Episode 11 - Jin Hitam



Setelah istirahat usai kini dimulai pertarungan untuk set kedua. Karena set pertama pertandingan seri, aku ingin mengakhiri set kedua dengan cepat.

“Siaaappppp… mulai!” Aba-aba dari wasit memberikan sinyal untuk menyerang. Ivan masih dengan kuda-kuda kokohnya, aku memposisikan kame-kame seperti milik Son Goku di dalam anime Dragon Ball.

“Ka… Me… Ka… Me…” ucapku agak keras. 

“Hahahaha, si bocah itu lihat... Dia mau mengeluarkan jurus kame-kame milik Goku, hahahaha...! Sudah gak waras kali ya...?” ejek para teman-teman Ivan.Ivan yang sejak awal pertandingan berwajah serius, kemudian melonggarkan pertahannya.

“Hahahaha, kamu bodoh ya, dengan gaya seperti itu mau menyerangku,” ucap Ivan sombong dengan tangannya berada di pinggang.

“Baiklah silahkan serang aku, hahahaha...,” sambungnya dengan berkacak pinggang.

“Haaaa…..” ucapku sambil menyerang dengan tenaga dalam. “Bruaaakkk,” suara tabrakan tubuh Ivan dengan lantai panggung. 

“Ugh!” erangnya. Ivan terbang ke belakang dengan jarak sekitar empat langkah dari dia berdiri, karena dia menggunakan alat set pertempuran, tubuhnya tidak apa-apa.

“Satu kosong!” seru sang wasit.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya wasit kepada Ivan.

“Yah, aku tidak apa-apa,” balasnya sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai panggung, sejenak semua orang terdiam melihat pemandangan tadi.

“Bagaimana...?” ucapku menantangnya. 

“Sialan!” umpat Ivan kepadaku.

“Jangan sombong karena kau bisa menggunakan tenaga dalam sedikit,” balasnya sambil berdiri

“Baiklah, kita mulai lagi, kedua peserta bersiap,” ucap wasit, “mulai!” Aba-aba menandakan pertandingan di mulai.

Ivan berlari ke arahku, aku membacakan amalan penyerangan. Sebelum Ivan berhasil meyerangku aku gunakan tenaga dalam untuk melemparnya lagi. 

“Bruuukk,” suara jatuh Ivan dengan lantai panggung.

“Satu-dua,” ucap wasit.

“Pertandingan set kedua selesai, silahkan para peserta beristirahat,” ucap MC memberitahukan bahwa pertandingan set kedua selesai.

Aku turun panggung dengan agak cepat, karena aku mulai letih akibat menggunakan tenaga dalam itu lebih cepat menguras stamina. Aku yang sudah turun dari panggung menghampiri Mei dan kawan-kawan.

“Nih ail minum, Ed,” ucap Mei sambil memberikanku sebotol air mineral.

“Gulp… gulp… gulp!” aku meminumnya karena aku memang sudah haus.

“Kok bisa tadi Ivan terlempar, Ed?” ucap Wijaya bertanya-tanya.

“Hemb, aku terpaksa menggunakan tenaga dalam bro, karena dia pandai dalam seni beladiri. Sedangkan aku hanya orang awam,” ucapku kelihatan letih.

Peluhku membasahi baju yang aku kenakan. Mei datang sambil membawakanku sehelai sapu tangan.

“Nih Ed, lap dulu kelingatmu itu, jolok ah!” ucap Mei sambil memberikanku sebuah sapu tangan warna putih.

“Makasih, Mei,” balasku sambil menerima sapu tangannya. Aku lap keringatku di bagian wajah dengan sapu tangan yang diberikan oleh Mei . 

“Terus, rencanamu ke depan bagaimana Ed?” ucap Ninda bertanya.

“Kita lihat dulu, bagaimana seni beladirinya Bagus, apakah fokus terhadap kecepatan, atau kekuatan...,” ucapku menimpali.

“Kalau Bagus juga fokus di kecepatan Ed, apa yang akan terjadi?” seru Ninda bertanya lagi.

“Kalau Bagus fokus dalam kecepatan, tinggal siapa yang lama bertahan. Apakah aku yang akan kehabisan tenaga dalam duluan, atau Bagus yang pingsan duluan,” ucapku pada Ninda sambil meminum air mineral.

“Kalau Bagus fokus ke dalam kekuatan,” tanya Wijaya.

“Kalau Bagus fokus ke dalam kekuatan, maka aku yang akan menang,” balasku yakin.

“Hemb, baiklah. Paling tidak hari ini kau harus menang bro,” ucap Wijaya menyemangatiku.

