Episode 75 - Crystal Communicator



“Jadi seperti itu wajahnya, jadi seperti itu rupanya... aku ingat sekarang, aku ingat sekarang.” kata Alzen yang dalam sekejap mengeluarkan air mata. “Ka-kak Neil, bo-boleh aku pinjam bukunya nanti?”

“Hee? Kau yakin, isinya panduan resep-resep dan filosofi Alchemy saja loh, agak membosankan buat yang tidak tertarik dengan Alchemy.”

Alzen geleng-geleng kepala. “Hmph!” ucapnya dengan tersenyum. “Tidak apa-apa, aku akan baca semuanya nanti.”

“Oke tidak masalah, nih.” Neil memberikan buku tebal nan tua itu. “Tapi balikin ya, ini buku langka, tidak ada dimanapun di Azuria.”

Alzen tersenyum kemudian mengangguk, menyanggupi syarat kecil itu dengan segera. “Baik!”

“Kenapa kamu tiba-tiba nangis? Apa katamu tadi, ibu? Memangnya kenapa dengan ibumu?”

Alzen geleng-geleng kepala lalu dengan segera mengusap air matanya dengan baju. “Tidak, tidak apa-apa kok. Ayo kita bahas soal CC.”

“Ahh... kau buat aku jadi penasaran. Tapi yasudah, privasimu. Aku tak berhak memaksamu bercerita.” Neil berjalan ke sofa rumahnya. “Nah duduk, duduk.”

Sambil menggenggam erat buku itu, Alzen duduk kembali.

“Ahh begini, kemarin kamu sudah dengar diskusiku dengan Alex kan?” tanya Neil.

Alzen menggangguk, “Iya. Aku dengar.”

“Tapi kemarin aku belum sempat menanyakan pendapat, nah dari kamu sendiri dulu. Apakah kamu setuju dengan ide bahwa kemampuan CC bisa dimiliki semua orang termasuk yang tidak bisa sihir alias orang-orang yang bukan pengguna Aura. Bagaimana menurutmu?”

“Ahh aku setuju, tapi kekhawatiran pak Vlau adalah negara yang mampu merealisasikan hal itu adalah Marchestast Empire dimana dari negara itulah senjata antara aliansi besar di Azuria disediakan.”

“Wah, kamu cepat mengerti juga ya.” Neil membungkuk dengan dagu menempel tangan kanan yang jari-jarinya bergerak-gerak di mulutnya dan sikutnya bersandar pada lutu kakinya. “Terus-terus.”

“Memang menurutku CC tidak akan jadi senjata, tapi dengan fungsi yang seperti itu. Selain memang pasti akan digunakan dalam perang nantinya, tapi efek buat orang-orang biasa juga bakal luar biasa. Aku sangat setuju dengan manfaatnya.”

“Nah benarkan. Masa kita saja para penyihir yang bisa berkomunikasi jarak jauh seperti itu.”

“Tapi kekhawatiran pak Vlau dengan andilnya benda ini dalam perang adalah penghalang untuk kita meyakinkan dirinya. Bahwa manfaatnya akan jauh lebih besar ketimbang efek sampingnya. Satu informasi yang belum ketahui, memangnya dulu ada kerja sama apa dengan Marchestast Empire yang membuat pak Vlau jadi antisipasi lagi menyetujui ide mereka?”

“Uhmm soal itu, penemuan yang dulu dijanjikan mereka, orang-orang Marchestast akan membantu pekerjaan rakyat biasa. Namun ujung-ujungnya malah dipakai sebagai senjata perang adalah, alat-alat sihir itu sendiri.”

“Hah? Alat-alat sihir? Berarti semuanya dong.”

“Uhm, mungkin itu bukan kata yang tepat. Lebih ke suatu benda yang ditanamkan oleh sebuah sihir elemental dari pengguna Aura tipe Enhancer. Orang-orang dengan kemampuan seperti ini biasa disebut Enchanter.”

Alzen garuk-garuk kepala.

“Kau belum pernah melihat Enchanter pasti ya. Misal sebuah Scroll sihir yang jika di isi suatu Aura dari seorang Enchanter, maka Scroll yang tadinya hanya kertas biasa itu akan bisa mengeluarkan sihir seperti yang ditanam soerang Enchanter.” Neil kemudian mengacak-acak rambutnya. “Ahh penjelaskanku ribet sekali.” 

“Aku mengerti, aku mengerti. Aku pernah baca tentang kemampuan itu di buku.” Kata Alzen dengan tangan di dagu. “Lalu hubungannya dengan kesepakatan itu.”

