nepuk keningnya.

“Ibu juga sangat malu pada kelakuan Teteh kali ini, seingat kami, kami tidak pernah mendidik teteh seperti itu! Untunglah Nyai Tumenggung masih berbaik hati dan bersedia tidak memperpanjang masalah ini!” sambung istri juragan.

Mata Angsoka mendelik mendengar ucapan kedua orang tuanya, “Kenapa ayah dan ibu malah menyalahkan saya?! Ayah dan ibu seharusnya membalaskan sakit hati saya! Perempuan pengemis hina itu telah merendahkan harkat dan martabat saya! Merendahkan harga diri keluarga kita! Ayah sewalah seorang jago bayaran untuk membalaskan sakit hatiku ini! Dan rayulah Tumenggung Jaya Laksana agar mau memperistri saya, lalu saya akan meminta Tumenggung untuk menceraikan perngemis itu, maka semua akan beres!”

Mendengar ucapan putrinya itu, amarah Juragan Kertajaya kembali tersulut, “Apa kamu bilang?! Kamu seharusnya merenungi semua kesalahanmu itu! Kamu yang menyiramkan air comberan ke kepala kami! Astagfirullah! Ya Gusti... apa kesalahan kami sampai anak kami menjadi seperti ini!” bentaknya.

“Kenapa ayah malah jadi menyalahkan saya?! Ayah kan melihat sendiri tadi kalau perempuan pengemis hina itu yang melukai saya sampai begini?!”

Plakkk! Juragan Kertajaya menampar putri sulungnya itu, “Kamu yang sudah keterlaluan! Kenapa kamu tidak menyadari kesalahan kamu hah?! Kenapa kamu tidak memikirkan kehormatan orang tuamu ini sedikit saja?! Apa Kamu mau terus-terusan mempermalukan orang tuamu ini hah?!”

Istrinya segera memegang bahu suaminya untuk menenangkannya, “Sabarlah kakang sabar! Sekarang Teteh sedang terluka cukup parah, kita biarkan dia beristirahat dulu, besok pagi kita selesaikan!”

“Cukup!” bentak Angsoka pada kedua orang tuanya, “Ayah memang tidak menyanyangi saya, ayah malah memarahi dan menampar saya padahal saya dicelekai oleh perempuan sundal itu!”

Juragan Kertajaya melotot, biji matanya hampir meloncat keluar “Apa kamu bilang?!”

Angsoka bangun dari tempat tidurnya, “Cukup! Kesabaran saya sudah habis! Kalau ayah tidak mau membalaskan dendam saya pada istri Tumenggung Jaya Laksana dan merayu Tumenggung agar mau memperistri saya, saya lebih memilih untuk pergi dari rumah ini!”

Angsoka lalu mengambil pedangnya dan mengambil sekantong uang dari atas mejanya, “Selamat tinggal! Kita akan bertemu lagi kalau saya sudah menjadi Nyai Tumenggung Jaya Laksana!”

Ibunya segera berdiri menghalangi langkahnya, “Ngomong apa Teteh ini?! Ayo duduklah Nak, kamu masih terluka parah, kita bicarakan ini baik-baik dan minta ayahmu untuk merayu Tumenggung sesuai dengan keinginanmu!”

Angsoka menoleh pada ayahnya, Juragan Kertajaya hanya diam dengan wajah kelam membesi, ternyata ancamannya tidak digubris, tapi dasar gadis manja yang keras hati, Angsoka yang selama hidupnya terbiasa mendapatkan segala keinginannya ini menjadi nekat, ia membuka jendela kamarnya dan melompat keluar langsung menunggangi kudanya dan berlalu dengan cepat!

“Angsoka! Angsoka!” jerit Ibunya memanggil sambil melihat keluar jendela.

Juragan Kertajaya berjalan menghampiri istrinya dengan langkah berat, “Bagaimana ini Kakang? Angsoka... Angsoka...”

