Episode 30 - Tiga puluh



“Ra, jangan dilihatin terus!” bisik Rin.

Darra tersadar dan memalingkan wajahnya. Entah mengapa hatinya terasa hangat setelah melihat Dika berada di dalam kelas yang sama dengannya. Namun, kesenangannya itu hanya berlangsung sesaat. Karena kemudian dilihatnya tiga orang perempuan berjalan menuju ke arahnya sambil cekikikan dan masuk ke dalam kelasnya.

Ternyata Rin sama kagetnya dengan Darra. Mereka saling berpandangan.

“Kenapa kita bisa sekelas sama Vina juga, sih?” bisik Rin. Darra mengangkat bahunya. Mereka sama-sama melirik Vina dan kedua sahabatnya yang duduk di barisan kedua. 

Pelajaran pertama Bahasa Inggris. Karena belum ada buku paket pelajaran, jadi Bu Durlan hanya meminta mereka menuliskan kumpulan kata kerja yang mereka catat di bagian belakang buku tulis mereka selama kelas XI. Seperti biasa, Darra ditunjuk untuk menuliskannya di papan tulis. Untunglah Darra selalu mencatat kata-kata kerja itu sesuai yang diperintahkan, jadi ia tinggal menyalinnya di papan tulis.

Saat bel istirahat berbunyi, Darra sengaja berlama-lama merapikan bukunya. Ia mendongak saat Dika melewatinya. Namun, cowok itu terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa melirik Darra sedikit pun.

“Mungkin dia belum tahu kalau sekelas sama kamu,” kata Rin yang meminta Darra untuk menemaninya ke kantin.

Setelah mereka kembali, dilihatnya Dika dan teman-temannya sedang nongkrong di bangku di depan kelas. Anak-anak itu lebih nyaman berada di sana karena mereka berada di kelas paling ujung. Jadi mereka tidak akan mengganggu murid lain yang hendak lewat. Dika menoleh ke arah Darra dan Rin. Darra tahu Dika melihatnya masuk ke dalam kelas karena mereka sempat bertemu pandang. Namun, Dika memalingkan wajahnya dan kembali mengobrol dengan teman-temannya.

“Dika! Gue cariin di kantin, ternyata elo udah balik ke kelas!”

Darra menoleh. Rupanya Vina, Carla, dan Sheila berada di belakangnya. Mereka menghampiri Dika dan teman-temannya lalu ikut nongkrong di sana. Darra bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka dari mejanya. Vina dan Dika terdengar mengobrol, bahkan sesekali tertawa. Kenapa rasanya Darra tidak suka mendengarnya?

“Biarin aja. Nggak usah didengerin. Nanti kamu malah pusing sendiri,” hibur Maya.

Karena posisi Darra persis di dekat pintu, jadi mau tidak mau ia harus duduk menyamping agar bisa melihat guru yang mengajar. Hal itu membuatnya tanpa sadar sering melihat ke arah Dika duduk. Terkadang cowok itu duduk di sebelah pinggir, kadang di pojok. Kadang melihat ke arah guru dengan serius, kadang asyik mengerjakan sesuatu di bukunya.

Darra tahu ia tidak akan bisa berkonsentrasi dalam pelajaran jika ia terus melakukannya. Namun, Darra tidak bisa menahan dirinya. Darra menghela napas. Mungkinkah ini sebabnya murid sekolahan tidak boleh pacaran—terutama jika sekelas—dan perusahaan melarang sesama karyawan berpacaran? Karena fokus pada pelajaran dan pekerjaan mereka bisa teralihkan?

Setelah jam pelajaran hari itu berakhir, Darra, Rin, dan Maya turun bersama murid-murid yang lain. Rahmi sudah menunggu di dekat kelasnya. Darra melihat Agung dan Riya keluar dari kelas bersama. Rupanya sekarang mereka sekelas. Agung sempat menoleh ke arah Darra, tapi ia kembali memalingkan wajahnya ke arah Riya.

“Ra,” bisik Rahmi sambil menarik lengan Darra. “Kudengar anak-anak mau nengokin Abrar di rumah, lho.”

“Oh ya?” Darra berpikir sebentar. Belum ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Darra dan Abrar bersaudara, selain Rin, Maya, dan Rahmi. “Kalau gitu, aku main ke rumah kamu dulu, boleh?”

~***~

Sore itu Darra berjalan melewati depan rumahnya sambil mengawasi teras depan. Ia tidak melihat tumpukan sepatu atau motor teman-teman sekolahnya di sana. Apa mereka sudah pulang? Darra meneruskan langkahnya ke pintu samping lalu masuk melalui dapur dengan hati-hati. Bi Atun baru saja turun sambil membawa baki berisi gelas-gelas kosong. Selama Abrar sakit, Bi Atun memang berada di rumah untuk membantu keperluan Abrar. Karena Aline tidak ingin Darra mendekati kamar Abrar, apalagi bertemu dengan kakaknya itu.

