Episode 60 - Tumenggung Tubagus Jaya Laksana (1)



Sudah sekitar sebulan Jaya menetap di Surasowan Banten, di sana ia belajar Ilmu agama dan Ilmu Hukum Syariah Islam dari Kyai Abdullah Rasyid, ia juga belajar Ilmu Militer, Ilmu Politik dan Tata Negara dari Senopati Tubagus Cakranegara. Bagi Jaya yang sudah banyak belajar ilmu agama di Padepokan Sirna Raga ia bisa mempelajari dengan mudah dalam pelajaran ilmu agama, ia hanya tinggal memperdalam ilmu tafsir hadistnya saja, tetapi ia harus banyak belajar soal ilmu militer, politik dan ketatanegaraan karena belum pernah mempelajarinya. 

Ia juga tidak belajar sendirian di padepokan tersebut, di padepokan tersebut banyak juga para Pangeran, Putra para Adipati, dan putra dari para pembesar dari berbagai negeri yang belajar di sana, di antaranya ada putra Sultan Aceh, Putra Sultan Deli Serdang, Putra Sultan Sukadana, dan banyak lagi dari berbagai wilayah di Nusantara.

Seusai menimba ilmu, Jaya selalu diajak berkeliling disekitar Kutaraja Surasowan untuk melihat-lihat ditemani Indra Paksi, seorang lurah tantama adik dari Tumenggung Braja Paksi, ialah yang kini bertugas menjadi “Pengawal” pribadi Jaya selama ia berada di wilayah Banten. 

“Bagaimana Raden, apakah Raden sudah terbiasa hidup di Surasowan?” Tanya Indra Paksi dengan ramah sambil mengantar Jaya melihat-lihat pelabuhan Banten.

“Ya saya sudah mulai terbiasa, meskipun awalnya aku kepanasan karena terbiasa tinggal di daerah pegunungan hahaha…” jawab Jaya sambil bercanda mencairkan suasana.

Mereka lalu melihat kapal-kapal para pedagang yang sedang bongkar muat, banyak sekali kapal-kapal besar yang berlabuh di teluk Banten, rata-rata kapal pedagang yang sedang bongkar muat disana. “Tidak seperti negeri-negeri di Pasundan kebanyakan, kami adalah negeri yang hidup dari perdagangan, perdagangan menjadi urat nadi dari perekonomian negeri kami... 

Memang kami juga punya daerah-daerah yang subur yang menjadi lahan pertanian serta perkebunan kami didaerah pedalaman terutama di daerah pedalaman Lampung yang kaya akan lada yang baru saja kami taklukan beberapa bulan yang lalu, tapi kami tidak menyandarkan diri pada hasil-hasil pertanian dan perkebunan tersebut, kami hanya mengambil sedikit untuk kebutuhan kami kemudian sebagian besarnya kami jual pada para pedagang asing.” tutur Indra Paksi.

“Apakah bangsa asing suka pada hasil pertanian dan perkebunan kita?” Tanya Jaya.

“Ya mereka suka sekali, rempah-rempah, lada, juga biji kopi sangat laris dipasaran, para pedagang itu membawanya ke negeri mereka dan mereka jual dengan harga yang tinggi di sana... Dan karena kami hidup dari perdagangan kami harus menjamin keamanan para pedagang dari para bajak laut maupun para begal di darat, terus terang saja daerah yang paling rawan adalah Selat Sunda dan daerah kepulauan seribu!” jelas Indra Paksi.

Jaya mengangguk-ngangguk, pantas saja Banten bisa semaju ini, jauh meninggalkan Mega Mendung dan Pajajaran, bahkan kemajuannya sangat pesat melewati Cirebon. Mega Mendung adalah negeri pedalaman yang menggantungkan hidupnya pada pertanian karena tidak mempunyai kota pelabuhan sehingga sulit untuk berkembang maju, berbeda dengan Banten yang hidupnya dari perdagangan yang membuat mereka menjadi Bangsa yang terbuka yang banyak bergaul dengan Bangsa asing sehingga bisa lebih maju, ditambah mereka jadi Bangsa yang tangguh karena sehari-harinya hidup di laut menantang gelombang dan badai, menerjang bahaya!

