Episode 12 - Akhirnya Acara yang Membosankan Selesai.


“Hahahaha... Tak ku kira kau punya piaraan juga!” seru Bagus kepadaku sambil tertawa lepas.

“Piaraan apa, mereka adalah temanku,” ucapku menimpali ucapan Bagus barusan.

“Hahahaha, teman katamu? Sungguh bodoh, mereka hanyalah alat untuk bersenang-senang,” sambungnya lagi.

“Alat! Mungkin bagimu mereka hanyalah alat, tapi bagiku mereka adalah temanku,” jawabku membela. Dan aku lihat nyai Yun tersenyum.

“Kau kira wanita murahan itu bisa mengalahkan piaraanku? Mimpi sana!” sambut Bagus meremahkan nyai Yun.

“Kita lihat saja, siapa yang menang nanti!” balasku emosi. Sebenarnya aku belum tahu tentang kekuatan sesungguhnya nyai Yun, tapi aku percaya kepadanya bahwa dia kuat.

“Serang wanita itu!” perintah Bagus kepada jin hitam di belakangnya. 

Lalu jin hitam itu menerjang ke arah nyai Yun mencoba untuk melukai. Nyai dengan cepat menghindar, payung hitam yang selalu dia bawa berubah menjadi sebuah busur panah yang berwarna keemasan. Kemudian nyai Yun menarik panah emas tersebut dan... 

“Blussshhhhh...!” Suara anak panah menembus dada jin hitam itu hingga jin hitam tersebut lenyap dan berubah menjadi asap yang menghilang.

“Sialan!” umpat Bagus, “Jangan senang dulu bocah,“ sambungnya lagi.

Kemudian Bagus mengeluarkan sebuah keris dari balik bajunya. Keris pun dicabut dari dalam sarungnya. Setelah keris, keluar angin besar entah dari mana menerpa di sekitar sekolahan ini, sesaat kemudian banyak sekali jin yang datang di belakang Bagus ada sekitar 30-an, bisa dikatakan pasukan kecil.

“Hahahaha... Mampus kau bocah! Sekarang aku terpaksa mengeluarkan pusaka milik kakekku,” ucap Bagus kepadaku.

“Senjata dilarang di pertarungan ini,” ucap wasit.

“Aku tidak menggunakan senjata untuk melawannya, aku cuma memamerkannya saja,” balas Bagus.

“Kalau kau menggunakan senjata untuk melawan, maka kau akan di diskualifikasi,” jawab Lusi.

“Oke,” jawab Bagus mengerti.

“Serang dia!” Bagus memerintahkan pasukan jinnya untuk menyerangku.

“Nyai Yun hati-hati,” ucap ku kepada nyai.

“Baik Bos Edi, ini masalah gampang,” balasnya enteng.

“Enteng pala lu peyang nyai, lihat tuh banyak seperti itu enteng,” jawabku sebal.

“Pala peyang itu apa Bos Edi,” ucap nyai Yun bertanya.

“Nanti saja saya jelaskan, yang penting hati-hati nyai, jangan sampai terluka,” ucapku kepada nyai. Ah elah ini nyai pakai acara tanya hal yang gak penting pula.

“Baik, bos Edi,” balasnya mengerti.

Sebelum pasukan jin mendekat ke nyai Yun, panah keemasan tadi berubah menjadi tongkat komando berwarna hijau. “Pasukan kerajaanku datanglah,” ucap nyai Yun sambil mengangkat tongkat komando ke atas. Selanjutnya, di belakangku berdiri laki-laki dan wanita memakai pakaian kerajaan kuno (Seperti pakaian dalam film angling dharma) membawa senjata, baik panah, pedang, tombak, dan jumlah mereka sangat banyak, lebih dari sekitar 600-an orang.

“Nyai? Siapa mereka?” tanyaku pada nyai.

“Mereka adalah bawahanku bos Edi. Dari pasukan kerajaan yang telah lama mengabdi ke padaku,” ucap nyai Yun menjelaskan.

“Nanti kita lanjut ngobrolnya bos Edi, sekarang kita fokus mengalahkan mereka dulu,” ucap nyai kepadaku sambil memberi aba-aba untuk menyerang.

“Pasukan, seraaaannngggg….!” perintah nyai Yun kepada para pasukan.