Juragan Kertajaya menghela nafas berat, “Sejujurnya aku tidak tahu lagi harus berbuat apa pada anak itu, sebab kalau kita turuti kemauannya, kita akan tambah salah dan masalah akan semakin runyam! Salah kita yang terlalu memanjakannya sejak kecil...”

Juragan Kertajaya lalu menatap keluar jendela seolah menembus pekatnya malam, “Kita akan segera menyuruh orang-orang kita untuk mencari Teteh, semoga ia mau pulang kembali ke rumah!”

***

Jaya yang sedang duduk sendirian di balai bengong belakang rumahnya ketika mendengar suara kereta kuda berhenti didepan rumahnya, ia segera melangkah kedepan menyambut istrinya yang pulang, “Selamat datang Nyai, akhirnya kamu pulang juga, aku sudah lama menunggumu Nyai”

Galuh menjawab dengan wajah masam sambil melangkah masuk ke rumahnya “Ya pulang! Rumahku kan disini, kecuali kalau Kakang mau mengusirku!”

“Bukan begitu Nyai, tapi ini sudah larut malam! Kamu darimana saja sampai pulangnya larut begini? Aku sangat mengkhawatirkanmu!” ucap Jaya sambil berjalan mengikuti istrinya dari belakang, 

“Memangnya hanya Kakang saja yang bisa pulang terlambat?! Memangnya hanya Kakang saja yang punya urusan?! Kakang tidak usah khawatir saya bisa menjaga diri!” dengus Galuh sambil melangkah masuk kedalam kamar.

“Astagfirullah Nyai... Bukan begitu maksudku, tapi tolong mengertilahlah bahwa kehidupan kita sekarang sudah berbeda dengan kehidupan kita yang dulu, kita bukan pengembara lagi yang bisa bebas berbuat sesuka hati kita, sekarang kita hidup dikalangan Keraton yang penuh anggah-ungguh dan aturan!” ucap Jaya dengan lembut setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya.

“Itulah! Itulah mengapa sebabnya aku lebih suka hidup menjadi pengembara seperti dulu lagi! Kau kira aku suka hidup begini?! Kau kira aku suka setiap hari harus repot mengenakan kebaya dan menyanggul rambutku?! Lagipula apakah hanya engkau yang harus dimengerti Kakang?! Aku juga butuh pengertian!” bentak Galuh.

Jaya menghela nafas lalu duduk disamping Galuh, “Galuh... Maafkan aku, sejujurnya aku juga tidak suka dengan kehidupanku yang sekarang, aku lebih suka dengan kehidupanku yang dulu yang menjadi seorang pengembara... Sampai sekarang aku masih sering melamun kalau seandainya semua ini tidak terjadi, seandainya aku tidak tahu kalau Prabu Kertapati adalah ayahku, mungkin saat ini kita sedang mengembara bersama...”

Jaya lalu memegang bahu Galuh, “Aku juga minta maaf kalau terlalu menuntutmu untuk mengerti aku... Sekarang katakanlah apa yang sebenarnya terjadi istriku?”

Galuh berdiri dari duduknya sambil mendengus kesal, “Aku baru saja pulang dari rumah Juragan Kertajaya!”

Jaya terkejut mendengarnya, ia kaget karena ternyata Galuh mengetahui permasalahan ini, “Kenapa kamu kesana Nyai?”

Galuh langsung memotong sebelum Jaya menyelesaikan ucapannya, “Ya menyelesaikan masalah yang tidak bisa Kakang selesaikan! Aku turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat Kakang!”

“Kalau maksud kamu masalah putri Juragan Kertajaya, masalah itu sudah aku selesaikan tadi sore, aku sudah bicara baik-baik padanya... Aku ingin masalah ini selesai tanpa diketahui orang banyak dan jadi bahan gunjingan!” ucap Jaya.

“Dengan caramu menyelesaikan masalah yang tidak tegas itu malah membuat putri juragan yang manja itu menjadi semakin penasaran! Kakang tahu? Ketika aku datang ke rumahnya untuk membicarakan masalah ini, calon selirmu itu malah menghinaku habis-habisan dan menantangku! Hatiku sakit sekali mendapat penghinaannya Kakang!” jelas Galuh.