“Oke!”

“Lima menit telah berlalu, pertandingan kedua set terakhir akan segera di mulai,” sang MC mulai memberikan pengarahan. “Baiklah pertandingan kedua set terakhir akan dimulai, para peserta silahkan memasuki arena,” ucap MC memberikan pengumuman. Aku kembalikan sapu tangan milik Mei, lalu aku bergegas naik ke atas panggung, sejenak aku lihat Ivan di pojokan panggung sambil berbisik dengan Bagus. Kemudian, dia berbalik menuju arena dengan wajah tersenyum. Setelah sampai di tengah panggung kami saling berhadapan. 

“Hahaha, karena kau sudah mulai kelelahan, kemenangan pasti menjadi milikku,” ucapnya sombong.

“Hemb, jangan dendam jika nanti aku yang menang,” ucapku kepadanya.

Sebenarnya aku masih mempunyai kartu AS terakhir, yaitu memasukkan mbah Kosim atau nyai Yun ke dalam tubuhku. Tapi aku ingin menjunjung sportifitas. Sesaat kemudian wasit datang memberi aba-aba.

“Kalian siap...?” Tanya wasit.

“Siap!” balas kita bersemangat.

“Bersiaaappp…. Mulai!” aba-aba wasit memberitahukan pertandingan dimulai. 

Setelah itu, aku langsung menjauh ke belakang, aku atur nafasku untuk pernafasan dalam. Melihat aku menjauh, Ivan dengan cepat menghampiriku, memposisikan tubuhnya menyerang dengan kaki kanannya memutar ke belakang mengarahkan ke bagian kepalaku.

“Wah tendangan memutar atas ini seperti huruf C,” gumamku. Sebelum tendangan mengarah ke wajahku, aku memposisikan bertahan dengan tangan kanan menghalau lintasan serangannya. Tapi aku salah, tendangan tadi berbelok arah menyerang pinggangku. 

“Bruuukkk,” suara tendangan Ivan menghantam rusukku.  

“Kyaaa…. Edi,” jerit salah seorang wanita dari bawah panggung, seperti suaranya aku kenal. Ya, suara Mei.

Sejenak aku melihat Mei dari atas panggung, matanya berkaca-kaca, walaupun aku tidak bisa lihat dengan jelas karena mata sipitnya, pasti aku yakin dia berkaca-kaca. Serangan Ivan kedua melesat menuju kepalaku 

“Bruuukk,” suara benturan kaki Ivan dengan rahang kananku. “Ugh,” keluhku pelan karena amalan benteng diriku hampir tembus.

Aku berlari menjauh ke sisi arena, sambil berpikir sejenak. “Kenapa amalan benteng diriku bisa hampir retak oleh manusia?” gumamku heran. Karena aku merasakan kecurigaan, aku mengaktifkan mata ketigaku. 

“Wuusshhh,” setelah aku mengaktifkan mata ketigaku, aku melihat bayangan hitam ada di belakang tubuh Ivan. “Oh, pantas saja,“ ucapku memahami masalahnya.

“Jadi gitu ya, Van? Kau meminjam kekuatan dari mahluk dunia lain,” ucapku ke arahnya.

“Hahahaha, apa yang kau maksud bego, kekuatan dari dunia lain. Apa maksudmu?” jawab Ivan bingung dengan pertanyaanku.

“Apa kau yakin tidak meminjam kekuatan dari, Jin?” balasku kepadanya.

“Jin, apa yang kau maksud? Aku tak pernah meminjam kekuatan dari siapa pun, semua adalah hasil kerja kerasku,” jawabnya lagi.

Apakah Ivan tidak mau mengaku, atau dia tidak tahu. Itulah yang ada di benakku, lalu aku melihat Bagus di sisi arena. Setelah aku melihatnya dia tersenyum terkekeh. Aku lihat ada bayangan hitam yg besar di belakang tubuhnya. 

“Oh jadi ini akar masalahnya,” ucapku dalam hati. Lalu aku memanggil mbah Kosim untuk datang, “Mbah Kosim, hadir,” ucapku dalam hati.

“Ada apa bos, Edi?” ucap mbah Kosim.

“Mbah bantuin saya, musnahkan jin hitam yang ada di belakang anak di depanku,” ucapku dalam kepada mbah Kosim.

“Baik, Bos Edi,” balas mbah Kosim mengerti.

Kemudian mbah Kosim berlari ke arah Ivan. Setelah mbah Kosim berlari kearah Ivan, aku perhatikan Ivan tidak bergerak dari sana, “Berarti dia tidak bisa melihat Jin,” gumamku pelan, kemudian mbah Kosim menerkam jin hitam kecil tersebut lalu lenyap, setelah jin hitam lenyap Ivan sempoyongan lalu jatuh pingsan.