“Teman-temannya Mas masih ada, Bi?” bisik Darra.

“Baru aja pulang, Mbak. Kira-kira lima menit yang lalu,” jawab Bi Atun sambil meletakkan gelas-gelas itu di wastafel.

“Sini, Bi. Biar saya bantuin,” kata Darra sambil meletakkan tasnya di lantai lalu menghampiri wastafel.

“Jangan, Mbak. Biar Bibi aja. Kan Mbak Darra baru pulang sekolah,” cegah Bi Atun.

“Tapi kan Bi Atun udah kerja seharian. Jadi biar saya yang gantiin.”

“Nggak usah, Mbak. Mendingan Mbak ganti baju terus makan.”

“Saya udah makan kok, Bi.”

“Ya udah. Kalau gitu, ganti baju terus istirahat. Mumpung Ibu lagi pergi. Nanti kalau Ibu udah pulang, Bibi kasih tahu.”

“Makasih ya, Bi,” ucap Darra sambil mengusap lengan Bi Atun. Ia memungut tasnya kemudian membawanya ke atas.

Begitu tiba di lantai dua, terdengar suara Abrar memanggilnya. Darra menoleh ke pintu kamar Abrar yang sedikit terbuka. Ia menghampiri kamar itu, tapi hanya berhenti sampai di depan kamar.

“Andarra, kamu masih di situ?” panggil Abrar.

Darra membuka pintu kamar Abrar dengan hati-hati. Abrar sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap ke arah pintu. Ia melambaikan tangan ke arah Darra untuk menyuruhnya masuk. Namun, Darra hanya berdiri di ambang pintu.

“Sini. Ada yang mau aku kasih ke kamu,” kata Abrar sambil bangkit dari tempat tidur.

Darra mengawasi Abrar yang berjalan menghampiri meja belajarnya. Dilihatnya Abrar mengambil satu pak buku tulis yang masih terbungkus rapi. Ia mengacungkan tumpukan buku itu ke arah Darra.

“Buat apa?” tanya Darra.

“Buat kamu,” jawab Abrar. “Kemari.”

Darra menghampiri Abrar dan menerima buku yang disodorkan. Kemudian Abrar mengambil satu pak lagi dan meletakkannya di atas tumpukan buku tadi.

“Aku tahu kamu suka belajar, jadi pasti butuh lebih banyak buku,” kata Abrar.

“Aku nggak terlalu suka belajar, kok,” gumam Darra. “Aku belajar kalau perlu aja.”

“Pokoknya, kalau masih kurang, kamu ambil dari sini aja. Nanti aku bisa beli lagi.”

Darra melirik Abrar kemudian menunduk. “Makasih.”

“Oh, iya. Besok aku udah mulai berangkat sekolah.”

Darra langsung menoleh ke arah Abrar. “Emang tangannya udah sembuh?”

“Belum, sih. Tapi selama tangan aku sakit, kamu harus bantuin aku mencatat pelajaran.”

“Tapi kita kan nggak sekelas.”

“Kita kan seangkatan. Masa bahan pelajarannya beda-beda?”

Darra menutup mulutnya. Benar juga. “Ya udah.”

Setelah itu Darra pergi ke ruangannya. Ia meletakkan tasnya dan mengeluarkan ponsel dari saku rok seragamnya. Rupanya ada satu pesan dari Dika.

An, kamu udah pulang? Aku ada di taman. Bisa ketemu?

Darra memandangi pesan itu. Selama di sekolah Dika mengabaikannya dan bersikap seolah Darra tidak ada di sana. Sekarang cowok itu ingin bertemu dengannya? Akhirnya Darra membalas pesan itu.

Aku udah pulang, tapi aku capek. Aku mau istirahat. Maaf.

~***~

“Arini, satu suara.”

Bu Tike, wali kelas XII Sos 3 sekaligus guru Sosiologi, meletakkan kertas voting terakhir lalu berbalik menghadap papan tulis. Ia mengawasi Carla yang sedang menghitung jumlah suara yang mereka dapatkan. Setelah beberapa hari sejak kenaikan kelas, akhirnya mereka melakukan pemilihan pengurus kelas. Darra terpilih menjadi salah satu kandidat lagi, termasuk Rin, karena mereka pernah menjadi sekertaris kelas sebelumnya. Kemudian kandidat lain adalah Vina, Carla, Rudi, dan Awi. Darra tidak mengharap banyak dari pemilihan ini. Bahkan ia berharap tidak perlu menjadi pengurus kelas lagi.

