Episode 13 - Genderuwo Gedung Kosong



Bel istirahat pun berbunyi. Teman-temanku keluar kelas untuk makan ke kantin sekolah. Sebelum aku melangkahkan kakiku keluar pintu, kerah bajuku ditarik oleh seseorang, kemudian aku menengok ke belakang. Siapa sih yang menarik kerah bajuku? batinku. Setelah aku menengok ke belakang ternyata si cewe gak jelas, ya siapa lagi kalau bukan Hesti.??“Jangan keluar dulu Ed, aku mau ngomong sama kamu,” ucapnya menarik kerah bajuku dari belakang. 

Woo gak punya etika ini cewe, main tarik kerah baju orang seenak jidatnya saja. “Mau ngomong apa Hes? Kalau ngomong, ngomong aja... Gak usah pake acara naik kerah baju juga kali!” umpatku sinis sambil membetulkan dasi dan kerah baju.

“Kamu ya ngerjain aku dengan menjadikanku ketua kelas,” nadanya mulai naik sambil melotot ke arahku. Serem juga ini cewe kalau lagi marah.

“Enggak, aku gak ngerjain kamu kok... Bagaimana caraku ngerjai kamu, kita ‘kan dipilih dengan voting...?” balasku yang tak mau kalah.

“Alah, alesan mulu kau Ed. Aku lihat kok, ada macanmu kan yang berdiri di dekat kumpulan kertas tadi. Mungkin bisa saja kamu ganti namamu jadi namaku walaupun gak semuanya,” ucapnya lagi yang memang sesuai kenyataan sih.

“Eh, Eh! Gak salah tuduh itu?” balasku tak mau kalah. “Apa ya maksudmu...? Aku gak paham Hes...,” sambungkuku lagi sambil menyembunyikan kenyataan.

“Aku tahu, kamu punya piaraan kan? Seekor macan dan seorang wanita keraton,” ucapnya lagi yang tak kalah, mengagetkanku.

“Tunggu sebentar, aku bener-bener gak tahu apa yang kamu katakan. Piaraan, macan dan wanita keraton, kamu ngaco ya?” ucapku membatahnya.

“Udah, gak usah ngeles kamu. Kamu pasti bisa lihat ini,” ucap Hesti sambil menunjukkanku sebuah penampakan mahluk astral.

Aku yang tidak percaya dengan mahluk ini, walaupun aku mencoba bersikap tenang. Akan tetapi mahluk yang di samping Hesti terus-terusan melihatku. Setelah Hesti menunjukkanku seorang mahluk itu, aku jadi mulai tahu. Oh ternyata Hesti juga.

“Aku gak tahu kalau kamu bisa melihat jin!” ucapku heran karena aku tak percaya bahwa Hesti juga memilik khadam.

“Aku bisa lihat Ed, sejak kecil karena keturunan. Dan aku juga diberi papa penjaga, yang tadi aku kasih lihat kamu adalah penjagaku,” ucap Hesti menjelaskan kepadaku. “Karena kamu ketahuan buat aku jadi ketua kelas, kamu harus nraktir aku di kantin...” sambungnya lagi dengan nada memaksa. Apa boleh buat, aku hanya mengangkat kedua tangan dan bahuku. “Oke, gak masalah Hes, ayo ke kantin,” ajakku kepada Hesti.

Sekilas tentang cewek yang namanya Hesti ini: tinggi sejajar denganku, badannya agak berisi, kulit putih, cantik, rambut panjang sampai pantat, berponi, mempunyai lesung di kedua pipinya di saat senyum, dan baik hati.

“Maafin aku Hes, aku hanya...,” ucapku meminta maaf kepada hesti atas perlakuan isengku.

“Iya gak apa Ed, aku tahu, aku aneh ya sejak tadi ngelihatin kamu,” selanya persis seperti yang aku pikirkan di dalam kelas tadi.

“Sebenernya sejak pertama MOS itu aku lihat aura kamu itu menyejukkan Ed, jadi banyak yang nyaman jika didekatmu. Karena itulah aku penasaran sama kamu Ed,” sambungnya.

“Waktu kamu berantem sama kakak kelas di kelas, aku lihat kok penjagamu hadir di sisimu mungkin ingin membantumu,” serunya lagi.

“Oh jadi kamu yang waktu itu teriak, Hes?” tanyaku padanya.