“Awalnya Marchestast disetujui karena alasannya untuk memproteksi orang-orang yang tak bisa menggunakan aura dari penjahat-penjahat yang bisa menggunakan Aura. Niatnya baik kan? Tapi bertahun-tahun kemudian Marchestast menemukan polanya sendiri, ia tak lagi butuh seorang Enchanter dan mampu memproduksi senjata sihir dengan teknologi mereka tanpa perlu seorang penyihir. Dan senjata itu sangat mematikan, di produksi massal dan malah jadi komoditas perang North Azuria saat ini.”

“Pantas saja, jadi seperti itu.”

“Tapi jelas kita tak boleh menyerah! Pak Vlau harus dibuat setuju apapun caranya. Memang apa salahnya orang yang tidak bisa sihir juga bisa berkomunikasi jarak jauh.”

“Tapi sudut pandang pak Vlau tidak seperti itu.”

“Jadi,” tegas Neil. “Apa kau punya ide bagaimana mengubah pikiran pak Vlau?”

“Saat ini sih belum, yang aku pikirkan adalah kita harus bicara dengan berkali-kali. Tanpa membuatnya dipaksa seperti yang dilakukan orang-orang Marchestast padanya.”

“Benar! Aku setuju,” respon Neil. “Oke setiap harinya kita akan ke ruangannya untuk bicara dengannya, sampai ide kita diterima.”

Alzen mengangguk, “Hmph!”

***

Malam hari di dorm Alzen dan Chandra, 

“Loh? Si Alzen masih belum balik juga?” pikir Chandra selagi berdiri dengan gerak untuk mencoba sihir penyembuhan elemen air, yang tak kunjung ia kuasai. Dengan buku tebal yang sedari kemarin ia baca tergeletak terbuka di meja belajarnya. “Sejak beda kelas, dia jadi sering telat pulang ya, dan aku tak tahu dia kemana.” 

“Ahh... lupakan! Lupakan!” Chandra mengacak-acak rambutnya. “Terserah dia dong mau kemana, aku harus fokus pada ini. Demi kampung halamanku.”

Meski belum bisa bisa juga ia tak menyerah. Ia malah tersenyum dalam keringat mengingat bahwa ada harapan baginya untuk bisa.

***

Sekitar hampir tengah malam, Alzen kembali dari rumah Neil dan sedikit-sedikit membuka bukanya halaman demi halaman. Karena di jalan sangat gelap. Alzen memberikan penerangan melalui sihir api setitik di ujung telunjuk tangan kirinya.

Slek, slek... Slek...

Alzen membacanya halaman demi halaman, kalimat per kalimat, kata per kata tak ada satupun yang ia lewatkan.

“Benar kata kak Neil, isinya hanya panduan resep Alchemy dan benar aku tak terlalu memahaminya.” kata Alzen dalam hati selagi berjalan sambil membaca. “Rangkaian tulisannya seperti resep memasak dan penjelasannya detail sekali. Dan sebagian besar buku ini menjelaskan tentang potion dengan beragam fungsi. Apa ayah benar-benar Alchemist yang hebat ya?”

Alzen terus berjalan sambil membaca, dan sampai beberapa menit ia tiba-tiba menutup bukunya. 

Puk!

“Sudah dulu deh, nanti aku baca lagi di kamar. Sebagian besar isi bukunya adalah tentang Alchemy.” pikir Alzen, kemudian ia tersenyum. “Tapi aku senang sekaligus agak miris. Satu lagi hal-hal mengenai ayahku terbuka di sini. Tapi lagi-lagi datangnya bukan dari ayah sendiri. Melainkan orang-orang yang kenal ayah, atau sekedar mengagumi karyanya.”

Alzen kembali membuka bukunya, tapi dari halaman paling belakang.

“Tapi aku senang, bisa ingat kembali wajah ibuku.” Alzen tersenyum memandang foto orang tuanya, Kildamash muda duduk di sebuah kursi besar dan ibu Alzen merangkulnya dari belakang. “Ohh jadi ini ayah waktu masih muda, haha dia sudah kelihatan nerd dari awal ya. Dan ibu...rambutnya panjang, agak bergelombang, warna rambutnya mirip seperti Fia. Cantik sekali... namanya, namanya... Crystalia Franquille.” kemudian Alzen memegangi dahinya, “Ahh sial, bahkan namanya pun aku sudah lupa, tapi selanjutnya apa ya? Selanjutnya apa, aku tak ingat lagi...”

