Episode 279 - Pengejaran (2)



Kapten Sisinga dan Putra Mahkota masih berada di taman. Abang adik ini sedang berbual-bual, sesuatu yang sudah sejak lama tiada berlangsung di antara mereka. Berkat seorang tabib remaja, kini keduanya dapat berbagi ceritera. Walau pembicaraan hanya berlangsung sepihak, yang mana si Putra Mahkota membeberkan rencana-rencananya dalam mencapai kejayaan bagi Kerajaan Garang, Kapten Sisinga mendengar penuh perhatian. 

Biasanya, kesempatan seperti ini hampir tak pernah terjadi. Para pejabat istana yang dikepalai oleh seorang Perdana Menteri selalu menjaga agar mereka tiada dapat bertemu muka. Ada saja alasan mereka memisahkan si abang dan adik. Akan tetapi, entah ke mana perginya mereka para pejabat istana itu…?

“Angkang...,” ujar si Putera Mahkota, memanggil dengan sapaan layaknya seorang adik kepada abangnya. “Di manakah engkau bertemu dengan tabib nan muda dan tampan itu...?”

“Aku bertemu dengannya saat berburu binatang siluman kancil itu...”

“Apakah ada yang Angkang sembunyikan dari diriku...?”

Kapten Sisinga hanya diam. Bukan hanya tak menjawab, ia bahkan memalingkan wajah. Bagi seorang serdadu setia sepertinya, merahasiakan sesuatu dari Yang Mulia Putra Mahkota merupakan bentuk pelanggaran, sehingga merasa sangat bersalah. Akan tetapi, untuk kali ini, dirinya akan menyimpan rahasia tentang sang Yuvaraja, Putra Mahkota dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Tetiba, derap langkah terdengar menggema. Serombongan ahli yang berjumlah tak kurang dari dua puluh orang bergerak serempak membelah selasar istana. Untuk kali ini, seolah dapat mereka mengimbangi barisan serdadu nan terlatih. Para pelayan serta pengawal istana sontak menyingkir memberi jalan. Mereka pejabat istana yang biasanya bergerak lambat dan santai, kali ini menyebabkan kehebohan di dalam Istana Utama Kerajaan Garang. 

Putra Mahkota sontak memancungkan bibir, ibarat seorang gadis manja yang merajuk karena diusik oleh sang kekasih hati. Pikirnya, pastilah para pejabat itu hendak mengganggu pertemuan di antara dirinya dan Kapten Sisinga. Ada saja alasan mereka, entah itu tata krama diraja, sampai alasan keamanan biasa mereka jadikan sebagai dalih. 

Akan tetapi, rombongan pejabat istana seolah tak menyadari keberadaan abang dan adik yang sedang berada di taman dalam istana. Tanpa menoleh, mereka melewati taman dan terus bergerak ke arah gerbang masuk istana. 

Menyaksikan keanehan ini, kedua alis si Putra Mahkota seolah menyatu. Demikian mengherankan. Akan tetapi, secepat kilat pula raut wajah lelaki dewasa muda itu berubah menjadi sebal karena merasa diabaikan oleh para pejabat istana. Demikian, ia pun hendak menyusul para cecunguk itu, ketika seorang dayang-dayang datang menghampiri. 

“Yang Mulia Putra Mahkota... serta Yang Terhormat Kapten Sisinga, Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II memanggil ke ruang singasana.” 

“Hm... berapakah usia dikau wahai dayang-dayang...?”

“Tahun ini usiaku beranjak 25 tahun, Yang Mulia.”

“Lalu, mengapakah dikau masih berkeliaran di dalam istana utama...? Bukankah sepantasnya dikau mengundurkan diri untuk memberi kesempatan kepada yang gadis-gadis belia yang ranum...?”

Dayang-dayang tersebut terpaku di tempat. Wajahnya memerah, dan air mata mengalir pelan di kedua belah pipi. Betapa hatinya terkoyak.