“Iya Ed, aku kaget waktu itu. Aku takut melihat macan itu besar sekali. Lebih besar dari pada macan di dunia nyata,” jawab Hesti.

“Tapi sekarang kamu gak takut kan, Hes?” balasku lagi.

“Aku gak takut Ed, aku mulai tahu tentangmu,” jawabnya.

“Tolong ya Hes, rahasiakan tentang ini, tentang aku bisa melihat mahluk astral ataupun aku mempunya penjaga ghaib,” ucapku memohon.

“Iya Ed, gampang,” balasnya.

“Ya sudah yuk kita ke kantin, aku lapar,” sahutku mengajaknya ke kantin.

Setelah kita mengobrol sebentar, aku mengajak Hesti ke kantin untuk sekedar makan, dan ngobrol dengan teman-teman yang sudah duluan di kantin.

“Hey Ed, sini gabung,” ajak Wijaya dari kursi paling belakang dengan melambaikan tangannya.

“Oey bro, cepat banget kamu di situ,” jawabku menghampirinya.

“Hehe, kenalin nih teman-teman kelasku,” ucap Wijaya memperkenalkan dua teman cowo dan satu cewek yang duduk satu kursi dengannya.

“Yang cowok ini namanya Romi,” Wijaya memperkenalkan teman-temannya kepadaku.

“Edi,” jawabku sambil mengulurkan tanganku tanda meminta jabat tangan dengan Romi.

“Romi,” balasnya.

“Yang cowok cungkring ini namanya Dio,” ucap Wijaya lagi.

“Dio...”

“Edi...” Kami bersalaman.

“Lalu yang cewek ini namanya Sasa,” teman cewek Wijaya dengan rambut pendek ini.

Kami pun bersalaman.

“Kamu ke sini sama siapa bro?” tanya Wijaya padaku.

“Aku ke sini sama ketua kelasku, tapi entah ke mana dia tadi, sampai di kantin tinggal nengok bentar, eh ngilang...,” ucapku heran dengan Hesti yang sudah menghilang duluan.

“Ya udah sini gabung sama kita,” ucap Wijaya.

Dari cara memandang Wijaya kepada Sasa, aku rasa Wijaya mempunyai rasa dengan Sasa. Mungkinkah temanku satu ini sedang jatuh cinta? Tapi heranku, kok bisa Sasa sendirian di antara tiga laki-laki ini? Ya, wajar saja sih baru beberapa hari ini masuk sekolah. Jadi masih belum terlalu familiar dengan satu teman kelas. Aku yang keasyikan ngobrol dengan mereka berempat sampai tidak sadar bahwa jam istirahat selesai, lalu aku pergi ke kelasku untuk memulai pelajaran lagi. 

Sampai di kelas aku tidak melihat Hesti “Kemana nih cewek?” gumamku heran karena Hesti tidak ada di dalam kelas. Aku tidak memiliki pikiran apa pun tentang Hesti, toh kalau pun ada apa-apa dengan dia, kan Hesti punya penjaga yang melindunginya jadi aku tidak mengkhawatirkan sedikit pun. Setelah bel berbunyi tidak berapa lama ibu Rita masuk ke dalam kelas memberikan jadwal pelajaran setiap hari mulai senin sampai sabtu. Setelah duduk di kursi guru ibu Rita seperti mencari sesuatu.

“Apakah ada yang tahu ketua kelas ke mana?” tanya ibu Rita kepada kami semua.

“Engga tahu bu... Tadi istirahat sempat ngobrol sama Edi tuh bu,” ucap teman sebangku Hesti.

“Kamu tahu kemana perginya Hesti, Ed?” tanya bu Rita kepadaku.

“Wah, saya gak tahu, bu. Tadi sih bareng ke kantin, tapi aku tinggal ngobrol sama teman temanku, eh malah ngilang dia,” ucapku yang memang tak tahu kemana perginya ketua kelas itu.

“Waduh... Coba Ed, kamu cari Hesti ya, tolong,” ucap ibu Rita kepadaku.

“Iya bu,” jawabku kepada ibu Rita.

Sialan ini bocah bikin repot saja, umpatku dalam hati. Kemudian aku pergi meninggalkan kelas, lalu mencari ke sekeliling sekolahan dan ruangan serta toilet dan kelas-kelas lain bahkan tong sampah pun aku cari jika saja Hesti sembunyi di tong sampah. Melihat ada anak kelas satu di sekitar kelas tiga dan mencari sesuatu di tong sampah, sepertinya akan ada pemulung di sekolah ini. 