***

Malam harinya, Alzen baru sampai di kamarnya dan mendapati Chandra sudah tertidur lelap dengan mengorok di ranjangnya. Badannya berkeringat sekali.

Alzen tersenyum melihat Chandra seperti. “Kau pasti berjuang keras sekali ya, demi kampung halamanmu.”

Kemudian Alzen menaruh bukunya di meja belajar yang sama dengan Chandra lalu berjam-jam membaca buku itu hingga ia mengantuk.

Saat ketiduran di atas meja belajar, Alzen bermimpi.

Alzen mengedipkan matanya dan melihat Richard, pelayan rumah keluarga Hael membicarakan tentang ayahnya lagi. Kemudian gambar berubah menjadi seorang Kildamash dengan berbagai penghargaan di rumahnya yang dulu.

“Jadi itu benar, ayah... seorang Alchemist hebat dulunya. Tapi itu kapan? Ketika aku masih balita ya...” 

Alzen membayangkan masa-masa itu lagi, saat dirinya masih sebesar anak bayi yang baru bisa berjalan dengan merangkak.

“Dan itu dimana? Bukan di Azuria ya,”

Alzen melihat rumahnya yang dulu, sangat besar, sangat makmur dan tinggal di golongan kaum kelas atas di sebuah kota besar dengan bangunan-bangunan terbuat dari batu. Yang jauh lebih modern dari apapun yang pernah liat selama ini.

“Melainkan... di benua lain... namanya, uhmm namanya...”

Alzen mencoba mengingat-ingat.

“El, Ell... Elleon, benua Elleon. Aku berasal dari sana, waktu kecil aku tinggal disana.“

“Tapi, kenapa aku bisa ada disini? Di Azuria...”

“Ahh aku ingat, pak Richard pernah bilang usaha ayah, toko Alchemy ayah dibakar oleh pemerintah, aku ingat itu.”

Alzen membayangkan hari itu seolah terjadi lagi di dalam pikirannya. Orang-orang beramai-ramai menimpuki botol kaca yang ketika pecah karena benturan akan meledak dan menjalarkan api. 

“Tapi kenapa mereka melakukannya? Kenapa?”

“Kemudian yang aku ingat, kita pindah kesini.”

Alzen teringat dulunya kedua orang tuanya membawanya dengan tergesa-gesa menaiki kapal, ia tak begitu mengerti apa yang terjadi pada saat itu, mereka diperlakukan seperti buronan yang melarikan diri.

Lalu mereka menempuh perjalanan panjang di kapal dan tiba disini.

“Ke benua Azuria ini.”

“Waktu itu masih ada ayah, dan ibu juga... kita bertiga sampai di Azuria. Tapi habis itu, setelah itu...”

Pandangan Alzen semakin kabur dan perlahan-lahan berubah menjadi gelap lulu.

“Hwah!” Alzen kaget lalu terbangun.

“Hah... hah...” Alzen menarik nafas. “Ternyata cuma mimpi.”

***

Pagi berikutnya di kelas Ventus. Saat murid-murid bersiap masuk ke kelas Ranni sudah berpamitan dengan instuktur kelas Ventus, Aeros.

“Pak Aeros, terima kasih atas pelajarannya, aku merasa sudah cukup dan sebaiknya aku kembali ke kelas pak Lasius.” kata Ranni. “Apa aku diizinkan?”

“Ohh tentu saja, kita di Vheins mengedapankan niat masing-masing pelajar yang tentu saja berbeda-beda, jika ketertarikanmu sekarang di ignis lagi ya silahkan saja. Aku tak akan mempersulitnya.”

Ranni mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih pak.”

Kemudian ia pergi ke kelas Ignis.

Nirn mendengar itu dari jauh dan dibuat kecewa. “Uhmm, dia pasti sudah mau pindah ya.” Katanya dengan nada kecewa. 

Meski tak mendengar dengan jelas, tapi Ranni yang keluar kelas saat seluruh murid lain masuk dapat diartikan ia sudah tidak belajar di kelas ini lagi dan itu adalah hal yang wajar, banyak dari pelajar Vheins bergonta-gati kelas untuk mempelajari apa yang ia butuh atau ingin pelajari disini. Tapi meski begitu, komunitas utama mereka akan tetap sampai mereka lulus di kelas yang pertama kali mereka pilih.

***

Di kelas Fragor, Alzen menyimak pelajaran seperti biasa. Dari hari kehari pelajarannya berupa materi yang harus disiapkan untuk ujian menjelajahi dungeon nanti. 

