Episode 283 - Terpedaya



Tenaga di dalam mustika di ulu hati bersisa sekira 50%. Sungguh sebuah kebetulan, karena Murka Alam kedua baru saja berhasil dilalui. Bilamana konsumsi tenaga dalam berlangsung konsisten sebagaimana sebelumnya, maka anak remaja itu yakin dan percaya bahwa ia akan dapat melalui Murka Alam dengan lancar. 

Kini, sebatang kara, Bintang Tenggara berdiri di tengah pulau. Ia tiada mengetahui dimana posisi pulau tersebut di Negeri Dua Samudera, serta bagaimana pula cara meninggalkan pulau tersebut. Seluruh permukaannya pulau masih diselimuti oleh lumpur nan tebal. Bergerak saja susah dibuatnya. Akan tetapi, satu hal yang pasti. Berikutnya, bila bukan Murka Alam yang melibatkan unsur api, maka... 

“Brrttt...” 

Tetiba tanah bergetar dan di saat yang lumpur yang menyelimuti sekujur pulau kecil itu mengeras. Sigap, Bintang Tenggara melenting tinggi ke udara, lalu memanfaatkan formasi Segel Penempatan, ia berpijak, dan menanti di udara. Tak diragukan lagi, bahwa yang berikutnya menhadang adalah kesaktian unsur tanah! 

Tetiba pilar-pilar tanah mencuat tinggi. Bentuknya seperti lembing-lembing nan panjang yang mengincar deras. Namun demikian, Bintang Tenggara melenting semakin tinggi, sehingga dapat dengan mudah ia menakar arah datangnya lembing-lembing tanah. Melompat dari satu segel penempatan ke segel penempatan berikutnya, anak remaja itu bergerak tangkas menghindar dari ancaman yang datang dari arah bawah. 

Kejadian tersebut berlangsung hingga beberapa jam lamanya. Meski terbilang cukup mudah menghindar dari lembing-lembing tanah di ketinggian, anak remaja itu mengetahui betul bahwa salah sedikit saja, maka nyawa jadi taruhannya. Tanah di bawah sana menyibak aura penuh amarah. 

Di kala memantau arah datangnya serangan, Bintang Tenggara melihat perbedaan pada permukaan pulau. Mulai terlihat tanah membentuk semacam gundukan kecil, yang mana diameternya sekira dua meter dengan ketinggian lebih kurang satu meter. Sekilas pandang, maka mirip dengan gunung berapi mini, lengkap dengan kawah tepat di tengahnya. 

Tak tahu pasti akan apa yang akan terjadi selanjutya, Bintang Tenggara memutuskan untuk berjaga-jaga. Ia melompat semakin tinggi...

“Swush!” 

Melesat mengincar dengan deras, adalah lembing tanah. Bilamana lembing-lembing tanah sebelumnya masih tertambat di permukaan pulau, kini berubah ibarat anak sumpit yang dihembuskan melalui selongsong panjang, ukurannya sedikit lebih kecil, tak lebih panjang dari satu meter, sehingga kecepatannya bertambah berkali lipat.

Sontak Bintang Tenggara melompat ke samping. Akan tetapi, bahkan setelah berhasil menghindar pun, ia tiada merasa tenang. Kecepatan satu sumpit panah masihlah dapat dihindari, akan tetapi yang mengemuka di bawah sana membuat takjub. Seluruh permukaan pulau dipenuhi dengan gundukan-gundukan gunung mini, ibarat teritip yang merekat banyak pada permukaan lambung perahu atau tiang dermaga. Tak kurang dari seratus jumlahnya, sungguh mencemaskan. 

Perkiraan Bintang Tenggara terbukti benar. Secara bergantian, sumpit-sumpit tanah mengincar deras. Terkadang, sumpit-sumpit tanah juga datang secara bersamaan dari arah yang berbeda. Semakin lama anak remaja itu dibuat semakin kewalahan. Dengan sangat terpaksa, ia pun merapal...

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!

Pengerahan jurus ini, sesuai petunjuk Super Guru Komodo Nagaradja, dilakukan secara mendadak. Oleh karena itu, kecepatan Bintang Tenggara ibarat ibarat ledakan-ledakan yang berlangsung secara sekali-sekali. Tindakan ini menghemat tenaga dalam, jauh lebih hemat daripada mengerahkan teleportasi jarak dekat. 