Setelah 30 menit muter-muter di sekolahan gak jelas kayak orang gila, aku istirahat sebentar di depan musholla sekolah sejenak aku berpifikir, kalau Hesti tidak ketemu, apakah mungkin dia dibawa sesuatu ke alam jin? Begitulah pikirku. Jika dibawa ke alam jin benar-benar gawat. Aku kembali bergegas ke depan kelas saat pertama kali ngobrol dengannya.??Kemudian aku mengaktifkan mata ketigaku, aku juga membaca amalan bab 4 dari kitab Al Ajnas yaitu bab Astral Projection dan Residual Energi. Aku tidak akan bertindak bodoh dengan melepaskan sukmaku untuk mencarinya di alam jin, bisa bisa aku gak bakal kembali ke tubuhku selamanya. Aku memilih mencari sisa aura Hesti dengan residual energi aku cocokkan aura Hesti, lalu mulai mencarinya. 

Masing-masing manusia dilahirkan dengan aura yang bermacam-macam, apakah bisa manusia mengingat dan mencari aura orang lain. Jawabannya adalah bisa, semua yang diciptakan oleh sang pencipta pasti mempunyai manfaat, hanya saja mungkin manusia belum bisa memanfaatkannya secara optimal. Setelah sampai depan kantin tadi, aku melihat Hesti pergi ke arah timur dengan dituntun oleh mahluk hitam berbulu besar, ya siapa lagi kalau bukan genderuwo.

Ia dituntun menuju sebuah bangunan tua yang terkunci. Aku melihat menembus pintu dari gedung tua tersebut, aku lihat Hesti ada di pelukan genderuwo tersebut dengan khodamnya Hesti yang terikat di bawah lantai oleh pasukan genderuwo. Ya sebenarnya tidak bisa disebut pasukan lha wong cuma lima mahluk aneh sama genderuwo itu. Kemudian aku berkomunikasi dengan genderuwo tersebut untuk melepaskan Hesti dan penjaganya, setelah lama bernegosiasi ternyata hasilnya Nihil. Dia meminta hal yang aneh-aneh dan biaya serta usaha untuk mendapatkan persetujuan genderuwo ini besar. Karena aku orangnya gak sabaran, maka amarahku pun memuncak. Aku dobrak itu pintu gedung tua yang terkunci tapi tidak terbuka.

“Sialan!” umpatku kesal melihat pintu yang kokoh ini. Aku memakai mustika impian pemberian nyai Yun, lalu aku masuk ke dalam alam ghaib tempat tinggal genderuwo tersebut.

“Hei! Makhluk sialan, lepaskan wanita itu!” bentakku kepadanya berharap dia mau melepaskan Hesti dan khodam penjaganya.

“Hahahahaha... Kau anak manusia. Hebat juga bisa menyamarkan kehadiranmu dengan bangsa kami,” balas genderuwo tersebut. 

Ini genderuwo sombong bener padahal jin lain jika melihat manusia bisa melepaskan sukmanya pasti mereka akan sembunyi. Karena apa? Karena manusia yang sudah bisa melepaskan sukmanya bisa melawan bangsa jin. Hanya jin yang berusia lebih dari 500 tahun saja yang sanggup menghadapi manusia yang sudah melepaskan sukmanya. Jin yang ada di hadapanku ini masih muda, mungkin sekitar 100 tahun. Baru aku sadar bodohnya aku yang langsung masuk ke alam jin tanpa berpikir dahulu, ini masih siang. Jin tidak terlalu menyukai cahaya, jika dia bisa bergerak di dalam cahaya, maka dia kuat. Begonya aku yang lupa pengetahuan dasar tersebut.

“Kau, hebat juga bisa menyamar menjadi manusia lalu kimpoi dengan istri yang suaminya kau tiru,” ucapku meledeknya. Tapi dasarnya jin ini nafsunya besar, jadi kalau mau diledek seperti barusan gak akan bisa marah.

“Hahahaha... Bagaimana bisa kamu tahu bahwa aku yang membawanya,” ucapnya lagi tanpa menghiraukan ejekanku barusan.

“Atas seijin Allah S.W.T semua dapat terjadi. Semua terjadi atas kehendak-Nya,” ucapku tegas.

