Episode 88 - Tahun Pasti Silih Berganti (2)



“Gimana caranya mengetahui hati perempuan?”

“Mm, aku bisa pesankan buku berjudul “how to know woman’s heart” untukmu. Tapi isi buku itu semuanya kosong. Jadi, aku sendiri ga tahu gimana caranya.”

Dua pemuda itu saling bertatapan dan bertanya pada diri mereka sendiri, apa yang seharusnya mereka lakukan.

“Woi, jangan mulai berfilosifi. Kita disini buat kumpul dan senang-senang.”

“Tapi temanya bukannya untuk mendekatkan diri satu sama lain.”

“Iya juga deng. Tapi jangan bawa masalah rumit kaya begitu dah. Lagipun pertanyaanmu ambigu banget.”

“Ambigu, ya.”

“Cuk, dia lagi ada masalah, kau bantu kami kek.”

“Gimana mau bantu cuk, aku sendiri juga ga tahu gimana caranya kita bisa mengetahui hati seorang perempuan.”

Tiga pemuda itu benar-benar dalam batas. Mereka pun memberikan pandangan seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya ke arah pria sejati yang mereka akui.

“Kenapa pada ngeliatin aku woi.”

“Kau kan udah alamin kehidupan pernikahan selama satu setengah tahun, adik ipar. Setidaknya berikan beberapa pendapat untuk pemuda-pemuda lajang seperti kami.”

“Matamu cuk, lajang. Kau sendiri udah legal dengan kak Eruin masih anggap diri lajang.”

“Ya, matamu cuk.”

Bagas sedikit merasa kesal dengan kedua temannya, terutama pada Rian yang terasa memaksa untuk mengejeknya.

“He, gini ya, gue ini literally masih 18, dan yaaa, actually belum dewasa kan. Masih termasuk teenager gitu kan. Jadi yaa – “ 

Plak!

Suara tamparan yang cukup keras baru saja melayang ke pipi Bagas.

“Iuw.”

Itu berasal dari Beni yang merasa jijik karena tingkahnya barusan.

“Dewasa karna umur. Kupikir kau harus koreksi itu, Gas.”

“Iya-iya, aku tau kok. Tapi ya, dalam diriku ini masih ada, tersisa darah muda, seperti kalian. Walaupun aku ga perjaka lagi sih, haha.. ha – “

Untuk kesekian kali, Bagas mencoba membuat candaan. Namun candaan itu mengundang dua bogem mentah dari dua sahabatnya.

“Hahaha.. aku ingat sewaktu aku masih di Oxford. Aku dan teman-temanku membicarakan soal keperjakaan, dan saat itu cuma aku sendiri yang masih.”

Entahlah apa yang sedang dicoba disampaikan oleh Elang, tetapi dia masuk ke dalam kelompok Beni dan Rian.

“WOI!”

---

“Laki-laki sedang apa sih di sana, kok kayanya seru.”

Di sisi lain, berkumpul empat pasangan, kecuali milik Elang, untuk saling mendekatkan diri.

“Tapi kok mereka ngarahin bogem mentah ke Aska?”

Eruin tampak khawatir. Halva, yang baru saja mendengar sesuatu yang menarik memutar kepalanya secepat kilat. Itu benar-benar mengejutkan.

“Kamu tadi panggil siapa, Eruin?”

“Aska?”

“Aska untuk, Askara?”

“Y-ya.”

“Ou. Hm.”

Memangnya apa yang salah dengan itu, Eruin sedikit bingung dengan reaksi Halva.

“Apa kamu tahu nama lengkap Beni?”

“Eh.. ehh... maaf. Apa kamu sendiri ga tahu?”

 “Enggak. Dua bulan kami menjalani hubungan ini, dan aku sama sekali belum mengetahui nama lengkapnya.”

Itu cukup mengejutkan.

“Beebb!”

Halva spontan melompat dan berlari ke arah Beni. Beni yang diincar merasa terancam dan bersiap-siap untuk situasi apapun yang akan dihadapinya.

“Gadis yang aneh.”

Eruin masih terfokus pada Halva, dan tiba-tiba saja seseorang mengejutkannya dari samping. 

Itu adalah Ani, dengan tatapan tajam yang memperlihatkan kelembutan seperti biasa.

“Apa kamu pikir begitu?”

“Ya, dan anehnya dia hampir mirip dengan bocah heterochromia yang pernah kukenal dulu.”

Eruin terkejut dengan maksud Ani barusan. Dia memang tak terlalu mengenal Bagas kecil, dan dia hanya memiliki satu momen singkat dengannya. Satu momen singkat yang membawa mereka pada momen itu.