“Benar, tapi kenapa kamu datang sendirian kesana? Kita kan bisa datang berdua kesana dan membicarakannya baik-baik. Kalau kamu datang sendiri kesana dan melabraknya kan malah membuat masalah ini jadi diketahui orang banyak... Galuh, Juragan Kertajaya adalah seorang saudagar terpandang dan mempunyai pengaruh di negeri Banten ini!” ucap Jaya.

“Nah kan, Kakang berbuat egois lagi dengan meminta aku mengerti Kakang tapi Kakang tidak mengerti aku! Calon selirmu itu menghinaku habis-habisan! Sehingga aku terpaksa memberinya pelajaran sekedar pengingat baginya untuk tidak mengganggu suami orang! Kalau Kakang tidak suka dengan caraku, aku akan pergi, kembali ke Bukit Tunggul!” rajuk Galuh.

Jaya menghela nafas berat, “Istriku, bukannya aku egois untuk tidak mengerti kamu, tapi kamu tahu sendiri bukan bagaimana posisiku saat ini? Mereka memang mengangkatku menjadi Tumenggung dan memberiku gelar kehormatan yang seharusnya hanya dimiliki oleh keluarga Raja, tapi sebenarnya aku adalah seorang tawanan di negeri ini!”

Ia lalu memeluk punggung Galuh dan menciumi rambut istrinya, “Galuh istriku... Dengar, aku tidak punya maksud dan perasaan apa-apa pada putri Juragan Kertajaya itu, aku hanya menolongnya, kemarin rombongan mereka dirampok, lalu tadi sore ia jatuh dari kudanya dan kakinya terkilir! Nyai kan sudah kenal siapa aku, apa salah aku menolong orang yang membutuhkan?”

Galuh melepaskan tangan Jaya dengan kesal, “Yang jadi masalah kenapa gadis itu sampai berani mengirimimu surat cinta kemarin? Dan kenapa ia sampai menghinaku dan menantangku berduel untuk mendapatkanmu? Itu tandanya Kakang ada keniatan untuk berbohong! Selingkuh! Atau bahkan hendak kawin lagi!”

Jaya menggelengkan kepalanya perlahan, “Mungkin dia mengira aku sama seperti para pejabat lainnya Nyai! Aku mengatakan semuanya sejujurnya padamu karena Aku tidak ada niat untuk melakukan apa-apa, kecuali hanya menolong! Ikhlas Lilahitaalla tanpa mengharapkan imbalan apapun! Bahkan aku meminta pada Indra Paksi untuk mengatakan apa adanya kalau kamu bertanya padanya!”

Mata Galuh menyipit menatap suaminya, “Gadis itu cantik kan? Kulitnya putih mulus tidak seperti aku yang hitam dekil!”

Jaya menyeringai mendnegar pertanyaan istrinya yang pemarah itu, “Kenapa kamu malah jadi merendahkan diri begitu? Istriku, apa masih ada perempuan yang menandingi kecantikanmu? Apa ada perempuan lain yang begitu setia mendampingiku dalam susah maupun duka tanpa mengharapkan harta kekayaan sepertimu? Apa ada perempuan lain yang paling mengerti aku selain dirimu? Mungkin sampai aku tua dan akhirnya berpulang, aku tidak akan menemukan yang lain!” ungkap Jaya sambil merangkul istrinya.

Akhirnya Galuh melunak juga. “Ya sudah... Aku percaya padamu Kakang...”

Jaya tertawa kecil, “Hehehe... Sudah lupakan saja masalah ini, karena kamu yang bilang sudah menyelesaikan masalah ini, kita anggap saja sudah selesai dan Angsoka sudah jera untuk mendekati aku!” Jaya lalu menuntun istrinya ke atas tempat tidurnya untuk menghabiskan malamnya yang akan terasa panjang bagi mereka berdua.