“Arrrgggghh…. Jangan sebut nama itu,” ucapnya mengerang menahan sakit.

“Kenapa...?” balasku sambil tersenyum.

“Aku tidak suka mendengarnya,” balasnya mulai marah.

“Apa kau ingin cara halus atau cara kasar hei jin kafir,” ucapku menantangnya, karena aku tidak bisa berlama-lama di alam jin.

“Hahaha... Bodohnya manusia... Bunuh manusia itu!” perintah genderuwo ke arah pasukannya. Kemudian mereka mulai menyerangku, aku memanggil mbah Kosim dan nyai Yun untuk datang membantu.

“Mbah Kosim hadir, nyai Yun hadir,” ucapku memanggil mereka. Dalam sekejap mata, mbah Kosim dan nyai Yun hadir di hadapanku.

“Nyai, Mbah, bantu saya mengambil kembali anak manusia itu,” ucapku ke mereka sambil menunjuk Hesti yang ada di pelukan genderuwo.

“Bunuh saja siapa yang menghalangi,” tambahku lagi.

“Baik bos, Edi. Saya akan menahan mereka,” ucap mbah Kosim, kemudian tubuhnya terselimuti api berwarna putih. Wihhh, mbah Kosim sejak kapan jadi lampu penerangan ini? ucapku kagum. Kemudian, mbah Kosim menerjang ke arah empat pasukan jin genderuwo, sedangkan nyai Yun berjalan santai ke arah genderuwo tersebut.

“Kau kenapa mau melayani manusia, sungguh bodohnya dirimu...” ejek genderuwo ke pada nyai Yun.

“Kembalikan wanita itu,” ucap nyai Yun tenang, mencoba mengambil kembali Hesti dengan mengulurkan tangannya.

“Hahahaha... Akan aku kembalikan asalkan kau bersedia menjadi istriku,” tawar genderuwo dengan mata yang penuh dengan nafsu.

“Hemb, jin kafir mencoba menipuku, jangan harap,” ucap nyai Yun seraya mengubah payung hitamnya menjadi sebuah tombak kuno.

“Kau berani melawanku, lihat dirimu jin sundal!” hardik genderuwo sambil meletakkan Hesti di lantai.

Kemudian genderuwo itu maju menyerang nyai Yun. Cakar-cakar panjang genderuwo melesat ke arah tubuh, tapi nyai keburu menghindari serangan genderu barusan dan... 

“Slassshh!” Bunyi terpotongnya tangan kiri genderuwo oleh pedang nyai Yun. 

“Aarrrrgggghhhhh….” jerit genderuwo menahan sakit, darah hitam keluar dari luka potongan tangan. Sebelum genderuwo menyerang lagi... 

“Sllaassshhh!” Kali ini luka sayatan panjang merobek dada genderuwo, darah hitam mengalir deras dari luka tersebut. Aku hanya bisa menonton film laga di depanku dan cuma bisa manggut-manggut. Coba aku bawa makanan sama minuman pasti enak ini ucapku dalam benak. 

Kemudian, nyai Yun mengubah senjatanya menjadi panah keemasan. Nyai menarik busur panahnya, kemudian menargetkan anak panah ke arah genderuwo. 

“Tolong... Ampuni saya... Saya tidak akan melakukannya lagi,” ucap genderuwo tersebut yang tertunduk menahan luka sambil memohon maaf. Sejenak nyai Yun menoleh kepadaku menanyakan bagaimana kelanjutannya. Aku memberikan instruksi ke nyai Yun “Tidak ada toleransi... Bumihanguskan semua!” perintahku. 

Kemudian, anak panah melesat ke arah tubuh genderuwo tersebut dan serta merta menembus tubuh genderuwo, yang seketika itu berubah menjadi asap lalu menghilang.

Pertarungan nyai Yun telah selesai. Kemudian nyai Yun melepaskan ikatan penjaga Hesti dan membawa Hesti kepadaku. Sejenak aku menoleh ke arah mbah Kosim, pertarungan terakhir melawan jin kafir dengan wujud manusia setengah ular membawa trisula tersebut berakhir dengan terkaman mbah Kosim lalu mengoyak tubuh manusia ular tersebut menjadi dua bagian. 

“Yeeaahh!” jeritku senang bahwa pertarungan ini sudah dimenangkan.