Episode 25 - Singkap


Tak ada saat-saat yang lebih menakutkan dibanding saat seorang Pemegang Gelar menyingkap kemampuannya untuk ditujukan kepadamu.

—Hung, Pendongeng Istana


Hikram melaksanakan perjalanan dengan kecepatan yang dianggapnya terlalu lambat.

Disamping karena Sidya yang tak bisa bergerak secepat dirinya, belum lagi karena muridnya itu juga harus menuntaskan latihannya, sekaligus kenyataan bahwa dia tetap manusia biasa yang raganya menua . Meskipun tenaganya hanya berbeda sedikit dengan sepuluh tahun lalu, encok serta berbagai ketidaknyamanan yang didapat saat usia senja datang tetap mendatanginya jua. Kemenangan saat adu jurus dengan belasan anak buah Bandit Emas memang bisa disebut kemujuran karena dia dibantu oleh dua rekan yang tak diduga-duga, tapi tetap, itu menyumbangkan rasa lelah yang luar biasa. Tujuh kali bulan dan matahari silih berganti kemudian, dia baru bisa menemukan tanda-tanda bahwa adanya sepasukan tentara sedang berkemah setelah melakukan pencarian, serta sesekali bertanya pada penduduk setempat.

Hikram berhenti di sumur kecil yang tak salah lagi dijadikan semacam sumber utama air minum bagi para Legiun Asing. Buktinya ada ember kayu, serta jejak bekas tapak serta alas kaki yang tertebar di mana-mana, tertinggal bercampur dengan lumpur. Dia segera memuaskan dahaga setelah mengambil timba yang digeletakkan begitu saja, sementara Sidya terhuyung-huyung mendekat, badannya kelihatan sekali sedang lemas bukan main.

“Saatnya membahas mengapa kamu tak boleh memanggil orang-orang dari daerah selatan dengan panggilan ‘orang selatan’,” kata Hikram, tangannya menampik untuk mencegah Sidya meraih timba yang masih berada dalam genggamannya.

Sidya sudah dinasihati berkali-kali tentang ini sepanjang perjalanan, tapi dia sudah kehabisan tenaga untuk membantah. Maka, dia hanya mengangguk.

“Tahu kenapa, Bangsawan Cilik?”

“Karena mereka juga penduduk Nagart seperti kita.”

“Lebih dari sekedar itu. Jangan lupakan sejarah terutama sejarah keluargamu sendiri. Sebelum kita bersatu, mereka masih bernama Burazhong, kita bernama Arcapada. Pertalian putri Indrani dari Arcapada dan Ngatra—yang kelak akan menjadi Nagart, leluhurmu— dari Burazhong yang mengukuhkan persatuan keduanya. Itu menjelaskan mengapa namamu mengandung nama Hanseira atau Apashu yang terdengar asing, karena memang asalnya dari bahasa lama Burazhong. Menganggap mereka orang asing sama saja menganggap dirimu sendiri seorang pendatang. Paham?”

“Paham, Guru,” Sidya menjawab dengan mudah. Sebagian besar karena haus, walau dia mulai memahami pula mengapa dia dilarang menganggap Kakek Jisan, Si Walet Pisun, dan kaum mereka berbeda darinya.

“Murid pintar,” Hikram menepuk kepalanya untuk membuatnya senang, walau belakangan Sidya kesulitan membedakan apakah itu usaha Hikram untuk sekedar menepuk atau menjitak kepalanya karena dia melakukan hal itu terlalu keras. Sidya yang sudah tak sabar langsung menyambar timba lalu minum sepuasnya, sementara Hikram melihat sekeliling.

“Aku sebenarnya sangat enggan menemui para legiun. Tapi, mau bagaimana lagi. tak mungkin menggempur sepasukan bandit sendirian.”

Sidya yang sedang tak ingin bicara memilih untuk meneguk air banyak-banyak ketimbang menanggapi ucapan gurunya.

Hikram mendadak menekuk salah satu lutut, tangannya menempel pada tanah, wajahnya menunjukkan kerisauan yang sesaat lalu belum ada.