“Lalu apakah Banten punya pelabuhan saingan?” Tanya Jaya lagi.

“Tentu saja ada, saingan berat kami adalah Jepara yang kini dikuasai oleh Kesultanan Pajang setelah menantu Sultan Trenggono yakni Joko Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan Sunan Prawoto dalam perebutan berdarah tahta Demak, ia memindahkan kekuasaannya ke daerah pedalaman di Pajang dan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Hadiwijaya, beliau menjadikan Jepara sebagai pelabuhan utama perdagangan Pajang menggantikan pelabuhan Demak. Selain Jepara saingan kami adalah Surabaya yang kini berdiri sendiri bebas dari kekuasaan Demak.” jelas Indra Paksi.

Mereka pun menyudahi obrolan hangat mereka karena hari sudah senja hampir maghrib, ketika mereka berdua berkuda kembali ke dalam kota Surasowan, di tepi muara ada satu pertempuran hebat, seorang gadis yang disertai beberapa pengawalnya nampak mati-matian mempertahankan kereta dagangan mereka yang baru tiba dari pelabuhan dari segerombol bajak laut yang menepikan perahu-perahu sekoci mereka sampai ke muara Banten.

“Gerombolan bajak laut Kelelawar hitam dari Krakatau!” desis Indra Paksi melihat bendera dan atribut dari para bajak laut tersebut.

“Bajak Laut? Kenapa mereka bisa sampai menerobos ke muara ini Indra?” Tanya Jaya.

“Mereka pasti menyembunyikan kapal induknya dan berlayar kemari menggunakan sekoci-sekoci mereka! Sial kita kecolongan!” geram Indra Paksi.

“Lihat mereka terdesak hebat oleh gerombolan bajak laut itu, mari kita bantu mereka!” ajak Jaya, Indra Paksi pun mengangguk, mereka berdua langsung melompat dari kudanya menerjang gerombolan bajak laut itu.

“Kurang ajar! Berani kalian mengganggu kami?! Siapa kalian?!” bentak pemimpin bajak laut yang bernama Rah Gludak.

Jaya tersenyum kecut pada mereka. “Kami hanya orang kebetulan lewat yang sedang mencari angin.” 

Geramlah Rah Gludak mendapati candaan Jaya tersebut, “Kurang ajar, bunuh mereka!” belasan orang bajak laut segera mengeroyok Jaya, tapi dapat dirontokan dengan mudah oleh Jaya, mereka berjungkalan sambil muntah darah, beberapa nyawanya melayang ke akhirat!

“Setan laut! Pantas kau berani petantang-petenteng dimari hah!” maki Rah Gludak, ia segera menghunus keris panjangnya yang lebih mirip pedang pendek berwarna hitam legam lalu menerjang Jaya.

“Indra, kau tolong gadis itu dan hadapi anak buahnya, aku hadapi biang keroknya!” ucap Jaya, Indra mengangguk, ia segera menerjang para Bajak Laut yang sedang mengeroyok si gadis berbaju hijau yang sedang kewalahan tersebut, sementara Jaya meladeni Rah Gludak.

Ternyata nama besar Rah Gludak sebagai pemimpin bajak laut Kelelawar Hitam tidak sehebat ilmu silat dan kanuragannya, Jaya meladeninya dengan santai saja meskipun ia bertangan kosong, hingga tiga jurus kemudian Rah Gludak dibuat kaget setengah mati oleh Jaya, pemuda itu meraih batang keris pusakanya dan Krangg!!! Jaya mematahkan keris panjang yang mirip pedang pendek itu menjadi dua oleh kedua tangannya!