Dan perang dunia pun terjadi, banyak anak panah terbang menuju pasukan jin Bagus yang cuma terdiri dari 30-an jin. Tidak sampai satu menit, pasukan jin Bagus lenyap semua, serta dibarengi degan patahnya keris yang dia pegang. 

“Kenapa, kenapa bisa terjadi...?” ucapnya lirih. Kemudian Bagus jatuh pingsan di atas panggung.

Wasitpun bergegas mengecek keadaan Bagus yang jatuh di lantai panggung.

“Cepat bawakan tandu,” ucap wasit kepada panitia. Kemudian Bagus diangkat menuju tandu untuk diantar ke UKS.

“Karena Bagus jatuh pingsan sebelum pertandingan selesai, maka pemenangnya adalah Edi,” sang MC memberikan deklarasi kemenangan lewat microfon yang dia pegang.

“Yeaaaahhhhh,” ucap Wijaya dan kawan-kawan gembira karena sahabat mereka memenangkan sebuah pertandingan. Kemudian aku turun panggung untuk menerima ucapan selamat dari teman temanku.

“Selamat ya Ed, atas kemenangannya,” ucap Ninda.

“Selamat Edi atas kemenangannya,” ucap Mei sambil memberikan air mineral.

“Selamat bro,” ucap Wijaya kepadaku.

“Selamat Ed, tak kusangka kau bisa menang melawan Bagus,” ucap Pras tak kalah heran.

“Sama-sama teman-teman, terima kasih atas dukungan kalian, aku bisa menang,” ucapku kepada mereka.

Aku meminum air mineral yang diberikan oleh Mei, setelah minum aku mengajak mereka untuk kembali ke kelas kami. “Ya sudah ayo kita kembali ke kelas, lalu pulang,” ajakku kepada mereka. Melihat siswa yang memenuhi panggung tadi lalu bubar aku juga ingin cepat-cepat pulang. 

“Nyai Yun, terima kasih atas bantuannnya,” ucapku kepada nyai Yun.

“Sama-sama bos Edi, apakah sudah selesai bos Edi,” tanya nya kepadaku.

“Sudah Nyai... Nyai bisa memulangkan mereka kembali,” ucapku sambil memandang pasukan nyai Yun.

“Baiklah bos Edi, pasukan kembali,” dengan perintah nyai Yun, pasukan tadi lenyap dan tongkat komando hijau tadi, berubah menjadi payung hitam lagi. Sebenarnya aku penasaran dengan payung hitam itu, nantilah akan saya tanyakan, gumamku sendiri.

“Mbah Kosim, silahkan keluar,” ucapku kepada mbah Kosim yang masih bersemayam di dalam tubuhku.

“Baik bos Edi,” jawab mbah Kosim setelah keluar dari tubuhku.

“Mbah Kosim, Nyai Yun, terima kasih atas bantuan kalian. Jika kalian tidak datang, aku tidak tahu akan jadi apa nantinya,” ucapku memberi ucapan terima kasih kepada mereka.

“Sama-sama bos Edi, sudah tugas kita membantu bos Edi,” ucap nyai Yun.

“Ya sudah, nyai sama mbah, silahkan pulang ke rumah,” ucapku pada mereka.

“Baik bos Edi, kita pamit undur diri,” kemudian mereka menghilang.

Jam sudah menunjukan pukul 18.15 saatnya menunaikan Shalat magrib dulu. Aku ke mushola sekolah sambil membawa tas, setelah shalat magrib berjamaah selesai aku dan Wijaya menuju tempat parkir, mengambil sepeda lalu pulang bersama Ninda dan Yeni yang sudah menunggu di gerbang sekolah. Mereka berdua menungguku dan Wijaya karena takut jalanan sudah gelap dan banyak kendaraan yang lalu lalang. Jika hari masih terang mereka berdua berani pulang sendiri.

Setelah pulang sekolah, aku sampai di rumah pukul tujuh. Aku lekas mandi berangkat ke pengajian walaupun telat. Setelah sampai di pengajian untungnya aku masih mendapatkan giliranku untuk menyimak mengaji. Setelah pengajian usai, kami menunaikan shalat Isya berjamaah dengan beberapa saran dari guru ngajiku. Ngaji usai, kini kami diperbolehkan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku lekas tidur dan melanjutkan pelatihan Astral Projection dan Merasakan Residual Energi dari Bab 4 Kitab Al Ajnas.