Sidya menaruh timba ke tempat semula sembari bertanya, “Apa yang guru lakukan?”

“Diam dulu, Bangsawan Cilik. Pertajam telingamu. Ingat saat kali pertamamu merasakan derum hawa murni? Ingat-ingat rasa itu, pusatkan hawa pada telinga dan telapak tangan. Nalurimu akan menuntun.”

Sidya mengikuti apa yang gurunya lakukan, dia menekuk lutut dan menekankan kedua tangan pada tanah. Pertama tak ada yang terdengar ataupun terasa olehnya, tapi begitu denyar hawa murni yang serupa sengatan serangga teralirkan, dia langsung tahu apa yang guru coba dengarkan.

Seperti dentingan. Sidya juga tahu ada suara bergedebuk serta rintihan dari arah tenggara. Sidya bisa merasakan tangannya ikut bergetar oleh sesuatu yang bergerak di atas tanah, seperti banyak langkah kaki lewat didekatnya padahal sedari tadi Hikram diam saja dan tak ada orang lain sejauh Sidya bisa mengawasi.

Hikram segera bangkit, meneguk minuman keras banyak-banyak dari wadah kulit kambingnya, kemudian melangkah menuju sumber suara. Sidya bergegas mengikutinya, sedapat mungkin tak jauh-jauh dari Hikram karena sepertinya tengah ada pertarungan atau keramaian dari arah yang dituju.

Benar saja, tak sampai lima puluh langkah menuju ke pepohonan yang cukup rapat mulai terlihat kelebatan, serta suara makin terdengar jelas. Hikram segera bersembunyi di balik sebuah pohon, sementara Sidya mengikutinya.

Terlihat seorang berpakaian baja dengan pelat-pelat yang hampir sama dengan zirah milik Ambal datang berkelotakan dari balik pohon, wajahnya ditutupi sebuah tutup kepala yang rapat, hanya segaris tempat disisakan baginya untuk dapat melihat dunia luar. Tangannya yang diselimuti sarung tangan baja berkilat berlumuran merah darah, tangannya memegang pedang lurus yang terlalu tebal untuk ukuran pedang dari Nagart. Sejenak kemudian dia limbung, senjatanya jatuh begitu saja. Suara napas yang putus-putus terdengar sebelum dia susah-payah melepas lalu melempar tutup kepalanya hingga rambutnya yang pirang segera tergerai tanpa ada halangan, wajahnya sangat pucat. Baru disadari oleh Sidya bahwa dari sela pelat baja di pakaiannya merembes darah yang amat banyak.

Hikram bergegas mendatanginya, sementara mata si lelaki berpakaian baja sudah mau juling ke atas, sepertinya dia akan segera kehilangan kesadarannya.

“Prajurit, kau tak apa-apa?!”

“Ah. Ahaha. Golok menuju sela zirah warisan kakek, mana tahu … Emma. Maaf … aku ….” Dia meracau dalam bahasanya sendiri, yang tak diketahui oleh Hikram walaupun Sidya dapat mengerti karena dia telah belajar bahasa Brytisia, sebelum si prajurit terbatuk kemudian memuntahkan sesuatu yang merah dari bibirnya. Tubuhnya mengejang, bergetar lemah, kemudian diam, sepasang bola matanya yang luar biasa biru mencerminkan langit yang sama birunya, meski kini langit sudah tak dapat dilihatnya lagi.

Hikram menutup matanya dengan hati-hati sembari menghela napas dalam, bibirnya melantunkan sesuatu yang tak terdengar. Sesaat kemudian dia mengerling Sidya yang membeku di tempat, tatapannya tak bisa lepas dari lelaki pirang yang kini telah jadi mayat.

“Pertempuran merupakan hal yang kejam,” Hikram berkata tanpa ampun, mengusir Sidya dari lamunan akibat rasa takut yang teramat sangat. Sedari tadi Sidya hanya berdiri mematung karena melihat kematian sebagai hasil dari pertarungan untuk yang pertama kalinya. “Kuharap saat kau bertahta suatu saat nanti, Sidya, kau tak akan melakukan hal nista seperti ini hanya untuk meraih sesuatu yang kau inginkan. Adu ilmu lain ceritanya jika sampai mencerabut nyawa dari badan dari seseorang.”