“Sudah waktunya engkau menikah dan membangun keluarga,” tambah Putra Mahkota itu.

Si dayang-dayang masih terpaku. Raut wajahnya memperlihatkan kenangan-kenangan yang masa lalu. 

“Apakah... Yang Mulia memerintahkan diri ini... meninggalkan istana utama...?” Sambil terisak, perempuan dewasa muda itu berujar sendu.

“Tentu saja!” 

“Bila demikian, diri ini akan mematuhi....” Dayang-dayang itu kembali meneteskan air mata, dan melangkah pergi membawa kenangan masa lalu. 

“Cih! Mentang-mentang dulu aku merenggut keperawanannya, macam cinta pula dia...,” cibir si Putra Mahkota. 

Kapten Sisinga sudah melangkah pergi sedari tadi. Sebagaimana disampaikan oleh dayang-dayang nan sendu, kehadiran mereka dinanti di ruang singasana. Si Putra Mahkota pun mengekori.

“Ada apakah gerangan Ayahanda Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II memanggil kami...? Apakah ramuan yang diberikan tabib muda nan tampan kurang bermanfaat...?” 

Meskipun mengajukan pertanyaan yang sedemikian, si Putra Mahkota menyadari perbedaan yang teramat jauh terhadap kesehatan ayahandanya itu. Wajah sang penguasa memerah dan kini ia duduk bersandar disangga bantal. Suatu keadaan yang bertolak belakang dengan sebelumnya, yang mana lelaki setengah baya tersebut biasanya berwajah pucat dan hanya terbaring lemah. Suatu pemandangan yang tak pernah disaksikan selama beberapa tahun ke belakang.

“Siapakah sebenarnya jati diri tabib muda itu...?” aju Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II. 

“Angkang tak hendak membuka mulut akan jati diri tabib muda nan tampan...” Putra Mahkota menunjuk ke arah Kapten Sisinga. 

Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II mengamati putra pertamanya. Raut wajah dan hati yang keras, yang mengingatkan sebagaimana dirinya di masa muda dahulu. Menyadari akan kemiripan tersebut, sang penguasa tak hendak memaksakan jawaban. Bilamana Itubungna mau memberitahu, pastilah sudah ia sampaikan sedari awal. Pastinya ada alasan khusus yang mencegah serdadu setia itu untuk terus memendam rahasia. 

“Apakah gerangan tujuan Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II mengkehendaki kehadiran kami?” Kapten Sisinga mengalihkan pembicaraan. 

“Kuharap tindakanku tiada menyinggung perasaan dikau...”

“Menyinggung...?”

“Baru sehari berlalu sejak kepulangan Jenderal Keempat. Meskipun demikian, kita sudah memiliki calon pengganti...”

Kapten Sisinga dapat menekan keterkejutannya dengan baik. Ia tetap tampil tenang. Lagipula, bukanlah hal yang tak biasa bagi para serdadu untuk segera mendapat pengganti, bahkan untuk jabatan setaraf jenderal sekalipun. “Siapakah gerangan pengganti Jenderal Keempat...?”

“Ia akan tiba tak lama lagi...” 

Kapten Sisinga langsung dapat menyadari perilaku pejabat istana beberapa saat sebelumnya. Berbondong-bondong mereka datang menjemput calon jenderal baru. Tentu mereka berupaya untuk menarik simpati, karena pada akhirnya pejabat dan jenderal di dalam Kerajaan Garang harus dapat bekerja sama. Pejabat istana memiliki kehendak, jenderal besar yang bertindak. Bilamana tak terjalin keselarasan, maka tak akan ada hasil yang dicapai.

Pertanyaan terbesar, siapakah di antara pembesar di Kerajaan Garang yang akan mengambil alih jabatan Jenderal Keempat...?

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II...” Seorang lelaki setengah baya, yang menjabat sebagai Perdana Menteri, membungkukkan tubuh di pintu masuk ruang singasana. Ia didampingi oleh seorang ahli hampir seusia, lalu para pejabat lain mengekori. “Mohon kiranya kami dipersilakan masuk.” 