Rah Gludak melotot ketika melihat Jaya yang masih memegang potongan kerisnya itu meremas-remas potongan keris pusakanya yang terbuat dari baja atos tersebut menjadi abu! Melehlah nyali si kepala bajak laut ini, ia lalu bersiul memberi isyarat pada anak buahnya untuk kabur, tapi Jaya segera memberi pukulan jarak jauhnya, beruntung Rah Gludak berhasil menghindar dari pukulan maut tersebut! Blaarrr!!! Batu karang yang berada dihadapan si Rah Gludak hancur berantakan sehingga pemimpin bajak laut ini mengurungkan niatnya untuk kabur.

“Mau ke mana sobat? Bukankah permainan kita belum selesai?” ejek Jaya.

Rah Gludak yang keluarkan keringat dingin ketika melihat batu karang dihadapannya hancur lebur kena pukulan “Liman Sewu”nya Jaya itu kembali berbalik, “Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya?! Sebutkan kau punya nama dan julukan agar tidak penasaran jadi setan di kuburanmu nanti!” gertaknya.

“Namaku Jaya Laksana, aku belum punya julukan yang berarti, dan... Aku tidak mau jadi setan penasaran di kuburan, kau sajalah yang jadi setan penasaran kalau mau hahaha!!!” jawab Jaya sambil tertawa terbahak.

“Bangsat haram jadah! Kau meremehkan aku! Aku tidak takut dengan Pendekar Dari Lembah Akhirat yang sekarang menjadi tumenggung di Banten hasil menjlat pantat Sultan Banten! Baik aku mengadu nyawa denganmu, terima ini!” bentak Rah Gludak.

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, tangannya mengeluarkan percikan-percikan cahaya biru pertanda ia mengeluarkan pukulan pamungkasnya yang bernama pukulan “Penghancur Karang”, dengan teriakan menggeledek, ia pukulkan tangan kanannya ke muka, satu halilintar besar yang keluar dari tangan kepala perompak itu menyambar Jaya, Jaya melompat keatas menghindari petir tersebut, Blaarrr!!! Sebongkah batu karang hancur terkena petir pukulan Rah Gludak.

“Kamu sudah dapat kesempatan, sekarang giliranku!” Jaya pukulkan tangan kanannya ke muka dalam pukulan “Badai Mendorong Bukit”, angin pukulan sedahsyat badai topan prahara menderu menerjang Rah Gludak, kepala Bajak Laut ini tidak sanggup menghindar, maka Blarrr!!! Tubuhnya terlempar beberapa tombak dan menubruk sebuah pohon sampai pohon itu rubuh, Rah Gludak tewas dengan dada melesak akibat seluruh tulang rusuk dan tulang punggungnya hancur terkena pukulan Badai Mendorong Bukit milik Jaya yang dahsyat itu.

Setelah memastikan Rah Gludak tewas, Jaya menengok ke arah Indra Paksi, pemuda lurah tantama yang kini menjadi kepala pengawal pribadinya itu berhasil membekuk seluruh sisa bajak laut. Indra Paksi dan si gadis pemimpinkelompok pedagang tersebut pun segera menghampirinya, si gadis berbaju hijau itu langsung mengangguk tersenyum pada Jaya. “Terimakasih Tuan sudah menolong kami, kalau tidak ada Tuan-tuan saya tidak tahu bagaimana nasib kami.”

Jaya balas tersenyum pada si Gadis, si Gadis langsung tersipu malu melihat senyuman menawan dari pria berwajah tampan dan bertampang gagah tersebut. “Ah sudahlah, menolong sesama adalah kewajiban kita semua bukan? Oya Teteh siapa?”

Si Gadis tersenyum tersipu sambil menjawab malu-malu, pipinya merona merah. “Nama saya Angsoka...”