Si Dewa Arak Kolong Langit berdiri. Matanya menatap tajam ke arah keramaian masih terjadi, dan sekali lagi Sidya diingatkan akan samanya mata Hikram dengan batu onik yang indah namun mati.

“Carilah tempat sembunyi.” Begitu saja Hikram berkata, dan dia langsung melesat, meninggalkan Sidya yang untuk kali ini tanpa banyak tanya langsung menuruti perintah gurunya meskipun badannya mendadak lemas lagi. Dia tak ingin menyaksikan pertempuran Hikram kali ini, karena sepertinya dia sedang marah besar, maka Sidya menyembunyikan diri serapat mungkin di balik sebuah semak, sementara pertarungan terdengar semakin keras di sekitar. Dia menutup telinga, menutup mata, dan berharap semua cepat berakhir hingga dia tak perlu menyaksikan semua, sementara jantungnya berdetak keras seperti ingin melompat dari tempatnya.

Begitu sampai ke sumber suara, Hikram langsung disambut oleh pemandangan darah yang membanjir dan daging yang berceceran. Mayat bergelimpangan di berbagai sisi tempat yang mengantar pada sisi yang cukup landai dari kaki bukit. Hati Hikram makin hancur saat melihat lelaki dan perempuan berpakaian biasa—yang pastinya merupakan warga biasa dan bukan prajurit—juga terlihat diantara mayat para petarung. Sembari melangkah, Hikram mendatangkan tongkat Panjang Umur ke tangannya, dan untuk sekali ini, dia bersumpah tak akan menahan diri. Sekejap Hikram seolah bisa dengar raungan, bukan binatang, melainkan entah makhluk keji apa yang mengguntur ditelinganya.

Hanya tinggal dua orang Legiun Asing yang tersisa, mereka sebisanya berusaha untuk mempertahankan posisi, menempatkan diri diantara mayat dan lawan seolah takut jikalau para bandit akan merampas benda yang masih menempel pada jenazah. Seorang legiun memakai jubah berwarna kuning dari tanah air asalnya, sebuah pulau ke selatan lagi dari tanah kuno yang dulu merupakan negeri Burazhong. Si jubah kuning mendorongkan tangan, sebuah suara mirip ledakan terdengar seiring dengan arus hawa murni yang luar biasa kuat menyembur dari lengannya yang langsung menghantam sekumpulan bandit yang sedang mengepung seorang prajurit berpelat yang lain. Para bandit langsung terlempar, beberapa menghantam bebatuan kaki bukit keras-keras hingga batu berderak ditimpa badan mereka yang terhempas.

Hikram berlari mendekat, langsung memukulkan tongkatnya pada kumpulan bandit yang berusaha menahan serangan legiun berpelat yang garang memukulkan gada besar di tangannya. Senjata Hikram menemui badan hingga mematahkan tulang, dan tanpa ambil jeda sedikitpun dia segera mengincar yang lainnya.

Para bandit yang masih berjumlah belasan semula sudah menang, tinggal membereskan dua orang maka selesai sudah masalah. Kini, mereka mendadak dibuat kocar-kacir oleh kedatangan Hikram. Pasalnya, gempuran tongkat yang sepertinya bisa datang dari berbagai arah terasa sangat merepotkan, belum lagi saat Hikram menghentakkan napasnya dan Selusup Kabut Bawah terpasang untuk mengacaukan indra-indra lawannya yang barisannya jadi makin berantakan. Tak lama kemudian seorang yang tak diragukan lagi merupakan Bandit Perak menilik dia mampu memerintah para bandit semudah para Bangsawan menyuarakan Ilmu Titah meneriakkan kata mundur, pedang ditangannya disarungkan untuk memudahkan pelarian.