“Apa.. kalau mendiang ayah masih ada, apakah Bagas akan masih seperti dulu lagi ya?”

“Tidak.”

Jawaban singkat itu mengejutkani Eruin. Tetapi yang datang selanjutnya adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban lainnya.

“Dia akan menjadi dewasa. Melihat kalau orang lain disekitarnya lebih baik atau lebih buruk. Dia akan belajar untuk menghadapi suatu krisis. Dan terus menjadi orang yang sama, bukanlah pilihan yang tepat untuk tumbuh dewasa.”

Eruin membalas senyuman yang indah merekah atas niat baik Ani. 

“Menjadi orang yang sama bukanlah sebuah pilihan. Dunia akan terus memutar tubuhnya, dan yang harus kita lakukan adalah mengikutinya dengan kaki kita sendiri, atau kita terseret oleh rantai kehidupan yang akan terasa sangat tak menyenangkan.”

***

Itu bertempat di lapangan serba guna desa. Sangat ramai. Hampir seluruh orang berkumpul di situ. Namun tak terlalu sempit karena ukuran lapangan dapat menampung tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah masyarakat saat itu.

Suasana begitu menyenangkan. Semua orang berbincang. Semua orang tertawa. Semua orang merasa bahagia. Dan hal itu akan selalu terjadi setiap tahun baru menjelang. 

Di dalam kumpulan kebahagiaan itu, dua pemuda sedang mulai mendekatkan diri mereka kembali setelah sekian lama.

“Apa kau masih ga terbiasa sama suasana kaya gini?”

“Enggak.”

“Kalau gitu pergi.”

“Enggak mau.”

“Kenapa?”

“Entar aku ketinggalan makan lele panggangnya.”

“Tapi itu masih... sekitar dua jam lagi.”

Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dari semua teman laki-laki yang mereka punya, yang lainnya sibuk dengan bernyanyi atau menari di tengah api unggun yang mereka buat. Tetapi dua pemuda itu malah menarik kayu balok, kursi mereka ke belakang dan melihat kesenangan dari tempat yang cukup jauh.

“Liat si markucuk. Nari-nari kaya orang kerusupan begitu.”

“Kau ga mau gabung dia. Kalau soal kegilaan kan harusnya kau yang paling terbaik dalam melakukannya.”

“Enak aja. Kalau kau mau panggil aku gila, panggil aku gila saat aku benar-benar melakukan suatu hal yang gila. Tapi tidak kegilaan kaya satu itu.” 

“Memangnya apa yang buat kegilaanmu dan dia berbeda?”

“Jadi gini, lek.”

Mereka benar-benar kurang kerjaan. Memisahkan diri dari kerumunan. Dan malah memulai perdebatan di belakang.

“Kalau kau mau tau tingkat gilaku itu kaya apa...”

“Enggak.”

“Ha?”

“Aku ga mau dengar.”

Bagas akan terus memaksa Rian utnuk mendengarkannya.

“Dengerin, dan pahamin. Oke.”

“...”

“Level kegilaanku itu, yaaa, sedikit ke arah mad-scientis gitu.”

“Oh jadi kau berencana untuk buat robot raksasa, atau virus zombie, atau gen manusia baru gitu.”

“Hm, gen gadis bertelinga kucing.”

Itu sedikit tidak tepat. Tetapi Bagas tak menutup kemungkinan kalau dia akan menjadi salah satu dari apa yang disebut Rian barusan.

“Enggak-enggak. Gini. Kau tahu, apa yang membuatku terkesima di dunia ini.”

Rian tak mau menjawab. Karena si bodoh satu itu benar-benar tak bisa diprediksi.

“Itu adalah, creation of the world.”

Rian mencoba memahami untuk ketiga kalinya, maksud dari perkataan sahabatnya barusan, atau dia memang tidak salah mendengar, kalau sahabatnya sedang membicarakan soal ‘penciptaan dunia’?

“Bisa kau bayangkan. Kalau di dalam dunia kita bisa menciptakan dunia lagi.”

Yep, itu terdengar gila. Dan sahabatnya benar-benar gila. Di tingkatan yang berbeda tentu saja.

 “Maksudmu kau mau jadi seorang kreator cerita, atau game, atau apalah gitu?”

“Haha.”

“WOE, LAGI BICARAIN APA KALIAN!”

Sahabat mereka yang sebelumnya sedang berjoget ria datang dengan niat yang sangat jahat.

“Buset! Aku cuma mau ajak kalian balik!”

“Bisa kau pergi dan lakuin jogetan ria yang sangat menyenangkanmu tadi.”

“Eh cuk, kau juga, kau juga, kalian berdua juga harusnya ikut dong! Katanya kita best friend , jadi kalau ada apa-apa harus bareng dong!”