Jaya mengangguk lalu menatap wajah Angsoka yang membuat gadis berkulit putih dan berambut panjang ini semakin salah tingkah. “Teteh dari Surasowan juga?”

Angsoka mengangguk tersipu, “Benar, saya putri dari juragan Kertajaya, saya disuruh Bapak untuk mengambil barang dagangan dari pelabuhan, eh ketika sampai di muara ini para bajak laut mencegat kami, untung ada Tuan berdua menolong saya.”

Jaya mengangguk kemudian ia melihat keatas langit, “Ah hari sudah sore, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang, sebaiknya kamu cepat pulang, dan selain itu para pekerjamu yang terluka harus segera diobati bukan?” ucap Jaya.

Si gadis seakan baru tersadar karena sedari tadi ia terpesona oleh keelokan rupa tuan penolongnya itu. “Eh iya benar, kalau begitu saya pulang dulu.” tapi baru saja ia hendak melangkah, ia mengaduh memegangi dadanya hingga hampir terjatuh, Jaya segera menangkap tubuh gadis berbadan ramping tinggi semampai ini.

“Kamu kenapa?” Tanya Jaya.

“Aduh dada saya sakit sekali, dan nafas saya mendadak sesak!” keluh Angsoka.

“Mungkin kamu terkena pukulan tenaga dalam yang membuatmu terluka dalam, coba kulihat” ucap Jaya.

“Jangan tuan!” tolak Angsoka sambil memegang bajunya.

“Saya mau mengobati luka dalam Teteh supaya tidak sakit dan tidak sesak nafas lagi!” tawar Jaya.

Si Gadis tersenyum malu-malu sambil menunduk “Saya malu tuan…”

Jaya mengangguk tersenyum, dia paham pada maksud si gadis. “Aku tidak bermaksud jahat, kalau kamu mau aku bisa mengobati di sana, di tempat yang tertutup perdu itu.” tunjuk Jaya pada tempat yang cukup tertutup.

“Ah bukan begitu, tapi... Saya malu tuan…” ucap Angsoka dengan nada manja.

Jaya tertawa kecil, “Hehehe... Kamu benar-benar lugu, dengar lukamu tidak akan baik kalau tidak diobati, dan aku tidak bisa mengobatimu kalau tidak menjamah, paham?”

Akhirnya Gadis cantik bermata kucing itu mengangguk juga dengan wajah memerah, “Iya baiklah, kita lakukan di sana dan tolong pelan-pelan tuan.” 

Jaya dan Angsoka berjalan ke tempat yang agak tertutup oleh perdu, dengan malu-malu Angsoka menyingkapkan bajunya, bagian dada atasnya dekat bahu kelihatan membiru. “Nah lihat, benar kan kataku”. ucap Jaya, Jaya lalu menotok luka itu.

Seketika itu juga warna biru sebesar kepalan tangan di dada si gadis berangsur memudar, “Tidak sakit kan? Untunglah lukanya tidak parah dan pukulan itu tidak beracun, pukulan itu membuat luka dibagian dalam tubuhmu sehingga urat serta pembuluh darahmu membengkak, maka aliran darah ke jantungmu jadi tersumbat!” jelas Jaya.

Angsoka pura-pura merintih kesakitan sambil menatap wajah Jaya, ia berharap agar bisa lebih dimanja oleh tuan penolongnya tersebut, namun saat itu datanglah beberapa pengawal si Gadis menghampiri mereka. “Bagaimana luka gusti saya tuan?” tanya salah satu dari mereka.

Jaya bangun dari jongkoknya, kemudian ia menoleh pada pengawal tersebut. “Untunglah tidak terlalu parah, ia sudah sembuh, tinggal ia harus mengatur pernafasannya nanti malam sebelum tidur dan besok pagi saat bangun tidur, dan besok taburkan ulekan daun ki urat dan ki dadap untuk menyembuhkan luka luarnya”

Angsoka pun bangun, ia kembali melempar senyum pada Jaya, “Sekali lagi terimakasih tuan, budi baik tuan besar sekali pada saya!” ucap Angsoka.