Para bandit yang semula kelabakan langsung bereaksi mendengar perintah atasan mereka. Gerakan mundur mereka yang semula setengah-hati kini seragam, nyaris seperti disiplin para serdadu Nagart yang telah dilatih bertahun-tahun hingga pergerakan menjadi lebih mudah. Hikram tak mau ambil peduli, dia segera mengejar mereka yang mulai naik ke atas bebatuan untuk menuju bukit, pukulannya menghantam siapapun yang terlalu dekat dengannya, dia berputar, menghentak napas ke sisi lain, lalu memukul lagi, sebenarnya hendak mengincar seorang bandit yang sepertinya sangat ketakutan sebelum sebuah hantaman keras layaknya tabrakan kuda seberat beberapa kati menghantam tubuhnya hingga dia menabrak batu padat.

Butuh waktu cukup lama bagi Hikram untuk mengembalikan kesadaran setelah roboh. Dia berjongkok, menggelengkan kepala untuk memusatkan penglihatannya karena semua yang ditatapnya berlipat ganda untuk sementara. Hikram baru teringat akan sesuatu. Tak ada satupun dari bandit yang mampu melempar orang dengan mudah seperti ini. Pasti si jubah kuning yang sudah menyerangnya!

“Maksudmu apa, hei?!” Hikram membentak sekuat tenaga, tangannya telah meraih tongkat yang jatuh begitu saja disampingnya.

Namun, bukannya si jubah, melainkan si prajurit berpelat yang menjawab, suaranya bergetar dirundung pelindung yang menyelimuti seluruh kepalanya. “Kita harus mundur, Pendekar. Bala bantuan akan datang dari bukit. Kau akan dijebak, tak akan menang.”

Hikram berdiri, wajahnya begitu mengerikan untuk dilihat, dan disingkapnya seluruh Gelar yang dimilikinya. Si prajurit berpelat seakan dipaksa berlutut oleh tangan berukuran raksasa yang tak kasat, sementara si jubah kuning mundur beberapa langkah dengan sangat gegabah sebelum terjengkang akibat terantuk bebatuan.

“Aku,” Hikram berkata dengan segala kekasaran yang dimilikinya sementara kedua anggota legiun mengawasi dengan rasa takut yang teramat sangat, “adalah Dewa Arak Kolong Langit. Penyembur Api dari Hanfeilong. Mantan Jawara Prathama, Pagar Betis Satu Orang. Akulah yang menahan gerbang benteng tanah liat seorang diri melawan ratusan. Akulah yang membuat para penyamun kalang kabut akibat semburan apiku. Akulah yang dulu mewakili Kaisar dalam pertarungan satu lawan satu dan kujatuhkan Pendekar dari Tanah Corr. Kusiksa tubuhku dengan tapabrata hingga Sang Naraca sendiri berwelas asih dan turun dari Kahyangan padaku. Tak ada yang bisa memerintahkanku untuk mundur! Kau mau memaksa seekor burung layang-layang untuk masuk sangkar, Ksatria Brytisia?!”

“Ka-kami tidak memerintah anda,” si prajurit berpelat bicara dengan susah payah, kerongkongannya serasa disumbat sesuatu yang besar hingga sulit baginya untuk berkata-kata, “tolong, Pendekar. Sebentar lagi mereka akan tiba dengan jumlah berlipat kalau tak bergegas.”

“Guru!” suara anak perempuan yang mulai akrab ditelinga Hikram memanggil, dan empat Gelar yang melingkupi Hikram seolah memundurkan diri ke dalam. Ia berpaling, dan semua Gelarnya segera menutup kembali. Dia kembali menjadi Hikram Sathar, seorang pengembara lelah lagi miskin yang doyan mabuk-mabukan, tak lebih.

“Sidya.” Hikram menghela napas, memandangi wajah si bocah yang tak pernah sekalut, ataupun sepucat ini. Dia pastinya telah mendengar perkataan si prajurit bahwa sebentar lagi serangan akan diperbaharui oleh para bandit. Sementara itu, dua orang legiun kini mampu berdiri lagi, meski mereka masih mengawasi Hikram dengan rasa takut yang baru.

“Baiklah, kita mundur sekarang, Legiun. Tuntun aku menuju ke tenda pimpinan kalian, sekarang. Aku akan membantu kalian mengakhiri ini semua.”

--