“Satu-tiga, pemenangnya Edi!“ ucap sang wasit memberikan pengumuman.

“Sialan, anak lemah,” ucap Bagus sambil mengumpat karena kecewa Ivan kalah. Wasit menghampiri Ivan yang tergeletak pingsan, kemudian memeriksa keadaannya.

“Bawakan tandu cepat,“ ucapnya ke panitia kompetisi.

Panitia kompetisi membawa Ivan dengan tandu menuju UKA. Aku suruh mbah Kosim untuk jangan pulang dulu.

“Mbah jangan balik dulu, ya. Temenin Edi menghadapi jin hitam selanjutnya,” ucapku ke pada mbah Kosim.

“Baik Bos Edi, walaupun saya nanti mati, saya akan menjaga bos Edi dengan sungguh-sungguh,” balas mbah Kosim.

“Jangan sampai mati, Mbah, Saya tidak mau Mbah mati, ini perintah!” balasku kepada mbah Kosim.

“Baik Bos Edi, saya tidak akan mati,” seru mbah Kosim mengerti. Kemudian aku berjalan menuruni tangga untuk menghampiri Mei dan kawan kawan.

“Selamat bro, menang pertandingan kedua,” ucap Wijaya memberikanku ucapan selamat.

“Makasih bro, masih ada satu pertandingan lagi,” balasku kepadanya.

“Kelihatannya bakal perang habis-habisan nih di pertandingan terakhir ini,” ucapku serius.

“Kenapa Bro?” tanya Wijaya.

“Karena Bagus pasti kuat, Ivan saja sudah lumayan kuat... Apalagi Bagus...” balasku cepat.

“Oh iya, kenapa tadi Ivan pingsan?” tanya Ninda .

“Mungkin dia kelelahan,” seruku pada Ninda agar mereka tidak curiga karena jin pembantunya yang telah di musnahkan oleh mbah Kosim.

“Tadi aku habis ketemu sama kakak kelas di sebelah Ed,” ucap Yeni berjalan menghampiri ke arah kami.

“Hah, emang kenapa Yen?” ucapku bertanya.

“Nih aku bawa orangnya,” Yeni membawa seorang laki-laki di belakangnya.

“Kenalkan namanya Kak Pras, dia satu kelas dengan Bagus,” ucap Yeni.

“Hai, kenalkan aku Pras,” ucap laki-laki ini.

Aku Edi, Mei, Ninda, kami semua bersalaman sambil memberitahukan nama masing-masing.

“Oh iya Ed, aku salut akan keberanianmu menghadapi gengnya Bagus,” ucap Pras kepadaku.

“Memang kenapa, Kak Pras?” tanyaku sopan.

“Ya aku salut saja. Di sekolahan ini dia bosnya, dia kuat sekali Ed,” ucapnya lagi.

“Kuat gimana, Kak Pras?” tanyaku lagi.

“Empat bulan yang lalu, kita ada tawuran sekolah dengan sekolah tetangga. Dia menghadapi 20 orang sendirian, padahal anak-anak dari sekolahan sebelah membawa senjata seperti batu dan gear motor,” ucap Pras yang kelihatan takut di wajahnya.

“Lalu?” ucap Wijaya penasaran.

“Ya dia menghadapi mereka sendirian Ed, dan anehnya tanpa luka di tubuhnya,” sambung Pras.

“Haaaahhh, masa sih Kak, gak masuk di akal!” ucap Wijaya heran.

“Denger-denger sih, si Bagus punya pembantu jin. Entah itu benar atau tidak, aku tak tahu. Tapi rumor yang beredar begitu!” sambung Pras dengan menyembunyikan ekpresi ketakutannya.

“Wah, kalau Bagus mempunyai ilmu kanuragan, bisa gawat Ed,” ucap Wijaya mulai gelisah.

“Gak apa-apa bro. Aku mempunyai pelindung yang lebih kuat dari pada siapa pun di alam semesta ini,” balasku senyum ke arah Wijaya.

“Siapa bro?” tanya Wijaya.

“Cukuplah Allah sebagai pelindungku,” ucapku tersenyum.

“Iya bener bro, kita punya Allah S.W.T sebagai pelindung kita,” jawab Wijaya mulai ceria.

“Ed, ilmu kanulagan itu apa?” tanya Mei kepadaku.

“Emmm... apa ya...? Ilmu kanuragan itu, seperti seni beladiri tapi dalam bentuk non fisik, ya seperti yang aku contohkan tadi waktu melawan Ivan,” jawabku asal-asalan.