Kepala pengawal mereka lalu pamit kepada Jaya dan Indra Paksi. “Maaf tuan kami harus segera pulang.” 

Jaya mengangguk. “Ya, hati-hati, cepatlah pulang sebelum hari keburu gelap!” Angsoka pun naik keatas kudanya, ia lalu melambaikan tangannya pada Jaya lalu berlalu pulang, Jaya pun pulang bersama Indra Paksi meninggalkan tempat itu. 

Di sepanjang perjalanan pulang, dalam benak Angsoka terus terbayang wajah tuan penolongnya, dadanya terasa menghangat mengingat pria penolongnya tersebut, sampai akhirnya ia tersadar ia lupa menanyakan nama tuan penolongnya itu. “Ah sial aku lupa menanyakan namanya, saking terpesonanya aku sampai lupa menanyakan namanya!” gerutunya dalam hati.

Ia lalu teringat ketika ia melorotkan bajunya dan pria itu menotok lukanya. “Ia begitu baik, ia juga sangat tampan dan gagah.” gumamnya.

“Untunglah ada Kanjeng Tumenggung yang menolong kita, kalau tidak, tidak tahu bagaimana nasib kita.” ucap salah satu pengawal Angsoka.

Angsoka langsung tertarik mendengar ucapan pengawalnya itu, “Mang Udin, kau tahu darimana kalau dia itu Tumenggung?” Tanya Angsoka.

“Ya tahu, dia itu kan Raden Jaya Laksana, putra Prabu Kertapati dari Mega Mendung yang sekarang ngenger di Banten, Gusti Sultan sepertinya sayang sekali pada dia sehingga mengangkatnya menjadi Tumenggung di Banten ini dan memberinya gelar Tubagus... Waduh dia itu sangat terkenal sekali Nyai, julukannya Pendekar Dari Lembah Akhirat yang sangat menggegerkan dunia persilatan belakangan ini!” jawab Mang Udin.

“Kamu tahu rumah dia Mang?” Tanya Angsoka.

“Pastinya sih tidak tahu Nyai, tapi yang pasti rumahnya di komplek perumahan Katumenggungan Banten, di sana kita bisa tanya-tanya lagi” jawab Mang Udin.

Angsoka tersenyum centil sambil mengangguk-ngangguk, “Kalian pulanglah terlebih dahulu dengan membawa seluruh barang bawaan kita, aku hanya minta ditemani Mang Udin!”

Semua pengawalnya terkejut mendengar perintah majikannya apalagi hari sudah mulai gelap saat itu, “Lho Nyai mau ke mana? Hari sudah gelap begini” tanya Mang Udin.

“Diam, Mamang ikut saja aku ke Katumenganggungan!” perintah Angsoka sambil memacu kudanya, Mang Udin pun terpaksa menuruti perintah majikannya itu.

***

Di rumah Tumenggung Tubagus Jaya Laksana, Jaya duduk di kursi meja makan rumahnya, istrinya Galuh Parwati datang mengambilkannya seteko air teh. “Tumben hari ini kamu pulangnya agak telat Kakang.” sapa Galuh yang kini sehari-harinya mengenakan pakaian kebaya dengan rambut disanggul, tidak seperti waktu mengembara dulu yang mengenakan pakaian ala pendekar. 

“Yah tadi ada sedikit kejadian Nyai, ada pedagang yang dibegal oleh bajak laut yang berhasil menyusup ke muara menggunakan perahu-perahu sekoci.” jawab Jaya setelah meneguk air teh.

“Oh Begitu...” sahut Galuh yang kemudian duduk disamping Jaya.

Galuh memperhatikan wajah suaminya yang nampak kelelahan itu, “Kakang bagaimana setelah satu bulan berada disini?” tanyanya mengenai perihal perasaan suaminya yang merasa hak dan kemerdekaannya direbut Sultan Banten. 