Kemajuanku untuk Astral Projection agak lambat karena aku tidak bisa rileks dan sabar dalam proses pelepasan sukma dari raga. Berkali-kali gagal aku tetap mencobanya. Selama belajar Astral Projection, Guru Besar tidak bisa mendampingiku dikarenakan ada suatu hal yang mendesak. Akhirnya aku berlatih sendiri di rumah dengan ditemani mbah Kosim dan nyai Yun. Sampai berkali kali mencoba hingga akhirnya aku lelah sendiri dan tertidur Pulas.

Masa orientasi siswa telah usai, dimulailah kegiatan belajar mengajar hari ini aku berangkat ke sekolah dengan seragam baru. Aku dan Wijaya memutuskan berangkat sekolah lebih awal untuk menghindari telat di hari awal masuk sekolah. Aku dan Wijaya memang beda kelas, aku di kelas 7D sedangkan Wijaya di kelas 7E. Setelah memarkirkan sepeda kami di parkiran sekolah kami berangkat menuju kelas kami masing-masing. Setelah lima hari masuk SMP ini aku baru ingat... ya aku lupa mengecek keadaan sekitar SMP ini tentang gangguan astral.

Karena rasa penasaranku, lantas aku membuka mata ketigaku, dan menemukan banyak sekali jin qhorin dari korban kecelakaan. Dalam penghilatanku, banyak arwah korban kecelakaan yang mondar mandir di sekitar sekolah, dari lorong antara kelas 7A sampai kelas 7E saja sudah 12 jin yang aku temui, dari cewek yang tangan kanannya menghilang, laki-laki dengan wajah hancur yang masih memakai pakaian kantor, lalu kakek nenek yang kakinya patah yang berjalan ngesot bekas korban kecelakaan juga. Ada juga wanita hamil yang perutnya sudah berlubang karena bayi yang ada di dalamnya tidak ada, bisa terlihat isi dari perutnya antara lain usus yang panjang menjuntai ke bawah, dan ada pula ari-ari dari si jabang bayi. Di sampingnya ada bocah laki-laki memakai kolor warna hitam, kemungkinan yang di sampingnya adalah bayi yang di kandung ibu ini. Karena walaupun mereka meninggal di dunia nyata qhorin dari manusia masih tumbuh hingga hari penghakiman kelak.

Di sekitar lorong kelasku cuma ada penampakan setan lokal saja. Kenapa aku namakan setan lokal, karena mereka adalah perwujudan yang biasa manusia sering lihat, contohnya: pocong, kuntilanak, tuyul dan genderuwo. Sejenak kemudian aku baru ingat, ada pohon beringin besar di depan kantor kepala sekolah dan rumor mengatakan bahwa ada siswa yang gak sengaja berbuat masalah, dan dipanggilah dia ke ruang kepala sekolah. Setelah dia masuk ke ruangan kepala sekolah, dia merasakan panas sekali, padahal AC ada dua buah dan mengeluarkan udara dingin tapi anehnya tidak bisa meredakan rasa panas dalam ruangan tersebut. Hingga akhirnya dia pingsan di dalam ruang kepala sekolah. Karena aku merasa penasaran mungkin jam istirahat bisa lihat-lihat. Jam menunjukan pukul 07.30 saatnya pelajaran di mulai, karena hari pertama masuk, diadakan pengenalan wali Kelas dan pemilihan pengurus kelas. Setelah bel berbunyi seorang guru wanita masuk ke dalam kelasku.

“Ayo masuk anak-anak, salah satu orang pimpin doa,” ucap guru tersebut.

“Berdiri, beri hormat” ucapku.

“Selamat pagi ibu guru,” sahut anak-anak.

“Pagi juga,” balasnya.

“Duduk, sebelum memulai pelajaran, mari kita berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing, berdoa mulai,” ucapku mengawali doa di pagi hari itu.

“Berdoa selesai,” seruku lagi menandakan selesai.

“Baiklah karena hari pertama masuk, saya ingin mengenal kalian dulu... Perkenalkan nama saya Ibu Rita, mulai sekarang saya adalah wali kelas kalian,” ucap ibu Rita memperkenalkan diri.

“Baik. Karena saya belum kenal kalian, silahkan kenalkan diri kalian mulai dari pojok depan kiri lalu kesamping, ya. Nama kalian dan rumah kalian,” sambungnya lagi.

Mulailah satu persatu teman teman kelasku memperkenalkan diri. Kemudian selesailah perkenalan diri, aku duduk sendiri di bangku paling belakang dekat dengan jendela, karena jumlah siswanya ganjil.