“Nah, dari perolehan terakhir, kita sudah mendapat hasilnya,” kata Bu Tike sambil berjalan menuju papan tulis lalu menuliskan hasilnya di sana. “Rudi sebagai ketua kelas, Awi sebagai wakil ketua, Vina sebagai sekertaris satu, Andarra sebagai sekertaris dua. Tapi karena Arini dan Carla mendapat jumlah suara yang sama, mereka sama-sama menjadi bendahara.”

Seluruh kelas bertepuk tangan. Darra menghela napas. Sama-sama menjadi sekertaris dengan Vina? Apa nantinya mereka tidak akan sering ribut, dan bukannya bekerja sama?

“Untuk sekertaris dan bendahara, pembagian tugasnya bisa kalian saling diskusikan, ya,” kata Bu Tike sambil duduk kembali di mejanya.

Setelah pelajaran berakhir, Bu Tike memberikan buku panjang berisi absen murid-murid kelas kepada Vina. Kemudian Vina menghampiri meja Darra.

“Ra, gue yang ngurusin absen, elo yang nulis buku jurnal kelas, ya. Untuk nulis di papan tulis, kita bisa gantian,” kata Vina. Kemudian ia menoleh ke arah Rin. “Rin, Carla bilang dia yang pegang laporan buku kas kelas. Tapi untuk iuran atau kalau ada sumbangan, elo yang nagih terus kasih ke Carla. Soalnya kalau nanti ada kekurangan uang, dia bisa bantu nutupin. Elo juga nggak mau kan tanggung jawab kalau ada apa-apa sama uang kelas?”

Vina langsung kembali ke mejanya tanpa menunggu jawaban Darra dan Rin. Rin langsung mencibir.

“Dia kira emangnya cuma dia yang punya uang?” sungut Rin. “Bagus, lah. Aku juga nggak mau kebanyakan tugas. Kalau cuma nagih-nagih sih gampang.”

Sepulang sekolah Rin mengajak Darra mengikuti ekskul mading atau majalah dinding bersamanya. Namun, Darra tidak suka mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu.

“Nggak susah, kok. Lagian, kita kan udah kelas Dua Belas. Jadi kita cuma ngawasin anggota baru aja, nggak perlu banyak tugas. Yang penting, bisa nambah nilai pelajaran Bahasa Indonesia,” bujuk Rin. “Ah, kalau kamu sih nggak perlu ditambahin, nilai kamu udah banyak. Terserah kamu, sih.”

Akhirnya Darra mengikuti Rin ke perpustakaan. Ternyata memang tidak banyak yang mereka lakukan di sana. Mereka hanya membahas tema tulisan yang akan dipasang setiap minggu. Anggota junior bertanggung jawab dalam membuat tulisan-tulisan tersebut, sementara anggota senior hanya membantu memberikan bimbingan.

Darra mengawasi Rin yang sedang mengobrol dengan Heri, salah satu anggota yang juga teman sekelas mereka. Rin dan Heri terlihat sangat akrab. Darra tidak tahu Rin juga dekat dengan laki-laki lain selain teman-temannya Emil. Bahkan Heri mengajak Rin pulang bersama, karena mereka searah jika berjalan kaki.

“Wah, gue nggak bisa. Udah janjian,” tolak Rin.

Saat mereka keluar dari sekolah, rupanya Emil masih menunggu di depan gerbang sendirian. Teman-temannya yang lain sudah pulang, termasuk Agung yang membawa motor Abrar untuk mengantarnya pulang karena tangannya masih belum sembuh.

“Kamu nggak apa-apa pulang sendiri? Udah sore begini,” tanya Rin pada Darra.

“Nggak apa-apa,” jawab Darra sambil melambaikan tangan pada Rin dan Emil.

Darra melangkahkan kakinya berbelok ke arah berlawanan dengan kedua temannya itu. Begitu berbelok ke gang, Darra mendongak dan langkahnya terhenti begitu melihat seorang cowok berjaket hijau lumut sedang duduk di atas motornya. Darra baru saja hendak berbalik pergi, kalau saja cowok itu tidak melihat dan melambaikan tangan ke arahnya. Jadi Darra meneruskan langkahnya.

“Aku kira kamu pulang naik bis,” kata Dika begitu Darra berhenti di depannya.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Darra.

“Nunggu kamu. Aku dengar Emil nungguin Rin ekskul mading bareng kamu.”

“Kenapa kamu nungguin aku? Aku kira kamu nggak ingat kalau aku satu sekolah sama kamu.”

Dika tertawa. “Kok kamu ngambek, sih?” Kemudian ia mendekat ke arah Darra lalu berbisik. “Aku kangen sama kamu.”