“Duh... setiap hari belajar denjan-denjen, denjan-denjen. Kapan sih kita kesana.” kata Fhonia yang mengeluh sambil berbaring di mejanya dengan tatapan tak bersemangat.

“Sabar, minggu depan kan sudah, Fhonia.” balas Iris di sampingnya dengan suara kecil. “Kita harus siap-siap dari sekarang.”

“Aku sudah siap! Dan ingin tahu dungeon itu tempat kayak apa sih...” balas Fhonia sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang baru tidur. “Sepertinya berbabaya.”

Dan setiap kelas mengajarkan materi yang sama dengan pendekatan yang berbeda-beda dari fungsi terbaik masing-masing elemen mereka.


***

Di kelas Ignis, Ranni kembali dan duduk di samping Lio.

Lio yang gembira melihat salah satu teman dekatnya kembali langsung menyambut Ranni dengan sukacita.

“Woah... kau kembali.”

“Lio, aku mau bicarakan sesuatu.” balas Ranni tanpa basa-basi. “Tidak kusangka-sangka efek dreamcatcher Nicholas akan membantuku sampai sejauh ini. Kau dulu juga menanyakan hal yang sama kan?”

“Iya,” angguk Lio. “Setelah kau ceritakan, aku segera menemui Nicholas empat mata dan pergi ke tempat yang tak ada orang, aku jelaskan situasinya, aku minta ia meng-cast sihir jahat itu padaku dan...”

“Dan apa?!” paksa Ranni.

“Dan, semua memori lamaku, hal-hal buruk itu, yang sudah aku lupa teringat lagi. Tak bisa kuceritakan detailnya, Tapi aku lega sudah mengingatnya lagi.”

“Begitukah!?” Ranni terkejut dengan apa yang dikatakan Lio. “Aku juga!”

“Dan karenanya kamu ke Ventus?”

Ranni mengangguk. “Ya! Kita harus bicarakan ini lagi dengan Nicholas. Kapan kau ada waktu menemuinya?”

“Malam ini oke?”

Ranni menggangguk lagi, menyanggupinya.

“Oke!” sahut Lasius. “Sekitar seminggu lagi kita akan ujian menjelajahi dungeon, seperti biasa. Ayo kita keluar.”

“Huhuhu...” Lio seperti mau menangis, “Aku lihat yang tak pernah belajar di kelas cuma kelas ini doang deh, kelasmu di Ventus tidak pernah keluar-keluar kan?”

Ranni tertawa geli, “Typical guru kita kan?” tanyanya dengan tersenyum. “Ayo keluar, Lio.”

“Kok, kamu bisa dengan senang hati begitu sih.” Lio tak habis pikir.

Ranni dan Lasius menghindari kontak mata, seolah memang tak pernah terjadi apa-apa di hari-hari sebelumnya. Dan pelajaran berjalan tanpa ada fokus Lasius pada salah seorang murid.

***

Pelajaran selesai, dan malam harinya. Setiap hari mereka belajar dari pagi hingga matahari terbenam. Hanya hari minggu mereka libur. Jadi hanya saat malam mereka boleh beraktifas selain belajar.

Lalu jam 7 malam di dorm pria.

“Kau yakin ini dormnya?” bisik Ranni pada Lio di sampingnya.

“Harusnya,” jawab Lio yang agak ragu-ragu. “Kamu tak boleh kemalaman disini karena kamu wanita.”

“Iya... aku hanya bilang terima kasih padanya.”

Lalu tiba-tiba pintu terbuka dengan hingga membentur tembok. 

“Brisik, mau apa kalian sampah-sampah!” sahut Nicholas keras-keras.

“Huwaaa!!?”

“Huwaaaaaa!!?”

Mereka berdua kaget bersamaan.

“Kamu berisik tahu.”

“Ahh begini Nicholas, kita cuma ingin...”

Nicholas melipat tangannya dan bersandar di pinggir pintu dengan angkuh. “Ingin apa? Dasar sampah-sampah.”

“Ugh orang ini.” Ranni berusaha menahan diri lalu mengelus dadanya untuk tidak memasukkan kata-kata merendahkan Nicholas ke dalam hati.

“Ohh jadi seperti itu kamar dorm mu?” Lio yang tak sengaja mengintip kamar di belakang Nicholas segera memberi komentar. “Gothic sekali ya... serba hitam begitu.”

“Kenapa? Apa masalahmu? Kau tidak suka?”