“Masuklah...,” Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II berujar sambil melambaikan tangan sebagai petanda memberi izin. 

Sang Perdana Menteri tercekat di tempat. Betapa terkejutnya ia menyaksikan sang penguasa menampilkan wajah segar sambil duduk bersandar. Selain itu, beliau dapat menggerakkan tangan dan bertitah mantap. Siapakah kiranya yang memberikan pengobatan...? Apakah tabib yang didatangkan oleh Kapten Sisinga!? 

“Yang Mulia Putra Mahkota...” Si Perdana Menteri menegur sembari menundukkan kepala. Akan tetapi, ia mengabaikan keberadaan Kapten Sisinga. 

Kapten Sisinga tiada merasa tersinggung. Benaknya sedang berkutat pada sosok lelaki setengah baya yang berada tepat di sebelah si Perdana Menteri. Seorang ahli yang terlihat perkasa dan kemungkinan besar berada pada Kasta Emas. Pembawaannya terkesan tenang, bahkan seolah tak hendak menarik perhatian. Keheranan muncul di benak Kapten Sisinga karena sepanjang hidupnya sebagai serdadu di Kerajaan Garang, tiada pernah sekalipun ia melihat, apalagi mengenal, sosok tersebut. 

“Siapakah gerangan yang datang bersama dikau, wahai Perdana Menteri...?” Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II mengajukan pertanyaan, yang sedianya menyeruak di dalam benak Kapten Sisinga. 

“Beliau adalah calon pengganti Jenderal Keempat, sebagaimana yang telah hamba sampaikan pagi ini...” Perdana Menteri tersenyum lepas, sambil menoleh ke samping. Tangannya mengisyaratkan agar tokoh tersebut memperkenalkan diri. 

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II, penguasa Kerajaan Garang, di Pulau Satu Garang...” Tokoh tersebut berujar pelan. Dari bahasa tubuhnya di kala menundukkan kepala, ia terlihat sangat canggung. Bahkan, terkesan seperti enggan memberi hormat.

“Perkenalkanlah diri dikau...” Sang penguasa mempersilakan.

“Hamba bernama Ogan Lemanta... berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang...”

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang!?” hardik si Putra Mahkota heran.

“Yang Terhormat Ogan Lemanta ini tadinya merupakan seorang Senopati yang menguasai salah satu benteng pertahanan di sempadan utara Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” sela si Perdana Menteri. “Akan tetapi, fitnah keji membuat beliau terpaksa angkat kaki dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kini, adalah dendam membara terhadap Kemaharajaan Cahaya Gemilang yang ada di dalam dirinya.”

“Apakah beliau yang hendak diangkat sebagai pengganti Jenderal Keempat...? Apakah tak ada ahli lain di dalam Kerajaan Garang yang lebih pantas akan jabatan tersebut?” Kini, adalah si Putera Mahkota yang menyuarakan isi hati Kapten Sisinga. 

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II serta Yang Mulia Putra Mahkota, janganlah bimbang lagi ragu bahwa Yang Terhormat Ogan Lemanta merupakan mata-mata. Diriku sudah mengerahkan sumber daya kita demi melakukan penelusuran akan jati diri beliau. Berdasarkan informasi dari berbagai pihak, adalah benar kejadiaan nahas yang menimpa Senopati Ogan Lemanta sehingga terpaksa beliau melarikan diri.”

“Engkau tidak menjawab pertanyaanku, wahai Perdana Menteri...,” lanjut Si Putra Mahkota. 

Raut wajah si Perdana Menteri sontak berubah. Dipertanyakan oleh si Putera Mahkota, yang seharusnya mendukung dirinya, membuat sedikit kesal. Meskipun demikian, sebagai abdi negara dan di depan Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II, ia tetap menjawab. “Yang Mulia Putera Mahkota, selama ini para jenderal besar diangkat dari dalam Kerajaan Garang. Oleh karena itu pula, kita memiliki keterbatasan dalam hal pemahaman terkait dunia luar. Adalah saran dari kami, segenap pejabat istana, untuk mengangkat seorang ahli dari luar demi mematangkandan memantapkan persiapan perang menghadapi Negeri Dua Samudera.” 