Bintang Tenggara sesungguhnya tiada terbiasa bertarung di udara. Meskipun sebelumnya sering memanfaatkan formasi Segel Penempatan untuk melancarkan serangan, tindakan tersebut dilakukan hanya untuk menciptakan ruang dalam menikam menggunakan tempuling. Akan tetapi, kini ia sepenuhnya terpaksa terus menerus berada di udara. Sungguh upaya yang teramat berat, dimana ia diharuskan menebar mata hati untuk mengetahui arah datangnya sumpit tanah, lalu melempar Segel Penempatan, kemudian bergerak cepat memanfaatkan Pencak Laksamana Laut. 

Murka Alam ketiga ini sungguh menguras kemampuan. Dapat dikatakan, saat ini adalah salah satu keadaan di mana Bintang Tenggara mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki. Satu pertanyaan yang mencuat di dalam benak, sampai berapa lama lagi waktu di mana ia harus berhadapan dengan keadaan ini. 

Beberapa jam waktu berselang, namun tiada tanah di bawah sana mengendorkan serangan. Meski, kini sudah dapat terbaca polanya. Setelah melesatkan sumpit tanah, satu gundukan tanah memerlukan waktu sekira tiga menit untuk mengisi dan melepaskan serangan kembali. Yang paling sulit di hadapi, adalah kenyataan bahwa tanah di bawah sana sangat sabar menanti saat di kala anak remaja itu lengah atau melakukan kesalahan. 

Di kala pikirannya melayang, Bintang Tenggara mengingat kebenaran kata-kata Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Bahwa Murka Alam dapat dihadapi dengan bertahan atau menyerang. Di saat itu pula ia menyadari bahwasanya sumpit-sumpit tanah itu hanyalah berguna bilamana mangsanya terpisah jarak...

“Tap!” 

Bintang Tenggara mendarat ringan di antara gundukan-gundukan yang melepaskan sumpit-sumpit tanah. Tiada dinyana, perkiraan anak remaja itu benar adanya. Bahwasanya, sumpit tanah tiada dapat dilepaskan untuk mengincar sasaran yang berdiri sejajar di permukaan pulau. 

Meskipun demikian, perasaan Bintang Tenggara justru diliputi kewaspadaan. Ada yang tak kena. Berpijak di permukaan tanah, dalam menghadapi unsur tanah, bukankah berarti dirinya berada di tempat yang paling membahayakan!?  

Belum rampung benak Bintang Tenggara mengira-ngira, gundukan-gundukan tanah tetiba sirna. Di saat yang bersamaan, di sekeliling pulau merangkai dengan teramat cepat tembok tanah yang semakin meninggi. Padat dan tebal, bahkan Tinju Super Sakti kemungkinan besar kesulitan menembus pertahanan tanah. 

“Perangkap!” hardik Bintang Tenggara yang menyadari bahwa dirinya telah terpedaya. Dua Murka Alam sebelumnya, angin dan air, justru menyerang secara frontal. Siapa yang dapat menyangka, bahwa adalah unsur tanah justru melakukan tipu daya dunia persilatan!

Segera putra kedua pasangan Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara itu menebar formasi Segel Penempatan. Ia pun melenting-lenting tinggi, berupaya mencapai tempat aman di atas sana. Akan tetapi, kecepatan tembok tanah merangkai tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, baru kali ini Bintang Tenggara menyadari bahwa unsur tanah dapat bergerak demikian cepatnya. 

Saat ini, tembok tanah sudah mulai merangkai menjadi semacam kubah raksasa. 

Bintang Tenggara kembali merapal jurus persilatan Pencak Laksamana Laut demi melipatgandakan kecepatan geraknya. Ia terus melenting tinggi, hendak berusaha keluar dari kubah yang sebentar lagi menutup sempurna. Bilamana terlambat, maka ia kemungkinan besar 

Kubah raksasa yang terbuat dari tanah hanya menyisakan lubang sekira sebuah sumur di pedesaan. Sementara itu, Bintang Tenggara masih terpaut jarak sekira delapan meter. Jika menghitung kecepatan dirinya melenting dengan dengan kecepatan tanah merangkai, maka anak remaja tersebut berada di pihak yang lemah. 

Jarak masih terpaut sekira lima meter, sementara lubang yang tersisa semakin menyempit...

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut! 

Tak ada pilihan lain! Meski menyadari bahwa tenaga dalam akan tersedot banyak, Bintang Tenggara terpaksa merapal teleportasi jarak dekat pada detik-detik akhir. Bilamana terlambat, maka tak sulit untuk membayangkan situasi di mana ia akan terhimpit, kemudian terkubur hidup-hidup di dalam kubah tanah nan padat lagi tebal.

 

Cuap-cuap:

Usai perjalanan nan melelahkan, hanya setengah episode yang dapat disajikan.