“Belalti kamu punya ilmu kanulagan juga, Ed?” tanya Mei antusias.

“Bisa dibilang begitu Mei.”

“Hebat, kelen dong,” sambut Mei kagum.

“Keren apanya, sakit semua badan kalau tenaga dalam hampir habis,” jawabku lagi.

Lima menit berlalu dan istirahat telah selesai. MC memberikan pengarahan kepadaku dan Bagus untuk naik ke atas panggung. Jam hampir menunjukkan pukul 18.00. “Baiklah kepada para peserta untuk naik ke atas panggung,” ucap sang MC. 

Aku dan bagus berjalan menaiki tangga satu demi satu hingga akhirnya sampai ke tengah panggung. “Karena permintaan panitia, pertandingan kali ini akan berlangsung selama 15 menit dalam 1 set saja, peraturannya tetap sama,” ucap sang MC kepadaku dan Bagus.

“Bagaimana, apa kalian setuju?” lanjutnya lagi.

“Kami setuju,” jawab kami mengerti tentang perubahan peraturan oleh panitia.

“Kalau kalian mengerti, silahkan menggunkan alat set pertempuran,” kata wasit kepada kita untuk menggunakan alat set pertempuran.

“Aku tak akan memakainya,” ucap Bagus kepada wasit.

“Kenapa kau tidak mau memakainya, Gus?” tanya sang wasit.

“Jika lawanku tidak memakai, maka aku juga tak akan memakainya,” jawabnya lagi.

“Baiklah jika tidak ingin memakainya, aku juga tak akan memaksa,” balas wasit kepada Bagus.

“Para peserta silahkan ke tengah arena,” ucap wasit memberi pengarahan.

“Peraturannya mudah, dalam waktu 15 menit siapa yang paling banyak menjatuhkan lawan, dia pemenangnya berlaku juga bagi yang mengaku kalah atau pingsan otomatis lawannya akan menang, apa kalian mengerti?” kata wasit memberikan instruksi peraturan.

“Aku mengerti,” balas Bagus.

“Hemb, aku juga mengerti,” ucapku.

“Baiklah , masing-masing peserta bersiap!” Seru wasit memberikan aba-aba.

“Siaaapppp…. Mulai!” Seruan wasit menandakan bahwa pertandingan dimulai.

Sekejap kemudian... “Wuussshh.... Bruakk!” Tahu-tahu aku sudah terjatuh di lantai panggung. 

“Satu kosong!” ucap wasit.

Para siswa yang sejak tadi menonton tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang mereka alami. Dengan kejadian di depan mata mereka aku tiba-tiba terjatuh, aku mencoba berdiri, dan langsung menyerang! 

“Wuusshhhh... Bruakkk,” kedua kalinya aku jatuh lagi. 

“Dua kosong,” ucap wasit. 

“Sialan!” umpatku sambil memukul lantai panggung.

“Nyai Yun, hadir!” aku mencoba memanggil nyai Yun untuk datang membantuku.

“Ya, ada apa, Bos Edi?” jawab nyai Yun.

“Bantuin saya menahan serangan dia Nyai,” ucapku kepada nyai Yun.

“Baik, Bos Edi,” jawab nyai Yun mengerti. Nyai Yun berdiri di depanku menghalau serangan dari Bagus aku memanggil mbah Kosim juga untuk masuk ke dalam tubuhku. Terpaksa aku memasukkan mbah Kosim ke dalam tubuhku karena tubuhku sudah mulai kelelahan.

“Mbah Kosim, masuk ke dalam tubuh saya, Mbah,” ucapku kepada mbah Kosim.

“Baik, Bos Edi,” jawab mbah Kosim, sambil masuk ke dalam tubuhku. Setelah mbah Kosim masuk ke dalam tubuhku, aku duduk sambil menyilangkan kaki, lalu membaca amalan penyerangan. Aku lihat Bagus mulai berjalan ke arahku, lalu aku berdiri untuk menghadapinya.

“Nyai Yun, apakah Nyai sanggup membunuh jin hitam di belakang anak tersebut?” tanyaku kepada nyai Yun yang berdiri di depanku dengan memakai payung hitamnya.

“Saya bisa memusnahkannya, Bos Edi,” jawab nyai Yun sambil menoleh ke arahku.

“Tolong nyai, musnahkan segera jin hitam tersebut,” ucapku kepada Nyai agar jin hitam itu tidak mengganggu jalannya duel ini.

“Baik, Bos Edi,” balas nyai Yun di depanku.