Kapten Sisinga menyimak dalam diam. Bukan tempatnya bagi seorang serdadu yang hanya menjabat sebagai kapten untuk ikut mempertanyakan. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hati, ia merasakan semacam kecemasan ketika mengamati tokoh Ogan Lemanta itu. Ada yang tak kena...

Jikalau Bintang Tenggara masih berada di dalam Istana Utama Kerajaan Garang, maka tentunya anak remaja itu dapat langsung membongkar kedok dari sosok yang sedang dicalonkan sebagai jenderal tersebut. Pertama, Senopati Ogan Lemanta yang asli berada pada Kasta Perak, bukan Kasta Emas. Kedua, Senopati Ogan Lemanta yang asli, sudah tobat dan saat ini kemungkinan besar telah mengungsi ke Pulau Dua Pongah. Ketiga, Balaputera Gara tak akan pernah lupa pada wajah bengis dari ahli yang pernah mengincar jiwanya! 

Lalu siapakah tokoh yang hadir di ruang singasana Kerajaan Garang ini...? Sebagai ahli ternama penuh wibawa di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, ia mampu menyegel mustikanya sendiri. Tindakan yang sedemikian ini merupakan kebiasan dari para bangsawan Wangsa Syailendra trah Balaputera di Kadatuan Kesembilan. Sebagai ahli nan digdaya, tentu ia dapat mempelajari dan meniru formasi segel yang dapat menyembunyikan Kasta Bumi menjadi Kasta Emas. 

Satu-satunya kesamaan dirinya dengan mantan Senopati Ogan Lemanta, adalah kenyataan bahwa mereka merupakan pelarian dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Walau, kejahatan dari Ogan Lemanta gadungan ini teramat besar hingga layak menerima siksaan puluhan tahun sebelum dijatuhkan hukuman mati!

“Baiklah,” jawab Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II. “Bersama dewan jenderal, diriku akan mempertimbangkan saran dari Perdana Menteri. Kami akan memberikan keputusan dalam waktu dekat.”


===


Bintang Tenggara melompat keluar dari dalam lorong dimensi ruang. Di kejauhan, sudut matanya menangkap keberadaan binatang siluman berwarna serba putih melompat-lompat gesit dan semakin menjauh. Tak hendak kehilangan jejak, ia pun segera mengejar.

“Hei! Siapakah engkau!?”

“Dia menyusup ke dalam gerbang dimensi tanpa izin!” 

“Tangkap!”

Jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana dikerahkan, terlihat jelas dari jalinan petir yang berderak dan membungkus di kedua kaki. Bintang Tenggara mengabaikan seruan-seruan yang ditujukan kepada dirinya. Si Kancil semakin jauh memisah jarak. Setiap detik sangatlah berharga dalam pengejaran ini. Bahkan, sejumlah petugas yang mengejar pun diabaikan saja. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang! Kecepatan lari unsur kesaktian petir dirasa kurang memadai. Dengan melakukan kombinasi terhadap jurus persilatan, anak remaja tersebut melipatgandakan kecepatan. Gerak tubuhnya sulit dicerna sebagai ahli Kasta Perunggu. Secepat kilat adalah ungkapan yang berubah makna menjadi harfiah di kala menyaksikan kecepatannya mengejar!

“Tunggu!” seru anak remaja tersebut. 

Si Kancil menoleh, dan mendapati pengejarnya memperpendek jarak. Oleh sebab itu, ia pun semakin mempercepat langkah. Kecepatan lari mereka kini terlihat setara. 