Beni benar-benar menuntut keikut sertaan dua sahabat malasnya. Di sisi lain, Bagas dan Rian akan terus mempertahankan posisi mereka.

“Apa itu best friend, ceng? Apa itu adalah suatu makna dari adegan bodoh yang harus kau lakukan dengan sahabatmu kaya tadi?”

“Eh, lek, kok perkataanmu menyakiti hatiku ya.”

Beni menyerah dengan membujuk mereka, dan langsung memulai aksi daripada terus berbasa-basi. 

“Ayo, sahabatku. Kita bisa lewati malam ini bersama. Bersatu kita teguh...”

Beni mengulurkan kedua tangannya untuk masing-masing sahabatnya. Itu terlihat seperti adegan yang menyentuh bila dilihat oleh orang lain. Tetapi tidak untuk mereka.

“Bercerai kita ke KUA.”

“Arrggghh!”

Kita bisa tebak siapa yang membuat lelucon itu.

Beni mengganti cara bujukannya menjadi sedikit kasar.

Dia berjalan ke posisi belakang dua sahabatnya, membuka tangannya lebar-lebar, dan memberikan pelukan lembut tepat di leher.

“Yok.”

Dia berusaha mendorong, tetapi dua sahabatnya benar-benar menolak. Salah satunya bahkan menggigit tangannya.

“ADOOHH!”

Mereka benar-benar keras kepala. Dan Beni bukan solusi yang tepat untuk berhadapan dengan mereka. 

“Hah! Cupu.”

Beni pergi meninggalkan mereka, lalu mendatangkan solusi yang sangat efektif untuk membuat dua pemuda itu bergerak.

Eruin datang ke Bagas. Mengulurkan tangan sambil tersenyum lembut meminta tolong.

Euis datang ke Rian. Dengan mata berkerut dan ekspresi tidak percaya dan melipat kedua tangannya di depan.

---

“Hahaha!”

Ketika tak ada yang mau mempercayai kebenaran yang dia katakan. Dia pasti yang akan tertawa paling keras saat kejadian itu terjadi. Terdengar seperti karakter antagonis, dan Beni sedang dalam kesenganan itu sekarang.

“Bagaimana rasanya?”

“Manis.”

“Bukan minumannya, su.”

Bagas dan Rian berakhir berkumpul bersama orang-orang yang ada di kelompok mereka. Salah satunya adalah pasangan yang dulunya pernah masuk scene bersama Beni, Bagas lupa nama mareka dan dia terlalu malas untuk bertanya.

“Jadi, kapan kita manggang ikannya?’

“45 menit 12 detik lagi.”

“Cuk, joget-joget kaya tadi sampe 45 menit cepetan.”

“Woe jancuk! Enak aja. Gantian dong!”

Tiga sahabat itu benar-benar tak bisa lepas dari pertengkaran. Namun pertengkaran ringan itu menjadi bukti kalau mereka benar-benar akrab. Tak terlihat ada satupun rasa benci atau apapun yang tertanam di hati mereka.

“Jangan biarkan Bagas joget atau apapun mengenai hal seperti itu.”

Halva terdengar serius. Dia bahkan memasang wajah serius yang Bagas tahu itu akan berakhir buruk untuknya.

“Memangnya kenapa, Kak Halva?”

“Jangan. Pokoknya jangan.”

Halva semakin serius dan serius. Dia berwajah serius sambil menatap Bagas dengan tatapan serius. Tatapan serius lain datang pada Bagas. Bahkan dari Eruin sekalipun.

“Hm. Kalian memang benar-benar mau melihatnya? Hm.”

---

Jam dua belas malam. Tepat di waktu tahun baru datang menggantikan tahun sebelumnya. 

“Ina.”

“Hm?”

“Apa kau senang berada di suasana seperti...”

Bagas dan Eruin berjalan pulang. Dan di tengah perjalanan, ada sebuah perasaan yang mengganjal hati Bagas. Hal itu juga berefek pada Eruin selaku belahan hatinya.

“Aku...”

“Aku bahagia.”

Bagas terlihat sedang putus asa pada sesuatu. Menolak untuk mengetahui, Eruin membuat Bagas untuk membiarkan perasaan negatifnya lewat dan digantikan dengan perasaan baru yang bisa membuatnya bahagia.

“Aku sangat bahagia bisa melihat kamu tersenyum lagi.”

Bagas benar-benar terkejut. Itu adalah yang kesekian kalinya Eruin menyelamatkannya. Dan dia benar-benar bersyukur, kalau dia kembali mendapatkan cahaya di dalam gelap hatinya.