“Terima kasih atas perkenalan dirinya, sekarang kita akan mengadakan pemilihan pengurus kelas. Kira-kira siapa yang cocok menjadi ketua kelas?” ucap ibu Rita.

Anak-anak saling memandang. “Edi aja Bu yang jadi ketua kelasnya,” ucap salah satu siswa.

“Iya bu, Edi aja yang jadi ketuanya,” saut anak-anak yang lain.

“Mana yang namanya Edi?” tanya bu Rita.

“Saya, Bu.” Aku berucap sambil mengangkat tangan.

“Saya mau jadi pengurus kelas, asal tidak menjadi, ketua, sekretaris dan bendahara Bu,” ucapku nego.

“Hahahaha...” ketawa lepas temanku sekelas. Wooo lha sialan, dibilangin serius malah ketawa gerutuku dalam hati.

“Ya udah kalau gitu gimana kalau kita adakan pemilu. Tulis masing-masing nama yang akan kalian rekomendasikan jadi ketua kelas di kertas kecil, lalu kumpulkan di meja saya,” ucap bu Rita.

Kemudian kami menulis masing-masing nama teman kita dalam secarik kertas lalu dikumpulkan di depan meja, setelah semua terkumpul. Bu Rita mulai membuka satu persatu nama siswa dan menulisnya di papan tulis. Karena aku tidak ingin menjadi ketua kelas, aku akan melakukan apapun caranya agar tidak terpilih. Aku lantas memanggil teman ghaibku.

“Mbah Kosim, hadir,” ucapku memanggil mbah Kosim, ia lalu muncul di belakangku.

“Ada apa, Bos Edi?” tanya mbah Kosim kepadaku.

“Mbah bisa buat ilusi gak,” tanyaku kepada mbah Kosim.

“Ilusi seperti apa bos Edi,”

“Jadi gini mbah, disana kan ada kumpulan kertas,” aku menunjuk tumpukan kertas di depan meja guru “Bisa gak mbah Kosim, ubah nama saya jadi nama siswa lain,” ucapku sambil aku berfikir, ada cewek yang sejak tadi melihatku dari bangku depan. Setelah pandangan kita bertemu, cewek tersebut memalingkan wajahnya, niat jahatku mulai muncul.

“Mbah ubah nama saya menjadi nama Hesti, kalau tidak salah ingat namanya itu cewek yang sejak tadi melihatku,” ucapku ke mbah Kosim.

“Baik bos Edi, gampang itu,” jawab mbah Kosim.

“Tos dulu dong mbah,” ucapku senang.

“Tos itu apa bos Edi,” tanya nya lagi.

“Tos situ seperti ini mbah,“ sambil aku memeragakan gerakan tos kepada mbah Kosim.

“Bagaimana mbah Kosim tau, mari kita coba,” ucapku lagi.

“Mbah tos dulu,” sambungku lagi.

“Plakkk,” suara tosku dengan mbah Kosim.

Lalu mbah Kosim berjalan ke depan, berdiri di samping meja guru, kemudian menatap kumpulan kertas di meja. Dimulailah pembacaan hasil voting pemilihan ketua kelas, dan akhirnya. dari 35 siswa, yang memilih aku cuma enam orang, tiga orang memilih yang namanya Bima, dan sisanya memilih Hesti. Setelah melihat hasil di depan, senyum jahatku muncul dibarengi tatapan tidak suka cewek yang sejak tadi melihatku ya namanya adalah hesti. 

“Kemudian pemilihan wakil ketua kelas, kali ini biar ketua kelas yang memilih,” ucap bu Rita. Setelah bu Rita bertitah entah kenapa perasaanku jadi gak enak, saat aku melihat Hesti, ia tersenyum penuh arti.

“Saya memilih Edi sebagai wakil ketuanya bu,” ucap cewek tersebut. Benarkan tebakanku, perasaanku sudah tidak enak dan ternyata kejadian benar. Kemudian aku lihat ke depan. Sejenak hesti yang melihat ekspresiku berubah, dia tersenyum puas di samping ibu Rita. 

Untuk sekretaris dan bendaharanya jatuh kepada Siska sebagai sekretaris dan Icha sebagai bendahara. Hari itu jadilah aku sebagai pengurus kelas, sebenarnya aku tidak suka dengan acara beginian. Menurutku tidak bermanfaat dan membuat badan capek.