Satu jam berlalu, di mana kedua ahli, manusia dan binatang siluman telah meninggalkan wilayah kota dan kini membelah hutan lebat. Pohon besar-besar, menjulang tinggi seolah menyentuh angkasa raya. Baru sekarang Bintang Tenggara menyadari bahwa ia sama sekali tak tahu di mana mereka berada. 

“Heh... Kecepatanmu boleh juga, wahai anak manusia bebal...,” gumam Si Kancil. “Akan tetapi, aku mengenal wilayah ini... Salah satu tempat persinggahan Wira... Kau tak akan dapat mengejar!”

Di sisi belakang, Bintang Tenggara mengabaikan konsumsi tenaga dalam yang demikian cepatnya. Mengerahkan jurus kesaktian dan jurus persilatan secara bersamaan benar-benar menguras persediaan tenaga dalam di mustika. Akan tetapi, masih dapat ia mengenyampinkan hal tersebut. Menangkap Si Kancil memiliki arti yang teramat besar bagi kesembuhan tubuh sang Super Guru. 

Setengah hari berlalu sudah. Sang mentari mulai mencondongkan diri ke arah barat. Jarak yang memisahkan antara pemburu dan buruan terpaut sekira duapuluh langkah. Belum ada kemajuan berarti dalam pengejaran ini.

Hari beranjak malam. Tenaga dalam pada mustika di ulu hati semakin menipis. Bintang Tenggara tak bisa mengerahkan langkah berjingkat ala Babi Taring Hutan, karena saat ini dibutuhkan kecepatan maha dahsyat. Di saat yang sama, ia belum bisa mengerahkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin di kala merapal jurus lain. Lagipula, untuk melakukan penyerapan tenaga alam mengharuskan ia berdiam diri sejenak. Sungguh pengejaran demikian melelahkan. 

Di lain sisi, Si Kancil masih terlihat bertenaga. Sekali-sekala, sekujur tubuhnya berubah kembali berwarna coklat layaknya seekor kancil biasa. Bintang Tenggara menyadari bahwasanya binatang siluman tersebut tak dapat merapal jurus unsur kesaktiannya secara berlama-lama. Dari waktu ke waktu, terpaksa sang kancil kembali normal. Akan tetapi, mengapa masih belum terkejar juga binatang siluman itu!?

Tetiba Bintang Tenggara merasakan sesuatu menggeliat di permukaan mustika. Wajahnya anak remaja tersebut berubah kecut. Tidak! Jangan sekarang! pintanya dalam hati. 

Akar Bahar Laksamana terbangun dan mulai berbuat ulah! Ia berdenyut, dan mulai menyedot tenaga dalam! 

“Trak!” 

Kehilangan konsentrasi, kaki kanan Bintang Tenggara terkait di akar-akar besar pepohonan. Sontak anak termaja tersebut jatuh terguling-guling...

“Apakah gerangan ‘itu’, wahai...?” Tetiba Komodo Nagaradja menggerutu. 

“Sepertinya itu adalah ‘itu’...?” tanggap Gingseng Perkasa berupaya tampil tenang.

“Mengapakah bisa muncul ‘itu’...?” Komodo Nagaradja masih dapat mengendalikan diri. 

“Sungguh ‘itu’ sebuah teka-teki...”

Bintang Tenggara bangkit berdiri. Tak ada cedera berarti, hanya luka-luka goresan kecil karena kedua lengan dan kaki terlindung oleh Sisik Raja Naga yang sedang aktif. Namun demikian, ia mendapati keanehan di ulu hati. Bukan keanehan perilaku Akar Bahar Laksamana, melainkan keanehan pada mustika retak di ulu hatinya. 

Ketika memantau keadaan sekeliling, berharap akan menemukan jejak Si Kancil, muncul pula keanehan yang sangat menyita perhatian. Tak terlalu jauh, sekira sepuluh langkah ke arah samping, anak remaja itu menyaksikan sebuah lorong dimensi ruang yang membuka secara perlahan. Tak sampai di situ sahaja, lorong dimensi ruang itu seolah hendak menarik paksa tubuh masuk ke dalamnya.