“Minggir-minggir.” Lio langsung seketika menyeka Nicholas dan secara sembarang masuk ke kamar Nicholas. 

“Hei! Ini kamarku keluar sana!”

Lio seolah tak mempedulikannya dan masuk lebih dalam. “Woah apa-apaan kamarmu ini, seperti dracula saja. Buku hitam, tirai hitam, kasur hitam dan selimut hitam. Kurang peti mati saja nih, ahh kamu sangat menjiwai ya...”

“Grr...” Nicholas langsung dibuat kesal. “Cepat keluar!” 

“Nicholas, kami kesini ingin mengucapkan terima kasih padamu.” sambung Ranni.

“Terima kasih untuk apa? Cepat pergi!” Nicholas mengusirnya.

“Karena sihir dreamcatchermu itu, Aku dapat mengingat hal yang telah lama aku lupa. Kini aku bisa ingat semua itu dan...”

“Aku tidak peduli, hei brengsek cepat keluar sana!” Nicholas menarik baju Lio dan membawanya keluar.

“Aduduh, iya,iya aku keluar.” Lio tercekik tapi bukannya kesal ia malah geli dengan sikap Nicholas yang begitu mudah marah. Lalu ketika sudah keluar melewati pintu, Lio langsung didorong dengan kasar hingga membentur pintu kamar lainnya.

“Kalau cuma itu yang kalian ingin katakan, sudah pergi saja sana.” Nicholas lalu menutup pintunya dengan kasar. 

Melihat sikap Nicholas yang begitu. Ranni langsung dibuat kesal dan geram. “Grr! apa-apaan sih dia itu.”

Sebelum Ranni teriak-teriak dan menarik perhatian, Lio segera menutup mulutnya. “Haha sabar-sabar, orangnya memang begitu. Tapi dia baik sebenarnya. Sekalipun sikap dan perkataannya seperti itu.”

“Grr... kita cuma mau terima kasih kok. Dia malah tidak ada sopan santun begitu.”

“Yasudah yang penting kita sudah sampaikan.” kata Lio memaklumi. 

“Grr, tapi tetap saja.” Wajah Ranni memerah dan ekspresinya kesal sekali.

“Sudah kita kembali saja.”

***

Lalu di waktu yang sama, di ruang kepala sekolah Vlaudenxius.

“Pak kami memohon akan sesuatu.” kata Neil dengan Alzen di sebelahnya. “Tolong setujui permintaan Marchestast untuk mengembangkan CC.”

“Apa maksud kalian?” balas Vlaudenxius. “Mereka sudah kembali ke negrinya. Permintaannya sudah kita tolak.”

“Tapi apa tidak bisa mengirim mereka surat bahwa kita berubah pikiran dan berbalik menyetujuinya.”

“Kenapa? Apa alasanmu berkata begitu?”

“Begini pak...” Alzen mengambil alih. “Memang ketakutan akan penyalagunaan yang dilakukan Marchestast Empire dulu bisa terjadi lagi, tapi kali ini penemuannya berbeda pak. Bakal lebih banyak manfaat buat banyak orang jika berhasil dikembangkan oleh mereka.”

Vlaudenxius mengangguk dan secara terbuka menerima pendapat mereka.

“Memang bisa disalahgunakan untuk jadi alat perang.” sambung Neil. “Tapi jika resiko itu yang kita takutkan hingga membiarkan banyak keuntungan untuk umat manusia yang terlewat, bukankah ini juga adalah suatu kesalahan?”

“Jadi kau mau bilang aku salah dan mereka yang benar,”

“Ahh bapak tidak salah tapi...” Alzen ragu-ragu menjawab.

“Tidak ada yang salah atau benar pak! Ini bukan tentang itu.” sambung Neil dengan tegas. “Ini tentang keberanian melawan status quo pak, bahwa hanya penyihir yang boleh dan mampu mengendalikan diri dengan kekuasaan yang kita punya, lalu ini juga tentang melepas dari belenggu masa lalu, memang Marchestast Empire dulu sempat menyalahgunakannya, tapi ini berbeda, CC akan jauh lebih baik jika dikembangkan lebih jauh lagi oleh mereka.”

“Mohon maaf, aku tak bisa menerimanya. Sekarang silahkan keluar.” Vlaudenxius dengan sopan menolak mereka dan mengizinkan mereka pergi.

Kemudian mereka berdua hanya dibuat lemas dan kecewa lalu dengan berat hati meninggalkan ruangan itu.

***