Jaya menghela nafas sambil menatap cangkir minumannya, “Yah aku mulai terbiasa istriku, setelah aku benar-benar meresapi nasehat guru aku mulai bisa nerima, ikhlas dengan keadaanku yang sekarang, yah walaupun pengangkatanku menjadi Tumenggung hanya sebagai hadiah hiburan dari Sultan dan jadi bahan olok-olok para pembesar Banten... 

Tapi aku ikhlas, coba kalau aku bersikeras menjadi raja Mega Mendung waktu itu dan perang tetap meletus, akan banyak sekali jatuh korban dan akulah yang paling bertanggung jawab akan hal itu... Biarlah itu berlalu, dan aku juga senang bisa mempelajari banyak hal baru terutama tentang bagaimana Banten membangun negerinya menjadi sebesar ini.”

Galuh merasa senang melihat suaminya sudah baikan dan sudah mulai bisa menerima nasibnya yang sekarang, ia memilih diam menyimak suaminya yang asyik bercerita. 

“Banten adalah negara yang sangat hebat... Sejujurnya akan sangat sulit bagi Mega Mendung untuk menyusul atau minimal menyamai Banten, Banten adalah Negara maritim sehingga negaranya lebih maju, sumber ekonomi utama mereka adalah perdagangan sehingga Banten menjadi Negara yang banyak bergaul dengan Negara lain, pikiran mereka pun lebih terbuka, tidak seperti Mega Mendung yang agragis menyandarkan perekonomian negaranya hanya dari pertanian saja, orang-orang Banten pun lebih tangguh karena setiap harinya terbiasa melaut menantang badai dan gelombang, menerjang maut.” papar Jaya.

Saat itu tiba-tiba sebatang pisau kecil melesat dari luar jendela dan menancap di tiang ruang makan rumah itu, Jaya dan Galuh terperanjat kaget, “Siapa itu?!” bentak Jaya yang segera melompat dan menengok keluar jendela, ia hanya melihat bayangan berwarna hijau melesat melompati benteng tembok rumahnya yang tinggi dengan sangat cepat, siapapun orang itu pastilah ia memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna!

“Surat? Surat apa ini Kakang?” Tanya Galuh setelah mengambil surat yang diikat ke pisau kecil tersebut.

“Bacalah Nyai!” pinta Jaya.

Galuh terkejut ketika membaca surat itu, isinya “Kakang Terima kasih sudah memberikan satu kenangan manis yang tak akan pernah aku lupakan, aku harap kita akan segera bertemu kembali, tertanda pengagum rahasiamu!”

“Kakang apa ini?!” bentak Galuh dengan suara tinggi, karena saat itu juga hatinya langsung dibakar oleh api cemburu.

“Aku tidak tahu Nyai, aku tidak mengerti mengapa sampai ada yang mengirim surat begini rupa padaku!” jawab Jaya yang juga kebingungan dengan surat tersebut.

“Kakang pernikahan kita baru genap satu bulan, belum satu tahun, tapi kau sudah berani macam-macam! Memang gadis hutan seperti aku tidak menarik seperti gadis-gadis kota di Surasowan ini yang terkenal akan kecantikannya!” semprot Galuh merajuk.

“Nyai percayalah padaku, seharian ini aku bersama Indra Paksi, mulai belajar di masjid Agung, lalu ke Kesatriaan, sampai berkeliling melihat Kota Sursowan, kamu bisa tanya dia! Aku tidak berbuat yang macam-macam apalagi menggoda gadis-gadis kota!” jelas Jaya berusaha menenangkan istrinya.

“Terserah kamu saja!” pungkas Galuh sambil melangkah masuk ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya, Jaya hanya bisa terdiam sambil memperhatikan surat dari pengirim gelap itu dengan penasaran yang teramat sangat.